[Oneshoot] Happiness

L.joo.jpg

Scriptwriter Oyewyn. K|| Poster Designer L.Joo @ IFA || Genre Romance, Fluff, and Marriage Life || Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Actress’ Park Shin Hye || Disclaimer This is original from our mind. No plagiarsm! No Silent readers!

~Story Begin~

Pernikahan adalah impian setiap individu yang memiliki subjek untuk dicintai dan menjadi objek untuk dicintai. Pernikahan menandakan bahwa rasa cinta yang dimiliki adalah rasa cinta yang sejati dan abadi, seharusnya tidak memiliki kata akhir. Ya, karena pernikahan adalah bukti bahwa mereka siap untuk hidup bersama selamanya, sampai ajal menjemput.

Kehidupan pernikahan seharusnya bahagia, meskipun pasti ada gelombang – gelombang kecil yang mengiringinya. Tapi pernikahan seharusnya sekeras batu, tak dapat pecah begitu saja. Tak dapat terkikis dengan mudah. Karena pernikahan harus dijalani oleh dua insan yang sudah dewasa. Mau mengalah, mau berbagi, dan tentu saja mau mengerti satu sama lain.

Hal ini karena pernikahan bukanlah sebuah permainan yang bisa ditinggalkan begitu saja. Jika hal itu terjadi maka pastilah akan ada pihak yang tersakiti. Akan ada pihak tak bersalah yang harus menanggung akibatnya.

Hoeekk….hooeekk.” Seseorang memuntahkan cairan hasil cernaan makanan yang telah ditelan sebelumnya. Entah mengapa hal ini sudah terjadi selama beberapa hari. Ia bahkan sudah memeriksakan dirinya ke dokter, tapi hasilnya nihil. Tubuhnya sungguh normal tanpa ada satu hal aneh sekalipun.

“Yong-ah, kau tidak apa – apa?” Seorang wanita bertanya sambil terus memijat pelan tengkuk sang suami.

Setelah selesai memuntahkan semua makanan yang susah payah dikunyahnya, Yong Hwa dituntun Shin Hye untuk berbaring di ranjang. Keadaan pria itu sungguh kasihan wajahnya sangat pucat dan tubuhnya pun sangat lemas, tak ada tenaga sama sekali bahkan hanya untuk berbicara. Setelah itu Shin Hye pergi ke dapur untuk membuat teh lemon dengan tambahan daun mint untuk meredakan rasa mual pria dewasa itu. Sesungguhnya Shin Hye merasa iba pada prianya itu yang sudah beberapa hari ini selalu muntah – muntah tanpa alasan yang jelas. Karena keadaan inipun akhirnya Shin Hye memutuskan untuk menghubungi mertuanya dan melaporkan keadaan Yong Hwa.

“Ini minum dulu, sebentar lagi eommonim akan datang untuk melihat keadaanmu.” Dia mengangkat sedikit tubuh Yong Hwa untuk membantunya minum. Dan kemudian Yong Hwa tertidur karena rasa lemas yang menderanya, tersisa Shin Hye yang duduk di sebelahnya sambil menggenggam erat tangan pria itu.

Ting. Tong.

Seseorang membunyikan bel apartement mereka, bisa ditebak dengan pasti itu adalah Nyonya Jung. Dengan gesit Shin Hye mnghampiri pintu untuk menyambut kedatangan ibu mertuanya.

Eommonim, sudah datang rupanya.”

“Dimana Yong Hwa?” Senyum hangat berkembang di wajah wanita paruh baya itu, tersirat rasa khawatir di sana.

“Dia sedang tertidur di kamar, sangat lemas.” Shin Hye mengajak mertuanya itu ke kamarnya dengan Yong Hwa.

Nyonya Jung segera memeriksa keadaan putra sematawayangnya itu dan lagi – lagi tak ada keanehan pada tubuh Yong Hwa, semuanya stabil. Hal ini membuat Nyonya Jung teringat pada dirinya dulu sewaktu mengandung Yong Hwa, sama persis dengan yang terjadi pada Tuan Jung. Ini menimbulkan rasa curiga Nyonya Jung pada Shin Hye karena keadaan wanita itu sangat baik, bahkan terlihat agak gemukan.

“Hye-ah, bagaimana pola makanmu belakangan ini?” Interogasi mulai dilakukan oleh Nyonya Jung.

“Sangat baik, aku makan dengan banyak belakangan ini sampai – sampai berat badanku meningkat.”

“Lalu, bagaimana dengan siklus haidmu?”

“Siklus haid? Tunggu dulu… aku belum haid bulan ini.”

“Kau sudah mengecek kehamilan?”

“Belum eomonim, apa mungkin aku…. hamil?”

Kedua wanita itu akhirnya membeli alat pemeriksa kehamilan—testpack, dan benar saja hasilnya positif. Saat ini Shin Hye sedang mengandung, entah berapa usia kandungan itu tapi yang pasti intuisi Nyonya Jung sangat tepat. Ya, tentu saja karena ia pernah mengalaminya. Ayah Yong Hwa mengalami gejala ibu hamil seperti saat ini ia mengalami morning sickness.

Kedua wanita itu sangat bahagia dan tak sabar untuk menyiarkan kabar gembira ini pada kerabat dekat mereka dan tentunya Yong Hwa harus menjadi orang pertama yang mengetahui kabar menakjubkan ini. Berhubung mood kedua wanita itu sangat baik, hari ini mereka membuat segala sesuatu dengan cermat dan sempurna tanpa satu kekurangan apapun.

Denting alat masak menjuru ke seluruh ruangan di apartement pengantin dengan usia pernikahan dua tahun itu, tentu saja suara itu juga mengusik Yong Hwa yang sedang beristirahat. Penasaran dengan suara ramai itu Yong Hwa pun keluar dari kamarnya menuju sumber suara. Tepat di depan matanya ia melihat kolaborasi antara dua orang wanita yang ia cintai, sang istri dan ibunya. Kedua wanita itu sibuk memasak dan menyiapkan meja makan, sedikitnya hal ini membuat satu – satunya pria di tempat itu penasaran sekaligus heran dengan senyum lebar yang terpatri jelas di wajah kedua wanita beda zaman itu.

