[Oneshoot] The Last Time

thelasttime-arinyessyifa

a fanfic requested by Laykim

Scriptwriter Oyewyn. K|| Poster Designer Arin Yessy @ IFA || Genre Romance-Sad|| Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Actress’ Park Shin Hye || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

Story Begin

Ada satu hal yang diketahui semua orang tentang cinta pertama, yaitu bahwa cinta pertama tidak terlupakan seumur hidupmu. Hal itupun diketahui dari berbagai macam film, drama, dan novel. Dan bukan lagi sebuah rahasia khusus bahwa film, drama, dan novel dipenuhi dengan imajinasi romansa yang idealis yang sering kali hiperbola dan jauh dari rasionalitas. Meski begitu memang dapat diakui bahwa cinta pertama memang tak terlupakan seumur hidup. Tapi itu tidak terlupakan bukan karena cinta pertama itu membahagiakan atau mungkin juga menyedihkan. Itu semua karena cinta pertama adalah pengalaman pertama dalam hal mencintai seseorang. Dan sudah merupakan kodrat manusia untuk selalu mengingat setiap pengalaman pertama dalam hidupnya.

Dan ini adalah akhir dari kisah cinta pertama dari sepasang manusia. Entah ini dapat dikatakan sebagai akhir kisah yang indah atau tidak. Tapi yang pasti kisah ini tak terlupakan bagi dua pihak.

Suasana malam itu cukup ramai, Yong Hwa bersama dengan bandnya yang baru saja debut dengan nama CNBLUE sedang menyelenggarakan fanmeeting pertama mereka di sebuah ruangan yang disulap menjadi sebuah panggung kecil. Acara itu dapat terbilang berhasil karena mereka bergembira bersama meskipun hanya dihadiri oleh beberapa puluh penggemar yang didominasi oleh wanita. Dan dari kejauhan seorang wanita dengan kemeja putih panjang berpadu dengan skinny jeans menatap rindu Yong Hwa. Tak seperti penggemar lainnya yang tertawa riang, ia hanya tersenyum kecil, sesekali tersenyum getir menahan airmata yang sedari tadi melakukan unjuk rasa untuk dapat keluar dari pelupuk matanya. Beruntungnya tak ada yang menyadari kehadiran wanita itu. Terutama Jung Yong Hwa, ia tidak ingin pria itu mengetahui kedatangannya karena itu mungkin saja akan merusak acara itu.

Dipertengahan acara seorang anak laki-laki yang berusia kisaran lima sampai enam tahun berlari menuju panggung dari arah depan. Semua yang hadir di sana terkaget, termasuk Yong Hwa dan wanita yang tak dikenali itu. Pasalnya, bocah itu berlari sambil meneriakkan panggilan appa yang diarahkan pada Yong Hwa. Sebenarnya agensi sudah melarang untuk membuka kenyataan bahwa Yong Hwa merupakan orangtua tunggal karena itu kemungkinan besar akan merusak jejak karier band mereka yang baru saja debut. Akan tetapi siapa yang dapat mengontrol keinginan dan kepolosan anak usia lima tahun? Lagipula Yong Hwa pikir itu akan sangat tidak sehat bagi kesehatan psikologis anaknya jika ia menyembunyikan fakta bahwa ia telah memiliki seorang anak. Bagaimana jika anak itu merasa bahwa kehadirannya ditolak oleh ayahnya? Tidak, itu buruk. Yong Hwa melompat dari panggung dan menyambut kedatangan anaknya dengan tangan terbuka lebar, bersiap untuk menggendong anak itu naik bersamanya ke panggung.

“Jung Yong Hwa-ssi, siapa anak yang memanggilmu appa ini?” Pertanyaan MC mewakili rasa penasaran penggemar yang hadir di sana.

“Ini anakku.” Jawaban ini mengundang penggemar untuk saling berbisik satu sama lain, itu membuat sang anak merasa takut dan menatap ayahnya dengan rasa khawatir.

“Namanya Shin Hwa, dia anak kandungku dan aku adalah orangtua tunggal. Aku tidak ingin menyembunyikan fakta bahwa aku sudah memiliki anak karena hal itu akan buruk bagi perkembangan psikologis anakku dan juga karier band ini kedepannya.” Kemudian Yong Hwa menurunkan Shin Hwa dari gendongannya.

