[Chapter 3 – END] Despicable Me

despicable-me

—BluebellsBerry present—

A fanfic requested by W.A.O

“Despicable Me”

Starring by Jung Yong Hwa  and Park Shin Hye with Krystal Jung and EXO’s Kai

Sad Romance, Melodrama, Angst,

.

.

.

“This is our love, the sickest pain in our heart…”

.

.

.

1st || 2nd

Siwon dengan hati-hati memasukan sebuah kombinasi angka pada tombol panel kata sandi yang terpasang tepat di atas knop pintu. Matanya menatap lurus-lurus pada Jung Yonghwa, memberikan isyarat agar lelaki itu mengikuti semua instruksinya. Lantas detik berikutnya Siwon menggulung celananya mengambil sebuah pistol yang bertengger manis disana.

Ceklek!

Pintu dibuka, dan pemandangan setelahnya…sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Baik Jung Yonghwa maupun Choi Siwon cuma bergeming disana, membatu sambil membelalakan mata—tercekat dalam pemandangan paling keji, paling menjijikan yang pernah tertangkap langsung oleh mata kepala mereka sendiri.

“Shin Hye-ah,” Yonghwa bergumam pelan, tak dapat mengatakan apa-apa.

Menarik napas panjang Siwon menodongkan pistolnya, “Jangan bergerak!”

Salah seorang disana tiba-tiba bangkit, “Wah, ini sangat menarik, kan’?”

“Lihat, siapa yang dia bawa?” yang lain terkekeh, “Polisi?”

Kai menoleh, diwajahnya tergambar jelas lengkung sinis. Merasakan aura kemenangan dan masih berada di atas Shin Hye dengan wajah menjijikannya itu—tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa menghiraukan kedua pria yang menerobos masuk itu.

“Kim Jongin BRENGSEK!!!” suara Yonghwa meninggi, menarik napas berkali-kali sebelum menerjang Kai yang tengah dalam puncaknya.

BUAGH!

Pukulan itu sekuat tenaga, diarahkan lurus-lurus serta penuh kebencian. Dan setelahnya Jung Yonghwa tenggelam dalam amarahnya. Menghantamkan tinjunya berkali-kali, memaki, membenturkan tubuh Kai ke lantai hingga tak terhingga jumlahnya. Mata lelaki itu berkilat-kilat, bersatu dengan berbagai macam emosi yang sama sekali tak dapat di jelaskan dengan untaian kata. Sementara itu Siwon menghajar pria-pria brengsek lainnya, melubangi kaki mereka dengan timah panas, kemudian memanggil polisi.

.

.

.

 

Menatap jam di dinding pemuda itu kemudian bangkit. Tungkainya yang kokoh melangkah tegap menuju buffet, dimana sebuah telepon bertengger manis disana. Tanpa berpikir dua kali Yong Hwa menekan beberapa angka yang masih di ingatnya sampai sekarang. Kemudian lelaki itu menunggu, mendengarkan dengan seksama setiap nada panjang panggilan telepon yang tengah bermelodi ditelinganya.

“Apa kau ingat aku?” pemuda itu tersenyum miring, “Yah, ini sudah lewat lima tahun—tapi tak kusangka kau dapat melupakannya begitu saja.

Pemuda itu terkekeh, selintas nada sinis terdengar mendominasi suaranya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi ini salah satu kejutan besar—bahwa kau masih bisa hidup tenang disana,”

“Kau tahu, aku dan Shin Hye sama sekali tidak bisa melupakanmu—terutama kenang-kenangan yang kau berikan padanya, dan itu membuatku sangat ingin melenyapkanmu….” ia tertawa, “Yang aku tidak tahu adalah, apakah rasa bersalahmu itu terlalu besar hingga tak sanggup mengingat—ataukah sekarang kau sudah mahir bermain peran sehingga aktingmu sangat piawai…”

“Tapi satu hal yang harus kau tahu, mungkin ini agak menyakitkan untukmu—tapi menurutku masih belum sebanding dengan apa yang kau lakukan dulu, iya kan’ Kai?”

 

Sementara itu….

