Ficlet Collection – Shot in The Dark

vlcsnap-2016-11-02-10h13m48s168

Ficlet Collection – Shot in The Dark

Written by Amy Park

Cast: SF9 Juho – OC Ahn Minji | Seventeen Wonwoo – OC Park Hana | BTS Jimin – OC Park Mina | GOT7 Jinyoung – OC Kim Yena | BTS Jin – OC Lee Nayoung | SJ Siwon – OC Han Sunkyo | Seo Kangjoon – OC Park Jihyun | EXO Lay – OC Kim Yura | BTS V – OC Lauren Kim (Ren)

Genre: Slice of life – Romance – Angst – Dark – Songfic | Rated: PG15 – Mature

###

WARNING!

Some ficlets contain cursing words and explicit scenes. You’ve been warned. Read at your own risk.

….

Shot in The Dark: An attempt that has little chance of succeeding

Ini bukanlah kisah romansa yang manis dan penuh akan delusi keabadian. Sebaliknya, kisah ini diambil dari kenyataan pahit manusia dalam mencari suatu hal fiktif yang disebut sebagai kebahagiaan. Karena sesungguhnya… kebahagiaan sejati tidak akan pernah bisa kita pahami.

Bandung, 31 Oktober 2016

^

^

1st SHOT

MELTED

“I Wish the frozen love will melt away” – AKMU’s  Melted

SF9 Juho – OC Ahn Minji

minji-jiho

Tak bisa bergerak, karena belenggu itu tak kunjung lepas dari tubuhku. Sebutlah aku seorang yang bebal. Bahkan ketika kelima inderaku dibelit kain hitam itu, aku hanya bisa terdiam pasrah. Hingga akhirnya, ia tiba membawa kehangatan seraya melelehkan dinginnya tubuh ini.

-Melted-

Hidung mancung milik seorang gadis bernama Ahn Minji itu mengendus aroma sup kimchi yang segar. Tanpa membuka matanya ia pun tersenyum. Pasti ini buatan mama, pikirnya. Gadis bersurai coklat itu tidak berniat untuk segera bangun dan menyantap hidangan pagi tersebut. Sebaliknya, ia malah menarik selimut tebal nun lembut yang tengah dipakai hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Aku tidak akan bangun hanya karena sup kimchi yang kau buat, Ma. Aku masih ingin tidur. Biarkan pekerjaan kebun itu dilakukan oleh bibi Kim saja,” rajuk Minji sambil terkekeh. Membuat ibunya kesal di pagi hari merupakan hal yang menyenangkan baginya.

Tapi… tunggu. Sudah dua menit berlalu sejak Minji berbicara, tetapi mengapa mamanya tak kunjung menyaut? Biasanya wanita setengah baya itu akan menarik selimut Minji dan menggelitiki si anak bungsu itu sampai terbangun. Merasa janggal, maka dengan perlahan Minji menurunkan selimutnya seraya membuka mata untuk melihat keadaan sekitar.

Oh, sial… Minji lupa bahwa sekarang dirinya sedang tidak berada di kamarnya. Gadis itu pun terduduk dari posisi tidur. Dia memandangi kamar bernuansa putih tersebut seraya menghela napas berat, “Bahkan baru dua hari tinggal di sini aku sudah merindukan mama.”

Tepat setelah Minji berkata demikian, pintu kamar pun terbuka. Dari luar sana, masuklah lima orang pelayan wanita. Dua orang pelayan tampak membawakan peralatan mandi, dan dua orang pelayan lain membawakan alat rias juga gaun merah muda untuk Minji.

Di sisi lain, seorang pelayan yang mengenakan pakaian berbeda dari empat pelayan lain pun menghampiri Minji. Ia membukuk terlebih dahulu kemudian berucap, “Selamat pagi, Nona Ahn. Saya sudah menyediakan sup kimchi untuk sarapan tapi sepertinya belum Anda makan. Apakah Anda ingin membersihkan diri seraya bersiap terlebih dulu?”

Minji melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia mengangkat sebelah alisnya seraya menatap pelayan tersebut, “Memang ada acara apa sampai aku harus bersiap sepagi ini?”

“Hari ini ada selebrasi atas pernikahaan Anda dengan tuan muda. Presiden Park telah kembali dari perjalanan bisnis dan ia sudah mengundang beberapa kerabat hingga Perdana Menteri ke Blue House[1] untuk memperkenalkan Anda sebagai menantunya. Dengan demikian, Anda harus segara bersiap. Semua perlengkapan yang—“

“Aku mengerti… aku mengerti. Tidak usah dijelaskan begitu detil,” potong Minji. Dia pun tidak habis pikir pelayan yang satu ini akan lebih cerewet dari mamanya.

Pelayan itu tersenyum kemudian membungkuk, “Kami akan membantu Anda bersiap.”

Jika bukan demi ibunya, sampai mati pun rasanya Minji tidak akan mau menginjakkan kakinya di istana ini.

—-

Minji sebenarnya sangat iri dengan teman sebayanya, karena pada usia sembilan belas ini Minji harus menikah dengan lelaki yang bahkan sama sekali tidak ia kenal. Ketika teman-temannya sibuk menghadapi ujian akhir, Minji malah harus sibuk merawat diri untuk menjadi seorang istri dari anak sulung orang nomor satu di negaranya. Tentu… tentu saja Minji tidak bahagia. Ia masih ingin merasakan kebebasan sebagai seorang remaja. Namun, jika menikahi putra presiden adalah satu-satunya cara agar perusahaan yang telah dibangun susah payah oleh kedua orangtuanya tidak bangkrut, apa boleh buat?

“Riasan Anda sudah selesai dengan sempurna, Nona.”

Minji membuka mata dengan perlahan. Gadis itu pun menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya kini dibalut riasan ala mellow burgundy. Dengan rambut agak bergelombang yang digerai alami, Minji tampak glamor tanpa menghilangkan aura polosnya sebagai seorang gadis. Cantik memang, tetapi entah mengapa Minji tidak suka dengan penampilannya yang seperti ini.

“Mari, Nona, akan saya antar Anda ke ballroom.”

“Aku masih ingin di sini. Aku bisa ke sana sendiri jadi kalian pergilah duluan.”

“Tapi, Nona… lima belas menit lagi Nyonya besar beserta tamu undangan akan datang.”

Minji menghela napas, “Kalian pergilah duluan…”

“Maaf, Nona, tapi—“

“Kubilang pergi!” potong Minji dengan nada tinggi, membuat kelima pelayan itu kaget sekaligus heran akan tingkah majikannya tersebut. Gadis itu menunduk dan melanjutkan, “Aku ingin sendirian. Tolong mengertilah.”

—-

Dengan langkah cepat Minji menghampiri lemari pakaiannya. Ia membuka pintu lemari bewarna emas itu kemudian menyingkap beberapa pakaian yang bergantung. Di balik pakaian tersebut, terdapat sebuah pintu ruangan rahasia. Dengan perlahan, Minji melangkah memasuki lemari. Setelah menutup pintu lemarinya, ia pun membuka pintu ruangan misterius itu lalu masuk ke dalamnya. Tidak ingin jejaknya diketahui orang lain, sebelum menutup pintu ruangan, Minji kembali merapikan pakaian-pakaian yang bergantung hingga menutupi ‘pintu rahasianya’ tersebut.

Hingga keadaan dipastikan aman, gadis itu pun berjalan melalui lorong sempit yang didominasi oleh warna putih. Setelah beberapa menit melangkah, ia bertemu dengan ujung lorong yang merupakan sebuah pintu masuk menuju ‘ruangan rahasia’ lainnya. Namun sayang, pintu itu terkunci dan ia bisa masuk hanya jika orang yang berada di dalam ruangan sana membukakan pintu untuknya.

“Kau masih bersikap dingin padaku rupanya,” ungkap Minji saat melihat sebuah mangkuk berisi sup kimchi yang sudah mulai basi di depan pintu. Gadis itu kemudian menghela napas seraya duduk di lantai sambil menyandarkan kepalanya pada pintu bewarna coklat tersebut.

“Juho-ya…apakah diasingkan oleh kedua orangtuamu begitu menyakitkan?” bibir Minji membentuk sebuah senyuman—senyuman miris lebih tepatnya. Sebelum ia lanjut berucap, air matanya menetes, “Bahkan aku yang pernah menerima cinta dari kedua orangtuaku, rasanya sangat perih ketika mereka harus mengorbankanku demi pekerjaan. Hati orang dewasa begitu dingin, bukan? Mereka rela mengorbankan anaknya demi bertahan hidup.”

Minji pun tertawa kecil seraya menyeka tangisnya. “Kudengar mereka malu karena kau memiliki penyakit mental. Maaf mengatakan ini, tapi orangtuamu sungguh kurang ajar. Mereka menyembunyikanmu dan mengikatmu dari dunia luar hanya karena seorang presiden tidak boleh memiliki keluarga yang cacat. Tapi kau tidak sendirian, Juho-ya… secara tidak langsung orangtuaku juga telah menjualku, bukan? Orangtua kita sama-sama brengsek, kau tahu.”

Gadis itu mengubah posisi duduknya—meringkuk sambil memeluk kedua lutut, kemudian kembali bercerita. “Dua hari lagi aku akan menikah, tapi sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan calon suamiku. Bagaimana jika dia jahat, Juho-ya? Bagaimana jika dia  memperlakukan aku dengan kejam? Bagaimana jika aku akan disiksa olehnya? Aku takut, Juho-ya… aku takut.”

Isak tangis gadis itu pun pecah dan menghiasi lorong sunyi tersebut. Ia menenggelamkan wajahnya di atas lutut dan seluruh tubuhnya mulai bergetar. Bagaimana pun, ia hanya seorang remaja yang masih butuh perlindungan.

“Berhenti menangis dan masuklah.”

Mendengar suara Juho untuk pertama kali, Minji pun segera mengangkat kepala lalu menoleh… pintu bewarna coklat yang terkunci rapat itu akhirnya terbuka.

^

^

2nd SHOT

DISTANCE

“I Fall for your sweet lies” – EXID’s 1M

Seventeen Wonwoo – OC Park Hana

wonwoo-hana

Beberapa orang berucap, jarak merupakan suatu hal yang jauh dari netra manusia. Namun sebenarnya, jarak ialah suatu hal yang sulit digapai walau berada setengah meter dari jemari.

-Distance-

Hujan deras mengguyur kota Seoul, membuat suasana malam ibu kota Korea Selatan tersebut semakin dingin. Park Hana berlari dengan kedua telapak tangan yang digunakannya sebagai pelindung dari guyuran hujan. Senyuman pun terukir dari bibir mungilnya ketika dia sampai di teras rumah. Setelah merapikan rambut coklatnya yang kusut karena hujan, kakinya pun melangkah hendak memasuki rumah. Sebelum masuk ke sana, mata coklat Hana mendapati sepasang sepatu heels merah—tentunya bukan miliknya. Tangan kanan gadis berperawakan mungil yang tengah memegang plastik hitam berisikan obat itu pun mengepal dengan spontan.

“Kau bisa menanganinya, Park Hana. Kau pasti bisa,” gumam Hana seraya menghela napas.

Diiringi langkah gugup, Hana langsung membuka pintu rumah kemudian masuk ke dalamnya. Dengan perlahan ia pun berjalan menuju kamar, membuat lantai yang dilalui olehnya menjadi basah karena pakaian yang kuyup. Pintu kamarnya terbuka, sehingga mata Hana bisa melihat secara jelas sang suami yang tampak asik bercumbu dengan wanita lain di dalam sana. Benar, suami Hana—Jeon Wonwoo.

