[Multichapter] #4 Seiryu High School: Challange [3]

_shs_cover_

SEIRYU HIGH SCHOOL

“Ever tried, ever failed. No matter what, try again, fail again. Then, fail better—The best way out is always trough….”

A fanfic by BluebellsBerry

|| Prolog || 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 ||

Starring by:

SF9’s Baek Juho || NCT’s Lee Taeyong || Actor’s Kim Woobin || INFINITE’s Kim Myungsoo || BTS’s Kim Seokjin || NUEST’s Choi Ren || BTS’s Min Yoongi || BTS’s Kim Taehyung || OC’s Ahn Minji / Kim Yena / Han Jihyun / Kim Yuna / Lee Nayoung / Go Yun Ae (Yeollane Kayonna Earth) / Park Chanmi / Park Mina ||

Other cast by:

Actres’s Kim Tae Hee & T-ARRA’s Park Jiyeon || OC’s Han Sun Kyo & Super Junior’s Choi Siwon || Actres’s Go Hyeon Jong & OC’s King Andrew Kayonna Earth || EXO’s Lay Kayonna Earth (crown prince of Andorra) & MISS – A’s Suzy Kayonna Earth (crown princess of Andorra) || Actor’s Ahn Jae Hyun & Actres’s Go Hye Sun || Actres’s Han Hyojo || Others ||

Genre: School Life, Drama, Family, Friendship, Romance

Disclaimer:

All cast belong to God; their self, family, agency and fans. All plot and storyline are belong to author. Cerita ini hanyalah fanfiction semata, apabila ada kesamaan nama, tempat kejadian, atau pun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesenganjaan dari penulisnya.

Rating: PG-13

Warning!

Tidak disarankan bagi para pembaca berkategori silent readers untuk sekedar penasaran atau bahkan membaca. Ada kemungkinan dapat menyebabkan ketagihan dan halusinasi berlebihan terhadap tokoh-tokoh utama. Tinggalkan komentar setelah membaca, dilarang memberikan komentar yang memicu keributan. BE A GOOD READERS PLEASE!

Don’t copy, claim or sharing this fiction without permission!

.

.

.

And the story is begin

__oO0__

_shs_cover_cast

Chapter 4: Challenge [3]

oOo

Other Cast: || Kim Soohyun || Jun Jihyun || Baek Ji Young || Park Jungsoo (Leeteuk SJ) || Kang Sora || Shin Donghee (Shindong SJ) || Park Chanyeol || Park Yoochun || Kim Seungwoo || Jung Yonghwa

oOo

“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”―Tere Liye

oOo

 

“Sayang, apa Taehyung kemari tadi?”

Seorang wanita dengan setelan terusan berwarna putih gading itu menuruni tangga dengan langkah terburu-buru, menghampiri sesosok pria tampan bersurai legam di bawah. Tampak ia begitu kesal, entah karena bisnisnya berjalan tidak baik atau karena hal lainnya, tapi satu hal—wanita itu, Jun Jihyun, tahu jelas bahwa putra sulungnya baru saja datang.

“Begitulah,” pria itu melirik sekilas, tersenyum miring pada wanitanya, “Tapi nampaknya sekolah itu memiliki pengaruh buruk untuknya—anak itu membawa seorang teman yang kurang ajar.”

Jihyun tersenyum, “Mereka cuma anak-anak, sebaiknya kau tidak terlalu keras, Soohyun-ah.”

“Anak-anak yang menyebalkan.” Ia mendengus, membuat istrinya mengulum senyum—membuktikan bahwa sebenarnya tak semua hari secerah kelihatannya.

Sejurus kemudian Kim Soohyun bangkit dari tempat duduknya, memacu langkah tegas ke arah jendela kemudian membuka sedikit tirainya—diluar tampak dua pemuda tengah meributkan sesuatu, “Anak itu…siapa dia?”

Masih di teras, Taeyong menatap malas pada pemuda Kim di depannya itu. Bukan apa-apa, tapi Taeyong cuma tak mengerti, mengapa Taehyung diam saja di perlakukan sedemikian kasar oleh pria ringan tangan yang disebutnya ayah itu?—pun otaknya masih tidak bisa mencerna kemungkinan-kemungkinan yang ada hingga orang itu melakukannya pada Taehyung. Entahlah, ia cuma terlalu takut untuk bertanya—terutama pada hal-hal yang sebetulnya tidak berhubungan dengan dirinya.

“Kau tunggu dulu disini, oke?” Taehyung menarik napas, “Aku harus menyelesaikan pembicaraan itu dengannya.”

“Kenapa kau begitu keras kepala, Kim Taehyung?” Taeyong menahan lengan temannya itu, “Dari pada masuk ke kandang macan, bukankah lebih baik kalau kita pulang ke asrama?”

“Jangan khawatir,” ia tersenyum, “Ini rumahku—dan yang bicara padamu sekarang adalah anak macan itu.”

Lantas Taehyung membuka pintu, kembali masuk untuk melanjutkan pembicaraan itu dengan ayahnya.

oOo

 

Park Mina baru saja menyelesaikan list belanjaannya, menghitung ulang total semua barang yang masuk ke trolinya dan mengasumsikan kalau uang yang dia bawa cukup untuk berbelanja. Dan seharusnya gadis itu tak pergi sendirian, melainkan ditemani oleh Park Chanmi—dan ternyata nona muda itu harus mengikuti makan malam kenegaraan bersama keluarga kepresidenannya, sementara Kim Yena mungkin tengah berdiskusi soal bayaran koreografinya dengan pihak D-ent. Go Yun Ae?—tampaknya dia terlalu sibuk dengan urusan misteriusnya, terutama sejak mereka meributkan benda biru berkilau itu.

“Semuanya W50,975,- agassi.” Kasir itu menyerahkan dua kantong plastik pada Mina, yang tentu saja di tukar dengan beberapa lembar uang sepuluh ribu won.

Dan seharusnya perjalanan pulang ke asrama itu berjalan lancar dan aman, mengingat ini termasuk jam sibuk karena masih pukul setengah delapan malam, dimana orang-orang di Seoul baru pulang kerja—dan kedai jajanan pinggir jalan diramaikan oleh orang yang lewat. Tapi rupanya dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya.

Brukk!

Dua kantong plastik yang penuh belanjaan itu tiba-tiba saja terlepas dari tangan Mina secara bersamaan. Pupil matanya tia-tiba saja membesar, terbelalak dengan penuh ketakutan—di depannya berdiri dua orang bertubuh tinggi besar, mempunyai tato di beberapa bagian tubuhnya dan terlihat siap menelan Mina bulat-bulat.

“Oh lihat, siapa ini?” satu yang sedikit lebih tinggi menyeringai, “Bukankah kita beruntung?”

