Fascination [Part 1]

fascination

 

|| Title: Fascination || Author: Phiyun || Genre: Comedy | Romance | Family life | Crime || Main Cast:  Jiyeon | Myungsoo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan berubah di beberapa part.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

*** Happy  Reading ***

~OoO~

Myungsoo sudah menempuh lebih dari 200 kilometer tanpa  sedetikpun  menelepon lewat ponselnya sepanjang perjalanannya. Ia sedang sibuk bercakap-cakap dengan produsernya yang masih ada di Amerika dan nampaknya ia mulai lelah dan kesal. Pemuda itu semakin jengkel karena sepanjang perjalanan pemandangan yang ia lihat hanyalah jalan rata tanpa ujung selama sejauh ini. baginya perjalanan ini hanya membuang-buang waktunya yang berharga.

Ia sudah menjajaki hampir sepuluh kota yang berada di negeri pamansam, namun tidak ada yang cocok dengan keinginannya. Kalau kondisinya tidak berubah , mau tak mau mereka akan menggunakan layar biru. Itu bukan style-nya. Bila Kim Myungsoo menyutradarai film, maka ia berpengang teguh pada keaslian.

Sekarang ia sedang mencari sebuah kota kecil yang sangat terpencil dan kumuh. Ia ingin tembok-tembok pada bangunan yang sedang ia cari itu agak sudah terkelupas dan sedikit kotor, misalnya berlumut. Myungsoo mencari suatu tempat yang ingin ditinggalkan oleh semua irang dan tak ada yang mau kembali kesana. Namun sayangnya sudah lebih dari seminggu ia menghabiskan perjalanan yang panjang dan panas untuk mencari kota seperti itu, tapi tak ada satu pun yang memuaskan batinnya.

Sebenarnya Myungsoo sudah menemukan dua kota kecil seperti yang ia bayangkan namun ia merasa ada sesuatu yang kurang. Sebagai sutradara film-film sukses—Kim Myungsoo mengandalkan naluri sebelum memilih suatu tempat untuk memperkirakan letak angel-angel  yang bagus di mata kamera. Ia membutuhkan sebuah kota yang dapat membuat hasratnya mengebu-gebu, dan sekarang Myungsoo mulai putus asa.

Thomas, si Produser sudah mendesaknya untuk mulai merekam adengan-adengan di studio. Tanpa Myungsoo sadari, ia tengah memaki dirinya sendiri lagi karena tidak menemukan tempat yang ia inginkan. Dahi Myungsoo berkerut saat memandangi bentangan jalan tanpa ujung yang ada di hadapannya. Sesungguhnya ia tidak dapat mempercayakan masalah kedetailan film pada orang lain. Itulah bakat yang ia miliki, dan itu pula yang membuatnya menjadi Sutradara yang sukses meskipun ia baru beumur 35 tahun. Ia mengakui bahwa dirinya itu keras, kritis, dan bersemangat, walaupun begitu ia memperlakukan setiap filmnya seperti anak kecil yang sangat memerlukan perawatan khusus yaitu kesabaran yang tidak ada habisnya. Meskipun ia tidak terlalu begitu memperhatikan para pemain.

Dari kejauhan terdengar suara sayup-sayup raungan sirene. Ketika Myungsoo melirik kaca sepion, tampak mobil polisi yang kotor dan sedikit penyok di bempernya. Mobil itu mengejarnya. Myungsoo mengumpat, sesaat berpikir untuk menginjak pedal gas dan kabur meninggalkan gangguan itu, tapi ia lalu menepikan kendaraannya dengan pasrah.

Hawa panas yang menyambutnya ketika ia menurunkan kaca jendela mobilnya membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Myungsoo lalu mematikan mesin mobilnya sambil menatap sekelilingnya.

Tak beberapa lama kemudian turunlah seorang pria paruh baya sambil membawa buku tilang. Pikiran pria paruh baya itu terpukau saat melihat mobil termewah yang pernah di lihatnya selain di televisi. Ia bahkan melihat merek kendaraan itu adalah ferari, lalu mengucapkan nama itu berkali-kali dalam hatinya.

Jerman, tebaknya takjub. Pria paruh baya itu adalah seorang Sheriff yang menjaga ketertiban di daerah tersebut, ia bernama Jacob Park. Sheriff itu mulanya merasa kecewa saat melihat si pengemudi. Pengemudi itu tidak seperti orang asing ataupun kaya. Lirik Jacob sekilas melewati jam tangan emas Swiss dan memperhatikan T-shirt putih dan jins yang pemuda itu kenakan.

