[Oneshot] A Song For The Sun

red_sunset_beach

A Song For The Sun

Author : Jinho48

Genre : Sad Romance

Cast :

  • Koo Junhoe (iKON)
  • Son Chaeyoung (TWICE)

Length : Oneshot

Summary : “Malam adalah hidupku dan aku benci siang.”

Warning this is a long fict.

This is dedicated for someone special.

Happy Reading ^^

& & & &

Chaeyoung POV

Pagi ini aku bangun sedikit lebih terlambat dari biasanya. Kusibak selimut tebalku dan aku melihat jam dinding yang ada di atas lemariku. Aku menguap pelan lalu segera berjalan ke kamar mandi. Butuh waktu setengah jam untuk bersiap ke sekolah. Setelah selesai, aku bergegas ke ruang makan. Di sana ku dapati oppa, eomma, dan appa tengah sarapan bersama. Aku tersenyum ke arah mereka.

“Selamat pagi, semua!” sapaku seraya berjalan ke kursiku yaitu di sebelah oppaku.

“Selamat pagi, sayang! Makanlah dan lekas berangkat! Nanti kau terlambat.”

Ne, eomma.”

Setelah itu tidak ada percakapan lagi dan aku segera menyelesaikan sarapanku. Lantas aku dan kakak pamit, aku berangkat ke sekolah dan kakak pergi ke kantornya. Kebetulan tujuan  kami searah jadi kami selalu berangkat bersama. Di dalam mobil aku dan kakak sama-sama terdiam selama perjalanan. Dia itu memang sedikit dingin dan aku kebetulan sedang malas berbicara. Keheningan menyelimuti atmosfir di antar kami hingga akhirnya tiba di sekolahku. Aku berpamitan singkat padanya lalu segera masuk ke area sekolah.

Sampai di kelas aku langsung duduk di pojok belakang dan aku duduk sendiri di belakang. Di sekolah aku lebih suka menyendiri. Berbeda ketika aku di rumah. Di rumah aku sangat berisik dan manja. Alasannya? Aku benci keramaian dan sekolah ini berisi manusia-manusia menyebalkan jadi aku memilih untuk menjauh dari mereka.

Jam pelajaran pertama pun di mulai dan aku memperhatikan penjelasan guru. Aku bukan termasuk siswi pintar ataupun siswi bodoh. Tapi aku tak pernah lepas dari peringkat 10 besar di kelas dan 30 besar peringkat paralel. Dan jujur aku tidak suka belajar namun entah kenapa aku selalu mendapat peringkat atas. Bukan sombong, tapi itulah kenyataannya.

Oh iya, namaku Son Chaeyoung. Anak ketiga dari 3 bersaudara. Ayahku bernama Son Seunghoon. Beliau seorang pengusaha di bidang konstruksi. Ibuku Kim Nahee. Beliau seorang designer yang cukup terkenal di Korea. Lalu saudaraku, aku memiliki dua kakak. Kakak laki-lakiku bernama Son Dongwoon. Dia orang yang pengertian tapi menyebalkan. Ia bekerja sebagai seorang arsitek di salah satu perusahaan konstruksi. Lalu kakak perempuanku bernama Son Naeun. Dia tinggal di Jepang dan bekerja sebagai model serta designer seperti ibuku. Tabiatnya tak beda jauh dengan ibu, tipikal orang yang ramah dan pekerja keras.

Akhirnya istirahat pun tiba, aku segera bergegas pergi ke atap sekolah. Kegiatanku di sekolah begitu monoton. Mengikuti pelajaran, tidur di atap, pergi ke perpustakaan, pergi ke ruang musik setelah jam pulang sekolah, lalu kembali ke rumah. Begitulah kegiatanku setiap harinya. Huh.. membosankan. Sampai di atap pun aku langsung membaringkan diri di sofa yang ada lalu tidur.

TOK TOK

Ketukan pintu terdengar memekakan telinga. Dengan malas sang penghuni rumah beranjak untuk membuka pintu rumahnya. Setelah membukanya, ia mendapati seorang pemuda jangkung berdiri dengan sebuah bingkisan. Sesaat gadis itu terpaku melihat sosok pemuda yang asing baginya.

Nuguya?” tanya gadis itu pelan.

“Aku tetangga baru. Rumahku di sebelahmu. Ibuku menyuruhku untuk mengantar ini kepada tetangga sekitar.”

Gadis itu melihat bingkisan yang di bawa pemuda tadi lantas mengambilnya. “Terimakasih. Mau mampir?”

“Ah, tidak perlu. Aku permisi dulu!”

Setelah itu, pemuda tersebut meninggalkan sang gadis yang masih mematung di depan pintu. Ia masih memperhatikan kepergian sosok tetangga barunya itu. Wajahnya tampan tapi dia terlihat dingin. Saat memberikan bingkisan tadi, tak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu kembali masuk ke rumahnya dan ia meletakkan bingkisan itu di dapur.

Eomma, apa kita punya tetangga baru?” tanyanya ketika ia melihat sang ibu tengah menata makanan di meja makan.

“Eoh? Iya, Chaeyoungie. Ah, bingkisan apa itu?”

“Dari tetangga baru. Anaknya yang mengantar tadi.”

“Oh, kenapa tidak kau suruh masuk dulu? Dia pria atau wanita? Bagaimana rupanya?”

“Aku sudah menawarinya tapi dia tidak mau. Dia seorang pria dan lumayan tampan.”

Jinja? Apa kau tak berniat berpacaran dengannya?”

Aish, eomma! Baru saja bertemu. Bahkan aku tidak tahu namanya.”

Aigoo, bodohnya anak eomma. Kenapa tidak menanyakan namanya?”

Tsk! Untuk apa menanyakan namanya? Malas sekali. Lagipula dia terlihat seperti orang yang dingin dan susah di dekati.”

“Ya sudah, panggil kakakmu. Kita makan malam sekarang.”

Chaeyoung hanya mengangguk lalu beranjak menuju kamar kakaknya dan mengatakan bahwa makan malam telah siap. Lantas ia kembali lagi ke meja makan dan keluarga Son memulai acara makan malamnya. Banyak hal yang mereka bicarakan dan salah satunya soal perjalanan bisnis sang kepala keluarga. Malam ini Tuan dan Nyonya Son akan berangkat ke Jerman dan akan tinggal di sana untuk sebulan. Itu artinya Chaeyoung hanya akan tinggal dengan kakaknya selama sebulan ke depan.

Selesai makan malam, Chaeyoung dan kakaknya ikut mengantar orang tua mereka ke bandara. Mereka menunggu hingga akhirnya kedua orang tua mereka berangkat. Setelah itu, Chaeyoung meminta supir untuk mengantarnya ke bengkel langganannya. Sang kakak sempat memprotes tapi gadis itu bersikeras untuk mengambil motornya yang ada di bengkel.

“Kau pasti mau balapan lagi. Aku akan mengadukannya pada ayah.”

“Tidak usah macam-macam, Dongwoon Oppa. Aku hanya ingin bersenang-senang. Bukan balapan.”

“Dalam kamusku, bersenang-senang bagimu adalah balapan. Aku akan mengatakannya pada ayah agar motormu di sita. Balapan itu bahaya, tidak menyenangkan sama sekali, bodoh.”

“Jika oppa mengadu, aku akan mengatakan pada ayah kalau kau sering mengunjungi bar dan one night stand dengan gadis-gadis jalang.”

