Could We Marry [Part 3-END]

could-we-marry2

Scriptwriter Oyewyn. K || Poster Designer Aqueera @ Poster Channel || Genre Romance-Fluff || Starred CNBLUE’s Jung Yong Hwa and Actress’s Park Shin Hye || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

Story Begin

.

.

.

Ketika cinta telah berlabuh di tempat yang tepat, maka yakinlah semua akan menjadi indah dan membahagiakan. Dan sebentar lagi impian keduanya akan menjadi kenyataan. Kisah cinta mereka akan seperti dongeng dengan akhir bahagia. Kini mereka tinggal menapaki tangga pelaminan menuju akhir bahagia itu tanpa ada penghalang atau kerikil tajam yang menyakiti langkah mereka.

Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye, mereka telah berhasil melewati dan membuang kerikil tajam yang menghalangi mereka selama ini. Sekarang tibalah saatnya mereka menuju altar gereja, mengikat satu sama lain dalam sakralnya sakramen pernikahan. Mereka akan mengikat janji mereka bersama Tuhan, sehidup semati sebagaimana yang telah Ia firmankan kepada umat-Nya. Akan tetapi, sebelum hari itu tiba tentu mereka harus menyiapkan semuanya.

.

.

.

Tanggal pernikahan tinggal menghitung hari, semua persiapan sudah hampir rampung. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan terkecuali satu hal, yakni kedatangan Seo Hyun kembali dalam hubungan mereka. Entah apa lagi yang ingin dilakukan oleh wanita itu setelah semua hal yang telah mereka lewati. Wanita itu tiba – tiba muncul di depan Shin Hye begitu saja dengan senyum manis yang menjengkelkan. Shin Hye terus menenangkan dirinya agar tetap berkepala dingin, karena jika tidak maka sangat mungkin pernikahannya akan batal karena wanita ini. Ya… semoga saja wanita itu tidak akan merusak apa yang direncanakan kedua insan itu.

.

.

.

Kini Yong Hwa dan Shin Hye sedang dalam perjalanan menuju butik milik kakak Jong Hyun, kedunya akan melakukan fitting baju pernikahan mereka. Sambil terus bergandengan tangan mesra keduanya memasuki butik yang cukup terkenal di daerah itu.

Ting.

Bel yang terpasang di pintu berbunyi, menandakan bahwa ada pelanggan yang datang. Tentu saja pelanggan itu adalah Yong Hwa dan Shin Hye, entahlah apa mereka benar – benar bisa disebut sebagai pelanggan atau tidak.

“Selamat datang di Starlight Boutique, ada yang bisa bantu?” Seorang pegawai datang menyambut mereka.

Noona eoddiso?” Yong Hwa tak menjawab sapaan pelayan itu.

Noo…na? Nugu?” Pegawai itu bingung mendengar pertanyaan Yong Hwa, hal ini dikarenakan pelayan itu adalah pegawai baru yang tidak mengenal Yong Hwa bahkan juga tidak mengenal adik dari pemilik butik tempat ia bekerja ini.

Sebelum Yong Hwa dan Shin Hye menjawab pertanyaan itu Lee Jin Ri, kakak Jong Hyun datang menhampiri mereka.

“Yong-ah, Shin-ah! Kalian sudah datang rupanya.” Dia memeluk kedua orang itu dengan erat. “Dia pegawai baru di sini.”

Shin Hye pun membuka katalog design yang diberikan Na Ri kepadanya, membolak – balik halaman, berusaha menemukan gaun yang sesuai dengan dirinya. Sedangkan pria itu hanya sibuk dengan ponselnya bahkan sesekali pria itu tersenyum dan tertawa kecil, entah ada hal menarik apa di sana yang menjadi lebih penting dari baju pernikahan yang akan mereka gunakan kelak. Hal ini rupanya membuat Shin Hye semakin lama semakin geram, ia merasa Yong Hwa tidak peduli dan tidak niat.

Plak!

Shin Hye menutup keras katalog itu berusaha memindahkan atensi Yong Hwa kepada dirinya, untungnya Yong Hwa teralih padanya. Jika tidak, dengan tega Shin Hye akan memastikan membuat kepala Yong Hwa kesakitan terkena pukulan dari katalog itu.

“Sudah selesai? Kau sudah menentukan gaun mana yang akan kau gunakan?”

Ani. Sepertinya aku tidak jadi menikah.”

“Tidak jadi me… MWO?!” Yong Hwa baru menyadari penuh perkataan Shin Hye. “Yya! Apa maksudmu?”