Tak sanggup menatap pemandangan menyakitkan tersebut, Hana pun beranjak dan sedikit menjauh dari pintu kamar itu. Bahkan Hana juga tidak sanggup menopang tubuhnya sehingga ia jatuh berlutut di lantai. Matanya yang sudah memerah pun pada akhirnya mengeluakan air mata. Kemudian, ia segera menutup mulut agar tangisnya tidak terdengar.

Ini bukan kali pertama untuk Hana menyaksikan lelaki yang dicintainya bercumbu dengan wanita lain. Hana bahkan tahu, walaupun sudah menikah, Wonwoo tidak akan pernah mencintainya. Kata cinta yang diucapkan oleh lelaki itu pada dua tahun silam hanya sebuah kebohongan. Kebohongan yang telah membuat Hana terjerumus ke dalam kehidupan rumah tangga yang kelam. Kebohongan yang membuat ia tersiksa karena mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya.

—-

Park Hana membuka matanya secara perlahan, rasa pusing itu kembali menyerang sehingga dengan refleks tangan kanannya menyentuh kepala. Ia langsung tertegun ketika melihat Wonwoo yang kini sedang menatapnya dengan pandangan yang tidak bisa ia mengerti. Sedikit gugup, Hana pun mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Gadis itu tidak tahu harus berbuat apa, bahkan untuk membuka percakapan dengan suaminya pun enggan dia lakukan karena ia terlalu takut.

“Ada yang ingin aku sampaikan,” Wonwoo akhirnya membuka perbincangan.

“A-apa?” tanya Hana dengan nada berbisik, nyaris tidak terdengar.

“Kita harus berpisah.”

Kalimat sederhana itu bagaikan bom waktu bagi Hana. Ia tahu suatu saat Wonwoo akan mengucapkan hal tersebut, tapi ia tak menyangka lelaki itu akan mengutarakannya secepat ini. Sudah tidak bisa menangani hatinya yang begitu sakit atas ucapan Wonwoo, Hana pun bertanya, “Bagaimana bisa kau mengakhiri rumah tangga ini dengan begitu mudah, Wonwoo-ssi?”

Sebagai jawaban, Wonwoo tersenyum sinis. “Tentu aku bisa, karena kita menikah hanya untuk kepentingan bisnis. Lagipula sekarang perusahaan kita sudah bisa berjalan masing-masing dengan baik, bukan? Hubungan kita tidak patut untuk dipertankan.”

Pernyataan Wonwoo membuat Hana tersenyum miris, air matanya pun kembali mengalir membahasahi kedua pipinya. Ia menyeka air matanya terlebih dulu kemudian menimpal, “Kau mencintaiku, Wonwoo-ya. Kau mengatakan hal tersebut ketika kita pertama kali bertemu. Maka pernikahan ini bukan sekadar kerja sama bisnis.”

Lelaki itu tertawa sebagai respon. Dia kemudian menatap Hana tajam, “Kau juga tahu bahwa itu hanya bualan. Ayolah, Hana, berhenti bersikap naïf. Kau tahu bahwa aku tidak pernah mencintamu. Kita bercerai saja, uh? Apa kau tidak capek menangis karena sering melihatku bercumbu dengan wanita lain?”

“Sama sekali tidak,” jawab Hana dengan bibir bergetar. “Jika memang kau ingin bercumbu dengan banyak wanita lain pun aku tidak peduli. Karena… aku mencintaimu.”

Tepat setelah Hana berkata demikian, Wonwoo segera mencengkram bahu gadis itu dengan kedua tangannya. Lelaki itu menatap Hana tajam, tampak marah. “Berhenti berbicara tak masuk akal dan jangan pernah bertemu denganku lagi. Aku ingin kita bercerai.”

Lelaki itu hendak beranjak, tetapi Hana berhasil menahan lengan kanan Wonwoo. “Jangan tinggalkan aku. Aku mohon…”

Hana bahkan tidak peduli jika permintaannya itu akan menjatuhkan harga dirinya. Yang ia inginkan hanyalah Wonwoo. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih dengan nalarnya, ia hanya ingin Wonwoo berada di sisinya bahkan jika lelaki itu memang tidak mencintainya. Seorang Park Hana tidak ingin menyiakan perasaan cinta dan kasih sayang yang ditujukan pada Wonwoo setelah tahun demi tahun berlalu. Apakah begitu salah untuk mencintai seseorang yang tidak pernah mencintainya sehingga pada akhirnya ia juga harus merasa kehilangan?

Namun pada kenyataannya, melihat Hana yang menangis sepertinya tidak akan membuat hati Wonwoo luluh. Bahkan tanpa rasa iba, lelaki itu pun melepas paksa genggaman Hana kemudian pergi meninggalkan gadis itu.

“Wonwoo-ya!”

Tidak terima, Hana segera beranjak untuk mengejar Wonwoo. Sayangnya, belum tiga langkah gadis itu berjalan, tubuhnya sudah kembali ambruk. Tampaknya kanker rahim yang ia derita tidak mengizinkan Hana untuk mempertahankan Wonwoo. Maka kini ia hanya bisa menangis sambil menahan nyeri yang luar biasa di perutnya, sekaligus menahan kesakitan akan kepergian orang yang sudah lama dicintai olehnya.

Bahkan hingga aku menutup mata, hatinya tidak akan pernah tertuju padaku…Tangis Hana pun terhenti, bersamaan dengan kegelapan yang pada akhirnya menghampiri.

^

^

3rd SHOT

DIGNITY

“There are hard times for everyone” – 15& Jimin’s Try

BTS Jimin – OC Park Mina

jimin

Tak dapat dipungkiri, manusia memang memiliki sisi jendala untuk melindungi harga dirinya. Rasa egois digunakan sebagai tameng untuk menabir prestise tersebut. Namun ada satu hal yang harus diingat. Martabat yang kau jaga selama ini, bisa saja berbalik dan menjadi sebuah petaka.

-Dignity-

“Apakah itu Park Jimin? Penyanyi solo terkenal itu?”

“Ya Tuhan… aku tidak percaya bisa menyukainya.”

“Kariernya sedang di ujung tanduk.”

“Hahaha… kabar dari Dispatch bukan bualan, Jimin asli memang kurang ajar. Bagaimana bisa ia duduk santai di sini ketika agensinya terancam bangkrut karena dia?”

“Lihatlah, ia sungguh tebal muka.”

Bisikan yang kebanyakan terdiri atas sindiran itu terus dilontarkan, tapi seorang Park Jimin seolah tidak peduli dengan perkataan orang-orang tentang dirinya. Lelaki berambut abu itu hanya memicingkan senyuman miris sambil menatap pemandangan sungai Han ketika para manusia tersebut sibuk membicarakannya.

“Seperti kurang kerjaan saja,” gumam Jimin seraya menghela napas.

Waktu pun terus berlalu. Tak terasa malam semakin larut dan keadaan sekitar sungai Han pun semakin sepi, sehingga hampir tidak ada lagi orang-orang yang akan menyindir atau bahkan sadar akan kehadiran penyanyi tenar berusia dua puluh tahun itu di sana.

Ia lantas membuka topi merah yang sedari tadi menutupi setengah wajahnya kemudian memerhatikan keadaan sekitar. Ketika sudah dipastikan aman, ia meraih bungkus rokok dan pemantik api dari saku celana dengan jemari mungilnya. Tanpa berpikir panjang, Jimin mengeluarkan sebatang rokok, menyulutnya dengan api, kemudian menghisapnya perlahan lalu mengehembuskannya sampai asap rokok keluar dengan sempurna dari mulut dan hidungnya.

Persetan dengan berita buruk yang akan imbas padanya. Jimin hanya ingin menghilangkan rasa stres yang sekarang tengah ia alami.

“Dasar bodoh!”

Seorang perempuan mengumpat dan segera mengambil paksa rokok yang hendak Jimin hisap dan membuangnya ke tanah. Lelaki itu mendongkak kemudian mendesah kesal saat mendapati gadis bersurai hitam pekat bergelombang yang kini sudah duduk secara sempurna di sampingnya.

“Mau apa kau ke sini?”

“Tentu saja untuk mengomel.”

Jimin berdecak dan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. “Pergilah… omelanmu hanya akan menambah keadaanku semakin runyam, Mina-ya.”

Seakan tidak peduli dengan perkataan Jimin, Mina menangkup wajah Jimin dengan kedua tangan—memaksa agar lelaki itu menatapnya. “Sudah kubilang, jangan merokok. Kalau kau sedang depresi, minum saja alkohol sampai mabuk. Masyarakat akan lebih memaklumi itu.”

Jimin menepis kedua tangan Mina. “Alkohol akan membuatku semakin tidak terkontrol.”

“Rokok akan lebih membahayakan tubuhmu, bodoh.”

“Aku merokok di tempat sepi dan lumayan jauh dari manusia lain, maka setidaknya benda mungil itu hanya akan membahayakan paru-paruku sampai mati, bukan? Jika aku mabuk dan kehilangan kendali, bahkan aku bisa mencelakakan orang lain.”

Mina menghela napas berat sambil menatap Jimin dengan pandangan miris. Perempuan itu mengacak rambutnya frustasi kemudian berkata, “Baik rokok maupun alkohol keduanya sama, tidak menguntungkan. Kau sebaiknya mencari hal lain yang lebih baik untuk menghilangkan rasa stres, Park Jimin.”

“Seperti?”

“Seperti… Mmm…” Mina tampak berusaha keras untuk mencari jawaban.

“Terlalu lama. Aku sudah punya jawabannya.”

“Apa?”

“Seks.”

Kata singkat itu membuat kedua mata Mina membulat sempurna. “Yak! Itu pelecehan seksual!”

“Bukan termasuk pelecehan seksual jika aku melakukannya denganmu, bukan?”

“Apa? Kenapa harus aku?!”

“Karena kau pacarku. Kita sama-sama suka dan ayolah… aku tahu kau ingin juga melakukannya denganku—Akh!!!” Jimin secara spontan berteriak karena tangan Mina yang berhasil memukul keningnya dengan sangat keras.

“Jaga perkataanmu, Park Jimin. Kau seharusnya melakukan hal yang positif untuk memperbaiki kariermu. Juga… minta maaflah pada PD Kim.”

Jimin kembali mengalihkan pandangannya dari Mina. “Yang perlu kau lakukan adalah tetap bersamaku, Mina-ya. Berhentilah ikut campur dalam masalahku karena aku akan mengatasinya sendiri.”

“Masalah ini terjadi karenaku juga, Jimin. Bukan hal yang salah jika aku ikut campur. Lagipula, apa kau akan tetap bersikap seperti ini pada PD Kim? Untuk menjaga martabatmu? Oh, ayolah, kau sudah dua puluh tahun. Jangan kekanakan!”

Tawa sinis Jimin meledak. Ia tidak menyangka seorang gadis yang ia pikir akan selalu berada di pihaknya berkata demikian. Kini Jimin menatap tajam ke arah Mina. “Kau sama sekali tidak mengerti apa yang sedang aku alami.”

“Siapa bilang? Aku mengerti. Aku sangat mengerti sehingga—“

“Kau tidak mengerti!” teriak Jimin, membuat Mina tercekat dan diam seribu bahasa. Lelaki imut itu memang cukup mengerikan ketika marah. “Apa kau pernah merasakan menjadi boneka yang selalu dikendalikan, Mina-ya? Apa kau pernah merasakan menjadi seorang idola yang harus selalu bersikap sempurna bahkan ketika dirimu akan hancur? Tidak, bukan? Aku muak dengan semua kehidupan ini. Aku muak dengan PD Kim yang bersikap seenaknya untuk menjauhkanmu dariku agar penjualan albumku tidak terusik!”