“Bos pasti senang melihat ini.” Yang lain tertawa, “Ayo tangkap kelinci yang ketakutan itu dan hadiahkan pada bos!”

Mina membatu disana, bergeming dan tak tahu harus melakukan apa. Lidahnya kelu, tak satu patah katapun dapat keluar dari mulutnya. Rupanya ketakutan itu begitu besarnya, sampai-sampai ia tak sadar kalau lengannya sudah di cengkram dan tubuhnya di tarik kasar secara tiba-tiba.

“T—tidak! Lepaskan, brengsek!!”

Salah satu dari mereka kemudian menarik surainya kuat-kuat, “Kau harus diam, nona,” ia terkekeh, “Atau akan ada kemungkinan mayatmu ditemukan mengambang besok pagi.”

“To—tolong…”

Dan detik berikutnya dua pria itu menyeret Mina hingga memasuki lorong kecil yang diapit dua gedung pencakar langit—gelap dan parahnya cuma ada mereka bertiga disana.

Disisi lain Seoul, Unamjeong Restaurant, Park Chanmi baru saja memasuki ruangan dimana sudah berkumpul keluarganya beserta para mentri yang ada. Di sudut kanan meja dilihatnya dua orang kakak lelakinya, Park Chanyeol dan Park Yoochun—sementara ayah dan ibunya duduk berseberangan di tengah. Membungkuk sedikit, Chanmi kemudian menghampiri bangku kosong di sebelah Chanyeol—lantas menebar senyum pada orang-orang disana. Matanya sempat tetuju pada Shin Donghee, si perdana mentri yang Chanmi yakin telah membunuh putrinya sendiri.

“Chanmi-ah, paman dengar kamu lolos tes masuk Seiryu,  ya?” pria Shin itu menatap Chanmi dengan senyum aneh di wajahnya, membuat gadis itu agak ngeri, “Bukankah sulit untuk masuk kesana, hm?”

Dengan senyum yang mengembang gadis itu mengangguk, “Benar, tapi tidak sesulit kedengarannya, pak perdana mentri.” Ia menarik napas, “Lagi pula aku masuk dengan uang ayahku.”

“Tentu saja! Anak berbakat sepertimu harus mendapat dukungan penuh dari orang tua, bukankah begitu, presiden Park?”

Mereka tertawa—tawa yang membuat Chanmi muak.

oOo

 

Juho menaikan kupluk di kepalanya, memasukan kedua tangan di saku kemudian keluar melalui pintu kecil di samping Seiryu. Dilihatnya sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya masih menunjukan pukul tujuh lewat, yang artinya dia masih punya waktu dua setengah jam lebih sebelum lonceng jam malam dibunyikan.

“O—oi, mau kemana kau?”

Suara itu menyapa rungu Juho, membuat pemuda itu mau tak mau menghentikan langkahnya—mengalihkan atensinya pada seorang gadis yang berdiri dengan senter di tangannya, dia Ahn Minji.

“Bukan urusanmu.” Singkatnya, “Dan sebaiknya kau masuk, karena besar kemungkinannya kalau aku akan ketahuan karenamu.”

“Eh?”

“Kembali, sana.” Ia mendengus, “Pura-pura saja tidak lihat, oke?”

“Kau keluar tanpa izin, Baek Juho?” Minji mengerutkan keningnya, “Itu melanggar peraturan, kau tahu?”

“Sudah kubilang, bukan urusanmu.” Ketusnya, “Masuk saja, sana!”

Lantas pemuda itu berbalik, memacu langkahnya cepat-cepat—bahkan cenderung berlari, cepat-cepat pergi sampai bayangnya hilang ditelan gelapnya malam. Lalu Ahn Minji mendengus, meruntuki betapa bodohnya dia sampai-sampai menegur manusia menyebalkan yang baru saja di temuinya. Ia bersumpah, akan melakukan sesuatu untuk membalasnya.

Dan ketika jam sudah menunjukan pukul  delapan malam, Taehyung akhirnya keluar dari rumah—dan penampilannya…menakjubkan. Taeyong yang sudah berdiri disana selama dua setengah jam sebelumnya cuma bisa tertawa miris—menyayangkan kebodohan seorang Kim Taehyung, anak macan yang di terkam induknya.

“Kau baik-baik saja?” Taeyong menarik napas, cuma itu yang bisa dia tanyakan.

Dan gilanya, Taehyung tersenyum, “Ini tidak terlalu buruk, percayalah.” sudut bibirnya yang pecah itu tampaknya mengatakan sesuatu yang berbeda—darahnya bahkan sudah mengering.

“Kenapa dia melakukannya?” Taeyong menatap Taehyung lekat-lekat, “Kau tahu, andai saja orang tuaku ternyata sekejam itu…kurasa aku akan baik-baik saja kalau hidup tanpa orang tua selamanya.”

“Yah, mereka tetap orang tuaku.” Pemuda itu tertawa, “Ayahku cuma memiliki pemikiran yang agak berbeda, mungkin.”

“Kau tahu kalau kenyataannya tidak seperti itu.” Pelan Taeyong, “Berhentilah membohongi dirimu sendiri, dan tanyakan apa salahmu—atau setidaknya apa penyebabnya.”

“Selalu mudah untuk mengatakannya, kan’?” ia tersenyum, “Aku benci mengakuinya, tapi—aku juga selalu ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan itu….”

“Kuharap kau segera mengetahui jawabannya.” Taeyong terkekeh, “Kita pulang?”

oOo

 

 

“Jadi menurut anda mana yang lebih baik, presiden Park?” salah seorang mentri bertanya, menunjukan beberapa berkas pada orang nomor satu itu, “Dengan proyek ini bisnis kita masing-masing akan tetap berjalan lancar, pun efeknya kecil dan masyarakat akan melihat ini sebagai program yang pro terhadap rakyat kecil.”

“Tapi pihak medis belum menyatakan siap menerima proyek ini—mereka bilang bahwa ini akan merugikan dunia kedokteran, terutama kenyataan bahwa obat generik itu belum selesai.” Seorang profesor doktor dari rumah sakit Seoul angkat bicara, “Tapi tentu saja, kita masih dapat melakukannya, tuan Park Jungsoo….”

Chanmi mengunyah makanannya lamat-lamat, berusaha sekuat mungkin untuk tidak memuntahkan kembali apa yang baru saja ditelannya. Gadis itu tahu betul apa yang tengah di bahas orang-orang ini—intinya mereka berusaha memangkas biaya riset untuk penelitian obat generik yang belum selesai, kemudian berencana membagikannya gratis—menjadikan rakyat kecil bahan uji coba mereka.

Detik berikutnya Chanmi meletakan alat makannya kemudian bangkit, “Maaf, saya permisi sebentar.”

