[Series: Prolog] Hide and Seek

yom

[Prolog] Hide and Seek

Written by Amy Park

Cast: BTS V – OC Park Mina – GOT7 Jackson – OC Lauren Kim – Red Velvet Irene – Infinite L – BTS Jungkook – OC Ahn Minji – OC Ji Saehyun – OC Han Sunkyo – BTS Rap Monster – OC Kim Yura – OC Kim Jiseo – EXO Kai

Genre: Horror – Mystery – Friendship – Romance | Rated: PG-15

Previous: Teaser

^

^

“Temukan aku, sebelum aku menemukanmu”

..

Dear You

Halo, alumni kelas Sosial-1 Hansung High School yang aku cintai dan rindukan. Apa kabar? Kuharap kalian menjalani hari dengan baik kekekeke

Sudah tujuh tahun berlalu dan kita tidak pernah berkumpul lagi sejak saat itu L apa kalian ingin hubungan kita yang dulu amat harmonis—bahkan sampai membuat kelas lain iri—berakhir begitu saja?

Nah, maka lewat surel ini aku mengundang kalian ke acara “Reuni Seru Kelas Sosial-1” yang akan diadakan Sabtu malam, 19 November 2016 di Tart Kafe, Dongdaemun. Aku harap kalian bisa meluangkan waktu untuk bertemu dan berbagi cerita di acara reuni ini. Acaranya dijamin asik jadi kalian harus datang, ya!

Salam kangen,
Kim Taehyung (yang tampan—juga menawan)

 

-Hide and Seek-

 

“Hey, Park Mina, kau sudah melakukan kesalahan fatal dan sekarang berani masuk telat, huh? Cepat datang atau jam lemburmu kutambah!”

“Maaf Pemred Jung, aku—“

Mina langsung berdesis kesal ketika sambungan telepon diputuskan secara sepihak. Wanita yang kini mengenakan kaos putih polos dan celana jeans robek di bagian lutut itu kembali melambaikan tangan, mencoba menghentikan taksi yang lewat. Pada akhirnya ia juga kembali menggeram karena tak ada satu taksi pun yang mau berbaik hati menurunkan penumpang dan memilih untuk segera mengantarnya ke kantor.

“Eh… eh… lihat, Rolling Stone benar-benar kacau. Di cover jelas-jelas terpampang wajah Taylor Swift, tapi mereka malah menuliskan Selena Gomez. Hahahaha… bodoh.”

“Sungguh memalukan. Katanya majalah musik paling bergengsi, tapi menulis judul saja tidak becus. Aku yakin—“

Perbincangan dua anak perempuan berseragam SMA itu terhenti ketika Mina merebut majalah milik salah satu remaja tersebut secara tiba-tiba. Wanita itu memerhatikan kesalahan cetak di cover majalah tempat ia bekerja. Ia langsung menghela napas berat ketika membaca judul cover story majalah ‘Selena Gomez: Selalu Teringat Album Red’ yang tercetak dengan huruf berukuran besar dengan Taylor Swift sebagai foto latar belakang utamanya.

“Hey, Nak,” Mina menoleh dan menatap kedua remaja tersebut, “Ini hanya kesalahan cetak. Aku tahu ini memalukan tapi bisakah kalian tidak menjelek-jelekan masalah ini, huh? Apa kalian tahu bahwa bekerja di industri informasi seperti majalah itu tidaklah mudah? Kami para jurnalis rela tidak tidur demi memberikan informasi terbaik untuk kalian dalam waktu singkat. Dan pada waktu itu aku sudah tidak tidur selama tiga hari berturut-turut sehingga tidak sadar salah menyalin file cover ke percetakan sampai kesalahan ini terjadi!”

Kedua remaja itu mematung, mendengarkan seksama apa yang ingin dijelaskan Mina. Mina pun menghentikan ucapannya sejenak kemudian berkata dengan nada yang sedikit pelan, “Jadi yang ingin aku katakan adalah… tolong jangan menyoroti kesalahannya, tapi lihatlah isinya. Kami masih memberikan yang terbaik, bukan?”

Setelah itu, Mina segera mengembalikan majalah dan berbalik meninggalkan kedua anak remaja yang masih terdiam membisu akibat ceramah pagi yang diberikan Mina. Wanita berkaos putih itu pun mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak sadar telah melampiaskan emosinya kepada dua anak SMA yang bahkan tidak ia kenal.

“Aku akan jalan ke kantor. Aku akan berjalan kaki saja ke kantor sialan itu!!!”

###

Ruangan redaksi milik majalah musik Rolling Stone tampak berantakan, seperti biasa. Di dinding bercat putih polos terpajang poster dari musisi lokal maupun mancanegara yang sudah tidak tertata rapi. Di ruangan yang lantainya penuh dengan serpihan makanan itu juga masih tampak sepi, hanya ada dua lelaki di sana. Jackson Wang, kini ia tengah asik membuka media sosial sambil mendengarkan musik lewat komputer. Lelaki lainnya, Kim Taehyung, tampak duduk di meja kerja yang berada di sudut ruangan sambil melihat hasil layout yang dibuatnya pada majalah Rolling Stone edisi terbaru dengan tatapan kosong.

“Begitu Mina datang kau harus minta maaf, Hyung-ah. Kesalahan nama artis di cover story kita cukup fatal karena kantor pusat di New York bahkan sampai menegur.”

Taehyung tidak langsung menjawab. Ia menutup majalah terlebih dulu kemudian berucap, “Itu bukan salahku. Aku sudah mengirim file yang telah kuperbaiki tapi dia mengirimkan file yang salah ke penerbit. Jadi itu salah Mina, kan?”

“Oh, benar juga, sih…” lelaki bermarga Wang itu mengedikkan bahu, memilih untuk tidak ambil pusing. Ia pun mematikan komputernya dan beranjak dari meja kerja. “Aku akan pulang dan tidur seharian, jadi nanti malam bisa menikmati reuni tanpa kantuk sedikit pun. Lama-lama aku bisa gila jika terus lembur hanya untuk menulis berita. By the way, aku duluan, Tae!”

“Pukul 11 di Tart Kafe, ya, Jack-nim!”

Jackson melambaikan tangan sebagai jawaban, kemudian ia pun pergi dari ruangan. Tepat setelah itu, Mina datang dengan keadaan kacau. Melihat kedatangan Mina, senyuman Taehyung pun mengembang.

