(Chapter 11) G.R.8.U

Poster by PutrisafirA255@Indo Fanfictions Arts

Chunniest Present

^

G.R. 8. U

(Chapter 11)

^

Main Cast :

Leo or Jung Taekwoon (VIXX) – Kim Taehyung as V or Jung Taehyung –

Park Jiyeon (T-ARA)

^

Support Cast :

All member VIXX and BTS – Joy as Park Sooyoung (Red Velvet) –

Kim Mingyu (Seventeen) – Kim Dahyun (Twice) – Park Chanyeol (EXO) –

Kim Suho (EXO) – Bae Irene (Red Velvet)

^

Previous :

PrologChapter 1Chapter 2 Chapter 3 – Chapter 4Chapter 5 – Chapter 6

Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9Chapter 10

 

^

 

Genre: Familly, drama, romance, comedy | Length: Chapther

^

Disclaimer : Ini cerita murni keluar dari pemikiran author. Jika ada kesamaan cerita itu hanyalah kebetulan belaka karena plagiat bukanlah sifatku. Aku juga memperingatkan jangan mengkopi cerita ini karena sulit sekali membuat sebuah cerita jadi mohon HARGAILAH!!!

^

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Sinar bulan yang remang-remang menyelinap masuk dari balik jendela. Sinar yang tidak terlalu terang itu menerpa wajah  Jiyeon yang tertidur pulas diatas sofa beralaskan bantal kecil. Lampu di ruang tamu memang sengaja tidak dihidupkan oleh sang pemilik rumah karena tak ingin mengganggu tidur gadis itu.

Tatapan Taekwoon tak henti-hentinya tertuju pada  wajah Jiyeon seolah-olah wajah Jiyeon layaknya acara TV yang disukainya. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Jiyeon ke belakang telinga gadis itu.

Sudah satu jam Taekwoon tak beranjak dari posisinya. Dia teringat analisa dokter cinta Cha Hakyeon yang mengatakan jika dia jatuh cinta pada Jiyeon. Lalu dia juga teringat dengan kebersamaannya dengan Jiyeon sangat berbeda dengan kebersamaannya bersama Jikyung.

Mata Jiyeon bergerak diiringi  gerakan peregangan otot membuyarkan Taekwoon dari pikirannya. Mata Jiyeon sedikit demi sedikit terbuka. Tatapannya tertuju pada wajah Taekwoon. Gadis itu menyunggingkan senyuman pada lelaki itu.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Taekwoon dengan nada lembut.

Jiyeon mengangguk lalu menegakkan tubuhnya. Dia mengambil jas Taekwoon yang digunakan sebagai pengganti selimut.

“Seragam barumu sudah datang. Kau bisa mengenakannya sekarang. Aku akan mengambilkannya.” Taekwoon berdiri.

Namun tangan Jiyeon menahan tangan lelaki itu untuk tidak pergi. Jiyeon mendongak dan senyuman menghilang dari wajahnya.

“Apakah ada kabar mengenai kondisi Taehyung?”

Wajah Taekwoon berubah sedih mendengar nama adiknya disebut. Dia yakin jika Jiyeon mendengar Taehyung mengalami koma, Jiyeon akan merasa sangat sedih. Lelaki itu berlutut di depan Jiyeon lalu meraih kedua tangan Jiyeon.

“Memang sudah ada kabar tentang hasil operasi Taehyung beberapa jam yang lalu.”

“Apakah dia sudah sadar? Dia baik-baik saja bukan?”

Helaan nafas keluar dari mulut Taekwoon. “Berjanjilah padaku setelah mendengarnya kau tidak akan menyalahkan dirimu.”

Tatapan Jiyeon tertuju lurus pada manik mata hitam milik Taekwoon. Mata itu seakan menghipnotis gadis itu sehingga dia mengangguk mendengar perintah Taekwoon.

“Dokter berhasil mengambil peluru yang bersarang di kepala Taehyung. Namun Taehyun belum bisa sadar. Dengan kata lain Taehyung mengalami koma.”

Seketika tubuh Jiyeon mematung mendengar penjelasan Taekwoon. Taehyung yang selama ini selalu mengganggunya dan mengatakan jika dia adalah kekasihnya sekarang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang.

“Sa-sampai kapan Taehyung seperti itu?” Jiyeon terbata-bata karena masih tidak mempercayai Taehyung mengalami koma.

Taekwoon meremas lembut tangan Jiyeon. “Tidak akan ada yang tahu, bahkan dokter pun tidak bisa mengatakan kapan Taehyung akan sadarkan diri. Sekarang tergantung pada Taehyung sendiri. Dan aku yakin dia akan sadar tidak lama lagi.”

Jiyeon menunduk kembali manatap lelaki di hadapannya. “Apa kau menyayangi adikmu Taekwoon-ah?”

“Semua orang mengetahui hubunganku dengan adikku memang tidak baik. Tapi mereka tidak tahu jika aku rela menukar apapun untuk memperbaiki hubunganku dengan Taehyung.”

Tak diduga Jiyeon memeluk Taekwoon membuat lelaki itu sedikit terkejut. “Aku tahu kau sangat menyayangi Taehyung, karena itu pasti kesedihanmu lebih besar dariku. Gomawo kau sudah berbicara baik-baik padaku mengenai kondisi Taehyung. Tapi kau terlalu mengkhawatirkan jika aku akan merasa terpukul dengan berita ini dan kau lupa mengkhawatirkan dirimu sendiri.”

Mulut Taekwoon tertutup tak menanggapi ucapan Jiyeon karena gadis itu memang benar, dia lupa untuk menata hatinya setelah mendengar berita mengenai Taehyung. Jiyeon memutuskan untuk diam dan mengelus punggung Taekwoon untuk membuat lelaki itu merasa lebih baik.

G.R.8.U

Oppa kau mendengarku tidak?” Suara Jikyung yang manja menyadarkan Taekwoon dari lamunannya.

Taekwoon bergumam malas menanggapi pertanyaan calon tunangannya. Mereka berdua berjalan menuju mobil Taekwoon.

Oppa mengapa kau mengajakku pergi aku kan ingin menjenguk adikmu tapi kau malah membiarkan Jiyeon dulu yang melihatnya.”

“Karena Jiyeon sangat ingin menemui Taehyung sejak tadi.”

“Aku juga ingin menemui adikmu tapi kau malah membawaku pergi. Lebih baik kita kembali dan masuk setelah Jiyeon keluar.”

Taekwoon memejamkan mata tidak sabar menghadapi calon tunangannya itu. Dia berhenti melangkah dan menghadap gadis yang tengah memanyunkan bibirnya.

“Jika kau ingin menemui Taehyung silahkan aku tidak akan melarangmu Jikyung-ah. Tapi saat ini aku harus ke kantor polisi menangani kasus penembakan Taehyung. Jika kau ikut sekarang aku akan mengantarmu pulang tapi jika tidak aku tidak bisa mengantarmu pulang nanti. Silahkan putuskan apa yang kau pilih.” Taekwoon berjalan lebih dulu menuju mobil meninggalkan Jikyung.

Kaki Jikyung menghentak kesal lalu dia menyusul Taekwoon dan naik di kursi penumpang. Taekwoon segera melajukan mobilnya setelah  Jiktung duduk dengan sabuk pengaman.

G.R.8.U

Suara mesin yang memperlihatkan tanda vital Taehyung bergema di ruangan itu. Jiyeon duduk di kursi  menatap Taehyung yang seakan terlelap.

“Taehyung-ah,apa kau mendengarku?” Tanya Jiyeon namun bukan sapaan ‘chagi‘ yang didengarnya melainkan suara-suara peralatan medis yang menopang hidup lelaki itu.

Ahjuma bilang kau akan mendengarku meskipun kau tidak merespon.” Jiyeon mengulurkan tangannya menyentuh perban yang melilit di kepala lelaki itu. “Apakah terasa sakit Taehyung-ah? Aku sangat takut melihat begitu banyak darah yang keluar dari belakang kepalamu.”

Taehyung masih diam tak kunjung merespon ucapan Jiyeon. Tangan gadis itu menyentuh tangan Taehyung dengan lembut takut jika sentuhannya akan melukai lelaki itu.

“Jika kau mendengarku, aku mohon jangan menyerah Taehyung-ah. Aku akan datang setiap hari untuk menyemangatimu. Jadi kumohon cepatlah kembali.” Jiyeon tersenyum pada Taehyung meskipun lelaki itu tak melihatnya.

