-[2]- Distance

distace-fix-cover

DISTANCE

‘KOTA TELAH MATI, APAKAH MEREKA BERTIGA BELAS JUGA AKAN MATI?’

Starring by. Seventeen‘s member
Choi Seungcheol (S.Coups), Yoon Jeonghan, Hong Jisoo (Joshua), Wen Jun Hui (Jun), Kwon Soon-young (Hoshi), Jeon Wonwoo, Lee Jihoon (Woozi), Lee Seokmin (DK/Dokyeom), Kim Mingyu, Xu Ming Hao (The8), Boo Seungkwan, Choi Hansol (Vernon), Lee Chan (Dino)

Multichapter // Adventure, Brothership, Fantasy, Mistery, Sci-fi, Tragedy // PG-18

zulfhania production © 2017

* * *

Previous. [Trailer/Prologue] // [1]

-[2]- After 40 Days (2)

DAY 41

Beberapa kilometer dari hutan dimana kedua pemuda tanpa nama baru saja dipertemukan, sebuah rumah kayu di pinggiran pantai baru saja memunculkan tanda-tanda kehidupan setelah kedatangan dua pemuda bertubuh tinggi.

“Channie-ah, Minghao-ya, kita dapat ikan!”

Chan yang masih berbaring di atas kasur tipis tanpa pemanas langsung menegakkan tubuhnya dan meloncat bangun. Ia berlari keluar rumah dengan wajah sumringah.

“Benarkah?! Kita dapat ikan? Heol, daebak! Aku tidak percaya itu!” pekik Chan saat melihat kedua kakaknya membawa beberapa ekor ikan makerel yang masih hidup.

Jeonghan tertawa kecil melihat kebahagiaan adik bungsunya itu. “Kau pasti kelaparan sekali,” katanya sambil mengacak rambut Chan yang memang sudah berantakan karena baru saja habis bangun tidur.

“Panggil Minghao gege, Chan-ah. Siapkan tungku api dan peralatan memasak lainnya. Kita akan makan ikan bakar pagi ini!” ucap Seokmin.

Langit sudah berubah terang ketika ikan bakar buatan Seokmin dan Minghao yang tersaji di meja makan sudah dilahap habis oleh empat pemuda yang duduk mengelilingi meja makan.

“Ah! Aku kenyang sekali!” Chan membaringkan tubuhnya kembali sambil mengelus-elus perutnya yang penuh dengan wajah puas.

Ketiga pemuda di sekelilingnya turut tersenyum melihat kebahagiaan Chan.

“Apakah kau hidup hanya untuk makan, makan, dan makan saja? Dasar pemalas!” gerutu Seokmin sambil mendorong tubuh Chan dengan kakinya, yang lalu dibalas dengan peletan lidah dari adiknya itu. “Nanti kau harus bangun tengah malam dan ikut hyung mencari ikan di laut. Jeonghan hyung akan mencari kayu di hutan. Persediaan kayu bakar kita sudah hampir habis,” tambahnya.

Hyung kan baru saja menangkap ikan! Kenapa kita harus menangkap ikan lagi nanti malam?” Chan menggerutu.

“Maksud hyung-mu adalah untuk persediaan, Channie-ah,” Jeonghan yang menjawab. “Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari-hari selanjutnya, apakah kita masih bisa mendapatkan ikan dari laut atau tidak, apakah ada bencana besar datang lagi atau tidak. Kita hanya perlu mengantisipasinya. Kita harus mempersiapkan banyak persediaan makanan.”

“Ya, aku mengerti, hyung,” Chan menuruti perkataan Jeonghan.

“Huh, giliran aku yang memberitahu kau banyak protes, tetapi ketika Jeonghan hyung yang memberitahu kau tidak banyak protes. Aku ini juga hyung-mu, bukan hanya Jeonghan hyung. Dasar pemilih kasih!”

Ish, Seokmin hyung berisik!”

Minghao tertawa kecil melihat perdebatan ketiga kakak beradik itu.

