[Multichapter] #3 Seiryu High School: Challange [2]

_shs_cover_

SEIRYU HIGH SCHOOL

“Ever tried, ever failed. No matter what, try again, fail again. Then, fail better—The best way out is always trough….”

A fanfic by BluebellsBerry

|| Prolog || 1 || 2 || 3 || 4 || 5 || 6 || 7 || 8 || 9 || 10 ||

Starring by:

SF9’s Baek Juho || NCT’s Lee Taeyong || Actor’s Kim Woobin || INFINITE’s Kim Myungsoo || BTS’s Kim Seokjin || NUEST’s Choi Ren || BTS’s Min Yoongi || BTS’s Kim Taehyung || OC’s Ahn Minji / Kim Yena / Han Jihyun / Kim Yuna / Lee Nayoung / Go Yun Ae (Yeollane Kayonna Earth) / Park Chanmi / Park Mina ||

Other cast by:

Actres’s Kim Tae Hee & T-ARRA’s Park Jiyeon || OC’s Han Sun Kyo & Super Junior’s Choi Siwon || Actres’s Go Hyeon Jong & OC’s King Andrew Kayonna Earth || EXO’s Lay Kayonna Earth (crown prince of Andorra) & MISS – A’s Suzy Kayonna Earth (crown princess of Andorra) || Actor’s Ahn Jae Hyun & Actres’s Go Hye Sun || Actres’s Han Hyojo || Others ||

Genre: School Life, Drama, Family, Friendship, Romance

Disclaimer:

All cast belong to God; their self, family, agency and fans. All plot and storyline are belong to author. Cerita ini hanyalah fanfiction semata, apabila ada kesamaan nama, tempat kejadian, atau pun cerita, maka itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesenganjaan dari penulisnya.

Rating: PG-13

Warning!

Tidak disarankan bagi para pembaca berkategori silent readers untuk sekedar penasaran atau bahkan membaca. Ada kemungkinan dapat menyebabkan ketagihan dan halusinasi berlebihan terhadap tokoh-tokoh utama. Tinggalkan komentar setelah membaca, dilarang memberikan komentar yang memicu keributan. BE A GOOD READERS PLEASE!

Don’t copy, claim or sharing this fiction without permission!

.

.

.

And the story is begin

__oO0__

_shs_cover_cast

Chapter 2: Challenge [2]

 

oOo

Other Cast: Juniel || BoA || Min Joohyun || Kim Seungwoo

oOo

“Kadang aku harus menghargai diriku sendiri dengan berhenti mencoba menjadi normal, jika normal hanya sebuah standard yang dibuat oleh banyak orang yang bukan sepertiku.”― nom de plume

oOo

 

Ini sudah lewat dua hari sejak Challenge dimulai, dan tampaknya belum terlihat tanda-tanda yang mencurigakan di Seiryu. Baik dari pihak Athena maupun Hades, keduanya sama-sama bungkam—seolah menciptakan sendiri dunia ketegangan yang ada sekarang, mungkin seperti memakai pakaian milik orang lain. Rasanya agak berbeda dan tidak begitu nyaman, tapi biar bagaimanapun anak-anak itu harus melalui semua ini.

Park Jiyeon menarik napas panjang ketika Kwon BoA datang ke ruangannya, bukan untuk sebaris obrolan atau sesuap cake—melainkan setumpuk berkas yang siap membombardirnya lagi selama beberapa hari kedepan. Ini mungkin sudah yang kesekian kalianya setiap tahun—sesuatu yang rutin dilakukan ketika para siswa baru berdatangan, menyortir dokumen.

“Kau tidak berniat menguranginya sedikit, eh?” Jiyeon merenggangkan tubuhnya, menarik tangannya lebar-lebar keatas lalu sedikit kebelakang.

Senyum BoA merekah, “Astaga Park Jiyeon, mana bisa aku mengurangi dokumen anak-anak ku, ck…”

“Apa mereka baik-baik saja?” Jiyeon memfokuskan lagi dirinya untuk setumpuk dokumen itu, “Setengah dari anakmu gagal, dan kemarin aku lihat salah satu dari mereka kembali kemari dengan sangat mengenaskan—kau tahu itu?”

“Eh?”

“Namanya Baek Juho, 17 tahun, dia si pemuda lotre.” Jiyeon membacakan profilnya, “Rasanya aku tidak mungkin lupa untuk mengatakan pada anak-anak agar tidak ada yang keluar dari Seiryu, tapi menurut kamera pengawas dia keluar lewat gerbang samping—dan kembali di sore hari dengan tubuh mengerikan.”

“Setidaknya dia lulus permainan pertama, busajang-nim,” BoA menatap lurus-lurus pada Jiyeon, “Anda tidak perlu ikut campur, aku yang akan mengurusnya nanti.”

Lengkung sinis itu hinggap pada Jiyeon, “Dan lagi, 3 anak lotre tahun ini dikelasmu sekaligus. Kau tau, BoA, hanya ada kemungkinan 20% bagi anak-anak lotre untuk lulus. Kau tahu kenapa?” ia memeberi jeda, “Karena para anak lotre itu cuma beruntung, dan kemungkinan bagi mereka untuk bisa menyaingi para reguler[1] dan audisioner[2] itu sangat tipis.”

“Yah, siapa tahu, anak lotre tahun ini diluar dugaan anda, busajang-nim,” BoA tersenyum lebar, “Yang perlu kulakukan cuma membagi sedikit ilmu yang kupunya.”

oOo

 

“Perkembangan kasus pemunuhan Jessica Jung terhadap Shin Min Ah tengah berada di puncaknya—korban yang merupakan putri bungsu perdana mentri, di temukan tewas setelah menenggak minumam gingseng tradisional yang dia dapat dari temannya. Dalam kasus yang tengah ditangani pihak kepolisian ini, hakim Min Joohyun sebagai pemimpin persidangan telah menjatuhkan vonis pada tersangka yaitu denda sebesar seratus juta won dan hukuman penjara seumur hidup—sementara seperti yang diketahui orang banyak, Ahn Jaehyun dan Go Hyesun sebagai tim hukum professional lagi-lagi sudah menorehkan prestasi mereka atas kasus yang  menimpa keluarga perdana mentri, yang di gadang-gadang demi keadi—”

Ahn Minji baru saja menyelesaikan makan siangnya, kemudian cepat-cepat melenggangkan kaki dari kantin. Berita yang ditayangkan di tv itu entah kenapa sama sekali tak membuatnya senang—justru semakin miris. Ia beranjak menuju ke jalan setapak yang berada di belakang kantin. Ini bukan kali pertama gadis itu kemari, tapi tetap saja keindahan dari pohon-pohon rindang yang berjejer rapi di sisi kanan dan kiri jalan itu akan membuat takjub siapapun yang melewatinya—dilengkapi danau buatan yang lengkap dengan kursi taman serta bebek yang berenang. Dia sangat menyukainya, posisi menenangkan di mana tidak akan ada seorang pun yang bisa melihatnya—melihat Ahn Minji yang sebenarnya.

“Mereka adalah lambang keadilan hukum bagi setiap orang, alat yang gunakan untuk memenangkan sidang—tapi sayangnya mereka bahkan tidak bisa memenangkan hati anaknya…” pelan Minji.

Dan disinilah ia sekarang, duduk sambil menatap langit di bawah pohon ek yang rindang. Ditemani semilir angin dan aroma petrichor[3] yang menyegarkan. Dengan perlahan jarinya mengusap layar ponsel itu turun kebawah, melihat lagi puluhan pesan-pesan dan panggilan masuk yang entah sudah berapa kali di abaikannya. Orang tuanya terlihat khawatir—dan gadis itu masih enggan untuk memberitahukan keberadaannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Suara bariton itu sukses memecah semua pemikirannya, membuat Minji mau tak mau melebarkan senyuman sejadi-jadinya—berusaha meyakinkan orang itu, Kim Woobin.

