Accidentally Family [Chapter 8]

1458561947488

Accidentally Family

|LEORENE|

VIXX Leo aka Jung Taekwoon and Red Velvet Irene aka Bae Joohyun

Romance, Mariage life, Family, Life | Chaptered | PG17

Disclaimer : Poster dan storyline murni milik Author (Jung Taekwoon juga milik Author hehe).

Don’t like the cast? Just read the story ^^

 prolog | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

Summary :

“…morning kiss?”

.

.

.

Chapter 8

Joohyun mengerjapkan matanya. Sedikit demi sedikit, sepasang kelopak berhiaskan bulu mata yang lentik itu terbuka. Joohyun mengerjapkan matanya lagi demi menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam pupilnya. Hingga akhirnya wajah Taekwoon yang berada tepat di hadapannya, terbias sempurna di iris karamelnya. Kelopak mata pria itu terpejam dan bibir mungilnya sedikit terbuka. Tampak damai hingga membuat Joohyun mau tak mau tersenyum melihatnya. Joohyun hendak merenggangkan tangannya saat ia rasakan lengan polos pria itu bersentuhan dengan kulit punggungnya. Lengan Taekwoon sempurna melingkari tubuh Joohyun, menariknya ke dalam dekapan pria itu dan membuatnya tidak bisa bergerak ke mana-mana. Apa Taekwoon merengkuhnya semalaman? Ah iya, sekarang ‘kan Joohyun sudah menjadi milik Taekwoon seutuhnya.

Mau bagaimana lagi? Karena tak bisa berbuat apa-apa, lebih baik Joohyun memanfaatkan momen ini untuk memandangi wajah Taekwoon lebih lama. Ini memang bukan kali pertama Joohyun dapat melihat wajah tertidur Taekwoon dari dekat. Joohyun pernah secara tidak sengaja tidur bersandar pada dada bidang Taekwoon sehingga wajah pria itu jadi sangat dekat saat ia terbangun. Dan kejadian itu terjadi saat mereka sudah mulai berbagi ranjang. Karena sangat malu—dan juga ia ada rapat pagi itu—Joohyun jadi buru-buru bangun dan tidak sempat memerhatikan wajah Jung Taekwoon lebih lama. Sekarang jika dilihat-lihat, pria Jung itu memiliki pipi yang tembam seperti bayi. Joohyun jadi gemas ingin mencubitnya.

Pipinya seperti Miki’ Joohyun membatin seraya terkekeh. Joohyun menghirup oksigen banyak-banyak, mencium aroma maskulin Taekwoon yang begitu khas. Yang mungkin akan menjadi favoritnya mulai detik ini. Tangannya yang semula bersedekap di depan dada Taekwoon, terulur ke belakang tubuh pria itu—memeluknya balik.

“Sebenarnya aku ingin berada di posisi ini lebih lama, tapi aku harus memberi makan ‘bayi besar’ ini,” ujar Joohyun pelan kepada Taekwoon yang masih setia terpejam. Kelihatannya pria itu lelah sekali sehingga Joohyun berpikir untuk menggantikan Taekwoon membuat sarapan pagi ini. Maka detik selanjutnya Joohyun pun beringsut keluar dari rengkuhan Taekwoon dan mengamit pakaiannya yang tersampir di kaki ranjang. Joohyun menaikkan selimut menutupi punggung putih Taekwoon sebelum kemudian berjingkat menuju kamar mandi.

***

“Coba kita lihat. Enaknya sarapan dengan apa, ya?” Joohyun mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu seraya memindai bahan makanan yang berada di dalam kulkas. Ada telur, sekotak susu, selada, tuna, wortel, apel, kimchi, saus tomat dan saus bolognaise. Sepertinya mereka tidak punya terlalu banyak bahan makanan karena lebih sering makan di luar kemarin. Tapi justru bagus karena Joohyun jadi tidak perlu bingung harus membuat apa. Joohyun baru saja mengeluarkan sekotak telur dan sekotak susu dan meletakkannya di atas pantry, saat ia mendengar suara langkah kaki menuruni tangga. Refleks Joohyun menoleh dan mendapati Taekwoon yang mengenakan kaos panjang biru dongker serta celana training, tengah merajut langkah ke arahnya.

“Kau sudah bangun,” sambut Joohyun dengan senyum merekah. Taekwoon balas tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuknya. “Kau sedang apa?”