“Yong-ah, kau sudah bangun? Ada yang kau perlukan?” Istrinya menjadi orang yang pertama menyadari kehadirannya di ruangan itu.

Yong Hwa hanya menggeleng pelan dengan senyum lemahnya.

“Putraku, kau sudah merasa baikan?” Kini ibunya memberi perhatian kecil, mengusap wajah pria dewasa itu dengan kasih sayang yang tak pernah berubah sejak ia kecil.

Kali ini Yong Hwa mengangguk pelan dengan senyum lemahnya. Kemudian ia beranjak menuju sofa di ruang tamu. Menyenderkan kepalanya yang masih terasa sedikit berputar dan perut yang sedikit mual.

Ige, aku buatkan teh herbal untukmu. Mianhe karena aku tak dapat berbuat apapun atas rasa mualmu itu.” Shin Hye menyajikan teh herbal yang diseduhnya dari racikan teh sang ibu mertua.

Yong Hwa pun kini merasa sedikit lebih nyaman karena teh herbal yang diracik oleh ibunya. Karena mood-nya kini membaik ia pun mulai bisa berkomunikasi dengan dua wanita beda zaman itu. Ibu Yong Hwa tak dapat menyembunyikan raut wajah kegembiraannya atas berita menakjubkan yang baru saja didapatkannya. Tentu saja hal ini membuat tanda tanya besar dalam pikiran Yong Hwa, ini seperti ibunya senang karena Yong Hwa sakit. Tapi Yong Hwa sadar hal itu sangat mustahil terjadi buktinya ibunya meracik teh herbal untuk dirinya.

Eomma, kenapa sedari tadi tersenyum lebar seperti itu?”

“Tentu saja eomma sedang bahagia. Neomu haengbokhe.” Senyum tiga jari menghiasi wajah Nyonya Jung.

Eomma senang melihatku sakit?”

Aniyo, ibu mana yang senang melihat putranya sakit. Biar Shin Hye yang menjelaskannya.” Ibu Yong Hwa melambaikan tangannya, menyangkal pernyataan Yong Hwa.

Yong Hwa pun mengalihkan pandangan bertanyanya pada Shin Hye. Tanpa menunggu pertanyaan keluar dari bibir Yong Hwa, Shin Hye terlebih dulu melontarkan dua kata ajaib.

“Aku hamil.” Wanita yang kini tengah hamil muda itu tersenyum lebar, terlihat sangat bahagia. Akan tetapi tanpa ada yang menyadari ada sedikit rasa kekhawatiran di wajah cantiknya. Entah apa itu, tidak ada yang tahu.

Menjadi seorang ayah adalah impian bagi setiap suami. Hal ini tentu saja berlaku juga bagi Yong Hwa, bahkan calon ayah itu tak bisa berkata – kata atas kabar yang sangat sangat baik itu. Yang dilakukannya hanya melangkahkan kakinya menuju Shin Hye dan memeluk wanita itu erat, berulang kali mengecupi puncak kepala istrinya penuh sayang. Berulang kali juga ia membisikkan kata terimakasih pada Shin Hye. Dia bahagia, sangat bahagia. Bahkan ia melupakan rasa mual yang menderanya sedari tadi. Kabar gembira itu bagaikan oasis di padang gurun, penyejuk dahaga di tengah dehidrasi.

Hooeekk… hooeekk…Morning sick yang dialami Yong Hwa tak kunjung pergi. Ini karena kehamilan Shin Hye belum keluar dari masa tri semester awal.

Melihat Yong Hwa harus seperti itu setiap pagi membuat Shin Hye sedih bahkan cenderung menyalahkan dirinnya.  Seperti saat ini, wanita yang tengah hamil muda itu berdiri mematng di balkon kamarnya memandang jauh namun dengan tatapan kosong. Hanya suaminya yang mengerti apa yang sedang dilakukannya saat ini. dan hal ini tentu saja  juga membuat Yong Hwa merasa khawatir.  Calon ayah itu tak perah merasa ada masalah dengan morning sick yang dialami belakangan ini, ia menganggap ini sebagai perjuangan awal menjadi seorang ayah. Jujur saja, bahkan Yong Hwa beryusukur karena yang mengalami morning sick adalah dirinya, apabila ini dialami oleh Shin Hye dia sangat yakin tak akan bisa bernapas melihat wanita tercintanya itu memuntahkan cairan tubuhnya sangat banyak. Itu sangat menakutkan baginya, lebih menyakitkan dari api neraka.

Setelah sedari tadi hanya mampu memandangi tubuh wanita usia 27 tahun itu Yong Hwa pun memeluk wanita berstatus istrinya itu dari belakang, mendistribusikan kehangatan cintanya

“Kau melakukannya lagi.” Suara lembut pria itu memenuhi ruang pendengaran Shin Hye.

Tak kunjung mendapat respon dari orang yang dipeluknya Yong Hwa pun memutar tubuh Shin Hye menghadapnya.

Nan gwenchanayo. Jeongmal gwenchana.” Tatapan dalam terarah pada iris mata cokelat milik Shin Hye, berusaha meyankinkan Shin Hye bahwa dia sangat baik – baik saja dengan keadaan saat ini.

“Ini hanyalah perjuangan kecil yang harus kulakukan untuk anak kita, tak bisa dibandingkan dengan perjuangan yang akan kau lakukan saat melahirkannya nanti. Jadi kumohon jangan menangis lagi, jangan pernah menyesal karena kau hamil. Aku mencintai kalian seumur hidupku. Morning sick ini bukanlah apa – apa.” Setelah mengatakan itu Yong Hwa memeluk erat tubuh Shin Hye. Mencoba menenangkan wanitanya itu.

Acara sendu di pagi hari sudah berakhir kini mereka berdua siap memulai aktifitas masing – masing. Yong Hwa berangkat untuk memulai lagi pekerjaannya sebagai ujung tombak JP Group, sementara Shin Hye dia tak lagi bekerja karena Yong Hwa tak mengijinkannya. Yang kini Shin Hye lakukan hanyalah aktifitas yang baik untuk ibu hamil seperti pelatihan menjadi ibu baru, senam hami, dll. Hanya saja di siang hari ia akan mengantarkan makan siang untuk Yong Hwa, ia harus tetap menjadi istri yang baik.

