(Chapter 7) Don’t Cry My Lover

dontcrymylover

Art by Deypratiwi @ Indofanfictionart

^

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 7)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris) – Park Junghwa (EXID) – Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee – Kim Jaejoong (JYJ) – Park Gyuri as Kim Gyuri

Choi Minho(Shinee) – Byun Baekhyun as Choi Baekhyun (EXO)

Jeon Jungkook as Choi Jungkook (BTS)

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4  – Chapter 5Chapter 6

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Kereta berwarna putih itu melaju cepat. Jiyeon yang duduk di dekat jendela tengah sibuk dengan pikirannya. Dia bertanya-tanya sudahkah Myungsoo menyadari dirinya pergi? Baru saja nama Myungsoo muncul dipikirannya sekarang nama itu sudah muncul di layar ponselnya. Moonhee yang duduk di samping Jiyeon langsung menoleh mendengar deringan ponsel Jiyeon.

“Kenapa kau masih saja membawa ponsel? Kita akan berlibur Jiyeon-ah dan halmeoni tidak akan mengijinkan orang lain mengganggu kita jadi sebaiknya kau matikan ponselmu.” Perintah sang nenek.

Jiyeon mengangguk dan menuruti ucapan neneknya. Jiyeon berpikir lebih baik tidak ada satu orang pun yang tahu keberadaannya termasuk Myungsoo. Akhirnya setelah ponselnya berhenti berdering dia segera menonaktifkan ponselnya sesuai ucapan sang nenek.

Tak lama kemudian kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun Busan. Jiyeon dan Moonhee segera bangkit dan mengambil barang-barang mereka. Saat mereka turun dari kereta, tatapan Jiyeon tertuju pada papan nama besar bertuliskan ‘Stasiun Busan’.

Halmeoni kenapa kita pergi ke Busan? Memang kita mau pergi ke tempat siapa?” Tanya Jiyeon berjalan disamping neneknya.

“Pemandangan di desa sini sangat indah Jiyeon-ah. Lagipula apa kau lupa bukankah Busan adalah tempat kelahiran halmeoni jadi halmeoni ingin bernostalgia di sini.”

“Jika halmeoni bernostalgia bagaimana denganku?” Tanya Jiyeon kembali.

“Aaaiissshh…Kau tenang saja halmeoni akan membawamu ke tempat-tempat yang indah di Busan jadi kau tidak akan bersedih lagi.” Moonhee merangkul bahu Jiyeon.

Gomawo halmeoni, kalau tidak ada halmeoni aku pasti sangat kesepian.” Moonhee hanya tersenyum mendengar ucapan cucunya.

 

*     *     *     *

 

Pensil yang dipegang Taehee terlihat berlari kesana kemari di atas kertas membentuk sebuah pola dress. Kacamata yang dikenakan wanita itu menyembunyikan matanya yang tampak serius mengerjakan design terbarunya.

Ketukan di pintu menghentikan pekerjaannya itu. Pintu terbuka sehingga Taehee bisa melihat putri sulungnya berjalan menggunakan kruk. Segera wajah Taehee berubah terkejut karena melihat Shinhye masih mengenakan pakaian rumah sakit.

“Shinhye-ah, apa yang kau lakukan di sini? Kau kan masih sakit.” Cemas Taehee.

PLLAKK…..

Sebuah tamparan keras melayang di pipi Hana membuat wanita itu kaget. Taehee memegang pipinya yang memanas lalu memandang Shinhye dengan tatapan penuh amarah.

“Apa-apaan ini Shinhye-ah? Berani sekali kau menampar eomma?” Nada suara Taehee meninggi.

“Aku rasa tamparan itu tidaklah cukup untuk membalas sakit hati yang Jiyeon rasakan rasakan.” Ucap Shinhye dengan nada dingin. Taehee menatap putrinya bingung. “Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu mengapa Jiyeon lebih memilih tinggal bersama halmeoni daripada tinggal bersama kita, dan itu semua karena  kau. KENAPA KAU MENYALAHKANNYA HUH?” Bentak Shinhye.

“Menyalahkan apa maksudmu?” Taehee pura-pura tidak tahu apa yang dimaksud Shinhye.

“Jangan mencoba menutupinya lagi. Bukankah kau menyalahkan Jiyeon atas kecelakaan yang menimpaku? Mengapa kau berlaku tidak adil padanya Nyonya Park?”

“Karena Jiyeon sudah membuatmu kehilangan satu kakimu.” Taehee berbalik memandang putrinya menahan emosi.

Air mata keluar dari kedua mata Shinhye, menutupi mata indahnya. “Itu hanya kecelakaan, bahkan Jiyeon tidak ada di sana, tapi mengapa kau justru malah menyalahkannya?” Suara Shinhye bergetar menahan tangisnya.

“Tapi jika saja Jiyeon tidak membuat lelucon bodoh itu, aku yakin kecelakaan itu tidak akan pernah menimpamu.”

Shinhye melayangkan tatapan penuh kebencian pada wanita yang sudah membesarkannya.

“Jika saja yang membuat lelucon itu adalah aku, dan Jiyeon yang harus kehilangan kakinya, apa kau juga akan menyalahkanku huh?”

Taehee terdiam memikirkan pertanyaan putri sulungnya, wanita itu tak pernah memikirkan jika orang lain yang berada di posisi Jiyeon.

“Melihat sikap diammu, kurasa kau tidak akan menyalahkanku, benar kan nyonya Park?”

“Itu karena aku sangat menyayangimu Shinhye-ah.” Tatapan Taehee berubah lembut saat mengatakan hal itu.

“Huuhhh…. Menyayangiku? Kau tidak pernah menyayangiku nyonya Park, kau hanya menyayangi impianmu, impian membuatku tampil di pertunjukkan balet Internasional. Kau benar-benar egois nyonya Park. Demi impianmu kau malah membuang darah dagingmu, anakmu sendiri.”

“Aku tak pernah membuangnya, dia sendiri yang lebih memilih tinggal bersama halmeoni.” Ucap Taehee membela diri.

“Tentu saja Jiyeon lebih memilih tinggal bersama orang yang mencintainya, daripada harus dihantui rasa bersalah karena kau.”

Lagi-lagi Taehee terdiam. Ucapan Shinhye bagaikan panah yang sudah menusuk hatinya.

“Apa kau tahu nyonya Park, karena rasa bersalah yang sudah kau tanamkan itu membuat Jiyeon ikut menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan demi mengembalikan senyumku, anak yang sudah kau buang itu rela memberikan apapun untukku. Jiyeon dan Myungsoo sudah berpacaran sebelum aku merebut Myungsoo dari Jiyeon. Dan untuk membuatku bahagia, Jiyeon rela memberikan kekasihnya padaku. Bagaimana bisa kau menyalahakan orang sebaik itu nyonya Park?”