“Apalagi? Tentu saja aku memasak.  Kau meledekku karena jarang di dapur, eoh?” tanggap Joohyun dengan bibir mengerucut lucu lantas berbalik membelakangi Taekwoon dengan gestur kesal yang dibuat-buat. Taekwoon tersenyum melihatnya. Pria Jung itu meraih apron yang tergantung di dinding sebelum mengambil beberapa langkah mendekat pada Joohyun.

“Setidaknya kau harus menggunakan apron, Nyonya Jung,” Taekwoon berbisik seraya memasangkan apron pada tubuh mungil istrinya. Buat Joohyun sejenak tersentak dan pipinya terasa hangat. Aneh sekali, pagi tadi saat Joohyun terbangun di dalam pelukan Taekwoon, ia tidak merasa malu. Kenapa sekarang Joohyun justru merasa jantungnya berdetak kencang dan aliran darahnya naik ke pipinya?

Taekwoon menyudahi kegiatannya memasangkan apron pada Joohyun. Namun, alih-alih melangkah mundur, kini giliran kedua lengan Taekwoon yang melingkar di pinggang ramping gadis itu. Jung Taekwoon sedikit merendahkan tubuhnya demi menyandarkan dagunya di pundak istrinya. Sejenak tubuh Joohyun terasa kaku, tapi sedetik kemudian Joohyun tertawa kecil di tempatnya. Ia tidak tahu kalau Taekwoon bisa semanja itu padanya.

“Kenapa kau tertawa?” tanya Taekwoon heran karena dapat ia rasakan bahu Joohyun naik turun.

“Tidak, aku hanya merasa aneh saja.”

“Aneh? Tapi, bukannya ini yang biasa dilakukan suami istri?”

“Iya, kau benar. Pada pagi hari sang istri akan membuat sarapan, lalu sang suami datang, memeluknya dari belakang dan…”

“Dan apa lagi?”

Joohyun berbalik sehingga Taekwoon melonggarkan sedikit rengkuhannya. Gadis Bae itu menggigit bawah bibirnya sejenak sebelum membalas tatapan Taekwoon di irisnya. “Memberinya morning kiss?” ucapnya sambil memajukan bibirnya sedikit, mengisyaratkan. Meski merasa canggung, Taekwoon memajukan wajahnya juga dan mengecup singkat bibir Joohyun. Menciptakan suara ‘cup’ yang kentara.

Joohyun menutupi wajahnya dan tertawa. Dia malu dan ini pertama kalinya mereka bertingkah seperti ini. Sedangkan Taekwoon hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, “kalau begitu aku akan mandi saja.” Joohyun mengangguk dengan senyum mengembang. Dia tak bisa menahan tawanya karena melihat wajah Taekwoon memerah.

 .

Ting…tong…

 .

Baik Taekwoon maupun Joohyun sama-sama menoleh ke arah pintu. “Siapa yang bertamu sepagi ini?” tanya Joohyun yang lantas dijawab Taekwoon dengan kedikan bahu. Ia melepaskan pegangannya di pinggang Joohyun, “Biar aku yang bukakan.” Lantas berjalan menuju pintu. Meninggalkan Joohyun yang masih mematung di tempat.

“Kenapa aku merasa seperti déjà vu, ya.” Benak gadis Bae itu melayang pada kejadian serupa yang terjadi beberapa waktu lalu. Bel selalu berbunyi di saat Taekwoon dan ia berada di posisi yang…um…mesra. Terakhir kali yang datang adalah Tuan dan Nyonya Bae dan Taekwoon dalam keadaan bertelanjang dada. Oh, kalau sekarang yang datang adalah mereka dan Taekwoon juga dalam keadaan serupa, Aboeji dan Eomma Joohyun patut berbahagia karena yang mereka kira memang benar-benar terjadi. Syukurlah saat ini Taekwoon tidak bertelanjang dada. Eh, tapi itu bukan mereka ‘kan? Apa jangan-jangan Tuan dan Nyonya Bae datang untuk memulangkan Miki?

Di lain sisi, Taekwoon segera membuka pintu tanpa lebih dulu mengecek siapa yang datang lewat intercom. Dan saat pintu terbuka, berdirilah seorang gadis cantik yang langsung berhambur memeluknya.

Oppa, I got you!”

“Soojung?!”

Oppa, aku sangat merindukanmu.” Gadis bernama Soojung itu semakin mengeratkan pelukannya. Belum tuntas rasa kaget Taekwoon, harus ditambah dengan kehadiran seorang gadis yang tak kalah cantik pula, berdiri tepat di belakang Soojung dengan senyum manis terpatri di bibir.