“Sudah lewat satu jam kau duduk disini sambil memandangi ponsel itu—memang apa menariknya benda itu?” pemuda itu tertawa sekilas, “Tapi itu lebih baik, kau punya sesuatu yang menurutmu menarik.”

Gadis itu mengerutkan kening, “Maksudnya?”

“Mungkin kau akan mengerti kalau jadi pemilik perusahaan yang mengeluarkan ponsel pintar itu, bahwa tidak ada yang menarik padanya—bahkan tidak pada apapun.”

Hening. Minji sama sekali tidak menanggapi ucapan Woobin barusan, hanya saja ia tahu kalau apa yang di bilang lelaki itu barusan tidak sesederhana topik yang di utarakannya. Gadis itu tahu betul, bahwasanya ada banyak sekali kata-kata terselubung yang sering digunakan orang-orang seperti dia—yang bahkan tidak bisa mengatakan apapun pada orang lain.

“Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?” Woobin membuka suara kemudian, membuat Minji lagi-lagi harus memaksakan senyuman lebar itu di wajahnya.

Pemuda itu terkekeh, “Berhenti tersenyum aneh begitu, mulutmu bisa sobek nanti.” Katanya, “Yang ingin aku katakan adalah, bahwa aku juga memiliki sesuatu yang sangat mengganggu pikiranku sekarang.”

“Aku kabur dari rumah,” singkat Minji, membuat Kim Woobin refleks menatap lurus pada gadis itu, “Aku pergi untuk sekedar… membuat orang tuaku rindu pada putri semata wayang mereka.” Bulir bening itu kemudian meluncur dari pelupuk mata Minji.

Woobin tersenyum, “Yah, setidaknya kepergianmu akan membuat mereka benar-benar khawatir dan merindukanmu, bukannya justru memaki dan berniat menghajarmu sampai mati—iya kan’?”

“Eh?”

“Omong-omong, kau butuh poin itu kan?” Woobin tersenyum lagi, “Karena aku sudah membuatmu menangis hari ini, jadi akan kuberikan semua poinku.”

“Eh, benarkah?” mata gadis itu membulat, “Kenapa kau begitu mudahnya memberikan poin itu padaku?”

“Kan’ aku sudah bilang—itu karena aku sudah membuatmu menangis,” pemuda itu menarik napas, “Dan sebetulnya kami para Athena ini sangat baik, tapi kalian saja para Hades yang terlalu jual mahal.”

“Huh?”

“Coba pikir, apa pernah kalian si pemburu poin benar-benar memburu poin pada kami, si pemilik poin?” Woobin tersenyum simpul, “Padahal untuk berburu yang perlu kalian lakukan cuma meminta—merendahkan sedikit kepala kalian untuk minta tolong pada kami.”

[NOTIFICATION] Mission Succes.

oOo

 

Di sisi lain Seiryu, Kim Yena masih berkutat dengan latihannya. Di ruangan yang besarnya sama dengan ruang kelas itu masih mengalun musik berirama beat yang di lengkapi rap dan temponya cepat. Secara simultan memberikan rangsangan semangat pada gadis itu melalui otaknya, memaksa ia bergerak lebih aktif dan lebih aktif lagi. Menuntut gerakan yang semakin intens, dengan beberapa putaran dan lompatan ringan—yang tidak bisa dilakukan dengan sekali coba. Dan gadis itu sudah melakukannya berkali-kali dengan sempurna.

“Jangan berlatih terlalu keras, Yena-ah,” Nayoung menghampiri orang yang mulai menjadi teman dekatnya itu, kemudian memberikan sebotol air mineral pada gadis itu, “Selain berlatih, kita masih harus memburu poin-poin milik para Athena.”

“Poin-poin sialan itu…” Yena masih terengah-engah, “Aku bisa mendapatkannya nanti, mungkin kau bisa duluan, Nayoung-ah. Aku harus menyelesaikan koreo barunya sore ini—pihak D-entertainment akan mengambilnya tepat pukul tujuh.”

“D-entertainment?” ulang Nayoung, “Maksudmu kau menjual koreografimu pada Diamond-ent?”

“Tentu saja. Breanna sudah berusaha keras memasukan lotre hingga aku bisa disini, jadi sekarang giliranku untuk bertahan—lagi pula mereka berani memayar mahal untuk setiap koreo yang ku buat, ini lebih dari cukup untuk sekedar membayar biaya bulanan untuk aku dan panti.” Yena meneguk lagi airnya, “Hidup selalu punya cara untuk membuat kita bertahan, kan’?”

Nayoung tersenyum simpul, “Yah, setidaknya itu lebih baik. Kau berada disini persis karena keinginanmu, beda denganku…” ia memberi jeda, “Aku mengikuti audisinya cuma untuk melarikan diri dari kenyataan yang ada—sekedar bersembunyi dari tekanan yang diberikan padaku.”

Hening. Kim Yena sama sekali tidak mengatakan apapun untuk menanggapi ucapan nayoung. Gadis itu tahu betul bahwa apa yang di alami Nayoung kemungkinan tidak jauh berbeda darinya, meskipun Yena juga tahu betul bahwasanya ada perbedaan mendalam pada keduanya.

“Selama ini aku menjalani hidup seadanya saja. Tidak punya mimpi, harapan, cita-cita atau sesuatu semacam itu. Kehidupan kami di panti sangat sederhana, sehingga yang kutahu adalah bahwa kita harus bekerja keras untuk menjadi lebih baik,” Yena merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit ruangan besar yang di dominasi warna cokelat kayu itu, “Setiap hari aku menggelar pertunjukan di myeongdong, menari sepanjang hari sampai rasanya kaki ku mau patah—tapi itu sebanding dengan apa yang kudapatkan berikutnya. Kira-kira seperti itu.”

“Yah, setidaknya cuma tubuhmu yang menanggung sakit itu—bukan mental.” Nayoung terkekeh, “Dulu kehidupanku sangat sempurna, bahagia dalam sebuah kesederhanaan bernama keluarga—dan sejak maut itu merenggut kedua orang tuaku, semuannya berubah menakutkan. Apa yang mereka tinggalkan untukku nyatanya memancing keserakahan anggota keluarga yang lain. Mereka memberikan tekanan bertubi-tubi pada gadis berusia 15 tahun tanpa kenal ampun.”

“Sejak itu aku tahu, kalau uang benar-benar menakutkan,” Nayoung ikut berbaring, merebahkan tubuhnya di sebelah Yena, “Dua tahun yang lalu orang tuaku meninggal dalam kecelakaan pesawat paling fenomenal seantero Korea—kecelakaan Korean Airlines yang tidak di ketahui penyebabnya itu menjadi petaka bagi Lee Nayoung yang harus kehilangan orang tua saat masih SMP.”

oOo

 

Prang!

“Min Yoongi, gwenchanna?!” Juho berulang kali memutar knop pintu, berusaha untuk membuka pintu yang nyatanya terkunci itu.

Bruak!
“Oi, Yoongi-ah!!” kali ini Kim Seokjin memanggil dari luar, masih berusaha memuka pintu.

Pyaar!

“MIN YOONGI!!” panggil kedua pemuda itu bersamaan.

Sejurus kemudian Juho menarik napas, mundur beberapa langkah kebelakang dan menghantam pintunya beberapa kali hingga terbuka. Dan itu sesuatu yang cukup mengejutkan mereka berdua. Min Yoongi duduk di samping ranjang, dengan barang-barang yang hancur di sekitar mereka. Orang itu terengah-engah disana, menunduk dalam dengan wajah tanpa ekspresi.