Taehee tampak terkejut mendengar penjelasan Shinhye. Dia tidak tahu akan membuat Jiyeon seperti itu. Selama ini ternyata wanita itu sudah salah menilai anak bungsunya.

Yeoja egois dan jahat sepertimu  tidak pantas di panggil eomma, kau hanya memikirkan egoismu sendiri sampai membuat Jiyeon menderita, dan aku tidak akan pernah memaafkanmu.” Shinhye berbalik dan meninggalkan ruangan itu tertatih tanpa memperdulikan ibunya.

“Shinhye-ah…. Shinhye-ah….”

Shinhye tak menghiraukan panggilan ibunya. Dengan bantuan kruk di tangannya Shinhye segera meninggalkan tempat itu, berusaha menjauhi Taehee.

Taehee masih terdiam di tempatnya, ucapan Shinhye sedang berputar-putar di kepalanya. Lutut Taehee terasa lemas tak mampu lagi menahan tubuhnya membuat tubuhnya merosot ke lantai. Butir-butir air mata jatuh membasahi pipinya. pikirannya beralih ke masa lalu tepat setelah kecelakaan terjadi.

 

~~~Flashback~~~

 

“Maafkan kami, kami sudah berusaha sangat keras, tapi benturan yang mengenai kaki putri anda sangat keras. Karena itu dengan sangat menyesal kami harus mengatakan jika putri anda akan lumpuh. Saya benar-benar minta maaf.” Jelas dokter pada Yoochun dan Taehee.

“Ll…Lumpuh?” Tanya Taehee tak percaya.

Dokter yang menangani Shinhye mengangguk. Taehee tampak terpukul dengan berita itu. Yoochun yang mengetahuinya langsung memeluk bahu istrinya untuk memberikan kekuatan.

“Apa tidak ada cara untuk membuat Shinhye bisa berjalan lagi?” Kali ini giliran Yoochun yang bersuara.

“Saya rasa tidak bisa karena patah tulangnya terlalu parah. Maafkan saya tak bisa membantu lagi. Saya permisi dulu.” Dokter itu meninggalkan sepasang suami istri itu dalam kesedihan.

Yoochun menarik istrinya ke dalam pelukannya, dan seketika itu tangis Taehee pecah. Mendengar berita butuk itu menghancurkan hati Taehee. Yoochun mengelus rambut hitam Taehee untuk menenangkan istrinya. Lelaki itu hanya terdiam tak bersuara karena dia tahu berbicara di situasi ini bukanlah tindakan yang tepat, lebih baik membiarkan wanita itu menangis sepuasnya mengeluarkan emosinya.

Appa, eomma.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuat Taehee melepaskan pelukan suaminya dan menoleh ke asal suara.

“Jiyi-ah bukankah eomma sudah bilang tunggulah di rumah. Kenapa kau malah kemari?” Taehee menghapus air matanya dan menghampiri anak bungsunya itu.

Mianhae eomma tapi aku mengkhawatirkan eonnie.”

“Bagaimana keadaannya Taehee-ah?” Tanya Moonhee yang mengantar Jiyeon ke rumah sakit.

Taehee terdiam, lidahnya terasa kelu tak bisa mengatakan hal yang sebenarnya.

“Kenapa kau diam Taehee-ah? Ada apa ini Yoochun-ah? Shinhye baik-baik saja kan?” Tanya Moonhee kembali.

“Shinhye… Dia…. Dia lumpuh eomma.” Jawab Yoochun.

“Lumpuh? Ba…Bagaimana bisa? Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya?” Tanya wanita itu tak percaya.

“Dokter bilang benturan keras di kaki Shinhye membuatnya mengalami patah tulang yang parah, dan dokter tak bisa menolongnya.” Jelas Yoochun berusaha terlihat tegar menghadapi cobaan itu.

“Maksudmu Shinhye tak bisa berjalan lagi? Dia tak bisa menari balet lagi?” Yoochun hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaan mertuanya itu.

“Shinhye eonnie tak bisa menari balet lagi?” Jiyeon yang mendengarnya pun turut kaget sekaligus sedih. Gadis itu menangis menyesali perbuatannya. ” Mianhae… Mianhae appa, eomma, halmeoni.”

Taehee sempat kaget, namun wanita itu langsung menghampiri putri bungsunya itu. “Jiyi-ah, ini semua bukan salahmu, kenapa kau harus minta maaf?”

“Sebenarnya sebelum eonnie kecelakaan, aku meminta Junghwa menelpon eonnie dan berbohong jika aku pingsan.”

“Untuk apa kau melakukan itu?” Suara Taehee berubah dingin membuat Jiyeon takut. Wanita itu berlutut lalu mencengkram bahu Jiyeon kasar lalu mengguncangkannya. “Katakan padaku untuk apa kau melakukan kebohongan itu HUH?”

“Taehee-ah lepaskan. Jiyeon kesakitan.” Pinta Yoochun melihat wajah putrinya mengerut.

“Aku… Aku hanya ingin memberi Shinhye eonnie kejutan di hari ulangtahunnya.”

“Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan PARK JIYEON? Kau sudah membuat eonniemu kehilangan kakinya gara-gara lelucon bodohmu itu. APA KAU SADAR ITU?” Bentak Taehee kembali mengguncang bahu Jiyeon dengan keras membuat gadis kecil itu menangis.

“Hentikan Taehee-ah. Jangan membentaknya seperti itu, kasihan Jiyeon.” Moonhee menarik Jiyeon dari sang ibu.

Taehee tersenyum sinis. “Kasihan, dia justru tidak pantas mendapatkan belas kasihan karena membuat Shinhye lumpuh.”

“Taehee-ah, Jiyeon tak pernah berniat melakukannya, kenapa kau menyalahkannya?” Moonhee memeluk Jiyeon yang masih menangis.

“TAPI DIALAH PENYEBAB KECELAKAAN ITU.” Kemarahan Taehee tak dapat dikendalikan.

PLAAKK…

Dengan keras Moonhee menampar pipi Taehee, menimbulkan warna merah di pipinya. Taehee memegangi pipinya dan memandang Jiyeon penuh kebencian. Air matanya memenuhi pelupuk matanya. Sedangkan Jiyeon tampak ketakutan, namun gadis itu lebih memilih diam meskipun air mata terus mengalir membasahi pipinya.

“Kau sudah mengahancurkan impian Shinhye untuk tampil di pertunjukkan balet International, APA KAU SUDAH PUAS?” Taehee kembali meluapkan emosinya.

“CUKUP TAEHEE.” Teriak Yoochun menghentikan istrinya. “Eomma tolong bawa Jiyeon pulang, biar aku yang mengurus Taehee.” Pinta Yoochun.

Sesuai permintaan Yoochun, Moonhee membawa Jiyeon yang masih menangis dalam diam untuk pulang kerumah. Jiyeon menoleh dan melihat ibunya tidak lagi menatapnya penuh kasih sayang seperti biasanya. Namun hanya kebencian yang ada di mata Taehee.

 