Seokmin menoleh pada Minghao, lalu bertanya, “Kau tidak apa-apa kan di rumah sendirian?”

Minghao mengangguk. “Aku akan membereskan rumah kalau begitu.”

“Baiklah,” kata Seokmin, lalu memandang kaki pemuda itu. “Bagaimana keadaan kakimu?”

Minghao tersenyum sambil memijit betis kaki kirinya yang berwarna biru lebam. Baru beberapa hari yang lalu ia memutuskan untuk melepas kain yang membalut kakinya itu. “Meskipun masih terasa sakit, tetapi ini jauh lebih baik. Aku sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Sepertinya sebentar lagi kakiku akan sembuh.”

Gege,” Chan bangun dari tidurnya dan menatap Minghao. “Setelah kakimu benar-benar sudah sembuh nanti, kau akan pergi dari rumah ini kan?”

Minghao tampak terkejut mendengar pertanyaan Chan, lalu menoleh pada Jeonghan dan Seokmin yang menunjukkan wajah tidak enak.

YYA, Lee Chan!” Kedua kakaknya menegur adik bungsunya itu. “Kau tidak boleh bicara begitu pada tamu!”

“Bukan begitu maksudku,” Chan meralat perkataannya. “Minghao gege kan bilang terpisah dengan teman seperjalanannya yang sama-sama dari China gara-gara badai besar tempo lalu, jadi kupikir pasti gege akan pergi dari rumah ini untuk mencari temannya itu.”

Minghao tersenyum kaku. “Ya, kupikir mungkin begitu.”

Karena suasana kemudian berubah menjadi canggung akibat pertanyaan yang dilemparkan Chan pada Minghao tadi, Jeonghan pun memutuskan untuk membereskan meja makan dan meminta Chan untuk membantunya. Suasana di dalam rumah masih begitu canggung ketika Jeonghan dan Chan keluar dari rumah untuk mencuci piring dan peralatan memasak di bibir pantai, meninggalkan Minghao dan Seokmin hanya berdua di dalam.

“Maaf,” Minghao memecah keheningan. “Kehadiranku di sini pasti merepotkan keluarga kalian.”

“Ah, tidak, Hao,” Seokmin menggelengkan kepalanya. “Jangan pikirkan perkataan Chan tadi. Dia hanya bercanda.”

“Bercanda ataupun tidak bercanda, aku memang tidak bisa terus tinggal di sini dan menyusahkan kalian, kan?” kata Minghao.

Seokmin tertawa miris. “Kami sudah hidup susah sebelum badai besar itu datang. Tsunami di tengah laut yang terjadi 40 hari yang lalu telah memporakporandakan kota kami. Kami kehilangan orang tua kami, tetangga kami, teman-teman kami, dan juga rumah kami. Aku sangat bersyukur ketika aku tersadar dari mimpi itu, aku tidak terpisah dengan kakak dan adikku,” ia berhenti sejenak, memandang lurus pada Jeonghan dan Chan yang sedang mencuci di bibir pantai sana. “Meskipun kami terlempar sangat jauh dari perkotaan, tetapi aku bersyukur kami tidak terpisah. Maka dari itu, aku dan Jeonghan hyung memutuskan untuk membangun rumah di sini, di dekat bibir pantai ini. Rumah yang kami tinggali ini bukanlah rumah asli kami. Ini hanyalah rumah setengah hancur akibat tsunami yang kami temukan sebelum kami memutuskan untuk merenovasinya sendiri untuk menjadi tempat tinggal kami. Rumah ini juga pernah hancur setelah badai besar itu datang dan kami merenovasinya kembali. Kau pasti ingat dengan hari itu, hari dimana kau baru saja bergabung di rumah ini.”

“Ya, aku ingat. Tetapi karena kakiku ini, aku tidak bisa membantu banyak waktu itu.”

“Tidak apa-apa. Yang penting kau selamat dan kakimu tidak lumpuh.”

