-[1]- Distance

distace-fix-cover

DISTANCE

‘KOTA TELAH MATI, APAKAH MEREKA BERTIGA BELAS JUGA AKAN MATI?’

 

Starring by. Seventeen‘s member
Choi Seungcheol (S.Coups), Yoon Jeonghan, Hong Jisoo (Joshua), Wen Jun Hui (Jun), Kwon Soon-young (Hoshi), Jeon Wonwoo, Lee Jihoon (Woozi), Lee Seokmin (DK/Dokyeom), Kim Mingyu, Xu Ming Hao (The8), Boo Seungkwan, Choi Hansol (Vernon), Lee Chan (Dino)

Multichapter // Adventure, Brothership, Fantasy, Mistery, Sci-fi, Tragedy // PG-18

zulfhania production © 2017

* * *

Previous. [Trailer/Prologue]

-[1]- After 40 Days (1)

Langit gelap.

Bulan purnama menggantung di atas langit. Memberikan sedikit penerangan pada malam yang gelap.

Angin malam musim gugur berhembus dengan kencang. Dingin menusuk kulit. Tetapi siapa yang peduli.

Terdengar suara gemerisik dari arah jalanan di dalam hutan yang dipenuhi dengan dedaunan kering. Suara derap langkah kaki.

Pemuda yang sedang tertidur di atas sebatang pohon mendadak membuka matanya. Rasa kantuknya hilang seketika. Insting pendengarannya yang tajam tak ayal membuat tangannya dengan sigap mengambil sebusur panah yang ia letakkan di balik punggungnya. Kalau ia tak salah dengar, ini adalah buruan terakhirnya. Berarti malam ini ia bisa makan dengan puas.

Suara gemerisik itu semakin mendekat. Walaupun gelap menyelimuti, namun ia masih dapat melihat semak-semak di bawah sana bergerak. Hidup di alam selama hampir sebulan lebih ini membuatnya terbiasa dengan suara alam sehingga ia dapat memiliki pendengaran yang jauh lebih tajam dan dapat dengan sigap menghadapi bahaya yang mengintai.

Angin kembali berhembus. Dingin menusuk kulit pemuda itu. Tapi siapa yang peduli, bahkan ia pun tidak peduli pada kulit kusamnya yang bercampur dengan debu itu ditampar keras oleh dinginnya angin malam. Ia lebih peduli pada perutnya saat ini.

Pemuda itu menelan ludah. Perutnya yang sudah beberapa hari ini tak terisi makanan satu pun mulai kembali bernyanyi, seakan-akan memanggil mangsanya untuk segera keluar. Ia sudah memposisikan diri untuk memanah busur panahnya dari atas pohon, hendak membidik apapun yang keluar dari balik semak-semak tersebut. Semoga memang ini adalah buruan terakhirnya.

Hewan berkaki empat itu pun keluar dari tempat persembunyiannya. Dan dalam waktu kurang dari sepersekon detik, busur panah dari tangan pemuda itu melesat dengan cepat menembus tubuh hewan itu. Rusa pun ambruk seketika, tanpa sempat menghindar. Oh, lagipula mana bisa rusa itu menduga kalau ia akan dibunuh oleh manusia itu dalam kegelapan seperti saat ini.

Pemuda itu tersenyum. Akhirnya ia bisa makan juga.

* * *

Suara percikan api kini mengisi keheningan yang terjadi di dalam hutan. Beberapa tusukan daging tengah terpanggang di atas api menyala. Pemuda itu duduk di depan api tersebut sambil mengunyah makanannya. Ia sudah menghabiskan tiga belas tusuk sate rusa saat ini, tetapi ia belum merasa kenyang. Mungkin ia akan menghabiskan malam ini dengan memakan seluruh daging rusa yang tertinggal. Lagipula sudah tiga hari ini ia tidak makan, jadi lumrah saja apabila ia menghabiskan semuanya malam ini. Tetapi tidak, ia tidak akan menghabiskan semuanya malam ini. Ini adalah buruan terakhirnya. Sudah tidak ada lagi rusa di hutan ini, jadi ia harus menyimpan daging yang tersisa untuk malam-malam berikutnya. Untuk mengisi kekosongan perutnya di kemudian hari. Tetapi ia akan sangat bersyukur kalau ada hewan lain yang bisa ia jadikan buruannya. Sayangnya, selama sebulan lebih ini tinggal di dalam hutan, ia hanya menemukan rusa.

