[Oneshoot] Complicated Cases

phiyun-complicated-cases

|| Title:  Complicated Cases || Author: Phiyun || Lenght: Oneshot || Genre:  Crime | Hurt | Sad | Family Life || Rating: PG-15 || Cast: Kim Jin Hwan  | Song Yun Hyeong  || Member Support : iKON ||

Poster Credit: Laykim @ Indo Fanfictions Arts (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

~Summary~

Buronan yang sedang di incar-incar oleh polisi sepanjang malam tadi sudah menabrak lari seorang gadis kecil hinga tewas ditempat  kejadian saat keesokan paginya. Saat polisi menanyakan sosok buronan tersebut kepada Ayah korban sang Ayah sepertinya tak mau ikut campur dengan kasus tabrak lain putrinya. Sang Ayah malah tampak terlihat senang saat sepeninggalan putrinya. Polisipun lalu menyelidik latar belakang sang Ayah korban, ternyata korban penabrak lari tersebut bukanlah anak kandung dari pemuda itu.

~OoO~

*** Happy  Reading ***

Dipagi hari yang cerah terlihat ada seorang gadis kecil sedang berlari riang sambil menggendong tas ransel berwarna pink yang bergambar teddy bear di belakang punggungnya. Ternyata gadis kecil itu tidaklah sendirian karena ada seseorang pemuda yang sedang berjalan disampingnya sambil menggadeng tangan mungil milik anak perempuan tersebut.

Appa… Appa… Palli…” Rengeknya kepada Ayahnya.

“Tunggulah sebentar Sora-ah.”

“Ta-tapi Appa, kalau kita terlalu lama diperjalanan aku akan telat masuk di sekolah baru ku.” Rengek gadis kecil itu kembali dengan wajah yang memelas.

Appa tahu, tapi kau tak boleh berlari-lari.” Tuturnya tapi nampaknya gadis kecil tersebut tak menghiraukan perkataan pria tersebut. Gadis kecil itu malah melepaskan gengaman tangan Ayahnya dan kemudian dia mulai berlari kedepan.

“Yah… Kim Sora!” Teriak pria tersebut dan saat ia ingin mengejar gadis kecil itu ada seseorang yang menyapanya. “Pagi, Tuan Kim Jin Hwan.” Sapa seseorang wanita paruh baya yang sedang berjalan menghampiri dirinya.

“Pagi, Nyonya Park.” Balas Jin Hwan.

“Sepertinya Sora sangat senang sekali ya, Tuan Kim.” Kata wanita paruh baya tersebut dan Jin Hwan-pun membalasnya dengan senyuman yang mengembang sambil menatap punggung belakang  gadis kecil itu.

“Kau benar, Nyonya Park. Sora sangat menanti-nantikan hari dimana ia masuk sekolah di awal ajaran baru di musim gugur ini.” Ujar Jin Hwan kepada Nyonya Park dan tiba-tiba terdengar suara ban mobil yang berdecit kencang.

“Cciiitttt!!!” Sontak pandangan Jin Hwan yang saat tadi sedang  asik berbincang-bincang dengan wanita paruh baya tersebut langsung terarah kearah asal suara tersebut.

“Sora-ah!!!” Teriak Jin Hwan sambil berlari menghampiri gadis kecil tersebut.

Tak berapa lama kemudian terdengar suara…

“Dduuuaarr!!!”

Mobil itu oleng dan menabrak kencang sebuah pohon sakura yang ternyata saat itu Sora sedang berdiri tak jauh dari sana. Tubuh mungil gadis itupun terpental cukup jauh dan isi tas ransel miliknya-pun berserakan di tempat kejadian.

Seketika langkah kaki pemuda itu terhenti. Tatapan matanya terlihat kosong dan tubuhnya membeku saat melihat tubuh Sora sudah terkapar tak berdaya di tengah jalan dengan tubuh yang berlumuran darah.

“Tidak!!!” Teriak Jin Hwan histeris sambil berlari kencang kembali kearah tubuh Sora yang sudah tergeletak tak berdaya di trotoar .

~OoO~

 

~Di kantor polisi~

Terlihat ada sesosok pemuda yang berstelan jas berwarna kelambu sedang berlari tergesa-gesa ke dalam sebuah ruangan markas kantor polisi tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka cukup kencang “Brakk!!!” Ternyata yang membuka pintu dengan kasar itu adalah pemuda yang saat tadi sedang berlari tergesa-gesa masuk ke dalam gedung tersebut.

“Yun Hyeong-ssi, ada apa? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?” Tanya komandannya yang sedang duduk santai di ruang kerjanya.

“I-itu…” Dengan suara yang terengah-engah.

“Itu apa?” Tanyanya lagi.

“Buronan yang menembak salah satu rekan polisi kita tadi malam, tersangka tersebut menabrak seorang gadis kecil setelah itu ia pergi melarikan diri, Komandan.” Ujar Yun Hyeong.

“Apa??? Lalu bagaimana keadaan gadis kecil tersebut?”

Yun Hyeong  nampak ragu saat membalas pertanyaan atasannya. “Gadis kecil tersebut tewas ditempat, Komandan.” Ungkapnya dengan suara yang pelan.