“Aku mohon pada kalian, tolong tetap cintai kami.” Dia membungkuk dalam, memohon pada penggemar yang hadir. Hal ini diikuti oleh Shin Hwa.

Tapi kemudian Shin Hwa mengambil microphone dari tangan ayahnya dan berkata, “Tolong jaga dan cintai ayahku dan paman-pamanku.”

Kepolosan dan ketulusan bocah itu mampu menyentuh penggemar-penggemar itu yang disusul dengan teriakan gwenchana yang terdengar bagai paduan suara. Sedangkan wanita yang sedari tadi menatap ke arah Yong Hwa dan Shin Hwa itu sudah menitikkan airmatanya. Dan kali ini seseorang yang berdiri tak jauh darinya menyadari itu. Sebelum wanita itu dipanggil dia pergi begitu saja meninggalkan tempat itu sebelum cara selesai. Tapi ternyata wanita itu belum pergi, dia berdiri di depan koridor tempat ruang tunggu CNBLUE. Seseorang yang tadi menyadari kehadirannya di acara itu yang melihatnya di sana. Ia menghampiri wanita itu perlahan.

“Permisi, aku direktur dari agnesi yang menaungi CNBLUE, Ahn Min Ji. Apa kau ingin bertemu dengan seseorang?”

Ani, aku hanya ingin menitipkan ini untuk Yong Hwa. Terimakasih.” Tanpa mengenalkan namanya dia pergi begitu saja, kali ini benar-benar meninggalkan gedung itu.

Acara fanmeeting berakhir dengan sukses pengakuan Yong Hwa mengenai Shin Hwa diterima dengan baik oleh para penggemar, sebuah keberuntungan bagi mereka semua. Mereka pun memasuki ruang tunggu mereka. Yong Hwa mendapati putrannya tertidur di sofa yang memang disediakan oleh pihak gedung. Ia menatap putranya lembut, terkadang ia merasa bersalah pada putranya karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu dan karena ia tidak menjadi ayah yang baik.

Huaa, aku sungguh merasa takut dan kaget ketika Shin Hwa berlari ke atas panggung.”

“Aku pun begitu. Tapi untuk saja suasana dapat dikendalikan.”

“Ya, untung saja penggemar dapat menerimanya. Dasar kau anak nakal, Shin Hwa!” Jong Hyun yang duduk di sebelah kepala Shin Hwa mengusapnya pelan, tak mau membangunkan bocah itu.

“Sudahlah, ayo kita pulang.”

Dalam perjalanan pulang sang direktur memberikan surat yang dititipkan wanita itu.

“Yong Hwa-ya, tadi ada seorang wanita yng menitipkan sesuatu untukmu.”

“Apa itu?”

“Sebuah surat.”

“Dari siapa?”

“Seorang wanita. Entahlah, dia tidak menyebutkan namanya.” Yong Hwa hanya menerima surat dengan amplop biru muda.

Entah mengapa dada pria yang kini menjadi seorang selebritas itu berdegup kencang. Berbagai perasaan bercampur aduk dalam pikirannya. Mungkinkah ini dari dirinya? Perlahan dia membuka surat itu Membaca kata demi kata yang tertulis di atas kertas dengan wangi vanili.

Hai!

Aku tidak akan mengenalkan diriku karena aku tahu kau paling tahu siapa diriku.

Apa kabarmu dan Shin Hwa? Dia tumbuh dengan baik bukan? Kau merawat dan menjaganya dengan baik bukan? Apa kalian bahagia?

Aku sehat.

Maaf aku baru menghubungimu saat ini. Maaf kau harus membesarkan Shin Hwa sendirian.

Ah, kau tidak perlu memaafkanku, dosaku pada kalian sangatlah besar.

Tidak… ini terasa canggung dan sangat salah.

Aku tak tahu harus menulis apa di surat ini. Pantaskah aku menulis surat ini untukmu?

Hhh… aku memberanikan diriku untuk menulis ini. Bolehkah aku bertemu dengan Shin Hwa sebagai temanmu? Aku mohon….

Aku akan menunggumu akhir minggu ini pukul tujuh pagi di taman tempat kita dulu menghabiskan waktu bersama.