Mianhae aku tidak bisa lama berada di sini Taehyung-ah karena jam besuk yang terlalu singkat. Tapi aku janji aku akan rutin datang kemari sampai kau sadar.”

Jiyeon berdiri dan mengelus tangan Taehyung sebelum akhirnya berjalan keluar. Baru beberapa langkah gadis itu berjalan keluar, ponselnya berdering. Dia segera mengambilnya dari saku lalu mengangkat telpon itu.

Noona... Ini Jiyeon noona bukan? Aku melihatmu di berita utama. Noona tidak apa-apa kan?” Panik Jimin.

“Aku tidak apa-apa Jimin-ah.”

“Tapi bagaimana bisa noona ada saat putra dari orang paling ditakuti ditembak? Apa noona tidak takut pada Jung Taehyung yang terkenal menyeramkan itu?”

“Tidak. Dia tidak menyeramkan seperti yang kau bayangkan. Apa abeoji sudah pulang?”

Ne. Dia sangat mencemaskan noona sekarang.”

“Aku akan pulang. Sudah dari tadi pagi aku berpikir untuk menginap di rumah abeoji.”

“Benarkah? Noona akan menginap? Tapi apa noona tidak merasa aneh meninggalkan istana Lee untuk tidur di rumah kecil kami?” Tanya Jimin ragu-ragu.

“Tentu saja tidak. Rumah yang besar terkadang terasa tidak nyaman. Tunggu aku.”

“Dengan senang hati noona.”

Jiyeon tersenyum mendengar sang adik menyambutnya dengan penuh semangat. Namun senyum itu menghilang saat teringat Taekwoon. Setelah melihat Jikyung, Jiyeon langsung melepaskan genggaman tangannya pada Taekwoon. Hal itu menyadarkan Jiyeon mengenai status Taekwoon. Tanpa berkata apa pun saudara kembarnya itu langsung membawa Taekwoon pergi dan membuat Jiyeon bertanya-tanya dimana mereka sekarang.

Helaan nafas berat berhembus dari mulut mungil Jiyeon. Gadis itu memutuskan untuk berhenti sejenak memikirkan Taekwoon dan menikmati kebersamaannya dengan Daesuk dan Jimin.

G.R.8.U

Hari sudah semakin gelap namun dalam apartemen Ravi terlihat gelap gulita meskipun sang empunya tengah menikmati wine di sofa merah marunnya. Kegelapan itu sama sekali tak mengganggu aktivitas lelaki itu untuk meneguk setiap cairan wine yang dituangkan dalam gelasnya.

Pecahan-pecahan mangkuk akibat ulah Dahyun pun dibiarkan saja berserakan di lantai tanpa ada niatan untuk membersihkannya. Semenjak kepergian Dahyun siang tadi, Ravi tak bersemangat untuk kembali ke kantor dan memutuskan untuk minum wine demi melupakan ucapan Dahyun.

Baru saja mereka mengecap kebahagiaan hubungan mereka dan sekarang dia harus kehilangan Dahyun gara-gara salah satu anggota keluarga Jung yang selalu dibencinya. Ravi melemparkan gelas yang dipegangnya lalu diiringi teriakan yang menggema di dalam apartemen itu.

Di sisi lain Dahyun juga sama tengah memikirkan Ravi. Namun gadis itu tidak merasa menyesal karena memilih menjenguk Taehyung daripada menuruti ucapan kakak tirinya. Jika dipikir-pikir lagi karena Taehyung lah Dahyun memutuskan untuk tidak menyerah pada Ravi. Jadi tidak salah jika Dahyun lebih memilih menjenguk Taehyung.

Dahyun meraih ponsel di atas ranjangnya lalu menghempaskan tubuhnya di ranjang itu. Foto dirinya dengan Ravi langsung terpampang di layar ponselnya. Gadis itu melemparkan ponsel itu di sisi tubuhnya. Dia tidak ingin dirinya menyesal karena melihat foto itu. Dia yakin saat ini Ravi masih berada di apartementnya karena sejak tadi dia belum juga mendengar kepulangan Ravi di kediaman Kim.

Dahyun menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan Ravi dari pikirannya. Gadis itu memutuskan bangkit berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya. Dengan belajar Dahyun akan melupakan Ravi untuk sesaat.

G.R.8.U

Jimin mengambil Bulgogi dengan sumpitnya lalu memasukkannya ke dalam mulut. Wajahnya begitu menikmati makanan yang sudah beberapa hari tak dinikmatinnya. Apalagi jika bukan masakan kakaknya. Semenjak sang kakak pergi Jimin hanya makan masakan sang ayah yang rasanya sedikit aneh namun paling tidak bisa dimakan.

“Masakan noona memang paling enak. Aku sangat merindukannya.” Puji Jimin seraya mengacungkan kedua jempolmnya.

“Jadi kau hanya merindukan masakan noona? Kau tidak merindukkan sang kokinya?” Jiyeon mendengus kesal.

“Tentu saja aku juga merindukkan noona.” Jimin memeluk kakaknya.

Daehyun tersenyum melihat kehangatan keluarganya kembali. “Jiyeon-ah, apa tuan Lee tidak marah jika kau berada di sini?”

Jiyeon tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Abeoji tenang saja. Appa dan eomma mengijinkanku kemari kapanpun yang aku mau. Karena mereka sangat berterimakasih pada abeoji yang sudah merawatku dengan baik.”

Noona bagaimana rasanya jadi orang kaya? Aku jadi iri dengan noona bisa tinggal di rumah mewah dengan fasilitas mewah lainnya.” Ucap Jimin sambil makan.

Jiyeon mengetuk kepala adiknya itu. “Jangan iri seperti itu. Aku justru merasa lebih nyaman tinggal dengan abeoji dan dongsaengku yang paling jelek ini. Meskipun rumah keluarga Lee besar namun kami jarang berkumpul. Bahkan kadang saat acara makan ada saja yang tidak ada. Bukankah lebih nyaman seperti ini?”

Jimin hanya mengangguk-angguk entah lelaki itu benar-benar mendengarnya atau tidak. Daehyun tersenyum mendengar ucapan Jiyeon. Lelaki paruh baya itu awalnya berpikir jika Jiyeon akan lebih nyaman berada di kediaman keluarga Lee yang besar dibandingkan di sini. Namun pemikirannya ternyata salah.

Setelah acara makan malam selesai, Jiyeon membersihkan piring-piring kotor sedangkan Jimin belajar di kamarnya dan sang ayah duduk di ruang tamu menikmati teh. Tak butuh waktu lama untuk Jiyeon menyelesaikan pekerjaan cuci piringnya.

Kemarin Jiyeon dilayani makanan-makanan lezat tanpa harus membereskan. Bagi orang lain mungkin akan memilih tinggal dengan nyaman di kediaman keluarga Lee, namun bagi Jiyeon dia lebih nyaman tinggal dirumah kecil keluarga Park.

Jiyeon menghampiri Daehyun setelah membereskan pekerjaannya. Jiyeon tersenyum pada lelaki yang dianggapnya ayah itu.

Abeoji. Hari ini tiba-tiba aku ingat dengan masa laluku. Tapi masa laluku ternyata tidaklah seindah yang kupikirkan abeoji. Aku bahkan berharap tak ingin mengingatnya lagi. Karena jika aku kembali memgingatnya, aku jadi semakin takut abeoji.”

Daehyun menggenggam tangan Jiyeon seakan memberi kekuatan pada putri angkatnya itu. “Jika masa lalumu membuatmu takut, jangan kau pikirkan. Lebih baik dilupakan saja. Bukankah masih ada masa depan yang harus kaupikirkan?”

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan ayah angkatnya. “Abeoji benar. Aku akan melupakannya. Gomawo abeoji.” Jiyeon memeluk lengan Daehyun.

“Oh ya abeoji, saat abeoji menemukanku apakah abeoji melihat seorang namja di sekitarku?” Tanya Jiyeon masih memeluk lengan ayahnya.

“Tidak. Aku hanya menemukanmu seorang.”

Jiyeon melepaskan pelukannya dan menatap Daehyun. “Tolong ingat kembali abeoji. Namja itu sangat penting untukku.”

Daehyun melipat kedua tangannya dan mengingat kembali malam saat dia menemukan Jiyeon. “Saat itu tidak hujan dan  bulan bersinar terang jadi jika ada seseorang di dekatmu pasti abeoji tahu. Memang siapa namja itu Jiyeon-ah?”