“Apa!!! Mau sampai kapan ia bermain-main dengan kita? Cepat pertambah pasukan polisi kita untuk mencari pria brengsek itu! Aku tak ingin ada korban lagi yang berjatuhan oleh sang buronan tersebut.” Titah komandannya dan langsung di lanksanakan oleh anak buahnya.

Saat Yun Hyeong hendak pergi melaksanakan perintah dirinya, sang Komandan memerintahkannya untuk ikut bersamanya ke rumah duka. “Yun Hyeong-ssi,  kau ikutlah dulu denganku ke rumah duka sekarang. Siapa tahu salah satu keluarganya tahu sosok buronan tersebut.”

~OoO~

~Di rumah duka~

Jin Hwan duduk bersila sambil manatap foto Sora yang sudah bertengger di meja duka. Pria itu menatap foto tersebut dengan tatapan mata yang kosong, tak ada air mata sama sekali yang menetes di pipinya. Ia tetap terdiam membisu.

Salah satu tetangganya menjadi sedikit khawatir dengan keadaan pemuda tersebut. Karena wanita tua itu tahu kalau Jin Hwan sangat menyanyangi Sora dan kebetulan juga Jin Hwan tak punya sanak keluarga, ia hidup sendirian di kota besar ini. Perlahan-lahan wanita tua itu menghampiri Jin Hwan untuk memberi tahu kalau ada anggota kepolisian ingin bertemu dengan dirinya.

“Tuan Kim, ada pihak kepolisian yang datang untuk bertemu dengan anda. Apakah Tuan Kim bersedia bertemu dengan mereka?” Ucap wanita tua itu dengan suara yang lemah kepada Jin Hwan.

Dengan posisi masih memunggungi  pemuda itupun berkata. “Persilakan-kan mereka masuk, Nyonya Lee.”  Balas Jin Hwan dengan ekspresi wajah yang dingin.

“Baiklah, akan saya persilakan-kan mereka masuk.” Balas wanita tua tersebut dan tak lama kemudian datanglah dua orang kepolisian bertemu dengan Jin Hwan. Wanita tua itupun lalu pergi meninggalkan ketiga pria tersebut.

Suasana disekitar merekapun mulai terasa canggung, kemudian Yun Hyeong memulai percakapan diantara mereka. “Tuan Kim, kami turut berduka cinta.” Ucapnya dan di susul oleh Komandan Yun Hyeong. “Kami sangat menyesal, Tuan Kim.” Tambahnya.

Tapi Jin Hwan tetap terdiam, kedua matanya masih tetap menatap dingin kearah foto gadis kecil yang sedang tersenyum dalam diamnya. Tak lama kemudian Jin Hwan-pun berkata. “Apakah kalian sudah menemukan penabrak putri ku?” Tanyanya dengan suara yang serak dan tubuh yang bergetar.

Dengan nada yang menyesal Komandan Yun Hyeong-pun menjelaskan apa yang sudah terjadi sebenarnya kepada Tuan Jin Hwan. “Maafkan kami, Tuan Kim. Tersangka belum bisa kami tangkap. Kami sangat menyesal. Sebenarnya tersangka yang menabrak anak Tuan adalah orang yang sama yang menembak rekan kami di pos saat malam hari sebelumnya. Dia juga membawa pistol milik rekan kami saat kabur dari TKP. Sebenarnya kami ingin sekali segera menangkapnya namun sayangnya  kami belum tahu wajah sang tersangka. Kalau boleh kami tahu, apakah Tuan sempat melihat wajah tersangka?” Tanya pria paruh baya tersebut. Tapi Jin Hwan sama sekali tak bergeming dia tetap terdiam. Namun beberapa saat kemudian iapun menjawab. “Aku tak lihat…”

Tiba-tiba Yun Hyeong  masuk kedalam percakapan Jin hwan dan Komandanya. “Tapi… tadi ada seorang saksi yang memberi tahu kami, saat tersangka itu keluar dari dalam mobil, tersangka itu menabrak tubuh anda Tuan Kim.” Tambah Yun Hyeong tapi perkataan Yun Hyeong langsung di tanggapi oleh Jin Hwan dengan nada yang dingin.

“Aku sama sekali tak melihatnya, saat itu aku langsung berlari kearah Sora bagaimana mungkin aku punya fikiran untuk melihat sang penabrak itu sedangkan aku melihat  keadaan putriku sangat mengkhawatirkan?” Tuturnya. Mendengar pengakuan Jin Hwan yang seperti itu mereka berduapun terdiam, mereka tak bisa berkata apa-apa lagi kepada pemuda yang saat ini ada di hadapan mereka.

~OoO~

 

Akhirnya Yun Hyeong dan komandannya pergi dari kediaman Jin Hwan dengan tangan hampa. Tak ada satu-pun yang mereka  dapatkan dari sana, padahal Yun Hyeong sudah yakin kalau Jin Hwan pasti melihat sosok tersangka tersebut saat bertabrakan.

“Aku sangat yakin sekali, Pak. Kalau Tuan Kim melihat tersangka, tapi kenapa ia bilang ke kita kalau dirinya tak melihat sosok  penabrak tersebut? Menurut Bapak, apakah ada yang aneh dari sikap Tuan Kim kepada kita tadi?” Tanya Yun Hyeong pada komandannya.