Tepat dugaan Yong Hwa pengirim surat itu adalah Park Shin Hye, mantan istri, cinta pertama, dan ibu Shin Hwa. Sejujurnya dia masih belum bisa melupakan wanita itu, kenangan-kenangan indah mereka masih melekat erat dalam pikirannya. Hhh… menerima surat dari Shin Hye membuat memori indah mereka terputar begitu saja tak terkendali.

Pertemuan mereka dimulai dari sebuah tempat karaoke yang kerap kali dikunjungi Shin Hye bersama dengan teman-temannya selepas penat akan kehidupan sekolah. Di tempat itu Yong Hwa bekerja sebagai pelayan. Shin Hye menyukai Yong Hwa yang melayani pelanggan dengan sangat baik. Tidak hanya di sana Shin Hye juga berulang kali bertemu dengan Yong Hwa di supermarket, di sana pria itu bekerja sebagai penjaga kasir. Ah, beberapa kali juga pria itu menolongnya.

“Annyeonghasseo.” Pria itu menyapa siswi dengan seragam sekolah.

“Annyeong.” Siswi dengan nametag bertuliskan Park Shin Hye itu membalas sapaannya.

“Kau baru pulang sekolah?”

“Nde.”

Itu adalah percakapan pertama mereka, terjadi di dalam sebuah bus. Tak ada yang spesial memang, tapi Yong Hwa mengingat dengan jelas hari itu. Hari dimana dia bisa melihat wajah cantik pelanggan yang selama ini selalu menarik hatinya.

.

.

.

Hari demi hari berlalu, kini mereka semakin dekat dan benih-benih cinta itu tumbuh dengan subur dalam relung hati mereka hingga akhirnya mereka memiliki hubungan kencan. Seringkali Shin Hye mengunjungi kekasihnya itu di supermarket, dia akan membeli beberapa makanan ringan dan duduk di bangku dan meja yang memang disediakan oleh pengelola supermarket itu. Menunggu waktu istirahat atau pulang Yong Hwa.

“Sudah ku katakan, jangan terlalu sering mengunjungiku kau harus belajar untuk ujianmu.”

“Tapi aku rindu oppa.”

“Hm. Aku juga merindukanmu,” ketus pria itu diiringi dengan tangannya yang mencubit kedua belah pipi gadis cantik di depannya itu.

“Ayo aku akan mengantarmu pulang.” Yong Hwa menarik dan menggenggam tangan Shin Hye, mereka berjalan beriringan menuju halte bus.

“Kenapa pulang? Aku kan kemari untuk kencan dengan oppa?” Shin Hye menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangan Yong Hwa.

“Aku harus bekerja lagi, sayang. Aku janji akhir minggu ini kita akan kencan, dari pagi.”

“Jjinjja? Yaksok?”

“Ne. Jadi ayo aku antar kau pulang.”Mereka menautkan kembali tangan mereka, sesekali Shin Hye mengayunkannya kuat sambil tersenyum lebar.

Akhir pekan pun tiba, berulang kali Shin Hye mengatur napasnya, ia merasa sangat gugup. Hari ini ia bertekad tidak akan menangis di hadapan ayah dan anak itu. Kembali menggunakan kemeja dengan motif bergaris ia padu padankan dengan skinny jeans dan flat shoes polos berwarna biru pastel. Ia setia duduk menunggu di bangku taman yang kosong dekat beberapa permainan anak-anak. Tak lama Yong Hwa datang sambil menggandeng Shin Hwa yang asik menikmati bubble tea-nya.

Annyeonghasseo.” Keduanya saling menyapa dengan kaku satu sama lain.

“Shin Hwa-ya, ahjumma ini teman appa. Ayo beri salam.”

Annyeonghasseo, joneun Jung Shin Hwa imnida. Bangapseumnida.” Dengan sopan Shin Hwa membungkukkan badannya dalam pada ibu yang tak dikenalinya itu.

Annyeong! Namaku Park Shin Hye.”

“Shin Hwa-ya pergilah bermain. Appa harus berbicara sebentar dengan teman appa ini.”

Shin Hwa pun menuruti perintah ayahnya. Entah apa yang terjadi tapi Shin Hwa merasakan ada keanehan di antara dua orang dewasa itu. Jadi dia hanya pergi, berusaha tak memikirkan keanehan yang dirasakannya.

“Bagaimana kabarmu?” Sebagai seorang pria Yong Hwa merasa adalah kewajibannya untuk membuka perbincangan di antara mereka.

“Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja. Kalian?”

“Ya, kami juga baik-baik saja.”

“Syukurlah.” Hanya sepatah kata itu yang dapat diucapkan Shin Hye. Pikirannya benar-benar kosong.

Perbincangan di antara mereka sangatlah canggung, benar-benar kaku. Seperti seseorang yang tidak saling mengenal satu sama lain, terasa sangat berbeda.

“Boleh aku bertanya satu hal?” Nada bicara Yong Hwa menjadi serius dan hanya dibalas tatapan tanya oleh Shin Hye.

“Mengapa kau meninggalkan kami hari itu?” Pertanyaan yang mengganggu Yong Hwa beberapa tahun ini akhirnya dapat ditanyakan pada orang yang tepat.

“Aku dibawa pergi oleh eomma ku. Beliau menipuku, mengatakan bahwa abeoji sakit sehingga dengan mudahnya aku ikut pulang bersama dengan eomma. Tapi begitu sampai di rumah aku mendapati bahwa aboeji sangat sehat. Akhirnya aku pun sadar dan terus berusaha untuk pulang kepadamu. Akan tetapi eomma selalu mengancamku, aku takut sesuatu yang buruk terjadi jika aku memaksakan diri untuk pulang padamu.” Pertanyaan itu dijawab oleh Shin Hye tanpa melihat ke arah Yong Hwa, ia tidak mampu untuk menahan tangisnya jika ia menjawab pertanyaan itu dengan menatap pria yang jauh dalam hati masih dicintainya.

“Terimakasih karena sudah merawat, menjaga, dan mendidik Shin Hwa dengan baik sampai dengan saat ini. Aku bersyukur karena Shin Hwa memiliki ayah yang baik seperti dirimu.”

“Tidak, itu semua karena Shin Hwa mewarisi kecerdasanmu. Dia cukup dewasa untuk anak sepantarannya, selalu mampu mengerti keadaan diriku.”

“Tetap saja aku harus berterimakasih, jika bukan karena dirimu mungkin Shin Hwa tidak menjadi anak yang baik seperti yang ku lihat saat ini. Dan, maaf.”

“Sudahlah, matahari sudah mulai meninggi. Jadi kita pergi saja.” Sambil memutar tangannya ke segala arah Yong Hwa berdiri dan mendekati Shin Hwa yang asik bermain bersama dengan beberapa anak lain sepantaran dirinya.

Perjalanan pertama mereka menuju kebun binatang, tempat rekreasi yang paling sering dikunjungi oleh keluarga-keluarga di Korea Selatan. Mereka berkeliling, mengunjungi satu persatu hewan yang dipelihara dalam suatu kandang besar yang tentu saja sudah diadaptasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing hewan. Jarak yang harus ditempuh untuk mengelilingi kebun binatang itu cukup melelahkan bagi kaki-kaki kecil Shin Hwa, sama seperti ayah lainnya Yong Hwa memikul putranya yang duduk di pundaknya. Dan Shin Hye dari belakang memegangi punggung putranya, mengantisipasi seandainya keseimbangan Yong Hwa atau Shin Hwa memburuk.

Setelah lelah berjalan-jalan mereka pun berhenti sejenak di tengah jalan, mengunjungi sebuah rumah makan kecil yang menyediakan beberapa makanan khas Korea Selatan. Shin Hwa yang belum merasa lapar hanya memesan tteokpoki, kue beras bermandikan saos pedas. Mata Shin Hye terus mengawasi anaknya, terlihat Shin Hwa merasa kepedasan karena saosnya yang memang terbilang cukup pedas untuk anak-anak. Selain itu dapat terlihat bahwa Shin Hwa mengawasi keluarga ynag duduk tak jauh dr mereka. Shin Hye pun mengerti, Shin Hwa sangat menginginkan kasih sayang seorang ibu.

Appa, tteokpoki ini sangat pedas. Shin Hwa tidak kuat pedas.”

“Kau bisa mencucinya dengan air Hwa-ya.” Hanya itu jawaan yang diberikan oleh Yong Hwa, mendengar hal itu Shin Hwa hanya menunduk kecewa.

Tanpa diminta Shin Hye menuangkan air dalam sebuah gelas dan menyumpit salah satu tteokpoki milik Shin Hwa kemudian menyelupkan dan menggoyangkan tteokpoki itu dalam air tanpa melepaskan jepitan sumpitnya.