Pemuda itu memandang bulan purnama yang menggantung di atas langit. Ini adalah bulan purnama kedua setelah ia terbangun dari mimpinya. Mimpi yang terasa amat sangat panjang sampai akhirnya ia terbangun dari tidurnya dan ia sudah berada di tengah hutan mencekam ini. Sendirian.

Sudah hampir 40 hari berlalu (bukan berarti ia memiliki kalender, tetapi ia menghitungnya sendiri saat siang dan malam berlalu berdasarkan langit yang ia pandangi hampir setiap harinya), tetapi ia sama sekali tidak mengingat apapun. Ia tidak tahu kenapa ia terdampar di dalam hutan. Ia tidak tahu apa yang sebelumnya terjadi hingga ia terdampar di sana. Dan yang terlebih penting adalah, ia tidak tahu nama dirinya sendiri.

Yang ia ketahui adalah ia harus bertahan hidup. Karena ia tidak tahu kehidupan apa yang ia alami sebelum ia terdampar di hutan ini, ia pun mencoba membiasakan diri hidup di alam. Anehnya, walaupun ia tidak dapat mengingat apapun, namun ia mengetahui apa yang harus ia lakukan selama hidup di hutan. Ia tahu cara membuat busur panah. Ia tahu cara membidik hewan buruan tepat sasaran. Ia tahu cara membuat api unggun. Ia tahu cara memanggang daging hewan buruan. Ia tahu cara mengganjal perut ketika tidak mendapatkan makanan. Ia tahu cara melindungi diri dari bahaya yang mengintai. Ia tahu cara menyembuhkan luka ataupun penyakit. Dan ia tahu di mana ia bisa tidur dengan nyaman di dalam hutan. Ia tahu segalanya. Tetapi anehnya ia tidak dapat mengingat apapun selain itu.

“Dan anehnya lagi, aku rindu bertemu orang-orang,” ucap pemuda itu lirih. Tatapannya masih mengarah pada bulan purnama di langit. “Padahal aku tidak mengingat satupun orang yang pernah hadir dalam hidupku,” tambahnya kemudian, lalu kembali mengunyah daging tusuknya. Pahit. Entahlah, baru kali ini ia merasakan kalau daging yang ia makan selama tinggal di dalam hutan rasanya sangatlah pahit. Seperti hidupnya.

“Kapan ini akan berakhir?” tanya pemuda itu pada purnama. Hanya pada purnama. Ia berbicara hanya pada purnama. Ketika purnama tidak datang, ia sama sekali tidak pernah mengeluarkan suaranya.

Angin malam kembali berhembus. Kali ini tubuh pemuda itu bergemetar. Mulai merasa menggigil. Mungkin karena perutnya sudah terisi jadi ia bisa merasakan dingin itu lagi. Karena ia berpikir pagi masih akan lama menampakkan dirinya, ia pun bergegas untuk membereskan hasil makan malamnya dan segera mengistirahatkan tubuhnya sebelum pagi menjemput. Namun, ketika mendengar suara gemerisik dari balik semak-semak yang sama di mana ia membunuh hasil buruannya, gerakan pemuda itu terhenti.

Suara apa itu? Pemuda itu membatin.

Suara gemerisik itu semakin terdengar jelas. Tangan pemuda itu perlahan meraih busur panahnya dengan pandangan yang tak terlepas sedetik pun dari semak-semak belukar tersebut. Tidak mungkin masih ada rusa yang tersisa, ia yakin hewan ini adalah buruan terakhirnya. Lalu, kalau bukan rusa, suara apa itu?

Pemuda itu sudah memposisikan diri untuk memanah apapun yang keluar dari balik-balik semak tersebut. Mata kecilnya semakin menyipit demi menajamkan penglihatannya. Sampai pada akhirnya, sosok itu pun keluar dari balik semak-semak.