“Menyingkirlah, itu meja kerjaku,” tutur Mina tanpa ekspresi. Paginya yang cerah telah rusak karena dia baru saja dimarahi habis-habisan oleh Yunho, sang pemimpin redaksi.

“Wajahmu kenapa hancur sekali? Kau sedang banyak masalah, ya?”

Mina mengarahkan pandangan tajam pada Taehyung. “Jika kau tidak sembrono menuliskan judul, wajahku tidak akan hancur seperti ini, tahu!”

Taehyung tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya pada Mina. Lelaki itu tampak merasa bersalah dan pada akhirnya berkata, “Maaf… aku tahu aku juga salah. Tapi, Mina-ya, ada satu hal lebih penting yang harus aku katakan padamu.”

“Penting? Apa?” Mina menaikkan sebelah alisnya. Ia tampak antusias dengan hal yang akan disampaikan Taehyung.

Taehyung berdeham terlebih dahulu sebelum ia mengeluarkan kotak kecil dari saku bajunya. Lelaki itu kemudian meletakkan kotak kecil tersebut di atas meja. Dia juga membuka kotak tersebut sehingga Mina pun tercengang melihat isinya—sebuah cincin berlian. Namun napas Mina kembali tercekat saat mendengar Taehyung berucap, “Maukah kau menikah denganku?”

“Apa?”

“Maukah kau menikah denganku?”

Mina mematung. Ia tak tahu apakah pendengarannya salah atau memang benar lelaki di hadapannya ini tengah melamar dirinya. “Taehyung-ah, apa kau baru saja melamar—“

“Itu yang akan kukatakan pada Ren. Bagaimana, Mina-ya, melamarnya sehabis reuni adalah waktu yang tepat, bukan?”

Ucapan Taehyung tersebut bagai sebuah bumerang yang membangunkan Mina dari dunia khayalan. Mina tahu bahwa perasaan cinta Taehyung pada kekasihnya—Ren—tidak akan pudar begitu saja. Tapi dia tidak menyangka bahwa lelaki yang selama ini ia cintai secara diam-diam akan melamar kekasihnya begitu cepat. Benar… lelaki yang Mina cintai, akan segera menjadi milik orang lain. Seutuhnya.

“Ya… itu waktu yang tepat,” senyum Mina dengan kaku.

###

Berbeda dengan suasana ruang redaksi Rolling Stone, ruang redaksi Grazia tampak begitu rapi dan mewah. Ruangan redaksi majalah fashion dan Lifestyle itu didominasi warna putih dan merah muda, dengan sepuluh meja kerja di bagian tengah ruangan yang ditata sesuai selera pemiliknya. Di sudut kanan ruangan terdapat layar VCR besar yang menampilkan stasiun televisi fashion terbaik dunia untuk bahan referensi para jurnalisnya, sedangkan di sudut kiri ruangan terdapat rak bewarna emas yang memajang rapi dua puluh majalah Grazia edisi terbaru. Di antara sepuluh meja kerja pun terpajang empat maneken tanpa kepala yang kerap digunakan sebagai display pakaian. Berbeda juga dengan Rolling Stone, ruang redaksi itu ramai dan rutinitas sibuk pun tampak sudah dimulai sejak matahari baru saja terbit.

“Hey, Saehyun-ah, bukankah Myungsoo dan Irene adalah temanmu?”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari moodboard[1], Saehyun pun menjawab, “Yup. Kenapa memangnya?”

“Pergilah ke studio. Mereka merepotkan.”

“Myungsoo dan Irene memang dilahirkan sebagai orang yang menyebalkan, Yuri-ah,” ungkap Saehyun seraya terkekeh. Ia menoleh dan tersenyum pada teman kerjanya itu, “Tolong simpan moodboard ini di ruang Pemred Han, biar aku yang tangani Myungsoo dan Irene.”

Yuri mengambil beberapa lembar moodboard yang diberikan Saehyun, “Memangnya Pemred Han tidak masuk kantor, ya?”

“Masuk, tapi akan terlambat karena dia sedang menjemput seseorang. Ah, ya, Yuri, apakah kau juga bisa mengambil beberapa make up sponsor malam ini? Tadinya aku akan membawanya besok tapi mereka memajukan jadwal pengambilan, dan malam ini aku sudah ada janji untuk hadir di acara reuni,” pinta Saehyun seraya beranjak dari meja kerja.

“Bisa. Di mana tempatnya?”

“3CE, Lotte Duty Free.”

“Wah, 3CE?” Yuri pun tampak antusias, dia kembali berkata,”Kalau begitu sampel gratisnya boleh untukku, ya? Aku suka sekali dengan produk mereka.”

Saehyun tersenyum melihat Yuri yang memohon bagaikan anak anjing. “Ambil saja sesukamu, Yuri-ya.”

“Saehyun memang stylist senior terbaik!”

Saehyun hanya menepuk bahu Yuri sebagai jawaban. Wanita itu pun melankahkan kakinya menuju bagian belakang VCR. Di balik VCR itu ternyata terdapat pintu masuk yang membawanya ke studio tempat pemotretan cover tengah berlangsung. Saehyun pun langsung berdecak dan menggelengkan kepalanya dengan miris ketika melihat kedua teman SMA-nya sedang beradu mulut.

“Kau pikir aku senang berpasangan denganmu, huh? Seperti tidak ada idol tampan lain saja.”

Myungsoo mencibir, “Idol tampan memang banyak, tapi sepertinya mereka tidak akan mau dipasangkan dengan leader girl group cerewet sepetimu, Bae Juhyun-ssi.”

“Berhenti memanggilku dengan nama itu! Namaku Irene. Mengerti?”

“Nama itu terlalu bagus untukmu, Bae Juhyun-ssi!”

Irene tampak menghela napas, mencoba untuk menahan emosinya. “Dengar, Kim Myungsoo, aku akan benar-benar menghajarmu jika kau terus merendahkan aku.”

“Siapa yang merendahkanmu memangnya? Aku hanya mengutarakan kenyataan, Bae Juhyun-ssi.”

“Hey, sudah aku bilang jangan panggil—“

YAK!” perseteruan itu dipotong oleh Saehyun yang kini sudah berdiri di antara Myungsoo dan Irene. “Sampai kapan kalian akan bertengkar terus seperti anak kecil, huh? Ugh, bersikaplah profesional dan jangan sia-siakan waktu sesi pemotretan ini agar kalian bisa cepat pulang dan kita bisa menghadiri acara reuni kelas.”