“Taekwoon-a, siapa yang dat—” Joohyun yang tidak bisa melihat tamu dari dapur, berjalan ke pintu masuk dan terhenti kala melihat seorang gadis sedang memeluk erat suaminya. Gadis Bae itu terlihat syok sekali. Taekwoon pun sontak menjauhkan Soojung dari tubuhnya.

“J-joohyun, jangan salah paham! Dia ini adik perempuanku,” ujar Taekwoon panik.

***

Taekwoon menyandarkan punggungnya pasrah pada sandaran sofa. Segera setelah menjelaskan siapa dua gadis cantik ini—yang tak lain adalah kakak dan adik kandungnya—pada Joohyun, Taekwoon membawa merekake kafe terdekat untuk bicara. Berbanding terbalik dengan Taekwoon yang terlihat gelisah, Jung Sooyeon menyesap espresso paginya dengan nikmat dan tentunya gestur yang elegan. Sedang si kecil, Jung Soojung tengah menikmati sepotong tiramisu-nya tanpa bersuara.

 “Jadi istrimu adalah putri keluarga Bae?” Akhirnya Sooyeon yang terlebih dulu membuka konversasi setelah meletakkan cangkirnya kembali.

“Iya, putri tunggal CEO Bae.” Taekwoon menegakkan punggungnya, berganti meraih cangkir latte miliknya. Putri tertua keluarga Jung itu tertawa dan memandang Taekwoon tak percaya. “Aku tidak menyangka kalau kau mewarisi sifat Aboeji,” ujarnya yang lantas membuat Taekwoon menggantung cangkirnya di udara. Seketika wajah pria Jung itu mengeras.

“Jangan pernah samakan aku dengan Aboeji, Noona.”

“Oh, okay, okay. Hanya saja, hei lihat aku. Karena Aboeji aku menikahi seorang CEO berkepribadian dingin seperti Wu Yifan. Kupikir kau akan berbeda. Kau akan menikah dengan gadis biasa misalnya, atau justru mencari kekasihmu yang—“ Soojung lekas menyikut Sooyeon, “—ah, maaf. Aku tidak akan membahasnya lagi. Aku hanya heran karena kau malah menikah dengan putri satu-satunya pemilik perusahan besar seperti Bae Corporation.”

Taekwoon meletakkan cangkirnya dan beralih menatap Sooyeon tajam. “Dengar, Noona. Aku menikahi Joohyun bukan karena alasan itu.”

“Lalu apa? Oh ya, dan siapa bayi di foto yang terpajang di apartemenmu? Kau mengirimiku kabar pernikahanmu sekitar tiga bulan yang lalu, tapi kau sudah memiliki bayi. Apa alasannya karena MBA?” cecar Sooyeon.

“Apa?! Eonnie tahu Oppa akan menikah?!!” Soojung yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kini memekik terkejut. Bagaimana tidak, ia baru tahu kalau kakak lelakinya telah menikah beberapa hari yang lalu, sebelum ia dan Sooyeon terbang dari Amerika ke Korea.

“Iya, Taekwoon mengirimiku e-mail lengkap dengan undangannya tapi ia memintamu untuk tidak datang.”

“Hah? Kenapa aku tidak boleh datang, Oppa??” Kali ini Soojung merengek pada Taekwoon yang masih memasang ekspresi datar.

“Simpan pertanyaanmu sejenak, Jung Soojung. Kedua kakakmu ini sedang bicara serius,” tegur Sooyeon. Buat Soojung mengerucutkan bibirnya kecewa dan memilih mengunci mulut sambil menikmati sepotong tiramisu-nya lagi.

Taekwoon menghela napas. “Miki bukan anakku.”

“Oh, jadi namanya Miki, lucunya. Ah, berarti Joo—“

“Dan bukan anak Joohyun juga.”

“Maksudmu?”

 “Kami mengangkat anak.”

“Kenapa?”

“Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin saja.”

“Apa jangan-jangan Joohyun tidak bisa…”

“Tidak, Noona. Jangan berasumsi yang aneh-aneh. Pernikahanku dan Joohyun baik-baik saja.”

“Tapi kenapa kau menikahinya?” Taekwoon memegangi kepalanya sejenak. Merutuki nasibnya memiliki kakak perempuan secerewet Jung Sooyeon.

“Aku hanya merasa tidak ada lagi yang harus kupikirkan. Aku sudah memenuhi mimpiku jadi yang tersisa tinggal mencari istri dan membangun keluarga. Lagi pula aku sendirian di sini, kau di China dan Soojung di Amerika. Dengan menikah, aku tidak sendirian lagi ‘kan?”

