[Part-2] Imprisoned

imprisoned

|| Title: Imprisoned || Author: Phiyun || Genre: Family | Romance|| Rating: 16+ || Cast: Park Shin Hye | Jung Yong Hwa ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Please Don’t Be Silent Reader!

 

– Preview: Part 1

*** Happy  Reading ***

~ Quote ~

“Bagaimana mungkin aku bisa berlari jauh darimu, bila hatiku telah kau tawan bahkan sebelum aku menyadarinya.”

~OoO~

Sejenak kesunyian terasa melanda ruangan itu. Shin Hye tak mempercayai apa yang dikatakannya, namun ketegasan sikapnya membuat perkataannya terlihat meyakinkan.

“Kau— kau tidak bermaksud serius, bukan?” akhirnya Shin Hye bertanya.

“Aku khawatir— aku akan bermaksud demikian Nona Park.”

Seketika kedua bola mata gadis muda itu terbuka lebar. “Ta—tapi mengapa? Mengapa?”

“Karena aku tidak ingin diriku menjadi bahan publisitas, setelah mereka menemukanku bertempat tinggal di sini.”

Shin Hye berusaha memungkiri rasa panik yang melanda dirinya. “Ta—tapi aku tidak akan menceritakannya kepada siapa pun.” kata Shin Hye, seperti meniru ucapan-ucapan yang sering dilihatnya di salam film-film, jika seorang pelaku utama harus berhadapan dengan seorang buronan hukum. Tapi Jung Yong Hwa bukan lah seorang burunon hukum— ia hanya buronan para penggemarnya.

“Kekhawatiranku tidak ingin mengambil resiko itu” ia menggelengkan kepala. “Aku kira kau pasti akan tergoda untuk menyatakan kepada Ayahmu, bahwa seorang idola yang diperkirakannya telah meninggal— telah ditemukan olehmu di sebuah pemukiman terpencil di daerah bagian Selatan.”

“I—itu.. itu tidak akan aku lakukan!” Shin Hye mengepal kedua tinjunya. “Dan kau tidak dapat menahanku di sini! I—itu… merupakan pelanggaran hukum!”

Yong Hwa memberikan senyuman yang tidak mengenakan di mata Shin Hye sebelum ia membalas perkataan gadis itu. “Benarkah?”

“A—ayahku akan melakukan pencarianku. Dan itu akan memperburuk keadaanmu, bukan bila ia menemukanmu?” tutur Shin Hye dengan suara yang gemetar.

“Itu tidak akan terjadi.” sahutnya kering. “Sebenarnya aku bermaksud meninggalkan tempat ini. dan sampai saatnya aku kembali kau akan tetap berada di sini.”

Shin Hye tercekat. “Apa maksudmu? Kau menyuruhku tetap berada di sini sampai berapa lama? Aku tak mungkin menunggumu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di sini!”

“Tidak, paling-paling hanya beberapa minggu,” sahutnya dingin,

Mendadak pintu terbuka dan Shin Hye menatap dengan cemas. Di sana sudah berdiri seorang pria di ambang pintu, bahunya yang lebar di selimuti salju.

“David, kau telah kembali.” Seorang Jung Yong Hwa menyapa dengan hangat. “Apakah kau berhasil menemukan mobil itu?”

David menyeringai. “Ya, Tuan. Koper-koper itu sudah saya taruh di ruang tamu. Saya akan segera menunjukan kamar untuk tamu tuan.” Yong Hwa mengangguk. “Lakukan, David. Oh iya aku lupa memberitahukanmu nama Nona muda ini. Nona muda ini bernama Nona Park Shin Hye dan ia akan tinggal bersama dengan kita lebih lama dari yang kita harapkan.”

Mendengar perkataan sang Tuannya, David hanya mengangkat kedua alisnya. Kemudian ia melempar kunci-kunci milik Shin Hye ke atas meja kecil yang tak jauh dari dirinya berdiri. “Ya, Tuan. saya mengerti.”

