[Part-1] Imprisoned

imprisoned

|| Title: Imprisoned || Author: Phiyun || Genre: Family | Romance|| Rating: 16+ || Cast: Park Shin Hye | Jung Yong Hwa ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

~ Quote ~

“Bagaimana mungkin aku bisa berlari jauh darimu, bila hatiku telah kau tawan bahkan sebelum aku menyadarinya.”

Setiap di musim semi maupun di pertengahan musim panas, jeram-jeram yang tinggi dan danau-danau yang berada di bawah teduhan puncak-puncak gunung itu dipenuhi dengan suara kebisingan para wisatawan yang begitu bersemangat, karena nereka dapat mampu melepaskan diri dari himpitan dinding-dinding bangunan pencakar langit kota, yang sering kali  membuat napas mereka sesak.

Para wisatawan datang secara besar-besaran, dengan mobil-mobil mewah milik mereka pastinya, untuk sekedar berekreasi maupun berkemah. Lalu lintas memadati jalan-jalan sempit, khususnya yang menuju ke danau-danau yang memang diperuntukan oleh para pengkemah. Disana juga banyak terdapat kios yang menyediakan kartu-kartu bergambar, barang-barang cinderamata dan beberapa hasil kerajinan tangan penduduk lokal.

Di danau-danau itu sendiri, layar-layar perahu berwarna putih berpadu harmonis dengan layar-layar sampan yang berwarna kebiruan. Tempat u adalah daerah wisata di musim panas, sejauh yang dapat diingat oleh Shin Hye. Ketika mereka masih tinggal di Vilinia, ayahnya memiliki sebuah kapal layar dan setiap musim panas sewaktu sekolahnya libur, ayahnya selalu memberikan pelajaran cara berlayar kepada Shin Hye.

Shin Hye merasa saat itu ayahnya belum begitu ambisius, belum mau bekerja sama dengan Victory Crop, belum menikah lagi dengan Victory anabella, yang kemudian membuatnya menjadi kaya raya. Semenjak itu sang ayah lebih suka pada permainan golf dimandingkan berlayar.

Namun detik ini, jeram-jeram itu telah di selimuti salju. Tampaknya salju telah turun selama beberapa hari, hingga permukaan danau-danau itu pun telah nampak memutih. Ketika Shin Hye berhenti di desa terakhir dalam perjalan ke kampung halamannya dulu sebelum sang ayahnya menikah kembali, ia merasa masih dapat mengenali jalan yang biasa ia lalui, dan tidak merasa terkejut juga ketika melihat sebagian rambu-rambu lalu lintas telah tertutup oleh salju.

Shin Hye memandangi arlojinya. Baru pukul empat sore. Masih banyak waktu baginya untuk menemukan sebuah hotel, sebelum malam tiba. Di hotel kelak ia akan mendapatkan makanan dan tempat tidur yang empuk dan hangat. Setelah ia bermalam di sana ia bisa melanjutkan perjalanan esok hari.

“Esok!” dengus gadis itu.

Pikirannya seketika melayang ke ayahnya. Mulai besok ayahnya pasti menyadari bila putri semata wayangnya telah kabur dari rumah. Sebelum Shin Hye pergi ia menuliskan sepucuk surat untuk sang ayah yang berisikan bahwa dirinya telah pergi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Shin Hye menerka-nerka apakah sang ayah akan merasa puas dengan keputusan dirinya atau sebaliknya, lelaki itu akan mencarinya?

Tampaknya pilihan yang terakhir yang paling mungkin di pilih oleh sang ayah. Karena Shin Hye menegenal sifat ayahnya yang keras, ia akan marah besar karena putri satu-satu tak mau mendengarkannya.

Jauh-jauh hari, Shin Hye sudah menyiapkan rencana sebelum ia kabur dari rumah. Ia tahu bila nanti ayahnya akan mengadakan seyembara untuk dapat menemukan dirinya. namun kini usaha ayahnya akan sulit karena dirinya pergi kesebuah daerah yang cukup terpencil. Bukan tempat yang bercuaca hangat, sesuai dengan hobi Shin Hye namun gadis itu pergi ke tempat sebalikknya. Yap, Shin Hye pergi ke arah utara mengendarai mobil sportnya di tengah-tengah badai salju yang sangat hebat.

Salju begitu tebal hingga menempel di wiper, sehingga membuatnya tak mampu buat bergerak. Sejenak Shin Hye berhenti untuk memperkirakan arah menuju kesebuah pemukiman, namun bagaimana ia dapat membaca palang rambu-rambu bila cuacanya semakin tidak bersahabat. Ia mengerutkan dahi. Jika itu satu-satunya cara mencapai pemukiman yang terdekat dengan menerobosnya, ia akan melakukannya.