Namja itu bernama Taecyeon. Dia sudah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku. Aku merasa sangat bersalah padanya.”

Daehyun mengenggan tangan Jiyeon. “Abeoji yakin namja itu menyelamatkanmu dengan hati yang tulus jadi kau tak perlu merasa bersalah Jiyeon-ah.”

Jiyeon tersenyum seraya mengangguk menyetujui ucapan ayah angkatnya itu. Namun tetap gadis itu masih dihinggapi rasa penasaran karena berdasarkan ingatannya, dia tak sadarkan diri di dekat Taecyeon. Tapi pertanyaan kemana lelaki itu menghilang terus saja berputar di pikiran Jiyeon.

G.R.8.U

“Bagaimana dengan penyelidikannya Hakyeon-ah? Apa kau menemukan petunjuk siapa yang menembak Taehyung? ” Tanya Taekwoon saat sampai di kantor pagi itu.

“Belum. Aku sudah menyelidiki Namjoon salah satu korban terberat dari Taehyung. Namun sepertinya pihak Namjoon tidak berani  bermain api dengan Taehyung lagi. Begitupula korban lain Taehyung di sekolah.”

“Lalu bagaimana dengan sekolah lama Taehyung?”

“Aku belum menyelidikinya. Rencananya hari ini aku akan mengirim seseorang  untuk menyelidikinya.”

“Secepatnya kau harus menemukan pelaku itu.”

“Serahkan saja padaku.” Ucap Hakyeon penuh percaya diri.

“Aku akan pergi dulu. Batalkan acaraku pagi ini. Aku akan kembali setelah makan siang.”

MWO? Kau baru saja datang dan sekarang mau pergi lagi?”

Tatapan Taekwoon yang tajam tertuju pada Hakyeon. “Apa aku tidak boleh pergi?”

Hakyeon menampilkan cengiran kudanya. “Tentu saja boleh. Silahkan sajangnim.” Hakyeon mempersilahkan Taekwoon keluar.

Hakyeon hanya bisa mendengus kesal karena pekerjaannya akan menumpuk lagi karena Taekwoon tidak ada. Baru 5 menit Taekwoon keluar dari kantornya telpon di meja berdering. Hakyeon  meraih gagang telpon itu.

“Selamat pagi dengan Perusahaan Jung, ada yang bisa saya bantu?” Sapa Hakyeon seperti biasanya.

“Hakyeon-ah, Taekwoon Oppa di mana?”

Hakyeon memutar bola matanya malas mendengar suara Jikyung. Padahal baru setengah jam lalu dia menelpon menanyakan Taekwoon. Lelaki itu tak bisa membayangkan bagaimana bisa Taekwoon bertahan dengan sikap Jikyung yang selalu mengekornya.

“Dia baru saja pergi.”

“Kemana?” Tanya Jikyung kembali.

“Aku tidak tahu. Dia tidak mengatakan padaku mau pergi ke mana.”

“Bukankah kau sekertarisnya? Seharusnya kau tahu dimana dia.”

“Maafkan aku nona Jikyung. Tapi aku bukan appanya sajangnim jadi aku tidak berhak untuk bertanya keberadaan sajangnim setiap dia pergi. Bukankah anda calon tunangannya seharusnya nona lebih tahu dimana sajangnim berada.”

Jikyung mendengus kesal lalu menutup telpon itu. Hakyeon bernafas lega karena pembicaraannya dengan Jikyung sudah berakhir.

G.R.8.U

Jiyeon berjalan menuju kelasnya. Gadis itu tak mengetahui beberapa siswa tengah membicarakan dirinya di sekitarnya. Akhirnya kaki Jiyeon memasuki ruang kelasnya. Gadis itu duduk dibangkunya dan seketika Jaehwan dan Sooyoung langsung mengelilinginya.

“Jiyeon, benarkah kau berada di dekat Taehyung saat dia tertembak?” Tanya Jaehwan.

“Kau tidak terluka kan Jiyeon-ah?” Sahut Sooyoung.

“Aku dan Taehyung akan pulang saat penembakan terjadi. Aku tidak apa-apa, hanya Taehyung yang terluka. Buktinya aku masih datang ke sekolah.”

Sooyoung dan Jaehwan bernafas lega mendengar sahabat mereka baik-baik saja.

“Jadi siapa yang melakukan penembakan itu?” Tanya Jaehwan.

“Lalu bagaimana keadaan Taehyung? Kudengar dia koma. Apa itu benar?” Timpal Sooyoung.

Jiyeon melirik ke arah dua sahabatnya satu persatu. “YA!! Sejak kapan kalian beralih profesi menjadi wartawan?”

Jaehwan dan Sooyoung tersenyum garing. “Kami hanya penasaran dengan apa yang terjadi Jiyeon-ah.” Jawab Jaehwan.

“Pelakunya masih diselidiki. Dan ucapan Sooyoung benar, Taehyung mengalami koma. Sudah puas?”

Sooyoung menggelengkan kepalanya. “Belum. Satu lagi. Kapan kau menjenguknya lagi?”

“Mungkin nanti.”

“Bolehkah kami ikut?” Giliran Jaehwan yang menyahut.

Jiyeon menatap Jaehwan dan Sooyoung dengan tatapan curiga. “Ada apa kalian ingin ikut? Apa kalian punya maksud tertentu?”

“Tentu saja tidak ada maksud tertentu Jiyeon-ah. Taehyung adalah temanmu otomatis dia juga teman kita.” Jelas Sooyoung.

Jiyeon menatap kedua sahabatnya bergantian. Seketika gadis itu menarik kedua sahabatnya dan memeluknya erat. “Kalian memang sahabatku yang paling baik.”

G.R.8.U

Irene memeluk lengan Suho yang masih memejamkan mata di ranjangnya. Suara alat-alat penyokong kehidupan lelaki itu memecahkan keheningan. Gadis itu masih ingat masa lalunya dimana dia masih melihat senyum ramah Suho.

~~~FLASHBACK~~~

Irene berjalan menyusuri gang menuju ke rumahnya. Tas yang menggantung di bahu Irene sudah menemani gadis itu sejak pagi tadi di sekolah. Karena harus mengerjakan tugas piket, gadis cantik bernama lengkap Bae Irene itu harus pulang terlambat. Ditambah lagi tak ada sopir yang menjemputnya karena sang ibu membutuhkan semua sopir untuk teman-teman arisannya.

“Hallo yeoja manis.”

Langkah Irene terhenti melihat seorang lelaki dengan senyuman bodohnya . Gadis itu menjadi waspada karena tidak mengenal lelaki itu.

“Jika kau mau berbuat macam-macam aku akan memukulmu.” Irene mengambil tasnya dan memasang pose bersiap-siap memukul lelaki itu.

“Kau membuatnya takut V.” Seorang lelaki muncul dari balik lelaki bernama Taehyung itu.

Mata Irene tertuju pada lelaki yang saat ini memperlihatkan senyuman manisnya. Melihat senyuman itu sikap waspada Irene menjadi sirna.

suho-smile-gif

“Tenanglah nona kami bukanlah orang jahat. Kami murid SMP dekat sini. Aku Suho, Kim Suho. Dan namja ini adalah V.” Suho menepuk bahu lelaki bernama Taehyung.”Taehyung sering melihatmu berjalan di sini dan dia ingin berkenalan denganmu. Mianhae jika dia membuatmu takut.”

“Apakah aku terlihat seperti monster menyeramkan bagimu nona?” Tanya Taehyung.

Irene menatap Taehyung dan Suho bergantian. “Mianhae. Aku tidak bermaksud seperti. Aku hanya waspada pada namja yang tak kukenal berada di gang sepi di sore hari. Orang lain pasti akan bereaksi sama jika melihat kalian. Aku Irene, Bae Irene.”

“Kau benar Irene. Tapi kau tenang saja, aku dan Suho hyung siap menjadi penjagamu sekarang. Jadi kau tak perlu takut pulang larut.” Ucap Taehyung.

“Kalian menjadi penjagaku?” Kaget Irene.

“Tepat seperti yang V katakan.” Sahut Suho.

Irene memegang dagunya berpikir. Selama ini gadis itu memang sering lewat daerah situ jika tidak ada sopir yang menjemput. Ditambah jika dia ada tugas piket dia akan pulang jam segini. Akan sangat menguntungkan bagi Irene jika ada yang menjaganya.

“Bagaimana bisa aku mempercayai kalian jika kalian tidak akan berbuat macam-macam padaku?” Namun Irene belum sepenuhnya percaya pada dua orang lelaki yang tak dikenalnya itu.

Suho mendorong Taehyung maju ke depan. “V  yang akan menjadi jaminannya. Apa kau tahu Jung Yunho? Namja paling ditakuti di Korea.” Irene mengangguk. “V ini adalah putra bungsu Jung Yunho. Jadi jika kami macam-macam kau bisa mengadukannya pada abeojinya.”

Irene mengangguk paham dengan penjelasan Suho. Tangan gadis itu terulur. “Baiklah aku setuju.”

Suho dan Taehyung tersenyum senang lalu membalas uluran tangan Irene secara bergantian.