~~~Flashback END~~~

 

Semenjak kejadian itu Taehee tak pernah lagi menunjukan kasih sayangnya pada Jiyeon. Wanita itu selalu lebih menyayangi Shinhye di bandingkan Jiyeon. Karena itulah alasan yang Jiyeon lebih memilih tinggal bersama neneknya.

 

Jika saja yang membuat lelucon itu adalah aku, dan Jiyeon yang harus kehilangan kakinya, apa kau juga akan menyalahkanku huh?

 

Tiba-tiba pertanyaan Shinhye merasuki pikiran Taehee. “Apa aku juga akan menyalahkan Shinhye, jika Shinhye yang membuat lelucon itu?” Tanya Taehee pada dirinya sendiri.

Tubuh Taehee mematung saat menyadari satu hal. Ucapan Shinhye memang benar. Wanita itu hanya terobsesi untuk membuat Shinhye dikenal seluruh dunia. Lalu Taehee teringat dengan ucapan ibunya.

 

Sudah cukup Taehee- ah . Apa kau tidak sadar Jiyeon juga anakmu yang butuh kasih sayangmu bukan amarahmu. Kenapa kau memperlakukannya tidak adil seperti ini? Apa kau ingin Jiyeon hidup diliputi dengan rasa bersalah selamanya? Kenapa kau masih saja menyalahkannya atas kecelakaan yang menimpa Shinhye? Itu hanya kecelakaan Taehee- ah, Jiyeon tidak pernah merencanakan untuk melukai eonnie nya. Apa kau tidak tahu Jiyeon selalu merasa iri mendengar Shinhye bercerita tentangmu dan Yoochun? Apa kau tidak pernah tahu Jiyeon selalu merindukan kalian? Apa tidak cukup kau menyalahkannya

 

Taehee menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Ya Tuhan…. Apa yang sudah kulakukan? Demi keegoisanku aku malah membenci anakku sendiri, aku malah membuatnya menderita. Mianhae Jiyeon-ah. Mianhae.” Sesal Taehee.

 

*     *     *     *

 

Gyuri melipat kedua tangannya di depan Myungsoo yang duduk di hadapannya. Wajah Gyuri tidak selembut biasanya karena dia kesal dengan ulah putranya yang sudah menculik pasiennya.

“Jelaskan pada eomma mengapa kau menculik Shinhye?” Tanya Gyuri.

“Dia ingin segera bertemu dengan Jiyeon dan menyelesaikan kesalah pahaman ini.”

“Tidak bisakah kau menunggu beberapa hari setelah Shinhye keluar?”

Myungsoo menggelemg lemah. “Tidak bisa eomma dan juga sudah terlambat. Jiyeon sudah pergi entah kemana.”

Sebenarnya Gyuri merasa kasihan pada putranya tyang tampak sangat sedih. Tapi sebagai seorang ibu, Gyuri harus konsisten.

“Kau sudah membuat kesalahan Myungsoo-ah. Dan kau harus mendapatkan hukuman. Selama sehari ini kau tidak boleh keluar rumah.”

Myungsoo terkejut dan tak suka dengan ide hukuman itu. “Tapi eomma aku harus mencari Jiyeon.”

Gyuri menggeleng. “Tidak bisa Myungsoo-ah. Hukuman tetap hukuman.”

Gyuri berjalan meninggalkan Myungsoo dan berusaha tak terpengaruh suara putranya yang memohon untuk tidak dihukum. Wanita itu sangat menyayangi putranya dan rasa sayangnya yang besar itu adalah lawan terbesar dari konsistensinya. Dia harus menemui suaminya untuk membicarakan mengenai putranya.

 

*     *     *     *

 

Jiyeon menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh desa. Rumah-rumah dengan design kuno tampak sepetti lukisan lengkap dengan area persawahan.

“Ada apa Jiyeon-ah? Mengapa berhenti?” Tanya sang nenek yang menyadari Jiyeon tak lagi mengikutinya.

“Desa ini begitu indah halmeoni.”

“Sudah kuduga kau akan menyukainya. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.”

Jiyeon kembali mengikuti sang nenek berjalan di sebuah desa yang penuh damai. Dari kejauhan Jiyeon melihat ilalang-ilalang yang tumbuh tinggi. Gadis itu tak sabar ingin kesana.

Halmeoni, bolehkan nanti aku berjalan-jalan?” Tanya Jiyeon.

“Tentu saja boleh, kita kan ke sini untuk berlibur. Tapi tunggu kita sampai tujuan.”

“Memang tujuan kita ke mana halmeoni?”

“Ke tempat kawan lama. Nah itu dia orangnya. Haneul-ah.” Panggil Moonhee membuat seorang wanita yang sedang menjemur pakaian itu menoleh.

Wajah wanita itu awalnya kaget namun lama-lama berubah senang saat menyadari orang yang memanggilnya adalah teman lamanya.

“Moonhee-ah…. Lama tidak bertemu.” Wanita bernama Haneul itu menghampiri Moonhee dan memeluknya.

Keduanya terlihat bahagia karena sudah lama mereka tak bertemu. Jiyeon hanya tersenyum melihat kebahagiaan mereka.

“Apa yang kaulakukan di sini Moonhee-ah? Mengapa kau tidak memberitahuku dulu jika mau kemari?” Tanya Haneul melepaskan pelukannya.

“Tentu saja aku ingin mengunjungimu sekaligus berlibur. Oh ya perkenalkan ini cucuku, Jiyeon.”

“Selamat siang ahjuma. Aku Park Jiyeon.” Sapa Jiyeon tersenyum ramah.

Ommo cucumu cantik sekali Moonhee-ah, pasti sangat cocok dengan cucuku yang tampan.” Puji Haneul membuat pipi Jiyeon memerah.

“Aaisshh…. Kau ini masih saja belum berubah, selalu ingin menjodohkan orang lain.” Moonhee menggelengkan kepalanya melihat tingkah temannya itu.

“Tidak ada salahnya kan. Ayo kita masuk.” Ajak wanita itu.