Ini adalah pertama kalinya Mina melihat sosok Park Jimin yang ceria tampak hancur dan begitu frustasi. Air mata bahkan sempat membasai pipi tembam Jimin sebelum akhirnya lelaki tersebut menyekanya. Melihat lelaki yang dicintainya rapuh, Mina pun segera memeluk Jimin.

“Aku mengerti, Jimin. PD Kim memang salah karena telah berbuat seperti itu,” tutur Mina lembut seraya mengelus punggung Jimin—menenangkannya. Setelah merasa lelaki itu sedikit tenang, Mina pun berucap dengan hati-hati, “Untuk membuatmu menjadi penyanyi berbakat dan terkenal di usia muda seperti ini tidaklah mudah, sehingga berita kencan dinilai sangat sensitif dan akan membahayakanmu. Jika kau ingin meneruskan kariermu tanpa perlu untuk melepaskan aku, sebenarnya kau bisa bicarakan hal itu baik-baik dengan PD Kim, bukan malah memperkeruh keadaan dengan cara absen dari konser tunggalmu dan memutuskan kontrak sembarangan. Di sanalah letak kesalahanmu. Kau juga menyadarinya, bukan?”

Jimin melepas pelukan Mina. Ia menatap Mina dengan pandangan yang mulai meluluh, “Aku tahu. Tapi jika aku minta maaf, aku tidak bisa.”

“Kenapa? Kau malu untuk melakukan itu?”

“Bukan begitu, Mina-ya. Tapi—“

“Hilangkan gengsimu dan minta maaflah pada PD Kim, Jimin. Dia juga sedang dalam masa sulit sekarang.”

Jimin sama sekali tidak berucap. Perkataan Mina terasa amat benar sehingga Jimin tidak sanggup untuk mengelaknya. Setelah beberapa menit berpikir, lelaki itu menghela napas lalu berucap, “Baiklah. Aku akan menemui PD Kim dan mengakui kesalahanku.”

Bibir merah muda Mina pun melengkung senang. Perempuan itu pun semakin bahagia ketika akhirnya melihat Jimin tersenyum hingga kedua mata lelaki itu semakin menyipit. “Terima kasih, Jimin-ah.”

Kini Jimin memandang Mina dengan tatapan menggoda kemudian berkata, “Jika kau berterima kasih, maka kau harus memberiku hadiah.”

Belum juga paham akan perkataan Jimin, mata Mina kembali membulat sempurna ketika lelaki itu mencium bibirnya. Tubuhnya semakin memanas ketika kedua tangan Jimin melingkar di pinggangnya dan menghapus habis jarak tubuh mereka, hingga secara otomatis tautan bibir keduanya semakin dalam. Mina juga tampaknya mulai menikmati setiap ciuman yang diberikan Jimin. Namun sebelum gadis itu kehilangan akal, dering ponselnya menyadarkan dan Mina pun segera melepaskan ciuman Jimin kemudian mengangkat panggilan tersebut.

Jimin hanya tersenyum kecil melihat kekasihnya yang salah tingkah. Namun senyuman itu tidak bertahan lama ketika Jimin melihat raut wajah Mina yang tiba-tiba panik ketika berbincang dengan seseorang di sebrang sana. Setelah Mina selesai menerima panggilan telepon itu, Jimin bertanya, “Ada apa?”

Mina menatap Jimin dengan ragu, tapi akhirnya perempuan itu menjawab, “PD Kim dalam masa kritis.”

Dan Jimin pun sadar penuh akan kebodohannya.

^

^

4th SHOT

LIVING IN MEMORIES

“I hear your sad cries on the other side of the door”- Beast’s No More

GOT7 Jinyoung – OC Kim Yena

jinyong

Segala bentuk kenikmatan dunia telah ia miliki. Bahkan tahta dan harta kini bukanlah sebuah hal yang sukar didapatkan olehnya. Namun, akankah ia bahagia menikmati semua itu? Ketika isak tangis milik wanita pujaannya terus terngiang dalam telinga.

-Living in Memories-

Jinyoung berdiri di sebuah ruangan kosong bernuansa putih. Jangan bertanya karena dia sendiri pun tidak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba ada di sana. Pakaian serba hitamnya pun semakin tampak mencolok. Yang lebih mengerikan, tidak ada pintu keluar satu pun di sana sehingga lelaki bermata coklat tersebut tidak dapat pergi.

“Jinyoung-ah…”

Lelaki itu menolehkan kepala saat seorang wanita menyebut namanya. Namun seberapa keras ia mencari, sosok yang memanggilnya itu tidak kunjung ia temui.

“Jinyoung-ah…”

“Yena.” Panggilan kedua itu membuat Jinyoung sadar siapa yang memanggilnya. Raut wajah bingung Jinyoung langsung berubah panik. Ia merasa harus segera menemukan Yena atau hal yang buruk akan segera terjadi.

Harapannya terkabul. Secara magis, ruangan serba putih itu berubah bentuk menjadi sebuah ruang tamu mewah bergaya eropa. Netra Jinyoung pun sedikit berbinar ketika mendapati gadis yang dicintainya tersebut kini sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.

“Jinyoung-ah, kabarmu baik, kan?”

Bibir tipis Jinyoung tertarik untuk tersenyum. “Tentu. Aku baik-baik saja.”

“Tolong aku, Jinyoung-ah…”

Senyum cerah Yena tampak memudar dan digantikan dengan raut wajah yang tampak ketakutan. Tepat setelah itu, dua orang pemuda berbadan kekar muncul dari sisi kanan dan kiri Yena seraya melayangkan cambuk ke punggung gadis itu hingga ia terjatuh. Tidak cukup sampai di sana, kedua pria itu pun kembali memberikan cambukan yang bertubi-tubi hingga Yena berteriak serta menangis kesakitan.

“Kim Yena!”

Jinyoung hanya bisa berdiri kaku. Bahkan ketika nalurinya sangat ingin menyelamatkan gadis itu, tetapi seluruh tubuhnya hanya bisa terdiam. Hingga pada akhirnya cambukan itu terhenti, digantikan oleh keyakinan pahit Jinyoung bahwa detak jantung Yena sudah tidak berdegup lagi.

—-

Jinyoung segera bangun dari tidurnya dengan peluh yang memenuhi seluruh tubuh. Mimpi buruk itu datang untuk yang ketiga kali, membuat perasaannya semakin tidak menentu. Lelaki itu mengusap wajah dengan kedua tangan seraya menghela napas berat.. Perasaan khawatirnya semakin membuncah ketika pria setengah baya yang sangat ia kenal memasuki kamarnya.

“Selamat pagi, Tuan Muda,” sapa pria itu ramah sambil membungkuk hormat. Tanpa menunggu Jinyoung menyaut, ia melanjutkan, “Selebrasi pernikahaan Anda akan berlangsung hari ini. Akan aku siapkan para pelayan jika Anda ingin bersiap.”

Jinyoung memijit pelipisnya, kabar yang diberikan oleh pria tua ini membuat keadaannya semakin runyam. Setelah berpikir selama beberapa menit, Jinyoung menatap pria itu seksama kemudian berucap, “Kau tahu bahwa aku bukan tipe anak yang membangkang, jadi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu, Pak Sam?”

—-

“Setelah kejadian itu, predisen Park lebih memilih untuk menyembunyikan semuanya dari Anda. Dia tidak ingin fokus Anda di dunia bisnis akan hilang hanya karena Yena. Dan keadaan gadis itu… sama sekali tidak baik. Kau boleh menemuinya, Jinyoung, tapi kuharap kau bisa kembali lagi ke Blue House sebelum selebrasi pernikahanmu dimulai.”

Penjelasan Pak Sam terus terngiang di telinga Jinyoung, bahkan ketika lelaki itu sudah sampai di depan pintu salah satu ruang perawatan spesial rumah sakit—tempat gadis yang selama ini dia cari berada. Penjelasan Pak Sam membuatnya merasa bodoh sekaligus khawatir. Bagaimana bisa selama dua tahun ia percaya pada setiap kebohongan yang diutarakan oleh ibunya, dan membiarkan gadis yang ia cintai sepenuh hatinya tersiksa seorang diri.

Jinyoung menghela napas berat. Dengan keberanian yang susah payah ia kumpulkan, pada akhirnya tangan kanannya menyentuh kenop pintu yang terasa dingin, menekan kenop tersebut hingga pintu terbuka kemudian masuk ke dalamnya.

“Yena…”

Rasa sakit itu menyerang Jinyoung tepat di ulu hatinya. Bagaimana tidak. Yena terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang melilit seluruh tubuhnya. Hati Jinyoung terasa sesak. Lelaki itu mencoba untuk menahan seluruh amarah dan kesedihan yang kini memenuhi batinnya. Bagaimana bisa ia hanya terdiam ketika gadisnya itu tengah tersiksa?

“Kim Yena… maafkan aku.”

Tangis Jinyoung pun pecah saat ia menyentuh tangan Yena yang begitu dingin. Gadis sebatang kara itu pasti sudah merasa kesepian dalam waktu yang amat lama. Jinyoung mempererat genggamannya, berharap mampu menghangatkan tubuh gadis itu.

“Aku memang bodoh, Yena. Bahkan aku tidak tahu si brengsek itu menyakitimu hingga seperti ini,” tutur Jinyoung sambil menatap Yena yang tampak pulas dalam dunianya. “Kini kau tidak usah khawatir. Orang yang menyakitimu sudah mendapat hukuman yang setimpal, Yena. Dia tidak akan bisa melihat dunia luar. Dia sudah diperlakukan bagai binatang jalang dalam keluarga kami. Si brengsek itu akan mati secara perlahan, Yena-ya. Juga… maafkan ibuku karena telah menyembunyikan keadaanmu dariku. Ibuku hanya tidak ingin membuatku khawatir, Yena. Dia tahu bahwa jika kau hancur, maka aku juga akan hancur.”

Lelaki itu mencoba untuk menenangkan diri. Perasaannya benar-benar tengah kacau. Entah ia harus merasa kesal atau marah kepada siapa. Entah ia harus merasa sedih atau kecewa. Berbagai perasaan itu membuncah dalam hatinya secara bersamaan, membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.

“Tunggulah lebih lama lagi, Yena. Ketika semuanya telah menjadi milikku… aku akan segera membunuhnya. Aku harap kau mengerti, Yena. Karena aku mencintaimu.”

Lantas lelaki itu mencium kening Yena dengan air mata yang kembali membasahi kedua pipinya. Tanpa Jinyoung sadari, Yena pun merasakan kesedihan yang sama. Gadis itu juga menangis, tetapi ia tidak memiliki cukup kekuatan untuk membuka mata dan menjelaskan kebenaran yang seharusnya diketahui oleh lelaki yang juga teramat ia cintai.

Selamatkan dia, Jinyoung-ah. Dia sama sekali tidak bersalah. Aku mohon…

^

^

5th SHOT

TOMORROW

“Because the dawn right before the sun rises is the darkest” – BTS’ Tomorrow

BTS Jin – OC Lee Nayoung

cats

Aku selalu berusaha untuk tegar dalam menghadapi tantangan dunia yang begitu keji. Tapi ternyata apa yang kulakukan tidak mempan untuk menghentikan Tuhan yang tampaknya sangat senang bercanda seraya mempermainkan hidupku. Maka pada senja ini, aku akan membuat Ia kecewa, dengan menolak hari esok yang diberikan olehnya.

-Tomorrow-

Brak!

Dalam hitungan detik berbagai barang yang ada di atas meja kerja itu hancur oleh kursi yang dilempar lelaki bersurai hitam itu. Kim Seokjin, CEO dari salah satu agensi hiburan terkenal di Korea Selatan itu tengah diberikan masalah secara bertubi-tubi. Tidak cukup dengan skandal kontrak budak yang dibuat-buat oleh girl group sialan yang susah payah dibentuk olehnya, kasus narkoba yang melanda produser terbaiknya, sampai skandal plagiarisme lagu boy group pertamanya. Tapi yang membuat Seokjin semakin geram adalah, penyanyi solo muda yang selama ini ia banggakan ikut berulah dan mengakibatkan kerugian milyaran won hanya karena tidak diperbolehkan berkencan.

