Nightmare [Part XIV] #Yourself

Poster by : Alkindi (https://dirtykindi.wordpress.com/)

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!


 “Dirimu! Kau sangat misterius di mataku.”


©2016.billhun94


-oOo-

Mikyung mengalihkan pandangannya ke arah lain; kemanapun itu selain harus bertatap muka dengan Sehun. Ia rasa kini kedua pipinya sudah memerah.

“Mungkin,” gumam Mikyung yang merupakan jawaban dari pertanyaan Sehun sebelumnya.

Siapa sangka jika Mikyung akan semudah itu melemparkan seluruh isi hatinya hanya untuk pria yang bahkan tidak begitu ia ketahui latar belakangnya seperti apa. Oh Sehun terlalu misterius untuk dijelajahi. Dirinya bak hutan rimba yang menyesatkan arah keluar.

“Kalau kau?” Mikyung balik bertanya. Kini ia sudah dapat menatap iris teduh Sehun lagi.

Sehun menaikkan bahunya, lalu dengan tegas menjawab, “Tidak ada (atau belum).”

Terdapat sedikit rasa kecewa dari Mikyung. Namun, ia memaklumi begitu saja. Toh, Sehun sangat anti dengan cinta. Tidak mungkin pria itu melempar seluruh isi hatinya untuk wanita yang belum begitu mengenalnya (seperti dirinya).

-oOo-

Natal sudah semakin dekat, Mikyung dengan semangat menghias pohon natal di ruang tengah bersama beberapa pelayan rumah yang membantunya. Sedangkan Sehun, entahlah, Mikyung tidak tahu keberadaan pria itu.

Mikyung sedikit sulit berkomunikasi dengan para pelayan karena mereka tidak bisa berbahasa Korea, dan ia yang tidak bisa berbahasa Spanyol. Jadi, Mikyung menggunakan gerak tubuh sebagai bahasa pengganti.

“Sepertinya aku harus belajar bahasa Spanyol dari Sehun,” oceh Mikyung asal.

Pohon natal yang Mikyung rangkai hampir saja selesai jika saja pelukan dari belakang tidak membuatnya terkejut. Dari feronom parfumnya saja Mikyung sudah dapat menebak siapa pelakunya—Oh Sehun.

“Kau dari mana saja?” Tanya Mikyung, membiarkan Sehun mengecupi bagian lehernya yang terbuka.

Para pelayan yang melihat tuannya sedang memadu kasih, satu persatu pun mulai mengundurkan diri. Tidak enak jika mereka hanya akan menjadi obat nyamuk di sana.

“Mengurus beberapa hal,” jawab Sehun.

Pagi-pagi sekali, ketika Mikyung membuka matanya, ia sudah tidak melihat Sehun di ranjang. Sedikit kesal mengapa Sehun tidak memberitahunya lebih dulu. Lambat laun ia menjadi acuh tak acuh. Tapi, sifat kekanakannya yang akan muncul setelah itu.

“Sangat penting, ya?” Tanya Mikyung, lagi. Vokalnya sedikit ketus.

“Hm,” jawab Sehun pendek. Karena baginya, bersentuhan langsung dengan kulit sang istri lebih penting ketimbang berbasa-basi.

“Sangat penting sampai-sampai kau meninggalkanku sendirian tanpa minta izin lebih dulu, begitukah?” Seloroh Mikyung sedikit kesal, lalu berbalik badan menghadap Sehun.

Otomatis sentuhan Sehun pada tubuh Mikyung lepas begitu saja. Ia menyerngit kearah Mikyung, tidak mengerti dengan perkataan wanita itu.

“Apakah harus?” Tanyanya.

Mikyung melipat kedua tangannya di dada. Lantas ia menatap Sehun dengan gemas, “Tentu saja. Bagaimana jika kau meninggalkanku sendirian di Spanyol?” Ungkapnya yang malah membuat Sehun tertawa.

“Ternyata kau juga bisa bersikap manusiawi seperti ini,” komentar Mikyung.

Sehun tampak bingung. Mikyung pun melanjutkan perkataannya, “Aku jarang melihatmu tertawa.” Ungkapnya dengan cengiran.

“Apa kau senang melihatku tertawa seperti tadi?” Tanya Sehun, memeluk pinggang Mikyung dengan memberi jarak agar ia dapat melihat wajah memerah wanita itu.

Mikyung mengangguk semangat. “Jangan terlalu sering memasang wajah datar seperti biasanya, itu membuatmu menjadi terlihat tua. Sering-seringlah tertawa,” sarannya.