“Entahlah? Seandainya aku ada di posisi Tuan Kim mungkin aku juga akan bersikap seperti itu. Melihat anaknya tertabrak di depan mata sendiri mana mungkin punya pikiran untuk melihat pelaku penabrak lari tersebut. Pasti aku langsung berlari menghampiri anakku tanpa menghiraukan keadaan sekitar.” Ujarnya. Terdengar logis memang,  di dalam hati Yun Hyeong juga sedikit beranggapan seperti itu.

“Tapi Komandan, aku dengar kalau korban yang meninggal itu bukanlah anak kandung Tuan Kim. Anak kecil itu, ia adopsi dari anak kakak kandungnya.” Kata Yun Hyeong. Sang Komandan sempat kaget, saat mendengar kabar tersebut.“Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu kalau gadis kecil itu bukan anak kandung Tuan Kim, Yun Hyeong-ssi?” Tanya Pria tua itu dengan nada yang antusias.

“Kebetulan sebelum kita pergi ke tempat duka, aku sudah mencari latar belakang Tuan Kim dari para tentangga dimana dirinya tinggal. Padahal Tuan Kim belum menikah bahkan bisa dibilang Umur dia masih sangatlah muda dan ia juga cukup tampan kenapa ia mau saja mengadopsi anak dari kakak kandungnya di saat umurnya masih menginjak 20 tahun?”

Mendengar penjelasan dari Yun Hyeong, pria tua tersebut dapat menarik kesimpulan bahwa Tuan Kim pasti sangat terpukul. Lalu ia menyuruh Yun Hyeong untuk kembali kerumah duka untuk melindungi keselamatan Tuan Kim.

“Yun Hyeong-ssi, kembalilah kau ke tempat duka dan lindungilah Tuan Kim. Aku yakin kalau Tuan Kim pasti melihat wajah tersangka tapi karena ia sangat shock jadi dirinya lupa wajah sang tersangka itu. Lagipula saya takut kalau tiba-tiba tersangka itu melakukan hal nekat kepada Tuan Kim, kau kan tahu kalau tersangka itu mempunyai senjata yang bisa ia pergunakan sesuka hatinya. Jadi tolong lindungi keselamatan Tuan Kim.” Perintahnya dan langsung di iyakan oleh Yun Hyeong.

“Siap, Komandan.”

~OoO~

~Malam harinya~

~Di rumah duka~

“Saya tidak mau.”

“Tapi Tuan Kim, ini semua kami lakukan untuk keselamatan anda. Tuan Kim tahu kalau sang tersangka mempunyai senjata bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada anda?”

Untuk sesaat Jin Hwan terdiam. Tatapan matanya menyirat kalau dirinya tak ingin diganggu oleh siapapun pada hari ini. Yun Hyeong juga mengetahui kalau Tuan Kim mungkin saja tak nyaman atas keberadaannya tapi ia harus tetap melaksanakan perintah atasannya. Ini juga ia lakukan untuk keselamatan Tuan Kim sendiri.

“Kalau begitu saya akan berjaga di depan rumah anda Tuan Kim, Jadi anda tak perlu merasa canggung.” Kata Yun Hyeong tapi tetap saja perkataannya tak ditanggapi oleh Jin Hwan. Pemuda itu tetap diam seribu bahasa. Karena tak enak hati akhirnya Yun Hyeong secepatnya keluar dari dalam kediaman Jin Hwan dan mulai bersiap-siap berjaga dari kejauhan.

“Orang aneh… dia nampak terlihat sangat dingin bahkan dari awal aku bertemu dengannya hingga sekarang, aku tak pernah melihatnya menangis. Setidaknya menangis lah sebentar saja. Meskipun yang meninggal itu bukan anak kandungnya tapi tetap saja seharusnya ia tak bersikap sedingin itu, bukan? Apakah ia sama sekali tak merasa kehilangan atau jangan-jangan dia sama sekali tak pernah menyanyagi gadis kecil itu?” Lirihnya dan lelaki itu pun hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya.

Saat Yun Hyeong sudah keluar dari kediaman Jin Hwan, tanpa sengaja ia berpapasan dengan seseorang wanita tua yang saat tadi mengantar dirinya dan atasannya bertemu dengan Tuan Kim.

“Permisi, apakah anda punya waktu? Ada yang ingin saya tanyakan kepada anda.” Ujar Yun Hyeong kepada wanita tua tersebut.

Dan pertanyaan Yun Hyeong langsung dijawab olehnya. “Tentu, apa itu?”

“Terimakasih, Sebenarnya ini tentang Sora. Apakah anda mengenalinya?”

~OoO~

Wanita tua itupun mulai menceritakan tentang Sora kepada Yun Hyeong. Kebetulan wanita tua itu adalah warga lama di tempat Jin Hwan tinggal. Jadi tak sulit untuknya menceritakan tentang kedekatan Jin Hwan dengan Sora.