 

Shin Hye menarik napas panjang, terutama ketika wanita itu bolak-alik masuk ke kamar Krystal namun sama sekali tak menemukan apa yang dicarinya. Pakaian, kosmetik, bahkan perhiasan wanita itu tak dapat ditemukan di ruangan yang sudah didiami Krystal beberapa tahun belakangan. Mungkin yang tersisa cuma jejak wewangian wanita itu—bau parfum yang dia gunakan terakhir kali sebelum pergi. Dan sebetulnya Shin Hye tahu betul bahwa hari yang paling dia takuti selama ini akhirnya datang juga—hari dimana satu-satunya orang yang paling mengerti dia pergi, orang yang paling mengerti walau sebatas pelarian. Gadis itu, Krystal Jung, telah menelan semuanya selama beberapa tahun terakhir.

“Nyonya,”

Shin Hye menoleh, mendapati seorang kepala pelayan yang sudah begitu familiar dilihatnya—menatap dengan tatapan yang sama sekali tak dapat diartikannya.

“Kenapa kamarnya kosong?” tanya Shin Hye kemudian, “Apa ada yang memindahkan barang-barang di sini sebelumnya?”

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis, agak bingung menjawab pertanyaan Shin Hye—terlebih wanita itu sama sekali tak pernah berbicara padanya, “S—saya tidak tahu, nyonya,”

“Kemana Krystal?” Shin Hye bertanya lagi, “Apa kau melihatnya?” wanita itu menarik napas panjang, “Aku agak khawatir karena belum melihatnya sejak pagi.”

“S—saya tidak tahu, nyonya,” pelayan itu menundukan kepalanya, menghindari tatapan Shin Hye.

Wanita itu kemudian mengangguk, “Dimana Jung Yonghwa?”

Hening. Tak ada jawaban apapun dari pelayan paruh baya itu.

“Kau tidak tahu juga?” suara Shin Hye meninggi, “Ya Tuhan, apa yang kau tahu?!”

“M—maafkan saya, nyonya,” pelayan itu melanjutkan, “Beliau masih di ruang kerjanya, dan tidak bisa di gangg—”

Shin Hye melenggang pergi, meninggalkan kepala pelayan itu tanpa mendengar jawaban selanjutnya. Kaki jenjangnya melangkah maju, menuruni tangga hingga sampai pada lorong yang menghubungkan beberapa ruangan penting yang diketahuinya milik Yonghwa.

Ceklek. “Apa kau yang melakukannya, Yonghwa-ah?”

Sejurus kemudian Shin Hye membuka salah satu pintu disana, mendapati Yonghwa sibuk berbicara di telepon dengan wajah serius—dan tanpa mempedulikannya memotong langsung pembicaraan yang kemungkinan penting itu dengan pertanyaan. Pertanyaan yang sebetulnya juga kurang dipahami lelaki itu. Dan efeknya cukup mengejutkan. Disana Yonghwa berdiri mematung sambil menatap Shin Hye lekat-lekat, membuat netranya beradu dengan manik Shin Hye yang tampak keheranan—pun menimbulkan kebingungan yang nyata pada Yonghwa, meskipun pada kenyataannya pria itu tahu jelas alasan dibalik tindak tanduk istrinya itu.

“Apa…yang aku lakukan?” dia mengulang pertanyaan Shin Hye, menutup teleponnya secara sepihak kemudian memfokuskan dirinya pada wanita itu, “Ada masalah?”

“Aku tidak bisa menemukan Krystal,” sahutnya, “Kamarnya kosong, dan barang-barangnya juga tidak ada.”

Hening. Yonghwa belum berniat menanggapi ucapan Shin Hye barusan—masih menunggu kelanjutannya.

“Aku sering melihatmu bicara padanya—terlepas dari entah apa yang kalian biacarakan…” ia menarik napas, “Apa sampai segitunya, huh?”

“Apanya?”

“Kau!” suara Shin Hye meninggi, “Apa yang sudah kau katakan pada Krystal? Kenapa dia menghilang? Dan siapa yang mengosongkan kamarnya?”