“Kau mencintainya?”

Kontan saja benak Taekwoon melayang pada kejadian semalam, saat ia mengatakan cinta pada Joohyun untuk pertama kalinya. “Tentu saja. Dia ‘kan istriku.” Tanpa sadar membuat Taekwoon tersenyum mengingatnya.

“Wah, coba kau lihat, Soojung-a. Seorang Jung Taekwoon tersenyum. Eiy, aku jadi iri pada istrimu.”

“Tentu saja, Eonnie. Oppa pasti bangga karena istrinya sangat cantik!” Soojung menimpali sambil mengacungkan ibu jarinya ke udara. “Aku kira Oppa menikah dengan model, tidak tahunya malah seorang wakil Presdir. Oppa benar-benar dapat jackpot!” Taekwoon tertawa mendengar pujian adik perempuannya. Merasa lega mengetahui mereka menyukai pilihannya. Ia jadi merasa bersalah telah menyembunyikan hal ini dari saudaranya.

Melihat adik lelakinya yang tak biasanya tersenyum itu membuat Sooyeon ikut tersenyum. “Baguslah kalau kau bahagia dengan pilihanmu sendiri. Selama ini kau selalu ditekan oleh Aboeji. Tapi apa kau tidak akan menyesal tidak mencari Dia lebih dulu?” Serta-merta senyum di wajah Taekwoon sirna. Sontak Soojung kembali menyikut Soyeon. “Tidak apa ‘kan sekali-kali? Aku benar-benar penasaran apa Taekwoon sudah melupakan Dia atau be—”

“Tidak,” tegas Taekwoon. “Apa yang terjadi di antara Dia dan aku sudah berakhir. Dia telah menjadi pelajaran dalam hidupku. Mulai sekarang aku hanya akan menjaga apa yang sudah menjadi milikku sebaik-baiknya dan tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.”

Soojung dan Sooyeon menatap Taekwoon lekat-lekat. Senyum simpul terpatri di paras keduanya. Mereka tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Mengingat apa yang telah dilalui satu-satunya saudara lelaki mereka selama ini begitu berat. Sooyeon hanya berharap kalau Taekwoon tidak memaksakan diri hingga menyesali keputusannya suatu saat nanti. Tapi di saat bersamaan Sooyeon juga berharap kalau Joohyun memang orang yang tepat bagi Jung Taekwoon. Semoga mereka dapat bersama selamanya dan hanya maut yang memisahkan, bukan orang lain.

Yeah, bagus, memang itu jawaban yang kuharapkan darimu. Kau harus menjalani hidupmu dengan baik, Taekwoon-a. Baiklah kalau begitu aku dan Soojung akan kembali ke hotel. Ah tapi, tidak apa meninggalkan istrimu begitu saja? Aku dan dia bahkan belum mengobrol,” tanya Sooyeon mengingat Taekwoon langsung menarik ia dan Soojung keluar setelah memperkenalkan diri pada Joohyun. Taekwoon menyesap latte-nya dan menjawab ringan.

“Aku belum menjelaskan apapun pada Joohyun. Jadi lain kali saja kita makan malam bersama, dan jangan lupa ajak CEO Wu juga, Noona.”

“Baiklah, kalau begitu. Omong-omong istrimu suka warna apa, Taekwoon-a.”

Taekwoon mengernyit, berusaha memutar otak dan mengingat-ingat warna apa yang sering Joohyun gunakan. “Um, sepertinya merah muda atau peach,” jawabnya ragu. “Kenapa?”

“Tidak, aku hanya ingin mengirim hadiah pernikahan padanya.” Sooyeon meneguk esspreso-nya yang tinggal seperempat hingga tandas. Lalu tersenyum puas.

Taekwoon yang memerhatikannya, menunjukkan ekspresi tidak suka. “Kurangi mengonsumsi kopi, Noona. Jaga kesehatanmu.”

Abaikan ungkapan kekhawatiran Taekwoon, Sooyeon mengibaskan tangannya di depan wajah. “Tenang saja, Taekwoon-a. Besok juga aku akan menemui Dr. Lee.”

Kontan saja Taekwoon membelalak. “Jaehwan? Apa kau sakit lagi, Noona?”

“Tidak, hanya general check-up. Aku memang melakukan operasi tahun lalu, tapi siapa tahu ‘kan?”

“Semoga saja tidak, Oppa. Agar Eonnie mendatangi dokter kandungan, bukannya dokter kanker terus. Aku ‘kan juga ingin punya keponakan.”