~~~FLASHBACK END~~~

Itulah awal mula Irene mengenal Taehyung dan juga Suho. Tapi sekarang situasi sudah berubah dan Irene bukan lagi teman Taehyung melainkan musuh lelaki itu. Irene begitu membenci Taehyung karena membuat lelaki yang disukainya tidak sadarkan diri hingga sekarang.

Irene menegakkan tubuhnya dan menatap Suho dengan linangan air mata. Ada api membara di bali air mata itu saat gadis itu mengingat Taehyung.

“Jika Oppa belum sadar hingga sekarang maka aku akan membuat hal yang sama pada V.” Yakin Irene.

Lagi-lagi nama V mempengaruhi Suho. Bukan tangannya yang bergerak kali ini tapi seluruh tubuhnya. Irene begitu panik melihat lelaki itu mengalami kejang-kejang. Dia segera memanggil tim medis. Dan tak lama bantuan datang segera Irene di dorong keluar agar tidak mengganggu jalannya pemeriksaan.

G.R.8.U

Taekwoon membuka pintu ruangan kantor Donghae setelah sang sekertaris mengijinkannya masuk. Mendengar suara Donghae yang menyuruhnya masuk,Taekwoon pun membuka pintu. Dia berjalan menghampiri Donghae yang menyambutnya dengan senyuman.

“Aku sudah mendengar mengenai adikmu. Baru nanti siang aku berencana ke sana. Apakah sudah ditangkap penjahat yang menembak Taehyung?” Ucap Donghae.

“Terimakasih ahjushi. Untuk saat ini kami belum menemukan siapa pelakunya.”

“Jangan menyerah OK? Jadi apa yang membuatmu datang sepagi ini?” Donghae mempersilahkan Taekwoon duduk di hadapannya.

“Sebelum mengatakan tujuanku aku ingin minta maaf ahjushi.”

Donghae memicingkan matanya curiga. “Mengapa kau minta maaf?”

“Aku meminta maaf karena tak bisa lagi meneruskan hubunganku dengan Jikyung.” Tubuh Donghae membeku mendengar ucapan Taekwoon. “Aku memutuskan hal ini bukan tanpa alasan. Aku menyadari perasaanku pada Jikyung bukanlah didasari cinta. Perasaanku pada Jikyung layaknya seorang oppa yang menyayangi dongsaengnya. Dan aku menyadari hal ini semenjak bertemu dengan Jiyeon.”

Kekagetan Donghae semakin bertambah dan dia melihat lelaki yang ada di hadapannya itu. “Jadi maksudmu, kau menyukai Jiyeon?”

Taekwoon mengangguk menjawab pertanyaan Donghae. Sedangkan ayah dari putri yang dibicarakan itu mengangguk-angguk membuat Taekwoon bertanya-tanya apakah Donghae akan marah padanya

Donghae menatap Taekwoon membuat lelaki itu semakin gugup. “Jikyung dan Jiyeon adalah saudara kembar namun sifat mereka seperti langit dan bumi. Jikyung begitu manja dan kekanak-kanakan sedangkan Jiyeon mandiri dan dewasa. Aku tidak menyalahkanmu jika kau lebih menyukai Jiyeon. Tapi apa kau tidak memikirkan perasaan Jikyung yang begitu mencintaimu?”

“Seperti yang kukatakan tadi, aku menyayangi Jikyung seperti dongsaengku sendiri karena itulah aku juga memikirkannya setelah memutuskan hal ini. Jika aku terus bersama Jikyung hingga kami menikah aku akan merasa kasihan pada Jikyung karena merasa dibohongi olehku. Perasaanku pada Jiyeon tidak bisa disembunyikan selamanya. Suatu saat Jikyung pasti mengetahuinya dan rasa sakitnya akan lebih besar daripada aku memutuskan hubungan kami sekarang. Aku yakin akan ada lelaki yang memiliki perasaan tulus mencintai Jikyung daripada aku.”

Donghae tak meragukan lagi betapa dewasanya lelaki yang duduk tegak di hadapannya itu. Taekwoon memang benar rasa sakit Jikyung pasti akan lebih besar saat mereka sudah menikah. Tapi mengenal sifat putrinya itu, Donghae ragu bagaimana mengatakan hal ini pada Jikyung.

“Untuk bagian kau memutuskan hubunganmu dengan Jikyung, aku menerima kenyataan itu. Aku akan mencari cara untuk memberitahukan hal ini pada Jikyung. Tapi untuk bagian kau menyukai Jiyeon, aku tidak akan melarangmu menyukainya tapi jangan sampai hal itu terlihat oleh Jikyung. Putusnya hubungan kalian pasti menjadi beban yang berat bagi Jikyung, jika ditambah dengan kenyataan kau menyukai Jiyeon aku tidak yakin Jikyung sanggup menahan beban itu.” Jelas Donghae dengan bijaksana.

“Aku mengerti ahjushi. Terimakasih kau sudah mau mengerti tentang perasaanku. Dan ada satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu. Kemarin Jiyeon mengatakan padaku jika dia ingat masa lalunya.”

“Apa yang dia katakan padamu?”

“Jiyeon bilang selama ini dia dibesarkan oleh seorang yeoja bernama Madam Kim apakah ahjushi mengenalnya?”

Wajah Donghae berubah penuh amarah lalu dia mengangguk. “Ya aku mengenalnya. Dia adalah masa laluku Taekwoon-ah. Tapi aneh, aku sempat mencurigainya namun polisi mengatakan dia bersih.”

“Itu karena Madam Kim menyembunyikan Jiyeon di barnya. Meskipun Jiyeon berkali-kali berusaha kabur namun Madam Kim selalu berhasil menahannya. Dia bisa selamat karena dia berusaha kabur karena menolak melayani salah satu tamu Madam Kim”

Donghae menggebrak meja dengan keras karena marah pada wanita yang dulu dicintainya. “Ini semua salahku. Jika saja aku tidak berhubungan dengan yeoja itu, Jiyeon tidak akan menderita seperti itu.”

“Hal itu sudah terjadi ahjushi. Yang penting sekarang kita harus menangkap Madam Kim jika tidak dia akan menemukan Jiyeon kembali.”

“Kau benar. Taekwoon-ah meskipun kau dan Jiyeon tidak boleh terlihat oleh Jikyung tapi maukah kau menjaganya? Aku kenal betul siapa Hyunji jika dia mengetahui keberadaan Jiyeon,dia pasti akan berusaha menculiknya kembali.”

“Baiklah ahjushi. Aku akan menjaganya.”  Taekwoon menyetujui permintaan Donghae.

G.R.8.U

Pintu rumah keluarga Kim terbuka. Tampak Dahyun mengenakan seragam sekolah dengan tas tersampir di bahunya berjalan masuk tanpa semangat. Gadis itu menuju sofa yang terletak di ruang tamu. Dia dihempaskan tubuhnya ke sofa melepaskan kelelahan setelah menjalani rutinitas sekolahnya.

Baru mengatur nafas sebentar gadis itu menegakkan tubuhnya. Tatapannya tertuju pada pintu yang menghubungkan ruang kerja Ravi. Dahyun melepaskan tasnya dan membiarkannya tergeletak di atas sofa sedangkan dirinya berjalan menuju ruang kerja Ravi.

Tangan Dahyun memegang gagang pintu dan menggerakkannya hingga pintu kayu itu terbuka lebar. Ruangan Ravi terlihat remang karena sinar matahari yang masuk hanya sedikit. Kaki gadis itu melangkah menuju jendela dan dan membuka tirainya sehingga sinar matahari menyinari seluruh ruangan itu.