“Aku akan menyimpan kunci-kunci itu.” Yong Hwa melanjutkan. “Dan akan aku jelaskan permasalahannya kemudian padamu.”

“Baik, Tuan.”

Shin Hye nyaris menangis melihat sikap dua pria itu. Peristiwa ini tidak seharusnya terjadi pada dirinya. Jung Yong Hwa akan menahannya di sini, semau hatinya.

“Aku tidak mau melihat kamarku!” pekik Shin Hye marah. “Kau tidak akan bisa menahanku di sini!”

Mulut Yong Hwa mencibir. “Dan bagaimana caranya kau mencegah tindakanku?” tantangnya dengan nada yang lembut namun bernada mengancam.

“A—aku… Aku akan pergi!”

“Dan kemudian?”

“Aku akan pergi kerumah penduduk yang terdekat—atau keperumahan apapun itu. Setibanya disana aku akan menelepon—meminta pertolongan!” sahut Shin Hye geram.

Namun ditanggapi dingin oleh lawan bicaranya. “Sayangnya di sini tidak ada pesawat telepon, Nona Park. Memangnya kau tahu jalan menuju ke sana?” tanya Yong Hwa, lirih.

“I—itu tidak akan sulit ditemukan.” balas Shin Hye lantang namun kalimat yang diucapkan terkesan ragu.

Yong Hwa menatap dingin dan kemudian berkata kembali dengan datar. “Dalam kondisi seperti ini?”

“Kau—kau… gila! Gila!!!” seru Shin Hye dengan suara tercekik. “Aku tidak ingin tinggal di sini. Aku hanya ingin pergi ke rumahku waktu kecil. A—aku bersumpah padamu, bahwa aku tidak akan menceritakannya kepada seorang mahluk apapun. Maka biarkanlah aku pergi!”

“Aku rasa itu tidak mungkin, Nona Park.” Lalu ia berpaling ke David. “Besok kita harus rapikan semuanya, David.”

Pria plontos itu mengangguk. “Saya akan membereskanya besok pagi.”

“Kau tidak dapat menahanku untuk pergi dari sini!” jerit Shin Hye putus asa.

“Terserah, apa yang kau katakan.” komentar Yong Hwa dengan sikap yang memperlihatkan kebosanan.

David menyadari perasaan Tuannya, karena ia telah melayaninya bertahun-tahun, ia pun lalu berkata dengan cemas. “Ini baru pertama kalinya Anda melakukan ancaman, Tuan. Jika Anda bersedia ke bawah, saya akan menemani Anda segera, setelah saya menunjukan kamar kepada Nona Park.”

Yong Hwa berpaling ke Shin Hye. “Kau memahami sikapku, bukan?” tanyanya dengan getir. “Aku seperti mesin tua yang selalu memerlukan pelumasan, bukan, David?”

“Kau belum tua!” seru Shin Hye dengan tak sadar.

“Paling tidak beberapa tahun lebih tua dari kau ketika kau pertama kali mendengar namaku.” balas pemuda itu kaku. Setelah itu ia meninggalkan ruangan dengan langkah-langkah yang pincang. David menatapnya dengan pandangan hangat dan menyayangi. Dan Caesar pun, segera mengikuti Tuannya, dan setelah itu David berpaling ke Shin Hye.

“Mari Nona, silakan ikut saya.” Ucapnya mempersilakan. Shin Hye ingin menolak, namun kemudian membatalkannya.

~OoO~

 

Ia memandangnya mengangkat kopernya dan kemudian mengikutinya menaiki tangga kayu oak yang lebar, dan kakinya segera menginjak karpet yang berwarna coklat keemas-emasan. Setibanya di puncak tangga, mereka berbelok ke arah kanan, dan Shin Hye mengagumi setiap interior yang ada di sepanjang lorong tersebut. Davin memimpinnya melewati beberapa pintu, dan kemudian berhenti di kamar yang diperuntukkan baginya. Ia membuka pintu, menyalakan lampu dan menyilahkannya masuk.