“Jung Miki adalah keponakanmu, Jung Soojung.”

“Kalau begitu aku boleh main ke rumahmu, Oppa? Aku belum bertemu bayimu,” ucap Soojung dengan mata berbinar. Mereka memang tidak bertemu Miki tadi karena bayi mungil itu masih menginap di rumah orangtua Joohyun.

“Iya, tapi kau harus meneleponku sebelum datang.”

Yes, Sir!” riang Soojung dengan gestur hormat.

“Baiklah, ayo kita pamit diri, Soojung-a,” ajak Sooyeon seraya mengamit pouch silver-nya dan bangkit berdiri. Soojung juga mengangkat bokongnya dari sofa bersamaan dengan Taekwoon.

“Hm, aku dan Joohyun juga akan menjemput Miki.” Taekwoon baru saja akan meninggalkan meja mereka saat Sooyeon menarik tangannya. “Tunggu sebentar, Taekwoon.” Lantas memeluk pria 25 tahun itu hangat. Taekwoon sedikit tersentak sebelum kemudian Soyeon berbisik padanya.

“Taekwoon-a, aku tahu kau kecewa dengan Appa dan Eomma, tapi bukan berarti kau bisa menikah begitu saja tanpa memberitahu mereka ‘kan?” Taekwoon mematung mendengarnya. Kali ini bukan karena Sooyeon tiba-tiba memeluknya di tempat umum—well, mereka tubuh besar di Amerika—tetapi karena perkataan kakak perempuannya barusan.

“Aku tahu kau pasti tidak bermaksud begitu. Adikku, Jung Taekwoon bukan orang seperti itu.”

***

Di sisi lain kafe, duduk seorang gadis cantik bersama seorang pemuda tampan. Sang gadis tengah menyesap teh hangatnya dengan anggun sedang sang pemuda tampak tenang dengan satu map di tangan kanan dan secangkir kopi di tangan kiri. Sesekali gadis berhidung bangir itu melirik pada wajah si lelaki yang masih serius membaca serentetan kata yang tercetak di kertas. Dan gadis itu hampir tersedak saat pandangan mereka bertemu. Si lelaki menengadah dan tersenyum ramah—menampakkan sepasang lesung pipi di wajah.

“Saya rasa proposal ini sudah bagus, Seulgi-ssi. Hari senin saya akan menyerahkannya pada Presdir.”

Gadis cantik bernama lengkap Kang Seulgi itu menganggukkan kepala dan tersenyum kikuk. “Terima kasih banyak, Hongbin-ssi.” Senyum Lee Hongbin semakin terkembang, menambah kadar ketampananya serta mengusir kecanggungan yang semula dirasakan Seulgi. Memang ini bukan pertama kalinya ia bertemu dengan si pemuda berlesung pipi itu. Sudah beberapa kali mereka bertemu dalam rangka kerja sama Bae Corporation dan Jesly Kr. Namun baru kali ini Seulgi menemui pemuda itu di luar jam kerja—dan di akhir pekan pula—kendati yang mereka bicarakan tetaplah masalah pekerjaan.

 “Aku sebagai perwakilan Jesly Kr meminta maaf karena Presdir kami tidak bisa datang pada meeting bersama Bae Corporation. Presdir kami adalah pengantin baru, saya harap anda tidak keberatan bila saya yang mewakilkan.” Pemuda ini sangat ramah dan sopan, Seulgi mengakuinya.

“Tidak apa, Hongbin-ssi. Wakil Presdir kami juga berhalangan untuk hadir. Sama seperti Jesly Kr, Wakil Presdir kami juga belum lama ini menikah. Saya harap anda juga tidak keberatan harus bernegosiasi dengan asistennya.”

“Senang dapat bekerja sama denganmu.” Hongbin mengakhiri pertemuan mereka pagi ini dengan berjabat tangan.

“Saya juga.” Seulgi balas tersenyum dan menyambut uluran tangan Hongbin. Mereka bangkit berdiri sebelum kemudian saling menunduk hormat pada satu sama lain. Seulgi mengamit tas tangannya saat Hongbin kembali bersuara.

“Maaf, Seulgi-ssi.”

Buat Seulgi serta-merta menoleh dengan ekspresi tanda tanya. “Ya?”

Hongbin membasahi bibirnya sebelum berkata, “Kalau boleh tahu, setelah ini kau akan ke mana?”

“Pulang ke rumah. Ini akhir pekan dan aku tidak ada acara lain lagi. Ada apa Hongbin-ssi?”