“Sepertinya dia tidak akan pulang. Dia memang keras kepala.” Ucap Dahyun menyentuh kursi yang biasanya digunakan Ravi untuk bekerja di rumah.

Dahyun menggeser kursi itu sehingga ada celah untuk tubuhnya bisa duduk di kursi itu. Dahyun mengambil kacamata Ravi, pulpen dan kertas. Lalu gadis itu memperagakan bagaimana Ravi saat bekerja.

Bibirnya membentuk sebuah senyuman mengingat masa lalu saat dia selalu mengintip Ravi bekerja di ruangan itu. Kakak tirinya itu memiliki kebiasaan membuka pintu jika berada di ruangan itu sehingga Dahyun bisa mengintip dari luar.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Dahyun terlonjak kaget dan melihat kakaknya – Mingyu – berdiri di depan pintu.

“Aku hanya iseng Oppa.” Dahyun asal-asalan merapikan meja dan meletakkan kacamata Ravi. “Aku ke kamar dulu Oppa.” Ucap Dahyun melewati kakaknya.

Mata Mingyu mengikuti adiknya yang mengambil tas lalu berlari ke kamarnya. “Dahyun aneh sekali.”

Tatapan Mingyu beralih ke meja Ravi. Tadi lelaki itu sempat melihat Dahyun menuliskan sesuatu di atas kertas. Dia mengambil kertas yang diselipkan di sela-sela buku. Wajah lelaki itu tampak sedikit terkejut melihat isi tulisan di kertas itu.

G.R.8.U

Jiyeon, Sooyoung dan Jaehwan memasuki rumah sakit. Sesuai rencana mereka akan menjenguk Taehyung. Di tangan Sooyoung ada seikat bunga mawar kuning yang begitu cantik. Jiyeon melarang Sooyoung membawa apapun karena percuma saja Taehyung tak bisa melihatnya. Namun Sooyoung bersikeras ingin membawa bunga. Dia percaya meskipun Taehyung belum kunjung sadar tapi jiwa Taehyung ada di sekitar tubuhnya.

Jiyeon menekan tombol lift. Mereka menunggu lift yang turun dari lantai 5. Jiyeon melihat Sooyoung terus menata bunga-bunga ditangannya. Sahabatnya itu tak membiarkan bunga itu rusak sedikitpun.

Tak lama pintu lift terbuka dan seorang lelaki dengan kulitnya yang putih dibalut suits berwarna abu-abu berjalan keluar. Dia berhenti tepat di hadapan Jiyeon. Lelaki itu menatap wajah Jiyeon penuh selidik.

“Apa kau gadis itu?” Tanya lelaki itu namun Jiyeon hanya menatapnya bingung karena tidak mengerti ucapan Suga.

Suga mengeluarkan ponselnya lalu mengotak-atiknya. Dia mendekatkan ponsel di samping wajah Jiyeon. Lelaki itu meneliti apakah wajah Jiyeon sama dengan wajah gadis di layar ponselnya.

“Benar, jadi kau yang mengalihkan perhatian Taehyung?” Ucap Suga kembali.

“Anda mengenal Taehyung?”

“Ya. Aku temannya. Mun Suga.” Suga mengulurkan tangannya.

Jiyeon menyambut uluran tangan Suga. “Aku Park… Ah ani Lee Jiyeon.”

“Lee? Apa kau memiliki hubungan dengan Lee Jikyung putri Lee Donghae. Wajah kalian sama dan kau memakai marga Lee.”

“Aku adik kembar Lee Jikyung.”

“Ahh…  pantas saja kalian begitu mirip. Baiklah aku harus pergi. Sampai jumpa lagi.” Suga tersenyum pada Jiyeon sebelum akhirnya pergi.

suga-smile

“Ommo… Dia tampan sekali dan senyumannya sangat manis.” Puji Sooyoung melihat kepergian Suga.

“Memang aku tidak tampan? Bukankah senyumanku lebih manis?” Cemburu Jaehwan.

“Tentu saja Oppa paling tampan dan senyuman Oppa paling manis.” Sooyoung bergelayut manja di lengan Jaehwan.

“YA!! Sampai kapan kalian bermesraan disitu?” Tegur jiyeon yang sudah masuk ke dalam lift.

Sepasang kekasih itu masuk ke dalam lift tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Jiyeon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya.

G.R.8.U

Chanyeol membuka pintu cafe dan masuk ke dalam. Matanya beredar dan berhenti saat melihat Jikyung duduk disalah satu bangku dengan tangan dilipat di depan dadanya dan mukanya ditekuk-tekuk. Lelaki itu menghampiri Jikyung dan langsung duduk dihadapan gadis itu..

“Jadi apa yang membuat si manja ini tiba-tiba memanggilku?” Tanya Chanyeol.

Oppa….. Aku sedang kesal…. Kesal…. Kesal…” Jikyung menghentak-hentakan kakinya.

“Apa yang membuatmu kesal? Katakanlah.”

“Taekwoon Oppa. Beberapa hari ini dia sulit dihubungi, aku jadi kesal.”

“Kudengar dongsaengnya Taekwoon masuk rumah sakit karena terjadi penembakan di sekolah. Aku rasa dia sedang sibuk mengurusi kasus itu, jadi kau harus bersabar dan mengerti apa yang sedang Taekwoon alami Jikyung-ah.”

Jikyung menatap Chanyeol masih dengan wajah kesalnya. Setelah tinggal lama bersama Jikyung , Chanyeol tahu betul bagaimana keras kepalanya  gadis di hadapannya.

“Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Semenjak aku di sini aku belum pernah mengajakmu jalan-jalan.” Tawar Chanyeol.

Jikyung masih menatap Chanyeol dengan wajah murungnya namun detik berikutnya  wajahnya berubah menjadi ceria.

“Baiklah. Tapi aku yang menentukkan tempatnya ok?”

Chanyeol mengangguk lalu Jikyung menarik lelaki itu keluar dari Caffe melupakan masalah Taekwoon yang membuat gadis itu cemberut.

G.R.8.U

Ravi menuangkan wine ke dalam gelas kecil. Dia meminum minuman beralkohol itu  untuk kesekian kalinya. Hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Untuk pertama kalinya lelaki itu merasakan tidak ada semangat hidup.

Saat sang ayah meninggal, Ravi tidak sedih bahkan dia bisa tenang menghadapi kejadian itu. Tapi saat Dahyun memutuskan pergi darinya, seakan ada hantaman keras di hati Ravi. Dia bahkan tak memperdulikan kesenangan melihat kekuarga Jung dalam masalah. Yang dia pikirkan hanya Dahyun saja.

Ketukan pintu menghentikan acara minum-minum Ravi. Dengan terhuyung lelaki itu berjalan menuju pintu. Bel kembali terdengar namun Ravi membutuhkan waktu lama untuk mencapai pintu yang jaraknya hanya beberapa meter.

Dia meraih gagang pintu dan membukanya. Bogem mentah mengenai pipi kiri Ravi membuat lelaki itu seketika terjatuh. Darah segar keluar dari sudut bibir Ravi. Dia menyentuh daeah itu dan melihat jemarinya bernoda merah. Lelaki itu mendongak dan melihat Mingyu berdiri diambang pintu.

Mingyu menghampiri Ravi dan meraih kerah kemeja Ravi sehingga mau tak mau Ravi pun berdiri. Pukulan kembali melayang di pipi kanan Ravi membuat lelaki itu lagi-lagi terhempas ke lantai.

“Aku tahu sangat membenci eomma, aku dan Dahyun. Tapi jika pembalasanmu dengan cara memikat hati Dahyun lalu menghancurkannya aku tidak akan membiarkannya.” Marah Mingyu.

“Pembalasan?” Ravi bingung dengan ucapan Mingyu. Dia tidak berencana membalas Yuri dan anak-anknya. Perasaannya pada Dahyun nyata bukan karena pembalasan.

Mingyu mengambil kertas disakunya,membuka lipatannya dan memperlihatkan pada Ravi. Tulisan ‘Aku sangat merindukanmu Ravi Oppa‘ terpampang jelas dengan tulisan besar.

“Dahyun menulis ini di ruang kerjamu. Aku terlambat menyadarinya. Kau sudah berhasil membuat Dahyun bersedih dan karena itu aku semakin membencimu.” Teriak Mingyu diiringi hantaman keras di perut Ravi.

Karena hantaman itu membuat perut Ravi terasa sangat tidak enak. Minuman yang diminumnya tadi seakan bercampur aduk.

