[1] – Red Pearl

red-pearl

RED PEARL

Starring by. Lee Riri (OC) featuring CNBLUE
Cho Kyuhyun, Park Chanmi, and the others.
Multichapter // Fantasy, Romance, Mystery, Dream // PG-18

zulfhania production © 2016

========INTRO========

tumblr_nognrscffl1u4pa6wo1_500n“Aku terbangun dan aku tak ingat dengan siapapun, bahkan namaku sekalipun.”

Lee Riri, 24 tahun, mahasiswi jurusan komunikasi spesialisasi broadcasting. Calon staf kreatif stasiun televisi KBS. Dari luar, ia tampak seperti gadis remaja pada umumnya. Namun di balik semua itu, dia memiliki dua kepribadian.

jungshinn“Seolah bukan hanya akulah satu-satunya orang yang mengenalnya.”

Lee Jungshin, 23 tahun, mahasiswa jurusan seni spesialisasi musik. Bassist CNBLUE. Ia berpikir hanya ialah satu-satunya orang yang memahami kekasihnya. Namun rupanya, semua tak sesederhana yang ia bayangkan.

yonghwan“Aku mengenalnya. Lebih dari sekedar teman. Tapi, dia melupakanku.”

Jung Yonghwa, 24 tahun, mahasiswa jurusan seni spesialisasi musik. Vokalis CNBLUE. Ada sebuah rahasia yang tak ingin ia beritahu pada teman-temannya. Namun, ia tak menyangka kalau menyimpan rahasia itu sama saja dengan membahayakan gadis itu.

minhyukn“Dia menyeramkan, tapi aku ingin sekali melindunginya.”

Kang Minhyuk, 23 tahun, mahasiswa jurusan seni spesialisasi musik. Drummer CNBLUE. Ia tidak akan pernah lupa dengan pemilik mata yang mengkilap merah saat menatap manik matanya beberapa bulan lalu.

jonghyunn“Aku melihatnya. Tepat di depan mataku. Dia… berubah.”

Lee Jonghyun, 24 tahun, mahasiswa jurusan seni spesialisasi musik. Gitaris CNBLUE. Ia berpikir ia hanya salah lihat ketika itu. Tetapi rupanya, ini nyata. Gadis yang selalu bersamanya dan teman-temannya itu berubah menjadi makhluk lain. Ia melihatnya.

3bcdb8d41d32db203c1040351f9c8ec3n“Aku hanya ingin dia kembali.”

Cho Kyuhyun, 27 tahun, staf produksi stasiun televisi KBS. Ketika ia sudah lelah mencari, saat itulah ia menemukannya kembali. Namun ia tahu, ini bukanlah hal yang mudah untuk membuat ‘sisi lain’ gadis itu kembali padanya.

bogbo7ncqaapn7hn“Dan kini, saatnya aku beraksi!”

Park Chanmi, 22 tahun, mahasiswi jurusan komunikasi spesialisasi jurnalistik. Jurnalis freelance. Sebagai biang gosip dan adik tiri dari salah satu member CNBLUE, ia harus siap siaga dalam melancarkan aksi menyebar gosip mengenai band yang satu itu. Dan berita kali ini benar-benar menarik!

cnblu-bluemingn

CNBLUE, band rintisan Seoul University yang terdiri dari 4 mahasiswa muda jurusan  seni spesialisasi musik yang hendak melangkah ke perindustrian musik di Korea Selatan. Usai hiatus setelah kepulangan salah satu member dari study exchange di luar negeri selama 6 bulan, stasiun televisi KBS merupakan tujuan awal mereka, dengan seorang gadis yang telah memiliki link untuk mengantar mereka ke sana.

========PROLOG========

Dulu kalau aku tak begitu, kelak bagaimana aku?
Dulu kalau aku tak di situ, kelak di mana aku?
Kini kalau aku begini, kelak bagaimana aku?
Kini kalau aku tak di sini, kelak di mana aku?