Myungsoo menjentikkan jarinya, “Ah, iya, malam ini akan ada reuni kelas kita.”

“Aku selalu bersikap layaknya seorang pro, hanya saja Myungsoo mencari masalah dan mengacaukan semuanya,” adu Irene.

“Siapa yang mencari masalah? Hey, Bae Juhyun—“

“Tutup mulutmu,” ucap Saehyun memotong perkataan Myungsoo. Wanita itu pun memandang Irene dan Myungsoo bergantian dengan tatapan tegas, “Sekarang gantilah pakaian kalian dan segera lakukan sesi pemotretan berikutnya. Terima kasih.”

###

Gimpo Airport, 10.00 am.

Sunkyo mengepalkan kedua tangannya cemas ketika pengumuman kedatangan salah satu maksapai penerbangan dari New York telah terdengar. Ia pun lekas menyesap kopi miliknya untuk menghangatkan sekujur tubuh yang tiba-tiba merasa kedinginan. Sadar akan rasa paniknya tak kunjung hilang, ia meraih ponsel dari atas meja kemudian menghubungi seseorang.

“Hey, Kim Taehyung, apa kau gila? Kau menyuruhku untuk menjemput Yura saja tapi kenyataannya kenapa aku juga yang harus menjemput Namjoon, huh?”

“Oh… hahaha… awalnya Namjoon bilang dia tidak akan datang karena sibuk, tapi ternyata dia ditugaskan ke Korea dan memutuskan meluangkan waktunya untuk reuni dengan kita. Kedatangannya juga sama dengan Yura, jadi kupikir kau bisa menjemput mereka berdua sekaligus. Bukankah begitu?”

Jawaban Taehyung entah mengapa terdengar begitu menyebalkan di telinga Sunkyo. “Kau tahu bahwa aku orang sibuk, bukan? Kenapa kau seenaknya menyuruhku untuk menjemput Yura, hah? Dan Namjoon… kenapa juga aku harus menjemput dia? Kau tahu sendiri jika Namjoon adalah—“

“Mantan kekasihmu, kan?” ungkap Taehyung, lelaki itu terdengar sedang menahan tawanya. “Maka dari itu aku menyuruhmu untuk menjemputnya. Sudahlah, nanti pasti kau berterima kasih padaku karena hal ini. Jangan cemas, Sunkyo-ya, dan semoga cinta lama itu bersemi kembali. See yaaaa!”

“Hey, Kim Taehyung. Kim Tae—“

Sunkyo melemparkan ponselnya ke atas meja setelah Taehyung memutuskan sambungan. Wanita itu memijit pelipisnya pelan. Perasaannya sungguh tak karuan karena sebenarnya ia sama sekali belum siap untuk bertemu dengan Namjoon. Dia tak tahu harus berbuat apa jika dirinya berpapasan kembali dengan pria paling jenius di kelasnya itu.

“Han Sunkyo?”

“Astaga!”

Wanita bersurai hitam pekat itu pun melonjak ketika seseorang menyentuh bahunya. Ia bahkan lebih tercekat lagi ketika melihat siapa pemilik tangan yang baru saja menyentuh bahunya tersebut. “Namjoon-ah?”

Pria itu tersenyum kemudian bertanya, “Are you ok?”

Tidak, aku tidak baik-baik saja, batin Sunkyo. Wanita itu mematung cukup lama, karena ia benar-benar tidak siap untuk berhadapan dengan pria yang pernah mengisi relung hatinya tersebut. Setelah sadar dari lamunan dan mengumpulkan semua nyawanya, Sunkyo pun menjawab, “No, I’m not. Uh, I mean… yes, definitely yes, I’m fine. Thanks.”

“Syukurlah jika kau baik-baik saja,” tutur Namjoon dengan lembut seraya duduk di hadapan Sunkyo.

“Hmm… kau tidak membawa koper?” tanya Sunkyo ketika sadar pria yang tengah memakai parka coklat itu tidak membawa tas apapun.

“Koper?” tanya Namjoon dengan nada heran.

“Sedikit aneh jika kau tidak membawa apapun ketika perjalanan jauh, bukan? Maksudku, kau baru saja datang dari New York dan tidak membawa apa-apa. Jadi… mmm… kau paham dengan penjelasanku, bukan?”

“Ah…” Namjoon terkekeh, “Aku sudah tiba di Seoul dua hari yang lalu, by the way. Dan sekarang aku ke sini untuk menjemput Yura. Taehyung meminta bantuanku untuk menunggu Yura di kafe ini dan aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu.”

Kim Taehyung sialan, Kim Taehyung sialan. Aku akan segera membunuhmu saat bertemu, kesal Sunkyo dalam hati.

“Dan kau… sedang apa kau di sini, Sunkyo-ya?”

Pertanyaan Namjoon kembali menyadarkan Sunkyo dari lamunan. Wanita itu tampak berpikir sebelum menjawab, “Wawancara? Ah, benar, aku baru saja bertemu dengan narasumberku untuk wawancara. Biasalah… narasumberku sangat sibuk bolak-balik ke luar negeri sehingga kami harus bertemu di bandara. Haha…”

Namjoon mengangguk mengerti. “Oh, ya, aku hampir lupa. Bagaimana kabarmu, Sunkyo-ya? Kau baik-baik saja, kan?”

Pertanyaan klise. Sungguh pertanyaan yang paling Sunkyo benci. Rasanya ia ingin menjawab, ‘tidak, aku tidak baik-baik saja karena beberapa tahun ini aku sering memikirkanmu’ pada Namjoon, tapi jawaban tersebut tampaknya hanya bisa disimpan secara rapat dalam diri Sunkyo dan pada akhirnya wanita itu hanya bisa berkata, “Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat sekarang.”

Perfect.” Ungkap Namjoon kembali memamerkan senyumannya. “You know… glad to see you again, Sun.”

Yup. Me too, Joon,” balas Sunkyo dengan senyuman kaku.

Suasana keduanya berakhir canggung tanpa percakapan apapun. Namun setelah beberapa menit berlalu, Namjoon kembali membuka suaranya, “Tentang reuni ini… aku pikir ada hal yang aneh.”

“Aneh? Maksudmu?”