“Kupastikan kau tidak akan menemui Dahyun lagi. Tak akan kubiarkan kau menyakiti Dahyun lebih dalam lagi.”

“Tidak. Perasaanku…” Ucapan Ravi terhenti saat merasa ingin muntah.

Lelaki itu segera berlari ke kamar mandi untuk melegakkan perutnya. Setelah mengeluarkan isi perutnya, Ravi mengelap mulutnya. Dia berjalan keluar dan tak menemukan Mingyu lagi. Ravi menyandarkan tubuhnya di dinding lalu merosot hingga terduduk di lantai. Dia teringat ucapan Mingyu tadi.

Kupastikan kau tidak akan menemui Dahyun lagi.

“Apa Mingyu berencana membawa Dahyun pergi?”

Ravi mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Dahyun dalam kontaknya. Setelah menemukannya Ravi ragu untuk menelponnya. Egonya yang besar mengatakan untuk tidak menelpon Dahyun,tapi hatinya berkata lain.

Ravi mengeluarkan aplikasi kontak dan tidak jadi menelpon Dahyun. Namun Saat ponselnya menayangkan wallpaper dirinya dengan Dahyun, egonya dikalahkan oleh hatinya. Lelaki itu kembali mencari nama Dahyun dan kali dia benar-benar menelpon gadis itu. Dada Ravi berdebar-debar menunggu suara Dahyun yang merdu di telinganya.

Oppa…” Suara Dahyun langsung menyirami hati Ravi dengan ketenangan.

Ravi masih diam karena bingung harus mengatakan apa.

“Ravi Oppa, kaukah itu?” Tanya Dahyun kembali.

“Iya ini aku.”

“Akhirnya Oppa menelponku juga. Kupikir Oppa sudah melupakanku.” Senang Dahyun hingga suaranya bergetar.

Aku tidak mungkin melupakanmu Dahyun-ah. Ucap Ravi dalam hati.

Oppa katakanlah sesuatu. Kau tidak apa-apa?” Cemas Dahyun.

“Aku… Aku merindukanmu. Jangan pergi dariku. Aku… Aku takut kehilanganmu Dahyun-ah.

Dahyun terdiam tak percaya mendengar ucapan kakak tirinya. Tapi detik berikutnya senyuman menghiasi wajah Dahyun. Gadis itu seakan ingin memeluk Ravi saat itu juga.

“Apakah Oppa di apartement? Aku akan segera ke sana. Tunggu aku.” Dahyun langsung menutup ponselnya dan bergegas hendak pergi.

Gadis itu mengambil jaketnya dan berlari keluar kamarnya. Lari Dahyun terhenti saat melihat Mingyu berdiri depan pintu.

“Kau mau ke mana?”

Dahyun sedikit heran melihat nada suara kakaknya terdengar serius. “Aku mau pergi ke rumah Irene.”

Mingyu menghampiri adiknya. Dahyun merasa gugup karena berbohong, terutama saat merasakan tatapan kakaknya yang tertuju padanya. Dahyun mengalihkan pandangannya menghindari tatapan sang kakak yang tajam.

“Jangan coba berbohong padaku Dahyun-ah. Kau mau menemui Ravi bukan?”

Dahyun terkejut mendengar sang kakak mengetahui ke mana tujuannya. Gadis itu bertanya-tanya bagaimana bisa kakaknya tahu mengenai hubungannya Ravi.

“Aku.. Aku tidak berbohong Oppa. Aku benar-benar mau ke rumah Irene jika tidak percaya Oppa bisa menghubungi Irene.” Dahyun menyerahkan ponselnya pada Mingyu.

Lelaki yang terpaut 2 tahun dengan Dahyun mengotak-atik ponsel Dahyun dan tampak menghubungi seseorang. Mingyu mengeraskan suara pada ponsel itu hingga Dahyun bisa mendengarnya.

“Dahyun-ah, ada apa? Kau tidak apa-apa bukan? Aku masih menunggumu di apartement.” Terdengar suara Ravi membuat Dahyun menggigit bibir bawahnya karena ketahuan bohong.

Mingyu mematikan telpon itu dan menatap adiknya tajam. “Sudah kuduga dia akan menghubungimu.”

“Apa maksudmu Oppa?”

“Tadi aku baru saja ke sana dan memberinya pelajaran.”

Dahyun menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya. “Apa Oppa memukulnya? Mengapa Oppa melakukannya?”

“Karena aku tidak akan membiarkan dia memanfaatkanmu untuk membalas dendam pada kita dan eomma. Karena itu mulai malam ini kita akan pergi dari sini.” Mingyu menarik Dahyun menjauh dari pintu.

“Aku tidak mau.” Seru Dahyun menepis tangan kakaknya. “Oppa tidak mengerti. Ravi Oppa benar-benar tulus menyukaiku. Dia tidak memanfaatkanku.”

Mingyu memegang kedua bahu Dahyun dan mengguncangkannya. “Sadarlah Dahyun-ah. Kau sedang mabuk cinta jadi kau tidak sadar dengan tujuan terselubung Ravi.”

Mendengar keributan Yuri langsung keluar dari dapur. Wanita itu tampak bingung melihat kedua anaknya beradu argumen.

Oppa tidak mengenal baik Ravi Oppa, jadi Oppa tidak bisa seenaknya menyimpulkan Ravi Oppa seperti itu.” Ucap Dahyun tak kalah kerasnya.

“Baiklah jika kau tidak mau ikut. Aku dan eomma akan pergi.” Mingyu berbalik dan berhenti saat melihat sang ibu menatapnya penuh tanda tanya. “Eomma berkemaslah kita pergi dari sini.”

“Ada apa Mingyu-ah? Lalu bagaimana dengan Dahyun?” Yuri melihat Dahyun masih berdiri di tempatnya.

“Aku akan menceritakannya nanti eomma. Daehyun tidak akan ikut dengan kita. Jika dia tahu kebenarannya dia pasti akan kembali pada kita.” Mingyu menarik sang ibu menuju kamar untuk berkemas.

G.R.8.U

bunga-mawar-kuning

Bunga mawar kuning yang dibawa Sooyoung sudah berada di vas atas meja. Sooyoung menatap Taehyung yang terbaring tak berdaya di atas ranjang dengan tatapan kasihan.

“Taehyung saat ini sangat berbeda dengan Taehyung biasanya.” Gumam Sooyoung.

“Apa maksudmu Sooyoung-ah?” Jiyeon menatap sahabatnya itu.

“Biasanya Taehyung yang kita lhat adalah namja tangguh yang pantang menyerah dan sekuat batu karang. Tapi sekarang dia terlihat rapuh. Aku menjadi kasihan padanya.”

Jiyeon membenarkan ucapan Sooyoung. Taehyung memang terlihat seperti gelas kaca yang retak. Sewaktu-waktu gelas itu bisa saja pecah dan Jiyeon takut hal itu akan terjadi.

“Tapi ada yang aneh.” Jiyeon dan Sooyoung mengamati Jaehwan yang berjalan di seberang Taehyung. “Bagaimana bisa ada bunga Aconite berwarna ungu gelap di sini?” Jaehwan menunjuk bunga yang sudah sedikit layu.

“Memang ada apa dengan bunga itu Jaehwan-ah?” Jiyeon ikut melihat bunga yang menjadi bahan pembicaraan mereka.

“Apa kau tidak tahu arti bunga ini?” Jiyeon menggeleng menjawab pertanyaan Jaehwan.

“Dulu hyungku pernah dikirimi bunga seperti ini oleh mantan pacarnya. Hyungku bilang bunga ini memiliki arti kebencian. Jadi sangat aneh jika ada orang mengirim bunga ini pada orang yang sakit.” Jelas Jaehwan.

“Apa menurut Oppa orang yang mengirim bunga ini adalah pelaku penembakan?” Sooyoung menatap kekasihnya.

“Mungkin saja.”

“Ommo!! Oppa sungguh jenius.” Sooyoung menghampiri Jaehwan dan memeluk lengannya gemas.

“Tidak bisakah kalian tidak melakukannya di depan pasien?” Tanya Jiyeon.

Sooyoung langsung melepaskan pelukannya dan meringis tanpa dosa. Suara pintu terbuka menarik perhatian Jiyeon,Sooyoung dan juga Jaehwan. Tampak Taekwoon menatap mereka sedikit terkejut.