YA! Kenapa mengancamku? Sial!”

“Hahaha. Makanya tutup saja mulutmu, oppaku sayang.”

Dongwoon berdesis sebal sedangkan adiknya tertawa. Tak lama mobil pun berhenti. Chaeyoung segera turun dan sempat berpamitan pada kakaknya. Lalu ia bergegas masuk ke dalam bengkel dan menyapa teman-temannya. Kemudian dia mengecek motornya. Senyum puas mengembang di wajahnya. Ia pun membayar biaya reparasi motornya lalu segera pergi meninggalkan bengkel dengan motor kesayangannya itu.

Chaeyoung POV

Dengan motor kesayanganku, aku mengelilingi kota Seoul di malam hari. Menikmati semilir angin malam dan panorama yang tersaji. Rasanya kota ini tak pernah mati sekalipun malam sudah semakin larut. Masih banyak orang yang beraktivitas di luar rumah. Termasuk aku yang masih sibuk mengagumi kota kelahiranku ini. Aku pun memilih daerah Hongdae sebagai destinasi terakhir. Sebelum pulang, aku ingin membeli kopi dan tiramisu dulu. Ku hentikan motorku di depan sebuah kafe.

Kemudian aku segera masuk ke dalam kafe dan memesan secangkir latte serta sekotak tiramisu berukuran sedang. Tak menunggu lama, pesananku pun siap dan aku segera membayarnya. Aku bergegas keluar dari kafe dan bersiap kembali ke rumah. Namun langkahku terhenti tatkala aku melihat seseorang yang mungkin ku kenal. Perlahan kakiku berjalan mendekat ke arah orang itu. Dia sedang duduk sambil memainkan gitar dan di sekitarnya ada orang-orang yang menonton.

Aku berhasil berada di barisan depan. Dia  tak melihatku dan tetap bernyanyi dengan penuh penghayatan. Suaranya terdengar begitu indah mengalun. Tanpa sadar aku tersenyum lebar. Aku menikmati penampilannya. Ku pejamkan mataku sembari bersenandung mengikuti irama yang di mainkan. Hingga aku tak sadar bahwa penampilannya telah berakhir. Terdengar tepukan yang meriah dari para penonton lantas mereka memberikan uang sebelum membubarkan diri.

Begitupun aku. Aku juga melakukan hal yang sama. Lalu aku hendak pergi namun suaranya mengintrupsi langkahku.

“Hei, tetangga baru!” sapanya dan aku pun menoleh. Aku tersenyum manis.

“Masih mengingatku rupanya.”

“Tentu saja. Terimakasih sudah menyempatkan diri menonton penampilanku!” ucapnya seraya tersenyum. Hanya senyum tipis yang ia perlihatkan padaku.

Wah, dia bisa tersenyum juga ternyata. Kenapa dia jadi terlihat tampan jika tersenyum? Eh? Apa yang ku bicarakan barusan? Aish, lupakan! Aku tersenyum ke arahnya.

“Itu penampilan yang menarik. Aku suka.”

“Benarkah?”

“Iya. Apa kau sering melakukan penampilan seperti ini?”

“Eumm, ya begitulah. Setiap Sabtu malam aku ada di kafe dan Jumat malam aku disini.”

“Whoa, jinja? Di kafe mana? Besok aku akan menonton penampilanmu lagi.”

“Di kafe yang ada di seberang jalan itu.”

“Oh, OK! Eumm.. kau mau pulang? Mau pulang bersama?”

“Pulang bersama? Kau bawa kendaraan?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Aku bawa motor. Kau bisa mengendarai motor?”

Dia tersenyum tipis lantas menggeleng. “Tidak bisa. Kau saja yang memboncengkanku.”

Mwo? Jinja? Kau benar-benar tidak bisa mengendarai motor eoh?” tanyaku dengan nada terkejut. Yang benar saja! Pria sekeren itu tidak bisa mengendarai motor. Eh? Keren? Aish.. kenapa aku memujinya terus? Tsk!

“Iya. Kenapa? Apa ada masalah?” sahutnya santai sambil membereskan barang-barangnya.

“Eumm.. tidak kok. Kaja!” Aku melihatnya telah selesai berkemas lantas menarik tangannya agar bergegas.

Lalu aku memberikan helmku padanya dan dia menatap bingung ke arahku. Aku menatapnya balik.

Waeyo?”

“Helmnya hanya satu? Kau tidak memakai helm?”

“Ah, tidak. Kau saja yang pakai. Kaja!” Aku tersenyum tipis lalu segera menaiki motorku. Dia pun memakai helmnya dan langsung naik ke motor. Segera ku nyalakan mesin motorku.

“Pegangan yang erat eoh!”

“Ha?”

Tanpa buang waktu, aku langsung tancap gas menuju ke area perumahan kami. Ia berteriak terkejut lalu memeluk perutku erat. Kulirik dari kaca spion, dia memejamkan matanya. Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak tapi aku menahannya mengingat ini ada di jalanan. Aku tak mau di anggap gila karena tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar lucu.

Tak lama akhirnya kami pun sampai di depan rumahku. Ku hentikan motor tepat di depan pagar rumahku. Tapi ia masih memeluk perutku erat dan masih memejamkan matanya. Apa dia setakut itu? Hahaha. Padahal bagiku ini adalah hal yang biasa. Aku tak bisa menahan tawaku lagi. Jadilah aku tertawa terbahak hingga perlahan ku rasakan ia melepas pelukkannya.

“Eumm… apa sudah sampai?”

Aku menghentikan tawaku lalu mengangguk pelan. “Kita sudah sampai sejak 5 menit yang lalu. Wae?”

“Err… maafkan aku!” Dia pun turun dari motorku lalu melepas helmku dan menyerahkannya padaku. Aku menatapnya lekat.

Pft. Apa kau begitu takut dengan kecepatan?”

“Hm, tidak juga. Aku tidak pernah merasakan naik motor secepat itu. Rasanya menegangkan.”

“Hahaha. Kau lucu sekali. Bagaimana bisa seorang pria takut kecepatan? Jangan-jangan kau juga takut ketinggian.”

“Tidak. Aku tidak takut. Hanya merasa asing saja.”

Jinja? Kau tidak takut, hmm?” godaku sambil menahan tawa.

“Hmm. Ya sudah, aku masuk dulu. Sampai jumpa!”

Nde. Ku pastikan aku menontonmu besok.”

Dia mengangguk. “Gomawo, eumm…”

“Chaeyoung. Son Chaeyoung.”

Gomawo, Chae!”

Cheonma! Jaljayo!”

Pemuda itu hanya mengangguk lalu segera kembali ke rumahnya. Aku pun menatapnya hingga ia masuk ke dalam rumah. Lantas aku bergegas memasukan motorku ke dalam garasi. Kemudian aku masuk ke dalam ruamh dengan senyum lebar yang menggembang. Pikiranku melayang ke pertemuan singkat dengan pemuda tampan itu.

Whoa, entah kenapa aku merasa tertarik padanya. Ah, namanya siapa ya? Bodohnya aku. Kenapa lupa bertanya? Tsk! Ya sudahlah. Besok saja aku tanya. Aku segera memasuki kamarku tanpa mengindahkan panggilan dari kakak tersayangku itu.