Shin Hye mengantar kepergian Yong Hwa hanya sampai di depan pintu apartement mereka. Bukan karena ia tak mau mengantar Yong Hwa sampai ke lobby, tapi lagi – lagi itu adalah larangan dari suami tercintanya.

“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik – baik dan selalu ingat untuk mengabariku.” Diakhiri dengan ciuman kilat di bibir dan perut rata Shin Hye.

“Tanpa aku kabaripun kau akan selalu meneleponku sejam sekali. Hati – hati dijalan!”

Kemudian Yong Hwa benar – benar pergi bekerja meninggalkan Shin Hye sendiri di apartement mereka. Sepeninggal suami tercintanya itu Shin Hye melakukan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia mulai merapikan apartement mereka yang sebenarnya tak terlalu berantakan, tapi ia selalu membereskan apartementnya setiap pagi selepas Yong Hwa berangkat. Sudah menjadi kebiasaan Shin Hye untuk selalu membereskan segala sesuatu yang dinilai sebagai miliknya sejak sebelum ia dinikahi oleh Yong Hwa.

Kini Shin Hye siap untuk pergi ke kelas ibu hamil, di sana ia akan mempelajari berbagai hal sebagai persiapan untuk menjadi ibu muda. Apalagi ia akan melahirkan anak pertama, hal ini tentunya menjadi to do list teratas miliknya. Di sana ia sudah memilik beberapa teman yang sama – sama menjalani kehamilan pertama, yang berbeda hanyalah kandungan mereka jauh lebih besar daripada kandungan Shin Hye yang baru berusia satu setengah bulan.

“Baiklah wanita – wanita seksi, kita siap memulai kelas hari ini.” Seorang instruktur berbicara menggunakan sebuah microphone yang tergantung di telinganya.

Para ibu hamil yang disebut sebagai wanita seksi itu pun mulai menempati meja dan kursi masing  – masing. Hari ini mereka akan berdiskuis mengenai pemberian ASI pada bayi.

“ASI adalah produk susu terbaik untuk anak kita, pemberian ASI sebaiknya diberikan pada bayi yang baru lahir hingga berusia satu sampai dua tahun dengan begitu anak tidak hanya menjadi cerdas tapi juga memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Selain itu tentu saja karena ASI adalah produk susu alami yang dihasilkan oleh ibu yang menyayangi mereka, jadi ASI adalah hak  yang pantas, layak, dan wajib didapatkan oleh bayi agar mereka dapat bertumbuh dengan baik.” Sang narasumber mulai membuka diskusi kelas hari ini.

“Bagaimana jika ASI tidak mau keluar?” Seorang wanita hamil besar mengacungkan tangannya tinggi.

“Kita bisa memijat pelan putting payudara kita, pijatan tersebut akan menjadi seperti signal bagi kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Hal ini juga bisa disokong dengan mengkonsumsi dedaunan herbal yang direbus lalu diminum, memang rasanya tidak enak tapi sangat berkhasiat untuk memperbanyak produksi ASI. Apabila hal tersebut tidak berguna silakan kalian melakukan konsultasi kepada dokter kandungan kalian.”

“Aku adalah seorang pekerja, bagaimana agar aku tetap memberikan ASI secara ekskulif dan teratur pada bayiku jika aku berada di kantor?” Yakinilah yang bertanya itu adalah seorang wanita pebisnis.

“Sebelum berangkat kerja kau bisa menampung terlebih dahulu ASImu di botol – botol susu, kemudian masukkan ke dalam kulkas. Atau jika tidak, sekarang banyak jasa yang dapat mengambil dan mengantar kebutuhan ASI bayimu jadi kau bisa menggunakannya dengan mudah tanpa takut harus ada yang mengalah antara kebutuhan anak dengan pekerjaan. Akan tetapi akan lebih baik jika kau bisa memberikan secara langsung ASImu kepada anakmu itu akan semakin memperat ikatan batin antara ibu dengan bayinya.”

Setelah diskusi lebar itu berakhir Shin Hye kembali diantar pulang oleh supirnya untuk menyiapkan bekal untuk Yong Hwa. Mungkin beberapa orang akan berpikiran bahwa yang dilakukannya itu hanya buang – buang waktu karena pulang terlebih dahulu, masak, dan kemudian kembali pergi untuk mengantar bekal ke kantor suaminya. Tapi yang pasti Shin Hye tak memedulikan apa yang dikatakan oleh orang lain, dia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk orang – orang yang dicintainya.

Sambil bersenandung kecil Shin Hye sibuk dengan sejumlah peralatan masak yang digunakannya. Dentingan antar alat masak menjadi alunan musik tersendiri yang mengiringi acara memasaknya. Tanpa ada kesulitan apapun dengan sangat lincah calon ibu itu memotong, mengaduk, menggoreng, dan berbagai macam kegiatan kecil memasak yang saat ini sedang dia lakukan. Kemudian makanan – makanan itu di masukkan ke dalam kotak bekal, ia membuat tiga buah kotak bekal. Satu untuk suaminya, satu untuk supir yang selalu setia mengantarnya kemanapun dan kapanpun, dan yang tersisa itu untuk Kang Min Hyuk.

“Mari nyonya, saya bantu.” Supir yang setia itu meminta dengan sopan kotak bekal yang ditenteng oleh Shin Hye.

Ahjussi¸bawa yang ini saja.” Satu kotak bekal diberikan pada supir bermarga Goo itu. “Itu bekal untuk ahjussi yang selalu setia mengantarku.” Senyum lebar merekah di wajah cantik Shin Hye.

Ghamsahamnida, seharunya nyonya tidak perlu melakukan hal ini.” Pria tua itu tersenyum hangat pada majikan yang seusia putri kandungnya.

“Itu karena ahjussi terlihat semakin kurus. Jika ahjussi tidak mau makan masakan tidak enakku ahjussi harus bertambah gemuk.” Gurauan murah dilontarkan Shin Hye sopan, berakhir dengan tawa kedua orang beda jaman itu.