“Tidak apa. Hanya saja…um…bagaimana kalau kuantar kau pulang? Aku merasa tidak enak telah menyita waktu akhir pekanmu dengan masalah pekerjaan.” Seulgi terdiam dan menatap Hongbin lamat. Gadis Kang itu nampak sedang berpikir karena pertanyaan ini tidak berhubungan dengan masalah kerja. “Lagi pula aku juga tidak acara lagi. Apa kau keberatan?” Hongbin mencoba meyakinkan.

“Baiklah, Hongbin-ssi,” jawab Seulgi akhirnya. Sepertinya tidak ada yang salah dengan menerima tawaran Hongbin. Toh, permintaannya masih di batas wajar dan mereka sebaya. Tidak buruk untuk membangun pertemanan, bukan?

Hongbin lagi-lagi memamerkan senyum menawannya dan dengan sopan mempersilahkan Seulgi untuk berjalan lebih dulu. Kendati mereka seumuran, Hongbin masih menjaga jarak dengan berjalan selangkah di belakang Seulgi agar gadis itu merasa nyaman. Bagaimanapun mereka adalah rekan yang akan bekerja sama. Hongbin harus memperlakukannya dengan sebaik mungkin.

“Lee Hongbin!”

Kontan langkah keduanya terhenti. Hongbin menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pria jangkung yang familiar tengah berjalan ke arahnya.

Taekwoon hyung?

Ya, pria itu tak lain adalah Taekwoon yang baru saja bertemu dengan Soyeon dan Soojung. Lekas Hongbin berbalik dan bicara pada Seulgi. Ekspresinya berubah menjadi panik.

“Maaf, Seulgi-ssi. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu hari ini. Mungkin lain kali.” Seulgi tidak mengerti apa yang terjadi dan juga enggan untuk mencampuri urusan Hongbin sehingga ia hanya menunduk hormat.

“Kalau begitu aku duluan, Hongbin-ssi. Permisi.”

Sepeninggal Seulgi, Taekwoon telah sampai di tempat Hongbin berdiri. Sejenak Hongbin membungkuk hormat pada Sooyeon dan Soojung yang berdiri di belakang Taekwoon.

“Bagaimana kabar Noona?” sapa Hongbin ramah. Sooyeon pun balas tersenyum. “Baik.”

Hongbin dan Taekwoon telah bersahabat sejak lama sehingga ia akrab pula dengan kakak dan adik Taekwoon.

“Kapan Noona sampai di Korea?”

“Kami baru saja sampai tadi malam dan Taekwoon baru selesai mengajak kami sarapan. Kau sendiri sedang apa di sini, Hongbin-a?”

“Aku baru saja menemui seseorang.”

Manik kelam Taekwoon bergulir, menangkap sosok Seulgi yang berjalan menuju pintu keluar. “Siapa gadis itu?”

“Rekan kerja,” jawab Hongbin cepat. Taekwoon mengalihkan pandangan padanya dan mengangguk mengerti. Sejenak keheningan mendera ketiganya hingga Sooyeon menoleh pada adik perempuannya yang belum juga bersuara.

“Kenapa kau diam saja, Soojung? Kau merindukan mantan pacarmu ‘kan?” ujarnya seraya menyikut Soojung. Buat gadis cantik itu balas mendelik kesal.

“H-hah? Mana m-mungkin…um…bagaimana kabarmu?” tanya Soojung akhirnya setelah diberi isyarat sana-sapa-atau-kau-akan-menyesal oleh Sooyeon.

Hongbin lagi-lagi tersenyum. “Baik, bagaimana dengan kuliahmu?”

Soojung mengalihkan pandangannya, takut hatinya lemah dengan sikap pemuda itu. “Baik, tesisku sudah selesai.”

“Kalian berdua bisa mengobrol lagi nanti, sekarang Hongbin akan mengantarku pulang,” sela Taekwoon tiba-tiba. Ia yang ke sini menggunakan mobil Sooyeon berniat untuk menumpang pada Hongbin. Taekwoon tidak mau kakak dan adiknya itu ke apartemennya lagi, setidaknya untuk hari ini.

“Baiklah kalau begitu. Aku dan Soojung duluan. Bye, Hongbin-a!”