Sejurus kemudian Chanyeol dan Yoochun mengekor Chanmi—cepat-cepat pergi dari ruangan terkutuk itu. Sebetulnya dari pada terjebak dengan hal-hal yang memuat panas telinga, akan lebih baik kalau mereka pergi keluar—sekedar jalan-jalan di taman yang menyejukan mata, seperti sekarang.

“Apa kau bosan?” Chanyeol bertanya, tersenyum tipis sambil menatap adik perempuan satu-satunya itu.

“Aku cuma muak. Terlalu lelah untuk mendengarkan hal-hal semacam itu.” Sahutnya, “Dan sepertinya mereka benar-benar sukses menutupi kebusukan sebelumnya dengan mengorbankan Shin Min Ah.”

“Yah, kau memang terlalu kecil untuk mendengar pembicaraan politik—seharusnya kau diam saja di asrama dan tidak perlu datang kemari, walaupun ibu yang menyuruhmu.” Kali ini Yoochun bersuara, “Cukup dua oppa tampanmu ini yang harus menelan semua hal memuakan itu.” Dia tertawa.

Di waktu yang sama Juho baru saja tiba di depan salah satu bar elit yang cukup terkenal di Seoul—lantas pemuda itu kemudian masuk, memberikan kartu identitas palsu supaya bisa masuk. Dan sejurus kemudian pemuda itu melangkahkan kakinya cepat-cepat, menuju ke sebuah sudut—di mana ada seorang wanita yang sangat dikenalnya tengah bercumbu disana, asik dengan dunianya sendiri. Lama Juho berdiri disana, menatap nanar pada apa yang di lakukan ibunya pada pria hidung belang itu.

Dan sejurus kemudian wanita itu berhenti, memicingkan matanya pada Juho seraya tersenyum miring, “Apa yang kau inginkan, Juho-ah?”

“Menjauhlah dari lelaki itu,” pelannya, “Kau membuatku jijik.”

Wanita Baek itu bangkit, membereskan sedikit bajunya yang sudah setengah polos—kemudian….

Plakk!

Tamparan keras itu mendarat pada pemuda itu, memberikan rasa sakit yang menjalar hingga wajahnya memerah. Tapi itu belum apa-apa, karena setelahnya pukulan bertubi-tubi dia dapatkan dari pria hidung belang itu—orang yang membayar ibunya. Pun Juho tak pernah tahu, apa salahnya.

“Aku cuma mau stempel[1]mu,” pemuda itu menyodorkan secarik kertas berlogo Seiryu, “Kalau saja mereka tidak bersikeras menginginkan lembar persetujuan ini…sampai kapanpun aku tidak akan menginjakan kaki di tempat menjijikan seperti ini.”

“Kau tahu jelas kalau aku tidak pernah mengizinkanmu untuk masuk ke tempat terkutuk itu—tidak, sampai kapanpun tidak.” Wanita bernama Baek Ji Young itu mendengus, “Kau boleh membunuhku demi stempel—itu pun kalau kau sanggup.”

“Kumohon,” pemuda itu berlutut, merendahkan dirinya serendah yang ia bisa, “Aku sangat menginginkannya, eomma….”

“Pindah ke sekolah lain.” Tegas wanita itu lagi.

Berbeda dengan Baek Juho, Kim Yena tampak tengah membaca beberapa lembar dokumen yang terpampang di depannya. Sebuah kaset video berisi sebuah koreo lengkap dengan segala tetek bengeknya sudah berpindah tangan pada pria di depannya. Yena tahu jelas bahwasanya ia tidak bisa lagi memiliki koreo itu ketika sudah menerima uangnya.

“Bagaimana, nona Kim?” pria itu, Kim Seungwoo, menatap lurus-lurus pada gadis muda di depannya, “Itu tawaran terbaik yang bisa kami berikan.”

Yena mengangguk, tidak begitu memperhatikan—masih berkutat dengan dokumen-dokumen yang diberikan.

“Atau kalau mau, kau bisa bergabung dengan D-ent. Bagaimana?” pria itu menyilangkan kakinya, “Bakat sebagus ini akan lebih berguna kalau ditempatkan dalam wadah yang tepat.”

“Tidak, terimakasih,” Yena tersenyum, “Saya belum bisa melakukannya, mungkin lain kali…”

“Kalau bergabung kami bisa menambahkan angka kontraknya sepuluh kali lipat dari yang sekarang.” Ia terkekeh, “Bukankah itu jauh lebih mengungtungkan?”

“Saya masih harus menyelesaikan pendidikan, sajang-nim,” Yena tersenyum lagi, “Mungkin kalau sudah selesai nanti saya akan mempertimbangkannya lagi.”

“Dimana sekolahmu?” tanya pria itu lagi, “Kalau kau bergabung, kami akan memasukanmu ke sekolah paling bergengsi di Seoul, Seiryu High School—putriku juga mengenyam pendidikannya disana.”

“Iya, saya pun sudah terdaftar menjadi salah satu siswa di sana,” Yena mulai tidak nyaman, “Saya juga berteman dengan Kim Yura.”

“Oh, baiklah, sepertinya aku harus menyerah kali ini,” ia terkekeh, “Pastikan kau menandatangani kontrak dengan kai setelah lulus, nona Kim—dan soal koreonya, kurasa kau bisa menjualnya lagi padaku nanti. Dan uangnya akan ku kirim besok.”

“Saya mengerti, tuan,” ia tersenyum lagi, “Kalau begitu saya permisi….”

oOo

 

Dan malam itu entah mengapa Taehyung menghilang di perjalanan pulang, dan Taeyong sama sekali tak berniat mencarinya—pun dia sangat mengkhawatirkan pemuda itu, tapi pemuda Lee itu tahu betul bahwasanya yang di butuhkan Taehyung adalah waktu untuk dirinya sendiri. Dan yang bisa dilakukan Taeyong sekarang adalah menikmati waktu sendirinya juga, sekedar jalan-jalan santai seraya pulang ke asrama.

Namun sepertinya niat awalnya itu harus dia urungkan, terlebih ketika melihat seorang gadis yang cukup familiar itu tengah diseret dua pria menyeramkan di ujung jalan sana. Taeyong tahu betul, kejadian seperti ini bukan hal yang wajar—tapi selalu terjadi di jalanan. Dan langkah kakinya kemudian terpacu cepat, mengikis jarak sebisanya—menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi kalau dia terlambat.

H—hyung!” Taeyong memanggil dengan suara terengah-engah, membuat kedua pria menyeramkan itu berbalik ke arahnya—memberikan atensi penuh pada pemuda yang entah datang dari mana.

Mina menatap ngeri pada pemuda yang tiba-tiba datang, memanggil kedua  algojo rentenir itu dengan sebutan hyung—lantas tersenyum lebar pada mereka berdua. Kepalanya sibuk mencerna rangkaian kejadian yang sampai detik ini masih dilihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.