Aku memang mendengarnya namun aku sedang malas meladeninya. Tubuhku lelah sekali dan butuh istirahat. Setelah membersihkan diri dan berganti baju, aku segera merebahkan tubuhku di kasur dan tidur.

Junhoe POV

Malam ini seperti biasa aku keluar rumah untuk menjalankan aktifitasku. Aku berjalan menyusuri jalanan untuk sampai ke kafe tempatku tampil nanti. Ahh, kenapa aku merasa gugup ya? Padahal aku sudah biasa melakukan ini. Hmm, apa karena Chaeyoung akan menonton? Hah. Untuk apa aku memikirkannya? Kami baru saja kenal. Ah, aku tak peduli. Ku percepat langkahku agar segera tiba di kafe dan melakukan persiapan.

Sesampainya di kafe, aku segera menyiapkan diri. Kulihat pengunjung kafe malam ini cukup banyak. Whoa, malam ini keberuntunganku. Aku bisa dapat bonus jika banyak yang menyukai penampilanku. Aku pun naik ke atas panggung. Lantas ku ambil standing mic yang ada di dekat piano dan ku taruh di depan. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru kafe. Hmm, apa dia belum datang? Ah, kenapa aku berharap dia datang? Tsk!

Ku tarik nafas dalam-dalam lalu ku hembuskan perlahan. Kemudian aku memberi kode pada Donghyuk –partnerku- agar segera memulai memainkan pianonya. Ya, dia yang mengiringiku bernyanyi tetapi terkadang dia juga ikut bernyanyi. Donghyuk mengacungkan jempolnya dan tak lama alunan melodi dari piano mulai terdengar. Aku pun kembali fokus ke penonton dan mulai bernyanyi. Kali ini aku menyanyikan lagu Jepang yaitu lagunya Yui, Hello.

Aku bernyanyi dengan penuh penghayatan. Kulihat banyak yang tertarik dengan penampilanku. Sampai akhir laguku, aku tak mendapati sosok Chaeyoung dimanapun. Setelah menyelesaikan lagu pertamaku, aku menghela nafas sejenak. Yah, dia tak mungkin datang. Lalu aku bertukar posisi dengan Donghyuk. Kali ini dia yang bernyanyi dan aku yang bermain alat musik. Aku mengambil gitar yang ada di pojok pangggung lalu mulai memainkannya.

Netraku tetap mengawasi setiap sudut kafe, berharap dia akan datang meski kecil kemungkinannya. Dan lagi, hingga lagu berakhir dia tidak terlihat wujudnya. Aku pun segera turun dari panggung. Ini waktunya untuk break sejenak. Ku putuskan untuk berjalan ke luar kafe. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Hingga akhirnya aku melihat seorang gadis berlari ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Ku tatap ia yang sedang mengatur nafasnya.

“Ahh, apa aku terlambat? Kau sudah selesai tampil?”

Aku mengangguk. “Kau terlambat. Penampilanku sudah selesai.”

Aish, sial! Maafkan aku karena terlambat. Tadi aku ada sedikit urusan.”

“Hmm.. kenapa berlari? Tidak naik motor?”

Dia terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaanku. “Tadinya aku membawa motor tapi ada sedikit masalah jadi motorku ada di bengkel. Hehehe.”

Aku hanya mengangguk paham. “Ya sudah, ayo masuk! Aku akan tampil lagi setelah ini.”

Seketika matanya berbinar. “Whoa! Jinjayo?” tanyanya dan hanya ku balas anggukan.

Kaja!” ia langsung menarik tanganku masuk ke dalam kafe.

Lantas aku naik ke panggung lagi dan dia memilih duduk di kursi yang ada tepat di depan panggung. Dia memesankan kopi untuk kami dan sepotong kue untuknya. Aku tersenyum melihatnya yang tampak antusias. Kemudian aku bersiap untuk bernyanyi lagi. Aku menyanyikan lagunya iKON yang My Type. Dia tampak menikmati penampilanku. Senyum lebar tampak jelas di wajahnya. Tanpa sadar, aku pun ikut tersenyum lebar. Sesuatu yang jarang sekali ku perlihatkan.

Setelah selesai, aku menghampirinya dan dia menyambutku dengan senyuman lebar. Aku pun membalasnya dengan senyuman tipis lalu aku duduk di hadapannya. Tatapannya tak beralih sedikitpun dariku. Ku tatap dia bingung. Jujur aku sedikit risih di tatap terus menerus seperti itu. Lantas ku kibaskan tanganku di depannya. Dia pun berdeham lalu mengalihkan pandangannya. Ia menyerutup minumannya sedikit lalu menunduk. Aku hanya terkekeh pelan melihatnya.

“Kenapa, Chae?”

Dia masih tetap menunduk sambil memainkan minumannya. “Aniya.

“Hmm…”

“Oh, minumlah! Aku tidak tahu apa kau suka. Jika tidak suka, kau bisa pesan yang lain. Aku yang traktir.”

Aku melihat kopi yang ada di hadapanku. Ku hirup aroma yang menguar dari cangkir kopi tersebut. “Capuccino?”

Chaeyoung mengangguk dan aku pun tersenyum. Dia melihat ke arah cangkir kopiku tanpa melihat ke arahku sedikitpun. “Kau tidak suka?”

“Aku suka kok. Terimakasih, Chae.”

“Eumm, sama-sama. Oh iya, aku belum tahu namamu. Siapa namamu?” tanyanya sembari melirikku.

Tak langsung ku jawab pertanyaannya itu. Aku menyerutup kopiku sejenak lalu aku menatapnya. “Mendongaklah! Akan ku jawab ketika kau mendongak.”

Lantas ia pun mendongak dan menatapku. Aku pun segera menjawab pertanyaannya. “Koo Junhoe. Aku lebih tua darimu. Panggil aku oppa, arrachi?”

“Koo Junhoe? Benarkah kau lebih tua? Memang berapa umurmu? Kau kuliah?”

“Hmm. Umur? 20 tahun. Aku tidak kuliah. Hanya bekerja saja.”

Dia mengangguk-anggukan kepalanya. “Oh, begitu. Baiklah, Junhoe Oppa. Penampilanmu tadi sangat keren. Aku suka sekali hehehe.”

“Benarkah? Kau suka?”

“Iya. Aku suka. Sangat suka. Kenapa oppa tidak mendaftar jadi trainee saja? Aku yakin oppa bisa debut dan menjadi penyanyi yang sukses.”

Aku hanya tersenyum tipis. “Aku tidak berkeinginan untuk menjadi idol. Keinginanku cukup sederhana. Hahaha.”

Waeyo? Padahal akan sangat bagus jika oppa menjadi idol. Aku pasti akan menjadi fans nomor satumu.”

“Hahaha. Fans? Kau mau aku di mempunyai banyak fans dan kau tak punya banyak waktu untuk melihatku karena kesibukanku sebagai idol? Kau akan kalah bersaing dengan fansku nantinya.”

Aish. Benar juga. Ya sudah, jangan jadi idol. Biar seperti ini saja. Biarkan aku menjadi satu-satunya fansmu. Hehehe.”

Ckck, dasar bocah!” ujarku sembari mengusak rambutnya. Dia menyingkirkan tanganku sambil memajukan bibirnya.
YA! Kenapa mengacak rambutku? Menyebalkan!”

“Hahaha. Biar. Ya sudah, ayo pulang! Sudah malam. Nanti orang tuamu khawatir mencarimu.”