“Itu kan Jung Taekwoon hyungnya Taehyung.” Bisik Jaehwan di telinga kekasihnya.

Annyeong hasseyo. Aku Sooyoung dan ini adalah Jaehwan, kami temannya Taehyung.” Sooyiung memperkenalkan diri dengan perasaan sedikit takut karena  mengingat keluarga Jung adalah keluarga paling ditakuti di seantero Korea Selatan.

Taekwoon menyunggingkan senyumannya. “Annyeong hasseyo. Aku Jung Taekwoon, hyungnya Taehyung.”

“Karena kami sudah berada di sini sejak tadi, kami pulang dulu. Kami permisi.” Jaehwan membungkuk pada Taekwoon sebelum akhirnya berjalan keluar diikuti Sooyoung dan Jiyeon.

“Jiyeon-ah, bisakah kau tinggal? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Ucapan Taekwoon menghentikan ketiga orang yang hendak berjalan keluar.

Sooyoung dan Jaehwan kompak menatap Jiyeon curiga. Tapi karena yang meminta Jiyeon tinggal adalah Taekwoon, sepasang kekasih itu tak bisa menuntut jawaban ada apa antara Jiyeon dan Taekwoon.

“Tentu saja Jiyeon bisa. Dia kan tidak ada acara. Silahkan.” Sooyoung mendorong Jiyeon pada Taekwoon lalu segera menarik kekasihnya pergi karena takut pada Taekwoon.

“Aishh… Dasar mereka.” Jiyeon mendengus mekigat kedua sahabatnya meninggalkannya. Gadis itu beralih pada Taekwoon. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Ini bukanlah tempat yang baik untuk kita bicara. Kita cari tempat lain.” Taekwoon menarik tangan Jiyeon keluar dari kamar rawat Taehyung.

Diluar kamar sudah berdiri dua orang lelaki berpakaian polisi. Taekwoon berhenti untuk berbicara pada kedua polisi itu.

“Jangan ada yang masuk ke kamar ini selain keluarga, dokter dan yeoja ini.” Perintah Taekwoon.

Kedua polisi itu bersama bersiap melaksanakan tugas mereka. Jiyeon menatap heran kedua polisi itu karena tadi saat dia masuk dia tak melihatnya.

“Mengapa ada polisi berjaga di depan kamar Taehyung?” Tanya Jiyeon berjalan disamping Taekwoon.

“Berjaga-jaga jika pelaku itu mengunjungi Taehyung.” Jiyeon mengangguk-angguk mendengar jawaban Taekwoon.

Lelaki bermarga Jung itu mengajak Jiyeon di Cafetaria rumah sakit. Setelah membeli minuman mereka duduk di kursi yang berada di beranda.

“Sebenarnya aku juga ingin berbicara denganmu, tapi kau duluan saja.” Ucap Jiyeon mengambil minuman meminumnya.

“Baiklah. Aku ingin memberitahumu jika aku sudah memutuskan hubunganku dengan Jikyung.”

Seketika Jiyeon langsung tersedak mendengar ucapan Taekwoon. Lelaki itu mengambilkan Jiyeon tissue dan menepuk punggung Jiyeon.

“Seharusnya kau melarangku minum jika ingin memberitahuku berita mengejutkan seperti itu.” Omel Jiyeon.

Mianhae. Aku tidak tahu kau akan tersedak mendengar ucapanku.” Taekwoon kembali duduk setelah Jiyeon merasa lega.

“Tapi mengapa kau memutuskan hubunganmu dengan Jikyung  eonnie? Bukankah kau mencintainya?”

“Tidak. Aku tidak mencintainya. Aku menyadari perasaan itu saat mengenalmu.”

“Apa kau ingin mengatakan jika aku sudah merebutmu dari saudara kembarku?” Tanya Jiyeon.

Taekwoon menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu. Setelah mengenalmu aku baru tahu cinta yang sebenarnya. Perasaanku pada Jikyung selama ini bukanlah perasaan cinta tapi hanya perasaan seorang Oppa pada dongsaengnya. Awalnya aku tak percaya, tapi kemarin saat melihatmu rapuh aku menjadi yakin jika yang ada di dalam hatiku adalah kau.”

Sepasang mata kedua insan itu saling bertemu. Jiyeon tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dia. Tapi saat pikirannya melayang pada Taehyung yang saat ini berbaring tak sadarkan diri membuat kebahagiaan itu sirna. Jiyeon memang menyukai Taekwoon,tapi kebersamaannya dengan Taehyung menumbuhkan perasaan istimewa di hati Jiyeon.

“Aku sangat senang mendengar perasaanmu sama denganku Taekwoon-ah. Tapi sangat tidak adil jika aku mengambil keputusan disaat Taehyung dalam keadaan seperti ini.”

“Apa kau menyukai Taehyung?”

Jiyeon mengangguk. “Taehyung selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk bersandar. Karena itu semakin lama ada perasaan yang special di hatiku untuk Taehyung.”

Taekwoon menunduk terlihat jelas lelaki itu kecewa dengan jawaban Jiyeon. “Seharusnya aku tidak menyakitimu lebih dalam. Seharusnya aku menyadari perasaanku ini lebih awal sehingga perasaanmu pada Taehyung tidak ada.”

Jiyeon mengulurkan tangan menyentuh tangan Taekwoon. “Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Kau masih memiliki kesempatan itu.”

“Kau benar. Sebelum aku mengatakan hal ini padamu, aku sudah mengatakannya pada Lee ahjushi.”

Mata Jiyeon melotot mendengar ucapan lelaki itu. “Apa kau sudah gila? Lee abeoji pasti marah mendengarnya.”

Taekwoon menggelengkan kepalanya. “Sayang sekali dugaanmu salah. Lee ahjushi tidak marah. Dia mengerti perasaanku jadi dia mengijinkanku mendekatimu. Tapi aku akan mengharagai keputusanmu menunggu Taehyung sadar. Jadi apa yang ingin kaubicarakan denganku tadi?” Taekwoon mengalihkan pembicaraan.

“Ohh… Tadi Jaehwan temanku mengatakan ada yang aneh di kamar Taehyung dirawat.”

Taekwoon mengerutkan dahinya. “Apa yang aneh?”

“Di kamar Taehyung ada buket bunga Aconite berwarna ungu. Jaehwan bilang bunga itu menandakan kebencian. Sangat aneh jika bunga itu digunakan untuk menjenguk orang. Apa kau tahu siapa yang memberi bunga itu?”

Taekwoon menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi aku akan mencari tahu. Karena mungkin saja itu ada hubungannya dengan sang penembak.”

Taekwoon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hakyeon. Lelaki itu memerintahkan sekertarisnya untuk menyelidiki bunga yang disebutkan Jiyeon. Tatapan Jiyeon melihat sekeliling Cafetaria. Mata Jiyeon terhenti pada seorang wanita yang berjalan memasuki cafetaria diikuti lelaki bertubuh kekar di belakangnya.

“Tae-Taekwoon-ah.” Suara Jiyeon bergetar ketakutan.

Taekwoon melihat wajah Jiyeon yang memucat. “Ada apa Jiyeon-ah?”

“Madam Kim berjalan kemari. Ba-bagaimana jika dia menangkapku?”

“Tenanglah. Tidak akan kubiarkan dia membawamu. Percayalah padaku.”

Perasaan Jiyeon sedikit lebih tenang mendengar ucapan lelaki di hadapannya. Seakan sudah tahu keberadaan Jiyeon, madam Kim langsung duduk di samping Jiyeon.

“Melihat ekspresimu, sepertinya kau masih mengingatku Jihyun-ah. Apa kau merindukanku.” Tanya Madam Kim dengan tatapan tertuju pada Jiyeon.

“Sama sekali tidak. Aku bahkan tak pernah ingin mengingatnya.”

Madam Kim memainkan rambut Jiyeon. Secara reflek tubuh Jiyeon menegang mengingat masa lalunya.

“Sayang sekali aku sangat merindukanmu Jihyun-ah. Maukah kau ikut denganku pulang?” Suara Madam Kim melembut.

“Jihyun tidak akan ikut denganmu.” Ucap Taekwoon mengalihkan perhatian Madam Kim.

“Jung Taekwoon, bukankah kau seharusnya mengurusi tunanganmu dan membiarkan Jihyun bersamaku?”

“Karena saat ini Jihyun sedang bersamaku jadi aku tidak akan membiarkanmu membawanya pergi.”