“Direktur Kim…”

Sekretaris wanita yang menyaksikan sisi mengerikan dari atasannya itu menutup mulut dengan kedua tangan. Ia tidak percaya jika sosok pemimpin yang ramah seperti Seokjin juga bisa murka seperti itu.

“Wendy-ssi, segera hubungi Min Yoongi dan atur pertemuanku dengannya. Bilang pada Yoongi, aku akan menerima tawaran investasi darinya. Sekarang bukan saatnya kita mementingkan gengsi, bukan? Semuanya hancur karena anak-anak tengil itu.”

Mendengar perintah Seokjin, Wendy semakin gugup. Pasalnya, ia tidak bisa mengikuti perintah tersebut. Secara hati-hati, Wendy menjelaskan semuanya pada Seokjin yang kini masih berlutut di lantai dengan keadaan menyedihkan. “Maaf, Direktur Kim. Ta-tapi… Yoongi sudah membatalkan investasi tersebut karena skandal yang dibuat oleh peyanyi Park.”

Seokjin menoleh seraya tertawa keras, membuat Wendy menundukan kepalanya—merasa bersalah. Ia tahu, di balik tawa itu terdapat kesedihan juga kekecewaan yang besar dari diri Seokjin.

“Cari anak isungan sialan itu dan suruh dia meminta maaf pada Yoongi. Sekarang!”

“Baik, Direktur.” Wendy pun segera keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Seokjin dalam keadaan yang benar-benar hancur.

Tidak. Semua ini terjadi bukan karena Seokjin adalah sosok jahat yang ingin menguasai seluruh artis yang ada dalam agensi miliknya, melainkan karena Seokjin adalah sosok pemimpin yang terlalu ramah dan rendah hati sehingga para anak didiknya itu bisa seenaknya bertindak dan menghancurkan apa yang telah Seokjin bangun secara perlahan.

—-

“Sebaiknya aku beritahu Jin malam ini atau besok, ya?”

Nayoung bergumam seraya tersenyum dengan sendirinya. Betapa ia tidak sabar melihat reaksi suaminya itu ketika wanita itu memberikan sebuah kejutan. Saat ia sedang asik berfantasi, pintu kamar pun dibuka. Nayoung menoleh dan senyumnya semakin lebar saat melihat Seokjin datang.

“Jin… kenapa kau selalu pulang larut akhir-akhir ini?” rajuk Nayoung yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Seokjin.

Melihat hal itu, Nayoung yakin bahwa keadaan suaminya sedang tidak baik. Ia beranjak dari kasur kemudian menghampiri Seokjin. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Seokjin seraya mengecup singkat bibir pria yang dicintainya tersebut. “Kau telah melalui hari yang berat, huh?”

Seokjin menghela napas kemudian melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri, memeluknya dengan erat. “Sangat berat. Tapi semangatku tumbuh lagi ketika aku melihatmu sekarang.”

“Kau sedang menggodaku, ya?”

Senyum Seokjin mengembang. “Aku selalu menggodamu, bukan?”

Belum sempat Nayoung menimpal pertanyaan Seokjin, pria itu sudah terlebih dahulu mengunci bibir mungilnya dengan sebuah ciuman hangat. Mata Nayoung pun terpejam, menikmati setiap lumatan yang diberikan oleh suaminya. Tapi ada hal yang ganjal bagi wanita itu. Ia merasa setiap sentuhan yang diberikan Seokjin begitu berbeda. Nayoung hanya berharap hal ini bukanlah sebuah pertanda buruk.

Setelah lama bermain dengan mulut satu sama lain, Seokjin pun akhirnya melepaskan ciumannya. Pria itu menatap Nayoung secara intens kemudian berucap, “Maafkan aku, Nayoung-ah.”

—-

Nayoung segera sadar dari alam mimpinya ketika suara kaca pecah terdengar. Ia terduduk dari posisi tidur kemudian sadar bahwa tidak ada Seokjin di sampingnya. Merasa khawatir, Nayoung beranjak dan berjalan keluar dari kamar. Langkahnya terhenti ketika tiba di depan pintu ruangan kerja Seokjin. Tangan kanannya terjulur untuk membuka pintu, tetapi ia mengurungkan niat karena wanita itu ingat bahwa Seokjin tidak pernah mengizinkan dirinya masuk ke dalam ruang kerja itu.

“Apa dia sedang bekerja…” bisik Nayoung pelan, nyaris tanpa suara.

Prang!

Suara pecahan kaca dari ruang kerja Seokjin terdengar jelas di telinga Nayoung. Hal itu membuat Nayoung tanpa berpikir panjang menerobos masuk ke dalamnya. Dan betapa lemahnya seluruh tubuh Nayoung ketika dia mendapati Seokjin yang tergeletak di lantai dengan banyak pecahan kaca berlumuran darah. Dengan sisa tenaganya, Nayoung pun menghampiri Seokjin lalu berlutut di sampingnya. Hatinya semakin sakit ketika melihat luka sayat penuh dengan darah segar yang menghiasi pergelangan tangan kiri Seokjin.

“Jin… apa yang kau lakukan?”

Tangis Nayoung pun pecah. Kedua tangannya menangkup wajah pucat Seokjin. Pria yang sedang dalam keadaan sekarat itu pun perlahan membuka mata, tersenyum kecil saat melihat wanita cantik yang selama ini telah menemani kesehariannya. Tangan kanan Jin yang tidak terluka pun terulur, menyentuh wajah sempurna Nayoung.

“Na-Nayoung-ah…” suara Seokjin terdengar parau, pria itu tampak bergelut dengan mautnya yang sudah hampir dekat. Air mata Seokjin pun mengalir, kemudian dia berucap, “A-aku… hhh… a-aku tidak sanggup melihat… hhh…hari esok denganmu, Nayoung-ah. M-maaf… aku mencintaimu.”

Kedua mata yang berbentuk bulan sabit itu pada akhirnya tertutup, meninggalkan tangis yang luar biasa dalam diri Nayoung yang kehilangan.

“J-jin… Jin… Yak, Kim Seokjin, sadarlah! Kim Seokjin!”

Nayoung tahu, teriakannya tidak akan mampu membuat pria itu terbangun. Nayoung tahu, keabadian yang ia harapkan bersama orang yang paling ia cintai pun kini telah kandas.

Seokjin-ah, bagaimana bisa kau pergi, ketika makhluk kecil dalam kandunganku bahkan belum sempat kuperkenalkan padamu…

 ^

^

6th SHOT

STARLIGHT

“I remember the day you lightly came to me” – Taeyeon and Dean’s Starlight

SJ Siwon – OC Han Sunkyo

siwon

Pertemuan pertamaku denganmu begitu indah. Bagaikan bintang, kau datang menghampiriku dengan cahaya yang mampu membuatku tersenyum dalam kegelapan. Tapi pada saat itu pun aku ingat… cepat atau lambat cahaya itu akan meredup, bukan?

-Starlight-

Pada saat itu, yang ia rasakan hanyalah pahitnya hidup yang selalu menghampiri secara bertubi-tubi. Bahkan ia hanya bisa pasrah ketika lautan menelannya, tidak membiarkan ia bernapas sampai kehilangan nyawa. Namun sebelum jantungnya berhenti berdetak, kedua lengan yang lembut itu menariknya—membawanya pergi dari dasar laut dan kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada.

“Nona, kau tidak apa-apa?”

Kedua matanya terbuka secara perlahan. Pandangannya kabur akibat rasa pusing yang menyerang, tapi dia masih bisa melihat wajah tampan yang kini tengah menatapnya panik.

“Bertahanlah. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit.”

Lalu ia pun tersenyum. Bagaimana bisa seseorang yang sama sekali tidak ia kenal akan lebih peduli terhadap nyawanya?

—-

Tepuk tangan itu kembali terdengar, pertanda bahwa acara talkshow dalam studio tersebut kembali dimulai. Seorang MC laki-laki pun menenangkan para penonton agar segmen terakhir dari acara malam ini bisa segera dimulai.

“Kembali lagi dengan Yoo Jaesuk dan tentunya bintang tamu kita yang spesial, Han Sunkyo!”

Wanita yang duduk di samping Jaesuk itu tersenyum manis. Dia merupakan sosok wanita cantik juga cerdas, direktur KS Entertainment yang baru menjabat tiga tahun tetapi sudah mampu membuat agensi hiburan itu kembali seperti pada masa kejayaannya.

“Dalam sesi pertanyaan sekarang, aku akan lebih mengorek kehidupan pribadimu. Kau tidak merasa keberatan, bukan?”

“Tidak keberatan jika kau bertanya tanpa menyuruhku angkat beban,” jawaban Sunkyo membuat Jaesuk serta penonton di sana tertawa.

“Kau memiliki selera humor juga rupanya,” ungkap Jaesuk. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut, pria itu segera melontarkan pertanyaan pertama, “Akhir-akhir ini kau selalu mengunggah foto bersama anak perempuan yang menggemaskan di instagram, tapi kau tidak pernah memberitahu siapa dirinya. Apa boleh kami mendengarkan kisahmu mengenai hal tersebut?”

Sunkyo tersenyum sebelum menjawab, “Dia keponakanku. Kim Youngjin. Usianya dua tahun dan sedang aktif melakukan berbagai hal. Dia sangat lucu sehingga aku ingin membagikan momen kebersamaanku dengannya melalui media sosial.”

“Ah… jadi itu keponakanmu. Dia benar-benar cantik dan lucu. Aku sangat penasaran dengan ibunya, dia pasti menurunkan kecantikannya pada Youngjin. Bukan begitu?”

“Tentu saja. Youngjin sangat mirip dengan ibunya. Pribadinya yang aktif dan cerdas juga ia warisi dari ayahnya. Youngjin adalah anak yang kuat. Karena sebenarnya, pada saat mengandung Youngjin, berbagai masalah datang dan membuat kakak iparku depresi. Tapi aku sangat bersyukur Youngjin bisa tumbuh dengan baik dan menjadi seperti sekarang.”

“Kakak iparmu mengalami depresi ketika mengandung? Wah… itu adalah hal yang berat. Lalu bagaimana keadaannya sekarang?”

“Lebih baik. Kehadiran Youngjin membuat kakak iparku bisa sedikit demi sedikit menemukan kembali kebahagiaannya.”

“Anugrah seorang anak memang luar biasa ya,” kagum Jaesuk. Pria itu membalikkan note point yang tengah dipegangnya kemudian beralih ke pertanyaan lain. “Setelah mengganti posisi kakak tirimu, apakah kau ada niatan untuk kembali bernyanyi dan berkumpul bersama Flow Girls?”

Pertanyaan itu cukup berat bagi Sunkyo, karena sebenarnya ia tidak ingin mengungkit hal-hal yang berkaitan dengan Flow Girls—grup yang dianggap sebagai sebuah petaka baginya. Maka ia pun hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan aman, “Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku sekarang. Maka kedepannya aku akan berusaha lebih baik lagi demi perusahaan ini.”

Jaesuk mengangguk mengerti, topik yang ia layangkan tampak sensitif dan tidak ingin dibahas oleh narasumbernya. Maka dari itu, pertanyaan lain Jaesuk lontarkan, “Pada sebuah wawancara, kau bercerita bahwa seseorang menyelamatkanmu ketika insiden kecelakaan mobil itu. Bagaimana keadaan orang itu sekarang? Kau pasti tidak akan melupakannya, bukan?”