***

“Begitu, ya. Jadi Presdir Jesly Kr baru saja menikah.” Joohyun mengetuk-ngetukkan pulpennya di atas map. Seulgi baru saja memberitahukan informasi yang didapatkannya dari Hongbin kemarin. Bahwa Presdir dari Jesly Kr, perusahaan yang akan menjalani kerja sama dengan Bae Corporation, baru saja menikah. Setidaknya informasi tersebut mengobati rasa penasaran Joohyun atas absennya sang Presdir di setiap pertemuan mereka. Padahal sebentar lagi mereka akan menyelesaikan negosiasi.

Joohyun mengerutkan dahinya. Kini pulpen yang dipegangnya berpindah jadi mengetuki kepala Joohyun sendiri. Hal itu merupakan kebiasaan Joohyun jika sedang berpikir.

“Apa sebaiknya kita kirimkan hadiah pernikahan, Seulgi-ya?”

“Sepertinya lebih baik begitu, Sajangnim. Kita harus membangun hubungan kerja sama yang baik dengan Jesly Kr.”

“Baiklah, tolong kau belikan sesuatu yang pantas, Seulgi-ya,” perintah Joohyun seraya menyerahkan dokumen yang baru saja ditandatanganinya. “Aku bergantung padamu,”

“Baik, Sajangnim.” Seulgi membungkukkan badan hormat dan berjalan menuju pintu. Kenop pintu baru saja diraihnya saat Seulgi kemudian berbalik.

“Ah, Sajangnim. Ada seorang wanita yang mencarimu.”

Setelah mendengar ciri-ciri orang yang mencarinya dari Seulgi, Joohyun segera turun ke lobby, tempat di mana wanita itu menunggu.

“Sooyeon eonnie!”

Dan benar saja, wanita cantik bersurai light-brown itu tak lain adalah Jung Sooyeon, kakak perempuan Taekwoon.

Hello, Joohyun-a!” Sooyeon bangkit dari sofa dan menyambut Joohyun dengan pelukan. Kendati tak menyangka kakak perempuan Taekwoon akan mendatanginya ke kantor, Joohyun merasa senang Sooyeon menyambutnya dengan hangat. Joohyun sempat merasa resah bagaimana ia harus menghadapi kakak perempuan Taekwoon nantinya mengingat terakhir kali bertemu ia belum sempat mengobrol dengannya. Beruntung, disamping pembawaan Sooyeon yang elegan, dia juga memiliki kepribadian yang easy going sehingga Joohyun tidak perlu merasa canggung.

“Bagaimana Eonnie bisa tahu kantorku?” heran Joohyun ketika Soyeon melepas pelukannya. “Taekwoon memberitahuku,” dusta Sooyeon. Mana mungkin Taekwoon akan memberitahu alamat kantor Joohyun begitu saja. Taekwoon saja sudah melarang Sooyeon menemui Joohyun tanpa sepengetahuannya. Tapi bukan Jung Sooyeon namanya kalau akan menuruti Taekwoon begitu saja. Ia pun berinisiatif untuk mencari kantor Bae Corporation di internet.

“Maaf ya, aku datang mendadak. Apa aku mengganggumu?” ujar Sooyeon lagi setelah mereka sama-sama duduk di sofa. “Tentu saja tidak, Eonnie. Kau bisa datang kapan saja.” Joohyun tersenyum ramah.

“Terima kasih, Joohyun-a. Oh iya, aku juga membawakanmu beberapa hadiah.” Sooyeon beralih pada samping tubuhnya, tempat di mana beberapa paper bag besar ia letakkan. Ia menyodorkan paper bag yang berwarna hitam pada Joohyun. “Ini hadiah ulang tahun dariku untuk Taekwoon. Besok pagi aku akan kembali ke China jadi tidak akan sempat memberikannya pada hari ulang tahun Taekwoon. Aku titipkan padamu ya, Joohyun.” Joohyun menerima paper bag itu.

“Baiklah, nanti akan kuberikan pada Taekwoon, Eonnie. Tapi kenapa Eonnie cepat sekali kembali ke China?”

“Tenang saja, aku hanya sebentar di sana. Mungkin minggu depan aku akan ke Korea lagi bersama suamiku. Taekwoon masih berhutang satu makan malam denganku.” Sooyeon mengedipkan sebelah matanya pada Joohyun. Tapi Joohyun malah memasang wajang bingung yang lucu karena ia tidak mengerti maksud Sooyeon. Belum sempat Joohyun bertanya, Sooyeon kembali mengulurkan paper bag yang berwarna peach pada Joohyun.