“Yoongi-ah, gwenchanna?” Seokjin menerobos masuk, menghampiri pemuda Min yang tampak menyedihkan itu, “Ada apa?”

Juho menarik napas sambil memungut barang-barang yang berserakan, kemudian lelaki berambut light white itu duduk di ranjang, menatap Min Yoongi tanpa suara—pun mengisyaratkan pada Kim Seokjin untuk tidak menanyakan apapun padanya. Dan kemudian hening. Dari situ tiga lelaki itu larut dalam kesunyian, tercekat dalam diam—memberikan jarak pada masing-masing dari mereka, membuat keadaan sangat tenang. Terlalu tenang sampai-sampai membuat ketiganya bisu sesaat.

“Aku tidak tahu apa yang membuatmu seperti ini, tapi tolong jangan melakukan hal-hal seperti ini lagi.” Juho akhirnya membuka suara, “Aku tidak akan bertanya atau berusaha mencari tahu apa yang terjadi padamu—tapi tolong, jangan membuat kami khawatir, Min Yoongi.”

Hening. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut pemuda Min itu. Manik hitam kelam itu mendelik pada Juho, menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tak dapat diartikan bahkan oleh pemuda itu sendiri.

“Kami cuma khawatir, Yoongi-ah,” Seokjin menarik napas panjang, “Dan maaf, karena aku menanyakan hal yang tidak ingin kau jawab.”

“Orang itu benar-benar melakukannya.” Singkat Yoongi tiba-tiba, membuat Juho dan Seokjin agak terkejut sebetulnya, “Maaf karena kalian harus melihat hal-hal seperti ini. Maaf…karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Maaf…karena sudah membuat kalian berdua khawatir.”

Dua orang itu tersenyum simpul, menepuk pelan pundak Yoongi—sekedar memberi kekuatan pada pemuda itu.

“Hakim dari kasus pembunuhan putri perdana mentri itu adalah ayahku, Min Joohyun. Percayalah, dia tidak sebaik yang diberitakan publik—orang itu selalu mendapat bayaran tinggi atas aktingnya di meja hijau. Begitu juga kali ini, dia sudah memutar balik fakta dan membuat wanita itu menjadi tersangka—pun pembunuh sebenarnya adalah perdana mentri sendiri.” Yoongi menarik napas, “Aku sudah lama mengetahui hal ini, dan karenanya juga aku mulai memiliki kebiasaan ini—dan baru sekarang kusadari kalau ini semakin menakutkan, meskipun aku berusaha keras tidak melakukannya tapi tubuhku mengingat kebiasaan ini dengan sangat baik.”

“Itu displacement[4] kan’?” Seokjin mengerutkan kening, “Kakak pertamaku juga mengalami hal yang sama denganmu karena tekanan ayah kami. Bedanya dia melampiaskan itu semua pada para pekerja—pun terkadang aku menjadi sasarannya.”

“Kau cuma harus bicara.” Tukas Juho, “Bahkan kalau tak ada seorang pun yang bisa kau ajak bicara…bicaralah pada dirimu sendiri—seperti apa yang selama ini kulakukan.”

“Sudah tak terhitung berapa orang yang dirugikan karena hakim seperti dia,” Yoongi berucap lagi, “Dan aku terlalu lemah untuk berbuat sesuatu.”

“Itu lebih baik! Seokjin tertawa miris, “Yang bisa dilakukan ayahku cuma menindas orang-orang lemah demi mengenyangkan perut sendiri.”

Juho menarik napas, “Setidaknya sebagai seorang anak kalian berdua mendapatkan haknya dengan benar—kalian tidak perlu dihajar cuma karena minta uang untuk bayar sekolah…” Juho terhenti, “Yang bisa kulakukan cuma memasukan lotre selama setahun penuh, sepuluh lotre setiap hari agar namaku bisa keluar saat di undi—dan bukannya aku tidak mau mencoba jalur audisi, tapi masuk dengan lotre berarti menekan biaya sekolah sampai sembilan puluh persen. Dan sisa sepuluh persennya bisa kucari sendiri.”

oOo

“Ini tidak mungkin!” Myungsoo berteriak pada ponselnya, memaki seseorang disebang sana, “Aku sama sekali tidak melanggar satupun kontrak—semua sponsor membatalkan kontraknya sendiri, tak ada satupun yang dibatalkan atas keinginanku.” Ia menarik napas panjang, “Anda seharusnya berurusan dengan Kim Sangwoo, dia penanggung jawab sekaligus pemilik D-ent—dan aku sudah di pecat oleh direktur sialan itu!”—klik.

Myungsoo memutus telepon secara sepihak, memijat pelipisnya sejenak sebelum akhirnya beranjak dari sana.

“Kim Myungsoo, tunggu.”

Dan suara itu sukses menghentikan langkah kakinya, membuat Myungsoo sontak menokeh kebelakang dan mendapati seorang gadis cantik dengan surai legam yang bergelombang—perempuan yang cukup dikenalnya, putri dari Kim Seungwoo. Dia adalah Kim Yura.

“Aku sudah dengar dari ayahku soal masalah itu.” Pelannya.

“Lalu?” Myungsoo menjawab malas, “Apa lagi yang kau inginkan, Kim Yura?”

“Ada apa dengan sikapmu? Aku kemari untuk minta maaf, Myungsoo-ah.” Yura mendengus, “Dan soal skandal itu…bukan aku dalangnya—aku benar-benar tidak tahu. Gosip yang kau dengar di agensi tidak benar.”

“Lantas kenapa?” Myungsoo mengalihkan netranya, “Kau atau bukan, yang jelas aku sudah didepak oleh ayahmu.”

“Dan aku juga tidak mengatakan apa-apa pada ayahku soal—”

“Soal apa?” pemuda itu mendengus, “Ayolah, kau tahu kalau aku tidak dalam mood yang bagus untuk bermain-main seperti ini.”

“Soal kau yang menolakku.” Lanjut Yura, “Dan aku juga sudah menyerah padamu, jadi jangan khawatir—yang kulakukan sekarang adalah meluruskan gosip-gosip yang bertebaran di agensi.”

“Lantas kau percaya pada skandal itu?” Myungsoo menarik napas, “Bahwa aku benar-benar menyerangnya sampai hamil?”

Yura menggeleng, “Kau adalah lelaki yang bahkan tidak tertarik pada Kim Yura, jadi bagaimana bisa kau melakukan hal seperti itu pada wanita lain yang jelas-jelas tidak lebih baik dariku?”

Myungsoo terkekeh, “Yah, dari semua sifat burukmu itu cuma satu yang kusuka—kepercayaan diri itu, yang entah dari mana kau dapatkan.”

“Intinya aku percaya padamu, bahkan kalau kau berbohong sekalipun.” Ucap Yura serius, “Apapun yang kau katakan, aku akan percaya.”

“Kenapa tidak percaya ayahmmu saja?” Myungsoo tersenyum sinis, “Dia hebat. Terlalu hebat sampai bisa membuang idol berbakat seperti aku.”

“Entahlah, kadang aku merasa kalau dia bukan ayahku—kelakuannya sulit dimengerti, dan sering kali dia mengabaikanku. Meskipun yang dilihat anak-anak trainee adalah sebaliknya—bahwa direktur Kim adalah sosok ayah terbaik yang sangat menyayangi putrinya, sampai-sampai sang putri itu menjadi kurang ajar pada semua orang.”

Myungsoo larut dalam diam, tak melakukan apapun kecuali mendengarkan.