Awalnya Shin Hye ingin kabur dengan menggunakan kereta api maupun pesawat terbang, namun ia tidak mau mengambil resiko dikenali orang, yang kemudian mungkin akan melaporkannya kepada sang ayah.

Kekesalan Shin Hye membuncaksaat wiper macet lagi, dan dengan memaksa diri ia keluar lagi untuk membersihkannya. Namun ketika ia hendak memijakkan sepatu bootnya di atas salju, tiba-tiba suara mesin mobil melemah dan kemudian berhenti.

Dengan gelengan frustasi Shin Hye keluar dan berdiri di atas salju. Cuaca begitu kelabu dan butiran-butiran salju sudah banyak menumpuk di atas pundaknya saat ia sedang membersihkan salju yang menutupi kaca depannya. Setelah itu ia kembali masuk kedalam mobil.

Shin Hye mencoba menghidupkan mesin mobilnya, namun tak berhasil. “Sialan!!!” sambil mengutuki dirinya sendiri, Shin Hye tetap mencoba menghidupkannya lebih lama namun percuma, mobil itu sama sekali tidak merespon. Tak beberapa lama kemudian Shin Hye menghentikan usahanya karena ia merasa bila itu akan percuma bila ia lakukan itu kembali.

Tak terasa jam telah menunjukan jam setengah enam sore namun suasana sudah nampak gelap gulita. Tak lama lagi malam akan tiba. Shin Hye tidak berani mengambil resiko dengan tetap tinggal di dalam mobil untuk menunggu kedatangan seseorang yang akan menolongnya. Jalan yang terbaik adalah pergi meninggalkan tempat ini untuk mencari bantuan. Jika ia tetap menunggu di dalam mobil, maka ia akan mati beku karena mobilnya akan terkubur salju.

Dengan hati yang mantap Shin Hye membuka kembali pintu mobilnya dan membuang semua pikiran buruk yang akan terjadi dengan meikirkan kejadian semua ini adalah sebagai sesuatu petualangan. Shin Hye menggelengkan kepala dan keluar dari mobil. paling  tidak mantelnya terasa hangat. Karena terbuat dari 100% serat wool alami. Warna mantelnya yang berwarna merah pasti akan menyolok di keputihan salju. Mungkin seseorang akan melihat dirinya kemudian menolongnya, pikirnya.

Shin Hye menarik topi matelnya ke atas kepalanya, untuk menutupi rambutnya. Ia memandang ke atas dan kebawah jalan yang terpencil itu. Dibagian bawah jelas ia tidak melihat apa-apa sehingga akhirnya Shin Hye memilih berjalan ke atas, dengan harapan akan menjumpai seseorang.

~OoO~

Butir-butir salju menerpa pipinya, dan angin dingin seakan bersuit-suit, menghempas ranting dan dahan-dahan gundul, dari pepohonan dan semak-semak di pinggir jalan.malam telah hampir tiba dan Shin Hyebelum menemukan sesuatu tempat untuk menaung, hingga rasa panik dan ketakutan kembali menyeruak di batinnya. Apakah nasip buruknya ini adalah balasan tindakannya menentang sang ayah, yang berusaha mencari jodoh untuk dirinya?

Dari kejauhan nampak sesuatu bergerak, dari sudut matanya Shin Hye melihat sesuatu yang bergerak, sesuatu yang berwarna di depan matanya.”Apakah itu?”ucap Shin Hye ragu.

Gadis itu memincingkan kedua matanya agar dapat melihat bayangan bergerak tersebut. itu adalah seekor binatang dan pasti warna mantelnya telah menarik perhatian binatang tersebut. Shin Hye berharap bila binatang itu adalah binatang yang jinak!

Mahluk itu berlari kencang dan melompat ke arahnya. Tampaknya seperti seekor anjing. Warnanya kekuning-kuningan dan setelah dekat ternyata bercampur belang-belang hitam. “Mungkinkah itu dalmatian?” pikir Shin Hye, namun tubuhnya tidak sedemikian besar.

Seketika kaki Shin Hye merasa lemah, karena terserang rasa ketakutan yang luar biasa. Mahluk itu bukan anjing ia seekor macan tutul! Jerit batin Shin Hye. “Macan tutul di padang salju?” sejenak Shin Hye berdiri terpaku, menanggapi bahaya yang mungkin saja merenggut nyawanya.