“Apa kau tidak tahu ada pengawalku di sini Taekwoon-ssi?” Madam Kim menunjuk Jim yang berdiri di belakangnya.

“Sayang sekali aku tidak takut. Apa kau tidak tahu Madam Kim dimanapun aku berada akan ada banyak yang menjagaku.”

Madam Kim melihat sekitarnya. Ada beberapa orang yang menyamar di sekitar cafetaria dan bersiap menyerang jika wanita itu membahayakan Taekwoon. Madam Kim menghela nafas kesal karena kalah jumlah pengawalnya.

“Kau beruntung kali ini Jihyun-ah. Sampai bertemu lagi.” Madam Kim berdiri dan menatap Taekwoon kesal sebelum berjalan pergi.

Merasa keadaan sudah aman terkendali suasana kembali normal. Jiyeon melihat orang-orang yang menjaga Taekwoon kembali melakukan kegiatan mereka layaknya orang biasa.

“Aku tidak tahu selama ini kau memiliki penjaga.” Ucap Jiyeon.

“Mereka mahir dalam hal menyamar karena itu kau tidak akan merasa diikuti oleh mereka. Lagipula aku menggunakannya untuk keselamatan diriku mengingat latar belakang keluargaku.”

Jiyeon mengangguk-angguk mendengar penjelasan Taekwoon. “Kali ini aku bisa selamat tapi bagaimana dengan lain waktu? Madam Kim tidak pernah menyerah untuk keinginannya. Dan… Dan aku sangat takut Taekwoon-ah.”

Taekwoon menggenggam tangan Jiyeon yang dingin karena masih ketakutan berhadapan dengan Madam Kim tadi. Lelaki itu memberikan senyuman yang selalu disukai Jiyeon.

“Aku juga tidak akan menyerah untuk melindungimu Jiyeon-ah. Aku akan mengirim beberapa orang untuk menjagamu. Kau tak perlu cemas.”

Jiyeon tersenyum lega karena akan ada yang melindunginya. Tatapan gadis itu beralih keluar jendela dan melihat Madam Kim yang berjalan menjauhi rumah sakit. Langkah wanita itu terhenti lalu berbalik sehingga tatapannya dengan Jiyeon bertemu. Madam Kim memberikan senyuman penuh arti pada Jiyeon lalu berbalik dan beranjak pergi.

G.R.8.U

“Da-Dahyun dan Ravi berpacaran?” Kaget Yuri mendengar cerita putranya.

“Lebih tepatnya Ravi memanfaatkan hubungan itu eomma. Aku yakin sekali namja itu memiliki rencana untuk Dahyun.” Mingyu memukul meja makan di kedai.

“Bagaimana jika mereka benar-benar serius?” Tanya Yuri.

“Tidak mungkin eomma. Ravi hanya menyukai satu yeoja yang bahkan sampai sekarang dia tidak bisa dia lupakan. Yeoja itu bernama Tsuyu.”

“Aku tak pernah mendengar Ravi memiliki kekasih.” Heran Yuri yang tak pernah mendengar gosip mengenai hubungan asmara putra tirinya tu.

“Itu karena yeoja berkebangsaan China itu  sudah meninggal sebelum eomma menikah dengan Kim abeoji. Sejak itu Ravi tidak pernah membuka hatinya pada yeoja manapun. Karena itulah aku sangat yakin Ravi tidak sungguh-sungguh menyukai Dahyun.”

Sebenarnya Yuri tahu mengenai perasaan Dahyun pada Ravi sejak lama. Sebagai seorang ibu, dia bisa mengetahui apa yang dirasakan putrinya. Awalnya dia senang jika Ravi membalas perasaan Dahyun namun setelah mendengar perkataan putranya, Yuri menjadi sedih karena Ravi akan menyakiti perasaan putrinya. Apa yang akan Dahyun rasakan jika mengetahui hal ini? Pikir Yuri

Di apartement Ravi, Dahyun merebahkan tubuh kakak tirinya ke atas ranjangnya. Meskipun sulit karena berat badan Ravi terlalu berat baginya namun Dahyun akhirnya berhasil membawa kakak tirinya itu ke ranjang.

Ravi sudah tak sadarkan diri karena minuman berakohol yang membuatnya mabuk. Gadis itu melepaskan sandal Ravi lalu menyelimuti tubuhnya.

“Dahyun-ah, jangan pergi.” Dahyun tersenyum melihat Ravi mengigau memanggil namanya.

Gadis itu menyentuh tangan Ravi membuat lelaki itu merasa lebih tenang. “Aku tidak akan meninggalkanmu Oppa. Tidak akan.”

Wajah Ravi kembali tenang dan tertidur pulas. Dahyun berbalik keluar dari kamar Ravi. Indera penglihatannya terhenti di atas meja yang berantakan dengan botol-botol wine. Gadis itu segera mengambil botol-botol kosong dan membuangnya ke tempat sampah. Dia mengelap meja dan mengembalikan botol-botol yang masih berisi ke lemari pendingin.

Setelah menyelesaikan tugas bersih-bersihnya, Dahyun berkeliling melihat-lihat apartement kakak tirinya yang belum sempat ditelitinya. Gadis itu menuju pintu yang terbuka sedikit. Karena lampu tidak dihidupkan maka Dahyun tak bisa menerka ruangan apa itu.

Tangannya mendorong pintu itu sedangkan tangan yang lain mencari saklar untuk menghidupkan lampu. Setelah lampu hidup seketika tubuh Dahyun mematung melihat lukisan besar di hadapannya.

photo-tsuyu

Wajah gadis dalam lukisan itu terlihat sangat cantik. Dengan latar belakang bunga-bunga membuat gadis itu layaknya seorang malaikat. Dahyun mendekati lukisan itu dan mengamati setiap lekuk wajah gadis dalam lukisan itu.

“Tsuyu? Siapa dia? Mangapa lukisan ini ada di sini?” Heran Dahyun saat membaca nama di pojok kanan bawah lukisan itu.

G.R.8.U

Langkah Irene yang santai membawa gadis itu hingga mencapai depan pintu ruangan Taehyung. Gadis itu berhadapan dengan dua polisi yang menjaganya.

“Maaf nona  tapi anda dilarang masuk.” Ucap salah satu polisi.

“Dokter Lee memintaku untuk memeriksa keadaannya.” Irene memperlihatkan pakaian perawat yang dikenakannya.

Kedua polisi itu saling berpandangan.. Awlanya mereka ragu untuk membiarkan Irene masuk namun akhirnya mereka mengijinkan Irene masuk. Gadis itu tersenyum lalu mendorong troli berisi peralatan rumah sakit. Pintu menutup setelah Irene masuk ke dalam. Gadis itu bisa melihat Taehyung berbaring dengan nafas yang tenang. Dia menghampiri ranjang Taehyung.

“Sepertinya bunga yang kuberikan padamu belum kunjung layu, itu menandakan kebencianku padamu itu belum hilang Taehyung-ah.” Irene tersenyum sinis.

~~~TBC~~~

(Membungkukkan badan pada readersdeul) Mianhae readers author baru jadi nih. Dari kemarin author sibuk banget dengan pekerjaan author jadi ga sempat buat FF ini. Semoga suka ya….. Jangan lupa komennya.

img1482129405747gr8u-chunniest-copy

Advertisements

9 thoughts on “(Chapter 11) G.R.8.U

  1. Smoga taekwoon bisa bikin hatinya jiyeon cuman ada dia seorang,, n moga mereka berdua bisa bersama,, betul tuh kata diah.dimin orang sperti irene n madam kim harus dimusnakan,, ditunggu sllu nextnya 🙂

  2. Jiyeon udh punya rasa sama V?? Gppaaa taekwoon oppaaa, harus tetap semangat!!! Janur kuning belum melengkung kok wkwkkw. Aku akan setia menunggu hubungan kalian. Fighting author!!!!!!💕💕

      • Hehe iyaa kaak. Kan berrti masih ada kesempatan, toh papa kandung jiyeon jikyung ga ngelarang kok. Taekwoon oppa juga baik. Jadi taekwoon oppa masih punya banyak kesempatan. Btw makasih author atas tulisan yg sangat amat menarik. Keep writting!!!💕

  3. huaaaaaaa aqhirnya jiyi punya rasa buat V. seneng nyuaaaaaaa.. ah.. aq berharap yg terbaik buat jiyi dan.. smoga gda lagi mslah.. musnahla irene madam kim.. ngeselin lu bdua.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s