“Pasti dia OKB alias orang kaya baru.” pikirnya. “Atau mungkin itu mobil curian?!” jantung Jacob mulai berdetum keras. Ia lalu memandang wajah pemuda itu lebih dekat. Wajahnya kurus dan agak terkesan nigrat, dengan tulang rahang yang sempurna dan hidungnya yang lumayan mancung bagi ukuran wajah orang asia.  Pemuda itu bercukur rapi. Rambutnya terlihat hitam pekat sedikit gondrong. Wajah pemuda itu terlihat kecokelatan mungkin karena terbakar teriknya matahari. Matanya yang berwarna kecoklatan terlihat teduh. Mata itu terlihat bosan dan jengkel. Menurut Jacob pengemudi itu sangatlah dingin. Orang itu tidak sesuai dengan bayangan Jacob tentang pencuri mobil bikinan luar negeri yang nekat.

“Ya?”

Sepata kata dingin itu mengingatkan Jacob pada tugasnya. “Sedang terburu-buru?” tanyanya sambil memasang gaya yang di sebut Sheriff gaya polisi keren.

“Ya.” balas Myungsoo,

Jawaban itu membuat Jacob bergerak kikuk. “SIM dan surat-surat,” balas Jacob ketus, lalu menyondongkan tubuhnya ke dekat jendela sementara Myungsoo merogoh laci mobilnya.

“Wah, Dasbornya canggih! Telepon, ada telepon di dalam mobil. orang-orang Jerman memang hebat.” Myungsoo meliriknya sedikit. “Prancis,” koreksinya sambil menyerahkan surat-surat kepada Jacob.

“Prancis?” Jacob mengerutkan dahinya tak percaya, “Anda yakin?”

“Ya,” Myungsoo mengeluarkan SIM dari dompetnya, menyodorkan lewat sela jendela.

Jacob menerima surat-surat itu. Ia sangat yakin bila Ferari itu nama Jerman. “Ini mobil Anda?” tanyanya curiga.

“Kau bisa melihat namaku disurat-suratnya.” Jawab Myungsoo dingin, pertanda kesabarannya mulai hilang.

Seperti biasa Jacob membaca surat-surat itu dengan lamban. Setelah selesai membacanya, ia lalu berkata. “Saya menghentikan Anda karena melanggar batas kecepatan. Saya mempergoki Anda mengebut dua ratus kilometer per/jam lebih. Saya berani taruhan mobil ini meluncur begitu mulus sehingga Anda tidak menyadarinya.”

“Mungkin.” Balas Myungsoo datar tanpa rasa bersalah. Mungkin kalau ia sedang tidak marah, dan mungkin bila hawa panas tidak menyerbu dirinya tanpa ampun ke dalam mobil, Myungsoo akan bersikap lain.

Ketika Jacob menulis surat tilang, Myungsoo memicingkan matanya. “Bagaimana aku tahu kau mempergokiku?”

“Saya baru saja keluar dari restaurant Rosemary, waktu Anda lewat,” kata Jacob enteng. “Kalau saya menunggu uang kembali mungkin aku tidak akan melihat Anda.” Ia meringis, senang. “Anda tinggal menandatangani ini,” lalu merobek surat tilang dari buku. “Anda dapat mempir ke kota dan membayar dendanya.”

Perlahan-lahan Myungsoo keluar dari mobil. “Tidak!” kata Myungsoo tegas.

“Tidak?” Jacob berkedib melihat sorot tajam mata kecoklatan tersebut. “Tidak apa?”

“Tidak, aku tidak akan menandatanganinya!”

“Takkan menandatanganinya?” Jacob mennunduk memandangi surat tilang ditangannya. “Tapi Anda harus menandatanganinya.”

“Tidak!” Myungsoo merasakan sebutir keringat meluncur turun di pelipisnya. Keringat itu membuatnya marah tanpa alasan. “Aku tidak akan menandatanganinya, dan aku tidak sudi membayar satu sen pun pada hakim kelas teri yang mencari uang dengan perangkap seperti ini.”

“Perangkap?!” seru Jacob yang lebih merasa heran daripada terhina dengan ucapan yang baru saja Myungsoo katakan pada dirinya. “Tuan, Anda mengebut lebih dari dua ratus kilometer per jam, padahal rambu lalu lintas jalannya jelas-jelas mengatakan tujuh puluh delapan. Semua orang tahu bila pengemudi tidak boleh melaju lebih dari tujuh puluh delapan kilometer per jam?”

“Itu kan ucapanmu,” kata Myungsoo dingin. “Apa kau punya saksi?”