Karpet ruangan tersebut berwarna hijau daun, dan sprei tempat tidurnya merupakan paduan warna putih dan kream, sementara tirai-tirai jendelanya yang panjang, terbuat dari sutra. Mabel-mabelnya terbuat dari kayu mahoni, dan sebuah alat pemanas yang terletak di bawah jendela membuat hawa kamar itu sedikit hangat—menyenangkan.

David menurunkan koper-kopernya dan menunjuk ke sebuah pintu di samping lemari pakaiaan. “Itu kamar mandinya Nona.” Ucapnya menjelaskan. “Saya juga sudah menaruh botol-botol air panas di dekat tempat tidur, yang akan Anda dapat gunakan sewaktu-waktu.”

“Terimakasih, David.” Sahutnya, lalu menggigit bibir. Ketika David melangkah ke pintu untuk keluar, tiba-tiba Shin Hye bersua kembali. “Tunggu!”

“Ya, Nona?” ia memandang dengan sopan meskipun ia terlihat begitu terburu-buru untuk kembali ke majikannya.

“Apakah kau—ingin mengunciku di dalam kamar ini?”

David setengah tersenyum, dan menutup pintu, hingga pada akhirnya Shin Hye dapat melihat kuncinya yang tergantung. Kini pelayan itu telah pergi. Shin Hye bergerak ke depan jendela, dan memperhatikan sekitarnya. Kamarnya terletak di bagian belakang rumah, namun keadaan cukup terlindungi. Ia menurut tirai-tirai jendela dan berpaling untuk mempelajari situasi kamarnya.

Kemudian dengan terkejut, Shin Hye menyadari bahwa suasana kamar itu lebih menyenangkan dari kamar –kamar hotel yang pernah ia tempati sebelumnya. Namun berapa lama ia akan tinggal di sini? Berapa lama Jung Yong Hwa akan menahannya, hingga urusannya untuk meninggalkan tempat ini selesai.

Shin Hye mulai berjalan mondar-mandir untuk mengurangi rasa cemasnya. Apakah benar seorang Jung Yong Hwa akan melakukan apa yang dikatakannya? Ataukah dia hanya berusaha membuatnya cemas, demi rasa kepuasan dalam batinnya.

Shin Hye lalu memandangi arlojinya. Waktu menunjukan pukul tujuh lebih. Jung Yong Hwa telah mengatakan, ia akan bersantap malam pada pukul delapan. Shin Hye merasa ragu. Apakah dirinya akan sanggup menelan makanan dan dimana pria itu sekarang? Apa yang sedang di lakukan David kepadanya? Pertanyaan itu terus-menerus bergema di isi kepalanya.

Ia menatap bayangan dirinya di depan cermin. Dan merasa tidak senang melihat penampilannya yang nampak acak-acakan. Kemudian ia mengangkat tangannya yang gemetar untuk merapikan rambutnyaa yang berwarna hitam legam. Apa yang akan dan harus ia lakukan sekarang? Lalu Shin Hye menatap pintu kamar mandi, dan segera memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.

Setibanya di sana, ia melihat sebuah bak mandi yang cukup besar, berlapis porselin putih dan berkaki dari besi berwarna hitam. air hangat sudah cukup banyak tersedia di tabungnya, dan setelah menambahkan aroma terapi ke dalamnya, ia segera merasakan kesegaran air yang berbau harum itu.

Setelah selesai mandi, Shin Hye mengeringkan rambutnya, tubuhnya dengan handuk putih yang lebarm dan segera kembali ke kamar tidurnya untuk mengenakan pakaian bersih dari dalam kopernya. Namun koper-koper itu masih terkunci, dan kuncinya di bawa oleh Yong Hwa, sejenak ia berdiri dengan bimbang, ia ingin berteriak memanggil David untuk meminta kuncinya, namun kemudian ia menyadari posisinya. Lalu Shin Hye akhirnya mengenakan kembali pakaian yang telah ia lepaskan tadi. Setelah itu ia pergi menyusul Yong Hwa.