Aaa.” Ia menyuapkan tteokpoki itu pada Shin Hwa.

Melihat itu Shin Hwa bingung tapi juga senang. Tentu saja karena ia merasa saat itu dia sama seperti anak lainnya, dapat merasakan kasih sayang seorang ibu. Namun kemudian tiba-tiba bocah lelaki itu terbatuk, ia tersedak. Dengan cepat Shin Hye yang merasa khawatir memberikan air minum pada putra yang tak mengenalinya itu. Yong Hwa yang melihat kejadian itu hanya mampu tersenyum tipis dengan pikiran yang dipenuhi dengan kata ‘seandainya’.

Perjalanan mereka belum habis sampai di sana karena nyatanya Shin Hwa meminta untuk pergi ke pusat gim. Di tempat itu mereka benar-benar terlihat sebagai sebuah keluarga kecil harmonis. Contohnya saja ketika memainkan permainan basket, Yong Hwa bekerja sebagai pencetak skor, Shin Hye sebagai pemberi bola, dan Shin Hwa bertugas menjadi tim sorak. Tawa lepas mengiringi permainan mereka, membuat iri beberapa orang yang berpapasan dengan mereka yang bahkan tak sadar jika menjadi perhatian dari orang lain.

Appa, ayo masukkan lagi! Buat skor yang banyak.”

Appa! Appa! Appa!” Bersamaan Shin Hwa dan Shin Hye menyemangati Yong Hwa.

Ia memang tak melihat ke arah Shin Hye namun dia mendengar wanita itu menyebutnya dengan panggilan appa. Ia tersenyum tipis, senyum yang tanpa diketahui oleh banyak orang mewakili rasa bahagianya karena dapat menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang selama ini terus dicintainya sepenuh hati. Hatinya membuncah, setitik harapan menyala dalam hatinya.

Shin Hye duduk menunggu kehadiran Yong Hwa dan Shin Hwa yang pergi membeli minuman untuknya. Sembari menunggu dia mencoba memainkan claw machine yang sedang menganggur. Beberapa kali mencoba tak juga membuahkan hasil bagi Shin Hye. Lantas ia merasa geram dan menendang mesin itu pelan tapi ia kembali mencoba lagi, tak kapok untuk mengulang. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangannya yang sedang menggenggam joystick mesin permainan itu dan tangan lainnya ditaungi oleh tangan lain untuk menekan tombol mesin itu. Tentu saja dapat dengan mudah bahwa pemilik tangan itu adalah Jung Yong Hwa.

“Kau masih saja payah memainkan mesin ini.” Bisikan itu mengundang Shin Hye untuk menatap sumber suara. Iris mata mereka saling berhadapan menatap dalam satu sama lain. Terlihat dengan jelas bahwa kedua insan itu saling merindukan. Shin Hwa yang melihat adegan itu entah mengapa merasa senang, ia belum pernah melihat ayahnya menjadi sosok yang saat ini ia lihat. Tanpa alasan yang jelas bocah itu menyimpulkan bahwa ayahnya mencintai wanita yang baru kali ini ia temui sebagai teman ayahnya.

Tak terasa matahari mulai turun, kembali ke peraduannya ‘keluarga kecil’ itu kini harus pulang. Yong Hwa menggendong putra tunggalnya itu dengan gaya piggy back, mata bocah itu terlihat terpejam. Mungkin ia tertidur karena terlalu lelah bermain seharian ini. Yong Hwa sangat bersyukur pada Tuhan akan hari indah yang ia baru saja ia jalani. Entah sejak kapan tangan dua orang dewasa itu saling berpautan satu sama lain. Tanpa sepatah kata pun mereka menikmati perjalanan mereka dengan sederhana namun tetap bermakna satu sama lain. Dan masing-masing dari mereka memutar kembali memori yang sama.

Jung Yong Hwa tanpa mengeluh terus menjejakkan kakinya di jalan raya dengan menggendong istrinya yang kini tengah berbadan dua. Hanya dengan bersamanya dia merasakan kebahagiaan. Wanita beruntung itu bernama Park Shin Hye, dia mendapat curahan cinta yang pernuh dari Yong Hwa. Meskipun hidup mereka tidak bergelimang harta tapi keduanya bahagia.