Namjoon tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan selembar foto dari saku parkanya dan meletakkannya di atas meja, memperlihatkannya pada Sunkyo. “Sekilas memang tampak seperti foto biasa—foto bersama anak-anak kelas. Tapi jika kau melihatnya dengan seksama, saat pikiranmu kosong dan jernih, kau akan menemukan hal aneh di sana.”

Sunkyo tampak bingung, “Aneh?”

“Benar. Hal aneh yang membuatku memutuskan untuk datang ke reuni ini dan memastikannya secara langsung,” Namjoon pun menghela napas sejenak. “Aku hanya memberitahu hal ini padamu. Dan aku pikir kau harus melihat apa yang telah aku lihat dalam foto tersebut. Karena, kau tahu, aku hanya percaya padamu.”

Setelah mendengar jawaban Namjoon, Sunkyo pun segera memerhatikan foto tersebut secara seksama. Ketika masih sekolah, Sunkyo terbilang anak yang pintar, maka tak heran jika ia langsung bisa fokus sepenuhnya pada foto tersebut hanya dalam beberapa detik. Dan entah mengapa, pandangannya mulai sedikit kabur. Gambar dirinya bersama teman-teman sekelasnya dulu pun makin memudar digantikan bayangan hitam. Bahkan kepalanya terasa semakin berat, bagaikan tengah dipukul oleh benda keras. Dan…

“Booo!!”

“Akhhh!”

Sunkyo berteriak sehingga fokusnya langsung hilang saat seseorang mengagetkan dirinya. Wanita itu pun menoleh dan mendapati teman lamanya yang bernama Yura kini tengah terbahak karena berhasil melancarkan aksi jahilnya.

“Han Sunkyo, kau terlalu serius memandangi foto, sih, makanya langsung kaget begitu. Padahal aku hanya berniat menyapamu, tahu.”

“Kau terlalu semangat menyapa Sunkyo sampai dia terlonjak kaget, Yura-ya,” tutur Namjoon sambil terkekeh.

“Menyebalkan…” runtuk Sunkyo sambil memasukkan foto tersebut ke dalam tasnya dengan spontan. Wanita itu mengehela napas, “Aku akan kembali ke kantor.”

Sunkyo hendak beranjak dari kursinya tetapi Yura menahan. “Santai sebentarlah, Sunkyo-ya. Kita ngobrol-ngobrol saja dulu. Sudah begitu lama sejak tiga orang terpintar di kelas berkumpul, bukan?”

###

Langkah kaki Jungkook melambat ketika dia melewati pintu ketiga pada koridor yang sedang dilaluinya. Denting piano yang tengah memainkan lagu anak-anak Twinkle Twinkle Little Star dari ruangan tertutup tersebut membuat rasa penasaran Jungkook muncul. Secara perlahan ia pun mengangkat tangan kanannya dan meraih kenop pintu, memutar kenop tersebut dengan perlahan, kemudian membuka pintu tersebut sampai ruangan gelap berisikan satu grand piano itu terlihat. Lelaki itu pun tampak heran, tidak ada satu manusia pun di dalam sana, padahal baru saja dia dengar permainan piano di tempatnya tersebut.

“Kau mencariku?”

Bisikan itu melintas dengan cepat di kedua telinga Jungkook seiring dengan munculnya angin halus yang entah datang dari mana—karena ruangan tersebut sama sekali tidak memiliki jendela. Kedua tangannya pun menutup telinga dengan spontan ketika piano kembali dimainkan dengan sembarang hingga mengeluarkan suara bising luar biasa. Kedua netra Jungkook pun kemudian mendapati seorang wanita bergaun putih yang tampak emosi memainkan piano tersebut.

“Hey, nona, kau akan merusak piano itu.”

Setelah Jungkook berkata demikian, wanita yang awalnya menunduk itu pun mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook tajam.

“Oh, shit.”

Seluruh tubuh Jungkook kini bergetar sekaligus berkeringat. Pasalnya, wanita yang tengah duduk di kursi piano itu bukan berasal dari dunianya. Wajah wanita berambut panjang tersebut berlumuran darah dengan banyak belatung tengah menggerogoti mata kirinya yang busuk. Jungkook hendak kabur, tetapi aksinya terlambat. Dengan secepat kilat wanita itu kini sudah berada tepat di hadapan Jungkook dengan kedua tangan terulur… untuk mencekiknya.

“Mati… Mati… Mati…”

……

Jungkook segera terbangun dari tidur dengan keringat yang membasahi tubuh. Napasnya kini tak beraturan akibat mimpi buruk yang tampak begitu nyata bagi dirinya. Sungguh aneh… karena ia mendapatkan mimpi yang sama untuk ketiga kalinya.

Kring… Kring…

Telepon rumah yang ada di atas meja kecil di samping tempat tidurnya membuat Jungkook terlonjak kaget. Bahkan ia sempat mengumpat tak jelas sebelum mengangkat panggilan tersebut, “Ya, kediaman Jeon Jungkook di sini. Ada perlu apa?”

“Jungkook-ah, ini aku Minji.”

Jungkook menghela napas, “Oh, Minji-ya, ada apa?”

“Kau jadi datang ke acara reuni, bukan?”

Lelaki itu melirik jam dinding yang ada di kamar, sudah pukul sepuluh malam. Ia pun mengusap wajahnya terlebih dulu sebelum menjawab, “Ya, tentu, aku akan datang.”

“Aku sedang bersama Jackson dan Taehyung. Kau mau berangkat bareng, tidak? Jika mau, kami akan menjemputmu.”

“Kalian duluan saja. Aku ketiduran dan sama sekali belum bersiap. Oh, ya, tolong kirimkan alamat Tart Kafe padaku. Aku sama sekali tidak tahu jalan ke sana.”

“Baiklah kalau begitu, nanti aku kirim alamatnya. Sampai bertemu di TKP!”

Jungkook tersenyum kecil saat mendengar kalimat terakhir Minji kemudian menutup teleponnya. Dia memijit bagian kepalanya karena rasa pusing yang menyerang. Ketika ia sedang meregangkan bagian leher dengan menggunakan tangan kanannya, dia merasakan cairan kental yang juga amat lengket. Perasaan cemas sekaligus panik pun langsung menyelimuti ketika Jungkook melihat telapak tangan kanannya yang kini berhias darah segar yang berasal dari lehernya.

“Ini bukan mimpi.”