“Sora adalah anak kandung dari kakak Jin Hwan yaitu Kim Ji Won. Jin Hwan sangat sayang sekali kepada Sora. Meskipun Sora hanya anak tiri namun baginya Sora itu seperti anak kandungnya sendiri bahkan bisa dikatakan dia lebih sayang kepada Sora dibandingkan dirinya sendiri. Setiap hari ia bekerja tiap pagi dan pulang saat tengah malam dan disaat ia bekerja, Jin Hwan selalu membawa Sora bersama dengannya di saat dirinya melakukan perkerjaan part time. ”

“Saya pernah menawarkan diri untuk menjaga Sora dikala dirinya sedang bekerja, tapi Jin Hwan  menolak tawaranku dengan sopan. Bahkan ia berkata kepada ku kalau yang sebenarnya tak bisa jauh dan ditinggalkan bukanlah Sora melainkan dirinya. Dari perkataannya barusan bisa dikatakan kalau dirinya sangat menyayangi gadis kecil itu dan pasti saat ini ia sangat terkejut dan tak bisa berbuat apa-apa. Karena dimana ada Sora disana pasti ada Jin Hwan. Mereka selalu bersama.” Tambah wanita tua itu sambil menangis dihadapan Yun Hyeong. Mendengar penjelasan dari wanita tua tersebut membuat Yun Hyeong merasa iba dengan diri Jin Hwan.

“Pasti hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya, maka dari itu ekspresi wajahnya terlihat begitu dingin.” Gumam pemuda itu seraya menghela nafasnya yang panjang.

~OoO~

 

~Di pagi harinya~

Peti jenazah Sora-pun mulai diangkat dari rumah duka, rencananya jenazah akan di kubur di pemakaman yang tak jauh dari kediaman Tuan Kim. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan yang memecahkan keheningan tersebut.

“Sora-ah!!! Kim Sora!!! Maafkan aku, Sora-ah!!!” Teriak Jin Hwan sambil menahan peti jenazah yang sedang diangkut oleh para pelayat. Peti tersebut di peluknya dengan erat dengan kedua mata yang sudah basah oleh air mata.

“Maafkan aku, Sora-ah… aku memang Ayah yang tak berguna. Aku bahkan tak bisa menjagamu dengan kedua tangan ku sendiri… maafkan aku, Sora-ah…” Ucapnya dalam isak tangis.

Para pelayatpun ikut terbawa suasana dan tak banyak juga yang ikut menangis saat Jin Hwan memeluk erat jenazah putri tercintanya untuk yang terakhir kalinya.

“Akhirnya pertahanan Tuan Kim-pun roboh, ternyata ia tetaplah manusia biasa yang tak luput dengan rasa kehilangan oleh orang yang sangat ia sayangi.” Lirih Yun Hyeong seraya maniknya menatap sendu kearah Jin Hwan yang sedang menangisi kepergian sang putri ke peristirahatannya terakhir.

~OoO~

~Keesokan harinya~

“Tuan Kim, tunggu sebentar!” Panggil seseorang dari belakangnya. Tapi nampaknya pemuda itu tak mengindahkannya, ia tetap berjalan dan tak menghentikan sama sekali langkah kakinya.

“Anda mau pergi kemana, Tuan Kim!” Panggil orang tersebut untuk yang kedua kalinya tapi tetap saja tak dihiraukannya.

“Itu terserah saya, kau tak berhak mengaturku!” Balas pria itu dengan santai dan masih tetap berjalan.

“Apakah kau tak merasa menyesal dengan Sora? Tanah kuburannya saja masih merah tapi kau terlihat sangat bahagia setelah dirinya tiada!” Teriak Yun Hyeong. Seketikan langkah kaki Jin Hwan-pun terhenti.

“Bahagia??? Tentu saja aku bahagia. Untuk apa aku menangisi kepergiannya. Asal kau tahu saja dia itu bukanlah anak kandungku. Ia adalah anak dari kakakku yang telah merebut gadis yang amat aku cintai. Jadi untuk apa aku merasa bersalah pada gadis kecil itu. Adanya beban hidupku berkurang sedikit.” Kata Jin Hwan dengan tatapan mata yang menyindir kepada Yun Hyeong.

“Lalu kenapa anda mau mengadopsi Sora?” Kali ini nada bicara Yun Hyeong terlihat gugup.

“Aku dipaksa tahu!” Ucapnya sambil membuang wajahnya dari hadapan Yun Hyeong dan setelah itu berlalu. Karena perkataannya tak dihiraukan oleh Jin Hwan, Yun Hyeong-pun menjadi kesal. Tanpa sadar lelaki itu berteriak kencang kearah Jin Hwan. “Lalu apa arti airmata yang kau keluarkan saat hari pemakaman Sora? Dasar laki-laki tak punya hati!!!”

Tak lama kemudian Jin Hwan-pun berkata sambil memunggungi Yun Hyeong. “Asal kau tahu saja, Pak Polisi. Semakin hari gadis kecil itu tumbuh semakin dewasa dan wajahnya semakin mirip dengan pengkhianat itu ya, wajahnya semakin mirip kedua orang tuanya. Jadi harusnya aku merasa bahagia karena aku tidak harus lagi melihat wajahnya setiap hari, benarkan Pak Polisi.” Imbuhnya dengan nada yang dingin.

~OoO~

 

~Pov Jin Hwan~

-7 tahun yang lalu-

Setiap malam aku selalu mendengar suara tangisan bayi ini. Aku selalu merasa tak suka dan sangat membenci bayi perempuan ini. Semakin aku melihat anak kecil itu dirinya semakin mirip dengan wanita yang dulu aku cintai.

Wanita itu adalah cinta pertama ku. Kami berteman cukup dekat tapi kenapa tiba-tiba ia pergi bersama kakak laki-lakiku? Bukannya dirinya itu dekat denganku kenapa ia bisa jatuh hati kepada Ji won Hyung? Aku tak habis pikir tentang itu.