“Seharusnya tidak ada macan tutul di sini? Daerah ini bukan habitatnya! Ini pasti hanya halusinasiku saja.” ujar Shin Hye berusaha tenang namun saat binatang itu bertambah dekat, ia dapat melihat bahunya yang kokoh, otot-ototnya yang kuat, giginya runcing dan kedua telinga yang menegak. Shin Hye bahkan mampu membayangkan betapa panasnya napas mahluk berbulu tersebut.

“Aaahhhkkk!!!” dengan teriak ketakutan, Shin Hyegsung memperaktekan pelajaran yang pernah di pelajarinya di setiap kali ia berhadapan dengan binatang buas, yaitu melarikan diri. Tapi usahanya tidak berjalan mulus karena ia tersandung ke dalam salju yang tebal di sisi jalan meskipun begitu, Shin Hye tetap berusaha berlari, sambil merasakan ranting-ranting pohon yang menyangkut di rambutnya, dan menyebabkan goresan yang menyakitkan di pipinya.

Namun bayangan akan terkaman cakar-cakar binatang itu tepat dilehernya, tak begitu sakit dengan goresan ranting yang menggores pipinya. Dalam hitungan detik airmata sudah tergenang di pelupuk matanya dan tak perlu waktu lama kedua pipi Shin Hye sudah basah oleh airmata.

Dipermukaan salju, tak sengaja kakinya terperosok ke lubang  dan ia kehilangan keseimbangan, dan langsung terjatuh. Dengan terisak-isak Shin Hye mencoba merangkak-rangkak, namun kemudiania mendengar suara yang di perkirannya yang tidak akan pernah ia dengar lagi. itu adalah suara manusia. Suara manusia itu meneriakkan suatu perintah yang bergitu tegas. “Caesar! Caesar… berhenti!”

Bahu Shin Hye membeku, dan ia memandang dengan ketakutan lewat atas bahunya. Macan tutul itu berhenti beberapa kaki darinya. dan berdiri menatapnya dengan tenang. Seorang pria melangkah ke pinggir kalan, seorang pria jangkung yang berpakaian serba hitam. kepalanya tak tertutup apa-apa, dan begitu Shin Hye berusaha berdiri, Shin Hye melihat bahwa rambut pria itu berwarna hitam pekat. Namun warna kulitnya begitu putih sangat kontras dengan rambutnya.

Dan sesuatu di dalam penampilannya serasa sudah begitu dikenal oleh Shin Hye, mata yang dalam, hidungyang terpahat kukuh, mulut yang lebar dengan bibir yang tipis, yang kini terlihat mencibir begitu ia mendekatinya. Dan saat Shin Hye melihatnya menaiki tanggul langkah kaki pria itu pincang.

Sang macan tutul memalingkan kepalanya ke arah kedatangan pria tersebut, dan kemudian lelaki itu menurunkan salah satu tangannya untuk mengusap-usap kepaya macan tutul tersebut. “Tenanglah, Caesar!” gumamnya, dengan suara yang dalam, dan kemudian ia berpaling ke Shin Hye. “Aku minta maaf,” ucapnya, tanpa nada penyesalan. “Tapi tak seharusnya kau berlari-lari. Ceaser tak akan menyentuh tubuhmu.” Pernyataan itu terasa begitu kasar di telingan Shin Hye.

“Bagaimana bisa kau mengatakan hal semacam itu?” sahut Shin Hye jengkel. “Jika kau telat saja memanggilnya pada saat detik itu juga, tubuhku mungkin telah dikoyak-koyaknya.”

Pria itu lalu menggeleng. “Caesar telah terlatih untuk menjatuhkan mangsanya, bukan mengoyak-ngoyaknya!”

“A—aku tidak berpikir kalau aku adalah mangsanya!”

“Tapi kau berlari?” sahutnya enteng.

“I—it… baiklah,” balas Shin Hye sarkastis. “Akan aku inggat agar tidak melakukannya lagi.”

Ekspresi lelaki itu seketika melunak dalam ekspresi riang. “Kami tidak berharap untuk menemukan buruan yang berharga hari ini.”

“Memang seharusnya begitu!”

“Kau terlalu merendahkan diri anda sendiri nona,” kemudian memandangi sekeliling. “Apakah kau sedang mengadakan wisata keliling?”

Wajah Shin Hye memerah, “Mo—mobilku rusak di belakang sana.” sambil menunjuk ke belakang dengan ragu-ragu, “A—aku sedang berusaha mencara bantuan, tapi tiba-tiba macan tutulmu…”

“Caesar?” pria itu memandang ke kucing besar yang berdiri menjaga disampingnya. “Caesar, adalah seekor chetah, bukan macan tutul. Meskipun mereka masih satu keluarga tapi chetah biasanya dimakan oleh macan tutul pemburu.”