Kini kandungan Shin Hye telah memasuki bulan keempat dan waktu sudah menunjukkan bahwa Shin Hye harus segera kembali memeriksakan kesehatan dirinya dan kandungannya ke dokter. Mungkin ia kana melakukan pemeriksaan rutin itu besok atau lusa.

Dan entah kenapa Shin Hye terbangun, padahal waktu masih menunjukkan pukul 02.30 KST. Tepatnya wanita itu tiba – tiba merasa lapar dan menginginkan makanan khas Jepang, okonomiyaki. Shin Hye memandangi pria yang tertidur di sebelahnya itu, merasa enggan untuk membangunkannya. Tetapi dia benar- benar sangat mengingankan makanan itu dan merasa bahwa ia harus mendapatkannya saat itu juga.

“Yong Hwa-ya, ireona.” Pundak suaminya itu digoyangkannya.

“Sayang, ayo bangun.” Kini ia menghujani wajah Yong Hwa dengan kecupan manis.

Namun akhirnya Shin Hye merasa geram, sudah lima belas menit ia berusaha membangunkan pria yang tidur seperti orang mati itu tapi gagal. Hingga akhirnya terpikirkan satu cara jitu yang pasti akan membangunkan pria itu.

AAARRRGHHH!!!” Teriakan adalah cara jitu yang terpikirkannya. Dan benar saja, pria yang tadi seperti orang mati itu, kini terlihat seperti orang yang bangkit dari kematian. Bangun dengan mata melotot terkejut, terlihat sangat khawatir.

“Ada apa? Kau baik – baik saja? Mana yang sakit?” Dengan mata terbelalak dan nafas tersengal Yong Hwa bertanya dengan panik.

“Ini…” Shin Hye mengusap lembut perutnya yang mulai membesar.

Waeyo?” Pupil mata Yong Hwa melebar, menandakan kepanikan dalam dirinya.

“Aku lapar.” Shin Hye memasang wajah manjanya, itu jujur saja itu mampu membuat Yong Hwa luluh hanya dalam sepersekian detik.

“Ayo kita ke bawah aku akan membuatkan ramyun instan.”

Andwe! Aku mau okonomiyaki  buatan Min Ji. Dan…”

“Dan?”

“Aku ingin makan di rumah Min Ji.”

What?! Come on dear, sekarang jam dua pagi. Dan mayoritas orang sudah terlelap.” Yong Hwa menolak secara halus, pasalnya ini sudah kesekian kalinya permintaan Shin Hye seperti ini. Ia hanya merasa segan pada Min Ji walaupun wanita itu tidak akan pernah menolak keinginan Shin Hye. Akan tetapi meski begitu pada akhirnya Yong Hwa dan Shin Hye akan tetap pergi ke rumah Min Ji untuk merepotkan wanita yang masih berstatus lajang. Ya, lajang karena dia belum menikah akan tetapi tentunya sudah memiliki seorang kekasih yang dicintainya.

Dan di sinilah mereka sekarang, menunggu Min Ji membukakan pintu.Setelah menunggu kurang lebih selama lima menit akhirnya pintu terbuka dan mereka mendapat sambutan hangat dari Min Ji yang terlihat masih mengantuk.

Aah.. eonni, oppa ayo masuk dulu.”

Ketiganya pun memasuki dapur milik wanita muda itu sang wannita berbadan dua hanya duduk menunggu di meja makan sementara dua orang lainnya sibuk di dapur menyiapkan makanan yang dipesan wanita tengah ngidam itu.

“Ji-ah, maafkan Shin Hye. Kau tahu sendiri saat ini dia sedang hamil.”

Hahaha, oppa ini. Santai saja kau seperti berbicara dengan orang asing. Aku ini Ahn Min Ji, adik ketemu dewasa kalian.”

Setelah semua selesai Shin Hye akhirnya bisa menikmati makanan yang diidamkannya saat ini. Dengan lahap ia menyantap okonomiyaki buatan Min Ji yang dibantu oleh Yong Hwa. Tanpa menyisakan sedikitpun potongan ia melahap habis seporsi besar okonomiyaki yang seharusnya bisa disantap oleh dua orang. Ya, jangan lupa Shin Hye saat ini tengah berbadan dua. Ingat, DUA ada dua orang. Shin Hye dan sang janin dalam rahimnya. Selepas menontoni Shin Hye makan ketiganya beranjak menuju ruang tengah, berbincang ringan tentang segala hal remeh. Hingga tanpa disadari kini tinggal tersisa dua manusia yang memiliki kesadaran. Dan Shin Hye adalah orang yang telah kehilangan kesadarannya. Ia tertidur dengan posisi berbaring di lantai yang telah dilapisi karpet bulu yang hangat. Yong Hwa pun memutuskan untuk pulang ke apartement mereka. Pria tampan itu dengan penuh cinta membopong istrinya menuju mobil dibantu dengan Min Ji yang membukakan pintu mobil penumpang belakang.

“Kami pulang dulu. Maaf mengganggu.”

Ne, gwenchana. Oppa hati-hati membawa mobilnya. Sampai jumpa!”

Matahari sudah berada di puncak, dan jam menunjukkan pukul 12.30 WIB tapi semua orang di apartement ini masih tertidur nyenyak. Tentu saja karena hari ini adalah hari Sabtu, hari santai bagi kebanyakan orang dan penghuni apartement ini. Dan Yong Hwa akhirnya menjadi orang yang pertama terbangun karena panggilan alam memaksanya untuk bangun. Masih dengan wajah berantakan Yong Hwa keluar dari kamar mandi dengan wajah lega. Berjalan gontai sambil menggaruk perut dengan tangan sebelah kanannya, sementara tangan yang lain menggaruk kepala belakangnya. Kini ia akan membangunkan ratu tidurnya, Park Shin Hye.

“Hye-ah, ireona. Ini sudah siang ternyata. Ayo bangun, kita harus ke rumah sakit memeriksa bayi kita.” Yong Hwa menggoyangkan lembut bahu mulus Shin Hye.

“Jung Shin Hye ayo bangun.” Kecupan manis dihujani Yong Hwa pada wajah cantik Shin Hye.