Gara-gara dia aku harus berhenti sekolah untuk menafkahi dirinya. Kedua orang tua ku pun sudah tiada beberapa tahun yang lalu. Jadi mau tak mau aku yang menanggung dirinya. Tapi bayi mungil ini tak salah, dia hanyalah bayi mungil yang tak tahu apapun. Jadi apakah aku mampu membencinya di sepanjang hidupku hanya karena ia adalah anak dari kedua  orang yang sudah mengkhianatiku?

~Pov Jin Hwan-End~

~OoO~

~2 Hari kemudian~

~Di kantor kepolisian~

“Baik… kami akan segera datang ke tempat TKP. Terimakasih atas informasinya.”

Yun Hyeong yang baru saja datang-pun langsung disurung pergi bersama dengan komandanya. “Yun Hyeong-ssi, sekarang kau ikutlah dengan ku.”

Pemuda itu sempat bingung, kenapa atasannya terlihat sangat tergesa-gesa. “Kita mau pergi kemana, Pak?” Tanya Yun Hyeong.

“Memangnya kita mau kemana lagi. Kita akan pergi kerumah kediaman Tuan Kim. Tadi aku mendapatkan berita kalau kediaman rumah Tuan Kim di obrak-abrik oleh orang yang tidak di kenal.”

Mendengar penjelasan atasannya Yun Hyeong sangatlah kaget. “Apakah mungkin…”

~OoO~

~Di kediaman Kim Jin Hwan~

Setibanya disana Yun Hyeong sudah mendapati kerumunan orang yang sudah ada didepan pintu rumah Jin hwan. Yun Hyeong dan Komandannya-pun agak sulit untuk masuk kedalam rumah kediaman Tuan Kim dari kerumunan warga yang penasaran dengan apa yang terjadi didalam. Saat Yun Hyeong dan Komandannya berhasil masuk disana sudah ada garis polisi dan disana juga sudah ada tim-tim dari kepolisian yang bertugas mengamankan tempat kejadian.

“Bagaimana, Pak Shin? Apakah ada barang berharga yang hilang di kediaman Tuan Kim?” Tanya Komandan Yun Hyeong.

“Sejauh ini tak ada, Pak Jae. Tersangka hanya mengobrak-abrik seluruh ruangan, tapi anehnya tak ada barang berhargapun yang ia ambil. Bapak bisa lihat di dalam lemari banyak uang dan perhiasan tapi tak satupun dibawanya, pasti ia sedang mencari sesuatu didalam kediaman Tuan Kim.” Sambil menunjukan bukti kepada Jae dan Yun Hyeong.

“Sebenarnya apa maunya si bajingang itu. Yun Hyeong-sii perketat keamanan Tuan Kim, nampaknya buronan kita kali ini sangatlah berbahaya.” Perintah Pak Jae kepada Yun Hyeong.

Tak berapa lama kemudian Jin Hwan datang. “Ada apa yang terjadi disini?” Tanya Jin Hwan dengan wajah datarnya.

“Rumah kediaman anda tadi telah di masuki oleh orang yang tak dikenal dan kemungkinan orang tersebut bisa jadi tersangka penabrak lari putri anda.” Ujar Yun Hyeong. Setelah mendengar penjelasan pemuda itu Jin Hwan lalu pergi kembai keluar dari rumahnya.

“Kau ikutilah dia. siapa tahu tersangka itu masih berkeliling disekitar sini.” Tutur Komandannya dan Yun Hyeong-pun langsung bergegas menyusul Jin Hwang yang sudah berjaan duluan didepan.

~OoO~

Seperti biasa Yun Hyeong selalu mengikuti Jin Hwan dari belakang. Di sepanjang jalan Jin Hwan hanya terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Ternyata Jin Hwan pergi berjaan ke taman yang tak jauh dari kediamannya dan disana ia melihat ada sekelompok anak kecil sedang bermain riang ditaman tersebut.

Langkah kaki Jin Hwan-pun terhenti. Tatapan matanya langsung tertuju ke sekelompok anak – anak yang sedang bermain riang tersebut.

AppaAppa… ayo…” Panggil seorang anak perempuan sambil menarik sebelah tangan Ayahnya ke depan ayunan. Dan disaat itu juga Jin Hwan terbayang oleh sosok Sora yang selalu meminta dirinya untuk mendorong ayunan tersebut saat bermain.

“Tuan Kim, apakah kau sedang memikirkan Sora? Kau pasti sangat sayang dan terpukul atas kepergian mendiang.” Tanya Yun Hyeong dari arah belakang.

Jin Hwan-pun lalu menoleh kearah belakang dan berkata “Memikirkannya? Kau terlalu polos Pak Polisi. Kau salah mengira kalau aku berjalan kesini karena masih memikirkannya. Asal kau tahu saja, aku sangat membencinya. Sampai-sampai aku tak ada rasa lagi kepada dirinya. Dia itu anak perempuan dari kakakku yang tak tahu diri. Tega-teganya ia merampas wanita yang aku cintai. Dan beberapa tahun yang lalu mereka berdua mengalami kecelakaan mobil dan pada akhirnya aku yang harus mengurusi buah hati mereka berdua. Mereka berdua sudah memberikan luka dihatiku  dan mereka juga yang telah memberikan beban dihidupku juga setelah mereka sudah tiada lagi didunia ini. Menurutmu semua itu adil untukku?” Ungkap Jin Hwan dengan ekspresi datarnya.