“Hei, bocah, siapa kau?” satu melotot pada Taeyong, “Jangan ikut campur dan pulang saja sana!—ck, aktingmu jelek sekali….”

“T—tapi hyung,”

“APA?!” yang satu lagi berseru, “Sudah, pulang sana, dasar bocah tengik!”

“Kami harus pulang sama-sama,” pelan Taeyong kemudian, “Kalau tidak nanti kepala asrama bisa marah.”

“Apa hubunganmu dengan gadis ini?” mereka melunak, “Apa ada kemungkinan kalau kau mau menggantikan dia?” dan sial, seringai itu mulai membuat Taeyong bingung.

“Eh?”

“Kami akan lepaskan gadis ini, dan kau akan menggantikannya. Setuju?” cengiran dua algojo itu tampak semakin menakutkan, “Selalu ada harga yang harus dibayar, kau tahu?”

“T—tidak, Lee Taeyong!” Mina tiba-tiba saja berseru, “Pergi dari sini dan jangan pedulikan aku!—dua orang brengsek ini sama sekali tidak pernah menepati janji mereka, kau akan tetap dihajar apapun pilihannya!”

Plakk!

Satu pukulan sukses mendarat tepat di wajah Park Mina, yang tentunya langsung membuat gadis itu meringis kesakitan—dan rasa takut itu perlahan mulai menggerogoti tubuhnya, memberikan simultan pada syaraf-syaraf di otaknya hingga membuat tubuhnya gemetar. Sepertinya tubuh Mina masih mengingat jelas kejadian sebelumnya, ketika ia dihajar sampai sekarat—alarm bahaya itu tengah memperingatkannya sekarang.

“Apa kau begitu rindunya pada ranjang putih dan aroma obat itu, sayang?” mereka tertawa, “Kalau kau tidak diam, mungkin saja kau akan kesana lagi setelah ini.”

“Kalian pernah menghajarnya?” Taeyong membelalakan mata, “Sampai sekarat?”

“Hentikan, Taeyong!” Mina mendesis, “Pergi saja, dan pura-pura tidak lihat, oke?”

Dua orang itu tertawa nyaring—sanagat nyaring sampai-sampai menggema ke seluruh sudut lorong gelap itu, “Kau dengar, bocah?” ia terkekeh, “Pulang saja dan lupakan apa yang kau lihat—dan kami akan melakukan hal yang sama. Karena gadis ini memiliki sesuatu yang harus dia kembalikan pada kami.”

Taeyong bergeming, menatap malas kedua algojo memuakkan itu. Perlahan dia membalikan tubuhnya, menenteng dua kantong belanjaan Mina yang sempat ditinggalnya tadi di jalan—pelan tapi pasti pemuda itu melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan dua orang itu dengan Park Mina. Akan tetapi….

BUARGHH!!!

Salah satu dari mereka tiba-tiba saja ambruk, dan tak lama yang lainnya menyusul. Mina terbelalak, menatap bingung pada Lee Taeyong yang menatapnya lurus-lurus sambil terkekeh. Diliriknya sekilas sepotong kayu yang di pegangnya, kemudian tertawa kecil.

“Ayo,” pemuda itu mengulurkan tangannya, “Kita harus pulang sebelum jam malam.”

Mina masih menatap lurus-lurus pada Taeyong, namun pelan tapi pasti gadis itu mengulurkan tangannya—menyambut uluran tangan Taeyong yang berdiri disana sambil tersenyum.

“Cepat, kalau sampai mereka bangun…aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Tukas Taeyong lagi.

Sementara itu Chanmi masih dalam perjalanan kembali ke asrama. Setelah meninggalkan ruang restoran yang berisi obrolan menjijikan itu gadis bermarga Park itu akhirnya mengikuti saran kedua kakaknya—pulang. Dan pemandangan lain diluar itu tiba-tiba saja membuat Chanmi berhenti.

“Kim Taehyung, apa yang kau lakukan disini?”

Park Chanmi menghampiri salah satu kedai bertenda di pinggir jalan, di dalamnya ada seseorang yang cukup dikenalnya, Kim Taehyung.

“Kita belum boleh minum soju[2]” Chanmi menarik napas, merebut gelas yang hampir di tenggak Taehyung, “Ayo pulang saja.”

“Pergi,” pelan Taehyung, “Pura-pura saja tidak lihat.”

“Bodoh!” Chanmi menoyor kepala Taehyung, “Kalau kau minum, baunya pasti masih ada sampai nanti ke asrama—kalau ketahuan hukumannya pasti berat, dan kalau kau tidak pulang ke asrama malam ini…”

“Surat peringatan akan sampai ke rumahku,” ia menarik napas panjang.

Chanmi tersenyum miring, “Bagus kalau kau tahu.”

Detik berikutnya hening. Setelah percakapan singkat itu yang dilakukan Chanmi cuma duduk di depan Taehyung, melihat pemuda itu bergeming tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan sebetulnya Chanmi ingin sekali menanyakan, terutama tentang apa yang terjadi pada wajah pemuda itu.

“Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu,” Taehyung menarik napas, “Kalau kau bosan, kembali saja ke asrama—tenang saja, aku tidak akan minum.”

“Bukan itu masalahnya,” Chanmi mendengus, “Aku tahu ada banyak hal yang kau pikirkan, iya kan’?”

“Lantas kenapa?”

“Aku cuma merasa kita mirip—bahkan hanya dengan duduk berhadapan denganmu, aku bisa merasakannya.” Chanmi terkekeh, “Rasanya aku menemukan orang yang situasinya terhimpit juga—rasanya lumayan, jadi aku tahu kalau aku tidak sendiri….”

“Ck, perempuan…” Taehyung mendengus, “Bukanya jadi putri presiden menyenangkan, ya?”

“Apanya?” Chanmi tertawa sakartis, “Lantas bagaimana denganmu—bukanya jadi pewaris dari perusahaan besar menyenangkan, ya?”

“HA HA HA,” Taehyung, tertawa—jelas sekali di buat-buat, “Jangan membalikan pertanyaanku, aku serius.”

“Aku juga serius.” Chanmi terkekeh, “Jadi putri presiden itu ibaratkan pedang bermata dua—aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi kurang lebih seperti itu.”

“Kalau beigtu posisiku lebih parah dari itu—mungkin seperti orang yang diancam dengan pedang bermata dua?” ia mengerutkan kening, “Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi.”

“Lalu mau bahas apa?” Chanmi menatap Taehyung lurus-lurus, “Bagaimana kalau kita pulang saja?”

“Apa kau baru saja kabur dari pertemuan dengan orang tuamu?” tanya Taehyung tiba-tiba—memperhatikan setelan gaun selutut yang dikenakan Chanmi.

