[Ficlet] Farewell Hands

farewell-hands

 

Nama author: Sonnenblume21

Judul FF: Farewell Hands
Length FF: Ficlet
Kontak: sonnenblvme (kkt id)
.
.
.
***
“Kau sebaiknya tidak jatuh cinta kepadaku.” Ucap Hongbin seraya membenahi poninya.
“Memangnya siapa yang akan jatuh cinta padamu?” cibir Mina kala itu.
Lee Hongbin adalah seorang playboy. Hubungannya dengan para gadis tidak pernah bertahan lebih dari dua bulan. Setiap bosan dengan gadisnya, Hongbin akan datang pada Mina dan berkeluh kesah tentang kisah cintanya.
“Hei, cebol!”
Jangan tertawa. Itu panggilan sayang Hongbin untuk Mina.
Mina mendelik sebal dipanggil ‘cebol’.
“Apa?!” tanyanya galak.
“Aku bosan dengan Jiyeon.” Tanpa menggubris ekspresi kesal Mina, Hongbin mengungkapkan isi pikirannya pada gadis itu.
“Lagi?” Mina terkejut. Seharusnya sih, ia tidak perlu terkejut, ini adalah ke sekian kalinya Hongbin datang padanya dan mengatakan hal yang sama. Tetapi, beberapa bulan yang lalu saat Hongbin bercerita tentang Jiyeon, ia berkata akan serius dan tidak akan bosan-bosan lagi. Tetapi lihatlah apa yang terjadi sekarang.
“Dengarkan ceritaku dulu.” Ujar Hongbin manja.
Dan beruntunglah, Mina adalah pendengar yang baik.
You know that I care about you a lot..
***
Lee Hongbin sungguh seorang playboy. Playboy yang kejam. Sudah beberapa kali ia membatalkan janji dengan gadis-gadis yang dikencaninya hanya untuk menemani Mina. Dan itu pun tidak penting. Contohnya, saat ini Hongbin membatalkan kencannya hanya untuk menemani Mina mengerjakan tugas melukis yang belum diselesaikannya. Meskipun Hongbin tahu ia hanya akan diacuhkan dan akan bermain game online di pojok ruangan.
“Kau harusnya beruntung mempunyai aku.” Ujar Hongbin di sela-sela permainannya.
Mina mendesis.
“Siapa lagi yang akan menemanimu seperti ini kalau bukan aku?”
Mina melirik Hongbin malas. “Memangnya aku minta ditemani?” Kali ini, gantian Hongbin yang mendesis.
Gadis itu kembali menekuni lukisannya, sembari diam-diam mengulum senyum. Kalimat itu.. membuat Mina merasa istimewa.
All you do is only coloring me like a white blank paper..
***
Lee Hongbin memang seorang playboy. Berganti pacar seperti berganti kaos kaki. Tetapi Mina tidak pernah melihat Hongbin seperti ini. Seperti saat Hongbin datang kepadanya, menggandeng seorang gadis berparas imut, Heo Youngji. Hongbin tidak pernah sebahagia itu. Tidak ada lagi keluh kesah atas kebosanannya, Hongbin banyak menghabiskan waktu dengan gadis yang dipanggilnya ‘Chi’ itu. Sesekali ia menemui Mina, bercerita banyak tentang hubungannya. Dan sekali lagi, Mina tidak pernah melihat Hongbin se-semangat ini. Matanya berbinar saat menyebut nama gadis itu.
“Chi beda dari gadis kebanyakan.” Katanya.
“Hm, apa yang membuatnya berbeda?” Mina menatap lurus ke arah Hongbin, penasaran.
“Dia misterius.. dan dingin tetapi disaat yang bersamaan, dia itu sungguh imut. Dia pendiam dan disaat bersamaan dia itu cerewet. Ah.. bagaimana ya menjelaskannya.” Hongbin menggaruk kepalanya. “Pokoknya, aku tidak pernah bertemu gadis seperti dia.” Ia tertawa, matanya membentuk lengkungan bulan sabit.
Dan Mina seolah tertampar. Ia menyadari sesuatu. Ia tidak suka semua ini. Ia benci Hongbin yang datang kepadanya hanya untuk bercerita tentang gadis lain. Ia benci menjadi seseorang yang tidak lagi dinomorsatukan. Ia benci saat tahu ia bukanlah lagi penyebab Hongbin tertawa lepas. Ia benci bahwa bukan dirinyalah yang menjadi penghibur saat lelaki itu sedih. Ia benci kenyataan bahwa ia bukanlah yang teristimewa lagi. Ia benci mengetahui fakta bahwa Hongbin tidak lagi membutuhkannya untuk berkeluh kesah.
Ia benci untuk mengakui bahwa ia telah jatuh cinta pada Lee Hongbin.