“Tapi, Tuan Kim. Sora itu tak salah apa-apa dia tak ada sangkut paut tentang semua itu.”

Tak berapa lama kemudian Jin Hwan tertawa geli dihadapan Yun Hyeong. “Haha! Apa? Dia tak ada sangkut pautnya? Apa kau gila!”

“Tuan Kim…”

“Gadis keci itu yang sudah menghancurkan hidupku. Aku harus berhenti sekolah demi membesarkan dirinya. Kau pikir bayi tak minum susu? Aku harus membantng tulang untuk bisa membelikannya susu. Kau kira harga susu bayi tak mahal? Setiap hari dia terus menangis, mengompol tiap malam aku sealu terjaga. Itu membuat ku muak!! Saat ia tumbuh besar dia harus masuk sekolah, kau kira masuk sekolah tak butuh biaya besar? Aku sampai-sampai harus mengutang kesan sini dan bekerja lebih dari dua dalam sehari untuk mencakupi kehidupannya.  Aku bersyukur karena sekarang aku tak harus merasakan hal semacam itu lagi. Jadi kenapa aku harus terpukul atas kepergiannya?” Tambah Jin Hwan dengan senyum yang merekah di wajahnya.

Baru kali ini Yun Hyeong melihat wajah Jin Hwan yang tersenyum, tapi saat Yun Hyeong melihat senyuman dari sudut bibir pria itu, dirinya menjadi sedikit takut akan sosok Jin Hwan. Baginya senyuman yang diperlihatkan oleh Jin Hwan padanya bukan seperti senyuman kebahagiaan tapi malah sebaliknya yang saat orang tersebut melihatnya.

Di malam harinya seperti biasa Yun Hyeong mengantar Jin Hwan tiba dengan selamat sampai ketempat kediaman lelaki tersebut. Seperti biasa Jin hwan tetap terlihat acuh tak acuh akan kehadiran Yun Hyeong. Pria itu masuk begitu saja kedalam rumahnya tampa mengatakan satu katapun kepada Yun Hyeong.

Setelah mengantar Jin Hwan, Yun Hyeong-pun mulai berjaga di sekitar rumah Tuan Kim. Yun Hyeong lalu duduk di bangku jalan yang tak jauh dari rumah kediaman Tuan Kim dan disana ternyata ada sesosok bayangan seseorang  yang memakai stelan jas hitam yang sedang bersembunyi dibaik pohon sakura dan kedua mata sosok tersebut sedang menatap tajam kearah rumah kediaman Jin Hwan.

~OoO~

~Pov Jin Hwan~

Setibanya dirumah hatiku terasa tak nyaman. Banyak barang-barang yang porak – poranda di ruang tamu maupun di dalam kamar. Tak sengaja aku melihat ada sebuah kasur lipat yang berukuran kecil yang jatuh di sisi pojok  lemari. Keadaan kasur lipat itu sudah tak karuan.

Aku-pun lalu memungutnya dan disana terihat ada sebercak warna kekuningan. Ya itu seperti noda disaat Sora mengompol. Meskipun sudah aku cuci beberapa kali pun noda ini tak kunjung hilang. Banyak kenangan yang tak bisa aku lupakan saat bersama Sora.

~Flash Back~

“Appa… aku mengompol lagi.” Kata gadis kecil itu sambil menangis

“Yak!!! Sora-ah, kau itu sudah besar masa, kau selalu mengompol terus. Aku lelah jadi kau sendiri yang mengurusnya!” Bentak ku.

“Baik, Appa… maafkan aku sudah membuat Appa lelah.” Ucapnya kemudian Sora berjalan mengangkat kasur lipatnya.

 

Nampaknya gadis kecil itu tak mampu mengangkat kasur tersebut, setiap kali ia berusaha mengangkat disaat itu juga ia terjatuh. Melihat dia kesulitan mengangkat kasur tersebut membuatku yang awalnya ingin memarahinya menjadi tak punya niat lagi marah padanya.

 

“Sini, biar aku saja yang merapikannya.” Kataku sambil menarik kasur lipat tersebut dari gengaman tangan mungil dirnya. Tapi Sora malah tak mau.

 

“A-ni… biar aku saja, Appa yang mengerjakannya. Appa kan lelah. Aku tak mau Appa sakit!” Ujar gadis kecil itu seraya kedua jari jemari kecilnya menarik paksa kasur yang ada di gengaman tanganku.

 

“Sora-ah… kalau kau begini terus nanti malam kau tak ada kasur untuk bisa kau tiduri nanti malam.” Tambah ku.

 

“Itu bagus kan, Appa.”Balasnya dan itu membuatku bingung. “Mwo?”

 

“Iya… kalau kasurku tak kering berarti nanti sepanjang malam aku pasti tidur bersama Appa.”

Mendengar pengakuannya membuat hati ku tergelitik. “Sora-ah kau tak berniat menandai kasurku dengan ompol mu kan?” Celetuk ku pada gadis kecil itu dan Sorapun membalas. “Ups… ketahuan ya.” Katanya dengan tersenyum lebar.

 

Lalu Sora berlari kearah ku dan berkata. “Appa… Saranghae…” Ungkapnya sembari memeluk erat tubuhku dengan kedua tangannya yang kecil.