Dia pun kembali terlonjak kaget ketika sesuatu jatuh tepat di hadapannya. Selembar foto—yang berhasil membuat kedua matanya terbelalak.

###

Taehyung, Jackson, dan Minji kini sedang berdiri di depan pagar sebuah rumah megah bergaya eropa—terlihat seperti kastil. Pagar besinya yang menjulang tinggi dan penerangan temaram membuat rumah tersebut tampak mengerikan layaknya rumah tak berpenghuni. Suasana seram pun semakin kental, ketika suara burung hantu peliharan si pemilik rumah terdengar samar.

“Taehyung, selera kekasihmu benar-benar menakutkan. Kau saja yang masuk ke rumahnya,” kicau Jackson seraya berbalik pergi, tetapi langkahnya ditahan oleh Taehyung.

“Bagian dalam rumah Ren tidak menakutkan, kok.”

“Memang kau pernah masuk ke sana sebelumnya?”

Pertanyaan Minji membuat Taehyung terdiam. Benar, walaupun sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, lelaki itu sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di rumah Ren. Tidak hanya Taehyung, bahkan sebenarnya belum pernah ada di antara mereka yang masuk ke dalam rumah Ren sebelumnya.

“Telepon Ren saja dan bilang padanya kita menunggu di mobil.”

Kreek…

Tepat setelah Jackson berkata demikian, pagar besi di hadapan mereka pun terbuka secara otomatis, bagai mempersilakan ketiga anak manusia tersebut untuk masuk.

“Masuklah… ada yang ingin kutunjukkan pada kalian,” suara Ren pun terdengar dari interkom.

“Ren mengizinkan kita masuk ke dalam rumahnya, tuh. Hal yang bagus, bukan? Jadi, jangan menyiakan kesempatan ini!”

Minji pun segera menarik lengan kedua temannya dan melangkah menelusuri jalan setapak yang membawa mereka ke pintu utama rumah Ren. Ketika mereka telah tiba, pintu tersebut juga kembali terbuka secara otomatis. Sempat ragu, pada akhirnya Minji, Jackson, dan Taehyung pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tak dapat dipungkiri, adrenalin mereka kembali terpacu saat pintu tertutup sehingga hanya ada kegelapan di sana.

“Umm… Ren? Bisakah kau menyalakan lampunya? Di sini sangat gelap dan kami tidak bisa melihat apa-apa.”

Tepat setelah Taehyung menyelesaikan kalimatnya, lampu chandelier dengan cahaya kekuningan pun menyala—tidak sempurna, karena lampu tersebut hanya memberikan cahaya temaram seperti halnya penerangan di bagian luar rumah. Meski demikian, ketiga orang itu kini mampu melihat seluruh isi ruangan dengan jelas, termasuk tangga putih terbuat dari tembok seperti yang ada di istana.

“Woah… rumahmu benar-benar luas dan—Aghh!”

Jackson melompat lalu segera bersembunyi di belakang Taehyung. Lelaki itu sedang menganggumi isi rumah Ren, tetapi ketika kepalanya menoleh ke kanan, ia dikagetkan oleh sebuah rak besar yang memajang puluhan boneka tua berjenis bisque[2] yang memiliki bentuk aneh sekaligus menyeramkan.

“Bagaimana bisa dia menyimpan boneka Annabelle sebanyak itu? Oh, ya Tuhan,” gumam Jackson sambil mengelus dadanya, sedangkan Taehyung hanya bisa menggulum senyum saat temannya itu ketakutan.

“Lebih tepatnya, bagaimana bisa dia menyimpan berbagai barang creepy di rumahnya,”  Minji pun berucap ketika ia sadar banyak barang berbau mistis di ruang tamu teman SMA-nya tersebut—seperti papan Ouija yang terdapat di atas meja tamu, patung gagak di sudut ruangan, lukisan-lukisan abstrak kuno, dan tentunya koleksi boneka tua menyeramkan yang biasa menjadi barang terkutuk dalam serial horror.

“Kau yakin akan segera melamar Ren? Taehyung, seleramu agak—“

Perkataan Jackson terpotong karena tangan Taehyung yang dengan spontan menutup mulut lelaki itu. “Jaga ucapanmu. Jangan banyak komentar.”

Hallo, there.”

Suara lembut itu secara otomatis membuat bulu kuduk Minji, Taehyung, dan Jackson berdiri. Mereka bahkan sampai saling berpelukan ketika melihat seorang wanita dengan gaun putih selutut tampak berdiri di tangga bagian tengah sambil membawa lilin dengan kedua tangan.

“R-R-Ren? Kau… Lauren Kim, bukan?” tanya Taehyung dengan gagap, pasalnya ia tidak bisa melihat wajah kekasihnya itu dengan jelas.

Ren tersenyum, tapi itu malah membuat Taehyung semakin tidak mengenali sosok kekasih yang tengah berdiri cukup jauh di depannya tersebut. Wanita itu pun melangkah menuruni tangga, kemudian berjalan mendekati ketiga temannya.

“Oh, puji Tuhan, kau memang Ren,” celetuk Minji sambil menghela napas lega. Tapi hal itu tidak membuat suasana semakin membaik. Bahkan hawa dingin semakin menghampiri, membuat tiga serangkai itu tidak melepaskan pelukannya.

“Minji-ya, Taehyung-ah, Jackson-ah, aku punya cerita menarik,” tutur Ren yang membuat ketiga temannya terdiam heran, tapi tetap memilih untuk mendengarkan. “Seseorang tengah berada dalam kegelapan. Dirinya sekarang sedang dililit kawat yang menimbulkan luka parah dan rasa sakit yang luar biasa. Tapi… kalian tahu? Ada hal indah yang bisa ia rasakan, yaitu ketika legam panas mencekik lehernya—membuat tenggorokannya kering dengan napas tertahan sampai ia tidak merasakan lagi kehidupan. Dia telah kehilangan kesempatan hidup, dengan cara cepat dan biadab. Tapi… kini dia tidak sendirian. Apa kalian tahu alasannya?”

“…”

“…”

“…”

Ren tersenyum misterius sebelum melanjutkan, “Karena dia bersama kalian. Sekarang.”

“Huwaaa!!”

Minji, Taehyung, dan Jackson pun histeris, tapi mereka tetap diam di tempat—hanya mendorong satu sama lain. Hingga pada akhirnya Taehyung menatap Ren dengan serius dan berkata, “Are you drunk, Ren?”