Senyuman Sunkyo mengembang, “Tentu saja aku tidak akan melupakannya, bahkan aku dan dia selalu berkomunikasi satu sama lain. Dan pada hari ini, aku akan bertemu dengannya.”

—-

Sunkyo menenangkan diri terlebih dulu sebelum melangkah masuk ke sebuah gedung mewah. Dari ramainya orang-orang berkunjung dan dekorasi cantik yang terpajang, sudah bisa dipastikan bahwa acara penting sedang berlangsung di sana. Beberapa orang mengenali Sunkyo, senyuman manis pun Sunkyo berikan walau sebenarnya ia tidak terlalu mengenal orang-orang yang menyapanya.

“Sunkyo-ya.”

Aigoo, Sooyoung-ah!” Sunkyo memekik karena penampilan Sooyoung. Gadis tomboy itu kini tampak anggun dengan gaun biru langit yang tampak pas di tubuh rampingnya.

“Jangan berkomentar tentang penampilanku. Hahh… sudah begitu banyak orang yang heran sekaligus kaget dengan penampilanku ini. Menyebalkan.”

Sunkyo terkekeh atas rajukan Sooyoung. “Di mana Siwon? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Kau datang kemari karena memang ingin bertemu dengannya, bukan? Dia masih di ruang ganti. Dia juga sepertinya sedang menunggu kedatanganmu.” Tanpa persetujuan, Sooyoung mengambil buket bunga yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan kanan Sunkyo. “Akan kuletakkan bunga ini di meja hadiah sebagai hiasan, ya? Sampai ketemu ketika acara dimulai!”

Sunkyo menggeleng melihat tingkah Sooyoung. Ia pun segera pergi melangkah menuju ruang ganti yang disebutkan oleh gadis itu. Ketika sampai di sana, Sunkyo tersenyum kecil lalu menghampiri pria jangkung yang tengah menatap pemandangan kota melalui kaca jendela.

“Bukankah tampak aneh jika kau murung di hari bahagia ini, oppa?” tanya Sunkyo ketika dia sudah berada di samping Siwon.

Pria itu menoleh dan tersenyum manis ketika mendapati Sunkyo di sampingnya, “Kau datang.”

“Aku memang harus datang di hari pernikahan sahabatku, bukan?” Sunkyo menatap Siwon dengan seksama, kemudian tersenyum tulus. “Aku ingin melihatmu bahagia.”

Baik Siwon maupun Sunkyo pada akhirnya hanya terdiam, membuat suasana hening di sekitar mereka semakin melekat. Setelah beberapa menit berlalu, barulah Siwon mengeluarkan suara, “Terima kasih atas segalanya. Kau akan selalu menjadi orang yang paling penting dalam hidupku, Sunkyo-ya.”

Bibir merah muda milik Sunkyo pun menlengkung, membentuk senyuman yang tampak sangat manis di mata Siwon. “Yang seharusnya berterima kasih itu aku, oppa. Kau membuatku bertahan dan menjadi seperti ini. Aku tidak akan melupakan jasamu.”

Pria itu hanya mengangguk. Keadaan keduanya begitu canggung karena suatu hal yang bahkan tidak dapat mereka mengerti. “Aku akan membantu Sooyoung di luar. Aku yakin kau akan bahagia bersama Yuri. Sampai bertemu dalam upacara pernikahanmu.”

Tanpa menunggu jawaban Siwon, Sunkyo segera berbalik dan melangkah menjauhi pria tersebut. Air mata yang selama ini ia tahan pun akhirnya mengalir. Inilah saat di mana cahaya bintang yang pernah menyinari hidupnya harus meredup.

Semoga kau bahagia, oppa

^

^

7th SHOT

BROKEN ALLEY

“It’s shattering, I see the end” – BTS’ Dead Leaves

Actor Seo Kangjoon – OC Park Jihyun

joon

Aku tahu, kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Seberapa besar aku memberikan cintaku, ia hanya memandangku sebagai seorang yang lemah dan hanya bergantung padanya. Dan kini suara nyaring itu terdengar, pertanda bahwa lorong itu telah hancur.

-Broken Alley-

Bersembunyi dan lenyap dari dunia untuk sementara memang bukanlah hal yang mudah. Begitulah yang dirasakan oleh Jihyun selama beberapa bulan ini. Bukan, dia bukan seorang buronan yang sedang diincar dunia dan berharap akan ada imbalan besar bagi siapa pun yang menemukan keberadaannya. Ia hanya bersembunyi sampai lelaki itu mati, di tangan wanita gila suruhannya.

Tentunya dalam persembunyian itu, Jihyun harus menjaga dan membekap mulut orang-orang yang berniat membeberkan keberadaan juga rencananya. Seperti lelaki tampan yang kini tengah duduk di hadapannya. Jika saja goresan luka dan lebam tidak menghiasi wajahnya, lelaki itu akan tampak sangat memesona.

“Aku harap dengan sedikit pukulan itu, kau bisa segera sadar dan melupakan omong kosongmu barusan. Bukankah begitu, Kang Joon-ssi?”

“Itu bukan omong kosong, noona,” Kang Joon menelan air liurnya yang sudah bercampur dengan darah, memberikan rasa nyeri luar biasa pada tenggorokannya. Ia pun melanjutkan, “Bahkan sebelum kau berubah menjadi monster mengerikan seperti sekarang, perasaanku sudah seperti itu.”

Jihyun tersenyum licik. Wanita itu pun memberikan isyarat kepada kedua pengawalnya untuk meninggalkan ruangan, membiarkan privasi atas perbincangan dirinya dengan Kang Joon. Setelah pengawalnya benar-benar pergi, Jihyun melanjutkan, “Apa yang kau harapkan dariku, Kang Joon-ssi? Kebebasan? Atau kau ingin membuatku luluh sehingga kau bisa pergi dari rumah kumuh di lorong ini, dan memberitahu pada lelaki itu untuk segera membunuhku?”

Jihyun berdiri kemudian berjalan mengintari meja sampai ia berada tepat di samping Kang Joon. Wanita itu membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Kang Joon, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi, tampan. Seluruh hidupmu ada di tanganku. Seharusnya kau bersyukur akan hal itu.”

Kang Joon tersenyum miris. “Pribadimu lebih baik daripada ini, noona. Aku hanya ingin kau menghentikan semua permainan ini. Aku hanya ingin kau sadar, bahwa aku juga sangat mencintaimu.”

Belum sempat Jihyun merespon perkataan Kang Joon, seorang pengawal menerobos masuk. Ia tampak panik dan segera memberitahu kabar yang dibawanya. “Gadis itu hilang.”

“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Segera cari sampai kau menemukannya, bodoh!”

“B-baik, Nona.”

Dengan raut murka Jihyun pun mengalihkan pandangannya pada Kang Joon. “Kau… apa ini maumu, huh? Drama yang kau mainkan sungguh bagus, Kang Joon-ssi.”

Kang Joon terlihat tenang, padahal hatinya tengah gelisah karena ia sama sekali tak menyangka gadis itu akan kabur. Ia pun kembali tersadar dari lamunan ketika tamparan keras mendarat di pipi kirinya.

“Katakan padaku, Seo Kang Joon. Di mana gadis itu?” tanya Jihyun dengan nada penuh penekanan. Tidak juga mendapat jawaban dari lelaki itu, tangan Jihyun memegang dagu Kang Joon dan memaksa ia untuk menatap tepat ke manik matanya. “Kutanya sekali lagi. Di mana gadis itu?”

“Kau tahu, aku sama sekali tidak terlibat dalam masalah ini. Aku menghampirimu dan terjerat dalam lorong gelap ini hanya untuk mengatakan bahwa aku mencintaimu.”

Jihyun terbahak. Dalam tawa wanita itu Kang Joon pun mendengar rasa frustasi, marah, sekaligus gelisah yang dirasakan Jihyun. Kang Joon sadar, wanita di hadapannya ini sungguh sulit untuk berubah. Ia bahkan tak ingat kapan terakhir kali Jihyun tersenyum ramah padanya. Yang kini Kang Joon lihat hanya tatapan geram Jihyun. Tatapan yang amat ingin ia ubah dan dilenyapkan dari paras cantik wanita tersebut.

“Jangan bermain-main denganku, Kang Joon. Cepat katakan yang sejujurnya atau aku akan membunuhmu.”

Kang Joon tersenyum miris. “Apa kau yakin bisa membunuh orang yang telah lama kau kenal, noona? Ayolah… percaya padaku bahwa aku mencintaimu dan—“

“Berhenti mengatakan hal bodoh seperti itu!” teriak Jihyun frustasi. Napasnya tidak beraturan karena amarah yang semakin tidak bisa ia kontrol. “Sekali lagi kubertanya, di mana gadis itu?”

“Sudah kubilang, aku tidak terlibat dalam permainan ini. Aku hanya mencintaimu, noona. Aku sangat mencintaimu.”

Tak suka dengan jawaban Kang Joon, Jihyun pun mengeluarkan benda hitam dari saku celananya secara cepat. Hal berikutnya yang terjadi adalah…

Dor!

Dor!

Siapa yang tahu, bahwa kalimat sederhana itu bisa menjadi sebuah petaka bagi Kang Joon. Jihyun pun pergi meninggalkan ruangan, meninggalkan sosok Kang Joon yang tergeletak di lantai yang dingin dengan kondisi kepala yang pecah berlumur darah.

Mungkin kita hanya bisa bersatu di neraka, Kang Joon.

^

^

8th SHOT

EDGE OF LOVE

“Enduring life became happier if I’m with you” – NCT U’s Without U

EXO Lay – OC Kim Yura

lay

Kau selalu ada di sisiku, siap menghapus tangis yang keluar dari kedua netra sendu ini. Yang kudapat selama ini pun hanyalah aroma tubuhmu. Lalu… apakah terbilang serakah jika aku juga ingin memiliki hatimu?

-Edge of Love-

Kim Yura tengah menikmati hangatnya air mawar yang merendam seluruh tubuhnya di dalam bathub. Mata wanita bersurai pendek itu awalnya terpenjam, sampai salah satu pemberitaan di televisi memaksanya untuk membuka mata.

“Pernikahan Lay dengan Abigail Kim telah berlangsung pada 11 Oktober silam. Hal tersebut merupakan sebuah kemajuan bagi dunia bisnis Korea Selatan. Dengan demikian, Hwangju Group—perusahaan besar milik keluarga Kim—menjadi perusahaan terbesar yang mampu mendongkrak perekonomian negara karena telah bekerja sama dengan Yixing group. Keduanya di—“

Jemari lentik Yura memijit tombol ‘power off’ pada remot sehingga televisi itu hanya menampakkan layar hitam. Setelah menyimpan kembali remot di atas meja kecil di sampingnya, Yura pun meraih pemantik api bewarna merah muda. Ia memainkan pemantik api tersebut. Menyalakan api kemudian meniupnya sampai padam kembali, begitupun seterusnya hal itu dilakukan berulang kali. Dirinya sedang berpikir, kapan seharusnya ia melakukan hal yang diperintahkan oleh atasannya.

“Hidupku terasa bahagia bersamanya. Tapi… akankah hal itu akan terus berlangsung ketika wanita sialan itu berhasil masuk dalam kehidupannya?”

Yura tertawa singkat. Dia melempar pemantik tersebut dengan sembarang. Ujung bibirnya tertarik, membentuk sebuah senyuman licik.

“Apakah salah jika aku ingin memiliki dia seutuhnya?”

—-

Yura tengah merapikan rambutnya ketika bel kamar apartemennya berbunyi. Setelah melihat pantulan dirinya di cermin yang tampak sempurna, ia pun beranjak dan membukakan pintu untuk tamu spesialnya.