 

~Flash Back-End~

 

“Aku juga menyayangi mu Sora-ah…” Lirihnya seraya kedua tangannya menggenggam erat kasur lipat milik Sora kedalam dekapannya.

~Pov Jin Hwan-end~

~OoO~

 

~4 Hari kemudian~

“Tuan Kim, ini sudah seminggu kepergian Sora. Tapi kenapa Tuan setiap hari selalu berjalan-jalan keluar tanpa tujuan?” Tanya Yun Hyeong yang sedang berjalan mengawali Jin Hwan dari belakang.

“Saya merasa pengap bila selalu didalam rumah. Semakin lama aku disana semakin muak aku dengannya.” Imbuh Jin Hwan dan seketika Yun Hyeong menghentikan langkah kakinya. Nampaknya pemuda itu sudah habis kesabarannya kepada Jin Hwan.

“Tuan Kim apakah kau tahu kalau kau bersikap seperti moster! Kau begitu kejam kepada Sora, tak sepantasnya kau berkata seperti itu pada mendiang. Aku jadi muak bila selama seminggu ini aku selalu melindungimu!” Ucap Yun Hyeong kesal dan perkataan Yun Hyeong langsung dibalas oleh Jin Hwan dengan wajah innocentnya. “Itu bagus, lebih baik kau hentikan semua ini. Saya tak perlu perlindunganmu, jadi enyahlah kau dari pandangan ku! Ujarnya sambil berlalu.

“Yak!! Kau ini benar-benar monster! Apakah diri mu pantas disebut manusia? Hah!!!” Umpat Yun Hyeong.

~OoO~

~Di malam harinya~

~Di kediaman Tuan Kim~

Pada akhirnya Yun Hyeong tetap mengawal Jin Hwan sampai tiba di rumah di malam harinya. Setibanya disana Jin Hwan tetap terdiam bahkan tak pernah mengatakan sepatah katapun kepada Yun Hyeong. Itu membuat Yun Hyeong menjadi tak enak hati. Mau tak mau Yun Hyeong-pun memulai pembicaraan diantara mereka.

“Tuan Kim maafkan perkataan ku tadi. Saya sangat menyesal.” Ungkapnya sambil menundukan kepalanya untuk meminta maaf.

“Masuklah… mari kita minum kopi di dalam.” Balas Jin Hwan dan tawarannya-pun langsung di terima baik oleh Yun Hyeong.

~OoO~

Tak beberapa lama Jin hwan membawa dua buah cangkir kopi di atas meja tamu.

“Silakan di minum.”

“Terimakasih…” Balas Yun Hyeong. Merekapun lalu minum secangkir kopi bersama-sama dengan suasana yang heningan. Tak berapa lama Jin Hwan-pun berkata. “Anggap saja ini acara minum kopi kita yang pertama dan yang terakhir.”

Yun Hyeong sempat kaget dengan perkataan Jin Hwan tapi, ia tak mau berpikiran negatif pada pria tersebut. Baru beberapa teguk Yun Hyeong meminum kopi buatan Jin Hwan tiba – tiba kepala Yun Hyeong merasa pusing dan tiba-tiba cangkir yang ada digengamannya jatuh begitu saja ke lantai.

“Prang!!!”

“Tu-tuan Kim… apa yang kau masukan kedalam minuman k…?” Belum sempat Yun Hyeong mendengar jawaban Jin Hwan, pemuda itu sudah jatuh tak sadarkan diri di bawah lantai.

“Maafkan aku Yun Hyeong-ssi… aku ingin kau tidur sebentar disini, ada sesuatu yang harus aku selesaikan tanpa dirimu.”

Setelah itu Jin Hwan-pun pergi meninggalkan Yun Hyeong yang tak sadarkan diri dan sebelum ia beranjak dari sana Jin Hwan menyelipkan selembar kertas yang tak jauh dari Yun Hyeong.

~OoO~

~1 jam kemudian~

Yun Hyeong-pun terbangun dari pingsannya dan saat ia terbangun ia sudah melihat ada selembar kertas tak jauh dari dirinya. Pemuda itu mulai membaca isi dalam surat tersebut dengan kedua mata yang terbuka lebar. Nampaknya ia terlihat sangat terkejut dan setelah membaca surat tersebut ia langsung berdiri dan  beranjak keluar dari rumah kediaman Tuan Kim.

“Semoga aku tak terlambat, semoga Tuan Kim tak melakukan hal i…” Belum sempat Yun Hyeong menyelesaikan ucapannya ia mendengar suara tembakan  senapan angin tak jauh dari kediaman Tuan Kim.

“Door!!! Door!!! Door!!!” Yun Hyeong mempercepat larinya ke arah asal bunyi tembakan tersebut dan disana ia melihat ada Tuan Kim sedang menembaki isi peluru pistol tersebut dengan cara membabi buta tepat kearah orang yang ada di depan matanya.

“Door!!! Door!!! Door!!!”

Tak beberapa lama kemudian suara tembakan senapan angin itupun tak terdengar lagi. Dedaun-dedaunan pun berguguran bahkan kelopak-kelopak bunga sakura-pun ikut menemani dedaun- dedaunan tersebut  yang beterbangan. Nampaknya musim gugur mulai datang. Tak hanya daun dan bunga yang terbang terbawa angin namun perasaan Jin Hwan juga tak jauh beda dengan apa yang dialami oleh bunga-bunga dan dedaunan tersebut. Nampaknya musim gugur ini akan terasa lama untuk Jin Hwan karena dia harus menjalani musim gugur ini bahkan dimusim-musim selanjutnya tanpa kehadiran Sora, putri yang amat sangat ia sayangi.