 

*     *     *     *

 

Jaejoong tersenyum melihat istrinya memasuki ruangannya. Tak ada senyuman di wajah Gyuri namun Jaejoong tetap menyukainya. Wanita itu meraih rambutnya ke belakang dan menggelungnya. Biasanya jika istrinya sudah menggelung rambutnya maka akan ada pembicaraan penting dengannya.

Oppa kita harus berbicara mengenai putra kita yang bandel itu.” Ucap Gyuri sampai di depan meja suaminya.

“Kemarilah.” Jaejoong mengulurkan tangannya meminta sang istri mendekat padanya.

Gyuri mengitari meja kerja Jaejoong dan menghampiri lelaki yang mengenakan seragam polisi berwarna hitam. Wanita itu mengulurkan tangannya pada tangan Jaejoong. Dengan gerakan cepat lelaki itu manarik Gyuri ke atas pangkuannya. Wajah Jaejoong mendekat ke telinga istrinya.

“Sudah kukatakan jangan memperlihatkan lehermu jika tidak ingin aku menyerangmu.” Bisik Jaejoong dengan nada yang nakal.

Tangan Jaejoong merambat ke belakang kepala Gyuri dan menekannya hingga bibirnya menyentuh bibir sang istri. Dengan lihainya lelaki itu mempermainkan bibir Gyuri hingga terbuka. Wanita itu melupakan tujuannya datang menemui suaminya. Dia terlena dengan permainan bibir Jaejoong hingga akhirnya tangan Gyuri menjalar ke leher Jaejoong dan memainkan rambut suaminya.

Butuh waktu 10 menit bagi Gyuri untuk sadar bukan ini tujuan dia kemari. Meskipun hati Gyuri berteriak untuk jangan berhenti namun Gyuri tahu jika dia tidak berhenti sekarang akan ada percintaan panas di atas meja kerja Jaejoong. Akhirnya dengan sangat terpaksa Gyuri menekan bahu suaminya dan bergerak ke belakang hingga ciuman mereka terlepas.

“Hentikan Oppa, aku ingin bicara serius.”

Jaejoong menghela nafas kecewa namun sepertinya apa yang ingin dibicarakan Gyuri sangat penting. “Baiklah katakan ada apa dengan putra kita?”

Tangan Jaejoong meraih gelungan rambut Gyuri dan melepaskannya membiarkan rambut Gyuri memnutupi leher yang begitu menggodanya.

“Myungsoo sudah menculik pasienku tadi pagi dan dia juga diam-diam mengambil kunci mobilku untuk pergi. Aku benar-benar kesal dibuatnya Oppa.” Cerita Gyuri dengan menggebu-gebu.

“Memang siapa pasien yang diculik Myungsoo?”

“Park Shinhye, putri Park Yoochun.”

“Mengapa dia membawa Shinhye pergi dari rumah sakit?” Tanya Jaejoong kembali seraya memainkan rambut ikal Gyuri.

“Myungsoo bilang dia dan Shinhye ingin menyelesaikan kesalahpahaman dengan Jiyeon.”

“Bukankah tindakan Myungsoo benar? Dia kan ingin membantu Shinhye dan juga Jiyeon.” Jaejokng terdengar santai sekali dan itu membuat Gyuri semakin kesal.

Oppa seriuslah.” Gyuri menginjak kaki suaminya membuat Jaejoong meringis kesakitan.

“Kau kejam sekali chagiya. Aku juga serius mendengarmu. Lalu siapa Jiyeon itu?”

“Jiyeon adalah kekasih Myungsoo dan dia adalah putri kedua Yoochun. Apa Oppa tahu jika Yoochun memiliki dua anak?”

Jaejoong mengangguk. “Aku tahu tapi semenjak kecelakaan yang menimpa Shinhye, menyebut nama ‘Jiyeon’ seakan tabu bagi mereka terutama Taehee.”

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Taehee. Bagaimana bisa dia membenci anaknya sendiri?”

“Kita tidak bisa ikut campur dengan masalah mereka Gyuri-ah. Tapi nanti aku akan bicara dengan Myungsoo. Sebelum itu bagaimana jika kita lanjutkan yang tadi.”

Gyuri melingkarkan tangannya di leher Jaejoong. “Persiapkan dirimu tuan Kim.” Gyuri tersenyum genit pada suaminya.

 

*     *     *     *

 

Sesuai dengan keinginannya, Jiyeon berjalan-jalan mengelilingi desa. Terkadang gadis itu tersenyum menyapa penduduk desa dengan ramah. Jiyeon melangkahkan kakinya menuju padang ilalang yang menarik perhatiannya sejak datang tadi. Gadis itu tersenyum senang saat sampai di padang ilalang itu. Selama ini Jiyeon hanya bisa melihat pemandangan ini di drama-drama, tak di sangka sekarang gadis itu bisa melihatnya langsung.

Jiyeon berjalan dalam padang ilalang itu. Menyentuh ilalang itu, memainkannya dan gadis itu juga menikmati angin semilir membuat rambutnya berterbangan. Demi lebih menikmati angin semilir itu, Jiyeon menutup matanya sambil terus berjalan melawan arah angin. Tiba-tiba kaki Jiyeon menyandung sesuatu, membuat gadis itu terjatuh.

“AAAAHHHH…….” Jiyeon terkejut saat mendengar suara seseorang yang meringis kesakitan.

Jiyeon menoleh ke asal suara itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang lelaki sedang memegangi kakinya kesakitan.

“Ma..Maafkan aku. Aku tidak sengaja.” Sesal Jiyeon.

Tubuh Jiyeon membeku saat mendapatkan tatapan tajam dari orang itu.

“MAAF? Aku tidak akan memaafkanmu. Kau sudah mengganggu tidur siangku.” Kesal lelaki itu.

“YA!!! Tapi aku kan tidak sengaja. Lagian siapa yang akan tahu jika ada orang tidur di tengah ilalang seperti ini?” Jiyeon juga kesal dengan sikap tak ramah lelaki itu.

“Aaiishhh…. Dasar mengganggu tidurku saja.” Lelaki itu tak menanggapi kekesalan Jiyeon. Dia langsung berdiri dan meninggalkan Jiyeon.

“Mengganggu tidurnya? Aisshh…. Salah namja itu sendiri tidur sembarangan, dasar namja aneh.” Gerutu Jiyeon setelah lelaki itu pergi.

Jiyeon segera melupkan lelaki menyebalkan tadi. Tak ingin suasana liburannya yang tenang harus diganggu lelaki itu. Dia kembali menikmati udara segar dan menembus ilalang yang tumbuh tinggi.