Jacob terngaga. “Yah… tidak, tapi—” pria paruh baya itu mulai tersulut kemarahannya. “Asal, Anda tahu, saya tidak perlu saksi. Kau hanya cukup menandatangani surat ini saja.”

Myungsoo sebenarnya tidak begitu tahu seberapa cepat ia mengebit tadi dan sama sekali tidak peduli. Jalan itu panjang dan kosong, sedangkan pikirannya saat itu sedang tak memperhatikan jalan. Walaupun begitu Myungsoo tahu bahwa dia salah namun ia tidak mau mengambil pulpen yang di sodorkan Jacob untuk menandatangani surat tilang tersebut. “Tidak!”

“Baiklah, kalau begitu saya harus menahan Anda, Tuan Kim Myungsoo.” Ancamnya “Sheriff pasti tidak akan suka.” Myungsoo tersenyum mengejek. Jacob menatapnya sesaat, lalu tanpa daya memandang kedua mobil bergantian. Meskipun marah, Myungsoo bersimpati juga pada petugas tersebut.

~OoO~

Mereka mulai memasuki New orlands dengan kecepatan rendah. Tak beberapa lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Jacob berhenti di depan kantor Sheriff.

 

“Kita sudah sampai, masuklah.” Jacob berdiri tegak, lelaki tua itu mendadak bersikap resmi. “Sheriff akan berbicara dengan Anda.”

Setibanya di sana Myungsoo melihat ruangan kecil berisi dua sel. Papan pengumuman, dua kursi panjang, dan meja kerja yang berantakan. Kipas angin di langit-langit mendengun. Di lantaiberbaring segunduk besar berbulu berwarna cokelat tua yang ternyata seekor anjing.

Disana terlihat seorang wanita berambut gelap membungkuk di atas meja kerja seraya menulis sesuatu di atas notesnya. Ia mendongak ketika mereka masuk. Myungsoo langsung lupa rasa kesalnya dan merencanakan wanita itu untuk membintangi lima film barunya. Wanita itu mempunya wajah yang mulus, dengan tulang pipi yang menonkolkan samar di balik kulitnya yang kuning langsat. Hidungnya yang kecil namun mancung, mulutnya yang kecil namun penuh dengan sensual. Rambutnya yang hitam legam tergerai melewati bahu, bergelombang indah. Alisnya bekerut bingung. Ia juga memiliki bulu mata yang lebat nan lentik dengan manik yang sama warnanya dengan rambutnya.

“Jacob?” ucapnya serak, lambat dan seksi saat mengalun di kedua gendang telinga milik Myungsoo. Myungsoo berani bertaruh bila hampir semua artis rela membunuh demi suara seperti itu. Bila Wanita ini tidak canggung di depan kamera, mungkin ia akan menjadi artis yang sukses di tangan dinginnya. Tatapan mata Myungsoo  bergerak turun dari wajah wanita tersebut ke arah dada kiri wanita itu tersemat lencana timah kecil berbentuk bintang. Myungsoo terpanah menatapnya.

“Tuan Kim telah melanggar  batas kecepatan di Cliff Street, Sheriff.

“Oh?” sambil tersenyum kecil, wanita itu menunggu Myungsoo kembali menatap matanya. Ia menyadari kekaguman pria itu waktu ia melangkah masuk. “Kau punya pulpen, Jacob?”

“Pulpen?” Jacob mulai merongoh-rogoh kantung celana panjangnya.

Tiba-tiba Myungsoo menyela. “Aku tidak akan menandatangani surat tilang itu.” Myungsoo menghampiri meja untuk melihat wajah wanita itu dari dekat. “Sherif,” tambahnya.

“Begitu. Berapa kecepatannya, Jacob?”

“Dua ratus. Jiyeon, kau harus lihat mobilnya!” seru Jacob bersemangat.

“Kurasa, aku harus melihatnya,” gumam wanita itu, ia mengulurkan tangan, matanya masih tertuju pada mata Myungsoo. Jacob cepat-cepat menyodorkan kertasnya.

Myungsoo melihat tangan wanita itu panjang, ramping, dan anggun. “Apa sih yang dia lakukan disini?” pikir Myungsoo saat menatap kearah Sheriff tersebut. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana bisa wanita sesempurna dirinya bisa terdampar di negri antah berantah semacam ini.

“Semuanya kelihatannya beres, Tuan Kim?” mata wanita itu kembali menatapnya. Sedikit maskara, pikirnya. Warna kulitnya asli tanpa bedak. Tanpa lipstick. Myungsoo berharap ia membawa kamera dan beberapa lampu sorotnya. “Dendanya lima puluh dolar,” kata si  Sheriff lambat-lambat. “Tunai.”