Minghao terdiam sejenak sebelum berkata, “Kalian pasti adalah keluarga yang bahagia.”

Seokmin tersenyum mengingat kenangan itu. “Ya, bahagia. Sangat bahagia. Sebelum tsunami dan badai besar itu datang mengacaukan segalanya.”

Minghao menghela napas. “Kalian benar-benar harus bersyukur karena kedua bencana besar itu tidak memisahkan kalian bertiga. Aku terpisah dengan temanku karena badai besar itu.”

Hening kembali terjadi di antara mereka. Beruntung, suara tawa Chan dari bibir pantai yang terdengar sampai rumah kemudian membuat Seokmin dan Minghao turut tertawa. Memecahkan keheningan.

“Kau sama sekali tidak menyusahkan kami, Hao-ya,” ucap Seokmin. “Kami sudah hidup susah sebelum kau datang, jadi kami sama sekali tidak masalah dengan kehadiranmu. Tinggallah di sini selama kau mau.”

Minghao tersenyum. “Terima kasih, Seokmin-ah. Terima kasih sudah menyelamatkanku.”

* * *

Di waktu yang sama, beberapa kilometer dari bibir pantai, tampak cahaya dari senter menerangi beberapa rak makanan camilan di dalam bangunan minimarket yang terletak tepat di sebelah bangunan rumah bertingkat dua yang berdiri tegak di pusat kota. Minimarket itu akan menjadi gelap gulita kalau saja kedua pemuda yang ada di dalamnya tidak memegang senter.

“Ambil rumput laut ini, Seungkwan-ah,” Junhui menyoroti beberapa bungkus camilan rumput laut yang terdapat di salah satu rak makanan camilan dengan senternya, lalu ia menyoroti makanan lainnya. Sementara Seungkwan yang memegang keranjang belanjaan langsung mengambil camilan rumput laut yang baru saja ditunjuk Junhui. “Makaroni ini sepertinya enak. Ambil yang ini juga, Seungkwan-ah.”

Sementara itu, pemuda lain yang memegang senter tampak sedang mencari barang kesukaannya yang biasanya terletak di etalase belakang meja kasir. Sekilas ia melirik Junhui dan Seungkwan yang masih mencari bahan makanan untuk membuat hidangan ulang tahun untuk Mingyu. Setelah memastikan kedua pemuda itu tidak melihatnya, ia pun mengambil sebungkus rokok dari dalam etalase.

“Jangan lupakan kecap asin, Seungkwan-ah,” kata Junhui setelah menyoroti botol kecap asin pada rak yang baru saja ia lalui, lalu tanpa menunggu Seungkwan mengambil botol kecap asin Junhui sudah menyoroti bahan makanan lain.

“Junhui gege!” Seungkwan berhenti melangkah sambil berteriak frustrasi. “Jangan hanya menyoroti makanannya lalu berjalan begitu saja! Aku tidak memegang senter jadi aku tidak bisa melihat apapun, dan keranjang ini mulai berat karena penuh dengan bahan makanan! Seharusnya kau membantuku mengambil dan meletakkannya ke keranjang ini! Kenapa kau malah menyuruhku melakukan hal yang berat-berat?!”

Junhui menoleh pada Seungkwan dan menyoroti wajah pemuda itu dengan senternya demi melihat ekspresi kesal temannya itu. “Oh, mianhae, Seungkwan-ah. Tetapi kita sudah selesai berbelanja, kok.”

Setelah berkata begitu, Junhui berlalu begitu saja meninggalkan Seungkwan dalam kegelapan dengan wajah memerah karena emosi.

“Jisoo hyung, aku tak ingin berbelanja bersama Junhui gege lagi!” rengek Seungkwan setelah menemukan Jisoo yang berdiri di balik kasir.

Jisoo membuang puntung rokok ke sembarang arah. Tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sana. Sambil menghisap rokoknya yang kedua, ia berdiri menumpukan lengan pada meja kasir. Asap rokok tampak mengepul keluar dari mulut dan hidungnya, menghalangi matanya yang kini sedang mengarahkan pandangan pada Seungkwan.