“Lay. Aku kira kau tidak akan dat—“

Ucapan Yura terpotong karena pria itu sudah lebih dulu mengunci bibirnya tepat setelah pintu terbuka. Ciuman itu tampak kasar, terlihat dari mulut Lay yang beringas, amat tergesa-gesa untuk menjelajahi setiap rongga mulut milik Yura dengan lidahnya. Tentu saja Yura tidak keberatan dan dengan senang hati ia menerima setiap lumatan yang diberikan Lay. Ia pun  melingkarkan kedua tangannya pada leher pria tersebut untuk memperdalam ciuman mereka. Setelah keduanya sulit bernapas, mereka pun akhirnya melepaskan tautan bibir yang terbilang intens itu.

“Kau sangat menungguku, bukan?”

Yura tersenyum manis. “Aku selalu menunggumu, Lay. Pernikahanmu membuat waktu bertemu kita semakin sedikit. Aku tidak suka…”

“Maafkan aku, tapi setelah menikah ada banyak yang harus aku urus. Oh, apa kau tahu, Yura? Abigail lumayan lucu, dia juga cerdik dalam mengatur perusahaannya. Aku rasa… aku mulai menyukainya.”

Senyum Yura memudar, digantikan oleh sebuah ekspresi yang tidak dapat dibaca oleh siapa pun. “Lay… aku ingin bertanya suatu hal padamu.”

“Apa?”

“Selama ini… apakah kau pernah—setidaknya sedikit—menyimpan rasa padaku?”

Tawa Lay terdengar, membuat hati Yura perih. “Oh, ayolah, Yura, apa kau sedang mabuk? Jawabannya sudah jelas. Kau hanya teman bermainku. Atau jangan-jangan kau—“

“Aku hanya bercanda, bodoh.” Kali ini Yura yang memotong ucapan Lay. Berbagai macam pikiran serta pertanyaan mengelilingi dirinya. Setelah menemukan jawaban yang tepat, Yura pun mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di telinga Lay. “Mari kita bermain.”

Wanita itu mendorong tubuh Lay sehingga ia berbaring di atas ranjang. Sebuah senyuman manis kembali terukir pada bibir Yura yang begitu merah menggoda. Secara perlahan ia merangkak sampai tubuhnya berada di atas tubuh Lay dengan sempurna. Dan sebuah hadiah spesial pun diberikan oleh Yura. Hadiah spesial yang membuat pria itu merintih kesakitan sampai tidak mampu bernapas lagi. Yura berhasil menusukkan pisau tajam yang terselip pada saku gaunnya pada bagian jantung pria tersebut.

“Aku akan lebih bahagia jika bisa memilikimu, Lay. Termasuk memiliki nyawamu… seperti sekarang.”

^

^

The Last SHOT

DEADLY SIN

“I’m deeply addicted to the prison that is you” – BTS’ Blood Sweat & Tears

BTS V (Taehyung) – OC Lauren Kim (Ren)

hkjhjk

Bahkan ketika kau harus membunuhku, aku akan melakukannya.

-Deadly Sin-

Lelaki muda itu berjalan dengan keringat bercampur darah yang hampir menutupi seluruh tubuh. Ia tengah menyeret mayat dengan keadaan yang mengerikan menggunakan satu tangan. Setelah sampai di sebuah tempat sunyi nun jauh dari permukiman, ia pun meletakkan mayat tersebut bersama dengan lima mayat lain yang sudah menunggu untuk dimuskahkan. Setelah menyirami mayat-mayat tersebut dengan minyak tanah, lelaki itu pun segera membakarnya—membuat kelima tubuh manusia itu menjadi abu.

“Berapa banyak lagi manusia yang harus aku bunuh?”

—-

Ren duduk di atas lantai yang begitu dingin sambil memeluk kedua lututnya. Gadis itu tampak ketakutan. Tubuhnya bergetar hebat dan air matanya tak kunjung berhenti membahasi kedua pipinya. Gadis bergaun putih itu pun terlonjak, saat pintu gudang kosong terbuka dan lelaki itu masuk—menghampirnya.

“Ren… kau tidak apa-apa?”

Lelaki itu hendak mengelus kepala Ren, tetapi niatnya tidak terpenuhi karena gadis itu memilih untuk menghindar. “J-jangan dekati aku. Kumohon, Kim Taehyung, pe-pe-pergilah.”

“Kau tak perlu takut. Aku melakukan itu hanya untuk melindungimu. Maafkan aku, Ren.”

Ren membalikkan badannya, memunggungi Taehyung. Namun beberapa detik kemudian, kehangatan menjalar pada tubuh gadis itu. Taehyung memeluknya dari belakang. Anehnya, otak dan tubuh Ren sama sekali tidak ada niatan untuk melepaskan pelukan dari seorang lelaki yang sudah memiliki cap mengerikan dalam hidupnya.

“Kau kedingan, bukan?” bisik Taehyung lembut. Ren hanya membisu, membuat Taehyung mempererat pelukan hingga tubuh gadis itu bisa lebih hangat lagi. “Pria itu sudah mati. Itu pertanda bahwa hidupmu benar-benar terancam. Cepat atau lambat, wanita itu akan segera mengincar nyawamu, Ren. Setelah membunuhmu, dia juga secara otomatis akan membunuh kakakmu. Lalu setelah itu… harta dan kekuasaan akan berpihak padanya.”

Ucapan Taehyung begitu mengerikan, membuat Ren berusaha melepaskan pelukan yang diberikan lelaki itu. Namun, cengkraman Taehyung terlalu kuat untuk dihindari. “Tapi jangan takut, Ren. Kau akan aman bersamaku.”

Entah mengapa perkataan Taehyung terdengar begitu tulus di telinga Ren sehingga membuat gadis itu tertunduk dan merasa bersalah. Taehyung telah melakukan banyak dosa, dan semua itu karena dirinya. “Kau tidak seharusnya berada di dekatku, Taehyung-ah. Nyawamu juga akan terancam.”

“Tidak jika aku membunuh mereka, Ren.”

“Tapi, Tae—“

“Ssst…” Taehyung menutup mulut Ren dengan telapak tangan. Indera pendengarannya yang tajam menangkap suara kendaraan yang masuk ke tempat perlindungannya. “Sial. Mereka menemukan kita. Ren, kita harus pergi dari sini.”

Menghabiskan waktu selama seminggu penuh dalam pelarian membuat tubuh gadis itu sulit untuk bergerak cepat. Sadar akan hal tersebut, Taehyung pun segera menggendong Ren ala bridal untuk membawanya kabur dari sana. Lewat pintu belakang, mereka pun keluar dari gudang kosong tersebut. Ren hanya bisa pasrah dan membenamkan wajahnya pada dada Taehyung.

“Mereka lebih cepat dari yang aku kira,” umpat Taehyung menyesali waktu yang ia sia-siakan.

Duar!

Sebuah peluru berhasil mendarat di kaki kanan Taehyung, membuat dirinya dan Ren terjatuh di atas tanah basah akibat hujan beberapa waktu yang lalu. Perasaan panik langsung menyelimuti Ren. Hatinya begitu sakit melihat kaki kanan Taehyung yang terluka akibat tembakan itu.

“Pergilah… lima ratus meter dari sini kau akan menemukan fortuner hitam. Di sana ada temanku menunggu untuk menyelamatkanmu,” ungkap Taehyung menahan rasa sakit.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” lantang Ren.

Tentu saja jawaban Ren itu membuat Taehyung mendesah kesal, apalagi ketika ia menoleh ke belakang dan mendapati sepuluh pengawal wanita iblis itu tengah berlari menghampirinya. Taehyung berdecak kagum, salah satu pengawal itu pasti snipper yang handal sehingga mampu menembak tepat sasaran dari jarak jauh. Dan untungnya mereka kini tidak melayangkan tembakan yang bertubi karena tahu keadaan Taehyung sedang tidak berdaya.

“Kau harus segera pergi, Ren. Mereka akan membunuhmu.”

“Mereka juga akan membunuhmu, bodoh!”

Taehyung tersenyum seraya mengelus rambut coklat tua Ren secara perlahan, “Asal kau selamat… aku rela mati karenamu, Ren.”

Bullshit. Kau pikir hidupku nanti akan baik-baik saja jika meninggalkanmu seperti ini?”

Taehyung bisa merasakan langkah kaki para pengawal sialan itu semakin mendekat. Ia pun menatap tajam pada Ren kemudian berteriak, “Pergilah!”

“Kim Taehyung—“

Gadis itu hendak mengoceh tetapi sebuah tangan menariknya—memaksa Ren berdiri. Melihat kehadiran orang itu, Taehyung tersenyum lega. Berbeda dengan rasa takut yang muncul dalam diri Ren.

“Perkenalan singkat, namaku Namjoon dan aku akan membawamu pergi dari sini.”

“Namjoon-ah, tolong lindungi dia apapun yang terjadi.”

Tidak sempat Ren memberontak, Namjoon sudah kembali menariknya dan memaksa ia untuk segera pergi dari sana. Dan belum jauh kedua insan itu melangkah, beberapa tembakan kembali dilayangkan. Ren menoleh kemudian tercekat, mendapati Taehyung yang tampak tersenyum tulus padanya dengan tubuh terkulai lemas akibat peluru yang kembali menghantamnya.

“Taehyung-ah…. Tidak, Taehyung-ah… jangan pergi… Yak, Kim Taehyung!!”

Tubuh Ren meronta, meminta Namjoon untuk melepaskannya sehingga ia bisa menghampiri tubuh malang Taehyung. Namun seperti permintaan Taehyung padanya, Namjoon harus melindungi Ren apapun yang terjadi. Lelaki itu terpaksa menggendong Ren dan pergi meninggalkan sahabatnya.

Maafkan aku, Kim Taehyung. Perasaan ini datang terlambat dan membiarkanmu mati berlumur dosa.

^

^

-END-

Kadang, seberapa keras kau berusaha, kegelapan akan tetap bersikeras merenggut keabadian itu.