“Shin Hye-ah, kau mau bicara?” Yonghwa akhirnya membuka suara, “Kalau kau mau bicara dan bersedia menerima semua yang aku katakan, maka ini akan jauh lebih mudah, sayang.”

“Kemana Krystal?” kukuhnya, “Apa yang kau lakukan padanya?”

“Shin Hye-ah,” pemuda itu menarik napas panjang, “Ayo-kita-bicara.” Lanjutnya penuh penekanan.

Sejurus kemudian lelaki itu keluar dari ruang kerjanya, memacu tungkai kurusnya lambat-lambat—berharap Shin Hye akan mengikuti—lantas menarik napas panjang seraya menatap lelah pada koridor mewah yang tampak kosong itu di depannya. Pemuda itu nampaknya terlalu lelah dengan keadaan, terlalu letih dengan semua kemalangan yang menimpanya, terlalu jenuh dengan permasalahan klasik yang tak kunjung usai. Tapi sumpah, Yonghwa sama sekali tak pernah sedikitpun kehilangan rasa cintanya pada Shin Hye, terlepas dari apapun yang sudah terjadi selama ini.

.

.

.

 

Sun Kyo masuk terburu-buru dengan selembar selimut wol yang tebal, kemudian menghampiri Shin Hye yang duduk di sudut dengan sangat menyedihkan—polos, gemetar dan penuh luka—lantas wanita itu cepat-cepat menangkupi tubuh mungil Shin Hye dengan selimutnya. Sebelumnya gadis itu cuma bisa meratapi nasib gadis muda itu dari gedung sebrang, tapi rupanya tidak sesederhana itu—terlebih setelah Yonghwa dan Siwon datang. Pelan, dipeluknya gadis itu yang tahu-tahu sudah sesegukan. Menguatkan rengkuhan, Sun Kyo berjongkok di sana dengan penuh rasa iba—berusaha sebisanya menyalurkan rasa hangat yang paling dibutuhkan gadis muda itu, sebelum akhirnya kesadarannya lenyap.

“Shin Hye-ssi!”

“Shin Hye-ah!”

“Park Shin Hye, irreona!!”

Dan setengah jam kemudian mereka sudah berkumpul di Seoul Hospital, berdiri khawatir di depan IGD sambil menekan dalam-dalam rasa khawatir yang berlebihan—membuang jauh-jauh berbagai pikiran buruk yang ada. Siwon berdiri disana, tak henti-hentinya memberikan dukungan pada Yonghwa. Hingga pada detik berikutnya seorang pria paruh baya yang beralut jas putih keluar dengan raut wajah yang sama sekali tak dapat diartikan.

“Keluarganya?” dia bertanya singkat.

“S—saya!” Jung Yonghwa cepat-cepat menanggapi, “Bagaimana keadaaanya, dok?”

“Sejauh ini baik-baik saja. Tidak ada luka dalam atau sejenisnya yang bisa mengancam keselamatannya, tapi…” ia terhenti, tampak memikirkan sesuatu.

“Tapi…apa?” Yonghwa mengulang pertanyaan itu, “Apa yang bisa terjadi padanya, dokter?”

Pria itu menarik napas dalam-dalam, menimbang sejenak apa yang akan disampaikannya, “Secara medis tidak ada yang salah pada tubuhnya, kecuali sedikit inveksi di alat vitalnya—dan seperti yang kita ketahui bersama, efek terbesar yang bisa terjadi adalah…”

“Mentalnya,” potong Sun Kyo pelan. “Secara medis pria bresngsek itu tidak melakukan tindak kekerasan yang membahayakan nyawa, tapi mengakibatkan beban mental yang sangat…sangat…—bahkan aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.”

“Anda bisa berkonsultasi dengan psikiater kami nanti,” dokter itu menarik napas lagi, “Aku permisi,”

.

.

.

 

Dan dengan langkah lambat Shin Hye mengekor tungkai panjang milik Yonghwa yang nampaknya lebih lambat, sehingga pada akhirnya mereka jalan beriringan menuju ke ruang rosse—salah satu ruangan dengan nuansa vintage, dipenuhi dengan pattern bunga-bunga dan ornamen cantik yang khas dengan perempuan—ruangan yang memang diperuntukan untuk Shin Hye dan Krystal.