 

*     *     *     *

 

Tahee membuka pintu kamar Jiyeon. Matanya mengembara ke seluruh ruangan yang sama sekali tidak berubah semenjak kepergian sang pemilik kamar. Kaki Taehee yang tak mengenakan alas kaki berjalan masuk. Wanita itu menghampiri ranjang yang ada di pinggir ruangan. Dia duduk di atas ranjang dan mengelus selimut berwarna putih dengan gambar boneka beruang.

Dulu sebelum tidur Taehee akan berada di sini menemani Jiyeon. Masih ingat betul suara tawa dan kata-kata ‘aku menyayangimu’ dari Jiyeon di pikiran Taehee. Tatapan wanita itu beralih di meja nakas samping ranjang. Tangannya meraih laci dan membukanya. Barang-barang Jiyeon seperti album foto dan beberapa buku tertata rapi dalam laci itu.

Taehee tertarik dengan amplop berwarna pink cerah yang ada diatas album foto. Ada tulisan ‘Eomma’ di atas amplop itu. Wanita itu memutuskan untuk mengambil amplop itu dan membukanya.

 

Eomma aku sangat menyanyangimu. Kalimat itu sepertinya tidak pernah puas aku ucapkan. Tapi sekarang eomma sangat membenciku. Aku sungguh menyesal eomma. Aku ingin menukar apapun agar eomma bisa kembali lagi menyayangiku. Jika bisa aku ingin memberikan kakiku pada Shinhye eonnie agar eomma bisa bahagia melihat eonnie menari balet.

 

Taehee menutup menutup mulutnya dengan tangan kiri untuk menyamarkan suara tangisnya yang pecah. Selama ini Taehee selalu mengutamakan Shinhye dan melupakan seorang anak yang membutuhkannya.

“Kau sudah tahu Jiyeon begitu menyayangimu?” Yoochun yang sedari tadi berdiri memandang sanga istri yang sedang merenungkan kesalahannya.

Kepala keluarga Park itu berjalan menghampiri Taehee dan duduk disampingnya. Tangannya melingkar ke bahu sang istri dan menariknya ke dalam dekapannya.

“Apa kau tahu? Dulu Jiyeon berusaha untuk meraih juara kelas agar kau bisa menyayanginya sama seperti kau menyayangi Shinhye. Bahkan saat terakhir dia berkunjung kemari, Jiyeon berdiri di depan ruang kerjamu untuk melihat eommanya. Aku menyuruhnya untuk masuk tapi dia berkata ‘eomma akan marah jika aku masuk. Melihat eomma sedekat ini sudah cukup membuatku bahagia’.”

Tangis Taehee semakin pecah membayangkan Jiyeon mengatakan hal itu. Yoochun memeluk istrinya lebih erat. Dia membiarkan sang istri mencurahkan penyesalan.

“Aku sudah melakukan kesalahan besar Oppa. Jiyeon dan Shinhye pasti membenciku dan tak mau memaafkanku Oppa. Aku sungguh menyesal.”

“Kau adalah eomma mereka dan mereka pasti akan memaafkanmu.”

Taehee kembali menangis dalam pelukan Yoochun. Penyesalan selalu datang terlambat dan itu berlaku pada Taehee.

 

*     *     *     *

 

Minho berjalan pulang dengan mood buruk. Itu karena gadis yang sudah mengganggu tidurnya tadi. Dia merapikan rambutnya saat mendengar suara seseorang yang dikenalnya.

“Hey hyung, darimana saja kau? Dari tadi kami mencarimu.” Ucap Baekhyun saat Minho sampai di depan rumah.

Minho memandang Baekhyun malas, lalu pandangannya beralih pada lelaki imut di samping Baekhyun.

“Untuk apa mencariku? Paling-paling kalian ingin menantangku bermain bola.” Terka Minho.

“Tepat hyung kau memang pintar.” Ucap Jungkook penuh semangat.

“Aku memang selalu pintar Jungkook-ah. Tapi saat ini aku tidak mau menerima tantangan kalian. Aku sedang malas.” Minho berjalan masuk ke rumah diikuti dua pengekornya.

“Kalian sudah pulang? Kemarilah halmeoni ingin memperkenalkan kawan halmeoni pada kalian.” Ucap Haneul saat melihat ketiga lelaki itu memasuki rumah.

Minho, Baekhyun dan Jungkook menghampiri nenek mereka yang sedang duduk bersama seorang wanita paruh baya.

“Moonhee-ah perkenalkan ini cucu-cucuku, yang pertama adalah Minho, yang kedua Baekhyun dan yang terakhir adalah Jungkook.”

Ketiga bersaudara itu bersama membungkuk untuk memberi hormat pada Moonhee.

“Aigo.. Kau memiliki cucu yang tampan-tampan Haneul-ah.” Puji Moonhee.

“Kau juga memiliki cucu yang cantik Moonhee-ah. Aku iri denganmu. Aku ingin sekali memiliki cucu yeoja yang bisa membantu dan menemaniku.” Iri Haneul.

Halmeoni, bukankah kami selalu membantumu dan kami juga selalu menemani halmeoni.” Jungkook mendekati Haneul dan memeluknya.

“Tapi jika sudah melihat bola kalian langsung melupakan halmeoni.”

Moonhee tertawa melihat Haneul cemburu pada bola.

Halmeoni, aku kembali.” Tiba-tiba suara gadis terdengar dari luar.

Dari arah pintu terlihat Jiyeon memasuki rumah milik Haneul. Mata Minhoo terbuka lebar saat melihat gadis itu begitupula reaksi Jiyeon sama kagetnya saat melihat Minhoo.

“Kau? Kau kan namja ilalang itu?” Ucap Jiyeon itu membuat Minhoo semakin kesal.

Namja ilalang? Hyung kau dipanggil namja ilalang.” Baekhyun dan Jungkook langsung tertawa memdengar panggilan baru kakaknya.

Satu persatu Minho memberikan hadiah jitakan pada kedua adiknya. Lalu dia melayangkan tatapan tajamnya pada Jiyeon.

“YA!!! Jangan seenaknya memanggilku seperti itu dasar yeoja menyebalkan.” Kesal Minho.

“Jiyeon-ah, bersikaplah sopan.” Moonhee menasehati Jiyeon.

Mianhae, habis aku tidak tahu namamu.” Ucap Jiyeon dengan polosnya.

“Namaku Choi Minho, bukan namja ilalang.”

Mianhae Minho-ssi.” Meskipun Jiyeon sudah meminta maaf namun Minhoo masih menunjukkan ekspresi dinginnya.

“Sudah-sudah jangan ribut. Lebih baik sekarang kalian bertiga membantu halmeoni memasak.” Perintah Haneul.

Ne halmeoni.” Jawab ketiga bersaudara itu bersamaan.