Sehun menggesekkan hidungnya di hidung sang istri, “Aku hanya akan tersenyum dan tertawa di hadapanmu saja,” balasnya.

“Kenapa?”

“Karena kau adalah prioritasku saat ini.”

Cibiran Mikyung berikan. Jawaban Sehun terdengar klise sekali, membuat ia merinding mendengarnya.

Sehun mengecup permukaan bibir Mikyung singkat, “Besok malam natal, aku berencana membawamu ke panti asuhan dekat sini.”

Mikyung terlihat senang sekali, ia meloncat-loncat kecil dalam pelukan Sehun. Setahunya, sang Ayah dulu sering sekali mengajaknya ke panti asuhan untuk memberikan sumbangan semasa kecil. Mikyung ingin mengulangi kenangan itu kembali.

“Aku akan ikut,” timpal Mikyung senang.

-oOo-

Saat umurnya 5 tahun, Sehun pernah diajak oleh Ayah dan Ibunya untuk berkunjung ke panti asuhan di malam natal. Sudah seperti ritual, keluarganya selalu berkunjung ke panti-panti asuhan setiap malam natal sejak Sehun masih bayi.

Memori bahagia itu kembali datang pada Sehun. Ia seperti baru kemarin melihat bagaimana sang Ayah dan Ibu memeluknya hangat bersama anak-anak panti yang tersenyum bahagia dengan tulus. Sehun merindukan saat-saat dulu.

“Kau suka anak kecil, tidak?” Tanya Mikyung yang entah datang dari mana.

Sehun terkejut mendapati Mikyung sudah duduk di sampingnya; di bawah pohon pinus.

“Tidak begitu. Kenapa memangnya?” Tanyanya.

Mikyung beringsut mendekat ke arah Sehun, lalu mendekatkan kepalanya agar lebih dekat ke telinga Sehun.

Mikyung membisikkan sesuatu yang membuat Sehun membatu. Tubuhnya kaku dan degup jantungnya bertambah.

Tawa Mikyung mengisi sekitar, “Aku sangat menyukai anak kecil. Eh, aku lupa kalau sebentar lagi makan malam!” Ia berencana untuk bangkit. Tapi diurungkannya.

Cup

Sebuah kecupan mendarat di pipi tirus Sehun. Kejadiannya begitu cepat, secepat itu pula Mikyung berlari menjauh dari Sehun menuju panti.

-oOo-

Kebahagiaan anak-anak panti asuhan yang tertawa riang juga merupakan kebahagiaan bagi Mikyung. Tidak terasa, hari mulai senja dan wanita itu bersiap untuk menyiapkan makan malam bersama para pengurus panti yang lain.

Pengurus panti sudah menyuruh Mikyung agar tidak terlibat di dapur dengan berbagai macam alasan. Mikyung yang keras kepala tidak mengindahkannya. Ia memang tidak terlalu pandai memasak, namun bukan berarti ia tidak bisa memasak.

Makan malam berupa menu sederhana ala rumahan Spanyol sudah tersedia di meja makan. Anak-anak juga sudah bersiap menyerbu makan malam mareka. Makan malam pun dimulai.

Mikyung tersenyum geli melihat kelakuan anak-anak panti yang tampak sangat senang sekali dengan makan malam mereka, dan ia juga sesekali berinteraksi bersama mereka. Walau lagi-lagi bahasa yang menjadi kendala.

Di depan Mikyung, Sehun sedang menyantap makan malamnya dengan khidmat. Mikyung yang melihat itu berniat untuk mengganggunya, ia yakin Sehun pasti sangat tidak suka diganggu.

“Kau serius sekali?” Mikyung membuka percakapan.

Sehun melirik Mikyung sekilas, tidak banyak merespon. Mikyung semakin gencar mengganggunya.

“Nanti malam aku punya sesuatu untukmu,” ungkap Mikyung, tampaknya Sehun mulai tertarik.

Memang Sehun tidak bertanya, tapi Mikyung melanjutkan dengan berbisik. “Sesuatu yang akan membuatmu sangat puas. Malam ini. Hanya untuk malam ini, sayang.” Bisik Mikyung, vokalnya dibuat menggoda.

Sehun langsung tersedak, dengan cekatan ia mengambil segelas air putih di meja, lalu meminumnya tanpa sisa.