Pertanyaan Taehyung membuat Ren tiba-tiba mengerjap. Dia menatap tiga temannya dengan heran, “Kalian… sedang apa kalian di sini?”

“Uh? Sedang apa? Hey, Ren-ah, kau yang menyuruh kami masuk,” Minji mengingatkan.

“Dan kau baru saja menceritakan hal aneh. Oh, my… I just realized that you’re so weird,” timpal Jackson.

Ren tidak berkutik, membuat Minji dan Jackson saling bertatap heran. Merasa khawatir, Taehyung mendekat kea rah Rend an kedua tangannya menyentuh pundak Ren—berusaha untuk menenangkan. Lelaki itu pun menatap Ren dengan lembut, “Kau baik-baik saja, Ren? Adakah sesuatu yang terjadi padamu?”

Ren membalas tatapan Taehyung dengan sendu, “Taehyung… bisakah kau membatalkan acara reuni ini?”

###

Tart Kafe, 11.30 pm.

Lantunan lagu Save Me milik BTS menemani kesendirian Sunkyo. Wanita itu menyeruput teh manis dingin hingga habis—itu merupakan gelas keempat yang sudah dihabiskannya. Mulai bosan, dia pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan menghela napas kesal ketika melihat waktu menunjukkan pukul 11.30 pm.

“Membuang waktuku saja.”

Sunkyo meraih tas dan hendak pergi dari kafe, tapi hal tersebut berhasil dicegah oleh Mina—yang tampak baru datang bersama seorang wanita lain bernama Jiseo.

“Coba kutebak, kau pasti kesal karena reuni ini tidak dimulai tepat waktu. Wuah… murid teladan kita memang tidak pernah berubah. Selalu datang lebih awal,” ungkap Mina sambil menggulum senyum.

“Park Mina, sudah lama kita tidak bertemu dan kau malah berkata seperti itu? Ck, kau tidak ada niat menanyakan kabarku?”

Mina terkekeh, “Aku tidak akan bertanya hal tersebut, karena pada akhirnya kau akan menjawab ‘aku baik-baik saja’. Jawaban mainstream. Betul, kan, Jiseo-ya?”

Perempuan berambut coklat di sebelah Mina mengangguk, “Kabar dari seorang Pemred majalah paling bergengsi di kalangan wanita Korea sepertimu memang selalu baik, bukan?”

“Berhentilah menggodaku… kalian ini. Mari duduk, perutku lama-lama kembung karena terlalu banyak minum sendirian,” Sunkyo tersenyum.

Niatan kabur pun langsung menghilang dari pikiran Sunkyo. Dia merasa senang karena pada akhirnya bisa bertemu kembali dengan Mina dan Jiseo—teman sekelasnya yang jarang ia temui walaupun mereka masih tinggal di kota yang sama. Ketiganya pun berbincang, membicarakan pengalaman setelah bekerja sampai bergosip tentang para idola kesukaan mereka ketika masih SMA. Sampai lima belas menit berlalu, satu per satu penghuni kelas Sosial-1 Hansung High School itu datang—membuat suasana kafe yang berada di lantai dua itu ramai dengan berbagai obrolan, sampai percakapan sekadar saling tegur sapa yang melepas kerinduan masing-masing.

“Hey, guys, sebentar, aku tidak melihat Myungsoo. Dia ke mana?” tanya Kai, menyadari ketidak hadiran bekas teman sebangkunya itu.

Jackson yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku sehabis menghubungi seseorang pun menjawab pertanyaan Kai dengan nada yang terdengar ragu, “Mmm… sepertinya kita harus ke sekolah.”

“Maksudmu… Hansung High School?” kali ini Saehyun yang bersuara.

Jackson mengangguk, “Yep.”

“Kau sudah tidak waras, ya? Untuk apa kita ke sana ketika hampir tengah malam seperti ini, huh?” keluh Jungkook.

Jackson tampak bingung memberikan jawaban atas pertanyaan Jungkook yang lebih terdengar seperti menghakimi. Lelaki itu menggaruk tengkuknya terlebih dulu kemudian berucap, “Masalahnya…”

“Masalah apa?” kali ini Taehyung yang membuka mulut, ia ingin Jackson segera menjelaskan. Dia sungguh tidak menyukai orang yang bertele-tele—seperti yang tengah dilakukan Jackson saat ini.

“Masalahnya… Myungsoo terjebak di sana.”

“Maksudmu?”

###

Beberapa jam sebelum reuni

Kediaman Ren, 10.00 pm.

Drap!

Drap!

Drap!

Ren maju sebanyak tiga langkah, semakin dekat dengan cermin besar kamarnya. Ia tersenyum pada bayangan dirinya kemudian berkata, “Derap langkah itu mendekatimu. Sembunyilah, jauh di sudut sana.”

Tok! Tok!

Tangan halus gadis itu mengetuk cermin lalu kembali bersuara, “Ketukan pertama akan kau dengar. Larilah, segera temukan cahaya—meski temaram.”

Tok! Tok!

Ia kembali mengetuk cermin, kini seringai dari bibir merah mudanya semakin terlihat. “Ketukan kedua pun terdengar. Segera buka mulutmu dan jangan membisu,” ia terdiam sejenak. “Tapi teriak tidak diperbolehkan,” bisiknya seraya tertawa.

Tok! Tok!

Tangannya mengetuk cermin lagi. “Pada akhirnya ketukan ketiga terdengar. Lihatlah ke belakang…Aku menemukanmu,” Ren pun mematung, bola matanya seketika berubah jadi merah dan dengan tatapan kosong itu ia berbisik. “Kau mencariku?”

***

“Selamat datang, aku di belakangmu.”

^

^

-Hide and Seek-

….

Entahlah…Entahlah…Entahlahh… ini masih bisa dibilang prolog atau langsung chapter 1 kwkwkwkw. Tapi aku bakal tetep bilang ini prolog sih karena ini baru awal cerita mereka—yeah walaupun kayaknya agak gimanaaaa gitu ada prolog yang ngabisin 15 halaman ms. Word bwakakakaka. Yasudahlah… semoga kalian suka dengan permulaan kisah ini. Biar makin nangkep jalan ceritanya, kalian bisa lihat Video Trailer yang udah aku buat di bawah ini. Itu aku bikinnya tengah malem, di sela-sela bikin tugas kwkwkw. FF ini juga aku bikin disela-sela bikin tugas juga sih, makanya jangan heran kalau ada sedikit curhatan aku yang nyelip Okee… kalau begitu saya pamit dulu dan ditunggu komentar, kritik, dan sarannya… see ya!