Karena cara manis tak bisa membangunkan ratu tidur itu maka tiada cara lain selain cara yang satu ini. Yong Hwa membasahi tangannya dengan air dan mencipratkannya pada wajah Shin Hye. Dan entah bagaimana Shin Hye tak terbangun juga. Terpaksa Yong Hwa harus mengeluarkan senjata terakhirnya. Terlebih dahulu Yong Hwa menyiapkan persiapan. Kemudian membopong Shin Hye dengan bridal style menuju kamar mandi. Langkah terakhir, ia meletakan Shin Hye ke dalam bathup yang telah diisinya dengan air hangat. Pasti, Shin Hye terbangun dengan wajah terkejut.

Yya! Apa – apaan ini?!!” Dengan mata melotot ia berteriak pada Yong Hwa.

“Membangunkanmu. Sudah tiga puluh menit aku berusaha membangunkanmu dengan cara yang manis tapi tak berhasil.” Tanpa perasaan bersalah Yong Hwa menjawab amarah Shin Hye dengan sangat tenang.

“Kau mau mandi duluan atau ingin mandi denganku? Melihatmu basah membuat diriku panas. Kau tahu itu.” Kali ini godaan Yong Hwa menembus rungu Shin Hye.

“KELUAR!” Tolak Shin Hye penuh tekanan dan ketegasan.

Yong Hwa segera keluar dan tertawa terbahak – bahak. Ia sangat puas mengerjai Shin Hye, hal yang sudah lama tidak ia lakukan semenjak kehamilan Shin Hye. Sangat menyenangkan, seperti biasanya. Sementara Shin Hye mandi Yong Hwa memilih untuk menyiapkan sarapan sederhana ala orang Eropa, roti panggang dengan susu. Dan ia sudah sarapan terlebih dahulu karena harus gantian mandi dengan Shin Hye. Selepas Shin Hye mandi, ia memasuki kamar mandi. Tentu saja untuk mandi.

“Shin-ah, sarapanmu sudah ada di meja makan. Habiskan susumu itu!”

Ne!” Shin Hye membalas teriakan dari Yong Hwa yang kini berada di kamar mandi.

Setelah semuanya siap mereka pun pergi menuju rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pada kandungan Shin Hye yang kini berumur empat bulan. Pemeriksaan ini sangat membuat Shin Hye berdebar, pasalnya ini adalah kali pertama sejak ia mengetahui bahwa dirinya tengah hamil.

“Park Shin Hye-ssi.” Seorang perawat memanggil nama Shin Hye, pertanda bahwa ini adalah giliran Shin Hye untuk menjalani pemeriksaan.

Sambil menggenggam erat tangan suaminya ia memasuki ruangan dokter. Tak disangka bahwa dokter yang akan menjadi dokter  kandungan Shin Hye adalah seorang pria muda yang tampan, melihat hal itu kegugupan Shin Hye terbang bersama angin. Genggaman tangannya pada sang suami terlepas secara natural sedangkan Yong Hwa yang menerima perlakuan tersebut merasa cemburu.

“Nyonya—“

“Nyonya Jung.” Potong Yong Hwa langsung, calon ayah itu mendapatkan tatapan sinis dari istrinya.

Ne, Nyonya Jung. Silakan berbaring, kita akan melihat kandunganmu.”

Jeongsohamnida.” Dokter bernama Kim Seok Woo itu meminta maaf sebagai ijin untuk mengoleskan krim yang harus digunakan pada perut Shin Hye sebelum melakukan USG.

Ketiga orang itu pun melihat ke arah monitor USG, sambil memeriksa kandungan dalam rahim Shin Hye dokter tampan itu terus berkata-kata menjelaskan bahwa dalam rahim Shin Hye tumbuh tiga janin berjenis kelamin laki – laki. Informasi ini membuat Shin Hye dan Yong Hwa saling memandang bahagia.

“Mereka sudah berusia empat bulan. Kalian ingin mendengarkan detak jantung mereka?” Tawar dokter Kim.

Nde!

Dokter yang kerap dipanggil Rowoon itu hanya bisa tersenyum melihat keantusiasan pasangan muda itu. Dengan sigap ia memerintahkan perawat yang membantunya untuk menyiapkan peralatan yang akan digunakan untuk mendengarkan detak jantung janin itu.

Degdeg… degdeg…degdeg…

Suara jantung ketiga janin itu bagaikan musik terindah yang pernah didengar oleh Shin Hye dan Yong Hwa. Airmata terjatuh begitu saja dari pelupuk mata Shin Hye, rasa haru dan bahagia menyelimuti pasangan ibu dan ayah baru itu. Melihat itu sang dokter dan perawat hanya bisa ikut tersenyum ikut merasakan kebahagiaan dari pasien mereka.

“Selamat kalian mendapatkan jackpot! Nyonya Jung mengandung tiga bayi laki – laki yang pasti akan tampan.”

Nde! Aku harap mereka akan tampan seperti Dokter Kim.” Shin Hye tersenyum lebar dengan hidung yang agak memerah.

Yya! Mana mungkin mereka akan seperti Dokter Kim. Tentu saja mereka akan tampan seperti aku.” Yong Hwa masih saja cemburu di saat seperti ini. Sungguh kekanakan.

Dokter bernama lengkap Kim Seok Woo dan perawat yang mendampinginya hanya bisa tersenyum melihat sepasang suami istri yang sedang berbahagia itu. Mereka yakin bahwa kedua insan yang berada di depan mereka itu adalah sepasang manusia yang pastinya saling mencintai satu sama lain dan akan menjadi orang tua yang baik bagi ketiga calon bayi mereka itu. Ya, semoga saja apa yang mereka pikirkan itu benar terjadi.

“Aku akan memberikan resep untuk kehamilanmu. Tolong ditebus dibagian farmasi.” Sebuah resep diserahkan pada Shin Hye.

“Jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Jaga diri kalian.” Senyum menawan mengembang di wajah tampan dokter muda itu sungguh membuat Shin Hye terpanah.

Ne.” Suara lembut Shin Hye merespon nasehat dari Dokter Kim, senyum terus terpatri di wajah Shin Hye dan tatapan wanita hamil itu tak lepas dari mata sang dokter.