-Shot in The Dark-

Notes for every ficlet from author

Melted: Hai, Ahn Minji, kutahu kamu akan kecewa karena Juho tidak memunculkan diri dan hanya ngomong sebaris kwkwkw ini kisahnya udah aku bikin sejak zaman spongebob akrab sama hello kitty jadi aku gak ngubah alur sedikitpun dan taraa… kamu sendiri yang memilih kisah tersebut mehehehehe #ketawa jahat

Distance: Sama seperti Melted, kisah ini udah aku bikin sejak zaman spongebob akrab sama hello kitty dan gak aku ubah, makanya alur ceritanya terbilang kecepetan dan absurd. Maaf yaa buat yang milih kisah ini kwkwkwk

Dignity: Dari semua cerita Ficlet, aku paling suka kisah ini. Lagi, ini FF aku buat sejak zaman Patrick punya pemikiran macem Einstein. Cast awalnya Baekhyun, dan aku harus sedikit mengubah cerita karena karakter cowok rikwesannya adalah Jimin. Percayalah, karakter asli yang kugambarkan buat Baekhyun sama sekali gak cocok buat Jimin. Ini FF yang udah lima kali aku rombak alurnya u.u

Living in Memories: Karakter asli Jinyoung di sini sebenernya Chanyeol. Dan deskripsi Chanyeol di versi awal ff ini bener-bener menggambarkan sosok Chanyeol yang asli. Susah banget nyesuain sama wajah Jinyoung. Ini ff kedua yang aku rombak berulang kali -,-

Tomorrow, Starlight, Broken Alley, Deadly Sin: Cerita awal ff ini aku hapus, dan memutuskan untuk bikin alur baru tepat dua jam sebelum aku berniat posting ff ini. Dan maafkan kalau ceritanya tetep absurd heuuuuu

Edge of Love: Sebenernya FF ini yang paling panjang, tapi terpaksa aku potong karena terlalu sadis dan banyak adegan dewasanya. Biarkan versi full-nya kalian bayangin sendiri kwkwkwkwk

Daaann… pas di teaser aku pernah bilang akan ada hadiah kecil kan? Nah, hadiah kecil tersebut adalah… jreng jreng…siapa yg bisa menjawab pertanyaan kuis dariku, Ficlet pilihannya akan aku lanjutkan menjadi sebuah oneshoot. Kuisnya kayak gimana? Yuk mari cek:

  • Jika kalian baca seluruh kisah Ficlet ini, kalian akan tahu bahwa beberapa FF saling berhubungan bukan? Misalnya Ficlet A dan B berhubungan, Ficlet F-G-H berhubungan, dsb. So… ayo tebak Ficlet mana saja yang memiliki kisah saling berhubungan menurutmu! Berikan jawabannya di kolom komentar.
  • Judul FF ini adalah Shot in The Dark. Berikan alasan kenapa kira-kira judul FF ini bisa Shot in The Dark (dalam satu paragraf aja jangan kepanjangan) (Jawaban yang paling mendekati filosofi aku itulah pemenangnya, mengingat filosofi masing-masing orang itu berbeda)
  • Terakhir, tulis judul Ficlet apa yang kamu inginkan buat jadi oneshoot (Just one)

Pengumuman pemenang akan aku umumkan seminggu setelah FF ini dipublish. Kalau gak ada yang minat, tentunya gak akan ficlet yang aku jadikan oneshoot kwkwkw

Oke, liat ke atas dan curcolku luar biasa panjang (Harap maklum, otak saya sedang konslet). And….semoga kalian suka yaa. Don’t forget to leave your opinion about this FF too, karena itu adalah vitamin buatku. See ya in the next story! :*

P.S: Ini FF nyampe 33 halaman di Ms. Word loh #penting

[1] Sebutan untuk istana presiden Korea Selatan

Advertisements

21 thoughts on “Ficlet Collection – Shot in The Dark

  1. Ga kurang ganas nih ? -,-  awas aja kamu kalo bikin ff gantung lagi uuuuuh aku mau ikutan kuis aaah
    Pertamaaa, kalo menurut aku sih yg nyambung melted sama living memories agak mikir kalo ada yg nyambung lagi tapi entah sama yg mana. Dan yg menurut aku nyambung lagi tuh yg dignity, tommorow sama starlight. Soalnya si cewe yg di starlight kan nyeritain ponakannya dan aku yakin itu anaknya si jin wkwkwk, daan si cewe itu nerusin perusahaannya si ji  yaitu kaka tirinya. Laluuu yg nyambung lagi itu broken alley dan deadly sin itu udah jelas banget lah sambung menyambungnya yuhuu uwis~

    Yg kedua kenapa the dark karena kenyataannya hidup ga se asik yg lo pikir ada sisi gelap dari setiap cerita wkwkwk

    Ketigaaa aku cuman mau request ada jungkooknya doong gpp nyempil juga 😂😢 biar tambah semangat bacanya huhuhuhuhu

    • Ih malah ini kurang ganas menurutku yosss demiii kwkwkwkw #otakpsikopat

      Makasih udah ikut kuisnya walaupun kamu gak aku masukin di sini kwkwkwkw soal kuis gak bakal aku bahas yaa

      Haduhhhhh nambah karakter susah lagii. Baca aja ffku yg judulnya Hide and Seek. Itu ada Jungkooknya kok #sekalian promosi kwkwkwkw

  2. Pertama kali aku mau bilang, maaaaaffff bangeet baru baca ficlet ini kaaak, hahaha… begitu kubaca akhir akhir aku langsung bergumam, ‘oh, jadi ini toh kuis yang dimaksud’ hahaha

    Oke, aku jawab kuisnya dulu ya:

    1. Yang paling keliatan banget kesinambungannya adalah ff Dignity sama Tomorrow. Kalo di Dignity kan bahas si Jimin yg adalah artis bermasalah, kalo di Tomorrow bahas si Seokjin si CEO yg lagi dilanda masalah sama salah satu artisnya, yg menyebabkan dia memilih untuk meninggalkan istrinya yg lagi hamil. Nah, ini berhubungan banget. Apalagi pas Mina di Dignity bilang: PD Kim sedang dalam masa kritis. Yakin banget! PD yang dimaksud pasti Kim Seokjin! Soalnya pas di Tomorrow si Seokjin mencoba bunuh diri, ya gak sih? Haha *malahketawa*. Awalnya aku gak ngerti waktu baca kalimat ‘Jimin pun sadar akan kebodohannya’ di Dignity, tapi setelah baca Tomorrow, semua sudah terbaca dengan jelas, fyuuuhh *menghela napas lega karena akhirnya ngerti sama ceritanya jimin dan mina*

    Sebenernya udah sih, aku ngerasa cuma itu aja yg ada kesinambungan. Tapi setelah kubaca komen yg lain kok pada jawab Living in memories dan melted nyambung, juga bilangnya deadly sin dan broken alley juga nyambung. Alhasil aku sekrol lagi ke atas untuk bandingin kedua fanfic itu. Dan hasil pemikiranku adalah….

    Ternyata memang nyambung! Untuk yg deadly sin dan broken alley aku baru nangkep si wanita iblis yang dimaksud taehyung itu adalah jihyun. Tapi mungkin karena aku kurang ngefeel sama kedua fanfic ini makanya aku jadi kurang nangkep kesinambungannya kali ya.. Dan untuk ff Melted dan Living in memories pun aku masih ngira ngira kesinambungannya di mana, aku mikirnya sih nayoung d living in memories itu kayak diperlakukan sama seperti juho di melted. Ah, entahlah. Aku cuma merasa berkesinambungan di ff dignity dan tomorrow aja, mungkin karena itu cast nya aku kali ya, hehew

    2. Hmm, mengenai judul, sebenernya di quotes akhirmu udah jelas sih kak => ‘Kadang, seberapa keras kau berusaha, kegelapan akan tetap bersikeras merenggut keabadian itu.’ Intinya, hidup itu gak cuma berisi kebahagiaan doang, ya realistis aja, dalam menjalin sebuah hubungan pun gak cuma ada bahagia doang, tapi pahitnya ada, sedihnya ada, dan sisi kegelapannya juga pasti ada. Dan ficlet ini menggambarkan beberapa slice of life tentang sisi kegelapan dari kisah-kisah tertentu.Makanya cerita ini cuma dijadiin ficlet, karena ingin lebih menekankan ‘shot’ dalam sisi kegelapan kisah tersebut. Iya gak sih? Gue sotau amat yah, haha

    3. Wah, ini pertanyaan paling sulit e, tapi aku akan dengan mantap menjawab: DIGNITY!! Sebenernya ini objektif sih, karena ada akunya, haha.. tapi aku bener bener penasaran dengan kelanjutan dignity bersama PD Kim dari Tomorrow yang katanya sedang dalam masa kritis itu, wkwk

    Okey, itulah jawaban dari kuisnya. Sekarang aku mau komen singkat aja mengenai keseluruhan kisah ini.

    Kak, kamu membuatku pusing karena membaca banyak kisah dalam satu shot langsung. Sampe aku kudu diem dulu, baca ulang, diem lagi, mencerna maksudnya, lanjutin baca, pas udah selesai baca, diem lagi, merenung, lalu baca ulang lagi dari awal, baru deh ngerti. Haha. Saking banyaknya kisah yang ada di sini, jadi fokusnya kebagi bagi. Ini tadi kisahnya yg kayak gimana ya, tokohnya tadi siapa ya, prolog ceritanya kayak apa ya kok ceritanya isinya kayak gini, yah begitulah segelintir pemikiranku saat baca ff yg banyak ini, hahaha.. Tapi suwer, ini idenya keren! Rumit sih, tapi unik! Aku kira cuma pengen nulis ficlet yang banyak aja untuk dijadiin satu cerita, gak taunya emang ada yg berhubungan antara 1 ficlet dgn ficlet lain. Keren juga idenya! Two thumbs up deh!

    Btw, aku suka keromantisan Jimin di Dignity, mau dong dicium bibirnya sama dia, ihiiiyy :**

    Well, segitu aja deh komennya, semangat terus ya untukmu kaaaak :**

  3. AING PUSYINGGG
    AHHH PELIKK SEKALI SEPERTI KEHIDUPANKUUU 😫😫😫
    AHH INTINYAAA DITUNGGU CERITA TAEREN COUPLE (taehyung and Lauren) LONG VERSION
    BERIKAN NYAWA AGAIN KE TAETAE😭😭😭😭
    DI TUNGGUUU 100 LEMBARNYAAA!!!!!
    MUAAAHHH ㅋㅋㅋㅋㅋ 😘😘😘😘

    • Manehhhhhh…. aing kira kamu ngetik serius komenan bakal panjang gitu komennya tapi ternyataaa 😑😑😑😑

      Mbung ah mbung…. 100 lembar terlalu banyak buat kisah tragis kalian :p

  4. Huaaaaaahhhhhh…….. Keren banget kak… Sukak sekali.

    1. Menurut ku ada beberapa ff yg saling berkesinambungan *for sure aku bolak balik buka cerita karena gaapal judul nya*. Yg pertama Melted with Living In Memories. Kedua, Dignity sama Tomorrow. Ketiga, Broken Alley dengan Deadly Sin.

    2. Judul nya Shot in The Dark. Sama kayak kalimat terakhir yg di bolt. Terkadang kegelapan tetap akan mengejar dan memenangkan ‘pertempuran’ seberapapun kerasnya kita berusaha. Karena hidup gak selalu berakhir bahagia. Karena ada selalu ada sisi gelap dlm hidup.

    3. Ini penilaian objektif, dan aku tetep suka kesinambungan antara Melted dengan Living in Memories. Jadi aku memilih melted utk jadi oneshoot.

    Ini protes aku, kenapa Juho diasingkan? Kenapa kami tidak bertemu?

    P.s: akan lebih baik klo semua ficlet nya jadi oneshoot.

    With love,
    CNBLUE’s Wife

    • Hmmm kalau semua jadi oneshot ribet ugaa owe nulisnya mas kwkwkwk krn pasti apdatenya bakal lama mengingat sebentar lg aku nyusun 😅😅😅😅

      Kalian sudah bertemu kok Nak… tapi pertemuan kalian terhalang pintu coklat itu bwakakakak

      Buat jawaban kuis seperti biasa gk akan aku bahas yaaw. Thanks for participate btwwww 😘😘😘

  5. Oh iya aku sampe lupa jawab pertanyaa keduamu.
    Kenapa judulnya di beri nama shot in the dark. Menurutku cinta itu tak selamanya berakhir bahagia. Pasti di balik itu semua ada sisi kegelapannya. Cinta itu egois, karena pasti diantara dua insan itu ingin memiliki. Cinta maupun raga org tercintanya.

    Tapi ada juga yang tetap setia mencintai pasangan hidupnya hingga sisa dan napas terakhirnya. Karena menurut ia, cinta itu tak harus memiliki seutuhnya. Asal kan terkasihnya ada di sisinya ia tak mempermasalahkan kemana hati orng tercintanya berlabu. Ia tetap percaya bila cinta murninya itu akan berakhir manis karena ia percaya cinta mereka telah di persatukan oleh Tuhan di saat mereka mengikrarkan janji suci mereka dalam suatu pernikahan.