Yonghwa kemudian berbalik, mendapati Shin Hye menatapnya lurus-lurus dengan tatapan sebal.

“Duduk dulu,” katanya, kemudian memanggil pelayan untuk menyiapkan teh, “Ini rumahmu juga, jangan berlagak seperti tamu…” pemuda itu terkekeh, masih ditatap dengan wajah kecut ala Shin Hye.

Dan wanita itu kemudian duduk, “Aku cuma mau mepertanyakan Krystal Jung, tidak lebih dan tidak kurang.”

“Aku tahu.” Singkatnya, “Dan aku cuma mau meluruskan semua permasalahan yang terjadi diantara kita, baik yang kau sadari maupun tidak.” Jung Yonghwa terhenti, menatap netra Shin Hye lurus-lurus.

Lalu adegan berikutnya adalah tentang kedatangan dua cangkir teh dan beberapa cemilan, di ikuti dengan perginya dua pelayan yang tadi sempat heran sejenak—rupanya ini mirip seperti rahasia umum di dalam rumah Yonghwa, atau sesuatu seperti itu.

“Jadi?” Yonghwa membuka percakapan lagi.

Shin Hye enarik napas, “Ke-ma-na Krys-tal?”

Dia menarik otot-otot wajahnya untuk bertanya.

It’s over, Shin Hye-ah,” tukas Yonghwa serius, “Ini benar-benar sudah berakhir, dan sudah waktunya kau menghentikan permainan konyol ini.”

“Apa?”

“Awal kedatangan Krystal adalah untuk membantumu keluar dari masalah ini, bukannya sebagai tameng yang melindungimu di dalam zona nyaman.” Yonghwa membuka penjelasan, “Dan kau sudah terlalu lama berada di dalam tameng zona nyaman yang Krystal berikan—pun fungsi sebenarnya bukan itu…kau cuma harus memberanikan diri, keluar dari sana dan datang padaku.”

“Kau tidak mengerti,” katanya, “Krystal bukan tameng dari zona nyaman atau apapun itu. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti aku!”

“Dengan hubungan setidak sehat itu, maksudmu?”

“Persetan!” suara Shin Hye meninggi, “Kalau kau sebegitu tidak bisanya menerima diriku yang sekarang, maka….” gadis itu terhenti sejenak, “Lebih baik kita berpisah saja. Akhiri semuanya sekaligus.”

Yonghwa menarik napas panjang, “Shin Hye-ah, itu tidak menyelesaikan masalah.”

“Kau yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah!” serunya, “Yang aku mau cuma Krystal, itu saja!”

Dan tepat setelahnya Shin Hye berbalik, berniat meninggalkan Yonghwa dengan sisa-sisa kekesalan pemuda itu. Dan tepat setelahnya pula Yonghwa bangkit, menarik cepat lengan atas Shin Hye hingga wanita itu berbalik, menahannya sejenak.

“Aku tahu bahwa kau cuma terlalu takut, dan Krystal cuma tempat persembunyian teramaan bagimu—tak bisakah aku saja yang menjadi tameng itu?” air muka Yonghwa berubah sendu, menatap serius pada sepasang netra Shin Hye yang kebingungan, “Aku akan jadi apapun yang kau inginkan, apapun. Aku akan melindungimu dari ketakutan itu, membalaskan dendam pada manusia-manusia brengsek itu, menjadi alasan yang merengkuhmu di zona nyaman—atau apapun itu.”

Hening.

“Tak bisakah itu aku?” Yonghwa masih menatap Shin Hye lekat-lekat, memperdalam tatapannya hingga semakin intens pada wanita pujaannya—orang yang sama sekali tak pernah bisa membuat Yonghwa mengurangi secuilpun rasa cintanya pada gadis itu…dia Park Shin Hye.

“Aku, Jung Yonghwa, tak pernah sedikitpun mengurangi rasa cintaku padamu—terlepas dari apapun yang kau lakukan selama ini, atau apapun yang pernah terjadi dimasa lalu.” Ucap Yonghwa lagi.