Sepasang calon orangtua itu pun segera meninggalkan ruangan konsultasi selepas memberi salam dan berterimakasih pada kedua orang yang nantinya juga akan berjasa pada saat Shin Hye melahirkan anak – anak yang sebentar lagi akan melihat dunia baru.

Kehamilan Shin Hye kini semakin mendekati akhir, ia merasa harus segera bersiap menyambut kedatangan malaikat kecil titipan Tuhan pada dirinya. Ia dan Yong Hwa pun pergi bersama menuju pusat berbelanjaan untuk membeli semua perlengkapan sesuai dengan daftar yang sudah mereka catat. Namun bisa dibilang hanya Shin Hye yang berbelanja karena kenyataannya Yong Hwa hanya bertugas sebagai pendorong troli yang terus meneru mengikuti langkah kaki Shin Hye. Sejujurnya jika melihat cepatnya Shin Hye melangkah Yong Hwa merasa bahwa saat ini Shin Hye tidak sedang hamil. Bagaimana bisa wanita buncit besar itu berjalan begitu cepat dengan tiga janin yang tumbuh dalam rahimnya? Bahkan Yong Hwa sudah merasa lelah dengan troli berisi tumpukan barang yang ia dorong sedari tadi.

“Yong Hwa-ya! Ayo cepat! Kau ini lama sekali seperti haraboeji.” Shin Hye berteriak keras dari ujung lorong.

Mempercepat langkahnya, Yong Hwa menyusul wanita pujaan hatinya itu. Ini demi anakku. Hanya pemikiran itu yang terus ditanamkan Yong Hwa dalam dirinya. Meskipun lelah tapi ia harus tetap semangat karena semua ini dilakukan demi menyambut kedatangan malaikat dalam kehidupan mareka. Hari ini pertempuran sudah selesai, hari ini cukup hanya untuk membeli peralatan bayi.

“Shin-ah, bukankah ini sudah cukup banyak untuk dibeli? Kita masih bisa kembali besok atau besoknya atau besoknya lagi. Setidaknya masih ada waktu tiga bulan untuk berbelanja.” Yong Hwa mengeluh, berusaha membujuk Shin Hye untuk menghentikan kegiatan belanja yang luar biasa kelewat batas. Bayangkan saja kini Yong Hwa mendorong dua buah troli dengan kedua tangannya. Yakinilah, Shin Hye tidak menyadari hal itu.

Ah, tapi aku masih harus membeli celemek, botol susu, dan—” Shin Hye menghentikan perkataannya tepat saat dia melihat ke belakang, menyadari bahwa ini sudah waktunya berhenti untuk memilih.

“Shin…” Yong Hwa memasang wajah cemberut.

Hmmm…baiklah kita lanjutkan lagi saja kegiatan ini minggu depan. Ayo kita ke kasir!”

Minggu depan ia akan kembali ke medan perang untuk membeli pakaian bayi bersama dengan Shin Hye dan sepertinya malam – malam ini ia harus benar – benar istirahat dengan baik untuk kembali berperang.

Hari terus berganti dan kini tiba saatnya memenuhi kegiatan rutin belakangan ini, yaitu menemani istrinya berbelanja kebutuhan calon bayi mereka. Ya, demi calon bayi mereka.

“Yong, bagaimana dengan yang ini? Apakah kita harus membeli tiga warna yang berbeda atau satu warna saja?”

“Sa—“

“Sepertinya akan lebih baik jika berbeda.”

“Lalu, bagimana dengan yang ini? Lebih bagus yang ini atau yang tadi?” Shin Hye mnunjukkan model baju bayi yang berbeda.

“Yang—“

Hmmm, yang ini lebih baik.” Shin Hye menganggukan kepalanya.

Waaahh, baju ini lucu sekali! Apakah kita bisa mencobanya pada bayi kita nanti?”

“Tentu saja ti—“

“Tentu saja boleh, kan mereka tidak akan mengerti jika kau memakaikan pakaian bayi perempuan pada mereka. Hihihi.”

Gwiyowo. Sepatu ini lucu sekali, aku akan membelinya untuk mereka. Yong, bagaimana dengan yang ini?”

“….”

“Bagaimana menurutmu?”

“….”

Tak ada jawaban dari mulut pria berstatus suaminya, ini membuat Shin Hye bingung. Kemana perginya pria itu?

Yya! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku dan malah sibuk dengan ponselmu sendiri, eoh?!” Shin Hye kesal melihat suaminya asik memainkan game di ponsel pintarnya.

“Untuk apa aku menjawab pertanyaan yang tidak dapat aku jawab. Sedari tadi kau sellau memotong jawabnku. Aku yakin kau tidak sadar akan hal itu. Ckckck.” Dengan santai Yong Hwa berujar tanpa peralihan atensi.

“Bawa ini.”

“Ini.”

“Ini.”

“Dan ini.”

“Juga ini.”

“Kurasa yang ini juga lucu.”

“Aku juga mau yang ini.”

Huaa, aku menginginkan yang satu ini juga.”

Dan kini tangan Yong hwa sudah penuh dengan puluhan setelan baju bayi. Ya tentu saja, satu model dibeli tiga setel. Jika Shin Hye memilih paling tidak empat model pakaian maka akan terbeli dua belas setel pakaian. Dan nyatanya Shin Hye memilih lebih dari sepuluh model pakaian bayi. Sedangkan Yong Hwa, kini terlihat seperti keranjang pakaian. Di tangannya sudah tertumpuk acak pakaian bayi yang sudah menggunung hingga dagunya. Percayalah ini masih akan tetap berlanjut.

Sudah beberapa hari ini Shin Hye merasakan kontraksi – kontraksi ringan pada perutnya yang disebabkan oleh peningkatan hormon oksitosin mendekati hari melahirkan Shin Hye. Ini membuat Yong Hwa merelakan dirinya untuk mengambil cuti kerja, ia membuat dirinya menjadi suami dan calon ayah yang siaga.

“Shin apa kau baik – baik saja?” Yong Hwa tidak tega melihat istrinya sedari tadi kesakitan karena kontraksi yang semakin menyeramkan.

Tidak ada jawaban dari Shin Hye, wanita itu hanya terus mengatur nafasnya berharap rasa sakit itu akan sedikit mereda.