Namun penjelasan pria itu tak diindahkan oleh Shin Hye. “Aku sama sekali tidak peduli dengan hubungan keluarga mahluk itu,” sahut Shin Hye.”Dapatkah kau menunjukanku sebuah telepon umum yang terdekat, karena aku akan menelepon untuk meminta penjemputan?”

Pria itu membelai-belai kepala chetah-nya.”Aku sangat menyesal karena tidak ada telepon umum di sekitar sini.”

“La—lalu… pemukiman penduduk? Pasti disana ada pesawat telepon?”

Ia mengangkat bahu. “Hanya ada beberapa rumah yang jauh letaknya dari sini.”

Shin Hye mengepal kedua tangannya lalu berkata, “Apakah kau sedah mencoba mengancamku?”

“Aku hanya menjelaskan bahwa kau sedang berada di tempat yang sangat terpencil. Meski begitu aku bersedia meneriama kedatanganmu di kediamanku, jika kau tidak keberatan.” Balasnya tanpa mempedulikan sikap kasar Shin Hye.

Shin Hye merasa bimbang. “A—aku tidak mengenalmu…”

“Begitupun aku.”

“Tidak begitu…” Shin Hye menggigit bawah bibirnya sebelum bertanya kembali kepada lawan bicaranya. “Apakah kau sudah berkeluarga?”

Sepasang mata bulatnya seketika menyipit. “Belum.”

“Kau tinggal sendirian? Selain dengan dia…” sambil menatap mahluk besar berbulu yang berdiri di sisi kanan pria tersebut.

“Tidak!” ia bergerak menjauh, seakan melemaskan kakinya yang mengejang. “Aku punya seorang pelayan laki-laki. Jadi kami hanya berdua.”

Shin Hye mendesah kesal. “Ya, Tuhan!” jerit batinnya. Betapa sulitnya situasi ini. Shin Hye diberikan dua pilihan, pertama, meneruskan langkahnya menerjang badai atau menginap bersama dengan dua pria asing sepanjang malam plus menjadi mangsa seekor chetah.

“Cepatlah mengambil keputusan.” Pinta pria tersebut dengan setengah memaksa.

“A—aku akan menerima undanganmu, Ta—tapi bagaimana dengan koper-koperku?” ujar Shin Hye dengan gugup. “Aku akan kembali untuk mengambil koper-koperku.”

“Tidak perlu. David akan mengambilkannya,” sahut pria itu lalu membalikkan tubuhnya ke jalan setapak yang sudah tertutup oleh salju. “Ayo kita pergi, sebentar lagi hari mulai gelap.”

Shin Hye kembali menggigit bibir bawahnya sesekali membasahi bibirnya. “Ti—tidakkah kita berkenalan dulu?”

Pria itu menoleh kebelakang dan melayangkan tatapan dingin. “Aku kira itu bisa ditunda, bukan? Atau apakah kau lebih ingin membeku disini?”

Shin Hye hanya bisah mendengus menadapati sikap lawan bicaranya yang dingin. Mau tidak mau ia harus bersedia mengikuti pria itu menyelusuri jalan setapak yang licin, sambil menjada jarak diantara tubuh jangkung itu dan ekor chetah yang panjang. Di sepanjang jalan Shin Hye bertanya-tanya dalam hatinya, bagaimana bisa pria itu berjalan dengan lincah di jalan licin dengan kaki yang pincang, “Apakah ia adalah seorang atlit dan wajahnya itu, rasanya tidak asing bagiku.” Gumam gadis muda itu.

Diseberang tikungan nampak sebuah belokan jalan yang lebih sempit dan kesanalah mereka menuju. Itu membuat Shin Hye semakin was-was. Seakan dapat membaca pikirannya, pria itu kemudian berkata. “Jika kau ingin memilih kembali, kau bebas melakukannya. Aku tidak akan menyuruh Caesar mengejarmu, jika itu yang kau takutkan.”

Bahu Shin Hye menegang. “A—aku… mengapa aku harus kembali?”

“Sungguhkah? Kau tidak berpikir seperti itu?” lirik pria itu ke Shin Hye, dan gadis itu menatap sorot matanya yang dingin sama seperti mahluk yang di sisinya. Pandangannya sama-sama tidak dapat di tebak.

~OoO~

Setelah melewati jalan setapak yang cukup panjang, akhirnya mereka memasuki sebuah pintu gerbang, Shin Hye melihat rumah yang ia tuju, bangunan rumah itu berlantai dua dengan atap yang rendah, yang dinding-dinding batunya kini telah tertutup salju. Asap nampak mengepul dari cerobong, dan sinar-sinar terpancar darii balik kaca jendela.