“Oppa, apa aku berat? Napas oppa mulai terdengar tersengal-sengal.”

“Ani, aku masih kuat. Kau tidak boleh lelah berjalan kaki, sayang.”

“Oppa…”

“Hmm?”

“Apa oppa akan menjadi appa yang baik bagi Shin Hwa kita?”

“Tentu saja, aku akan berjuang keras untuk kalian berdua. Untuk Shin Hwa dan untuk Shin Hye.”

“Oppa, saranghae.”

“Nado saranghae.” Pria itu tersenyum lebar dan hangat. Ia selalu bahagia setiap saat sang istri mengumandangkan kata ‘saranghae’ pada dirinya. Terdengar merdu dan memabukkan.

Shin Hye menyerukkan kepalanya dalam leher Yong Hwa. Tanpa Yong Hwa ketahui Shin Hye memiliki banyak beban pikiran saat itu. Dan percakapan itu bukan percakapan yang tak memiliki makna.

.

.

.

“Terimakasih untuk hari ini karena kau memberikan kesempatan bagiku untuk bertemu Shin Hwa.” Percakapan dibuka oleh Shin Hye.

“Sama-sama. Kita bisa melakukan ini lain kali. Dan kita bisa memulainya dari awal Shin Hye.” Kini mereka berhenti melangkah dan saling berhadapan.

“Kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti untuk selalu memikirkanmu. Bahkan aku tidak bisa membencimu meskipun saat itu kau meningalkanku.”

Yong Hwa menangkup wajah Shin Hye dengan satu tangannya yang bebas, ia hendak mengecup bibir wanita cantik itu tapi dia menghindar.

Mianheoppa mianhe… jeongmal mianhe.” Shin Hye tertunduk, airmata mengalir dari pelupuk matanya.

“Kenapa kau minta maaf? Kau tidak berbuat kesalahan apapun Park Shin Hye.”

Mianhe… ini mungkin adalah pertemuan terakhir kita. Aku tidak lagi bisa menemuimu. Aku akan segera menikah.” Shin Hye terus tertunduk, tak memiliki keberanian untuk menatap wajah pria yang kini di hadapannya.

Yong Hwa yang mendengar pernyataan itu mampu berkata, dia bahkan tak tau harus membuat ekspresi apa. Haruskah ia tersenyum dan mendukung wanita itu? Haruskah ia menangis dan memohon agar wanita itu bersamanya? Haruskah ia menjadikan Shin Hwa untuk mengikat Shin Hye dengan dirinya? Satu yang pasti kini mata Yong Hwa juga berkaca-kaca ia menangan tangisnya setengah mati. Dan kini mereka berdua terlihat seperti pasangan muda yang hamil di luar nikah. Tanpa mereka sadari ternyata sedari tadi Shin Hwa tidaklah tidur, dia hanya memejamkan matanya, memberikan ruang untuk dua orang dewasa itu.

“Aku harus pergi, calon seuamiku sudah menunggu.” Shin Hye akhirnya mendongakkan kepalanya menatap Yong Hwa, hatinya hancur melihat ekspresi wajah pria itu. Ia merasa bahwa dirinya adalah wanita bodoh yang paling jahat karena menyia-nyiakan Yong Hwa.

Yong Hwa mendorong leher Shin Hye ke arahnya, menempelkan bibirnya pada dahi wanita itu. Ia mengecup lama dahi Shin Hye, menyalurkan rasa cintanya yang tak pernah habis. Dan kini itu adalah ciuman perpisahan mereka.

“Pergilah, berbahagialah, kami akan hidup dengan baik.” Hanya kalimat itu yang dapat dilantunkan Yong Hwa, dan seiring dengan kalimat itu airmata Yong Hwa mengalir.

Dan Shin Hye, wanita itu mengecup pipi Yong Hwa dan Shin Hwa bergantian sebelum akhirnya pergi dari kedua orang yang sangat dicintainya itu. Dia berjalan lurus dengan bahu bergetar, sesekali tangannya terangkat ke arah wajah cantiknya. Hanya dengan melihat gerak tubuh Shin Hye dari belakang Yong Hwa juga tahu bahwa semua ini juga berat untuk wanita yang rapuh itu. Tapi ini mungkin takdir Tuhan, cinta pertama yang selama ini selalu ia jaga nyatanya pergi dengan meninggalkan dan membawa rasa sakit untuk Yong Hwa dan wanita itu sendiri.