“Dari dulu dia selalu menekankan kalau aku adalah seorang putri dari kerajaan entertainment yang di buatnya, dan orang-orang selalu menganggapku begitu—sehingga lama kelamaan apa yang mereka katakan masuk ke dalam diriku, dan ketika aku sadar…Kim Yura benar-benar sudah menjadi putri yang kurang ajar.” Ia memberi jeda, “Lalu kau masuk sebagai trainee yang di banggakan ayahku. Dan sejujurnya semangat itu yang membuatku jatuh hati padamu—pun aku masih tak mengerti, mengapa seorang Kim Yura harus menunjukan sisi aslinya pada pria yang sudah menolaknya?”

Myungsoo terkekeh, “Ayahmu itu tanpa sadar sudah memberikan Kim Myungsoo sepasang sayap, tapi ketika aku sedang terbang tinggi dia sendiri yang justru memotong sayapnya. Aku yang cuma seorang penulis lagu amatir dan youtubers begitu senang ketika seorang Kim Seungwoo datang padaku dan menawarkan untuk debut—kalau tahu begini akhirnya mungkin aku tidak akan pernah menerimanya dan tetap hidup damai dari uang siaran di youtube.”

“Kita sama-sama menyedihkan, kenapa tidak berteman dan lulus sama-sama?” tawar Yura.

“Kau harus berhenti. Karena aku juga akan berhenti untuk berhubungan dengan segala sesuatu berbau D-ent.” Myungsoo beranjak—benar-benar pergi meninggalkan Kim Yura dengan lengkungan miris yang menghiasi wajah putri itu.

oOo

 

 

LUMINOUS.Inc

Ren menekan tombol enter setelah selesai mengetikan salah satu nama perusahaan terkemuka itu. Dan detik itu juga berbagai referensi link yang mengacu pada Luminous.Inc berumunculan memenuhi layar monitor.

“Kenapa kau begitu penasaran, Minki-ah?”

Suara itu sukses memecah konsentrasi pemmuda itu, membuatnya mau tak mau menoleh kebelakang—memberikan atensi pada sosok yang menegurnya, dia adalah penguasa Seiryu, Kim Tae Hee.

“Apa anda dan orang tua saya memiliki hubungan lebih dari yang saya ketahui, sajang-nim?” Ren bertanya ragu-ragu, “Sejujurnya aku cuma ingin tahu, sekedar menyakinkan diri kalau ibuku akan baik-baik saja—dan pencarianku berakhir pada seorang taipan pemilik Luminous.Inc….”

Wanita itu tersenyum, “Kau memang benar-benar putranya, Minki­-ah,” ia menarik napas, “Kejeniusan kalian begitu mengerikan.”

“Apa maksud anda?” Ren mengerutkan keningnya, “Apa orang ini adalah—”

“Menurutmu?” Tae Hee memotong cepat, “Memangnya berapa banyak hal yang sudah kau ketahui, sayang?”

“Aku pernah menemukan sepucuk surat dari seseorang berinisial CSW—dan isinya cukup mengejutkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara orang tuaku dan orang-orang disekitarnya dulu, tapi yang jelas aku tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres disini.” Ren menarik napas, “Ibuku ditinggalkan karena dia mengandung anak dari suaminya, apa menurut anda itu masuk akal, sajang-nim?”

Well, lantas bagaimana kau menanggapi hipotesismu itu?” senyum Tae Hee mengembang, “Aku tidak tahu sudah sejauh apa yang kau temukan, tapi percayalah—bahwa aku ada di pihak ibumu, dan sedang berusaha keras untuk mengembalikan apa yang menjadi hakmu.”

“Entahlah—pun kenyataannya seperti itu, satu-satunya hal yang ku inginkan cuma melihat ibuku bahagia. Aku tidak perlu hak ku atau sesuatu yang seperti itu—aku cuma mau tahu alasan di balik satu pernyataan tidak asuk akal ini.” Pemuda itu kini menatap gambar seorang pria dengan setelan jas rapi, “Aku tidak tahu apakah dia tidak mencintainya atau bagaimana, tapi sebagai anak aku berhak menuntut penjelasan.”

Kin Tae Hee terkekeh, “Sudah puluhan tahun aku berteman dengan ibumu, nak,” wanita itu kemudian menatap Ren lekat-lekat, “Dulu sekali ibumu pernah mengatakan bahwa tidak semua hal yang kau ketahui membuatmu bahagia—karena terkadang kita harus merahasiakan sesuatu demi seseorang yang kita cintai.”

Brukk!

Suara itu jelas memecah fokus Ren, sekaligus membuat pemuda itu menjadi was-was sampai menatap curiga kesekeliling ruangan.

“Go Yun Ae, Juniel, keluar saja,” Kim Tae Hee tertawa, “Kau sudah terlalu lama berjongkok disitu.”

Sejurus kemudian seorang gadis bertubuh mungil dengan surai blonde keluar dari tempat persembunyiannya di ikuti oleh seorang gadis dengan postur tinggi semampai dan surai panjang bergelombang. Keduanya tersenyum kikuk.

Ren mendelik, “Kalian?!”

“Jangan marah, Minki-ah,” wanita itu tersenyum geli, “Sebenarnya mereka sudah disini sejak tadi, bahkan sebelum kau masuk.”

“Apa yang kalian lakukan?” pemuda itu bertanya lagi, tiba-tiba badmood seperti anak kecil yang ketahuan berbohong, “Kalian bukan stalker, kan’?”

“Mereka seharusnya menemuiku, ketika kau tiba-tiba masuk tadi.” Tae Hee masih mengulum senyum.

Ren terlihat kesal, “Tapi kenapa mereka sembunyi, sih, memangnya aku ini apa?!”

“Kami kaget dan refleks sembunyi.” Polos Juniel, “Dan, sajang-nim, apa kami harus membahasnya disini?” gadis itu mengalihkan netranya pada wanita yang berdiri di samping Ren.

“Ya, sekalian saja.” Ia tersenyum, “Kalian mengetahui apa ayng dia sembunyikan, jadi seharusnya tidak apa-apa kalau dia juga tahu apa yang kalian sembunyikan—dan kuanggap masing-masing dari kalian sepakat untuk tutup mulut atas apapun yang kalian dengar atau lihat disini.”

Juniel menimbang sejenak, menatap Yun Ae sekilas sebelum akhirnya menyerahkan dokumen yang berada di tangannya pada Kim Tae Hee. Dan tepat setelah berkas dengan cetakan kertas yang klasik itu berpindah tangan, si penguasa Seiryu itu mengerutkan kening—menampilkan sedikit kebingungan atas apa yang baru saja di lihatnya.

“Itu adalah dokumen pernyataan pengasingan yang harus anda tandatangani, sajang-nim,” Juniel mulai serius, “Mungkin ini agak mengejutkan, karena siswa yang anda ketahui sebagai Go Yun Ae, anak dari seorang runner up Miss Korea 1989 yang legendaris, Go Hyeon Jong—nyatanya identitas asli dari Yun Ae agassi adalah putri Yeollane Kayonna Earth dari kerajaan Andorra, salah satu negara monarki yang masih bertahan sampai sekarang.”

Kim Tae Hee tersenyum simpul. Wajah yang ditunjukan wanita itu sama sekali tidak sesuai dengan prediksi Juniel sebelumnya, meskipun sekarang ada seorang lagi yang mengetahui tentang keberadaan mereka, Choi Minki.

“Saya adalah pendamping putri, Juniel—ditugaskan bersama dengan sang putri dalam pengasingan karena suatu hal yang tidak bisa kami jelaskan. Dan sebelumnya kami juga sudah mengkonfirmasi hal ini dengan presiden, bahkan sempat tinggal selama dua hari di Blue House.” Jelas Juniel, “Dan pihak kerajaan mengirimkan dokumen konfirmasi ini demi menjaga keamanan putri selama masa pengasingannya. Anda sebagai pemiliki sekaligus penanggung jawab Seiryu akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas sang putri.”