“Aku tidak mau membayarnya!” seketika bibir Jiyeon merapat sebentar, membuat Myungsoo bertanya-tanya seperti apa rasanya. “Atau—empat puluh lima hari,” kata wanita itu tanpa berkedip. “Saya pikir, Anda akan merasa lebih—nyaman bila membayar denda. Akomodasi kami takkan cocok untuk Anda.”

Nada sindiran dalam suara wanita itu menjengkelkan Myungsoo. “Aku tidak sudi membayar denda apa pun.” Seraya meletakan telapak tangannya di atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah wanita Sheriff, tersebut. ia mencium wanginya yang samar-samar. “Apa kau mengira, aku akan percaya bila dirimu itu adalah seorang Sheriff? Tipuan macam apa yang kau mainkan bersama orang ini?”

Saat Jacob akan membuka mulutnya untuk membalas ucapan Myungsoo niat lelaki tua itu dibatalkanya saat melirik Jiyeon. Wanita itu bangkit perlahan-lahan. Myungsoo terkejut karena wanita itu ternyata jangkung. “Tubuh model,” pikirnya. Jiyeon hanya menggunakan Jins dan   T-shirt polos namun pakaian itu terkesan berharga jutaan dolar.

“Aku tidak peduli Anda percaya atau tidak, Tuan Kim. Anda harus mengosongkan isi saku Anda.” Sambil memberikan sebuah keranjang terhadap Myungsoo.

“Tidak mau,” tolak Myungsoo geram.

Jiyeon tersenyum, “Melawan ketika ditahan.” Seraya melipat kedua tangannya. “Kami akan menjadikannya, delapan puluh hari.” Myungsoo melontarkan komentar yang kasar. Bukannya tersinggung, Jiyeon malah tersenyum. “Kurung dia, Jacob.”

“Hei, tunggu sebentar—”

“Lebih baik kau menuruti perintahnya,” bisik Jacob , mendorong Myungsoo ke arah sel. “Dia bisa sangat kejam bila marah.”

“Aku ingin menelepon!” kata Myungsoo, seraya menepis tangan Jacob.

“Tentu saja,” Jiyeon tersenyum lembut. “Secepatnya, setelah Anda memberikan kunci mobil pada Jacob.”

“Begini…“ Myungsoo melirik lencana itu lagi. “Sheriff,” ucapnya ketus. “Kau tak bisa berharap aku termakan tipuan lama.”

Jiyeon mendengar penuh perhatian. “Apakah Anda akan menandatangani surat tilang itu, Tuan Kim?” Myungsoo menyipitkan matanya. “Tidak.”

“Kalau begitu selamat Anda menjadi tamu sementara kami.”

“Kau tidak bisa menghukumku,”kata Myungsoo kesal. “Hakim—”

“Hakim Setempat?” sela Jiyeon, lalu mengetukkan kukunya pada sertifikat kecil berbingkai. Myungsoo melihat nama Park Jiyeon.

Lama ia menatap wanita itu, tak percaya. “Kau?”

“Ya.” Jiyeon memiringkan kepalanya. “Delapan puluh hari, Tuan Kim, atau lima ratus ribu dolar.”

“Lima ratus ribu dolar!” pekik Myungsoo kaget.

“Jaminan di tetapkan lima ratus ribu  dolar, kau mau membayanya?”

“Teleponnya,” desis Myungsoo.

Dan kemudian di balas Jiyeon. “Kuncinya.”

Sambil mengumpat pelan, Myungsoo mengeluarkan kunci dari saku dan melemparkannya kepada wanita itu. Jiyeon menangkapnya dengan cekatan. “Kau boleh menelepon lokal satu kali.”

“Interlokal,” gumamnya. “Aku akan menggunakan kartu kreditku.”

Setelah memberikan telepon pada Myungsoo, Jiyeon memberikan kunci mobil milik pemuda itu kepada Jacob. “Lima ratus ribu dolar!” bisik Jacob. “Apakah kau tidak terlalu keras kepadanya, Jiyeon?”

Jiyeon mendengus. “Ego Mr. Hollywood Kim perlu dihajar,” balasnya simpul. “Tidak ada salahnya dia dikurung sementara di sel. Tolong bawa mobilnya ke tempat penampungan, Jacob.”

“Aku? Mengendarainya?” Jacob menunduk memandangi kunci di tangannya.

“Kunci mobil itu dan kembalikan kuncinya,” Jiyeon menambahkan. “Dan jangan bermain-main dengan tombol apapun.”