“Eum, bagaimana ya, dibilang tidak kabur…tapi kenyataannya aku memang pulang sebelum acaranya selesai—tapi kalau dibilang kabur…kenyataannya aku tidak kabur juga,” gadis itu tampak berpikir sejenak, “Tapi bagaimana kau tahu kalau aku baru saja pulang dari pertemuan keluarga presiden?”

“Cuma menebak,” Taehyung mengendikan bahu, “Penampilanmu dan bodyguard yang disana itu mengatakannya dengan sangat jelas.” Ia terkekeh, “Omong-omong, kau punya banyak poin kan’?”

“Kenapa?”

“Berikan saja padaku, setengah juga tidak apa-apa,” ia tertawa kecil, “Anggap saja permintan maaf karena kau sudah menggangguku barusan.”

“Eh?” Chanmi mengerutkan keningnya, “Kenapa kau tiba-tiba minta poin?”

“Mau kasih atau tidak?” Taehyung terkekeh, “Kalau tidak mau, ya sudah…aku cukup tahu kalau putri dari orang nomor satu di Korea itu pelit.”

“Hei!”

[NOTIFICATION] Mission Succes!!

oOo

 

Dan malam yang tampaknya panjang itu masih berlanjut, sementara Ahn Minji masih duduk di balkon asrama meraka sambil menatap bintang—pun sebenarnya malam itu gelap, terlalu gelap sampai tak ada satupun bintang disana. Gadis Ahn itu sebenarnya hanya larut dalam kesendiriannya—menatap kosong pada ponsel yang penuh dengan panggilan tidak terjawab.

“Kenapa tidak masuk?” Kim Yura menghampiri teman sekamarnya itu, “Disini dingin.”

“Aku butuh udara segar.” Ia mengalihkan atensinya pada gadis Kim itu, “Kau sendiri?”

“Cuma melihat apakah kau ada di kamar atau tidak.” Sahutnya, “Hari ini banyak yang izin keluar….”

“Memangnya kenapa?” Minji bertanya asal, “Kau juga bisa izin kalau mau. Seiryu memang sangat ketat, tapi mereka tidak memenjarakan muridnya.”

“Yah, tapi kalau belum memberikan surat persetujuan orang tua kita dilarang keluar dari tempat ini.” Yura tersenyum simpul, “Bukankah kau salah satu yang belum mengembalikan surat persetujuan itu, Ahn Minji?”

“Aku heran, kau itu memang menyebalkan atau bagaimana?” Minji mendengus, “Semua orang akan membencimu kalau kau terus bersikap annoying, tahu!”

“Sejak awal aku tak butuh siapapun.” Gadis itu tertawa,“Tapi betul juga yang kau bilang soal izin tadi, bahkan ada yang bisa kabur dan tidak ketahuan.”

“Eh?”

Dari tembok luar asrama Mina dan Taeyong masih menyusuri jalan setapak menuju ke gerbang utama Seiryu. Sudah sekitar lima belas menit mereka berjalan kaki sejak turun dari bus, dan belum ada satu pun diantara mereka yang membuka percakapan. Baik Taeyong maupun Mina sama seklai tak berniat mengucapkan apa-apa. Yang mereka lakukan cuma mamacu tungkai mereka hingga sampai ke asrama—Taeyong sibuk dengan dua kantung belanjaan di tangannya, sementara Mina sibuk dengan ponselnya.

[NOTIFICATION] Mission Succes!!

Lee Taeyong memandang ponselnya takjub, kemudian menatap Mina lurus-lurus—notifikasi itu baru saja masuk, tepat setelah Mina mengirim sesuatu dari ponselnya.

Taeyong menghentikan langkahnya, “Apa yang barusan itu milikmu?”

“Ya,” gadis itu mengangguk, “Terimakasih karena sudah menolongku. Cuma itu yang bisa kulakukan.”

“Terimakasih,” canggung Taeyong, “Kau juga sudah menyelamatkan poinku—jadi anggap saja kita impas.”

“Andai kau tidak di sana, mungkin sekarang aku sudah masuk ICU,” ucap Mina sakartis, “Mereka pernah melakukannya dulu, jadi besar kemungkinan mereka akan melakukannya lagi.”

“Dulu?” tanya Taeyong tiba-tiba, “Kau sudah bermasalah dengan orang-orang itu dari dulu?”

“Sekitar dua tahun yang lalu orang tuaku menghilang, bersamaan dengan munculnya lintah darat yang terus menggerogotiku—mereka menagih hutang senilai lima ratus juta, dan rumahku sudah diagunkan[3] sebagai bunganya.” Mina menarik napas panjang, “Sekarang yang bisa kulakukan cuma lari, dan sejauh ini Seiryu adalah tempat teraman.”

Hening. Tak ada tanggapan apapun dari Taeyong. Hanya saja pemuda itu menyadari sesuatu—yang nilainya hampir sama dengan apa yang terjadi pada Taehyung tadi. Bahwa tidak semua orang tua menjalankan kewajibannya dengan benar. Mungkin ini gila, tapi Taeyong mulai merasa kalau ia beruntung, karena ibunya meninggalkannya di panti asuhan—dan bukan membunuhnya.

“Sebetulnya bukan aku yang memenangkan undian itu, pemilik asli lotrenya yang menyelamatkan aku—dia seorang gadis tuna netra yang pernah satu kamar denganku sewaktu aku lari ke penampungan tuna wisma.” Gadis itu tersenyum miris, “Seminggu setelah mendapatkan lotre itu dia masuk rumah sakit lalu meninggal, setelah sebelumnya memberikan undian itu padaku.”

Lantas ketika jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat dua puluh menit, yang artinya lonceng jam malam akan di bunyikan sebentar lagi. Dan Baek Juho baru saja membuka pintu pagar samping, ketika tangannya terulur dan mendapati sebuah gembok dan rantai yang menjuntai—sial, pintu itu dikunci. Padahal biasanya pintu kecil di samping itu tak pernah di kunci, kecuali jam malam sudah lewat tiga puluh menit. Menarik napas panjang, pemuda itu kemudian memanjat pagarnya.

“Siapa disana?” suara itu terdengar familiar, bersamaan dengan sorotan lampu senter yang diarahkan ke wajah pemuda itu, “Kau bahkan berani memanjat?”

Menatap Jung Yonghwa, pengawas asrama Orion yang berdiri didepannya Juho menarik napas lebih dalam lagi, mengihirup sebanyak mungkin udara yang dia butuhkan. Ini masalah besar, dia…ketahuan.

“Y—yong-ssaem!”

“Kau Baek Juho kan’?” pria itu bertanya seraya mengarahkan cahaya senter tepat di depan wajah Juho, “Kenapa keluar tanpa izin? Padahal kau tahu jelas peraturannya. Seiryu adalah sekolah dengan seribu peraturan, tapi bukan penjara—kau bebas keluar masuk, dengan izin tentunya.”