Shin Hye mendengus, masih dengan pendiriannya, “Aku-cuma-mau-Krystal-kembali-titik.”

“Apakah kau sudah selesai mencuilnya sedikit demi sedikit, Shin Hye-ah?” dia berkata sakartis, sama sekali tidak seperti Jung Yonghwa, “Rasa cinta itu—apa kau benar-benar sudah membuangnya selama berhatun-tahun belakangan?”

Shin Hye bergeming, kemudian mengerjap beberapa kali. Nampaknya kata-kata Yonghwa barusan sudah menyadarkannya dari pengaruh aneh yang sedari tadi melingkupi dirinya, yang sebenarnya dia pun tahu bahwasanya apa yang dia lakukan sema ini cuma pelarian. Pelampiasan atas semua rasa sakit yang diterimanya.

“Kau tahu kalau itu tidak benar.” Tukasnya, “Tapi aku benar-benar tidak bisa, Yong…” dia melunak.

Yonghwa tidak mengucapkan apapun, cuma berdiri disana dan menunggu kalimat berikutnya.

“Rasanya aku sudah pergi terlalu jauh, kabur tanpa arah hingga aku benar-benar menemukan kalau diriku sudah tersesat—jatuh ke dalam lubang hitam yang menyedot seluruh diriku ke dalamnya, dan ketika aku menyadarinya…aku benar-benar tak bisa kembali.” Dia mencoba menjelaskan, “Aku benar-benar jatuh dalam pesona Krystal Jung, terlepas dari apa yang kurasakan padamu itu masih sama…namun rasanya aku benar-benar tidak bisa kehilangan dia. Kumohon, Yong….”

Sepersekian detik berikutnya hati kecil Yonghwa mencelos, lututnya lunglai seolah seluruh tulangnya luruh begitu saja. Jawaban Shin Hye benar-benar diluar dugaannya.

.

.

.

 

“Jadi apa yang terjadi padanya, dok?”

Jung Yonghwa menunggu dengan perasaan was-was, menerka-nerka apa ayng akan terjadi pada Shin Hye. Sejujurnya ia agak khawatir—mungkin kelewat cemas lebih tepat—karena sudah seminggu belakangan ini gadisnya menunjukan tanda-tanda psikologis yang kurang baik. Sejenis trauma tapi rasanya bukan itu. Yonghwa sedikit tahu karena pernah mempelajarinya saat membantu kakak kelasnya ujian dulu.

Dokter muda itu tampak menatap Yonghwa takut-takut dari balik lensa kaca matanya. Rambutnya yang terurai sebahu tampak dengan gugup diselipkan kebelakang daun telinga—jelas sekali kalau dia gugup.

“Maaf, ini hari pertamaku,” pelannya, “Dan ehm…soal pacarmu—ehm, maksudku nona Park…kau benar-benar harus menjaganya setelah ini. Apa kau sanggup?”

Yonghwa menarik napasnya dalam-dalam. Dokter muda dengan setelan jas putih yang masih tampak baru itu benar-benar tidak menyakinkan—terlepas dari kenyataan bahwa IQ-nya sangat tinggi dan dia adalah lulusan terbaik dari NIMH (National Institue of Mental Health)—kecuali mengingat kalau ia masih membutuhkannya demi Shin Hye.

“Apapun yang terjadi, aku sudah siap menerimanya.”

“Dia mengalami Post Traumatic Stress Disorder—atau biasa dikenal dengan PTSD” ia menarik napas, “Dari gejala-gejala yang sudah muncul pasien akan mengalami sindrom kecemasan, liabilitas otonomik, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman buruk yang baru saja dialaminya. Ini berlaku juga pada gangguan mimpi buruk dan perilaku—sangat memungkinkan baginya untuk mengalami tekanan bahkan sampai depresi…”

Yonghwa menjatuhkan kepalanya begitu saja di atas meja, membiarkan rahangnya terjun bebas hingga menganga. Sepertinya takdir masih ingin bermain-main dengannya.