“Yah, aku tahu hal itu,” Tae Hee berucap seraya menandatangani dokumen-dokumen itu, “Kemarin ada seseorang dari Andorra yang menelepon—mengatakan bahwa mereka akan menitipkan seorang putri disini.”

“Benarkah?” Yun Ae penasaran, “Siapa dia?”

“Putra mahkota Lay Kayo—singkatnya oppa-mu,” wanita itu terkekeh, “Dia juga mengatakan kalau identitasmu harus di rahasiakan.” Kemudian ia beralih menatap Ren, “Kau dengar, Minki-ah, ini rahasia.”

Arraseo.” Singkat pemuda itu, menyembunyikan keterkejutannya serapi mungkin, “Omong-omong, mumpung kita sudah di sini dan aku ingat kalau kau salah satu pihak Athena, bisakah kau berikan sebagian poinmu untukku?” Ren bertanya, mencoba terlihat senormal mungkin saat menannyakannya pada anggota keluarga kerajaan, “Yah, kau tahu kan, Yun Ae-ssi, aku termasuk di pihak Hades.

“Poin?” Yun Ae tersenyum simpul, “Arraseo, kau bisa memiliki semuanya. Lagi pula mereka akan mengganti 10 poin.”

[NOTIFICATION] Mission Succes.

oOo

 

 

“Chanmi-ah, gwenchanna?” Jihyun menatap lurus-lurus pada gadis bermarga Park itu. Ditanganya sebutir telur baru saja remuk tergenggam dan berceceran di lantai. Acara masak-masak yang tadinya menyenangkan itu tiba-tiba saja menjadi suram.

“Park Chanmi!” Kali ini Mina mengguncang tubuh Chanmi pelan, mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Dia melakukannya lagi.” Singkat gadis itu, kemudian beranjak dari dapur—pergi ke wastafel untuk mencuci tangan sebelum menelepon seseorang.

Sementara Mina dan Jihyun cuma bisa larut dalam keheningan, menatap gusar pada apa yang akan dilakukan Chanmi.

“Jadi mereka membungkamnya?!” seru Chanmi tiba-tiba pada ponselnya, “Ini juga taktik dari pengalihan isu kan’?” gadis itu menarik napas sejenak, “Kenapa ayahku—pak presiden, maksudku, melakukan ini pada Shin Min Ah dan Jessica Jung?”—klik, sambungan terputus tiba-tiba.

“KYA!” teriakan itu menggema sejurus kemudian, “Ya Tuhan, aku sangat tidak mengerti dengan semua ini—aku membencinya sampai ke titik dimana aku muak dengan apapun yang berkaitan dengannya.”

“Apa yang terjadi, Chanmi-ah?” Jihyun bertanya lagi, mencoba sebisa mungkin, “Apa ada yang salah dengan—”

“Ayahku melakukannya lagi. Presiden brengsek itu melakukannya lagi!” seru Chanmi kemudian, “Ini sudah kesekian kalinya dia mengorbankan orang lain demi menutupi kelakukan busuknya.”

Mina meletakan semangkuk besar adonan yang tengah di aduknya, kemudian menghambur kepelukan Chanmi—membiarkan gadis itu menangis, mengeluarkan semua beban yang sepertinya sudah lama menjerat gadis itu. Pun bukan rahasia lagi kalau Park Chanmi adalah putri bungsu presiden—yang jauh di dalam hatinya justru merindukan sosok ayahnya yang dulu.

“Bukan cuma presiden yang brengsek, tapi Han Hyojo juga.” Pelannya, “Wanita itu dengan seenaknya mengatur hidupku, membuat semuanya berantakan dengan menciptakan kehidupan menjijikannya untukku—lebih rendah dari sampah.”

Chanmi tersenyum simpul, “Tapi setidaknya ibumu tidak membunuh atau menyiksa orang lain—dan dia tidak memberikan harapan palsu pada seluruh rakyat Korea. Ayahku jauh lebih buruk.”

Mina terkekeh, “Kalian sungguh lebih beruntung.”

“Huh?”

“Bagian mana yang kau sebut beruntung itu, Park Mina?!” Jihyun berseru tiba-tiba. “Ibuku sudah menjual tubuh dan jiwanya pada agensi sialan itu demi mendapatkan karir yang sekarang. Dia merangkak di atas lelaki hidung belang dari berbagai rumah produksi untuk kontrak drama dan iklan—dia adalah yang paling menjijikan, dan parahnya dia mau menyeretku masuk ke dalam kubangan lumpur yang busuk baunya itu.”

“Setidaknya kalian tidak di tinggalkan—mereka peduli pada kalian terlepas dari bagaimana cara mereka mempedulikan kalian.” Mina menatap dua gadis itu lurus-lurus, “Orang tuaku memiliki hutang sebesar lima ratus juta pada rentenir. Aku tidak tahu bagaimana bisa sedemikian besar, tapi ketika aku mengetahui hal itu ternyata rumah kami sudah di agunkan untuk bunganya sementara orang tuaku tengah berada di luar negri untuk urusan bisnis—setidaknya itu yang mereka katakan seminggu sebelumnya, dan sampai bulan-bulan berikutnya mereka tak pernah kembali. Cuma aku sendiri yang pada kahirnya menanggung hutang tak masuk akal itu.”

“Mereka semua brengsek.” Singkat Chanmi.

oOo

“Ini rumahmu?” Taeyong menatap Taehyung sekilas, kemudian memperhatikan rumah mewah bergaya eropa yang berdiri megah di hadapannya.

“Aku harus menemui ayahku, kau mau ikut?” pemuda itu tersenyum tipis, “Setidaknya dia akan bersikap baik kalau kau ikut.”

“Eh?” Taeyong mendengus, “Memangnya apa yang bisa kulakukan?”

Mereka melangkahkan kaki memasuki rumah kediaman keluarga Kim yang legendaris itu, dimana ketika memasuki ruang tamu seorang pria tampan dengan penampilan formalnya sudah menunggu mereka.

“Selamat pagi, appa,” Tehyung membungkukan tubuhnya, di ikuti Taeyong.

Plakk!

Pukulan keras itu mendarat di wajah Taehyung bahkan sebelum pemuda itu duduk, sementara Taeyong yang melihatnya cuma bisa diam.

Plakk!

Satuu pukulan lagi mendarat di tempat yang berbeda, dan sama seperti yang sebelumnya—Taehyung sama sekali tidak memerikan respon apa-apa. Pemuda itu justru memejamkan matanya ketika pukulan ketiga akan ditujukan padanya lagi—pun nyatanya ada seseorang yang menahan tangan pria itu. Dia, Lee Taeyong.

“Ini tidak benar, Taehyung-ah, kita harus pergi.” Tukasnya, “Kita cuma punya waktu satu jam, dan sekarang adalah waktunya untuk kembali ke Seiryu.”

“Ti—tidak, Taeyong, tidak.” Pemuda Kim itu bersikeras, “Kami belum selesai bicara.”

“Persetan dengan pembicaraan itu! Kita harus kembali sekarang!” Taeyong merengut kerah baju Taehyung, kemudian menyeretnya keluar.

“Apa kau gila, Lee Taeyong?!” suara Taehyung meninggi, “Dia itu ayahku, dan aku belum selesai icara dengannya!!”

“Tidak ada pembicaraan di antara kalian, brengsek!” Taeyong menarik napas, “Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian, tapi seorang ayah tidak seharusnya memperlakukan anaknya seperti itu.”

“Aku bersalah padanya, Taeyong-ah….” jawab Taehyung frustasi, “Aku selalu bersalah, bahkan ketika aku bernapas.”

“Bodoh.”