    Dan ff yg mau ada kelanjutannya adalah, jeg..jeg..jeg…

    Broken alley. Aku pingin tau apa huhunganyna si jihyun sama kang joon. Kenapa jihyun beranggapan kalo kang joon bersekongkol buat melepaskan si sandra ya mungkin sandra itu adalah ren. Dan alasan apa yg membuat Jihyun napsong banget buat nangkap si cewe itu bahkan dia sampe mau ngebunuh itu org.

    Pinginnya sih kisah cinta jihyun ma kang joon jangan berakhir di neraka, mendingan berakhir happy end di dunia, di dunia selanjutnya juga boleh wkwkwk 😂😂

    Okeh deh sekian komenku ya sha. Dan maap kalo komenku panjang melebihi drebble,hahahaa….

    • Haloooo kao phiyuuunn… maaf late respon yaaa hehehe

      BTW Aku minta maaafff banget kalau karaktermu jadi sadis seperti ituu 😂😂😂 soalnya ini idenya datang begitu saja dan aku nulisnya pun gak sadar, pas baca ulang aku aja kaget karakternya kak phiyun gitu cuma aku gak ngubah karena udah terlanjur mau dipublish kwkwkwkw

      Seperti biasa soal jawaban kuis gk akan aku bahas yaa kaak biar gk spoiler kwkwkw

      Thanks for participe btw 😘😘😘

  6. Haluuu shafa….
    Mian ya kalau diriku baru bisa baca n komenin ff mu ini. Dan setelah aku baca semuanya. Aku bisa menarik kesimpulan kalo ini ff sad ending. Walaupun sad ada sedikit bumbu romance nya di salah satu ffnya.

    Dan, sha… kenapa oc ku kau buat sadis. Sih jihyun tega banget sih nembak si kang joon. Dan meskipun begitu aku suka banget. Karena kebetulan dirikh suka cerita yg ada actionnya meskipun pada akhirnya ini ceritanya jadi mengarah spikopat.

    Sebenernya aku suka sama karakter jihyun yg galak sama si kang joon. Tapi kenaapa endingnya jadi seperti itu, dan aku membuatku menjadi baper setelah selesai bacanya. Tanggung jawab.

    Okeh lah aku mulai menjawab kuismu yah.
    1. Menurutku cerita melted itu nyambung dengan ff living in memories. Kenapa aku bilang begitu. Karena menurutku gadis yg akan di nikahi sama jinyoung itu kayanya si minji.kan si minji ada di tempat yg sama dimana jinyoung akan melangsungkan pernikahannya.

    2. Ff distance itu saling berhubungan sama ff edge of love. Kenapa? Soalnya permasalahnya sama. Sama- sama tentang perselingkuhan. Meskipun cast cowonya beda. Tapi si bang yixing ma si wonwoo sama- sama bajingan. Udah punya istri malah masih suka jajan di luar, wkwkw 😂 aku lebih suka endingnya edge love, soalnya si cowonya kena batunya. Salah sendiri kenapa berani bermain api. Jadi kena apesnya dah.

    3. Dignity itu juga berhubungan dengan tomorrow. Kenapa aku bilang begitu. Soalnya, PDnya si jimin utu marganya kim. Dan kebetulan juga si jin itu di ff tomorrow profesinya PD. Dan jin lagi ngalamin masalah sama anak asuhnya yg kaga mau manggung. Dannkebetulan juga si jimin kabur waktu kerja. Dia kaga mau manggung. N pas si jimin mau minta maap sama PDnya. Si PD kim sekarat. Moment itu smaa persis sama keadaan si abang jin di ending ceritanya. Yrus ff starlight juga sedikit mengait disana 😊

    4. Dan ff yg bikin aku kepo n baper itu sih broken alley x deadly sin. Cerita itu berdua saling bertautan banget. Why? Coz… si jihyunnya pas ninggalin kang joon dia lagi mengang pistol buat ngejar cewe tahananya yg kabur. Dan sepertinya cewe yg kabur itu sih ren. Aku juga masihbkurang ngerti apa hubungannya sih kang joon sama jihyun dan taehyun sama ren. Kenapa sih ren dikejar’ kejar sama jihyun. Kayanya si jihyun napsong banget buat bunuh sih ren.

    Dan kenapa juga kenapa tae suka bunuh org? Apa jangan” si v itu sodaraan atau satu kelompok mafia sama kaya jihyun? trus gimana nasip sih tae apakah dia akan berakhir seperti kang joon atau kedua cogan itu selamat, kok aku jadi spoiler yah, wkwkw 😅😂

  7. Hai pak sahafaa,, jujur aku baru aja mau komentar masalah keterkaitan antar ficlet, eh malah dijadiin kuis wkwkwk

    1. Ficlet yg saling berhubungan itu Melted – Living in Memories : dua ff ini jelas banget nyambung wkwkwk dan bisikan hati Yena yg dikalimat terakhir aku mikirnya itu buat Juho malah haha dan ff inilah yg buat aku kepikiran buat komentar wkwkwk trus ficlet Dignity – Tomorrow : yg ini juga keliatan koq nyambung, meski dignity duluan yg nongol dan Tomorrow bgaikan penjelasannya gtu. terakhir ada ficlet Broken Alley – Deadly Sin, wanita iblis yg disebut Taehyung pasti Jihyun wkwkwk

    2. Menurutku kenapa ficlet ini disebut Shot in The Dark, karena kisah2 yg disuguhkan dalam ficlet-mix ini ya tentang sisi lain dari yg namanya cinta, yaitu sisi gelapnya kkk Karena pada dasarnya tdk semua kisah cinta harus melulu tentang bahagia kan.

    3. Satu ficlet bisa sekaligus jelasin yg satunya lagi, makanya ku pilih Living in Memories yg nantinya nyambung ke ff WAO yakni Melted kkk

    • Haloooo peeel… maaf baru reply yaa. Kemarin lupaa padahal udah niat mau bales pas nyampe di tempat tujuan eh malah bablas tidurr >.<

      Kwkwkwk iyaa pel sengaja ku kasih kuis karena sebenernya aku masih feel buat ngelanjutik kisah kisah ini menjadi oneshoot. Cuma kalau dilanjutin semuanya kayaknya aku gak sanggup krn yu know lah yaa mahasiswa tingkat akhir kwkwkw makanya aku adain kuis

      Btw sama seperti yg lain, jawaban kuismu gk bakal aku bahas di sini yaa takutnya jatuhnya spoiler kwkwk thanks for read and comment btwwww :*

  8. Holaaaa holaaaa pak shafa… mian karena ff nya panjang dan rumit aku butuh waktubuat mencernanya baik2.. dan ternyata mesti molor lg krn aku harus bolak balik untuk mikirin ulan ttg mana dari ficlet3 itu yg terhubung wkwkwk

    Sebelumnya aku mau komen ttg ceritanya. And as always pak, ini yg aku suka dari tulisanmu. Yaitu kalo kamu udh masukin prosa2 dan quotes yg entah mesti berapa lama mirkirinnya kalo aku (kemaren shs ngutip quote tere liye sama dee juga krn aku gamau buang waktu buat bikin quotes sendiri 😂😂😂😂😂)

    Disini cerita yg paling ku suka itu melted, tomorrow, sama edge of love. Plot twist nya ketara banget. Dan untuk riddlenya aku demen parah sama deadly sins. Sebenernya starlight juga riddle, tapi lebih ke teka teki sih… dan sad di living in the memory itu beneran berasa. Tapi yg paling bagus penjabaran alur dan deskripsi karakter tokoh ya punya si minji itu yg melted pak wkwkwkwk… menarik aja kisahnya.

    Ada sedikit typo di beberapa kalimat. Tap gapaph karen aku juga miss typo 😂😂😂😂

    Dan jeng jeng jeng… sekarang aku mau coba jawab kuisnya pak shafa…
    1. Ff yg sama sekali gak punya temen alias gak berhubungan itu menurutku Destiny. Dia cuman kayak bener2 sekedar selingan story buat bacaan iseng2

    2. Terdapat pengaruh negatif antara Melted dan Living in the memory secara simultan, dan bersama-sama. #berasa bikin hipotesis penelitian#

    3. Faktor 2 yng mempengaruhi Starlight adalah Dignity dan tomorrow. Ini terlihat jelas. Tapi aku kecewa kenapa siwon marriednya sama yuri….??? Mestinya sama sunkyo. Mereka kabur kek apa kek… 😂😂😂😂 kenapa kalian suka sekali bikin siwon sunkyo menderita???? Kan aku miris bacanya #edisibaper #abaikan wakakkakakaka #tawagaje

    4. Ini adalah yg paling riddle.. yg meti baca 2x baru nemu dimana keterhubungannya. Broken alley sangat jelas berhubungan dgn deadly sins… tapi ada yg menarik di paragraf pembukaan awal broken alley, kata2 yg bilang “Dia hanya menunggu laki2 itu mati di tangan wanita gila suruhannya” — kurang lebih gitu, kalau salah berarti krn dah ngantuk 😂😂😂😂 *males tengok atas lg* —
    Kalimat ini yg bikin aku yakin kalau broken alley, deadly sins dan edge of love itu terhubung.

    Oke pak shafa…. sekian hipotesisku yang hampir setara oneshoot ini. Wkwkwk semoga aku memang. Kalo menang mau menuntut hak ke bahagiaan atas siwon dan sunkyo di starlight 😂😂😂😂

    • Oh iya pak.. aku lupa… filosofi shot in the dark menurutku itu… hm,

      Ada banyak jenis kebahagiaan di dunia ini yg bisa setiap orang dapatkan, termasuk aku. Tapi kadang arti bahagia ini sendiri juga rancu, dimana orang yg menjudge dirinya bahagia ternyata kebahagiaan palsu. Cuma sesuatu yg kosong. Sementara orang yg selalu bilang dirinya gak bahagia, nyatanya dimata orang lain kita lebih dari pada bahagia. Dan mungkin kadang kita lupa, kalau sebenarnya gak ada yg benar2 bahagia di dunia ini. Semuanya tergantung perspektif masing2. Karena selalu ada bayangan kegelapan di setiap terangnya cahaya.

      Untuk ff nya aku masih kekeh pilih starlight pak.. siwon sunkyo harus bahagia pokokna wakakkakaka

      • Yuuunnn… km udah baca blm balesan komenan aku? Kwkwkwk wp bener bener error btw sampe skrg komen balesanku buatmu gak ketemu 😂😂😂😂

        Thank youu atas komenan panjangmuu yaa btw, itu vitaminku buat lanjut nulis ff kwkwkw dan soal jawaban kuismu aku gk akan jawab yaa soalnya takut malah jadi spoiler buat yg belum baca dan mau ikutan kuis kwkwkwk

        Ditunggu pengumumannya yaaaa 😘

  9. Wwaawwww….. Kereennnn bgtzzz… Okee… Aq mw ikutan aahhh…

    Jwban :
    1.) Ff yg slung berhubungan itu ff 1st SHOT MELTED itu berhubungan sama 4th SHOT LIVING IN MEMORIES.
    Ada lagii ff yg slng brhungan 3rd SHOT DIGNITY sma ff
    5th SHOT TOMORROW
    2.) Shot in The Dark knpa judulnya itu karena takdir manusia itu tidk smua itu bahagia. Krna ada suatu keadan yg akan menempatkan kita pada kegelapan. Dan rasa egois yg tinggi itu jg yg membuat manusia nantinya akan hancur…

    3.) ff 5th SHOT TOMORROW. Because aq pengen tahu cerita lengkap dari ff itu ….

    Heheheheh

    • Sudah pasti bakal milih Tomorrow kwkwkwkw makasihh udah ikut kuisnyaa btw. Seperti biasa, jawaban kuisnya gk bakal aku tanggepin yaak karena takut malah jadi spoiler kwkwkwkw. Dan ditunggu pengumumannyaa. Thanks for read btww 😘😘😘

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s