“Eumm, araseo!” jawabnya masih dengan memanyunkan bibirnya.

Dia berjalan ke kasir untuk membayar pesanannya lalu berjalan keluar kafe terlebih dahulu. Aku pun mengambil barang-barangku dan segera menyusulnya keluar. Lantas aku menggandeng tangannya dan bergegas pulang. Chaeyoung tak menolak gandenganku sedikitpun. Bahkan ia merapatkan tubuhnya ke arahku dan memeluk lenganku erat. Aku mengusap rambutnya pelan. Dasar manja!

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Dan aku merasakan sesuatu menggelitik perutku serta bisa ku rasakan hatiku yang berdebar setiap aku melihatnya. Perasaan apa ini? Apakah ini yang namanya jatuh cinta? Ah, tidak mungkin. Aku tidak boleh memiliki perasaan seperti itu. Aku tak ingin menyakitinya kelak. Huh. Entahlah.

Mentari bersinar begitu teriknya namun hal tersebut tak menghalangi niat seorang gadis untuk berjalan menyusuri jalanan menuju ke rumahnya. Dia yang biasanya naik motor sekarang memilih untuk naik bus atau berjalan kaki. Ia ingin mencoba hal yang baru dan belum pernah ia lakukan sebelumnya. Lantas dia mulai mempercepat langkahnya menuju rumah. Gadis itu ingin menyiapkan sesuatu untuk seseorang yang spesial baginya.

Sampai di rumah, ia segera mengganti bajunya lalu beranjak ke dapur. Dia menyiapkan beberapa bahan makanan yang ia butuhkan untuk memasak. Kali ini dia akan membuat sushi dan sashimi spesial untuk orang yang spesial pula. Tak banyak buang waktu, ia segera membuat makanan khas Jepang itu. Dengan cekatan ia meracik bumbu dan mencampurkannya dengan bahan lain. Hingga akhirnya makanan itu siap.

Kemudian ia menata sushi di kotak bekal begitu pula dengan sashiminya. Setelah itu, dia menyiapkan dua gelas cappuccino yang ia beli ketika pulang sekolah tadi. Dia melihat semuanya telah beres dengan senyuman yang menggembang di wajah. Tampaknya ia begitu puas dengan hasil kerjanya. Lantas ia segera kembali ke kamar.

Gadis itu memoles wajahnya dengan make up natural lalu ia mengganti bajunya dengan dress sederhana tetapi tetap membuatnya terlihat cantik. Setelah siap, dia mengambil tas dan memasukan beberapa barang ke dalam tasnya. Ia mematut dirinya di depan cermin. Senyuman masih setia menggembang di wajah cantiknya. Kemudian dia segera kembali ke dapur untuk mengambil kotak bekal dan gelas kopinya.

Huh. Baiklah, ayo berangkat! Jangan gugup, Chaeyoung-ah! Bersikap biasa saja dan berikan kesan yang baik ada keluarganya. Fighting!” ujar gadis itu untuk menyemangati dirinya sendiri. Lalu ia bergegas pergi ke tempat tujuannya yang sebenarnya tidak jauh. Hanya beberapa langkah saja sudah sampai.

Ketika sampai di tempat tujuannya, dia tampak ragu untuk masuk ke perkarangan rumah itu. Dia merasa gugup sekali. Perlahan ia menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kemudian kakinya mulai melangkah memasuki perkarangan rumah seseorang yang spesial baginya itu. Tiba di depan pintu utama, dia mengetuk pintunya.

Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis manis dengan ekspresi datar. Mirip sekali dengan sosok yang akan di temuinya. Chaeyoung tersenyum manis. Dia sedikit membungkukkan badan ke arah gadis manis itu. Tapi gadis itu hanya diam menatap lekat Chaeyoung dari atas hingga bawah.

“Kau siapa?” tanyanya dingin.

“Saya Chaeyoung. Tetangga sebelah,” jawab Chaeyoung sedikit canggung.

“Ohh. Lalu untuk apa kemari?”

“Saya ingin bertemu Junhoe. Apa dia ada di rumah?”

“Ada urusan apa dengan Junhoe? Kau mau mengajaknya pergi? Aku tidak akan mengijinkanmu bertemu dengannya jika kau ingin membawanya pergi.”

“Ha? Kenapa tidak boleh? Saya hanya ingin mengajaknya berjalan-jalan di sekitar sini.”

“Tidak boleh! Pulanglah!” ketus gadis itu lalu menutup pintu rumahnya.

Chaeyoung pun terdiam di depan pintu. Dia menundukkan kepalanya lalu membalik badan dan beranjak dari tempatnya. Senyum yang tadi menggembang kini hilang entah kemana. Hanya wajah lesu yang tampak. Lalu dia berhenti sejenak. Dia kembali ke pintu utama. Di letakkannya kotak bekal dan gelas kopi di depan pintu itu lalu Chaeyoung meninggalkan memo di atasnya. Setelah itu dia kembali ke rumahnya.

Junhoe POV

Aku terbangun ketika mentari telah kembali ke peraduannya. Ku dudukan diri di pinggir aksur sambil meregangkan tubuhku. Setelah nyawaku terkumpul sepenuhnya, aku berjalan keluar kamar. Aku menuruni tangga dengan cepat lalu menghampiri ibuku yang ada di ruang tengah. Dengan segera ku peluk beliau erat-erat. Sudah seminggu aku tidak melihat ibu karena ibu sibuk mengurus bisnis restorannya di Busan.

Eomma, bogoshipoyo!”

Ibu tersenyum mendengar ucapanku. “Aigoo, uri adeul. Eomma juga merindukanmu sayang. Bagaimana harimu disini selama seminggu tanpa eomma hmm?”

Aku melepaskan pelukkanku lalu aku menceritakan secara singkat hariku disini tanpa eomma. “Menyenangkan. Ada Chaeyoung yang menemaniku.”

“Chaeyoung? Anak tetangga sebelah itu?” sahut Yejin Noona yang tiba-tiba saja datang dan ikut duduk di sebelah eomma. Aku hanya mengangguk.

“Ohh, jadi gadis cantik itu yang membuat putra kesayangan eomma sering tersenyum akhir-akhir ini?”

Eomma tahu darimana aku sering tesenyum?”

“Dari mata-mata eomma. Ada yang mengatakan pada eomma jika uri Junhoe banyak tersenyum selama tidak ada eomma wkwk.”

“Ahh, pasti Yejin Noona ‘kan?”

“Entah. Oh iya, tadi dia meninggalkan sesuatu untukmu.”

“Ha? Tadi dia kesini? Apa yang dia tinggalkan?”

Yejin Noona mengangguk lalu menunjuk barang yang di maksud dengan dagunya. Aku melihat ada dua bungkusan di meja lalu aku membukanya. Ternyata itu kotak bekal dan ada dua gelas kopi. Ada memonya juga dan aku pun membacanya. Aigoo, Chaeyoung membuat ini untukku. Ah, senangnya. Aku segera membuka kotak bekal itu lalu memakan makanan yang ada di dalamnya. Whoa, rasanya enak sekali.

“Apa itu? Sushi? Bagaimana rasanya? Enak?”

“Enak sekali! Cobalah, eomma!” Aku mengambil satu sushi lalu menyuapkannya ke eomma. Eomma pun melahap sushi itu dan senyuman menggembang di wajahnya.