“Jangan bunuh aku,” pemuda yang baru saja keluar dari balik semak-semak langsung mengangkat kedua tangannya ketika melihat busur panah yang terarah padanya dengan tatapan takut.

Pemuda yang satunya menurunkan busur panah usai memastikan kalau pemuda yang berdiri beberapa meter di depannya berstatus aman. “Siapa kau?”

Alih-alih menjawab, pemuda itu malah menurunkan kedua tangannya dengan pandangan yang terarah ke api yang menyala, atau daging tusuk yang terpanggang di atasnya?

“Aku mencium aroma makanan dari sini. Maaf, aku tahu ini terdengar tidak sopan, tetapi bolehkah aku meminta makananmu? Sudah seminggu ini aku tidak makan,” ucap pemuda itu dengan tatapan ketakutan sekaligus memelas.

Pemuda itulah, orang pertama yang pemuda itu temui setelah 40 hari ia terdampar di hutan asing ini.

* * *

Dua pemuda itu kini duduk bersebelahan di depan api menyala. Pemuda yang satu asyik mengunyah daging yang baru saja ia panggang dengan mata berbinar seakan tidak pernah bertemu daging selama setahun, sementara pemuda yang lainnya hanya memandang pemuda itu dengan pandangan aneh sekaligus takjub.

“Kau benar-benar belum makan selama seminggu?” tanya pemuda itu.

Pemuda lainnya menggeleng. Dengan mulut penuh daging ia menjawab, “Sebenarnya selama ini aku hanya makan makanan yang kutemui di hutan saja. Entah itu makanan basi atau bukan. Ini pertama kalinya aku makan enak.”

Pemuda itu terdiam sejenak. Ia lalu mengambil satu tusuk daging yang sudah matang dan menyerahkannya pada pemuda yang kelaparan itu. “Kalau begitu, makanlah sepuasmu. Ini adalah rusa terakhir.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku menghitungnya.”

Pemuda itu berhenti mengunyah sejenak, cukup terkejut dengan jawaban pemuda di sampingnya. “Kau menghitungnya?! Bagaimana bisa?!”

“Aku pernah bertemu sekumpulan rusa itu dan menghitung jumlahnya sebelum mereka menyebar karena aku membunuh salah satu dari mereka. Setiap kali aku membunuh rusa, aku menghitungnya. Dan rusa yang kubunuh ini adalah rusa ketujuh, rusa yang terakhir.”

“Bagaimana kalau tiba-tiba muncul rusa yang lain?”

“Kalau begitu, aku beruntung.”

“Mengapa begitu?”

“Karena aku akan mendapatkan makanan lagi.”

“Tetapi berarti jumlah rusa yang kau hitung pertama kali tidak sama dengan kenyataan yang ada.”

“Itu sudah tidak penting lagi, yang penting adalah aku dapat makanan.”

“Lalu untuk apa kau menghitungnya?”

“Itulah caraku bertahan hidup.”

Pemuda itu mengernyit bingung. Karena malas berdebat, ia pun kembali mengunyah makanannya. “Sepertinya kau sudah lama hidup di hutan ini,” ia menarik kesimpulan akhir.

“Sudah 40 hari, tetapi aku belum mengingat apapun yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.”

“40 hari?! Heol, rupanya kau memang benar-benar mengetahui cara bertahan hidup. Jangan bilang kau juga menghitung jumlah hari yang sudah lewat.”

“Memangnya kau tidak?”

“Itu tidak penting, yang penting adalah aku dapat makanan. Dan aku sangat beruntung bertemu denganmu malam ini hehe,” ucap pemuda itu lalu menyengir tanpa dosa karena telah mencuri kalimat orang lain.

Pemuda itu berdecih, tetapi tak urung juga tertawa. Inilah pertama kalinya ia tertawa semenjak 40 hari terdampar di hutan ini.

“Habiskan makananmu, setelah itu kita tidur sampai langit berubah terang. Kita harus segera menemukan jalan keluar dari hutan ini,” kata pemuda itu.

“Di mana kita akan tidur?”