Eomma…” Shin Hwa berbisik dan menangis dalam gendongan ayahnya.

Eomma!” Kali ini bocah lelaki itu berteriak dalam tangisannya. Yong Hwa pun menurunkanbocah itu perlahan dari gendongannya.

Eommaaa!!” Anak laki-laki itu berusaha mengejar mobil yang membawa ibunya pergi. Hati Yong Hwa hancur melihat itu, ia hanya bisa mengejar anak itu dana memeluknya erat, ikut larut menangis. Dua pria itu menangis bersama, menangisi satu orang wanita yang sama-sama mereka sayangi dan cintai.

Mianhe… Shin Hwa-ya mianhe… jeongmal mianhe.” Yong Hwa terus menangis sambil memeluk erat tubuh putranya. Berulang kali melantunkan kata maaf di telinga Shin Hwa.

Appa, Shin Hwa eomma pergi. Eomma…

Mianhe… Shin Hwa-ya mianhe… jeongmal mianhe.” Lantunan maaf kembali dirapalkan Yong Hwa.

“Kenapa appa membiarkan eomma pergi? Itu eomma Shin Hwa. Eomma…” Tangisan bocah lima tahun itu semakin menjadi.

Mereka berdua menangis bersama di jalanan sepi itu berjam-jam lamanya. Hingga akhirnya tangisan Shin Hwa berhenti, ia tertidur dalam dekap ayahnya karena kelelahan menangis. Yong Hwa pun mengeraskan hatinya untuk tidak menangis, ia menggendong Shin Hwa dan membawa anak itu pulang. Ia hanya berharap bahwa apa yang terjadi malam ini hanyalah sebuah mimpi. Ia akan sangat bersyukur meskipun itu hanyalah sebuah mimpi buruk.

FIN.

Nothing to say…. Mamih Lay ini ff pesananmu, semoga memuaskan. Maaf kalo tidak mencapai ekspektasi, harapan, atau standarnya mamih.

Leave a long comment please.

Advertisements

11 thoughts on “[Oneshoot] The Last Time

  1. Haloo… wao!! Mian baru bisa buka n komen sekarang
    Wao, kenapa endingnya harus begitu. Kenapa shinhye harus pergikan kasian shin hwanya. Kayanya butuh sequel deh wao, wkwkw… aku pingin shin hyenya sembuh trus kembali lagi sama yong hwa n shin hwa #ngarep#

    Keep writing ya wao n di tunggu ff dooly couple lainnya, fighting!

  2. Sebenarnya sebel si klo harus sad ending. Tapi demi wao q baca deh. Lumayan bagus kok wao dan ide ceritanya bagus. Cuma menerangkan kata-katanya itu kadang ada yang kurang aku mengerti.
    Kayak pas ketemu shinhye tu klo ga salah ada kata-kata ‘memutar tangannya ke segala arah’ tu aku bingung gimana memperagakannya.
    Aku mau menyarankan wao klo mau menceritakan tentang kegiatan tubuh tu lebih baik peragakan dulu sendiri. Dan satu lagi klo ga mood sebaiknya jangan memaksakan. Berdasarkan pengalamanku menulis tanpa mood dan aku memaksakannya hasilnya justru jelek. Itu saja sih aku cuma menyarankan saja.

  3. Akhirny shin hye ttp meninggalkn yonghwa dan shin hwa lg.. huuu..huuu sedih smpe nangis pas bca shinhwa ngejar mobil shin hye sambil manggil eomma..

  4. Holaaa wao…

    Eum.. apa yahh.. yg jelas ff ini jauh lebih baik dari yg sebelumnya (yg cerita shin hamil itu) udh lumayan berasa feelnya. Tapi di beberapa paragraf masih ada kalimat yg hambar. Di banding moment yongshin, momen shinhye-shinhwa lebih berasa feel nya.. yah gitu lah wao wakakakkakaka

    Ku pikir ini bakalan sad ending dgn shinhye sakit trus mati. Wkwkwk ternyata dia masih hidup… walau endingnya shin hye ttp pergi 😂😂😂😂

    Sudahlah… aku bingung mau ngetik aplagi… mangat nulis ff barunya.. sekali2 nulis wonkyo couple leh ugha keles 😂😂😂😂 #mendadakalay

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s