“Ya, tidak jadi menikah. Apa kurang jelas? Mana mungkin aku menikah seorang diri.” Ketus Shin Hye, berdiri, lalu melihat pakaian – pakaian yang di pajang di ruangan itu.

Yong Hwa bangkit berdiri dan mengikuti langkah kaki Shin Hye, “Apa maksudmu? Sudah jelas kau akan menikah denganku, sayang.”

Ah, jadi kau yang akan menikah denganku? Tapi kenapa kau terlihat sibuk dengan ponselmu sedari tadi?” Shin Hye tetap sibuk melihat – lihat pakaian itu, tidak memedulikan Yong Hwa yang sedari tadi terus membuntutinya.

“Tentu saja aku peduli dengan pernikahan ini. Aku sudah menentukan bajuku, jadi aku tinggal menunggumu memilih gaun. Ahh… aku tahu, kau ingin aku yang memilihkan gaun untukmu?” Yong Hwa membalas Shin Hye dengan gurauan tipis.

Sejurus kemudian perdebatan kecil mereka dihentikan oleh Na Ri yang membawa beberapa model gaun pernikahan yang sesuai dengan tema yang sudah ditentukan kedua insan itu sebelumnya

“Kalian sudah menentukan gaun dan tuxedo kalian?” Na Ri bertanya pada kedua insan itu.

“Aku sudah, tapi Shin Hye belum.”

“Benarkah? Ini coba lihat gaun yang aku bawa.”

Gaun pertama adalah sebuah short gown berlengan satu, terlihat simpel dengan warna dasar putih berornamen rajutan bunga hitam di sepanjang bagian kiri.

images-6

“Tidak!” Yong Hwa tak menyukainya, punggung Shin Hye terlihat jelas oleh semua mata yang akan hadir. Dia tidak suka ada pria lain yang bisa melihat itu. Ya, Yong Hwa memang sedikit posesif.

Kemudian Nari menunjukkan mermaid gown koleksinya, berlengan satu sama seperti sebelumnya, hanya saja berkebalikkan. Tapi gaun panjang ini melekat pas di tubuh Shin Hye, membuat lekuk tubuh wanita 27 tahun itu tercetak jelas. Dan tentu saja hal ini menjadi alasan kuat untuk Yong Hwa menolak gaun itu untuk Shin Hye kenakan.

20aa4f7e6b53dec8babb8dee7a9e9c36

Sudah dua gaun yang ditolak oleh Yong Hwa sedangkan Shin Hye, ia juga merasa tidak cocok dengan gaun itu. Oleh karenanya Na Ri kembali mengeluarkan koleksi lainnya, kali ini sebuah sleeves gown.

custom-made-new-style-cap-sleeve-wedding.jpg

Cukup tertutup, Yong Hwa menyukainya. Simpel dan modern, sangat cocok untuk Shin Hye. Begitu pikir pria itu, tapi Shin Hye sebaliknya. Entah mengapa wanita itu kurang menyukai model gaun itu. Meskipun semua orang pasti berpikir bahwa wanita cantik itu pasti pantas mengenakan gaun pernikahan yang manapun.

Na Ri mulai geram karena pasangan ini tak kunjung menentukan pilihan gaun yang akan digunakan oleh sang mempelai wanita.

Yya! Ini sudah gaun ketiga dan kalian belum menentukan pilihannya!”Akhirnya Na Ri mengekspresikan kegeramannya yang sedari tadi tertahan. “Awas saja jika kalian tidak segera menentukan pilihan gaunnya, aku akan mengusir kalian dari butikku.” Pemilik butik itu sudah benar – benar tak tahan lagi rupanya.

Gaun berikutnya dikeluarkan oleh Nari, sebuah sleeves gown lainnya. Kali ini benar warna hitam secara keseluruhan dengan pita bunga besar berwarna pastel di bagian pinggang kirinya. Kedua mempelai itu menggelengkan kepalanya bersamaan, tak menyukai gaun itu. Itu seperti gaun untuk acara kematian, begitu pikir keduanya. Mereka sungguh berjodoh sepertinya karena memiliki pemikiran yang sama.

black-ball-gown-wedding-dresses.jpg

Dan kini tibalah saatnya Na Ri menunjukkan koleksi terbaiknya yang terakhir. Sebuah gaun lebar berwarna dasar putih dengan rajutan untaian panjang bunga berwarna hitam. Bagian punggungnya pun tertutup, namun tetap terlihat cantik. Melekat pas dari bagian bahu hingga setengah paha, kemudian menjuntai lebar hingga lantai. Sangat seusai untuk menyatukan selera kedua insan yang akan segera mengikat janji sehidup sematinya.