“Aku sangat menyarankan untukmu mencarikan seseorang yang tidak membahayakan untuknya—dalam kasus ini adalah wanita—dan dia bisa di kontrol, sehingga kau dapat memantau perkembangannya.”

Ketahuilah, demi apapun—ini adalah awal yang mempertemukannya dengan Krystal Jung.

.

.

.

 

“Yong-oppa?”

Suara Krystal terdengar sangat pelan—terlalu pelan. Dan Yonghwa sama sekali tidak mengira bahwa dia akan sebahagia ini ketika bertemu dengan Krystal Jung lagi. Mungkin ini adalah efek karena apa yang sudah dilakukannya bertahun-tahun lalu. Dia, Jung Yonghwa sudah menjerumuskan seorang gadis muda kedalam situasi yang orang bilang lingkaran setan—tentu saja, ini terkait dengan hubungannya terhadap Shin Hye. Mereka lebih dari sekedar kakak beradik, walaupun cuma Shin Hye yang menganggapnya begitu, mungkin.

“Aku mengajakmu bertemu disini bukan tanpa alasan, kau tahu?”

Yonghwa tidak menjawab, cuma mengganguk santai.

“Ada hal yang ingin kubicarakan,” tukas Krystal lagi, “Ini serius.”

Yonghwa menegakan duduknya, siap mendengarkan apapun yang akan diucapkan Krystal.

“Aku cukup yakin kalau oppa tahu jelas bahwa aku sangat menyayangimu—sama persis seperti Jessica dan Shin Hye uunie,” dia membuka percakapan, “Kumohon, Yong oppa, hentikan balas dendamu pada Kai sekarang.”

Oke. Yonghwa sukses terbelalak—tak ada kata yang lebih tepat dari itu untuk menggambarkan keterkejutannya, terlebih karena pengendalian diri orang itu lebih dari kata excellent—mungkin hampir perfect—hingga ucapan Krystal tak cukup untuk membatnya terlonjak dari kursinya.

“Aku tidak bisa.” Singkatnya, “Ini hampir selesai.”

“Apanya?”

Yonghwa menarik napas, “Maaf Krys…”

“KAI SUDAH KEHILANGAN SEGALANYA!” Krystal meledak, ia terlonjak dari kursinya, “Sudah tiga tahun terakhir dia menjalani hidupnya seperti orang tolol—yang bahkan mengeja namanya sendiri pun tidak becus! Dan kau…kakak yang paling ku sayangi baru saja merenggut miliknya yang terakhir—kau mengambil K-S corp. dari orang cacat.” Ia terhenti menarik napas, “Apa kau tidak malu, oppa?”

“Itu sebanding.” Singkat Yonghwa, rahangnya mengeras, “Aku cuma mengambil apa yang berharga baginya, itu pun tanpa melukai harga dirinya.”

Hening.

“Kalau kau ingat, aku pernah menceritakan kisah ini padamu. Tentang seorang gadis lugu yang harga dirinys terkoyak hingga hancur tak berbentuk—gadis itu adalah Shin Hye, dan yang menelannya bulat-bulat adalah Kai. Bukankah hidup ini lucu?” Yonghwa terkekeh, “Aku mendapati adik ku geram karena manusia sesampah Kai, padahal bertahun-tahun yang lalu orang biadab itu sudah puas menginjak ku di bawah kakinya. Dia menggilir Shin Hye ramai-ramai, hingga akhirnya ia jadi seperti itu—itupun kalau kau masih bisa menerimanya.”

Kali ini mata Krystal yang terbelalak sempurna.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dan setelah pertemuan singkat dengan Krystal, Yonghwa memacu langkahnya buru-buru—menekan kasar tombol otomatis alarm Porsche merahnya kemudian melesat cepat ke kediaman mewahnya. Baru saja lelaki itu menadapat telepon yang begitu mengejutkan—mungkin terlalu mengejutkan hingga detak jantung Yonghwa bahkan sempat berhenti sesaat. Dengan lincah tangan Yonghwa mengganti persneling, telapak kakinya menginjak pedal gas kuat-kuat dan tangannya lincah memegang kemudi sementara pandangan dan fokusnya tercurah sepenuhnya pada jalanan.