Setiba di depan pintu, pria itu menghentakan tubuhnya, dan ia juga menyerankan Shin Hye untuk melakukan hal yang sama seperti dirinya untuk melepaskan gumpalan salju yang ada di atas tubuhnya dan kedua kakinya. Setelah itu pria tersebut membuka pintu tersebut dan menahannya — mempersilakan Shin Hye untuk masuk.

Ketika Shin Hye telah masuk, seorang pria muncul dari belakang pintu. Dengan tubuh yang menggigil, Shin Hye hanya bisa memandang pria yang diyakininya adalah pelayan dari pria tersebut. tubuh pelayan itu sangat tinggi, lebih tinggi beberapa inci dari tuannya dan lebih kekar pastinya. Sosoknya seperti seorang pegulat profesional dengan kepala plontos. Ia menatap Shin Hye dengan pandangan heran lalu beralih ke pria yang ada di sampingnya.

“Anda pulang begitu terlambat, Tuan.” Katanya. “Saya baru saja akan menjemput anda di sana.” Pria yang tadi bersama Shin Hye saat tadi mulai membuka kancing mantelnya setelah itu melepaskannya sambil menatap gadis yang ada di sampingnya. “Seperti yang kau lihat, kita mendapatkan seorang tamu, David.” Sahutnya dengan suara yang dalam. “Mobil nona muda ini rusak di bawah bukit. Sebelum kau mengambil koper-koper miliknya, tolong buatkan nona ini teh.”

Ekspresi wajah David tenang dalam mendengar perkataan tuannya sama seperti Caesar. Sikap keduanya seakan-akan merasa harus selalu menjaga keselamatan sang tuannya. “Tentu saja, Tuanku.” Balas David dengan tersenyum. “Karena Nona muda ini akan bermalam di sini, saya kira saya harus menyiapkan sebuah kamar untuknya.”

“Terimakasih, David.” Kemudian menyerahkan mantelnya kepada pria tersebut lalu melirik Shin Hye. “Kau bisa memberikan mantelmu juga pada David.”

Shin Hye begitu kedinginan hingga tubuhnya menggigil sampai ia tak mampu melepaskan kancing mantelnya, namun pria tersebut tanpa permisi membantunya melepaskan mantel yang masih melekat di tubuh gadis itu. sebenarnya Shin Hye tak menyukai cara yang dilakukan oleh pria tersebut tapi apa daya dirinya tak mampu menggerakkan tubuhnya karena kedinginan.

~OoO~

Shin Hye Dipersilakan masuk oleh David ke sebuah ruangan yang disana terdapat sebuah perapian dengan balok kayu yang menyala, bakaran balok itu membuat ruangan dipenuhi dengan bau pinus. Disana juga ada sebuah kursi besar didekat perapian. Lantainya dilampisi oleh karpet dengan warna senada dengan sofa besar tersebut.

Pintu pun tertutup, dan ia melirik ketika chetah itu melintas di depannya. ia memandang sekeliling, gadis itu merasa takut berada berduaan dengan binatang buas itu, dan tak beberapa lama kemudian pria pincang itu berjalan ke tempatnya.

“Tidak inginkah kau duduk?” kata sang pria sambil menunjuk ke sebuah sofa yang berada di dekat perapian. Tanpa berkata Shin Hye langsung mematuhi perkataan pria tersebut. Si pria memandangnya dengan segan, lalu duduk di lengan kursi di depannya dan mengambil secangkir wine. “Aku pikir kau perlu minum ini untuk sekedar menambah kehangatan.” Cetusnya.

Karena sang pria tidak mengambilkan untuknya, maka Shin Hye terpaksa menuangan sendiri. Sebetulnya Shin Hye tidak menyukai minuman beralkohol bila harus memilih wine atau jus, ia akan memilih minuman sehat yaitu jus. Shin Hye terpaksa meminum minuman yang di sarankan pria itu hanya agar menghangatkan tubuhnya. Shin Hye menyesapnya perlaha-perlahan dan sedikit demi sedikit rasa gemetarnya mulai menghilang.

Pria yang menemaninya tidak ikut minum, namun menyadarkan tubuh di kursi malas, matanya memicing sambil menatap Shin Hye dengan ekspresi menyelisik. Tak lama kemudian david masuk  dengan membawa sepoci teh, yang di taruh di samping tuannya. “Saya akan mengambil barang bawaan Nona muda ini sekarang Tuan, namun saya harus kunci mobilnya terlebih dahulu.”