“Bolehkah aku membantu? Aku juga ingin memasak.” Pinta Jiyeon langsung mendapat persetujuan dari Haneul.

 

*     *     *     *

 

“HHHAAAA…….” Teriak Myungsoo frustasi.

Sudah berkali-kali Myungsoo mencoba keluar dari rumah namun pengawal yang berjaga di rumah selalu berhasil mencegahnya dan mengembalikannya ke dalam rumah. Dia ingin sekali mencari Jiyeon dan dia sangat merindukannya.

“Dimana kau Jiyeon-ah? Apa yang kau lakukan sekarang?” Gumam Myungsoo.

Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana keluar dari rumah yang bagaikan penjara itu. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Lelaki itu langsung berlari ke arah pintu karena yakin jika yang pulang adalah ayahnya.

Benar saja saat pintu terbuka Jaejoong masuk bersama Gyuri. Myungsoo berhenti tepat di hadapan orangtuanya. Pasangan suami istri Kim itu tampak terkejut melihat Myungsoo tiba-tiba berlutut di hadapannya.

Appa, eomma aku akan melakukan apapun yang kalian inginkan tapi ijinkan aku keluar. Aku harus mencari Jiyeon. Aku mohon.” Myungsoo semakin merendahkan kepalanya berharap mereka mengijinkannya keluar agar dia bisa mencari Jiyeon.

“Berdirilah Myungsoo-ah. Appa sudah mendengarnya dan appa ingin bicara denganmu.” Jaejoong berbicara dengan nada yang tenang.

“Bisakah kita bicara lain kali appa. Aku ingin mencari Jiyeon.” Mohon Myungsoo.

“Kita harus membicarakannya sekarang Myungsoo-ah.” Jaejoong berjalan menuju sofa tempat Myungsoo duduk di sana.

Gyuri berlutut dan menyentuh lengan putranya. “Eomma sudah bicara dengan appamu. Dia akan membantumu mencari Jiyeon. Jadi ikuti appamu.”

Myungsoo tersenyum pada ibunya lalu mengikuti ucapan sang ibu. Dia duduk di hadapan ayahnya yang duduk bersandar di kursi. Jaejoong memajukkan tubuhnya dan menepuk bahu putranya dengan bangga.

“Akhirnya kau memiliki kekasih Myungsoo-ah. Apa kalian sudah melakukannya?” Jaejoong memberi tatapan nakalmya membuat Myungsoo tahu apa yang sedang ayahnya bicarakan.

“Kami masih memasuki tahap pertama appa.”

“Aishh… Kau lambat sekali Myungsoo-ah.”

Gyuri berdeham mengganggu pembicaraan ayah dan anak itu. Keduanya menoleh dan bisa melihat tatapan tajam dari wanita paling mengerikan di rumah itu.

Appa akan membantumu mencari Jiyeon. Apa kau memiliki fotonya? Appa akan menyuruh beberapa orang untuk mencarinya.” Jaejoong berubah serius setelah mendapatkan peringatan sang istri.

“Aku memilikinya.” Myungsoo mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Jiyeon pada ayahnya.

“Baiklah appa akan mengirimkannya pada petugas patroli agar mereka bisa mencarinya sekarang.”

Appa bolehkan aku juga ikut mencarinya?”

Jaejoong menoleh pada sang istri untuk meminta pendapat. Gyuri mengangkat bahu seakan mengatakan ‘terserah padamu’. Tatapan kepala keluarga Kim itu kembali tertuju pada putranya.

“Dengar Myungsoo-ah, appa tidak melarangmu untuk mencari Jiyeon. Tapi tidak sekarang. Ini sudah malam dan kau bisa membuat eommamu khawatir. Kau bisa pergi mencarinya besok.”

Kekecewaan terpancar dari mata Myungsoo namun saat melihat ke arah ibunya yang menatapnya penuh sayang membuat lelaki itu tersenyum. “Baiklah aku akan mencari Jiyeon besok. Gomawo appa eomma.” Myungsoo memeluk kedua orangtuanya lalu berjalan menuju kamarnya.

Jaejoong tersenyum melihat putranya menuruti ucapannya. Namun senyum itu hilang saat melihat sang istri menatapnya tajam “Mengapa kau menatapku seperti itu chagiya?”

“Kau mengatakan Myungsoo lambat memang dulu Oppa cepat? Katakan padaku berapa banyak gadis yang bersama Oppa sebelum aku?”

“Itu sangat rahasia Gyuri-ah.” Jaejoong segera berlari melihat sang istri hendak melakukan penganiayaan terhadap dirinya.

Myungsoo yang belum masuk ke kamarnya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah orangtuanya layaknya pasangan yang baru saja menjalin kasih.

 

*     *     *     *

 

Pintu kamar mandi terbuka dan Minho keluar dengan rambut yang masih basah. Setelah mandi memang membuat tubuh lelaki itu terasa segar. Harum sabun bisa tercium jika berada dekat dengan lelaki itu. Handuk putih melingkar di lehernya digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.

“Bagaimana bisa Taehee setega itu menyalahkan Jiyeon karena sudah merebut kekasih Shinhye?” Suara Haneul terdengar di telinga Minho.

Lelaki itu berhenti melangkah dan mempertajam telinganya. Sepertinya neneknya sedang berbicara dengan neneknya Jiyeon.

“Taehee tidak tahu kejadian yang sebenarnya. Jiyeon dan Myungsoo sudah berpacaran sebelum akhirnya Jiyeon meminta Myungsoo untuk menjadi kekasih Shinhye.” Jelas Moonhee.

Ommo Moonhee-ah, cucumu itu seperti malaikat. Dia merelakan apapun demi eonnienya tapi sekarang dia justru dibenci oleh eomma dan juga eonnienya.”

Mendengar pembicaraan itu, ada secercah perasaan kasihan dalam hati Minho. Dia tak menyangka gadis yang tadi dia bilang ‘menyebalkan’ ternyata memiliki hati yang besar. Minho berjalan menjauh menuju keluar sebelum sang nenek memergokinya menguping.

Di luar rumah Minho melihat Jiyeon duduk di bangku seraya menatap ke arah langit. Dari sudut mata ada sesuatu mengkilat dan Minho menyadari itu adalah air matanya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Jiyeon terkejut mendengar suara Minho dan dia langsung menunduk untuk membersihkan air matanya sebelum akhirnya menolah.

“Hanya melihat bintang-bintang dan menikmati angin semilir.”

Minho menghampiri Jiyeon dan duduk di samping gadis itu.Lelaki itu menoleh membuat tatapannya beradu dengan Jiyeon. Mata sendu gadis itu menggetarkan hati Minho. Meskipun lelaki itu sudah berkali-kali memiliki hubungan dengan beberapa gadis namun saat melihat Jiyeon ada perasaan aneh dalam dirinya.