082399b5bd6e102e3cb353ccc0729504.jpg

“Aku memilih gaun ini.” Putus Shin Hye tegas, selaras dengan anggukan kepala sang mempelai laki – lakinya.

Akhirnya Na Ri bisa menghela napasnya lega, seperti air di padang gurun. Sangat menyejukkan kepalanya.

“Dan mungkin aku juga akan menggunakan gaun ini sebagai gantinya kelak.” Shin Hye mengambil sebuah gaun panjang tanpa lengan dengan renda – renda.

WD7439.jpg

“Baiklah, sekarang mari kita ukur badan kalian agar aku dapat menyesuaikannya.” Nari mengambil meteran dan mulai mengukur tubuh kedua manusia itu.

Kini waktunya kedua insan itu memilih cincin yang akan mereka gunakan untuk sisa hidup mereka kelak. Cincin terakhir yang akan menjadi tanda cinta abadi mereka kelak. Desain cincin ini dibuat secara pribadi oleh Shin Hye, wanita itu ingin agar cincin itu hanya ada satu di dunia ini seperti cinta mereka yang memang hanya ada satu.

Kini Shin Hye dan Yong Hwa berada di salah satu toko perhiasan terbesar dan terkenal di Korea Selatan, toko yang diketahui milik istri dari seorang teman ayah Shin Hye. Dengan langkah tenang keduanya memasuki toko besar yang didesain mewah itu dan menunggu sang pemilik bertemu dengan mereka.

“Aku jamin, kau akan menyukai cincin ini pada pandangan pertama.” Shin Hye menyombongkan dirinya.

Geure? Kita lihat saja nanti.” Pria tampan itu tak mau mengalah dengan mudah. Hingga akhirnya perdebatan di antara dua manusia yang saling mencintai itupun terjadi dan mungkin akan terus berlanjut jika pemilik toko itu tidak segera menghampiri mereka.

“Shin-jiah!” Seorang wanita paruh baya melambaikan tangannya pada Shin Hye dari jarak beberapa meter.

Ah.. annyeonghasseo ahjumma.” Shin Hye membungkuk hormat pada wanita tua itu, kemudian kedua wanita itu saling berpelukan erat.

Aigoo… nan neol bogoshipeo.” Diakhiri dengan sebuah kecupan singkat di pipi halus Shin Hye.

Sedangkan Yong Hwa, dia hanya bisa membungkuk formal karena wanita yang dia yakini seusia ibunya itu baru pertama kali dia temui. “Annyeonghasseo.”

Nde, annyeong. Jadi kau yang akan menjadi mempelai pria dari gadis cantik ini?” Senyum hangat melekat di wajah wanita paruh baya itu, ia bernama  Jung Hye Jung.

“Ya aku mempelai pria dari Park Shin Hye, namaku—“

“Jung Yong Hwa, benar?” Jawaban Yong Hwa dipotong lebih dulu.

Setelah perkenalan dan obrolan singkat Nyonya Ahn mereka berdua di bawa ke suatu ruangan yang berisi banyak cincin pernikahan yang memang hanya didesain satu di dunia. Sama wanita lainnya, Shin Hye menggunakan katalog sebagai sarananya memilih cincin sehidup semati yang akan menjadi simbol terikatnya cintanya dengan Yong Hwa. Sedangkan sang pria, dia sibuk melihat cincin – cincin yang terpajang di etalase kaca.

“Mama!” Seorang gadis memanggil seseorang yang ternyata adalah pemilik toko perhiasan itu. Atensi sepasang pelanggan itu beralih padanya, dan mereka mendapati bahwa wajah seorang gadis itu sungguh familiar bagi mereka.

“Ahn… Min… Ji?” Shin Hye mengeja nama gadis yang dikenalinya itu.

“Shin Hye eonni, Yong Hwa oppa.” Ia melambaikan tangannya, menyapa pelanggan ibunya.

“Kalian saling mengenal?” Ibu Min Ji menjadi satu – satunya orang yang bingung dengan situasi yang ada saat ini.

Uhm!” Min Ji menganggukan kepalanya tegas, menjawab pertanyaan ibunya.

“Min Ji menjadi tour giude kami ketika berlibur ke Papua. Dia pernah bercerita bahwa orangtuanya menetap di Korea, hanya saja aku tak menyangka jika ibunya adalah Ahn ahjumma. Dunia sangat sempit.” Shin Hye menjelaskan bagimana mereka saling mengenal.