Trailer Video

(Disarankan menonton dengan menggunakan earphone/headphone dengan volume medium–volume full takut terlalu keras hahahay)

P.S: Di teaser ada beberapa tokoh yang bekerja sebagai redaktur pelaksana majalah(Mina dan Namjoon)—di sana aku gak ngejelasin detailnya btw. Bagi yang belum tau (atau mungkin bingung dan mau tahu) redaktur pelaksana itu adalah sebuah jabatan di majalah/Koran/media massa yang berada di bawah Pemimpin Redaksi (Pemred). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred, tapi lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor. Redaktur Pelaksana (Redpel) juga dikenal—sebutan lainnya lebih tepatnya—sebagai Managing Editor. (Semoga info ini bermanfaan deh ya kwkwkwk)

[1] Peta konsep yang menggambarkan highlight/garis besar tema untuk pemotretan di suatu majalah (biasanya untuk foto cover, rubrik fashion, dan sejenisnya)

[2] Boneka menyerupai manusia yang terbuat dari plastik, contohnya boneka anabelle atau boneka susan

Advertisements

10 thoughts on “[Series: Prolog] Hide and Seek

  1. Shafaa, maaf banget baru sempet komen hihihi

    first of all, aku mau komentar tentang fmvnya dulu. and, wow! it’s so great! I want try to make it, too 😍 berasa nonton cuplokan film beneraaan duuh keyeeeen.

    terus tentang prolognya, hmmh sepertinya ada bau-bau mistis nih, apalagi pas adegan Ren (note : suwer ya pas baca nama ini ku kira Ren Nuest loh kkk), entah knp jdi inget insidious. kayaknya ni si Ren kerasukan? Duh gak sabar deh.

    trus yg bikin aneh itu ngapain dan kenapa coba si Myungsoo koq bisa kejebak di sekolah? gimana tadinya? Sepertinya sih gegara Myung semua jd terancam dan masuk ke permainan aneh itu ya? #soteww
    Awalnya aku kira taehyung yg ngajak temen2nya ke sekolah, ternyata gegara Myungsoo kekurung di sekolah kkkk

    ku tetep setia om buat nunggu chapter 1 nya. fightiiing 😊

  2. Hai oom! Sejujurnya aku sudah baca ini dr kmrn pagi tp aku tergoda sana Sherlock Holmes BBC. Overall, I like this. Pengkondisian ceritanya bisa dibikin megang tapi santai. Yang gak aku suka adalah….. Knp part Minji udh kayak cameo -_- heol. Blm keliatan klo Minji itu si idiot pemberani. Dan ada beberapa pertanyaan yg mengganggu kepalaku.
    1. Foto yg ditujukan Namjoon ke Sunkyo, apa itu beneran sign atau hanya krn matanya skrg fokus?
    2. Ren itu dirasukin kan? Jadi apa dia itu semacam perantara antara si setan dg manusia? (Btw, pas baru baca aku berpikir Ren di sini adalah Irene RV)
    3. Jungkook, itu dia dicekik pake apaan bisa berdarah? Yg aku tau cekekan itu bisa bikin lebam/memar aja.
    4. Knp yg tiba di Tart Kafe cuma Sunkyo, Mina, Jisoo? Minji, Taehyung, dkk kemana?
    5. Kalo beberapa jam sebelum acara reunion (10.00pm) Ren masih di rumah jadi dia itu dijemput Minji, Taehyung, dkk jam brp? Kok bisa dia masih di rumah? (Utk pertanyaan ini aku bingung sendiri penulisannya gimana)
    Ditunggu oom kelanjutannya.

    • Dihhhh kamu suka Sherlock Holmes? Sama dong… cuma aku lbh suka novelnya sih, kalau film-nya sama sekali blm pernah nonton (lah kok jd bahas iniii)
      Kwkwkwkw maafkan dirikuu… tenang saja Minji tidak akan jd cameo karena ini baru perkenalan dan setiap chapter bakal nyeritain lebih dalam setiap karakternya kok. Dan sesungguhnya Minji enggak pemberani btw, hanya saja dia punya pemikiran out of the box dan gak bisa ditebak #lebihlengkapnyantarbacaajachapselanjutnya kwkwkwk
      Nahh… good questionn, aku jawab satu-satu yaah

      1. Itu beneran sign, hanya saja sign bisa keliatan pas yang ngeliatnya fokus dan pikiran mereka kosong melompong. Dan krn Yura keburu ngagetin jd Sunkyo gk bisa melihat sign itu sepenuhnya btw
      2. Ren is mysterious girl. Dengan profesinya sebagai SFX makeup sebenernya aku mau nunjukin kalau sebenernya dia adalah cewek yg sangat tertarik sama dunia ghaib dan yg berbau misteri. Dan yes, dia lagi kesurupan, tanpa dia tahu, ketertarikannya akan dunia astral membuat ‘makhluk’ dr dunia sana menggunakan Ren sbg perantara untuk komunikasi sm manusia
      3. Yes… di sini aku lupa mendeskripsikan tangan setan yg mencekik jungkook itu tajam (kukunya) sehingga menimbulkan luka sayat juga di leher doi yg berasal dr kukunya tsb…
      4. Semuanya udah tiba di Tart kafe kok, cuma aku jelasinnya secara general dan gak nyeritain semua karakter. Scene lebih jelasnya akan ada di part selanjutnya (berhubung ini alurnya maju-mundur cantik macem syahrini kwkwkwk)
      5. Nah pas adegan yg paling akhir itu, Ren blm dijemput si tiga serangkai. Barulah setelah selesai kesurupan, tiga serangkai dateng. Ren kesurupan gak sampe berjam-jam btw… jd kalau km mau tau waktu tepatnya, kemungkinan tiga serangkai itu ngejemput Ren pukul 10.20. Dan btw itu alurnya mundur lagi, jd penulisannya untuk adegan itu semacam epilog alur mundur… ini waktu kejadian Ren kesurupan sama persis ketika Jungkook mimpi buruk. Dan yes, keduanya punya hubungan yg erat. Gimans? Kalau masih gak ngerti tanyain aja wao kwkwkwkw

      Yeppsii thank yu yaa and just wait 😘😘

  3. Bacanya nyeremin igh apalagi liat videonya. Jadi penasaran nih kelanjutannya. Tapi aku bingung habis Taehyung Jackson n Minji dah ke cafe kok si Ren ga ikut? Terus bagaimana juga si Myungsoo di sekolah?