~OoO~

Sejenak ia merasa khawatir saat akan meninggalkan kamarnya, namun pikiran buruk itu langsung dibuangnya jauh-jauh. Suasana lorong nampak sunyi dan suram. Setelah mematikan lampu kamarnya ia melangkah dengan pasti menuju ke tangga. Dari ruangan tamu ia berhenti untuk mencari-cari pintu dimana ada keberadaan Yong Hwa.

Shin Hye mencoba membuka dua pintu, Namun ia hanya menemukan ruangan penyimpanan mantel dan sebuah ruangan makan kecil. Di dalam batinnya Shin Hye berkata. “Haruskan aku makan di ruangan ini?”

Ia mendesah dan kemudian menoleh saat ia mendengar suara di belakangnya, Shin Hye langsung memutar tubuhnya. Di sana sudah ada Yong Hwa berdiri di ambang pintu, dengan Caesar, Chetahnya, mengawal di sampingnya.

“Tidak kah kau akan menemaniku bersantap malam?” tanyanya dengan suara dalam yang terdengar menarik. Ia berdiri menyamping untuk memberikannya jalan masuk ke ruang makan dan kemudian menutup pintu di belakangnya. Pemuda itu sudah berganti pakaiannya dengan baju sweter biru muda dan celana bahan katun kream. Wajahnya yang kusut telah menghilang, semua itu terjadi mungkin karena perawatan David.

Shin Hye melangkah ke perapian dengan waspada kepada sang Chetah yang mengngikutinya. Meja yang sebelumnya kosong berubah kini telah tertutupi oleh taplak meja bersih. Yong Hwa menunjuk ke kursi berlengan yang sebelumnya telah di duduki oleh Shin Hye. “Silakan, duduk.” ucapnya. “Bolehkah aku menawarkan minuman sebelum kita bersantap malam?”

“A—aku turun bukan untuk menemanimu bersantap malam!” tungkasnya. “Aku ingin meminta kunciku. Kau tidak berhak untuk menyimpannya.”

Yong Hwa mengerutkan dahi, memasukkan tangannya ke saku celananya, dan mengeluarkan kunci-kuncinya. Sejenak ia meneliti kunci-kunci itu dan kemudian berkata. “Aku minta maaf. Wajar jika kau membutuhkan kunci-kunci ini. Jika kau memberi tahuku sebelumnya.”

Sesaat Shin Hye menatapnya, dan kemudian tanpa memikirkan resikonya, ia meloncat ke depannya untuk mengambil kunci itu, ia tidak tahu apa yang ia lakukan bila usahanya berhasil, karena ide melarikan diri di malam hari ini dengan mobil mogok itu hanyalah khayalan belaka.

Namun usahanya sama sekali mengalami kegagalan. Karena Yong Hwa mengankat tinggi- tinggi dan  mencengkram kunci itu dengan erat hingga ia tak mampu merampasnya, Shin Hye tidak putus asa ia lalu mendorong tubuh pemuda itu agar terjatuh pun tidak membuahkan hasil.  Pandangan Shin Hye lalu kearah Chetah yang berdiri menatap dirinya dengan waspada dan siap-siaga—menunggu perintah dari majikannya. Ia dapat merasakan kehangatan tubuh pria itu, keharuman parfumnya yang di pakainya, namun ketika ia menegadah, Shin Hye melihat senyuman yang kejam dan melukiskan ejekan yang membuatnya buru-buru bergerak mundur, sambil mengeluarkan pekikan kesal.

“K—kau benar-benar menyebalkan!” serunya dengan geram. “I—itu adalah kunciku. Aku sangat memerlukanya.”

“Tidakkah sikapmu tadi adalah merupakan kebodohan?” tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. “Padahal aku sudah mau memberikannya padamu tadi, tanpa kau harus melakukan itu.”