Akhirnya pertemuan ini menjadi seperti acara reuni dadakan antara tour guide dengan kliennya. Menanyakan kabar dan menceritakan berbagai pengalaman satu sama lain. Bahkan sesekali Yong Hwa dan Shin Hye menggoda Min Ji dengan topik mengenai Min Hyuk. Ya, memang kedua orang itu sangat jelas terlihat saling menyukai.

“Jadi kenapa kau tidak menghubungi kami kalau kau sudah di Korea?” Yong Hwa mengutarakan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya.

“Aku baru tiba di Korea lusa kemarin, dan baru saja ingin mengabari kalian setelah dari sini dan mengunjungi kalian tapi ternyata kita malah bertemu di sini.” Penjelasan Min Ji itupun direspon dengan anggukan dari sepasang mempelai itu.

“Lalu, kau sudah memberitahukan Min Hyuk mengenai kedatanganmu di Korea?” Kali ini Shin Hye yang bertanya.

“Jadi kalian sudah memilih cincin mana yang akan kalian gunakan?” Pengalihan topik dari Min Ji.

Hey, kau mencoba mengalihkan topik, eoh?”

Aniya, eonni. Itu tidak penting sekarang. Yang terpenting sekarang adalah memilih cincin untuk pernikahan kalian.” Min Ji masih mengelak.

“Itu benar juga, jadi ayo memilih!” Yong Hwa menyetujui Min Ji.

Mereka mulai kembali melihat – lihat cincin yang sekiranya akan menjadi pilihan kedua orang itu. Dan kali ini lagi – lagi perdebatan di antara kedua insan itu, tak satupun yang mau mengalah dengan pilihannya. Ya, mereka berdua memang sama – sama keras kepala. Untuk menghentikan keduanya Min Ji pun memberikan ide kepada kedua orang itu. Dia akan memisahkan mereka di ruangan yang berbeda dan menyediakan beberapa cincin yang sama untuk keduanya, kemudian mereka akan memilih cincin itu. Lalu mereka akan kembali dipertemukan untuk menunjukkan cincin pilihan masing – masing. Jika berbeda maka salah satunya harus tereleminasi, dan yang terpilih akan menjadi cincin pernikahan mereka. Ide Min Ji ini diterima oleh semua orang—Nyonya Ahn, Park Shin Hye, dan Jung Yong Hwa.

Shin Hye dan Yong Hwa pun dibawa ke ruangan yang terpisah. Kemudian dua prang pegawai diperintahkan untuk membawa beberapa cincin kepada Yong Hwa dan Shin Hye. Sesuai dengan pesanan mereka, cincin akan berwarna hitam, jadi Nyonya Ahn menyediakan hal tersebut.

cincin.jpg

Waktu yang disediakan untuk menentukan cincin pilihan mereka hanya lima belas menit. Shin Hye masih berpikir mana yang terbaik, sementara Yong Hwa dia tidak berpikir sama sekali dan menentukan dengan cepat yang paling memikat untuknya. Lima belas menit pun berlalu Shin Hye dan Yong Hwa kembali di satukan di satu ruangan, keduanya memegang cincin pilihan masing – masing.

“Dalam hitungan ketiga kalian harus menunjukkan cincin pilihan kalian,” tukas Min Ji.

Hana…dul…set!

Keduanya pun membuka kotak cincin yang dipegang masing – masing. Dan ternyata… mereka memilih cincin yang sama. Cincin polos hitam untuk mempelai pria sedangkan cincin polos hitam dengan satu berlian bertengger menghiasi cincinnya untuk mempelai wanita.

06773f179e832611dbf888230d74db19.jpg

Woaaah, kalian memilih cincin yang sama. Kenapa tidak sedari tadi saja seperti ini.” Min Ji bertepuk tangan mengagumi kebetulan yang baru saja terjadi, dia merasa bahwa pasangan ini memang seharunya bersama.

Kini hari yang ditunggu sudah tiba, hari dimana sepasang manusia ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk saling mencintai harus mengikat janji sehidup semati mereka dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Semua umat sudah berada di tempat duduk masing – masing. Sang mempelai pria sudah berdiri menanti sang calon istrinya. Sang pria itu yang tak lain adalah Jung Yong Hwa terus merapalkan doanya, berharap hari ini akan berjalan dengan lancar. Ia betul – betul gugup, senang, dan tak sabar, segala emosi bercampur menjadi satu. Kakinya terus dihentak kecil, tangannya terus dikepalkan dan dibuka secara berulang kali, bahkan dahi lebar nan indah miliknya itu mulai mengeluarkan butir – butir keringat.