“Aku tidak tahu apa yang dia inginkan, tapi dia selalu membenciku setengah mati—tapi tidak dengan kedua adikku.” Air mata itu mengalir dari pelupuk mata seorang Kim Taehyung, “Dia sama sekali tak menganggapku ada.”

“Kalau begitu kenapa kau sangat menginginkannya, eh?!” Taeyong menarik napas, “Seharusnya kau juga menganggapnya tidak ada, bodoh!!” ia memberi jeda sejenak, “Aku juga akan berusaha melakukannya, mencari wanita yang sudah membuangku—menitipkanku ke panti asuhan tujuh belas tahun yang lalu, dan setelah menemukannya aku akan mencampakannya. Sama seperti yang dia lakukan padaku dulu!”

oOo_TBC_oOo

 

 

 

Author’s note:

Halo, balik lagi dengan chapter lanjutan yang mulai mengupas masing-masing problem dari para tokoh—dan kemungkinan ini adalah chapter terakhir yang menampilkan kesemua tokohnya secara utuh. Berhubung tokoh utamanya banyak aku mau pake gaya author webtoon untuk masuk ke konflik pribadi masing2 tokoh—termasuk sistem subjudul yang ku pakai. Jadi akan ada kemungkinan di chapter depan kalau ada yang gak ngikut—semata mata supaya bisa fokus—tapi jangan khawatir, porsi yang ini masing2 di usahakan sama rata, karena istrinya siwon yang satu ini gak pilih kasih wkwkwkwk. Dan disini sebenarnya aku sudah membuka banyak sekali klu untuk kalian tebak-tebak wuahahhahaha… satu kata kunci lainnya adalah, mereka punya implicit relationship—so, kalau kalian gak baca satu chapter atau side story yang kemungkinan muncul dari seri ini, maka akan ada pertanyaan yang gak terjawab—meskipun sebenernya bisa sih di loncat, tapi plot aku nyambung wakakaka

 

 

Keterangan:

[1] siswa yang masuk dengan membayar biaya yang ada. [2] siswa yang masuk melalui jalur audisi. [3] bau tanah, aroma tanah. [4] suatu sistem pertahanan diri dimana seseorang akan melampiaskan kemarahannya pada orang/benda lain yang lebih lemah akibat tertekan.

 

Advertisements

28 thoughts on “[Multichapter] #3 Seiryu High School: Challange [2]

  1. Aaoo Ayun ^^
    Maap ya baru bisa baca n komen sekarang. ini alurnya makin mantapz aja sih yun. semua karakternya ada permasalahannya masing-masing tapi di sini belum ada ya momennya si jihyun ma bang woobin. adanya momen woobin ma minji?? dan itu membuatku baper, wkwk 😀

    Jangan-jangan saingan sih Jihyun itu si wao a.k.a ahn minji?? andwae!!! tapi gak apa-apa lah asalkan ada saingan cogan buat woobin untuk ngerebutin hati jihyun, hahaa…

    Ditunggu sangat ya kelanjutannya, hwaiting ^^

    • Halo kak jihyun #eaaaa
      Makasih komentarnya, tapi sebelumnya kakak ada baca spoiler aku gak? Yg kutulis di kolom komentar chapter2 (yg challange 1) disitu aku udh menjelaskan masalag terkait peng-kopel-an ff ini wkwkwk silahkan di cek kak 😂😂😂

      Soal momen jihyun sama woobin… aku belom mau keluarin wkwkwk mungkin nanti abis uas^^

  2. Haiiiii yuuun…. maafkan baru muncul yaaa seperti yg sudah dijelaskan, aku ketiduran sebelum sempet baca ff-mu.

    Wokeh wokehhh peringatanmu di paling atas tentang ff ini bisa menyebabkan halusinasi berlebib pada tokoh tokohnya bener bener kejadian. Gak tau kenapa penggambaran kamu mengenai masing masing tokoh membuat mereka kayak beneran hidup dan berhasil membuatku menghayal ttg mereka kwkwkwkwkw

    Well yeaaahh konflik demi konflik masing masing tokoh udah mulai kebuka. Dan seperti yg kuintip juga di komennya wao, emang bener sih aku ngerasa mereka mereka ini pada beradu siapa yg punya masalah paling menyedihkan 😂😂😂😂 tapi oh mai godd… semua masalah menurutku memiliki tingkatan beban yang sama, tergantung mereka menyikapinya sih. Dan penggambaran sikap Ahn Minji alias Wao ini sebenernya yang paling aku suka. Salut sih lebih tepatnya. Aku punya temen yg sifat juga sikapnya mirip Ahn Minji ini. Dia selalu tersenyum dan menunjukkan sisi bahagianya walaupun banyak masalah yg dia alami, gak mau ngebuat orang lain khawatir. Tp agak bahaya juga kalau sama tipe orang kayak gitu, karena kalau lagi di puncak kesedihan kemungkinan bisa melakukan hal ekstrim (kayak temenku juga) kwkwkwkw

    Buat suamiku tercinta Min Yoongi, kalau kamu kesel sama ayahmu ya balas dendamlah, Nak. Tapi bales dendamnya dg cara positif dong. Belajar yg bener dan jadilah hakim yang lebih baik dari ayahmu. Tampar dia dengan kesuksesan yg kau capai dengan jujur dan adil serta berfaedah bagi masyarakat banyak, bukan untuk diri sendiri. Kwkwkwkwkw komen macam ini ya ampunnnnn 😂😂😂😂😂

    Udah ah komenku kayaknya makin sini makin ngawur deh. Maaf yaa yuun, otakku lagi konslet karena jam tidur udah gak beraturan kayak apa tau jd bawaannya suka ngawur kayak orang bego kwkwkwkw

    Akhir kata, kutunggu kelanjutannya!!!! Dan semangat nulis chapter berikutnyaaaaaa 😘😘

    P.s: kapan Min Yoongi dan Park Chanmi dipertemukan dan memiliki momen unyu berdua?

    • Hai pak shafa~~ maaf baru sempat balas komenmu, jumat ini aku lumayan sibuk bolak balik jualan tas 😂😂😂

      Dan soal karakter ff yg hidup itu yah karena memang mereka beneran hidup pak, hidup dalam imajinasi kita bersama maksudnya wkwkwk… aku tipe2 imajinasioner(?) Jd kalau lg bikin plot atau cerita aku sering merasa kayak liat si tokoh2 itu ada di depanku dan melakukan adegan demi adegan. Jd kayak aku sutradara yg lg shootong drama. Kurang lebih gitu wkwkwkwk

      Soal yg terlihat adu sedih2an ini sebenernya efek aja sih pak. Efek dr aku yg terlalu maksain plot untuk menampung cast yg sebenernya gak bisa di satukan dalam satu chapter dengan porsi yg sama. Jd ketika di baca maraton alias sekaligus akan ada efek semacem 2 mata pisau. Di satu sisi masalahnya kebuka dan aku bisa sangat lancar menulis chapter berikutnya, di sisi lain masalah ini semacem sesuatu yg “nggak banget” meskipun niatan awalnya aku cuma mau menunjukam kalau mereka sama2 punya masalah. Istilah gaulnya “emang lu doang yg punya problem, gw juga keleus” #plakk #plaakk #plaaakk 😂😂😂😂

      Karakter wao itu yg kuciptakan pertama, jd ku kupas pertama juga. Yg lain kalau ada yg belom nonjol2 bgt nanti seiring waktu bakalan keliatan pak wkwkwk

      Dan soal kapa min yoongi dan park chanmi di pertemukan dalam momen unyu berdua, itu akan terjawab seiring berjalannya waktu 😂😂😂 krn sejujurnya lama2 aku ragu kalau akan ada fluff dengan momen2 unyu di tengah tekanan hidup mereka ber-16 😂😂😂😂 mentok2 bisa ku kasih romance buat selingan, krn pada akhirnya ini lebih friendship sepertinya 😂😂😂😂 tp gatau sih pak… authornya kan labil.. yah di tunggu aja, mana tau lg pengen iseng kacauin hubungan mereka bisa juga wkwkwk

  3. Halo nara hehehe… salken juga yaa btw wkwkwk.. untuk castnya memang dari awal banyak, kalau ceritanya aku cuma berusaha membuat pembaca gak bosan dan gak bingung ketika baca ini. Makasih sudah membaca dan makasih atas komentarnya^^

  4. Ini keren gila ceritanya, alurnya mantapp, sukaa banget
    cast nya banyak tapi gk buat pusing dan gampang ngikutinnya,
    kalimatnya juga kena banget, gak kebayang deh punya masalah keluarga serumit itu
    next nya di tunggu kak^^

    btw, salken yaa

  5. Hhhaaaayyyy….. Aq datang….

    Konflik dari beberapa cast udh mulai terlihat nihh…. Kykny masih akan ada konflik baru lgii nnti nyaa….