“Aku tahu, ssaem. Ta—tapi,”

“Kau harus menemui Kim sajang-nim.” Yonghwa menarik napas, “Ayo…”

Sejurus kemudian mereka sudah berada di dalam sebuah ruangan khas kepala sekolah. Juho bisa melihat dengan jelas bahwa ada seorang wanita yang duduk di sana sambil menarik napas berulang kali. Dia benar-benar dalam masalah sekarang, dan sialnya lagi Jung Yonghwa pergi meninggalkannya bersama wanita yang tampak dingin itu.

“Juho-ah,” suara itu menyapa rungu Juho tepat setelah Yonghwa pergi, “Apa yang sebenarnya kau inginkan, hm?”

Pemuda itu diam, tak tahu harus menjawab apa.

“Ini sudah kali kedua,” pelannya, “Apa ada masalah?”

“Aku harus menemui eomma, sajang-nim,” Juho berucap pelan, “Dia belum menstempel surat persetujuannya untuk ku.”

“Apa kau masuk ke sini tanpa memberitahukan mereka?” tanya wanita itu kemudian, melihat secarik kertas yang masih bersih itu dan membacanya. “Baek Jiyoung adalah nama ibumu?”

“Ya,” singkat Juho, “Aku tidak punya ayah, jadi pakai marga ibuku.”

Kim Tae Hee tertegun. Dia tahu persis siapa pemilik nama Baek Jiyoung itu, termasuk apa yang terjadi pada wanita itu sebelum akhirnya dia menghilang. Lantas pikirannya melayang-layang ke masa puluhan tahun silam, waktu dimana dulu ia pernah melewati masa itu.

“Mengapa ibumu menolak memberikan stempelnya?” tanya Kim Tae Hee kemudian, “Apakah ada kemungkinan kalau dia…tidak menyukai sekolah ini?”

“Begitulah,”

“Lalu apa kau sudah menanyakan alasannya, Juho-ah?” wanita itu bertanya lagi, “Apa ibumu pernah memiliki pengalaman buruk dengan Seiryu dimasa lalu?”

“Aku tidak tahu,” Juho menatap Kim Tae Hee lekat-lekat, “Kalau dia bisa memberitahukan semua itu secara baik-baik mungkin aku tidak akan babak belur begini—dia selalu marah kalau aku membahas Seiryu.”

Kim Tae Hee tampak tertegun sejenak, cukup nyata untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, “Baiklah, begini saja….”

“Huh?”

Wanita itu merangkulkan tangannya di bahu Juho, “Sekarang sudah jam malam, kau bisa kemali ke kamarmu—dan soal hukuman, kau bisa pilih antara memotong sepuluh poin atau membantu tukang kebun selama seminggu.” Sekilas netranya tertuju pada kerah belakang pemuda itu, memastikan sesuatu, “Putuskan hal itu, dan tulis di akunmu besok pagi—atau poinmu akan langsung dipotong.”

Juho memegang knop pintu sambil memandang aneh pada kepala sekolahnya itu. Dan sepeninggal anak itu Kim Tae Hee semakin sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Mungkinkah dia….”

o0oO_TBC_Oo0o

 

 

Keterangan:

[1] stempel pribadi a/n seseorang yang  fungsinya seperti tanda tangan versi korea. [2] arak beras yang di fermentasi/anggap aja bir-nya orang korea wkwkwkwk (CMIIW). [3]dibuat jaminan

 

 

Author’s Note:

Annyeong, istrinya siwon yang cantik jelita nan unyu ini back!! Yeah~!! abaikan opening yang gaje ini Jadi intinya ini adalah eps terakhir yang di upload di bulan November, karena 2 hari lagi syudah tanggal 1 teman-teman~ #plakk#

Pertama, aku mau minta maaf karena FF ini sepertinya akan membuat kecewa beberapa pihak yang gak muncul, alasannya aku sudah sertakan di chapter sebelumnya—aku gak sanggup untuk mendetailkan 16 cast secara bersama-sama. Kalian harus rela digilir #plaakk#

Sebelumnya untuk visualisasi, kira2 lambar Seiryu seperti ini:

img_20161123_174344

Dan untuk notifikasi dari penyelesaian misi mungkin kurang lebih gini:

screenshot_2016-11-29-16-54-17

Dan mungkin sebagian udah tau kalau aku lagi UAS—udah dimulai dr senin kemarin, dan kebetulan hari ini libur. Jadi intinya aku akan menghiatuskan FF ini selama kurang lebih 2 minggu lamanya. Kenapa? Karena aku lg dan memperjuangkan UAS supaya IPK bisa naik—soalnya kalau sampe turun bisa di cerai om mesum tamvan yang disana (red: siwon) abaikan

Dan untuk mengisi kekosongan sejenak ini aku berencana membuat kuis kecil, mungkin—itupun kalau masih bisa di sebut kuis—yang mana akan berhadiah Chibi ver. Untuk masing-maisng karakter OC yang di inginkan. Boleh pilih deh, mau karakter OC-nya yang di buat chibi atau send foto nanti kubuatkan chibi pribadi—semacem avatar gitu.

Contohnya kurang lebih seperti ini:

img_20161121_233626

*)Plis jangan tanya kenapa contohnya Go Yun Ae, karena pemilik OC ini lagi ujian bareng aku dan gak mungkin ikut kuis, terus kenapa aku buat chibinya? Karena dia berjasa mengajarkan materi advance accounting yang bikin sakit kepala

**)Dan gak semuanya aku buat seperti ini, versi lainnya bisa di cek ke instagram aku @yunay1107

 

Dan pertanyaannya adalah:

FF ini memiliki main quote yang rutin aku pajang setelah cover, dan sub quote di setiap chapter, yang ku pajang di bawah judul chapter tapi sebelum story. Ini sangat mudah—aku cuma mau tanya, kira-kira apa keterkaitan main quote dan sub quote itu dengan isi cerita?

Pengumuman pemenang aku publish bersamaan dengan chapter 5, dan hadiahnya aku sertakan di chapter 6. Aku akan pilih 2 orang beruntung yang jawabannya paling mendekati—kalau ternyata jawabannya di luar ekspektasi aku akan ada bonus, selain Chibi OC aku akan kasih Chibi yang romance ver. sama couple-nya masing-masing.

 

Thankyou^^

 

13 thoughts on “[Multichapter] #4 Seiryu High School: Challange [3]

  1. Hai Yun, setelah aku baca ulang dari awal akhirnya aku sampe part ini yang… TERNYATA BELUM AKU BACA! Pantesan pas buka part 6 aku agak bingung sama alurnya, ternyata ada chapter yang kelewat, wkwk.. btw kapan kamu ngepos chapter ini? Jujur aku gatau, bahahah~ so, mianhae baru komen sekarang di chapter ini.