Shin Hye mengeak-gerakkan kepalanya dengan sikap putus asa, “Me—mengapa kau melakukan semua ini padaku?” tanyanya. “Mengapa kau tidak mengijinkan aku pergi?”

“Malam ini?” ejeknnya.

“Tidak! Besok pagi!” gadis itu mengajukan permohonan yang terakhir. “Ijinkan aku pergi, kumohon.”

“Jangan memohon kepadaku.” tuturnya dengan  muak, “Aku sangat tidak menyukai orang yang bersikap seperti itu!”

Shin Hye merasa sangat terpojok dan terpukul. Dengan tangan yang mengepal erat ia mundur ke belakang, dan menjatuhkan dirinya di atas sofa. Shin Hye mulai merasa putus asa, hingga air matanya mulai mengalir turun, dan tatapan Caesar yang melukiskan sikap iri pun sama sekali tidak di acuhkannya.

“Kemarilah! Minumlah ini!” Yong Hwa mengulurkan gelas, dan ia menatapnya dengan pandangan kosong. “Apa itu?” tanya Shin Hye.

Brandy,” sahutnya singkat. “Itu mungkin akan dapat meredakan ketenganganmu.”

Shin Hye ingin melemparkan gelas kristal itu, namun kemudian ia menerimanya dan langsung menegaknya dalam satu tegukkan. Kehangatan mulai masuk ketengorokannya dan perasaannya berangsur-angsur menjadi tenang.

Yong Hwa melangkah dengan pincang dan kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kursi lengan yang jauh letaknya dari perapian. Ia menuangkan minumannya sendiri. Setelah melihat keadaan Shin Hye yang sudah tenang, Yong Hwa kemudian mengambil beberapa kunci milik Shin Hye kemudian melemparnya ke arah gadis itu. Karena Shin Hye kurang cepat menangkapnya, rentengan kunci itu terjatuh ke atas lantai.

Dengan perasaan terhina, Shin Hye membungkuk untuk mengambil kuncinya dan ia melihat bahwa Yong Hwa telah mengambil kunci mobilnya dan juga kunci pembuka tangki bahan bakarnya.

“Sekarang,” katanya, dan merentangkan kedua kakinya yang pajang, “Tidakkah kau lebih baik duduk di sana?”

Shin Hye mengatup  bibirnya sesaat. “Tidak!” balasnya. “Aku akan kembali ke kamarku. Dan aku harap besok kau dapat mengijinkan kau pergi dari sini.”

Yong Hwa tersenyum mengejek. “Jangan merasa kecewa bila aku tidak dapat melakukan itu padamu esok.” balasnya kemudian sambil kembali mengicip isi dari dalam gelas kristalnya.

“Kau—kau, sikap kau sangat menjengkelkan. Aku muak padamu!” pekik Shin Hye kembali sambil berjalan ke depan pintu.

Namun di tanggap dingin oleh Yong Hwa, “Aku tidak peduli dengan pendapatmu tentang diriku.” ia lalu memandangi Shin Hye saat gadis itu sudah ada di ambang pintu. “Dan apakah kau tahu apa akibat sikap yang kau lakukan sekarang, Nona Park Shin Hye-ssi. Bila kau tidak memakan apapun hari ini, esok pagi perutmu akan sakit, dan aku tak mau mendengar rengekanmu esok pagi.”

Kedua pundak Shin Hye seketika mengejang. “A—aku… aku tidak mau menyentuh apapun yang kau berikan!” cetusnya gahar. “Karena itu akan membuat perutku sakit!”

Namun belum sempat Shin Hye melangkah keluar, David masuk sambil membawa sebuah nampan. Shin Hye tidak mengetahui isinya, tapi bau makanan itu tercium sedap. Si pelayan itu memandang Shin Hye dengan terkejut, dan kemudian berkata. “Saya pikir, saya harus menghidangkan makananya di sini, Tuan.”

“Itu ide yang bagus!” sahut Yong Hwa sambil tersenyum riang melebihi yang biasa diperlihatkannya kepada Shin Hye. “Apakah kau mau menemaniku, David?”