Mianhe…” Yong Hwa merasa menyesal membuat Shin Hye hamil. Dia hanya bisa mengelap keringat yang bercucuran di wajah istri satu – satunya itu.

Aaarrghh!!!” Shin Hye merasa rasa sakitnya sudah memuncak.

“Bawa aku ke rumah sakit? SEKARAAAANG!!!”

Mwo?! Kau akan melahirkan sekarang?”

“Iya bodoh! Bawa aku ke rumah sakit!!!!” Shin Hye menjambak kuat rambut Yong Hwa, melampiaskan rasa kesal dan sakit yang ia rasakan.

Aaa… aaauw. Mana bisa aku membawamu ke rumah sakit jika kau menjabak rambutku. Jung Shin Hye babo.”

Mereka masih saja berdebat di saat genting seperti ini. Sungguh pasangan yang ‘menakjubkan’.

Red code! Red code! Red code!” Yong Hwa lekas berteriak setelah mendengar Shin Hye kembali merintih kesakitan.

Red code adalah istilah yang dibuat Yong Hwa yang hanya digunakan pada saat ini, yaitu Shin Hye akan melahirkan. Saat mendengar istilah ini Supir Goo akan menyiapkan mobil tepat di pintu keluar sedangakan Nyonya Jung akan memasukan pakaian Shin Hye dan beberapa perlengkapan bayi yang telah disiapkan jauh – jauh hari oleh Shin Hye. Sedangkan tugas Yong Hwa adalah dia harus membopong Shin Hye ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh Supir Goo.

Selama dalam perjalanan Shin Hye terus berteriak – teriak dan kerap menyakiti Yong Hwa.

“Jung Yong Hwa babo! Aku tidak akan mengijinkanmu menyentuhku lagi.” Shin Hye mencakar tangan Yong Hwa yang dipegangnya

“Yya!” Kini Shin Hye menjambak rambut suaminya.

“Ini sangat sakit. Eomma!!!” Kali ini Shin Hye berulang kali memukul Yong Hwa dengan sepenuh hatinya.

Sementara itu di sisi lain Nyonya Jung hanya tersenyum tenang, apa yang dilihatnya saat ini mengingatkan dirinya dulu saat akan melahirkan Yong Hwa. Hhh, bahkan tanpa sadar ia meneteskan airmata haru. Setelah itu ia memutuskan untuk menelpon rumah sakit untuk bersiap akan kedatangan Shin Hye.

Begitu sampai di rumah sakit mereka disambut oleh perawat wanita pendamping Dokter Kim yang sedang mendorong kursi roda, terlihat wanita muda itu tergesa – gesa. Yong Hwa yang menggendong Shin Hye segera mendudukkan istrinya di kursi roda tersebut, dan acara mengejar waktu kembali dilakukan. Mereka dengan cepat mendorong kursi roda yang diduduki Shin Hye itu ke ruang persalinan yang telah disiapkan sebelumnya. Tak lama kemudian Rowoon datang dengan pakaian lengkap khas dokter kandungan yang akan membantu proses persalinan dari pasiennya.

“Park Shin Hye-ssi, kau sudah siap?” Pria berbadan jangkuk itu tersenyum lembut, tetap terlihat meskipun wajahnya tertutupi masker.

“Bagaimana bisa kau tersenyum dan setenang itu di saat seperti ini? Neo michyeoso?!” Yong Hwa merasa kesal dengan pria berstatus dokter kandungan dari istrinya itu.

Namun di sisi lain wanita yang menjadi tokoh utama di ruangan itu menganggukan kepalanya dengan wajah penuh kerutan, khas ekspresi kesakitan.

Berulang kali Shin Hye mengejan dengan kuat ditemani oleh suaminya yang dengan setia menjadi objek penyiksaan. Perjuangan ini terus berlanjut selama kurang lebih delapan jam. Tentu saja ini karena dia harus melahirkan tiga bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan dan tiga hari.

“Terus… sedikit lagi!”

Eerrghh!” Shin Hye kembali mengejan, tak lupa tangannya sibuk menarik rambut Yong Hwa.

Oeee….ooeee…” Akhirnya suara tangisan bayi terakhir terdengar.

Tiga bayi laki – laki terlahir ke dunia. Menjadi kegembiraan bagi keluarga yang menjadi rumah baru untuk mereka, keluarga yang akan memberikan kehangatan yang akan sama hangatnya dengan rahim ibu yang telah mengandung mereka selama beberapa bulan ini.

Adegan ini terus terjadi berulang kali selama proses persalinan terjadi. Tentu saja untuk adegan tangisan bayi itu hanya terjadi tiga kali karena memang hanya tiga bayi yang dilahirkan oleh Shin Hye.

“Selamat Nyonya Jung. Anda berhasil melahirkan bayi – bayi tampan yang sehat.” Sang perawat membawa ketiga bayi Shin Hye yang terbaring nyenyak.

Melihat itu Shin Hye tersenyum gembira dengan wajah lesunya yang kelelah berjuang.

“Terimakasih karena kau sudah berjuang untuk mereka. Terimakasih karena kau bersedia menjadi istriku dan ibu dari anak – anakku. Terimakasih, Jung Shin Hye. Aku mencintaimu.” Kata terimakasih tak hentinya mengalun dari bibir Yong Hwa.

Tiga Tahun Kemudian…

Tiga balita masih tertidur lelap bersamaan dengan ayah mereka yang mendengkur halus. Keempat pria itu tak terganggu sama sekali dengan dentingan alat masak yang berbunyi sedari tadi. Ya, ibu mereka sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keempat prianya. Tapi tak lama kemudian satu di antara mereka terbangun. Dia adalah si anak tengah.

Appa… appa… ireona.” Balita itu menggunjangkan tubuh pria dewasa yang dipanggilnya ayah.

“Lima menit lagi.”

Appa… ireona!” Balita itu tak peduli dengan racauan ayahnya yang belum bangun itu.

“Minguk-ie ppoppo… appa ppoppo.” Sang ayah kembali meracau dengan mata tertutup. Pria dewasa itu belum mau membuka matanya.

Chu~

Balita bernama lengkap Jung Minguk itu menuruti perkataan ayahnya.

Again, kiss me again.” Perkataan yang hanyalah sebuah alasan bagi Yong Hwa untuk menunda waktu bangunnya.