“Merengeklah pada Seungcheol, Seungkwan-ah, jangan padaku,” ucapnya dingin.

Hyung, kau merokok lagi?!” pekik Seungkwan.

Aish, berhentilah berteriak, Boo Seungkwan!” Junhui datang dari arah lain, lalu melemparkan sebungkus pil obat-obatan dan obat salep ke dalam keranjang yang dibawa Seungkwan. “Itu obat untuk Jihoon, jangan sampai hilang.”

Pandangan Junhui kemudian bertemu dengan pandangan Jisoo. “Kalau sampai Seungcheol hyung tahu kau merokok, riwayatmu akan tamat, Hong Jisoo,” ucapnya dingin.

“Aku mempercayai kalian berdua,” kata Jisoo tak kalah dingin.

“Kau percaya padaku? Aku bukan orang baik,” balas Junhui.

Jisoo tersenyum smirk. “Aku tahu.”

“Ah, hyung, gege, jebal.” Seungkwan memerhatikan kedua pemuda di depannya dengan tatapan lelah. Sepertinya kedua teman serumahnya itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan akur.

* * *

Sementara itu, bangunan rumah di sebelah minimarket tampak tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tidak ada penerangan sama sekali dari dalam sana. Gelap total. Beruntung cahaya dari langit sedikit memberikan penerangan di dalam ruangan yang entah kenapa tidak dinyalakan oleh pemuda yang kini berdiri di balkon lantai dua. Pemuda itu memerhatikan rumah-rumah yang berdiri tegak mengelilingi rumahnya, bahkan hingga kejauhan beberapa meter ke depan, yang tampak tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Jalanan sepi. Rumah-rumah tak berpenghuni. Tidak ada kendaraan yang berlalu lalang. Pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada tanda kehidupan di kota ini. Seperti kota mati.

“Ini hari ulang tahunmu, Mingyu, kenapa kau tampak bersedih?” Seorang pemuda lain muncul dari dalam rumah, berjalan menghampiri Mingyu yang berdiri di balkon rumah.

“Untuk apa juga aku bersenang-senang di tengah-tengah kota mati seperti ini?” balas Mingyu, lalu menoleh pada pemuda itu. “Tidak akan ada yang berubah walaupun 40 hari sudah berlalu, kan, Seungcheol hyung?”

Seungcheol menghela napas mendengar ucapan Mingyu. Ia mengarahkan pandangannya pada pemandangan kota mati di depannya. Ya, kota mati. Kota yang telah mati sejak mereka terbangun dari mimpi yang terasa amat panjang pada 40 hari yang lalu, dan menyisakan keenam pemuda yang saling tidak mengenal satu sama lain di dalam rumah bertingkat dua yang sama yang saat ini mereka tinggali.

“Aku masih selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada kota ini, pada dunia ini. Meskipun aku mengingat namaku, mengingat tanggal lahirku, mengingat keluargaku, tetapi aku tidak pernah bisa mengingat apa yang sebelumnya terjadi di kota ini. Jadi tak ada alasan untukku berbahagia di hari ulang tahunku ini. Tak ada yang perlu dibanggakan untuk hari ini, hyung.”

Seungcheol tidak menyahut. Pandangannya terarah pada ketiga pemuda yang baru saja keluar dari minimarket yang berada persis di sebelah rumahnya. Ketiga pemuda itu tampak berdebat terlihat dari betapa kesalnya wajah si pemuda yang memegang keranjang belanjaan. Sudah dipastikan kalau mereka beradu mulut lagi, seperti biasanya.

“Berbelanja tidak perlu membayar, tinggal mengambil saja apa yang kita inginkan. Mengisi bensin kendaraan tidak perlu membayar, tinggal mengambil saja berapa banyak yang kita butuhkan. Tetapi apa untungnya hidup seperti itu?” Mingyu masih berbicara.