“Ooh… Oh, iya tentu saja.” Shin Hye tersenyum sambil mengaduk-aduk tas jinjingnya. “Aku sangat berterimakasih sekali padamu, David. Mobil itu kira-kira ada beberapa mil di bawah sana.” David mengangguk. “Saya akan menemukannya, Nona.” Setelah itu ia pergi melaksanakan tugasnya.

Setelah David menutup pintu ruangan, pria yang duduk di depan Shin Hye mulai memandang ke nampan. Selain poci teh dan dua buah cangkir, terlihat juga sepiring sandwich yang nampak menggugah selera.

“Susu dan gula, atau jeruk?” tanya sang pria, pandangan matanya yang dingin terasa menjengkelkan. “Jeruk saja tanpa gula dan terima kash,” sahut Shin Hye. Dan diwaktu si pria menuangkan minuman, Shin Hye melanjutkan perkataannya. “Tidakkah kau menyadari bila sampai sekarang kini kita belum berkenalan?”

Nampaknya kicauan dari Shin Hye akhirnya ditanggapi oleh si pria dengan nada tak peduli. “Apakah itu penting bagimu?” kemudian mengulurkan secangkir teh ke Shin Hye.

“Apakah kau bisa menjamu orang asing tanpa harus mengetahui namanya?” sahutnya penuh tanya.

“Mungkin aku berpendapat lebih baik melihat rupanya dari pada mengetahui namanya?” timpalnya si pria kembali sambil menatap kearah Shin Hye. “Sebagai contoh, aku tidak perlu menanyakan namamu untuk mengetahui bahwa sikap anda agak keras kepala dan selalu ingin tahu privasi orang lain.” Ucapnya di sela-sela bicaranya.

Wajah Shin Hye langsung memerah kesal. “Bagaimana kau bisa mengetahuinya?” ujar Shin Hye ketus. Namun lawan bicaranya membalasnya dengan mengangkat bahu dan kemudian berkata. “Sangat tidak wajar untuk seorang wanita muda mengendarai mobil sendirian di tempat yang begitu terpencil dan berbahaya, kecuali ia sedang akan berkunjung kerumah saudara atau mungkin ia sedang kabur dari rumah.”

Shin Hye  kini merasa canggung menghadapi pria yang ada di depannya, “bagaimana mungkin dia dapat berpikiran begitu tepat terhadapku.” Pikir Shin Hye.

“Para wanita di zaman ini telah biasa berpergian sendiri, bukan.” Balas Shin Hye dengan suara datar seraya menyesap secangkir teh hangat.

“Dalam kondisi seperti ini? aku pikir ini bukan hal yang biasa?”

“A—aku mungkin seorang karyawati dari sebuah perusahaan atau yang semacam itu, yang telah tersasar jalan.”

“Ya,” balas si pria angkuh. “Tapi tetap tidak wajar. Aku tidak pernah berpikir kalau kau adalah seorang karyawati.”

Shin Hye mengumpat suatu seruan yang tidak sabaran. “Mengapa tidak?”

“Cara bicara kau kepada David. Tampaknya kau sudah biasa memerintah seseorang.”

Shin Hye mendengus, tanda menyerah pada sang pria. “Baiklah,” akhirnya ia mengakui siapa jati dirinya, “Aku memang bukan seorang karyawati, sesuai dengan dugaanmu. Namaku adalah Park Shin Hye. Aku putri Park Hyunsik.”

“Haruskah nama itu berarti untukku?” tanyanya dengan nada mengejek saat terdengar di kuping Shin Hye. “Maaf bila aku sudah terlalu jauh mengetahui tentang kau.”

Shin Hye tersenyum, dan sejenak pria itu terlihat lebih muda saat pertama kali ia lihat. “Wajahnya!” Shin Hye berusaha keras mengenal wajah pria itu, sesuatu dalam wajahnya serasa sudah sangat ia kenal. Shin Hye yakin bila ia sudah melihatnya dari jauh0jauh hari. Tapi kapan? Dan di mana? Ia tidak dapat mengingatnya.

“Ayahku bernama Park Hyunsik, perusahaan beliau setahun yang lalu mendapatkan pialang penghargaan.” Kata Shin Hye dan si pria mengangguk. “Akan aku ingat penjelasanmu.”

Shin Hye merasa tidak sabaran lagi. “Dan kau? Kau belum mengatakan siapa namamu?”

“Katakan dulu padaku, apa alasanmu datang ke tempat terpencil ini seorang diri. Aku yakin kau mempunyai maksud tertentu.”