Mikyung tidak dapat menahan tawanya, ia terbahak melihat reaksi berlebihan dari Sehun. Dan itu menarik perhatian yang lain, mereka menatap Mikyung bingung.

Sehun menatap tajam Mikyung, “Jaga bicaramu,” desisnya.

“Kenapa? Kau tidak mau?” Tantang Mikyung sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Sehun.

Helaan napas kasar Sehun terdengar jelas. Ia lebih memilih untuk menghiraukan Mikyung daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Biarkan wanita itu menang kali ini saja. Sehun tinggal menunggu waktu yang tepat untuk membalas sang istri.

-oOo-

Malamnya, setelah Sehun dan Mikyung pulang dari panti asuhan serta gereja, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah pukul 9 malam. Lagi, udara dingin kembali datang.

Mikyung datang dari arah dapur menuju kamarnya bersama Sehun dengan dua mug cokelat panas di tangannya. Sehun sedang berbaring di kasur sembari memainkan ipad, pria itu terlihat sangat serius sekali, mungkin sedang mengerjakan sesuatu.

“Ini, minumlah.” Kata Mikyung sembari menaruh salah satu mug di nakas.

“Hm,” balas Sehun singkat.

Mikyung memilih untuk berbelit dengan pohon natal yang ada di kamar mereka. Entah pohon natal itu berasal dari mana, ketika ia pulang dan memasuki kamar, pohon tersebut sudah berdiri kokoh dekat cerobong asap.

Bayangan masa lalu ketika ia merasakan kehangatan natal bersama orangtuanya kembali terngiang. Saat berusia 3 tahun, Mikyung selalu meminta permohonan yang aneh-aneh pada orangtuanya sebagai kado natal. Namun kini, ia hanya bisa menyimpan semua itu di dalam memori otaknya.

Tanpa sadar, sebulir air jatuh dari mata kiri Mikyung. Dengan cepat ia menghapusnya. Kalau boleh jujur, ia sangat merindukan saat-saat itu; ketika ia belum mengetahui bagaimana kejamnya dunia.

“Kau menangis, hm?”

Mikyung terlonjak sewaktu Sehun memeluknya dari belakang sembari bertanya. Ia tidak berniat untuk menjawab, melainkan menikmati setiap jengkal kehangatan yang tercipta dari tubuh Sehun.

“Kenapa?” Tanya Sehun, lagi.

“Aku merindukan kedua orangtuaku,” jawab Mikyung jujur.

Sehun membalikkan tubuh Mikyung setelah melepaskan pelukannya. Lalu memasang senyum manis, berusaha untuk menenangkan sang istri.

“Mereka pasti juga merindukanmu,” ujar Sehun, kembali memeluk Mikyung hangat.

Namun, dengan cepat Mikyung melepaskan pelukan Sehun, membuat pria itu bingung. Sedangkan Mikyung menatap Sehun jengkel, “Kenapa kau jadi ikutan melankolis sepertiku?”

Sehun mengerjap, tidak mengerti perkataan Mikyung. “Maksudmu?”

Mikyung mengibaskan tangannya ke udara, “Lupakan saja,” gumamnya sambil berlalu.

Baru sampai 3 langkah, Mikyung sangat terkejut ketika secara tiba-tiba Sehun menarik tangannya kuat. Hal yang terjadi selanjutnya adalah Sehun yang menatap iris Mikyung lekat sembari memasang smirk andalannya dengan jarak yang sangat dekat. Mikyung meringis dalam hati, ia sudah tahu hal apa yang akan terjadi selanjutnya.

“A-apa?” Gagap Mikyung.

Sehun memiringkan kepalanya, “Aku masih mengingat dengan sangat baik perkataanmu tadi,” balasnya.

Mikyung tidak bodoh untuk tidak mengetahui maksud dari Sehun, “Aku tadi hanya bercanda, lupakan saja!” Tuturnya.

Sehun menggelengkan kepala, “Sayangnya aku tidak menganggapnya yang tadi itu sebuah candaan.”

Belum sempat Mikyung membalas perkataan Sehun, pria itu sudah meraup bibir merahnya dengan rakus. Ingin menghindar, tubuh Mikyung keburu dikunci oleh Sehun.

Jika sudah seperti ini, Mikyung jelas tidak bisa menolak. Sentuhan Sehun selalu bisa membuatnya gila. Belum apa-apa, desahan sudah keluar dari mulutnya sewaktu Sehun meremas bokongnya dan menjatuhkannya ke ranjang.