“Dan yang ini untukmu. Hadiah pernikahan dariku. Maaf aku tidak bisa datang ke pernikahanmu dan Taekwoon. Suamiku sedang ada perjalanan bisnis saat itu sehingga kami tidak bisa ke Korea dalam waktu dekat. Dan adikku sedang menghadapi sidang tesisnya di Amerika. Tapi tenang saja, mulai sekarang kami akan sering mengunjungimu,” jelas Sooyeon. Perasaan lega mulai menyusup ke hati Joohyun. Akhirnya kini ia tahu kenapa keluarga Taekwoon tidak datang di pernikahan mereka. Kendati pernikahan mereka terkesan mendadak dan diadakan secara sederhana, tapi tetap saja pernikahan adalah acara sakral yang harus dihadiri oleh masing-masing keluarga.

Sooyeon meraih tangan Joohyun dan menggenggamnya lembut. “Aku ingin berterimakasih padamu, Joohyun-a. Terima kasih telah menjadi pendamping hidup Taekwoon. Adik laki-lakiku itu memang dingin dan tidak penuh perhatian. Dia tidak seperti pria lainnya yang bisa menunjukkan perasaannya secara gamblang. Oleh karena itu, kuharap kau mau memahami Taekwoon dan selalu berada di sisinya.” Joohyun membalas perlakuan Sooyeon dengan senyuman tulus. Sekarang ia tahu dari mana sikap hangat Taekwoon berasal.

“Iya, aku tahu, Eonnie. Kami sudah 4 bulan menikah. Meski awalnya sulit karena Taekwoon begitu dingin saat kami pertama kali bertemu. Tapi setelah menikah, Taekwoon selalu membantuku. Ia merawat Miki dengan baik selayaknya ayah. Taekwoon juga selalu menutupi kekuranganku dalam hal pekerjaan rumah. Meski terlihat dingin, aku tahu kalau Taekwoon adalah orang yang hangat.” Joohyun bingung. Baru kali ini ia bisa mengungkapkan perasaannya dengan leluasa. Padahal ini pertama kalinya ia bicara dengan Sooyeon. Selama ini hanya pada Seulgi Joohyun dapat menceritakan apa yang ia rasakan. “Mendapatkan Taekwoon sebagai suamiku adalah lebih dari cukup, Eonnie. Aku tidak pernah mengharapkan apa-apa darinya.”

Senyum haru layaknya seorang ibu pada menantunya terpeta di paras Sooyeon. Dalam hati ia menyakini kalau adiknya tidak salah memilih perempuan untuk menjadi istrinya. Baik dari Taekwoon maupun Joohyun, Sooyeon dapat melihat cinta yang terpancar di mata mereka. Sekali lagi Sooyeon membawa Joohyun ke dalam pelukan.

“Tapi, Eonnie. Boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Ya, apa saja, Sayang.”

“Bagaimana dengan orangtua Taekwoon?”

Sooyeon tersenyum simpul.

.

We’re orphan, dear.”

.

TBC

 

img_20161024_031328

Jung sister as Taekwoonie’s sister 😉

Advertisements

5 thoughts on “Accidentally Family [Chapter 8]

  1. mereka anak yatim? trus kenapa kakaknya bilang kalau taekwoon sebaiknya kasi’ tahu ortunya kalau dia sudah menikah. maksudx?

    aku kira pas kakak dan adik taekwoon datang, yg datang itu cewek masa lalunya. biasalah, orang ketiga. syukur bukan yha.

  2. Akhirnyaaaaaa setelah menunggu sekian lama update juga..
    Gara2 ff ini nih aku jd suka leorene hahahaha..
    Selama baca ff ini greget banget.. Kayanya ada tanda2 pasangan baru nih.. (seulgi hongbin) mereka cocok 😍
    Ffnya makin keren aja.. Ditunggu banget ini updatenya…
    Sebel pas baca ‘TBC’…. Hehehe…
    Sukses terus yaah bikin ff ini 💪😁

    • haiiii ^^ wahh makasih ya udah mau nungguin series ini. huhu maafkan author terngaret ini T^T
      yeayyy virus leorene tersebar wkwkw
      ecieee akhirnya ada yang nyadar wkwk iya mereka emang cocok banget apalagi pas liat artikel yg bila mereka cocok meranin jung dan seolnya CITT. wahh makasih banyakk, tulisanku masih banyak kekurangan kok. hehe kirain malah bosen bacanya karena kepanjangan.
      sama-samaa makasih yaaa ^^
      chap lanjutannya juga udh aku post. maaf kalo selama ini ga pernah balesin komen huhu real life kemaren tuh kejam banget :”)
      oiyaa terima kasih juga sudah mau baca dan meninggalkan jejak ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s