Pemuda itu mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah batang pohon di atasnya yang berjarak hampir dua meter dari permukaan tanah.

“Di-di di atas pohon?!” Pemuda itu tampak terkejut, bahkan ia sampai memuncratkan isi mulutnya.

“Itu tempat teraman untukmu tidur di dalam hutan.”

“Ah, aku benar-benar tidak percaya!” Pemuda itu tampak menggerutu, tetapi ia menurut juga untuk segera menghabiskan makanannya.

By the way, siapa namamu?” tanya pemuda itu, mengalihkan topik.

Namun, alih-alih menjawab, pemuda kelaparan itu lagi-lagi berhenti mengunyah. Bahkan ia sampai menjatuhkan tusuk dagingnya. Seperti sudah kehilangan nafsu makan.

“Aku tidak tahu namaku.”

Pemuda itu tertegun.

“Kurasa aku sama sepertimu, terbangun dari mimpi yang panjang dan tahu-tahu saja sudah terdampar di hutan ini. Aku tidak dapat mengingat apapun dan aku tidak tahu berapa hari yang sudah terlewat semenjak aku terdampar di sini. Aku hanya tahu itu sudah lama sekali dan aku sama sekali tidak ingat. Tetapi, yang jauh lebih penting dari itu semua adalah aku tidak mengingat namaku sendiri. Aku tidak tahu siapa namaku dan dari mana aku berasal,” ucap pemuda itu sedih. Nafsu makannya benar-benar hilang.

Rupanya kami senasib, pemuda itu kembali membatin.

“Tidak perlu sedih. Aku juga tidak tahu namaku. Mungkin kita bisa mengingatnya secara perlahan.”

Pemuda itu mengangkat kepala, balas menatap pemuda penyelamat lambungnya itu dengan mata berkaca-kaca. “Sampai pada hari kita mengingat nama satu sama lain, maukah kau tetap bersamaku? Aku takut sendirian.”

Pemuda itu mengangguk dan balas menatap manik teman barunya itu yang tampak unik. “Tentu saja. Kau bisa ikut bersamaku. Ah ya, melihat bentuk matamu yang seperti itu, bagaimana kalau kau kupanggil 10:10?”

Pemuda itu meraba bentuk matanya yang berbentuk seperti jam yang menunjukkan pukul 10 lewat 10 menit. “Kau pandai memberi nama rupanya,” ia lalu mengalihkan pandangannya pada pemuda penyelamat lambungnya yang kini baru ia sadari kalau pemuda itu memakai topi kupluk berwarna hitam. “Ah, aku tidak pandai memberi nama. Tetapi, melihat kau memakai topi itu, bagaimana kalau kau kupanggil Beanie?”

Pemuda itu memegang topi kupluknya, lalu mendesis. “Kau benar-benar tidak pandai memberi nama. Jelek sekali nama yang kau berikan.”

YYA! Kalau begitu, pakai saja nama lain!”

Pemuda itu tersenyum, menandakan baik-baik saja dan setuju dengan nama yang diberikan. Setidaknya kini aku punya nama panggilan: Beanie, batinnya.

* T B C *

Cuap-cuap: Yeaaay, happy new year, all! Semoga tahun 2017 ini lebih baik daripada tahun sebelumnya, dan seluruh target yang tertunda dapat tercapai di tahun baru ini. Daaaan…. inilah fanfic perdanaku di tahun 2017 ini! Masih ngelanjutin tentang Seventeen, dan belum ada mood buat lanjutin fanfic request, hehe *peace* Happy reading ya, jangan lupa tinggalkan jejak. And once again, happy new year!