    Pkokknyaa aq suka sma penggambaran tokoh dn konfliknya buat pembaca paham…

  6. EKHEEEEMMMMM…. Ahn Min Ji mau komen.

    Jadi, aku suka sama penjabaran masalah tiap tokoh. Gampang di mengerti. Tapi…. Kok rasanya seperti mereka balapan atau pamer siapa yg paling menderita/bermasalah. Terutama yg ciwik2 tiga ekor itu.

    Terus…. Masuk ke alur ceritanya dibuka sama BoA. Aku suka sama dia, guru yg keliatannya sebenernya peduli bgt sama muridnya.

    Kemudian, utk pertemuan Minji dan Woobin. Kok aku jadi baper sama cowok itu ya?? Minji boleh jadi serakah gak? Memiliki Juho dan Woobin.

    Lalu…utk masalah Minji, Yoongi, dan satu cewek anak president itu sepertinya ada kaitannya gitu. Klo yg masalah D-ent itu juga berkaitan gitu.

    Dan Juho nya WAO, kok dia lakik bgt sih??? Aku makin cinta sama dia nih. Makasih sudah membuat dia sgt gentle dan pengertian. Sayang Juho😍😘😘😘😘. Sayang kakyuns juga, tp dikit aja.

    Intinya mah aku suka sama ceritanya. Tolong dilanjutkan dan banyakin scene Juho Minji.

    P.S: tolong jadikan cinta segitiga antara Juho-Minji-Woobin *ini bercanda yg serius*

    • Wkwkwk disisi itu sebenernya aku cmn mau nunjukin, pepatahnya “diatas langit masih ada langit, dibawah tanah masih ada perut bumi” wkwkkwkwk *ini pepatah ngarang yg serius*

      Aku juga suka sama karakter boA wkwkwk sebenernya demen juga sama gayanya jiyi yg agak2 nyelekit wkwkwk… karakter kesukaan aku disini minji yura yun ae wkwkwk mereka tercipta unik krn scene absurd yg pertama kali (chap 1). Untuk tiga ciwik2 itu just save for later. Kemungkinan kalau jd akan ada guncangan (?)

      Dan minji harus milih, mau ending sama juho yapi ada status apa mau 22 nya tapi berakhir jomblo wkwkwkwk… the real is never happily ever after #ripenglish. Wkwkkwk…. selalu ada harga yg hrs dibayar 😂😂😂

  7. I’m here, Yuuun, muehehehe maafkan daku karena telat komen. Tapi yg harus kau tau kenapa aku gak langsung komen adalah… karena aku berniat untuk baca lagi. Makanya komennya kusimpen dulu, ntar pas kubaca ulang aku siap untuk meluncurkan komen. Nah, setelah baca ulang lagi, sekarang aku siap untuk berceloteh. Dan siapkan dirimu pula untuk membaca celotehku ini yaa, hihihi

    Okey, kayaknya nih yun, masih kayaknya loh yaa, aku udah paham dengan segala permasalahan dari masing-masing cast. Penjelasan singkat pada setiap dialog yg kamu tulis bener bener menjurus ke setiap permasalahan yang mereka alami, dan tentu aja permasalahan itu merupakan titik konflik utama dari masing-masing cast. Dan yg lebih mengejutkan lagi, rupanya beberapa permasalahan masing masing cast memiliki kesinambungan dengan permasalahan dari cast lain. Di chapter ini bener-bener mengejutkan! Ngebuat aku kembali membuka bab prolog untuk baca ulang perkenalan masing masing cast. Dan… Blash! Itulah yg membuat aku kemudian kayaknya paham dengan segala permasalahan mereka. Inget, masih kayaknya loh ya yun. KAYAKNYA!

    Pertama, aku gak akan ngebahas dialog antara Jiyeon dan Boa. Intinya, aku menangkap dialog mereka sebagai permulaan dari perkenalan anak-anak lotre di kelasnya Boa. Aku bakalan langsung bahas ke scene antara Minji dan Woobin.

    Hmm, Minji dan Woobin ini punya permasalahan yg sama ttg keluarga. Minji yg masih berharap akan diperhatikan oleh keluarganya atas tindakan yg dilakukannya, sementara Woobin yg sudah punya jawaban atas tindakan Minji yg ‘mungkin’ pernah dilakukan Woobin dulu, yaitu malah membuat keluarganya marah. Scene mereka berdua termasuk ke salah satu scene yg kusukai di sini, karena kamu dgn unik mengemas cara si woobin memberikan poin untuk Minji. Dan juga, aku mulai suka karakter Woobin lewat dialog ini, wkwk..

    Scene selanjutnya, itu Yena dan Nayoung. Aku belum menemukan ketertarikan dalam scene ini sih, tapi aku cukup bertanya-tanya, akankah terjadi sesuatu pada Yena di balik penjualan koreonya pada grup D-ent. Karena pada scene selanjutnya entah kenapa ngebuat aku berdecak sebentar. Gila, plotnya keren banget! Baru aja aku bertanya-tanya ttg D-ent, dapet penjelasan kalo Myungsoo pernah jadi salah satu artis agensi itu, dan rupanya Yura adalah gadis pemilik agensi itu! Lebih mengejutkannya lagi, ternyata gadis yg digosipi dihamilin oleh Myungsoo itu ada hubungannya dengan Yura! Aku masih mikir sih siapa gadis itu, tapi yg jelas pasti ada hubungannya dengan Yura karena mungkin ayahnya itu tau kalo Yura suka sama Myungsoo dan dia mikir kalo dengan ngeluarin Myungsoo dgn cara membuat gosip itu bisa ngebuat Myungsoo dan Yura gak berhubungan lagi. Ah, entahlah, ribet juga merangkai kata katanya. Ah, btw, Myungsoo bilang gak mau berhubungan dgn yg namanya D-ent lagi, sementara Yena baru aja akan menjual koreonya untuk D-ent, entah kenapa aku berpikir akan ada pertemuan masalah di antara mereka berdua. Wkwk

    Eh, btw aku melewatkan scene sebelumnya, yaitu scene Yoongi, Seokjin, dan Juho. Dan sekali lagi Yun, pada dialog ini kau membuatku jatuh cinta pada sosok Juho, hahahaha… Gatau kenapa, aku suka aja sama Juho yg gak akan maksa Yoongi untuk cerita, bagi aku itu lelaki banget! Gak maksa orang untuk cerita di saat orang itu emang sedang dlm kondisi yg baik untuk cerita, pria idamanku banget tuh! Haha *curcol*. Dan di scene ini aku menemukan keterkaitan kasus hukum antara Minji dan Yoongi. Aku jadi inget di perkenalan Yoongi, mana yg harus ayahnya bantu: pihak Jessica atau pihak Min Ah, dan aku baru tahu kalo ternyata orangtua Minji ada hubungannya dengan kasus ini. Well, ini sangat menarik! Tambahan lagi: aku suka kalimat terakhir Juho yg intinya bilang berjuang mencari 10% sisa uang yg harus dibayar ke Seiryu. Ah, pria idaman!