Pun setelah usahanya yang paling maksimal Yonghwa masih gagal. Tepat ketika mobilnya dengan mulus memasuki pekarangan rumah, sesuatu melompat—menghantam kuat kaca depan mobil hingga bersimbah darah. Kemudian seutas tali pengikatnya seperti terpental, sekaligus menjerat. Baru saja, tepat di depan mata kepalanya sendiri, Jung Yonghwa menyaksikan istrinya tewas bunuh diri—dengan cara yang kelewat tragis.

ooOoo

 

 

 

Epilog,

Ini masih pagi. Jam baru menunjukan pukul sembilan lewat lima belas menit, dan aktivitas di kota Seoul masih jauh dari kata lengang. Di tepi jalanan Myeongdong, Jung Yonghwa menyandarkan tubuhnya—bertumpu pada sebatang besar pohon ek yang mencuat rindang di pinggir jalan. Kakinya terasa agak lemas setelah ia memutuskan untuk kembali dari pemakaman dengan berjalan kaki. Ini sudah memasuki tahun kedua, dimana pemuda itu masih terlarut dalam kesedihannya atas kepergian Shin Hye. Dan semuanya sudah berakhir. Benar-benar berakhir untuk seorang Jung Yonghwa.

 

 

Geuriwo geuriwoso, geudaega geuriwoso

Maeil nan honjaseoman geudaereul bureugo bulleobwayo

Bogopa bogopasseogeudaega bogopasseo

Ije nan seupgwacheoreom geudae ireumman bureuneyo

Oneuldo….

 

 

Nyanyian itu mengalun lembut, menggelitik rungu Yonghwa dengan warna suara yang berbeda dari biasanya. Dia memang cukup sering melewati kawasan ini, mendengar para musisi jalanan bernyanyi lantas melanjutkan perjalanannya pulang—bahkan lelaki itu hafal liriknya terkadang. Yang satu ini cukup berbeda, dan Yonghwa tahu persis itu. Sialnya, lagu yang dibawakan orang itu terlalu menggambarkan isi hatinya yang penuh akan kerinduan yang meradang terhadap… Shin Hye.

“Anda tidak berniat mengisinya?”

Nyanyian tu tiba-tiba terhenti, dan tiba-tiba juga muncul seorang gadis muda menodongkan kantung uang di depannya. Dia tampak manis dengan setelan jumpsuit berbahan jeans belel dan kaos putih bergaris dan rambut kuncir kuda, matanya tidak terlalu besar tapi membuatnya tampak imut. Oke, sepertinya lelaki Jung itu sudah terlalu lama bernostalgia tadi. Yonghwa tersenyum tipis, kemudian mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari sakunya untuk mengisi kantung uang gadis itu.

“Anda tengah memikirkan sesuatu?” ia bertanya lagi, “Anda bisa meminta satu lagu sebagai hadiah.” tidak kalah sopan dengan pertanyaan teguran yang tadi, membuat Jung Yonghwa keheranan.

“Kau tidak pergi kesekolah?” pemuda itu bertanya langsung.

Lantas mata sipitnya melebar, “Astaga, audisinya!”

Dan sejurus kemudian gadis itu mengambil ancang-ancang, bersiap menggunakan jurus kaki seribu—entah audisi apa yang baru saja di ributkannya tadi. Apa dia mau masuk sekolah seni? Atau justru audisi pencarin bakat? Dia ingin jadi idol? Entahlah. Yang jelas tiba-tiba saja Jung Yonghwa menahan lengannya cepat-cepat.

“Eh?”

Pemuda itu terkekeh, bingung sendiri dengan refleksnya yang berlebihan.

“Ada apa?”

Pemuda itu menarik napas, “Kau berhutang satu lagu padaku, oke?”

“Ah…” ia mendesah, seperti menyesal baru saja memberikan kesempatan pada pria di depannya untuk merequest satu lagu, “Anda bisa datang lagi besok dan cari Ahn Minji, oke?”

Yonghwa terkekeh, “Ahn Minji, ya?” dan sejurus kemudian dia mengamati sekitarnya dengan canggung, “Astaga, apa aku baru saja menggoda anak SMA?”—yah, itupun kalau gadis muda yang tadi benar-benar anak SMA.