“Wah, benar. Sushinya enak sekali. Aigoo, Chaeyoung benar-benar calon istri yang baik wkwk.”

Mwo? Apa maksud, eomma?” tanyaku sambil menatap eomma yang tengah terkekeh.

Aniya. Wkwk. Aigoo, calon menantuku pintar memasak ya? Aku yakin dia bisa mengurus bayiku ini. Iya ‘kan?” goda eomma seraya mengacak rambutku.

Eomma~” rajukku sembari memajukan bibirku. “Aku bukan bayi. Dan dia bukan calon menantu eomma. Tidak akan pernah jadi menantu eomma!” sambungku.

Lantas aku kembali melanjutkan acara makanku. Bisa ku rasakan eomma menatapku sendu kemudian beliau memasuki kamarnya. Yejin Noona menatapku jengah lalu pergi meninggalkanku sendiri di ruang tengah. Ku hentikan kegiatanku sejenak dan ku hela nafas panjang. Itulah kenyataannya. Chaeyoung tidak akan menjadi menantu eomma. Huh, sudahlah. Aku segera menghabiskan semua yang di berikan Chaeyoung padaku.

Setelah itu, aku membereskan semuanya lalu kembali ke kamar. Aku akan menemui Chaeyoung setelah ini dan aku akan mengajaknya jalan-jalan. Aigoo, aku tidak sabar ingin bertemu dengannya. Aku harus tampil sebaik mungkin untuknya. Sebelum masuk ke kamar mandi, aku menyempatkan diri untuk berkaca dan aku terlihat makin tampan. Hahaha. Kemudian aku masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Tak lama, aku selesai mandi. Aku segera bersiap. Hanya butuh waktu sebentar untuk bersiap karena aku sudah tampan. Hahaha. Setelah selesai, aku ijin keluar pada eomma dan ya eomma mengijinkanku. Lantas aku bergegas pergi ke rumah Chaeyoung. Aku memasuki area perkarangan rumahnya dan akhirnya tiba di depan pintu utama. Hah, aku sedikit gugup. Ku yakinkan diriku lalu ku ketuk pintu rumahnya.

KLEK

Seorang pria berperawakan tinggi besar membukakan pintu dan dia menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan. Aku tersenyum tipis ke arahnya. Lalu tanpa buang waktu, dia menarikku masuk ke dalam rumah. Ha? Aku hanya memasang wajah bingung. Dia membawaku ke ruang tengah kemudian mendudukanku di sofa sementara ia mondar-mandir di depanku. Aku menatapnya aneh. Lantas aku berdeham pelan.

“Ada apa? Anda membuat saya kebingungan.”

Lantas dia berhenti bergerak. “Kau Koo Junhoe?” tanyanya sembari menatapku lekat. Aku pun hanya mengangguk lalu dia duduk di sebelahku.

“Aku Dongwoon, kakaknya Chaeyoung. Daritadi sore dia mengurung dirinya di kamar. Aku tak bisa membuatnya keluar kamar. Apa kau bisa? Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Tidak ada suara apapun di dalam. Bujuk dia baik-baik, oke?” ujarnya lalu ia menggigiti kukunya. Ish, aneh sekali kelakuannya. Aku hanya menganggguk saja.

“Dimana kamarnya?” tanyaku dan dia menunjuk kamar yang ada di atas. Aku mengangguk paham lalu segera berjalan ke atas.

Perlahan ku dekati pintu kamar Chaeyoung lalu aku mengetuk pintu kamarnya. “Chaeyoung-ah? Ini aku, Junhoe. Bukalah pintunya!”

“Kau baik-baik saja kan? Bisa mendengarku? Buka pintunya, Chae!”

“Son Chaeyoung, jangan membuatku khawatir! Buka pintunya atau ku dobrak!”

CKLEK

Pintu kamarnya terbuka dan aku melihat kamarnya yang berantakan. Dia duduk di kasurnya yang penuh dengan tisu. Aku masuk ke dalam kamarnya dan aku duduk di sebelahnya. Chaeyoung hanya diam seraya menatap kosong ke arah dinding kamarnya. Ada apa dengannya? Kenapa aneh sekali? Apa dia menangis? Banyak sekali tisu yang berserakan disini. Kulihat barang-barangnya pun tidak tertata rapi.

“Chae, kenapa?” tanyaku pelan. Tapi tidak ada sahutan darinya. Aku pun menepuk bahunya dan dia menghindar. Dia mengambil bantal dan menyembunyikan wajahnya di bantal itu.

“Hei, ada apa? Kau menangis hmm?” tanyaku lagi sembari mengusap rambutnya. Namun dia masih tetap diam tak menanggapi pertanyaanku.

Lantas aku mengambil bantalnya dan memaksanya untuk menatapku. Aku menatap lekat wajahnya yang penuh dengan bekas air mata. Kelihatan jelas dia banyak menangis hingga matanya sembab. Dengan lembut ku usap air mata yang mengalir di pipinya. Ku tatap matanya yang juga menatapku dengan tatapan sendu. Dia memelukku dan kembali menangis.

“Chaeyoung-ah, wae gurae? Ceritakan padaku! Jangan seperti ini eoh!” ujarku sembari mengusap punggungnya.

Hikss.. kenapa oppa? Kenapa gadis itu melarangku bertemu denganmu? Kenapa dia tidak mengijinkanku mengajakmu jalan-jalan?”

Ha? Gadis? Aku melepaskan pelukkannya lalu menatapnya lekat. “Gadis itu? Siapa?”

“Gadis berwajah dingin yang ada di rumahmu itu. Hikss. Dia melarangku bertemu dan mengajakmu pergi. Padahal aku hanya ingin mengajakmu ke taman dan makan bersama sembari menunggu matahari tenggelam. Hikss. Kenapa tidak boleh?”

“Oh, Yejin Noona? Dia noona-ku, Chae.”

Hikss. Noona-mu menyebalkan. Apa dia mengidap brother-complex? Dia protective sekali padamu, oppa.”

Aku terdiam sejenak. Apa yang harus ku katakan pada Chaeyoung? Tidak mungkin aku jujur padanya. Dia pasti akan sedih. Huh. Sial! Bagaimana ini? Ah, aku mencoba untuk tersenyum ke arahnya. Ku usap pipinya perlahan lalu aku mengecup keningnya. Seketika dia berhenti menangis dan menatapku lekat. Aku juga menatapnya lekat lantas aku mengecup kedua kelopak matanya.

“Jangan menangis! Kau terlihat jelek jika menangis, Chae.”

Oppa…”

“Maafkan noona-ku. Dia tidak bermaksud begitu. Tadi aku sedang tidur dan aku sangat tidak suka di ganggu ketika tidur jadi noona-ku seperti itu. Dia tidak mau ku marahi nanti wkwk.”

“Eumm, jinja?” tanyanya dan aku membalasnya dengan anggukan saja. Ia pun tersenyum dan aku ikut tersenyum.

“Jangan sedih eoh! Besok kita jalan-jalan oke? Jalan-jalan sore. Tapi jangan jauh-jauh ya?”

Seketika matanya berbinar. “Jinja? Yaksok?”

Nde. Yaksok!”

YEAH! Aku senang sekali. Terimakasih, June Oppa!” Dia langsung memelukku erat lalu aku membalasnya.

“Iya, sama-sama.”