Shin Hye menggigit bibirnya. “Sesuai perkiraanmu, aku pergi untuk menenangkan diri sementara waktu. Bahkan ayahku sendiri tidak akan menduga bila aku ada di sini.” Pria itu mengerutan keningnnya. “Maksudmu? Kau benar-benar telah kabur dari rumah?”

“Itu kurang tepat! Aku telah meninggalkan sepucuk surat untuk beliau, jadi ia tak akan beranggapan seperti itu.”kilahnya,

“Meskipun begitu, dia pasti sangat mencemaskanmu.”

“Mungkin.” balas Shin Hye kikuk. “Namun meskipun begitu itu bukan urusan anda. Dan kau sendiri mengapa kau memecilkan diri anda di tempat sunyi seperti ini.” ujar Shin Hye kembali namun di tanggap dingin oleh lawan bicaranya. “Aku bukanlah orang yang menarik, boleh aku menambahkan tehmu.” Sahut si pria untuk mengalihkan pembicaraan.

“Mengapa kau selalu menghindari pertanyaanku?” tanya Shin Hye kembali.

Dan pria itu menyahut pelan namun tatapan matanya tetap waspada. “Benarkah? Aku tidak berpikir seperti itu?”

“Aku merasa kalau aku pernah melihat wajahmu di majalah atau di televisi tapi aku lupa tepatnya dimana?”

“Apakah kau sedang berusaha membujukku?” kata si pria penuh dengan nada cibiran dan itu membuat Shin Hye semakin jengkel kepadanya.

Nampaknya si pria merasa bosan di terka-terka oleh Shin Hye, karena itu ia langsung bangkit dari kursi santainya dan melangkah ke depan jendela. “Sepertinya David sebentar lagi tiba dengan membawa semua barang bawaanmu dan kemudian ia akan menunjukan kamar beristirahat untukmu Nona Park.”

Shin Hye semakin risih di depan si pria dingin tersebut. ia merasa sakit hati karena pertanyaannya selalu di putar balikkan oleh sang pria. “Adakah sesuatu yang membuatmu gelisah Nona Park?” Shin Hye menggeleng, sambil memandang sekeliling ruangan yang bersuasana sangat maskulin. Di dinding terlihat beberapa piala pemburuan, pedang-pedang dalam sarungnya, senapan-senapan antik dan hiasan keramik yang terlihat berharga. “Siapapun dia, pasti dia bukanlah orang miskin, tapi mengapa pria ini memilih tinggal du tempat terpencil seperti ini?” pikir Shin Hye penuh tanda tanya.

“Apakah dia seorang seniman yang lebih memilih tempat yang sunyi untuk berkarya?” tebak batin Shin Hye kembali.

Beberapa saat kemudian pandangan gadis itu terpaku ke sebuah potret yang ada di belakang lemari rak dimana potretan itu tepat di sisi kanan si pria. Potret itu melukiskan suatu kecelakaan dalam balapan mobil. lalu pandangannya yang terkejut beralih ke pria tersebut. Matanya yang pekat nampak menyipit ketika Shin Hye melihatnya kemudian menatap potretan di sampingnya. Shin Hye menduga dan keingintahuan tentang sang pria akhirnya terpecahkan. Pria itu adalah salah satu pembalab yang mengalami tabrakan, potret itu bukan hanya sekedar lukisan tapi kejadian itu pernah terjadi dalam balapan mobil di Jerman lima tahun yang lalu,

“Aku tahu siapa kau,” ucap Shin Hye kemudian ia bangkit dari tempat duduknya. “Kau adalah Jung Yong Hwa, pembalab mobil!”

“Aku Jung Yong Hwa, ya?” ia mengaku getir, “Tapi aku bukan lagi pembalab mobil.”

“Tapi kau memang pembalab mobilkan.” Shin Hye menatap lawan bicaranya. “Aku masih ingat ayahku sangat mengagumimu sebelum… untuk sesaat Shin Hye  menarik napas setelah itu melanjutkan perkataannya. “Sebelum kecelakan itu?” lanjutnya dengan getir.

Yong Hwa mendesah. “Aku paham.”

“Tapi ia mengira, maksudku semua orang mengira kalau kau itu sudah meninggal saat kejadian kecelakaan itu!”

“Itu bukan isapan jempol, memang tepat kejadian itu Jung Yong Hwa sang pembalap sudah mati.” Sahut sang pria dingin sedingin tatapan matanya saat memandang Shin Hye.

“Tapi itu bukan kesalahanmu, itu kecelakaan.”

“Apakah aku mengatakan bahwa aku menyalahkan diri sendiri?” katanya kembali dengan nada yang sama.