Tanpa sadar tangan Minho menyentuh air mata yang masih ada di tepi mata gadis itu. Jiyeon sedikit terkejut dengan perlakuan Minho dan hendak menjauh namun mata tajam itu seakan mengunci Jiyeon.

Hyung….”

Minho segera menjauhkan tangannya saat mendengar teriakan Jungkook. Dari dalam rumah Jungkook berlari pada Minho dan berlutut di hadapan kakaknya itu tanpa memperdulikan tingkah aneh Jiyeon dan Minho.

Hyung tolong aku hyung.” Mohon Jungkook dengan wajah memelasnya.

“Apa yang kau perbuat kali ini Jungkook-ah?” Minho tahu betul adiknya ini meskipun terlihat manis di depan namun dibelakang dia adalah rajanya jahil.

“Aku tidak melakukan apapun hyung. Ini salah Baekhyun hyung sendiri yang rakus.”

Minho memicingkan matanya curiga. “YA!! Kau membuat ramen super pedas lagi? Jungkook-ah baru setengah jam yang lalu kita makan malam dan kau masih lapar lagi?”

Jungkook hanya memberikan cengiran malaikatnya membuat Minho tak mampu memarahinya.

“CHOI JUNGKOOK….” Teriakan Baekhyun membuat Jungkook mendelik takut.

Setelah memakan ramen Jungkook, Baekhyun segera minum berkali-kali untuk menghilangkan pedas yang membakar lidahnya. Baekhyun berlari keluar dan mendapati Jungkook di depan Minho.

“Kemari kau Jungkook-ah.” Baekhyun berlari menghampiri Jungkook namun si bungsu itu langsung melarikan diri mengitari kursi lebar yang diduduki Jiyeon dan Minho. Jiyeon tertawa melihat adegan kejar-kejaran Baekhyun dan juga Jungkook. Sedangkan Minho tak memperdulikan kedua adiknya yang seperti tom dan juga Jerry. Tatapannya tertumbuk pada tawa manis Jiyeon.

Tangan Minho menyentuh dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang begitu cepat. Efek tawa Jiyeon mampu membuat Minhoo berdebar-debar namun lelaki itu menyukainya.

 

*     *     *     *

 

Jemari Shinhye menggeser layar ponselnya hingga memperlihat foto dirinya dan juga Jiyeon. Sebelum Shinhye meminta maaf langsung pada Jiyeon, perasaan bersalah tetap menghantui dirinya. Dia ingat betul katanya yang membenci Jiyeon. Shinhye sangat menyesal sudah mengatakan hal itu.

Shinhye meletakkan ponselnya dan menatap langit kamar. Perhatian Shinhye teralih saat mendengar suara pintu dibuka. Melihat sang ibu yang masuk dengan menampilkan senyumannya membuat Shinhye mendengus kesal. Dia membuang muka tak ingin melihat sang ibu di hadapannya.

“Shinhye-ah, bagaimana keadaanmu? Dokter kim bilang besok kau bisa pulang.” Ucap Taehee namun Shinhye tak menanggapinya dan memilih bermain dengan ponselnya.

Bagi seorang ibu, dihiraukan anaknya membuat perasaan wanita benar-benar sakit. Taehee menguatkan hatinya lalu duduk di samping Shinhye. Tangan Taehee terulur menyentuh lengan shinhye namun dengan kasar Shinhye menepisnya.

“Shinhye-ah, eomma sudah memikirkan ucapanmu. Dan eomma sudah menyadari kesalahan eomma. Eomma….”

Shinhye berbalik dan melayangkan tatapan tajamnya pada sang ibu. “Sudah terlambat. Kau baru menyadari kesalahanmu di saat Jiyeon sudah menghilang.”

“Ji-Jiyeon menghilang?” Kaget Taehee.

“Ya. Dan itu semua gara-gara kau nyonya Park. Sebaiknya anda pergi karena aku ingin sendiri. Untuk besok anda tak perlu repot menjemputku karena appa yang akan menjemputku.” Shinhye berbalik dan membelakangi sang ibu.

Helaan nafas keluar dari mulut Taehee dengan sangat berat. Wanita itu menatap punggung Shinhye. Sepertinya percuma saja berbicara karena Shinhye terlalu dilingkupi emosi. Akhirnya Taehee berdiri dan berjalan keluar. Di luar dia melihat sang suami berdiri bersandar pada dinding tengah menunggu dirinya.

“Bagaimana?” Tanya Yoochun.

Bahu Taehee melemas lalu menggelengkan kepalanya. “Dia masih marah. Dia bahkan tidak mengijinkanku menjemputnya besok.”

Yoochun mengelus lengan istrinya. “Tidak apa-apa. Mungkin jika Jiyeon bisa memaafkanmu Shinhye juga akan memaafkanmu.”

“Tapi Jiyeon menghilang Oppa.”

Yoochun menelengkan kepalanya. “Hilang? Bukankah Jiyeon ada di rumah eomma?”

“Ini salahku Oppa. Setelah Shinhye masuk rumah sakit kemarin aku langsung memarahi Jiyeon. Mungkin setelah itu dia pergi bersama halmeoni. Bagaimana jika Jiyeon tidak kembali?” Taehee menatap suaminya berkaca-kaca.

“Kalau begitu kita yang akan mencarinya. Kau tenang saja ne?” Yoochun merengkuh sang istri untuk menenangkannya.

 

*     *     *     *

 

Jiyeon duduk di teras dan mengayun-ayunkan kakinya. Ada perasaan bosan karena suasana rumah keluaega Choi terasa sunyi. Biasanya akan ada keributan di antara kakak beradik Choi itu. Tapi sayang saat ini mereka sedang pergi ke sekolah.

Bicara mengenai sekolah, jiyeon jadi teringat dengan Myungsoo. Apa saat ini dia sedang mencariku? Atau sedang berteriak kesal di atas atap? Jiyeon menatap ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ingin sekali gadis itu menghidupkan ponselnya dan menghubungi Myungsoo. Namun jika dia melakukannya lelaki itu akan tahu keberadaannya dan akan membawanya pulang ke Seoul. Jiyeon belum siap jika harus berhadapan dengan kakak ataupun ibunya.

“Apa kau bosan?” Tanya Haneul duduk di samping Jiyeon.

“Sedikit ahjuma.”

“Aku juga merasakannya jika ketiga cucuku sedang pergi ke sekolah. Rumah ini sepi tanpa mereka.”