Tidak ada yang salah. Baik perasaan Mina, ketidaktahuan Hongbin atau pun kedatangan Youngji ke dalam semesta mereka, tidak ada satu pun yang salah. Itulah sebabnya Mina memutuskan untuk menyingkir. Akan menjadi salah apabila cinta itu semakin berkembang. Akan menjadi salah apabila ia tidak bisa membendung perasaannya. Akan menjadi salah apabila ia membuat Hongbin merasa bersalah.
I realized that my feeling is supposed to be unfinished story..
Maka tepat hari kelulusan, Mina memutuskan pergi. Tanpa penjelasan pada Hongbin, hanya meninggalkan sepucuk kertas kecil.
“Promise me, you won’t forget our laughs, our jokes, our smiles, our conversations, our plans, our tears, our memories, our experiences, our friendship.”
Bahkan saat lelaki itu mengejarnya hingga bandara dengan masih mengenakan seragam sekolah, Mina tidak menjelaskan apapun.
“Tidak ada alasan lain.” Jelas Mina. “Aku hanya ingin mengejar mimpiku.”
“Jangan bohong!” Desak Hongbin. “Kau tidak pernah mengatakan apa-apa padaku tentang sekolah musik!”
Mina menghela nafas. “Aku berubah pikiran.”
Selama ini, Hongbin hanya tahu bahwa obsesi Mina hanyalah matematika. Dan impiannya adalah menjadi guru matematika.
“Jelaskan padaku! Ada apa sebenarnya? Kau bahkan menghindariku akhir-akhir ini! Apakah aku ada salah?”
Mina mengalihkan pandangannya. “Tidak ada. Aku hanya tidak ingin berubah pikiran. Kalau dekat-dekat denganmu, aku tidak akan mampu memantapkan niatku.” Jelas Mina.
“Maka dari itu, kenapa harus? Tidak bisakah kau tetap tinggal?” Hongbin memohon.
Belum sempat Mina menjawab, suara speaker bergema menginformasikan keberangkatan pesawat Mina sepuluh menit lagi. Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan—tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.
“Aku pergi. Take care. Jangan sampai kau menyakiti Chi.” Mina tertawa—kikuk sembari memukul pelan lengan Hongbin. Ia melambaikan tangannya pada Youngji yang berdiri jauh di belakang mereka berdua.
Mina pergi. Tetap, tanpa penjelasan yang jelas bagi Hongbin.
Bahkan hingga beberapa hari berlalu, Hongbin masih tidak mengerti apa yang terjadi. Tentang alasan-alasan kepergian Mina. Ia hanya tahu Mina pergi ke Kanada. Ia tidak tahu universitas mana yang Mina datangi. Yang ia tahu Mina mendapatkan beasiswa untuk sekolah musik, itu pun informasi yang ia dapat dari teman-teman Mina yang lain. Mina benar-benar tidak menceritakan apapun tentang keputusannya.
Dan di sinilah Hongbin berdiri. Di depan papan penuh tempelan kertas-kertas berisi harapan dan impian yang ditulis dirinya dan teman-teman seangkatannya tepat pada hari kelulusan. Hongbin berdiri dengan khidmat di sana, berharap menemukan satu milik Mina.
Lama Hongbin berdiri menyusuri papan itu saat angin musim gugur bertiup menggerakkan salah satu kertas yang menutupi kertas lain berornamen bunga matahari. Kertas berornamen bunga matahari. Dengan cepat, Hongbin menyingkap kertas itu. Ia menemukannya! Kertas berornamen bunga matahari yang sudah sangat dikenalnya. Dan tulisan tangan Mina.“You’ve made your choice, and there’s nothing I can do,” she
said. “I don’t think you want me in your life anymore, and I
have to find a way to live with that. You said you would still be
there for me, but I don’t want to be a mere courtesy—a salve
for your guilt. You won’t hear from me again after today, and
I don’t want you to worry. I’ll be okay. Because I have to be.”
“I read it in one of Lang Leav’s book, titled Memories. It describes me best. So, if you ask me the reason why, I don’t need to explain more.
….You just need to understand.”
—Kwon Mina, Class 3-2
Dan Hongbin tertegun.

FINAL

Advertisements

One thought on “[Ficlet] Farewell Hands

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s