David memandangi Shin Hye, yang masih berdiri terpaku di ambang pintu, seakan terbius keharuman aroma hidangan yang dibawa oleh pelayan tersebut.  “Saya ki—kira Nona Park..” belum sempat David menyelesaikan perkataannya Yong Hwa langsung memotongnya. “Nona Park—tidak lapar, David. Ia mengatakan bila perutnya sedang sakit. Ia ingin istirahat lebih awal, benarkan Nona Park Shin Hye-ssi?”

Kedua mata pria plontos itu memandang ke wajah Shin Hye yang melukiskan rasa keraguan. “Itu benar,” kata Shin Hye dengan suara gemetar. A—aku sudah terbiasa memilih-milih orang yang aku temani bersantap! Kemudian gadis itu melangkah mantap keluar dari ruangan tersebut, menutup pintunya keras-keras.

Ia berdiri sejenak di luar pintu, setengah berharap bila Yong Hwa akan menyusulnya, dan kemudian pemuda itu berusaha membujuknya. Namun yang didengarnya hanyalah suara tertawa yang nyaring, yang pasti suara itu telah keluar dari kerongkongan seorang Jung Yong Hwa. Dan Shin Hye menyadari bila pemuda itu tidak akan menyusulnya.

-TBC-

 

Aloohhh… ketemu lagih ma Phiyun di mari ^^

Akhirnya bisa juga buat postingin kelanjutannya, hehee…

Walaupun rada lama, Phiyun berharap kalian maupun yang request, a.k.a Wao suka yah… Maap kalau ceritanya rada gaje sama kaya yang buat, kkk XD

Penasaran sama kelanjutannya??? Kalau begitu jangan lupa tinggal jejaknya ya setelah membacanya atau kata kerennya Feedbacknya, biar aku lebih semangat lagih buat nulis kelanjutannya buat kalian semua. Siapa tau kalau banyak good readers yang ninggalin jejaknya, authornya mau postingin kelanjutannya di bulan ini juga, #wkwkwk, modus#

Okeh deh cuap-cuapnya, cee u next part, n gomawo ❤

 

Advertisements

15 thoughts on “[Part-2] Imprisoned

  1. Penasaran tingkat dewa nih sama kelanjutannya. Well, biar kata dingin banget, kalau cowoknya setampan Yonghwa mah ga akan nyesel deh dikurung disono hihii…

    • Yoi.. kalo cogan bentuknya kaya sih bang yong mah kaga ada yg nolak 😂😂😂
      Ditunggu aja ya next partnya mungkin aku keluarin di bulan-bulan ini. Makasih dah mampir kesini 😊

  2. Ceritanya keren thor…seneng sm sikap misterius yong..tp itu juga bs jd pembelajaran buar shin hye biar lbh dewasa..kapan dilanjutin lagi penasaran ni…semoga secepatnya ya thor…aq selalu semangat klw baca cerita ttg yongshin…fighting…😚😚😚😚

  3. Knpa yonghwa gk ngijinin shinhye pergi apa dia udah mulai tertarik sama shinhye…ceritanya menarik jd penasaran dg next part..di tunggu klo bisa jgn lama2…#maksa hehehe

  4. Cieee update… Kok yonghwa ngocol ya kak?? Nyebelin… Tp ada sesuatu yg dia sembunyiin dr Shin Hye. Tp (lagi) entah kenapa dia tetap terlihat baik dan manusiawi di mataku.

    Nah, klo Shinhye sok jual mahal dia. Tp aku mungkin juga akan gitu klo ketemu satu orang yg tingkahnya mencurigakan gitu.

    Intinya mah sukak bgt kak. Ditunggu kelanjutannya secepatnya….

    • Haahaha,, emang tuh sih yong ngeselin banget, tapi kan kita gak tau dibalik ke songongannya uh org menyimpan apah??? XD

      sip ditunggu aja ya, wao next partnya masih in proses..
      Thikyu buat rclnya ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s