    • Ren sebenernya ikut mam… cuma gak diceritain secara detil. Dan yg pas adegan Ren yg paling bawah itu sebernya Flashback, sebelum Taehyung Jackson sama Minji dateng… nah kalau buat Myungsoo ditunggu kelanjutannya aja yaah kwkwkwkw thanks for read n comment mamcunnn 😘😘😘😘

  4. Annyeong pak shafa~!!
    Pengakuan dulu, sebetulnya aku udh baca ini dr semalem.. tp mau komen terlalu ngantuk krn udh lewat jam malam… trus pagi2 aku mau komen tapi kena jeda nganterim adek, trus kepasar, trus makan mandi dan sebagainya. Ps: aku libur krn aksi damai 212 ✌✌✌ ujian diundur sampe tgl 14… artinya… kemungkinan shs molor 2 minggu lebih 😂😂😂😂

    Eum… apa ya kira2 yg mau aku omongin… huaaahhh tapi seriously aku puas bgt sama teaser ini (yg katanya memakan 15lembar word) sama kok kayak shs 😂😂😂 memakan 15lembaran juga. Okeii.. kita masuk ke cerita…. (akhirnya baca lagi dan nonton lg teasernya)

    First aku suka pak cara kamu menggambarkan kondisi mina yg berantakan, dan kondisi redaksi. Mungkin itu juga krn merupakan bagian dr kerjaanmu wkwkwkwk. Overall aku suka. Jd bayangin siwon di she was pretty #nahloh# 😂😂😂😂

    Yg kedua aku mau mempertanyakan… namjoon itu siapa wakakakkaka tp yasudahlah toh kami cuman mantan 😂😂😂😂 dan sepertinya aku mulain mengerti sama alurnya. Ini menarik sumpah!

    Kode yg paling jelas itu dr si jungkook dan ren (entah kenapa visualisasi aku ren itu si choi ren nuest #efekshs 😂😂😂) aku suka bgt setiap kalimat deskripsi yg jelaskan. Mulai berasa sama mimpinya dek jung, aku berasa liat reka ulang insidious 1, anabelle, the conjuring, dan sebagainya (berhubung aku baru aja menyelesaikan parade film horor) entah krn masih terbawa efek film atau apa, yg jelas aku sangat menikmati prolog yg panjang ini. Ngerinya mimpi jungkook aku beneran bisa ngerasain, terutama waktu dia bangun. Intinya this is very awesome!!

    Dan soal ren aku paling suka dia. Kalo di film2 biasanya tipe2 cewek lemah berwajah unyu nan cute, tapi punya keberanian. Dia yg jd tokoh utama sebenarnya… maksudnya tokoh utama pemanggil setan. 😂😂😂😂 and than di endingnya aku sangat teramat penasaran sama myungsoo.. kenapa dia tiba2 bisa ada di hansung??? Terjebak???? Terjebak karena apa???? Ini ada hubungannya sama ren????

    Okeh abaikan spekulasi2 gajelas itu 😂😂😂😂 tapi pak shafa aku jauh lebih penasaran sama ren loh di banding sama sunkyo(karena sunkyo ga mau terlalu fokus kalau bukan sama siwon#eaaaa) seriouly yg aku tunggu2 itu flasbacknya si hantu tersebut. Kenapa dia menghantui dan kenapa mereka semua terjebak di sekolah. Aku beneran memvisualisasikan sekolahnya model2 di death bell 1 dan 2. Aduh… disini sunkyo ranking 3 besar lg😂😂😂 jgn2 aku yg pertama di bunuh???? Andweee!!!

    Yah intinya pak… aku suka secara keseluruhan ff ini. Seperti yg kubilang di komen sebelumnya, bahwa aku suka pake banget sesuatu yg berbau horor atau psyco #nahloh# dann last….

    Ini beneran last pak, aku janji 😂😂😂😂 the trailer is very very awesome!!! Aku sukaaaaa aaaaaaa… kapan yaaa bisa bikin yg kayak gitu pak… aku cmn buat fmv biasanya krn aku blm yakin bisa buat yg hampir sama kayak real teaser trailer gitu 😂😂😂😂 mungkin nanti pak di ff selanjutnya… kalau shs udh selesai (meskipun aku gatau kapan shs selesai, i just have one binder file for shs’s plot #ripenglish)

    Okeh pak ini sudah terlalu melampaui batas komen…. i just terlalu excited #apaini 😂😂😂😂 ku tunggu chapter berikutnyaaa…

    Semangaatt pak… han sun kyo mendukungmu!!! Lanjutkan!!!!

    • Halloo yuuun… pengakuan juga yun, aku udah baca komenmu dr sejak kemarin kemarin tp baru bisa bales skrg karena sibuk ngurusin tugas kwkwkw omaigatt tp gk apa apalah yaa diundur jd persiapan ujianmu lebih matang, btw aku akan setia menunggu shs kooks so take your timee 😘
      Ini 15 lembar krn ukuran font pas aku ngetik cukup gede sih jadi yaah makan tempat kwkwkw
      Iyaa sebenernya kisah Mina aku ambil dr kisah real bekas redaktur aku bwahaha dan aku sengaja ngambil pekerjaan jurnalistik biar sekalian curhat 😂😂
      Namjoon itu Rap Monster, cari aja di gugle buat lbh mengenal mantanmu itu yun. Tp kalian hanya mantan kok, krn aku tahu hatimu akan selalu tertuju pada siwon #cailaaahh
      Astaga aku ngakakk… tokoh utama pemanggil setan kwkwkwkw
      Hahahahay hayolohh… mari kita lihat aja yaak ini bener berdasarkan ranking apa bukan #nahloh
      Aku baca komenmu yg ttg editing video aku jadi inget: AKU BLM SHARE FLIMORA KE DROPBOX YA? 😂😂😂😂😂😂 Maafkaaannn… aku share nanti setelah hari Kamis yaa krn skrg aku lg persiapan buat presentasi seminar huhuhuhu (ingetin aku pas hari Kamisnya aja yaah. Aku bener bener lupa maafkan. Pikun tingkat akut)
      Okee… thankk yuuu yunnn 😙😙😙

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s