“Lalu, apa harapanmu, Mingyu-ya?” tanya Seungcheol kemudian.

Mingyu menoleh pada Seungcheol dengan tatapan tidak mengerti.

“Ini hari ulang tahunmu. Kau bisa membuat permohonan. Apa harapanmu?”

“Seungcheol hyung.”

Seungcheol dan Mingyu sama-sama menoleh ke belakang ketika mendengar suara serak yang memanggil, lalu menemukan seorang pemuda sedang menggerakkan kursi roda yang didudukinya untuk mendekati mereka. “Di mana obat salepku?”

“Junhui gege sedang membelinya di minimarket,” Mingyu yang menjawab.

“Obatmu sudah habis, Jihoon-ah?”

Jihoon mengangguk. “Kakiku mulai mati rasa sekarang.”

“Kalau begitu, istirahatlah,” Seungcheol mendekati Jihoon dan membantu pemuda itu mendorong kursi rodanya menuju sofa di dekat balkon. Dengan begitu hati-hati, Seungcheol mengangkat tubuh mungil Jihoon dan membaringkannya di atas sofa. “Aku akan membuat bubur dulu untukmu. Kalau Junhui sudah datang, minta saja obat padanya.”

Setelah berkata begitu, Seungcheol turun ke lantai bawah untuk menyiapkan bubur untuk Jihoon. Meninggalkan Mingyu dan Jihoon berdua di lantai atas. Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan dari lantai bawah yang terdengar sampai telinga Mingyu dan Jihoon saking heningnya rumah tersebut.

“Seungcheol hyung, aku tidak ingin lagi berbelanja dengan Junhui gege dan Jisoo hyung!”

“Boo Seungkwan, kubilang berhentilah berteriak!”

“Kau juga baru saja berteriak, Junhui bodoh!”

“Kau yang bodoh, Jisoo brengsek!”

“Tuh, kan, hyung, mereka selalu saja bertengkar setiap kali berbelanja! Kumohon jangan lagi menyuruhku untuk berbelanja bersama mereka!”

“Kalau begitu, kau memasak saja bersamaku sini! Jihoon membutuhkan bubur sekarang!”

“Ah, hyung, aku kan juga tidak bisa memasak!”

“Ya sudah, kalau begitu kau mati saja!”

“Huh, Seungcheol hyung, kau jahat sekali padaku. Di mana Mingyu hyung? Seharusnya dia yang memasak hari ini!”

“Dia sedang berulangtahun jadi hari ini dibebaskan dari jadwal memasak. Junhui-ya, Jihoon sedang di lantai atas, dia butuh obat.”

“Mana mungkin bisa dibebaskan?! Yya, Mingyu hyung, turun kau! Kau harus memasak!”

YYA, tak bisakah kau berhenti berteriak?!”

Jihoon tertawa kecil mendengar keributan kecil yang terjadi di lantai bawah. “Mereka berempat ribut lagi,” komentarnya, lalu dibalas dengan decakan dari Mingyu.

“Tetapi kalau tidak ada mereka berempat, rumah ini akan sepi,” tambah Mingyu.

“Kau benar.”

Kemudian Junhui datang membawakan obat untuk Jihoon. Selagi Junhui mengoleskan obat salep pada kaki Jihoon yang berwarna biru lebam, Mingyu kembali mengarahkan pandangannya pada kota mati di depannya. Ia lalu menghela napas berat.

“Ini hari ulang tahunmu. Kau bisa membuat permohonan. Apa harapanmu?” Ucapan Seungcheol kembali terngiang di telinganya.