    Hm okaaay, aku mau langsung bahas adegan Mina dulu aja karena dia bagian yg pertama setelah scene dobel Tae. Entah aku harus ngerasa sedih karena karakter Mina benar2 menyedihkan di ff ini atau malah ngerasa seneng karena ada Taeyong yg nyelamatin hidupnya. Fyuuhh butuh menghela napas panjang waktu baca scene mereka. Mina ku ditampar yawlaaa~ kasian amat sih oc gue di sini 😭😭😭 tapi lagi-lagi aku suka sama cara kamu membuat misi sukses di antara mereka berdua. Tanpa ada percakapan, tanpa bilang apa2, tiba2 aja Mina udah ngasih poin ke Taeyong, feel-nya kerasa banget saat suasana canggung kemudian berubah mencair setelah Mina ngasih poin. Dan, Hmmm kenapa aku seperti mengendus Mina-Taeyong feel di sini, pliss Tae nya Taehyung aja dong yg buat Mina , jangan Taeyong 😭😭

    Btw, aku juga suka karakter Taehyung di sini, entah dia bodoh atau apa, tapi yg kulihat dia adalah sosok yg kuat dan tegar di depan ortunya. Dan ohmaygad! Bapak ibunya Taehyung adalah pasangan Alien dari drama you Who came from Another Star, agak ngakak sumpah bacanya Yun 😂😂😂 Dan hey, Chanmi! Kenapa malah jadi kamu yg ngasih poin ke Taehyung?! Kembalikan Taehyung pada Minaaaaaa 😭😭😭

    Dan yang terakhir adalah soal Juho, okelah kayaknya emang cuma Minji yang Kopel nya bener di sini 😢 sebel deh aing sama emaknya Juho, napa dah tuh orang benci sama seiryu, pasti ada hubungannya nih sama tae-hee. Endingnya cukup bikin aku bertanya-tanya.

    Seperti biasanya lah Yun, aku slalu suka sama gaya ceritamu di SHS ini. Bisa bgt sih bikin permasalahan yg complicated bgt untuk banyak cast, dan lagi masalahnya berkesinambungan satu sama lain, bikin bertanya-tanya karena nyimpen banyak misteri. Kayaknya aku harus berguru padamu nih wkwkwk

    Okaaay karena next chapter udah di publish juga, aku baca next-nya dulu yaaaaw~ btw, aku gak perlu jawab kuis ya karena dah telat, dan aku lagi males mikir :p

  2. Hai haiiii yunnnn… maafkan baru muncul di kolom komentar sekarang karena kemarin aku sibuk ngerjain tugas. Baca FF ini juga multitasking (lagi). Baca terus ngerjain tugas abis itu baca lagi terus ngerjain tugas lagi. Sampai akhirnya di akhir aku liat ada kuis dan itu yg membuatku baca ulang lagi dari awal tanpa ngerjain apa apa biar fokus dan nangkep isinya kwwkwk

    Pertama, aku mau nanya dulu mengenai gambar logo. Itu kamu yang gambar logo seiryu sendiri yun? Omaigattt kalau iya kamu daebak sagonnn… logonya bagus bingit. Dan gambaran ttg aplikasi shs itu, bikin aku semakin delusional sama cerita ini, kayak aku bener bener sekolah di sana. Bener nih apa yg kamu tulis si warning, ff ini kayak ayam KFC, selalu bikin aku ketagihan mulu (aduhh maafkan sama perumpamaannya yaa kwkwk)

    Beralih ke cerita, hahahaha entah kenapa aku ketawa ketawa seneng gitu waktu liat dialog Taehyung dan Chanmi. Gak apa apa deh aku blm dipertemukan sama mas agus, sama mas Taehyung juga aku ikhlas hahahaa (langsung digorok zulfa abis ini) dan entah kenapa aku mikir kayaknya kamu emang bakal fokus di friendship dalam ff ini ketimbang romance. Dan untuk pasangan setiap OC dan Idol itu… kayaknya bakal ada pasangan silang yah–maksudku ada oc yang gak dipasangin sama pasangan yang dia mau pas isi slot. #soktahu kwkwkw tapi entahlahh aku akan menunggu chapter selanjutnya buat mengetahui hal ini 😂😂😂😂😂

    • Masuk ke kuis:
      Keterkaitan antara main dan sub quote dengan isi cerita sebenernya sifatnya abstrak sih yang aku liat karena keterkaitannya bersifat luas dan menyeluruh #aduhbahasanya 😂😂 supaya dirimu gak bingung ini detail penjelasan aku (warning: oneshoot alert)

      Mulai dari main quote dulu
      “Ever tried, ever failed. No matter what, try again. Then, fail better–the best way out is always trought.”

      Main quote ini sebenernya lebih terlihat seperti kata-kata penyemangat bagi setiap karakter di ff ini. Sperti yang kita tahu, setiap karakter memiliki konflik serta problema yang pelik dan tentunya berat untuk dilalui–bagiku konflik mereka terbilang berat banget sih untuk ukuran anak SMA. Main quote ini mencoba memberikan kekuatan bagi para karakter, mengingatkan untuk tidak menyerah atas masalah yg mereka alami. “Ayo, kalian harus mencoba untuk keluar dari permasalahan. Oke, itu gak mudah dan bakal ada kegagalan di setiap usaha yg kamu lakukan. Tapi semakin kamu gagal, kamu juga bisa semakin tahu dan mengerti arti dari sebuah permasalahan yg diberikan. Jangan kabur, karena satu-satunya jalan keluar terbaik adalah ketika kamu berusaha lebih keras dalam melalui rintangan tersebut.” Kira kira itu yg tergambar di otakku mengenai main quote ini. Kalimat penyemangat para karakternya dalam menghadapi masalah. Secara keseluruhan.

      Untuk sub-quote. Ini sifatnya lebih mengerucut. Seperti memberikan gambaran apa yang setiap karakter rasakan pada setiap chapternya. (Aku sebenernya pingin banget analisis sub-quote di setiap chapter tapi karena harus mengerjakan suati hal dan jd mungkin aku coba menafsirkan #cailahh yg chapter empat ini aja yaah)

      “Begitulah kehidupan. Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukab berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”

      Dari quote itu entah mengapa aku merasa bahwa para karakter dalam ff ini–selain mendapat masalah berat yang rumit–sebenarnya mereka bertanya-tanya ‘apa sih akar yang menimbulkan semua masalah ini’. Mungkin salah satunya contohnya aku ambil dari karakter Taehyung. Oke, mungkin kebanyakan reader akan berpikir bahwa dia orang naif yang berusaha membodohi dirinya sendiri dengan berusaha terlihat baik-baik saja padahal konflik yg dialami dia (terkait kdrt ayahnya) itu terbilang miris di mata orang. Tapi yg aku tangkep di sini (menghubungkannya dg sub-quote) bahwa sebenarnya Taehyung sedang mencari jawaban, dia sedang mencari jawaban mengapa ayahnya berbuat demikian. Mungkin sebagai anak dia juga pernah mendengar alasan tersebut dari ayahnya, tapi tetap saja Taehyung tidak mengerti dan bersikeras Untuk mengetahui ‘hal yang tidak diketahuinya tersebut’. Sehingga jatuhnya sub-quote itu juga berfungsi sama seperti main quote. Mencoba menyemangati atau mungkin untuk kasus Taehyung mencoba untuk menasihati, bahwa sebenarnya Taehyung tidak perlu mengetahui seluruh alasan mengapa sang ayah begitu kejam padanya. Karena Tuhan melindungi Taehyung agar tidak merasakan sakit yg lebih dari yg kini ia rasakan–toh dalam mencari ketidaktahuan itu juga Taehyung sudah tersiksa.