Jacob tersipu malu. “Ahh… Jiyeon-ah..”

“Ahh… Jacob-ah..” balas Jiyeon dengan merajuk, lalu menyuruhnya pergi sambil menatap sayang.

~OoO~

Di tempat lain, Myungsoo terlihat tidak sabar saat menunggu seseorang mengangkat panggilannya. “Di sini kediaman Song joonggi.”

“Mana Joonggi?” tanyanya.

“Tuan Song, tidak ada di tempat sampai hari senin,” operator itu menjawab sopan. “Apakah Anda mempunyai pesan untuk Tuan Song?”

“Ini Kim Myungsoo. Cari Joonggi sekarang, beritahu dia aku ada di—i” ia menoleh, menatap Jiyeon tajam.

“Selamat datang di Cliff Street, New Orlands,“ kata wanita itu dengan wajah manis. Myungsoo menanggapinya dengan makian. “Cliff Street, New Orlands. Dalam penjara brengsek, karena tuduhan palsu. Suruh dia naik pesawat jet pribadiku.”

“Ya, Tuan Kim Myungsoo, Saya akan berusaha menghubunginya.”

“Kau harus menghubunginya.” Kata Myungsoo ketus dan kemudian menutup telepon.

Ketika ia mulai menekan nomor telepon lagi, Jiyeon menghampirinya dan dengan tenang memutuskan hubungannya, “Satu kali telepon,” ia mengingatkan.

“Tadi yang menjawab bukan orang yang kucari.”

“Sayang sekali.” Jiyeon memberinya senyuman menawan yang membuatnya tertarik sekaligus marah. “Kamar Anda sudah siap, Tuan Kim.”

Myungsoo menutup teleponnya untuk menghadapi wanita itu. “Kau tidak akan memasukkanku ke dalam sel?” Wanita itu mendongak sambil mengerjabkan matanya dengan gaya yang polos. “Tidak?”

“Tidak.”

Jiyeon tampak bingung sesaat. Suara beratnya terdengar feminim ketika ia mengitari meja kerjanya. “Anda menyulitkanku Tuan Kim Myungsoo. Anda pasti tahu saya tidak bisa mendorong Anda ke dalam Sel. Tubuhmu lebih besar daripada aku.”

Perubahan suara Jiyeon membuat Myungsoo merasa lebih tenang. “Nona, Park…” ujarnya

Sheriff Park Jiyeon.“ koreksi Jiyeon, lalu mengeluarkan pistol kaliber 45 dari laci mejanya. Senyumannya tegas ketika Myungsoo ternganga melihat pistol besar itu di tangannya yang anggun.

-TBC-

~OoO~

Advertisements

19 thoughts on “Fascination [Part 1]

  1. Wow, jiyeon super cool, suka deh sama karakter dia yg begini. Good job author-nim 👍
    Apalagi adu mulut sama myungsoo yg keras kepala dan berujung takluk sama sheriff cantik. Apa myungsoo serius mau jadiin jiyeon aktrisnya hmm ?
    Ceritanya sangat menarik, ditunggu kelanjutannya. Keep writing~~

    • Kira-kira tar jiyi jadi artisnya myung gak ya??? Jawabannya bakalan keliatan di part yang akan datang, mungkin? Makasih dah mampir kesini buat baca ^^

  2. Akhirnya ada ff Myungyeon baru di 2017 yeay!
    Ceritanya keren sumpah thor.. Part 2 nya ditunggu, jng lama2 ya author keren!!
    Tapi masih sedikit bingung, bukannya Myung mau diperjara kan thor? Kok malah disuruh tinggal di kamar.. Jangan2 OH MY!!!

  3. Yuhuu ff baru kerenn lg, jiyeon myungsoo lg d negeri paman sam? Trus mreka ngomong nya pke korea atau inggris ya thor?
    Jiyeon cool bgt sihh, myung hayolooh terpesonahhh haha
    Next thor fighting

    • Pake bahasa indonesia aja ya yang di campur sedikit bahasa korea, hehehe … soalnya kalo mereka pake bahasa inggris tar readernya pas baca harus translate dulu XD

      Sih Myung mah dah terpesona tapi kesel juga ma jiyi, kkk… pastinya next dong, ditunggu ajah ya…
      Makasih dah mampir kesini buat baca ❤

  4. Apalah ini Jiyeon keren amat sampe Nyung gk berkutik. Duhhh, penasaran nih gmna ntar Myung bjuk Jiyeon jd aktris nya. Heheeheh
    Next chap, d tunggu slalu dehhh

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s