Gaun tidur berwarna putih yang dikenakan Mikyung sudah terkesiap sebagian, menampilkan paha mulusnya. Sehun pun tergoda untuk melakukan hal lebih pada sang istri.

Begitulah keduanya, sama-sama mabuk dalam satu pusaran yang bernamakan ‘cinta’. Sayang, keduanya belum menyadari hal itu dalam hati serta jiwa mereka.

-oOo-

Salju turun di malam natal, tidak lebat, namun cukup membuat udara semakin menusuk. Salju juga menutup beberapa akses jalan raya di Spanyol. Menyusahkan sekali, bukan?

Lain halnya dengan Mikyung yang tampak senang sekali melihat turunnya salju dari jendela kamar, bersama Sehun yang terus memeluknya posesif. Sesekali pria itu mencuri ciuman atau bahkan lebih dari Mikyung. Wanita itu sudah tidak kuat mengendalikan napsu sang suami, jadi ia menyuruh Sehun untuk tetap diam.

Selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya sempat jatuh karena Sehun menendangnya sewaktu ia hampir kehilangan akal sehat saat mencumbu Mikyung. Untung saja Mikyung masih sempat menghindari hal yang akan terjadi selanjutnya.

“Sudah aku bilang, aku lelah,” rengek Mikyung, kini Sehun sudah berada di atasnya.

Sehun tampak kesal, ia mencuri kecupan singkat sebelum akhirnya berbaring di samping Mikyung. Tubuh wanita itu sudah bagaikan candu untuknya, ia saja kesusahan untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Mikyung melirik Sehun sebentar, sebelum membuka suara, “Kau tidak berniat untuk mengenalku lebih dalam lagi?”

Pertanyaan Mikyung sontak menarik perhatian Sehun, “Aku sudah mengenalmu, sangat malah,” jawabnya seraya memejamkan mata. Napsunya harus ia bisa kendalikan segera jika ia tidak ingin terus tersiksa.

Decakan kesal terdengar dari Mikyung, “Ini tidak adil! Kau sudah mengenalku, tapi aku sama sekali belum mengenalmu,” protesnya.

“Apa yang mau kau kenal dariku?”

“Dirimu! Kau sangat misterius di mataku,” jawab Mikyung dengan semangat.

Sehun memang selalu menutup sisi gelap serta kekurangannya sendiri dari orang lain. Mungkin selama ini kebanyakan orang berpikir jika ia adalah sosok pria sempurna tanpa celah. Namun, semua persepsi itu salah besar.

Bak Bulan pada porosnya, Bulan terlihat bersinar serta bercahaya sangat terang dari kejauhan. Tapi, jika kita telaah lebih dalam lagi, Bulan bahkan tidak memiliki cahayanya sendiri, melainkan mendapat bantuan dari Matahari. Juga, di Bulan terdapat banyak sekali lubang-lubang pada permukaannya, walau dari bumi tampak mulus sekali, tidak begitu kelihatan kekurangan yang dimiliki bulan karena jarak. Ya, itulah Sehun.

Ada banyak kebohongan yang Sehun lakukan, dan ada banyak kelebihan yang pria itu perlihatkan; tanpa mengenal celah kekurangan.

“Kenapa kau diam saja?”

Sehun tersadar, ia membuka matanya dan menatap Mikyung lekat.

“Ayo ceritakan!” Seru Mikyung, memaksa.

“Ini tidak akan menarik—”

Perkataan Sehun dipotong cepat oleh Mikyung. “Itu sama sekali bukan masalah,” tangkasnya.

Sehun pikir mungkin ini saatnya Mikyung mengetahui sisi lain dari hidupnya.

“Aku akan mulai dari mana?” Sehun tampak bingung.

“Dari masa kecilmu, bagaimana?” Saran Mikyung.

“Baiklah, Ibuku meninggal ketika usiaku masih kecil. Sebelum ibuku meninggal, dia sering sekali bertengkar dengan ayahku, padahal sebelumnya kehidupan kami berjalan baik-baik saja. Hampir setiap hari mereka bertengkar, sejak saat itu aku tidak pernah dianggap ada di dalam rumah. Mereka terus mengabaikanku,” ujar Sehun, menatap langit kamar.

“Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ayah dan ibuku terus bertengkar setiap hari. Sampai saat ibuku meninggal, aku baru tahu alasannya. Ayahku selingkuh dengan wanita lain, dan beberapa bulan kemudian dia menikahi wanita itu,” lanjut Sehun, sesak di dadanya setiap mengingat masa lalu belum hilang.