Chu~

Kembali Minguk menuruti perkataan ayahnya. Setelah itu barulah ayahnya bangun dari tidur. Melihat ayahnya duduk Minguk segera berdiri dan memeluk manja ayahnya.

Appa, Daehan dan Manse masih tidur. Minguk akan membangunkan mereka.”

Ani. Minguk tidak boleh membangunkan Daehan dan Manse. Kita bermain saja di luar.” Dengan segera Yong Hwa menggendong putranya itu ke ruang tengah.

Setelah meletakkan Minguk di ruang tengah, Yong Hwa bergegas ke dapur untuk menyapa sang istri sekaligus mengambilkan susu untuk Minguk.

Good morning, yeobo.” Dipeluknya Shin Hye dari belakang.

Morning.”

“Kenapa kau tidak membangunkanku?” Kali ini Yong Hwa mendaratkan kecupan ringan di tengkuk Shin Hye.

Yya! Kau tidak boleh seperti ini. Bagaimana jika anak – anak melihat?”

“Daehan dan Manse masih tidur. Minguk sedang asik nonton televisi jadi tidak mungkin mereka melihat.”

Appa! Dimana susu Minguk?”

“Kau dengar itu Tuan Jung? Segera buatkan susu untuk pangeranku!”

Dengan berat hati Yong Hwa meninggalkan Shin Hye kembali sendirian di dapur. Ia langsung membuatkan tiga formula susu, ia yakin tak lama lagi dua anak yang tadi sedang tertidur akan segera bangun mendengar teriakan dari saudaranya itu. Benar saja, tak alam kemudian Daehan terbangun dan keluar dari kamar seorang diri.  Sambil mengucek matanya bocah yang dinobatkan sebagai anak pertama itu menghampiri ayahnya yang sedang duduk santai sambil menemani Minguk yang meminum susunya.

“Putra appa sudah bangun?”

Hm.” Daehan menganggukan kepalanya.

“Ayo minum susu.” Yong Hwa memberikan botol susu milik Daehan.

Di saat yang bersamaan Manse berlari dari kamar menuju dapur. Ia mencari ibunya.

Eomma!!” Si anak bungsu berteriak di pagi hari.

“Manse-ah!” Sang ibu menyambut dirinya hangat dengan tangan terbuka lebar.

Eomma, Manse bermimpi semalam appa marah – marah karena Manse mengompol.”

“Benarkah? Lalu bagiamana?”

“Lalu Manse menangis dan eomma memarahi appa. Dan Mase berjanji tidak akan mengompol.”

Sebetulnya itu bukanlah mimpi tapi sungguh terjadi, hanya saja mungkin Manse tidak sadar.

Ya, begitulah kini hari – hari Shin Hye dan Yong Hwa semakin berwarna dengan kehadiran ketiga putra mereka. Malaikat kecil yang menjadi poros hidup dan sumber kebahagiaan mereka. Tak ada yang lebih berharga daripada mereka bertiga. Terkadang menyebalkan, namun di saat yang bersamaan mereka juga menggemaskan. Selalu mampu membuat orang – orang di sekitar mereka tersenyum lebar dengan tingkah polos dan lucu mereka.

Ya, karena Tuhan akan selalu memberikan kebahagiaan bagi setiap umatnya. Kebahagiaan yang akan didatangkannya di waktu yang tepat.

—END—

Ini gak tau request untuk Mamih @Laykim atau  @Amypark. Wkwk. Pokoknya ini FF castnya itu CNBLUE’s Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye. Maaf klo absurd dan tidak memuaskan. Semoga nggak kapok request FF di aku ya. Sekali lagi mohon maaf.  Comment jusseyo.

Advertisements

7 thoughts on “[Oneshoot] Happiness

  1. Haiii W.A.O…..
    ayem kamiiiiinggggg kkk

    Aseknyaaa Yong dapet TRIPLETS…. aku sukaa ffmu, cara penulisanmu juga enak dibaca ama aku kkk ttep semangat WAO, kutunggu karyamu selanjutnyaa

    ppaiiii~

  2. Wao…. daku datang kemari sesuai janjiku…
    Mian kalo rada lama buat baca na.
    Aigooo harmonis banget sih keluarga kecil yong ini, ups salah… maksudku keluarga besar yong. Secara dooley couple nih langsung dapwt jackport 3 baby unyu.

    Aku dah bisa nebak kalo sih shinhye lagi ngandung 3 baby, soalnya dia pas beli baju baby pasti beli 3 warna buat satu stel. Kayanya shinhye dah punya firasat aja kalo tar baby mereka kembar 3, hohohoo 😁

    Ditunggu karya-karyamu selanjutnya ya, wao
    Hwaiting…. 💪😊

  3. Hai. Wao. Eum… apa yah

    It just a little story about happines. Dan ini bener2 ceritanya yg halpines. Tadinya kupikir bakal nemuin konflik yg khas kamu bgt. Intinya aku lebih suka gaya balladmu yg biasa tercurah(?) Di ff genre sad dan sejenisnya. Lebih dapet feelnya wkkwkwk…

    Aku suka cara kamu menggambarkan yong yg kena morsick dan bukan shin. Mungkin akan lebih commedy kalau kamu mau memotong bagian perkumpulan ibu hamil dan memasok lebih banyak moment kocak ttg mereka. Aku suka cara kamu menggambarkan betapa harmonisnya mereka.

    Tapi memang ada beberapa dialog dan kalimat hambar. Wkwkwkwkwk mungkin krn mau bikin kapok perekues #eh tapi yg jelas aku udh tebak 3 baby itu song triplet yg diubah jd jung triplet.

    Overall aku cukup menikmati bacaan ringan ini… meskipun tadinua aku berharap ada suguhan comfory atau sad sedikit buat bantu aku mengemas ending dr despicable me. But its ok. Meskipun gak menemukan siwon sunkyo disini aku cukup senang. Rasanya kayak cemilan… lumayan enak tapi ga kenyang 😂😂😂😂😂 wakakakakkakaka… sudahlah… dan sepertiya peluang kejar tayang despicable me semakin sedikit.

    Keep fighting, keep writing wao^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s