~Flash Back~

Dengan perlahan-lahan Yun Hyeong membaca kata demi kata yang di tuliskan oleh Jin Hwan di dalam selembar kertas tersebut. Jantung Yun Hyeong berdetak sangat cepat. Ia merasa sangat bodoh setelah membaca surat tersebut karena selama ini ia mengira  Jin Hwan tak pernah sekalipun menyanyagi Sora.

“Betapa bodohnya aku mengira dirinya adalah monster. Tuan Kim sangat terluka dan sangat kehilangan atas ke pergian Sora. Aku sangat menyesal sudah mengatakan perkataan kasar bahwa dirinya adalah monster.”

Selama seminggu ini ia berpura-pura tak sayang dengan Sora dan berkata kasar padaku agar aku berhenti melindunginya dan selama seminggu ini juga  ia telah menjadi umpan untuk memancing tersangka keluar dari persembunyiannya tanpa aku sadari.

surat ini membuktikan kalau Tuan Kim Jin Hwan sangat menyanyagi bahkan ia rela melakukan apa saja demi Sora…

………………………………………………………………………………………………………………………….

Maafkan aku Yun Hyeong-ssi, karena aku sudah berlaku dan berkata kasar di depanmu. Aku melakukan itu semua agar kau segera pergi menjauh dariku. Aku tak ingin ada orang lain yang terluka karena diriku. Sebenarnya aku sudah tahu pelaku penabrak lari Sora. Dia adalah Jun Hoe sang pengantar susu dan kebetulan ia juga tinggal di belakang rumahku.

 

Aku sengaja selama seminggu ini selalu berjalan-jalan mengeilingi kompleks dimana aku tinggal. Aku ingin memancing dirinya agar dia  keluar dari persembunyiannya. Aku juga yang sudah mengambil pistol miliknya saat dia menabrakku. Pistol itu langsung aku ambil dan aku sembunyikan di dalam kantung saku  jaketku.

 

Aku bohong padamu kalau aku tak lihat, aku jelas-jelas melihatnya. Dan aku juga ingin melihat dirinya mati tepat didepan mata kepalaku sendiri. Aku ingin saat itu terjadi, bajingan itu mati di kedua tanganku sendiri.

 

Sora sudah memberikan ku semangat hidup, dia selalu ada bersamaku di dalam suka maupun duka. Aku sangat menyanyangi Sora, meskipun dia bukanlah anak kandungku tapi aku sangat mencintainya. Bagiku Sora adalah harta yang sangat berharga di dalam hidupku yang tak ternilai harganya. Namun sejak ia tak ada lagi didunia ini, bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku? Aku seperti mayat hidup, hatiku terasa kosong  tanpa kehadirannya di sisiku dan di saat itu juga, aku bersumpah bahwa  seumur hidupku akan aku gunakan untuk membalas dendam kepada orang yang sudah membuat Sora menjadi seperti ini.

 

Meski aku harus membayar dengan nyawaku sendiri bahkan seandainya aku harus membusuk di dalam penjara disepanjang sisa hidupku dikarenakan aku  membunuhnya, aku tak peduli lagi. Asalkan aku bisa membunuh bajingan itu dengan kedua tangan ku sendiri semua itu tak akan menjadi masalah lagi untuk ku.

………………………………………………………………………………………………………………………….

~The End~

~OoO~

Akhirnya selesai juga cerita FF pertama ku yang main cast nya iKON, hehe. Maap ya kalau ceritanya rada panjang…. bisa dibilang sangat panjang…. semoga kalian gak bosen saat membacanya + kalian juga menyukainya ^^/Ngarep/ hehehe 😀

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya chingu or kata kerennya  feedback-nya gitu, setelah membacanya

Sekali lagi makasih dah nyempetin mampir buat baca ff gaje ku ini 🙂

See you next time ^^

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshoot] Complicated Cases

    • Jinhwan emang keren,
      Padahal aku gak tau jelas orgnya, wkwkwk 😂
      Memang sih keputusan yg diambil jihwan salah tapi disitulah letak dramatis dari ceritanya.

      Kenapa gak ada cctv ya? Waktu aku buat gak kepikiran ada cctv maklum ini ff dah taon jebot buatnya. Btw makasih ya wao dah nyempetin mampir kesini buat baca 😘

  1. Huwwaaaah castnya Yunhyeong sama Jinhwan. Aku suka koq kak ffnya, meski banyak typo kkk (kita samaan dalam hal ini).

    Di sini aku demen sama karakter Yunhyeongnya. Jinhwan juga, penyayang banget… Jinhwan-ah, dri pada adopsi anak lagi mending kamu sama aku aja yaa wkwkwk

    nice ff kak phiyun ^^

    • Haha… emang tuh typo always muncul, padahal udah aku cek ulang masih aja ada 😂😂😂
      Jinhwa emang penyayang banget, aku aja yg buat karakternya jadi melted sendiri, kkk …
      Makasih ya pel, dah nyemeptin mampir kemari 😘

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s