Lantas dia melepaskan pelukkannya dan aku bisa melihat senyum lebarnya. Entah kenapa aku suka melihat senyumannya. Manis. Aku suka. Lebih baik daripada melihatnya menangis. Yah, walau aku harus mengorbankan nyawaku untuk membuatnya senang. Mungkinkah ini benar-benar perasaan cinta? Apa aku telah jatuh cinta padanya? Huh. Susah untuk menyangkal perasaan ini.

“Oh ya, oppa sudah menerimanya?”

“Apa? Kopi dan sushi darimu?” tanyaku. Dia mengangguk. Aku tersenyum. “Sudah kok.”

“Eumm, sudah oppa coba? Apa enak? Aku  baru belajar membuat makanan Jepang.”

“Rasanya lumayan. Ah, bukan lumayan tapi enak sekali. Benar-benar enak. Aku suka. Gomawo, Chae.”

Mwo? Jinja mashita?”

Aku mengangguk mantap. “Iya. Hmm, jika tidak keberatan, masakan makanan untukku tiap hari. Antarkan di malam hari ya?”

“Ha? Ah, araseo. Aku akan memasak untukmu setiap hari, oppa. Beritahu aku apa saja makanan kesukaanmu!”

Araseo. Apa kau sudah makan malam?”

Dia menggeleng. “Ehehe, belum.”

“Ckck, ya sudah ayo makan! Kita makan di luar. Aku yang akan mentraktirmu.”

“Whoa! Baiklah. Oppa tunggu di bawah. Aku akan siap-siap.”

“Iya. Jangan lama-lama ya!” ujarku yang di balas anggukan olehnya. Aku pun bergegas keluar dari kamarnya. Huh. Aku akan menikmati malamku dengan Chaeyoung sebelum aku tidak bisa merasakannya lagi.

Chaeyoung POV

Sore ini aku akan berkencan ah, maksudku jalan-jalan dengan Junhoe Oppa. Rasanya senang bercampur gugup. Aku harus tampil secantik mungkin untuknya. Masih ada waktu satu jam sebelum kami bertemu. Ah, aku harus pakai baju apa ya? Ku buka almariku dan kulihat baju apa saja yang ku miliki.

Netraku menelisik satu per satu baju yang ada hingga pandanganku tertuju pada satu objek. Dress pendek selutut berwarna putih dengan atasan brokat dan bawahannya kain sutra. Ugh, yeopoda. Aku rasa itu cocok. Lantas aku mengambilnya dan mencobanya. Aku menatap pantulan diriku di cermin dan yah, terlihat bagus.

Kemudian aku duduk di depan meja riasku dan mulai memoles wajahku. Eumm, aku tidak terlalu suka berdandan jadi aku memutuskan untuk memakai makeup natural. Aku mengambil bedak dan memakainya sedikit. Lalu aku mengambil eye shadow lantas memakai perpaduan warna hitam dan cream. Tak lupa aku juga memakai eyeliner.

Selanjutnya aku menggunakan lip gloss berwarna pink. Ku tatap pantulan diriku di cermin. Aku rasa ini cukup. Lantas aku memoleskan blush on sebagai penutup. Yap, sudah selesai. Kemudian aku beranjak dari tempatku dan mengambil heels berwarna putih serta tas selempang berwarna putih. Yeah, serba hitam putih. Aku suka itu.

Nah, sudah siap. Aku segera memakai sepatuku lalu berjalan keluar kamar. Di ruang tamu Dongwoon Oppa sedang tiduran di sofa. Ia melihatku dengan tatapan menelisik. Lalu dia menyuruhku untuk mendekat. Aku pun menatapnya jengah sembari berjalan ke arahnya. Aish, dia pasti akan banyak bertanya.

“Whoa, adikku cantik sekali. Mau kencan dengan June ya?”

Ish, bukan urusanmu!”

“Itu jelas urusanku, bodoh. Ya sudah, hati-hati. Sebelum jam makan malam, kau harus sudah ada di rumah. Mengerti?”

“Kenapa aku harus menurutimu?”

“Karena June menuruti perkataanku. Dia sudah meminta ijin semalam dan yah, aku mengijinkan asal sebelum jam makan malam kalian pulang.”

Aigoo, araseo. Aku pergi dulu. Sampai nanti, Oppa!” ujarku yang di balas anggukan saja olehnya.

Lantas aku segera meninggalkannya dan bergegas keluar rumah. Baru saja aku keluar rumah, aku melihat Junhoe Oppa ada di depan gerbang. Aku segera berlari menghampirinya. Dia tersenyum ke arahku dan aku membalasnya dengan senyuman lebar. Segera ku buka gerbang rumahku kemudian menyapanya.

Annyeong, June Oppa!”

Nde. Wkwk.”

“Kenapa, oppa? Apa oppa sudah lama disini?”

Aniya. Baru saja aku datang.”

Jinja?”

Junhoe Oppa mengangguk. Lalu dia mengatakan hal yang membuat pipiku memerah. “Wah, cantik sekali. Aku suka penampilanmu.”

“Ehehe, oppa membuatku malu.”

“Hahaha. Kau mau berkencan dengan siapa eoh? Aku tidak mengajakmu kencan lho. Hanya jalan-jalan wkwk.”

Seketika aku langsung memanyunkan bibirku. “YA! Itu tidak lucu oppa. Ish!”

“Hehehe, mian. Ya sudah, ayo jalan!” ujarnya lalu menarik tanganku.

Aku menggenggam tangannya secara perlahan dan ia menoleh ke arahku. Angelic smile menggembang di wajahnya dan aku membalas senyumannya dengan senyuman terbaikku. Aigoo, dia tampan sekali. Aku jadi makin jatuh cinta padanya. Eh? Jatuh cinta? Hahaha. Tidak mungkin. Eumm, mungkin aku hanya kagum? Ah, entahlah. Yang pasti aku senang bersamanya.

“Kenapa menatapku? Aku tahu aku tampan. Jangan melihatku terus! Nanti kau jatuh cinta!”

“Eh? Mian, oppa!” Langsung ku alihkan pandaganku ke arah lain. Aku pun menunduk dan melanjutkan ucapanku. “Tapi aku rasa aku memang sudah jatuh cinta padamu, June Oppa!” ujarku selirih mungkin. Semoga dia tidak mendengarnya.

“Hmm..” Ia hanya merespon singkat. Kami saling diam hingga akhirnya sampai di taman. Lantas kami memilih untuk duduk di dekat air mancur.

“Kau mau es krim?” tanya Junhoe Oppa sembari menunjuk penjual es krim dengan dagunya.

Aku melihat ke arah penjual es krim tersebut lalu mengangguk. “Aku mau rasa stoberi, oppa.”

“Baiklah, tunggu sebentar ya!” Lalu Junhoe Oppa berjalan ke arah penjual es krim itu dan memesan dua es krim rasa stoberi. Setelah itu ia kembali menghampiriku lalu menyodorkan satu es krim ke arahku.

Gomawo, June Oppa!”

“Iya, sama-sama.”

Kemudian dia menurunkan syal yang ada dilehernya lalu memakan es krimnya sambil menunduk. Aku memperhatikannya lamat-lamat sambil memakan es krimku sedikit demi sedikit. Eumm, aku baru sadar ada yang aneh. Dia berpakaian tebal dan menggunakan syal serta topi. Kenapa dia memakai itu semua di saat cuaca panas begini? Apa tidak kepanasan? Aku jadi penasaran.

Aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya. “Oppa?” panggilku pelan.

“Hmm.. wae?” sahutnya tanpa menatapku.

“Kenapa memakai baju tebal dan syal di saat cuaca panas begini? Tidak kepanasan?”

Dia berhenti memakan es krimnya lalu menatapku. “Aku tidak suka matahari, Chae,” jawabnya seraya tersenyum kecil.

“Ha? Kenapa?”

“Karena matahari panas. Aku benci panas. Aku lebih suka angin yang sejuk.”

“Oh begitu. Jadi itu alasan oppa selalu keluar malam? Karena tidak suka panas?”

Junhoe mengangguk. “Malam adalah hidupku dan aku benci siang. Ehehehe.”

“Tapi itu sedikit aneh, oppa.”

“Aneh? Bagiku itu wajar. Terlalu sering terpapar matahari itu tidak baik, Chae. Bisa merusak kulitmu.”

“Eumm, benar juga sih. Hehehe. Ya sudahlah. Tidak masalah.”

“Kau tidak merasa ilfeel kan?”

Aniya, June Oppa. Tenang saja. Aku tetap suka ada di dekatmu.”

“Hahaha. Apa kau menyukaiku? Maksudku, kau jatuh cinta padaku?”

Aku terdiam sejenak mendengar pertanyaannya. Apa aku harus jujur? Ish, mollayo. Lantas aku menjawab seadanya. Terserah apa katanya nanti. Yang penting aku menjawabnya sesuai dengan kenyataan yang ada. Kenyataan bahwa mungkin aku jatuh cinta padanya. Sejak awal aku melihatnya bernyanyi di pinggir jalan.

“Entahlah. Aku tidak tahu, oppa. Tapi aku suka semua yang ada padamu. Aku merasa nyaman ketika bersamamu. Jatungku juga selalu berdegup lebih cepat ketika kita bertemu. Mungkin saja begitu.”

Kini giliran ia yang terdiam. Dia menghela nafas panjang. Junhoe Oppa menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Ada apa? Apa aku salah bicara? Lantas dia menunduk dan segera menghabiskan es krimnya yang sudah mencair. Kulirik es krimku yang juga mencair. Aku menghabiskannya dalam sekali lahapan lalu aku kembali menatap Junhoe Oppa.

Oppa? Kenapa? Apa aku salah bicara?”

Lantas dia mendonggak setelah es krimnya habis. Ia menatapku lekat lalu menggeleng pelan. “Tidak, tidak ada yang salah. Aku hanya bingung harus merespon apa.”

“Apa oppa tidak nyaman jika aku menyukaimu? Jika iya, anggap saja tadi aku tidak mengatakan apapun soal perasaanku padamu, June Oppa.”

“Bukan begitu, Chae. Aku bingung menjelaskan bagaimana perasaanku. Tapi aku senang kau suka padaku.”

“Eumm, araseo. Eh oppa, ayo jalan-jalan! Aku ingin melihat taman bunga yang ada di sekitar sini.”

“Baiklah. Kaja!”

Kemudian kami beranjak dari bangku itu dan berjalan ke taman bunga yang ku maksud tadi. Dia menggandeng tanganku hingga kami sampai di taman. Bahkan ketika berkeliling ia masih menggandeng tanganku. Aku menikmati suasana yang tercipta di antara kami. Rasanya sangat menyenangkan.

Beberapa kali aku mengambil potret Junhoe Oppa dan juga bunga-bunga yang ada. Terkadang aku juga meminta dia mengambil fotoku. Lantas di ujung taman, aku mengajaknya untuk berfoto. Awalnya dia menolak tapi akhirnya mau juga. Ia yang memegang ponselku lalu kami berpose.

Junhoe Oppa merangkul bahuku dan tiba-tiba mengecup pipiku. Aku terkejut karena perbuatannya itu. Tapi untung hasil fotonya tidak menampilkan wajah terkejutku. Wah, oppa benar-benar pintar menentukan waktu yang tepat untuk memotret sebelum ekspresiku berganti. Dia tersenyum melihat hasil foto kami dan aku pun ikut tersenyum.

Oppa, membuatku terkejut eoh! Seenaknya saja mencium pipiku.”

“Ehehe, mian. Kau tidak suka ya?”

“Ah, bukan tidak suka. Hanya terkejut. Wkwk. Hasilnya juga tidak buruk.”

“Hahaha. Kau senang kan? Lumayan dapat ciuman dari orang yang kau suka.”

Aku tersipu malu mendengar ucapannya. “Ehehehe. Ya begitulah, June Oppa.”

“Ckck, dasar bocah!” ujarnya sambil mengacak rambutku. Aku pun memajukan bibirku.

Ish, aku bukan bocah, oppa!” gerutuku sebal. Junhoe Oppa tertawa dan itu membuatku makin sebal. Aku pun beranjak meninggalkannya tapi dia menahan tanganku lalu menarikku ke dalam dekapannya.

Arra, arra. Jangan pergi! Stay here, Chae!” pintanya sembari memelukku erat. Dia mengusap rambutku pelan. Aku membeku untuk beberapa saat. Whoa, Junhoe Oppa memelukku. Aigoo, pelukkannya hangat sekali. Aku menyukainya.

Perlahan aku membalas pelukkannya. “Hmm. Nde, oppa.”

Lantas dia melepaskan pelukkannya. “Ayo pulang! Ini sudah senja, Chae.”

Aku mengangguk pelan. “Kaja!” lalu aku menarik tangannya dan segera pergi dari taman. Ah, rasanya aku senang sekali dan tak ingin hari ini berakhir begitu cepat. Aku ingin menghentikan waktu di saat aku bersama Junhoe Oppa. Wkwk.

Semilir angin berhembus menerpa benda-benda yang ada di sekitar. Sinar matahari memantul ke air dan menimbulkan kilauan cantik. Kawanan burung mulai berbondong-bondong kembali ke sarangnya. Mentari pun mulai kembali ke peraduannya. Para pengunjung pantai mulai menepi dan bersiap melihat sunset.

Namun hal itu tidak berlaku pada seorang gadis yang sedari tadi duduk diam di bibir pantai. Dia membiarkan baju dan tubuhnya basah terkena air. Pandangannya mengarah lurus ke depan tapi pandangan itu kosong. Gadis itu bagai raga tanpa jiwa. Sisa air mata masih menghiasi pipi tirusnya. Kantung matanya terlihat tebal dan hitam.

Dia adalah Son Chaeyoung. Gadis manis yang biasanya selalu riang dan aktif. Namun sosoknya yang dulu berubah serratus persen. Kelihatan sekali jika dia sedang kacau. Penampilannya yang berantakan, pandangan kosong, dan sisa air mata itu telah menjelaskan semuanya. Hatinya sedang hancur. Jiwanya sedang rapuh.

Setelah kencan pertamanya dengan pemuda jangkung itu, sang pemuda tidak pernah menampakan diri lagi di hadapannya. Chaeyoung  merasa terpukul karena kehilangan sosok yang sangat di cintainya. Dia berusaha untuk mencari keberadaan pemuda itu namun hasilnya nihil. Junhoe menghilang bak di telan bumi. Tak meninggalkan jejak sama sekali.