Hyeong! Jangan terlalu gugup, nanti cincinmu bisa jatuh dan noonai bisa menjadi milik pria lain.” Min Hyuk menertawakan Yong Hwa yang diikuti oleh kikik geli yang lainnya.

“Diam kau! Kau harus berterimakasih padaku saat Shin Hye keluar nanti.”Yong Hwa menoyor pelan kepala Min Hyuk. Sementara yang dituju hanya menatap bingung.

Sementara sang mempleai wanita di ruang tunggunya pun merasakan hal yang sama dengan prianya. Bahkan sang pendamping mempelai wanita ikut pusing melihat mempelai wanitanya berjalan bolak – balik mengelilingi ruangan itu.

Yya! Eonni, riasan wajahmu bisa luntur jika kau berkeringat. Tenangkan dirimu, semua akan berjaan lancar. Aku yakin.”  Pendamping mempelai wanita itu tak lain tak bukan adalah Ahn Min Ji.

Tok. Tok. Tok.

Seorang pria paruh baya mengetuk pintu dan menyembulkan kepalanya, beliau adalah Tuan Park. Dia menatap putrinya dalam,tatapan yang penuh sejuta arti. Dia merasa bahagia akhirnya sang putri memiliki pangeran yang akan terus memncintai, menjaga, dan membahagiakannya. Akan tetapi di sisi lain ia tidak rela jika putri kecilnya menjadi milik pria lain. Sepasang ayah dan anak itu hanya saling menatap satu sama lain, tanpa sepatah kata pun mereka menyuarakan isi hati mereka. Mata mereka sama – sama berkaca, menahan airmata yang mengganggu pengelihatan mereka.

Appa… .” Shin Hye akhirnya bersuara, dengan perlahan ia melangkah mendekkati ayahnya.

Ani… ani… jangan menangis,” Tukas Tuan Park, padahal dirinya sendiri sudah meneteskan airmata. “Apa kata calon suamimu jika mempelainya menggunakan rias wajah yang luntur. Bisa – bisa dia membatalkan pernikahan.”

“Aku yang akan membatalkannya lebih dulu.”

Aigoo… jjinjja?”

Ne!” Shin Hye mengangguk tegas dengan senyum getir menahan tangis.

“Hye-ya, kau akan menjadi seorang istri sebentar lagi dan kelak juga menjadi seorang ibu. Appa tak menyangka jika hari itu datang hari ini, padahal rasanya baru kemarin kamu bergelayut dan merengek pada appa dan kini kau akan menjadi milik pria lain.” Nada serius keluar dari bibir tua milik Tuan Park.

“Maaf jika mungkin selama ini appa menyakitimu, tapi sungguh appa sangat mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Kau adalah satu – satunya harta berharga yang akan selalu appa lindungi sampai mati.”

“Jadi istri yang baik, hormati dan patuhi perkataan suamimu. Lakukan seluruh kewajibanmu sebagai seorang istri. Dan jika sudah memiliki anak, jadilah ibu yang baik. Ibu yang penuh kasih dan kehangatan.”

“Meski kau kini menjadi milik pria lain, kau tetap bisa mengeluhkan segala hal pada appa. Karena meskipun kau sudah menikah dan menjadi milik Yong Hwa, kau tetaplah putri kecil appa. Sampai kapanpun kau adalah putri kecilku. Dan yang terakhir, you’re my treasure, you’re my life. I Love You till the end of my life.”

Appa.. .” Hanya kata itu yang dapat Shin Hye katakan, ia tidak tahu harus merespon apa. Hanya airmata yang menitik yang ada menjelaskan perasaannya.

Ahn Min Ji yang berada di ruangan itupun menitikkan airmata, terharu dengan adegan yang ia lihat saat ini. Membayangkan suatu hari nanti hal itu juga akan terjadi anatara dirinya dengan sang ayah.

Ding..dong… ding… dong…

Lonceng gereja menggema dengan suara yang terdengar sakral, memenuhi rungu setiap orang yang ada di sana. Menandakan bahwa upacara pemberkatan pernikahan siap dilaksanakan. Yong Hwa merapikan kembali penampilannya. Sementara Shin Hye, Tuan Park, dan Ahn Min Ji berjalan menuju pintu masuk untuk menuju altar.