-END-

 

 

 

 

Halo WAO, lumayan senang akhirnya bisa menyelesaikan seri ini sebelum akhir tahun—meskipun aku tau ini termasuk dalam kategori sangat lama. Tapi tenang, ini masih belum bisa di bandingkan dengan rekor terlamaku—yaitu menghiatuskan FF sampai masuk hitungan satu tahun tiga bulan. So, jangan khawatir…selama aku masih di support siwon dan punya banyak ide, pasti ku lanjut.

Dan sebenarnya ini absurd. Sejak awal konsepnya adalah begini: hubungan antara Krystal & JungShin >> Krystal di buat kesan jd pengganggu rumah tangga orang padahal engga >> ternyata Krystal sama Shin itu hubungannya yuri (silahkan tanya gugel ajushi) >> penyebabnya adalah Kai >> setelah bertahun-tahun Krystal mulai gak nyaman, karena dia jelas pacarnya Kai dan akhirnya berhenti >> Yonghwa balas dendam sama Kai >> ternyata Kai punya masalalu sbg orang brengsek >> dan karena Krys berhenti Shin ga bisa terima kenyataan lalu bundir (btw cara dia mati itu aku sempat kebayang adegan webtoon yang ‘the call’ atau ‘creep’ gitu, lupa) >> endingnya aku perhalus dengan membuat kesan yang baik bagi WAO. Actually, aku ada rencana menghubungkan ini ke SHS—berhubung karakter Yonghwa udah aku keluarin juga.

Sepertinya cuma itu sih yang terpikirkan. Yang terpenting adalah… HUTANGKU LUNAS (cap stempel) wkwkwkwkwkwkwkwk……….!!! and Marry Christmast!

Advertisements

13 thoughts on “[Chapter 3 – END] Despicable Me

  1. akhirnya baca juga part 3 nya…stlah baca ini kok kurang puas ya thor…maaf sblumnya. sprti ada ssuatu yg blm jlas dan blm slesai. disini gk dijlasin dtil hubungan yonghwa dan kristal yg mnurut org adalh kaka adik tp tdk mnurut mreka brdua. mnurutku jg di part sblumnya. nah itu blm jlas spnuhnya. kyk msih samar2. masih bntuk bayang2. memang mksud author kh utk ttp jd rahasia dan pmbaca yg mnyimpulkannya atau gmn saya tak tau. jujur kurang dpt fellnya krn sprtinya trburu2 alurnya. tpi….ku ttap suka pnulisannya. rapi gk trlalu byk typo. eksplore prasaan tokoh masing2nya jg sgt trasa. dan didlmnya ada psan yg kutangkap sih :-).lalu akhirnya bkn jdi yongshin krn tokoh wanita utamanya ganti di ending. next yongshinnya fighting ya thor…mian kbyakan kritik…smoga tk marah…:-)smoga mmbangun 🙂

    • Halo kirana^^ makasih krn langsung baca^^ eum sebetulnya chapter ini memang di buatnya buru2 pengen cepet2 selesai ff ini.. dan krn udh kelamaan emang di aku feelnya juga agak hilang… soal hubungan krystal yonghwa itu aku mengasumsikan pembaca juga menganggap kalau mereka cuman kakak adik… dan endingnya emang agak maksa 😂😂😂 terimakasih sudah membaca^^ see you at the other stories~!

  2. Aku membacanya hingga akhir… Endingnya bikin speechless. Tp memang yg namanya PTSD susah utk disembuhin, tp (lagi) sptnyabitu juga krn terapi yg salah sampe shinhye jadi menyimpang. Tp bagian yg paling aku suka adalaaaaahhh….. Jengjengjengjeng

    .

    Ahn Min Ji terlihat spt berakhir dg Yong Hwa. Huakakak… Asli kak bikinin cerita sendiri dong ttg epilog itu. Ini semua salah kakyuns krn bikin epilognya begitu. Kakyuns…. Jebal…. Bikinin cerita lanjutannya lagi….. Pliss kak…..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s