“Wanita itu memiliki dua putra ketika menikah dengan ayahku. Sejak saat itu, aku ingin sekali kabur dari rumah. Namun aku sadar, aku masih terlalu dini untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Aku pun memilih bertahan,” Sehun mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan ceritanya kembali.

“Bertahan tidak membuat keadaanku membaik. Aku stres dan berhenti sekolah. Kau tahu? Aku bahkan hampir membunuh ayahku sendiri karena aku sangat membencinya, dan dia langsung memasukkanku ke rumah sakit jiwa setelah itu,” Sehun tertawa kecut mengingat bagaimana kehidupannya.

“Tidak lama setelahnya, aku dikirim ke luar negeri untuk bersekolah di sana. Ketika aku pulang, ayahku sudah sakit-sakitan. Selang beberapa bulan, dia meninggal dunia. Sebagian aset besar ayahku menjadi milikku saat ini, namun aku belum pernah menyentuhnya karena rasa benciku padanya.”

Sepanjang cerita Sehun, Mikyung menyimak dengan baik. Ia merasakan bagaimana beratnya hidup Sehun yang selama ini ia kira baik-baik saja. Dunia memang kejam, terkadang. Bahkan Mikyung tidak menyangka kalau hidup Sehun ternyata lebih berat dari hidupnya. Dan pria itu masih mampu menanganinya dengan baik walaupun sulit.

“Kau baik-baik saja? Kau terluka parah? Sakit tidak?” Tanya Mikyung sembari menggenggam tangan dingin Sehun.

Sehun tidak menjawab pertanyaan Mikyung, ia malah melanjutkan ceritanya, “Aku membawa kebiasaan burukku ketika berada di luar negeri. Meniduri banyak wanita, dengan begitu aku bisa mengatasi rasa stresku,” terang Sehun. Sebenarnya ia mewanti-wanti jika Mikyung akan marah padanya.

“Heol! Daebak!”

Sehun menoleh pada Mikyung ketika mendengar reaksi wanita itu. “Kau tidak marah?” Tanyanya.

“Untuk apa marah? Itu hakmu sebagai manusia, bukan? Aku dari awal saja sudah yakin jika kau bukan pria baik-baik,” jujur Mikyung dengan wajah datarnya, membuat Sehun menatap tidak percaya kearahnya.

“Kau ini… benar-benar,” Sehun kehabisan kata-kata.

“Bukan berarti kau bisa meniduri wanita lain seenak jidatmu sekarang! Kau sudah menjadi milikku! Tidak boleh ada wanita yang mendekatimu dan menyentuhmu selain aku,” Mikyung berucap seperti sedamg mendeklarasikan Undang-undang.

Sehun tidak bisa menahan tawanya, ia tertawa terbahak-bahak. Sepertinya terjadi masalah terhadap selera humornya karena Mikyung.

“Kenapa kau malah tertawa? Apa yang tadi itu lucu, hah?”

Sehun tidak menjawab pertanyaan kesal dari Mikyung, melainkan ia menarik pinggang wanita itu beserta tengkuk belakangnya, lalu meraup bibir Mikyung dengan lembut. Mikyung pun membalas setiap lumatan penuh perhitungan dari Sehun.

Sadarkah mereka jika kini mereka mulai saling bergantungan satu sama lain?

-oOo-

“Aku ingin sepuluh anak, 6 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Anak laki-laki terlalu menyulitkan, jadi kita buat anak perempuan menjadi 6 saja. Bagaimana, kau setuju, tidak?”

Mikyung menjauh dari Sehun setelah ia membisikkan perkataannya tadi.

Sehun menegang, ia bahkan lupa caranya untuk bernapas.

Mikyung kembali membisikkan sesuatu di telinga Sehun, “Aku harap kau setuju. Membuat anak sebanyak mungkin bukan kendala bagimu, bukan? Kau ‘kan punya banyak uang untuk menghidupi kami kelak.”


Astaga! Shin Mikyung memang benar-benar!

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

Terima kasih banyak buat readers yg udah setia nungguin ff ini:)

Advertisements

3 thoughts on “Nightmare [Part XIV] #Yourself

  1. SEHUN ITU LEBIH MISTERIUS LAGI DI MATA ABANG ABANG TAHU BULAT (tijel abaikan maaf capslock jebol). Ayo dong hun peka, sehun kurbel nih makanya kurang peka wkwkkw

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s