      Well yeah secara keseluruhan keterkaitan ketiganya (main quotes, sub quotes, dan isi cerita) sangat erat. Dan garis besar dari apa yang aku pahami daei ketiganya adalah, kisah ini memiliki pesan bahwa setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing, memiliki caranya masing-masing juga untuk menghadapinya, dan memiliki pandangannya masing-masing juga dalam menelaah permasalahannya. Tapi yang jelas, apapun itu bentuknya, kisah ini mencoba untuk memberikan kekuatan (juga harapan) bahwa setiap permasalahan ada jalan keluarnya–walaupun dalam setiap usaha kita pasti akan bertemu dg kegagalan, tapi itulah jalan terbaiknya.

      Okees itulah jawaban kuisku… mohon maaf kalau muter-muter dan malah bikin dirimu bingung, Yuun kwkwkw dan omaigat (baca komen sendiri dari awal) ini komen oneshot parahhhhh. Maafkan diriku yg gak bisa nulis komen secara singkat-padat-jelas 😂😂😂😂😂

      Akhir kata (sebelum komen ini makin panjang) selalu semangat lanjutin ff-nyaa dan aku alwayss setia menunggu kelanjutan ff ini. Aja aja hwaiting juga UAS-nyaaa #menghilangsamasuga

    • Ehm… aku balas yg soal cerita dulu ya pak 😂😂😂 pertama soal logo itu aku gambar sendiri sih.. tadinya mau berkreasi sama photoshop, tapi ternyata gagal dan hasilnya gak sesuai… jd aku gambar sendiri aja. Kalo bagian tulisan “seiryu high school” font bawaan hp krn aku pake skectbook samsung note 😂😂😂

  3. Halloo istrina banh tamvan siwon, eeaa 😆
    Aku bingung mau komen apa. Aku hanya bisa mengatakan. KEREN! PINGIN BACA KELANJUTANNYA !!! wkwwk….

    Di part ini sudah ada beberapa misi yg harus diselesaikan. Dan aku menungngu misinya jihyun ma abang wobin, kkkk…

    Untuk pertanyaan kuisnya. Aku masih suka kebalik yg mana main quote sama sub quote. Yg main quote itu yg ada dicover bukan yun? Yg aku tahu quote di cover itu yg jadi main quote. Maap ya kalo salah.

    Dan jawabannya, jeng…jeng…jeng…
    Kedua quote itu saling berkaitan. Yang main quote itu berkaitan untuk seluruh kehidupan yg sedang dijalanin oleh semua cast sedangkan yg sub quote itu lebih memfokuskan ke salah satu karakter. Contohnya yg skrang. Sub quotenya lebih menjurus ke taehyung.

    Karena wktu dialoq taeyong sama taehyung begini.

    ia tersenyum, “Aku benci mengakuinya, tapi—aku juga selalu ingin mengetahui jawaban atas pertanyaan itu….”

    “Kuharap kau segera mengetahui jawabannya.” Taeyong terkekeh, “Kita pulang?”

    Dialog mereka menyingung sub quote yg ada dipart ini yng bertuliskan.

    “Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.

    Itu jawaban dari diriku. Maap ya yun kalo analisaku jauh dari perkiraanmu. Dan maap untuk ke sok tauhanku ini, heheee…

    Tetap camangat ya yun. Dan sukses ya buat uasnya semoga kamu mendapatkan nilai yang terbaik. Aamiin 😘

    • Haloo kak jihyun~~ #entah kenapa lebih enak manggilnya wkwkwkkwk# untuk misinya jihyun dan woobin mungkin bisa di tunggu di chapter 5 kkk~

      Untuk kuis, aku.cmn bisa kasih tau kalau kak phiyum benar.. maksudnya main quote itu yg di cover dan sub quote itu yg di setiap chapter^^

  4. Hi yang katanya istrinya om Siwon 😁
    Duh, bingung mau komen apan yak? kkk
    abisnya pas lg asyik baca eh kepotong karena tiba2 browsernya ketutup sama tangan jail aku sendiri hahaha

    Kayaknya masih banyak yg blm punya poin nih macam Ye Na. Tiwai keren ih nyelametin Mina meski dgn cara licik kayak gtu wkwkwk

    Menurut aku chapter ini gak gaje ataupun absurd koq yun, enak dibaca juga koq.

    Untuk kuisnya, aku lg males mikir jadi gak ikut aja deh wkwkwk
    btw bikin chibinya pakai aplikasi apaan yun? atau malah gambar sendiri? 😱😮😁

    Itu aja deh dari aku, ppaiii 👋

    • Hai kak apel~~ untuk masalah poin dr games “challange” mungkin akan selesai di chapter 6. Dan games baru akan dimulai di chapter 7. Untuk misterinya aku berusaha kupas selembar2 kayak bawang 😂😂😂

      Soal kuis… kakak balik lg pas mau mikir juga boleh wkwkwk… chibinya aku gambar sendiri sih, bentuknya digital krn aku pake samsung note skecthbook.

      Makasih sudah membaca dan meninggalkan komen kak pel^^

  5. Hayu istrinya om siwon… Ekkekeke… Ehmm mau koment apa yaa??? Bingung… Kekekeke… Over all misteri2 baru mulai di datang lagii.. Walau baru bbrapa cast yg trdapat misteri kehidupannya (*wlw nayoung blom ada)… Aq tunggu next cerita slanjutnyaa yaa… Dan semangat buat uas nyaa smoga dpt IPK yg tinggi … Amin… (*biar gk di talak sma om siwon) kekelek….

    Untuk kuisnya jawabannya…
    kira-kira apa keterkaitan main quote dan sub quote itu dengan isi cerita?

    Tentu ada… Main quote dan Sub quote yg ada di stiap chapternya itu menggambarkan isi dari kehidupan yg ada di cerita trsebut. Atau menjelaskan apa yang ada dalam cerita tersebut

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s