Hari ini tanggal 6 April. Setidaknya itulah yang ia dan kelima temannya ingat. Dan ya, hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas hari ulang tahunnya. 40 hari yang lalu, ia tersadar dari mimpi yang terasa amat sangat mengerikan dan tahu-tahu saja terbangun di rumah ini dan menemukan kelima orang asing yang kemudian menjadi teman hidupnya. Seungkwan, Jisoo, dan Jihoon mengingatnya bahwa kota telah mengalami kehancuran besar-besaran sehingga tak ada lagi manusia yang tersisa dan kota menjadi mati. Sementara ia, Junhui, dan Seungcheol tidak dapat mengingat apapun. Mereka bertiga tak percaya bahwa kehancuran baru saja terjadi karena bangunan-bangunan di kota ini sama sekali tidak ada yang hancur. Perbedaan pendapat itulah yang membuat Junhui dan Jisoo sering berdebat sehingga menimbulkan ketidakakuran di antara mereka berdua.

Selama 40 hari itu, ada banyak sekali pertanyaan yang simpang siur hadir dalam benak Mingyu. Pertanyaan tanpa jawaban yang kemudian menimbulkan harapan. Kalau Seungcheol mau tahu, sebenarnya ada banyak sekali harapan Mingyu untuk saat ini. Seperti berharap kota ini kembali hidup, rumah-rumah kembali memiliki penghuni, kendaraan kembali berlalu lalang memadati jalanan kota, teman-teman serumahnya kembali dipertemukan dengan keluarganya masing-masing, termasuk Jihoon yang terpisah dengan adiknya, juga berharap Jihoon dapat berjalan kembali (sampai saat ini pun Mingyu tidak tahu penyebab kelumpuhan kaki Jihoon, apakah memang sebelum terbangun dari mimpinya pemuda itu memang sudah lumpuh? Entahlah). Ia juga berharap Junhui dan Jisoo berbaikan dari pertengkaran dan perdebatan yang tiada henti.

Tetapi di antara keseluruh harapan itu, Mingyu hanya memiliki satu harapan.

Satu.

Ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kota ini.

* T B C *

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

6 thoughts on “-[2]- Distance

  1. wah ternyata nemu chap 2 disini. keren banget ceritanya. yang bagian ini gak membingungkan soalnya namanya udah jelas. dulu Wonwoo sama Hoshi udah muncul. sekarang muncul Jeonghan, Chan, Seokmin, Minghao, Seungcheol, Mingyu, Seungkwan, Junhui, sama Jisoo. ini tinggal Vernon yang belum muncul, hehe.

    Dan Jisoo, what? kamu ngrokok? no no no gak baik buat kesehatan. semoga Jisoo sama Jun akur ya. berantem mulu kaya kucing sama tikus.

    dan persis kaya Mingyu, harapanku tuh semoga rahasia tentang kejadian bencana ini bisa terungkap.

    Keep writting and Fighting! 🙂

  2. akhirnya cast Seventeen sdah mncul tgal Vernon aj yg blum mncul….
    aq jga penasaran ap yg terjadi dg kotanya…..
    ditunggu next nya kak !!!!

  3. Heiho Zul, aku datang lagiii
    Harapan aku sama kayak Mingyu, cuma pengen tau tuh kota kenapa bisa kayak gtu?! wkwkw

    di chapter ini malah lebih dijelasin lumayan rinci lah, termasuk nama mereka.

    and, what?! Jisoo merokok? oh tidak, Jisoo-yaa nanti badanmu malah makin kerempeng karena rokok gak baik buat kesehatan duuuh

    Eiy, jangan2 temennya Minghao itu Junhui? Makin penasaran deh, terlebih apa yg bisa ngebuat kota jadi mati gtu. Masih blm bisa ditebak gimana ceritanya wkwkw

    hwaiting, Zul ^^

    • Hello kakpeeel ^^

      Iyalah, di chapter ini kudu ada penjelasan, bingung juga saya kalo ngenalin cast pake nama ‘pemuda’ itu terus, cukup di chapter awal aja, wkwk

      Tenang aja, Jisoo ngerokok kalo dibelakang Seungcheol doang kok, hahaha… Tentang minghao dan junhui, tunggu aja chapter selanjutnya, hihi..

      Okaaay, makasih kakpeeel ☺☺

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s