“Ayo kita lakukan seperti yang sudah kita latih di rumah.” Sang ayah semakin mengeratkan rangkulan tangan Shin Hye di lengannya, menarik napas panjang berusaha merilekskan dirinya.

Ayah dan putrinya itupun melangkahkan kaki mereka perlahan menuju altar, sementara Min Ji berjalan di belakang Shin Hye mengantisipasi hal – hal buruk yang bisa saja terjadi. Semua mata terarah pada Shin Hye, begitu juga sang mempelai pria dengan senyum lebar nan tenangnya. Tapi ada satu di antara mereka yang malah tertuju kepada pendamping mempelai wanita. Ya, dia adalah Kang Min Hyuk yang tak menyangkan bahwa Min Ji akan hadir dalam pernikahan itu. Hingga akhirnya manik mata Min Hyuk dan Min Ji bertemu, menyiratkan rasa rindu dan bahagia.

Rangkulan tangan Shin Hye pun berpindah pada Yong Hwa sembari Tuan Park berbisik pada pria dewasa itu, “Jaga dia, cintai dia, dan bahagiakan dia. Jika tidak aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.”

Pastur sudah berada di posisinya, siap memimpin berjalannya pemberkatan nikah antara dua insan yang saling mencintai itu.

“Mempelai berdua yang berbahagia, saudara telah datang kemari untuk merayakan sakramen pernikahan di hadapan perjabat Gereja dan disaksikan oleh seluruh umat beriman. Tuhan  memberkati dan meneguhkan saudara, agar saudara sanggup saling mencintai dengan setia dan menunaikan tanggung jawab sebagai suami istri. Maka sekarang saya minta, supaya saudara menyatakan maksud dan isi hati saudara dengan menjawab pertanyaan saya.” Tukas sang pastur mulai memimpin upacara perkawinan kedua insan itu.

“Jung Yong Hwa-ssi, adakah saudarah meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?” Pastur menanyakan kesediaan kepada mempelai pria.

“Ya, saya bersedia.” Mempelai pria menjawab dengan tegas.

“Bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup?” Pastur kembali menanyakan kesediaan Yong Hwa

“Ya, saya bersedia.” Dengan mantap Yong Hwa menjawab pertanyaan pastur.

“Bersediakah saudara menjadi ayah yang baik bagi anak – anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi umat Tuhan yang setia?” Pastur beralih pada pertanyaan lain.

“Ya, saya bersedia.” Kembali Yong Hwa menjawab dengan mantap.

“Park Shin Hye-ssi, adakah saudari meresmikan pernikahan ini sungguh dengan ikhlas hati?” Kini pertanyaan diajukan kepada mempelai wanita.

“Ya, saya bersedia.” Shin Hye dengan yakin menjawab pertanyaan pastur.

“Bersediakah saudari mengasihi dan menghormati suami saudari sepanjang hidup?”

“Ya, saya besedia.”

“Bersediakah saudari menjadi ibu yang baik bagi anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada saudari dan mendidik mereka menjadi umat Tuhan yang setia?”

“Ya, saya bersedia.”

Semua pertanyaan kesediaan dari pastur dapat dijawab dengan baik, yakin, dan mantap oleh kedua mempelai. Kini pastur akan beralih pada janji pernikahan yang sebenarnya.

“Kini tiba saatnya untuk meresmikan pernikahan saudara. Saya persilakan saudara mengucapkan janji nikah satu persatu.” Tukas sang pastur pada kedua mempelai.

“Dihadapan pastur dan para saksi, saya Jung Yong Hwa menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Park Shin Hye yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup.” Yong Hwa mendaraskan janji pernikahannya.

“Dihadapan pastur dan para saksi, saya Park Shin Hye menyatakan dengan tulus ikhlas, bahwa Jung Yong Hwa yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadamu dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Dan saya mau mencintai dan menghormati engkau seumur hidup.” Giliran Shin Hye mendaraskan janji pernikahannya.

“Atas nama Gereja Allah dan dihadapan para saksi dan hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan ini telah diresmikan dan sah. Semoga upacara kudus ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi saudara berdua yang dipersatukan Tuhan, janganlah diceraikan manusia.”

Pernikahan kedua insan itu sudah terjadi pertukaran cincin berjalan dengan lancar dan kini tiba saatnya mereka melakukan ciuman pertama sebagai sepasang suami istri. Semua mata hadirin menatap mereka, menantikan ciuman sepasang suami istri baru itu.

-FIN-

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s