    Next, scene selanjutnya aku cukup bingung. Jadi, Juniel itu cewek ya? Kupikir cowok loh, hahaha… Di scene ini akhirnya aku mengerti hubungan Yun Ae dan Juniel dan juga penjelasan singkat ttg pengasingan itu pun aku cukup paham. Dan aku curiga kenapa Tae Hee membiarkan Ren mendengar semuanya, sementara sebelumnya Ren sedang mencari keberadaan orang tuanya. Entah kenapa aku curiga kalo hubungan keluarga Ren, ada hubungannya pula dgn keluarga Yun Ae. Hmmm~ dan sekali lagi, kamu mengemas dgn unik cara mission completed untuk Ren dan Yun Ae *thumbs up*

    Nah, di scene selanjutnya aku kaget lagi. Kasus pembunuhan itu rupanya juga ada hubungannya dengan Chanmi! Dan gara-gara Chanmi, permasalahan Jihyun dan Mina pun membuka sedikit. Dimana ketiganya sama sama memiliki permasalahan ttg orang tuanya. Mereka bertemu dgn orang2 yg tepat dan ditempatkan di kamar yg sama. Keren banget! Kamu bisa bgt membuka masing2 permasalahan hanya karena dialog yg saling memiliki keterkaitan, Yun!

    The last, Tae brother! Semakin ke sini entah aku semakin yakin kalo asa sesuatu di antara mereka! Apa mungkin anak dari ayahnya taehyung yg sebenernya adalah taeyong? Toh, di perkenalan pun Taeyong bilang kalo dia lagi nyari ibunya kan? Nyari keluarga aslinya kan? Jangan2 itu adalah keluarga tirinya taehyung lagi! Atau malah keduanya beneran punya hubungan darah. Hmm ini benar benar menarik! Scene ini jadi salah satu scene yg kusuka juga!

    Wuaahhh, gak nyangka aku akan mereview chapter ini sepanjang ini! Berapa menit ya aku nulis komen ini? Sepertinya sejam, wkwk… Intinya, yun, setiap dialog dan scene di chapter ini bener bener clue banget! Terima kasih karena udah menulis clue se detil itu di chapter ini, haha.. Gapapa next chapter semua cast gak nongol, emang sulit untuk membuka masing2 konflik dgn cast sebanyak ini kalo hanya di satu chapter aja, jadi kuizinkan kamu untuk fokus ke salah satu atau salah dua dulu. Mina dan Taehyung gak nongol juga gapapa, aku mulai suka dgn karakter lainnya di sini, termasuk Juho dan Woobin, wkwk (nyebut lagi deh gue)

    Tetep semangat yuuun melanjutkannyaaa~ Kuacungkan jempol untuk keproduktifanmu untuk menulis ini. Aku kalah euy, wkwk… Tunggu celotehku di chapter selanjutnya yaaa.. Ganbatte-ne ^^

    • Halo zul, ehem… *tarik napas dalam2*

      Pertama2 i wanna day thanks to park mina krn udh berceloteh bagai oneshoot disini. Dan sejujurnya komen yg paling kusuka, entah karena ketelitian dan kegigihanmu untuk mengerti kisah ini atau karena mirip wkwkwkwk

      Komenmu agak mengejutkan sebenarnya karena kamu berhasil menemukan petunjuk2 yg aku tebar di potongan2 sebelumnya, termasuk di prolog. Dan balik lagi, soal cerita yg berkesinambungan… mereka punya satu benang merah yg kusebut implicit relationship. Soal D-ent itu refleks ku tambahin sih sekitar satu jam sebelum publish krn aku gak mau repot dgn myungsoo yura dan lainnya terpisah pisah.

      Menurutku justru pemberian poin si minji-woobin dan yun ae- ren agak aneh. Sempat mau ku hapus tapi malas tulis ulang dan malas mikirin gimana mekanisme buat hal sepele itu, karena pada dasarnya challange itu ibarat kulit terluar bawang yg masih banyak tanah merahnya, so just for opening. Wkwkwkwk

      Dan soal kasus keracunan itu nanti berbuntut pada…. yah ditunggu deh zul buntutna apa wkwkwk.. dan juniel cewek cantik dan imut yg suaranya badai wkwkwk *silahkan tanya om gugel* wkwkwk

      See yaaa zul

      • Ciyeee~ suka sama komen dariku, wkwk

        I love your story yun, ketika aku mencintai sesuatu, akan kulakukan apapun yg bahkan rasanya takkan mungkin dilakukan oleh siapapun #inikalimatapaya

        Mungkin karena cast di sini banyaknya minta ampun, makanya aku perlu buka prolog lagi untuk mengingat, and you must know, school-life itu termasuk genre yg kusuka karena ada banyak kisah yg terjadi pada saat usia remaja di sekolah. Dan kamu mengemas cerita ttg sekolah dgn begitu unik dgn permasalahan masing2 cast yg bersangkutan, itulah yg membuatku begitu niat untuk kepo lebih lanjut, mikir lebih keras, dan menganalisis lebih banyak daripada yg biasanya,hahaha

        Well,akan kutunggu slalu update ceritamu. Mangats yun!

        • Aku sukanya sama yg panjang2 sih zul wkwkwkwk *nahloh ini beneran rancu*

          Sebetulnya ini first time aku nulis genre school life sih wkwkwk.. biasanya aku tulis marriage life.. semacam sadisme dan psikopat juga wkkwkwk

  8. Hi Ayunseuuu yang katanya istrinya om Siwon si holangkaya wkwkwk.

    langsung aja deh,
    diawal cerita bgian Minji dan Woobin aku malah salah fokus ke penggambaran lingkungannya masa, jadi keinget sekolahannya Ten NCT di Thailand deh, sumpah tuh sekolah udah kyak universitas! kampus aku aja kalah ama sekolahannya Ten wkwkwk
    *tonton NCT Live in Bangkok

    trus pas adegan Yena yg nyebutin D-ent kayaknya akan ada konflik deh sama kisahnya Myungsoo dan Yura, secara mereka sama2 punya hubungan sama D-ent.

    Nah kalau Suga, kisahnya saling berkaitan nih sama Chanmi wkwkwk selebihnya ku masih gagal faham kkk

    masih penasaran Taeyong itu siapa sih?! dia sepanti kah ama Ye Na?? itu mereka couple dari panti kah? 😂

    overall ku suka bahasa ayun yg ebak dibaca dan difahami. semangat terus yun! 😄

    • Hai kak pel…

      Makasih before untuk commentnya di chapter yg benar2 absud ini. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menyatukan kepingan2 nya supaya nanti gak timbul efek kalau ceritanya “maksa” wkwkwk 😂😂😂

      Soal halaman sekolah itu aku bayangin sejenis taman yg alami, pernah liat dimana gitu wkwkwk… kalo ga salah drama china atau taiwan atau thailand 😂😂😂 entahlah…

      Hayoo kak pel kira2 taeyong siapa hayoo wkwkkwk atau jgn2 dia cuman orang yg gak sengaja lewat? Wkwkwk entahlah… aku blm mau membuka konfliknya dia. Sebetulnya kalo mau mempertanyakan hubungan, mereka semua berhubungan sih… seperti yg aku bilang akan ada implicit realtionship diantara mereka.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s