Dari kejauhan ada beberapa orang yang memperhatikan Chaeyoung. Mereka menatap miris ke arah gadis itu. Ada rasa sedih dan iba yang menyelimuti hati mereka. Saat ini hati gadis manis tersebut begitu rapuh. Entah bagaimana nanti jika ia tahu kenyataan yang sebenarnya. Dia pasti sangat sedih dan hancur.

Salah seorang dari mengambil gitarnya lalu berajalan mendekati Chaeyoung. Sisanya hanya mengamati dari belakang. Mereka tahu ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya. Terakhir kali kedua remaja itu bisa bersama. Sebelum salah satu dari mereka pergi. Orang itu berhenti tepat di belakang Chaeyoung.

“Chae..”

“Chaeyoung..”

“Son Chaeyoung…”

“Chaeyoung-ah…”

“Chaeyang-ku. Kau tidak mau menoleh? Tidak rindu padaku?” ujar orang itu yang sontak membuat Chaeyoung menoleh. Dia langsung berdiri dan memeluk sosok yang sangat ia rindukan itu.

“June Oppa.. hikss.. kemana saja? Aku rindu padamu.”

Yah, orang itu adalah Junhoe. Lantas Junhoe membalas pelukkan gadisnya. “Mianhae, Chae. Aku juga rindu padamu sayang,” ujarnya lalu mengecup puncak kepala gadis pujaan hatinya.

“Kau jahat, oppa! Menghilang begitu saja tanpa kabar dan sekarang tiba-tiba kau kembali. Menyebalkan!” gerutu Chaeyoung sambil memukul pelan dada Junhoe. Pemuda jangkung itu hanya terkekeh lalu melepaskan pelukkannya.

“Ehehe, mian mian. Tapi kau senang kan aku kembali?” tanya Junhoe sembari mengusap pipi Chaeyoung dan menatap gadis itu lekat.

Chaeyoung mengangguk mantap. “Aku senang bisa bertemu lagi denganmu, June Oppa!” jawabnya seraya menatap Junhoe dengan tatapan berbinar. Binar bahagia yang akhir-akhir ini hilang dari pancaran maniknya.

Junhoe tersenyum tipis. “Eoh, kau mau mendengarkan aku bernyanyi? Bukankah sudah lama kau tak melihat menampilanku?”

“Hmm, aku mau oppa. Nyanyikan lagu yang bagus untukku.”

Araseo. Ayo duduk di pinggir!” Lantas keduanya duduk di pinggir pantai, menjauhi bibir pantai yang terus tergulung ombak.

Kemudian Junhoe mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Chaeyoung. “Lagu ini ku persembahkan untuk gadisku, Son Chaeyoung. Dan juga untuk matahari yang selalu ku benci. Dengarkan baik-baik, eoh?”

“Iya, June oppa. Aku akan mendengarkannya dengan seksama.”

Perlahan Junhoe mulai memetik gitarnya dan memainkan intro lagunya. Chaeyoung terdiam. Dia merasa mengetahui lagu apa yang akan di nyanyikan oleh pemuda itu. Lantas gadis itu menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Tanpa mengindahkan tatapan itu, Junhoe mulai menyanyi.

Dakara ima ai ni yuku

So kimetanda

Poketto no kono kyoku wokimi ni kikasetai

Sotto boryu-mu wo agete

Tashikamete mitayo

 

 

Oh Good-bye Days

Ima, kawaru ki ga suru

Kinou made ni So Long

Kakko yokunai

Yasashisa ga soba ni aru kara

La la la la la with you

 

Katahou no earphone wo

Kimi ni watasu

Yukkuri to nagare komuKono shunkan

Umaku aisete imasu ka?

Tama ni mayou kedo

 

 

Oh Good-bye Days

Ima, kawari hajimeta

Mune no oku

All Right

Kakko yokunai

Yasashisa ga soba ni aru kara

La la la la la with you

 

Dekireba kanashii

Omoi nante shitaku nai

Demo yattekuru deshou, oh

Sono toki egao de”Yeah, Hello My Friends” nante sa

Ieta nara ii noni

Onaji uta wo

Kuchizusamu toki

Soba ni ite I Wish

Kakko yokunai

Yasashisa ni aeta yokatta yo

La la la la good-bye days

Setelah Junhoe menyelesaikan lagunya, dia menatap Chaeyoung. Dilihatnya gadis itu sedang menangis. Tangannya terulur untuk mengusap rambut gadisnya perlahan. Lantas ia menarik Chaeyoung ke dalam dekapannya. Dia berusaha menenangkan gadisnya. Ia tidak mau melihat gadisnya menangis algi.

“Chae.. aku mencintaimu.”

Chaeyoung menghentikan tangisnya lalu menatap Junhoe lekat. “Aku mencintaimu, Son Chaeyoung,” ujar Junhoe sekali lagi dengan tegas. “Tapi maaf kita tak bisa bersama. Ada suatu hal yang menjadi penghalang di antara kita. Kau mau tahu?”

Gadis itu hanya mengangguk lalu pemuda tampan itu melanjutkan ucapannya. “Aku menderita kanker otak stadium akhir dan juga sindrom XP. Kau tahu sindrom XP?”

Tampak ekspresi terkejut di wajah Chaeyoung. “Sindrom yang tak membiarkan penderitanya terkena sinar matahari bukan?” ujarnya. Lantas ia melihat ke arah matahari yang masih tampak sedikit. Tanpa di perintah, air matanya mengalir deras. Ia menangis tanpa suara.

“Iya. Aku rasa ini akan menjadi hari terakhirku maka dari itu aku datang, Chae. Aku ingin menghabiskan sisa waktuku bersamamu. Karena aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu. Terimakasih karena telah hadir ke dalam hidupku dan mewarnai hariku. Maaf karena telah membuatmu sedih.”

Oppa.. aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku juga berterimakasih padamu karena telah mengajarkanku arti cinta yang sesungguhnya.”

Junhoe tersenyum. Ia menatap wajah gadisnya lekat-lekat. Lantas dia mengecup bibir Chaeyoung. Dia memberanikan dirinya untuk melumat bibir ranum gadis itu dengan lembut. Ciuman itu berlangsung hingga matahari benar-benar menghilang. Chaeyoung merasakan Junhoe berhenti melumat bibirnya dan kelopak pemuda itu terpejam.

Andwae, Junhoe Oppa! Jangan pergi! Jebalyo! Hikss..”

Chaeyoung mendekap erat tubuh pemuda itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Dia masih ingin menghabiskan waktu bersama pemuda yang di sayanginya. Perasaan gadis itu begitu hancur namun dia tak bisa berbuat apapun. Mungkin ini memang yang terbaik untuk Junhoe. Pemuda itu tak perlu lagi merasakan kesakitan. Selamanya, Son Chaeyoung akan tetap mencintai Koo Junhoe.

END

#

Jangan lupa RCL! ^^

Maaf buat typo hihi 😀

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] A Song For The Sun

      • Wakak😂😂😂

        Komenlah… Nih aku komen deh…

        Aku krg dpt sadnya. Tp bagus kok. Dan gak masuk akal bwt aku ttg penyakit si june. Dia kan baru keluar sekali sama ceweknya itu di siang hari masa tetiba mati. Trus waktu matinya juga rada aneh. Abis nyanyi, cium si cewek trus mati di tempat gitu? Itu mati dimana? Bukan di kafe kan? Klo di kafe mah bikin panik satu kafe.

        Harusnya lebih ngenes lagi.

        Doa utk jin,
        Semoga cepat move on.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s