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

8 thoughts on “-[1]- Distance

  1. Hai Zul… seperti yg aku bilang sebelumnya, ku pasti baca koq kalau seventeen hehe
    overall aku suka jalan ceritanya. daan yg pasti pertanyaanku tentang ffmu yg ini sama kaya yg lain. kenapa, kenapa dan kenapa? intinya sama kayak shafa noh

    Dan dichapter ini baru nongol 2 member aja ya kan? Hoshi (10:10) dan Wonwoo (Beannie) eh, bener gak sih? wkwkwk

    Cepet lanjut yaa

    • Yihiiiii aku seneng kalo carat ada yg baca ff iniii 😆😆

      Yaps, baru 2 member doang kok. Akhirnya ada yg bisa nebak juga 2 member itu siapa aja, kalo yg baca carat pasti bisa nebak mereka deh, wkwk…

      Sip, bentar lagi bakal kulanjutin, sebenernya udah kulanjutin sampe chapter 5 tapi mau kutabung dulu, haha.. Btw, makasih banyak kakpeeeel 😆😆

  2. Hallooo zulll…. pertama, aku mau minta maaf karena aku bakal sekaligusin komen di chapter 1 ini. Niatnya mau ngomen huga di trailer tapi karena penasaran banget jd aku langsung loncat baca chapter selanjutnya kwkkwkwk

    Disamping aku bingung karena km cuma nyebut “pemuda” di setiap scene ff ini, overall cerita kamu menarik banget buat dibaca krn misterinya kental. Dari sejak baca trailer pun banyak pertanyaan yang muncul di otak: “Itu kenapa kota bisa mati?” “Itu kenapa cuma mereka ber-13 yang masih hidup?” “Itu di negara mana? Korea? Jepang? Apa Indonesia? #eh” “Kenapa ada yg hidup enak punya mobil mewah, hidup di rumah reyot, sama yg tinggal di hutan ala ala tarzan?” Yang terpenting adalah, “siapa aja member svt yg tinggal di kota dg mobil dan rumah tingkat 2, tinggal di pinggir pantai, dan yg di hutan?” “NASIB S.COUPS GIMANA? DIA HIDUP DI MANA? SEJAHTERA GAK DIA? KELAPARAN GAK DIA? DEDEK KHAWATIR BANG DEDEK KHAWATIR!!!” (Abaikan pertanyaan yg capslock kwkwkwk)

    Intinya, ff ini bikin penasaran. Dan dr yg aku baca sih sepertinya ini masuk genre distopia gak sih? Semacam gambaran masa depan kehidupan yang kacau macem ini. Atau bisa aja mereka adalah kelinci percobaan para ilmuan ilmuan botak, ke-13 pemuda tamvan itu sengaja ditaro di kota mati untuk bisa mengetahui seberapa lama mereka bertahan hidup macem kisah Divergent. Hmmm dibandingkan dg genre Fantasy atau Thriller Fantasy, entah mengapa aku lebih mikir kalau ini ff masuknya ke genre distopia. Krn yg kamu gambarkan dari mulai trailer dan chapter satu lebih mengarah ke sana. But no… aku gk mau ngambil kesimpulan yg cepat krn ff ini baru masuk ke permulaan. Belum ada celah buatku untuk mengira ngira kamu mau bawa alur ff ini ke mana kwkwkw

    Soooo kutunggu lanjutannyaaaaa. Dan aku berharap kalau nasib Seungcheol di sini baik baik saja. Irwansyah versi korea-kuuuuu kau harus survive yaaa. Hwaitingg ngelanjutinnya btw, Zul!!! 💪💪😚

    • Okay kak, no problem kok ^^

      Hmm banyak banget pertanyaannya ya kak, wkwk.. akan kujawab lewat chapter2 selanjutnya aja yaa. Termasuk s.coups, next chapter akan diberitahu dia tinggal di mana *eh,spoiler* Soal genre sebenernya aku juga masih rada bingung ini masuk genre mana, gak pahamlah ama genre2, yg penting nulis genre misteri aja dulu, hahahaha

      Dan sebenernya juga aku rada khawatir gak ada yg mau baca ff ini karena cast nya adalah member SVT yg mungkin saat ini belum terkenal bgt, padahal aku lagi semangat2nya nulis ff ini karena ff ini beda dari ff yg pernah kutulis jadi aku masih semangat, tapi aku beruntung ada yg mau baca juga meskipun cast nya member SVT. Setidaknya aku mendapat vitamin untuk tetap melanjutkan ff ini, hehe.. makasih banyak kak Shafaaaa ^^ Irwansyah versi Korea mu pasti akan baik2 saja kok 😙

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s