“Ti—tidak… namun ayahku sangat memuja-mujamu. Ia masih menyimpan foto-foto pertandingan balab mobilmu di ruang kerjanya. Dan aku yakin masih banyak ribuan penggemarmu yang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan ayahku. Menurutku sangat disayangkan, bahwa seseorang yang berbakat sepertimu harus menolak memberi masukan kepada pembalab-pembalap yang lainnya.”

Yong Hwa menyahut. “Sudah sering aku lakukan, namun aku kira sudah cukup.” Kemudian mengusap-usap rambut yang menutupi belakang lehernya. “Kau tidak akan dapat memahaminya, Nona Park.”

Shin Hye mendongak. “Kau salah menilaiku, Tuan Jung!”

“Mungkin, namun bagaimanapun juga…” Yong Hwa menghela napas panjang. “Tampaknya kau tidak beruntung karena memiliki ingatan yang kuat, Nona Park Shin Hye-ssi.”

“Apa maksudmu?” seketika Shin Hye merasa terimidasi.

Dengan gahar Yong Hwa mengangkat bahunya. “Seperti aku harus memikirkannya secara serius, Nona Park.”

“Secara serius? Maksudnya…”

Yong Hwa datang mendekat ke hadapan Shin Hye, dirapatkannya tubuh kurus gadis itu di sisi tembok, keras dan dingin. Setelah itu tubuh mereka saling berdempetan, pria itu menatap wajah Shin Hye tanpa berkedip lalu berkata. “Maksudnya… kau sudah berhasil mengenaliku, Nona Park. Itu merupakan sesuatu nasip yang sangat malang! Karena aku khawatir itu akan… berarti kau tidak akan dapat meninggalkan tempat ini esok dan hari-hari selanjutnya!”

-TBC-

~OoO~

Annyeong!!! Temu lagi kita disini ^^

Kali ini aku buat dooley Couple a.k.a Park Shin Hye x Jung Yong Hwa… gara-gara abis nonton mv itu orng jadi diriku pingin buat dah couple ini… kebetulan ini ff req. Wao… Dimana kau Wao, wkwkw!! Maap kalau ceritanya biasa banget dan jauh dari ekpestasi kamuh, walaupun begitu aku harap kamu suka ^^

Dan buat ayun, mamih chun, shafa, vera & apelijo, tenang ff kalian masih tahap setengah pengetikan, kalo gak ada halangan mungkin di bulan ini atau di bulan depan ff req, kalian bakalan rampung ^^ kalo gak ada halangan pastinya, heehee….

Btw jangan lupa tinggalkan jejaknya ya teman-teman semuanya,  setelah baca ff gajeku  ini biar daku makin semangat lagih buat nulis kelanjutannya, ciiiyuu… ❤

Advertisements

16 thoughts on “[Part-1] Imprisoned

  1. Walaupun bru awal tp dah ad gregetna. Walaupun bnyk typo.. But it’s ok
    Tp knp yonghwa mmlih mnjdi dingin ya.
    Nah lho ap yg akan yonghwa lakukan k shinhye??

  2. Hwaaaa ap yg akan yonghwa lakukan,bener2 sesuai judulnya imprisoned… Seru2 ceritanya… Penuh misteri… Dilanjut ya thor,trmksh…

  3. Seru ceritanya menarik eonni. Yong hwa jdi cacat gara2 kecelakaan? Dan kyaknya jd minder jg ya.
    Wah shin hyr tdk bisa keluar dr rmh yong hwa? Pasti bakal intens dong hubungan mereka.
    Next part selalu ditunggu ne

  4. Aku suka! Bahkan langsung jatuh cinta sama ff ini pas baca quote-nya. Aku juga sudah terjebak pada CNBLUE entah sejak kapan…. Btw, CNBLUE bentar lagi mau besdeyan lhoo. Oke itu gak penting.

    Yong Hwa ku pembalap!!!!! Kok dia dingin sih? Kayak di heartstring beda bgt sama yg sebenarnya. Dasar Bolmae Jung. Huuuuuu….. Pada intinya adalah MEREKA HARUS HAPPY ENDING. Tolong kak romansanya diperkuat lagi. Bantu aku meningkatkan kembali feelku untuk pasangan ini.

    Btw, masih ada typo(s).

    Ditunggu kelanjutannya. And thank you for make it happen. Love ya!

    • Wkwkw… biasa itu wao kalo nasih banuak typo’ s yg bertebaran. Tadi sebelum publish kaga di cek lagih 😂 sip tar kedepannya aku perhatiin lagi..

      Untk endingnya aku lum tau bkalan happy or ya gitu deh, haha… liat nanti aja ya wao…

      Thinkyu ya say dah main kemari , ceeyuu next part 😘

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s