Jiyepn menatap ragu Haneul. “Ahjuma bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Haneul tersenyum dan mengelus rambut Jiyeon layaknya cucunya sendiri. “Tentu saja Jiyeon-ah. Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Dimana orangtua Minho dan adik-adiknya? Sejak aku datang sepertinya mereka hanya tinggal dengan ahjuma saja.”

Senyum Haneul menghilang dan tatapannya berubah sendu. “Orangtua mereka sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat. Setelah dari Singapura untuk masalah pekerjaan mereka hendak pulang menemui anak-anak mereka agar mereka bisa merayakan natal bersama. Tapi di perjalanan pesawat mereka terjatuh. Semenjak itu mereka pindah kemari dan tinggal bersamaku.”

Jiyeon mengangguk ikut sedih mendengarnya. Meskipun orangtua Jiyeon masih ada tapi Jiyeon merasa tidak memiliki ibu karena itu mungkin kesedihan yang Jiyeon alami belum ada apa-apanya dibandingkan kesedihan kakak beradik Choi yang kehilangan orangtuanya.

“Jika kau bosan, kau bisa melihat anak-anak nakal itu. Biasanya mereka sudah pulang setengah jam yang lalu tapi jika belum pulang mereka pasti sedang bermain sepak bola di lapangan tak jauh dari sini.”

Haneul memberi tahu rute untuk mencapai lapangan itu. San jiyeon berpikir mungkin berjalan-jalan sampai ke sana tidak ada salahnya toh dia bisa menghilangkan kebosanan mereka. Akhirnya gadis itu berangkat dan melambaikan tangan pada Haneul.

 

*     *     *     *

 

Myungsoo memasuki kamar rawat Shinhye. Wajahnya tampak lesu seakan batreinya habis karena tak kunjung bertemu kekasihnya. Shinhye yang masih mengingat pembicaraannya dengan ibunya tadi pagi tengah melamun memandang jendela di samping ranjangnya. Langkah kaki Myungsoo yqng mendekat menyadarkan gadis itu.

“Apa kau sudah menemukan Jiyeon, Myungsoo-ah?” Tanya Shinhye tepat setelah Myungsoo berdiri di samping ranjangnya.

“Aku sudah mencari berbagai tempat umum di Seoul namun tidak juga menemukannya. Appa juga sudah memerintahkan beberapa orang untuk membantuku mencari Jiyeon namun hasilnya nihil. Apa kau tahu halmeoni dan Jiyeon biasanya pergi ke mana Shinhye-ah?”

Shinhye memegang dagunya dan berpikir. “Halmeoni pernah mengajak aku dan Jiyeon menginap di vila milik harabeoji yang ada di daerah Peocheon.”

“Aku akan mencoba mencarinya di sana.”

“Myungsoo-ah, kumohon cepat temukan Jiyeon. Aku merasa sangat khawatir dengannya.”

Myungsoo mengangguk. “Aku pasti akan menemukannya.”

 

*     *     *     *

 

Kaki Jiyeon berlari ringan menembus angin semilir yang menerpa tubuhnya. Rasanya kembali ke masa kanak-kanak lagi. Udara di desa memang lebih segar daripada di kota. Dan Jiyeon sangat menyukainya.

“Oper kemari Minho hyung.”

Mendengar seseorang menyebut nama Minho, jadinya Jiyeon menoleh. Di lapangan rumput hijau tampak beberapa lelaki berlarian di atas lapangan untuk memperebutkan bola berwarna hitam putih itu. Tatapan Jiyeon tertuju pada Minho yang saat ini tengah menggiring bola dari tengah lapangan menuju gawang. Kaki lincah Minho membawa lelaki itu melewati tim lawan.

Sepertinya sepakbola adalah olahraga yang amat dikuasai Minho. Melihat dia bisa mencetak gol tidak membuat Jiyeon heran karena meskipun Jiyeon tak tahu menahu mengenai sepak bola tapi dia bisa tahu mana yang ahli dan mana yang tidak.

Minhoo memeluk kedua adiknya setelah mencetak gol. Tanpa sengaja tatapan Minho dan juga Jiyeon bertemu. Lelaki itu memberikan senyumannya. Jiyeon baru sadar jika senyuman Minho  yang polos membuat senyuman itu tampak begitu manis. Ingatan Jiyeon kembali pada kejadian semalam. Entah ada apa dengan Jiyeon. Tatapan Minho sungguh sangat menawan dan sekaligus berbahaya bagi Jiyeon.

 

~~~TBC~~~

Maaf untuk readersdeul yang sudah lama menunggu FF ini. Jangan lupa komennya ya…..

 

 

Advertisements

24 thoughts on “(Chapter 7) Don’t Cry My Lover

  1. Aigoooo nyesek baca nya. Apalagi jiyeon di tuduh gitu, padahal jiyeon kan cuma mau ngasih kejutan ke shin hye. Huuuhhhh taehee nyesel nya telatt pas jiyeon udh pergi baru dehh tau rasa.
    Salutt sama shinhye disini, karena dia juga akhirnya taehee bisa sadar sama kesalahan dia ke jiyeon.
    Ooowwww muncul minho disini, bahaya bahaya bahaya. Ayooo myungsoo cepet temujin jiyeon sebelum jiyeon kepincut sama minho wkwkwk

  2. Wahwahwah gawat nih kalo jiyeon lama lama dibusan. Bahaya nih choi minho. Ayoo myungsoo cepet temuin jiyeon ya sebelum terjadi sesuatu antara minho jiyeon😂 wkwk
    Nahloh nyesel kan akhirnya taehee. Serius salut banget sama shinhye. Keren👍👍👍
    Ditunggu banget kak lanjutannya😊😊😊

  3. Apakah komen ku tidak masuk,,aigoo,, minho cast namja barunya!!! Kyaknya aku yang usul tuh,, minho lawan yang berat buat rebutin jyi jika kamu tanya aku,, myung harus tetap amanin hati jiyi,, aku terkena virus hwarang jdi suka sma minho,, fighting!!!

  4. pasti akan jd cnt segi tiga minho, jiyeon,myungsoo… tp akhrnya jiyeon m myungsoo trz minho m shin hye sdri -sdri alias jomblo … ehmmm

  5. Wah mulai tanda2 ini antara jiyeon dan minho, pasti akan seruh kalo minho mencoba mendapatkan hati jiyeon dan myungsoo harus lebih ekstra berusaha menjaga hati jiyeon, agar jiyeon tidak jatuh hati pada minho.
    Next part palli jgn kelamaan yaaaa ^^

  6. Wah wah wah , kayanya karakternya baekhyun mirip sama aslinya ya , he . Ada minho juga yang disini pinter main bola , padahal kalo yang di hwarang the beginning minho payah banget main bola 😁

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s