Tak tahu kelak ataupun dulu
Cuma tahu kini aku begini
Cuma tahu kini aku di sini
Dan kini aku melihatmu *)

*) dikutip dari novel ‘Summer in Seoul’ karya Ilana Tan

Aku mengerjapkan mata perlahan. Silau oleh cahaya.

“M-Mina-ya?”

Aku mendengar suara. Suara seorang laki-laki. Dekat sekali denganku.

“Mina-ya, kau sudah siuman?”

Kali ini aku merasa sepasang tangan menangkup pada wajahku. Samar-samar, aku dapat melihat sosok laki-laki yang berdiri di dekatku, menatapku dengan tatapan khawatir.

“Kau tidak apa-apa?” Laki-laki itu bersuara, sedikit terisak.

Kini, aku sudah dapat sepenuhnya melihat sosok laki-laki itu. Tetapi, laki-laki itu siapa?

Oppa merindukanmu, Mina-ya.”

Bibirku bergerak, menyusun sebuah kata. “O-oppa?” ucapku dengan suara parau.

“Iya, Oppa di sini, Mina-ya. Tenang saja, kau akan baik-baik saja,” laki-laki itu membungkukkan badan, lalu memelukku, dan kembali terisak.

O-oppa siapa?” tanyaku lirih—dan, aku ini siapa?

– [1] –
Red Pearl (1)

Sudah hampir setengah jam berlalu, Jungshin masih menatap amplop putih dengan perangko bergambar bendera negara Amerika Serikat di sudut kanan atas yang terletak di atas meja di depannya. Amplop itu datang ke basecamp-nya pagi tadi. Entah siapa yang mengantarnya. Minhyuk maupun Jonghyun pun tidak tahu. Mereka juga sudah melihat amplop itu di sana begitu mereka sampai di basecamp. Awalnya, Jungshin penasaran. Tetapi begitu melihat gambar bendera negara Barat Tengah di sudut kanan atas amplop itu, ia urung membuka, lalu membiarkan amplop itu tergeletak di atas meja hampir setengah hari.

“Buka saja bila memang kau penasaran,” komentar Minhyuk dari balik manga yang sedang ia baca. Ia membenarkan posisi berbaringnya di atas sofa, lalu menatap Jungshin dengan intens. “Daripada kau memelototi amplop itu terus, lebih baik kau membukanya. Masalah akan selesai setelah kau membuka amplop itu.”

“Aku takut, Minhyuk-ah,” ucap Jungshin.

“Bagaimana kau bisa takut kalau kau sendiri belum membuka amplop itu dan mendapatkan jawabannya? Ayolah, Jungshin, segeralah bertindak! Kau seperti perempuan saja yang terlalu banyak berpikir,” keluh Minhyuk, lalu kembali berbaring dan melanjutkan membaca manga.

Jungshin mendesah pelan. Bagaimanapun juga Minhyuk benar. Ia harus membuka amplop tersebut untuk mendapatkan jawabannya. Ketika Jungshin hendak membuka amplop tersebut, suara Jonghyun dari arah pintu mengalihkan perhatiannya. Minhyuk pun demikian.

Yya, kerjaan siapa lagi ini?!”

Kemudian Jonghyun masuk ke dalam basecamp dengan kening berkerut marah dan tangan memegang secarik kertas.

“Siapa lagi yang meletakkan kata-kata murahan ini di depan pintu, hah?!”

Jonghyun meletakkan kertas itu di atas meja sambil menggebrak meja, sehingga Jungshin dan Minhyuk dapat membaca tulisan bertinta hitam itu yang tercetak dengan jelas di kertas tersebut.

SSTT… JANGAN MASUK KE DALAM! MINHYUK DAN JUNGSHIN SEDANG BERCINTA DI DALAM!

“Apa-apaan ini?!” Minhyuk berdiri dari duduknya sambil membanting manga ke atas sofa setelah membaca tulisan tersebut. “Gadis itu benar-benar keterlaluan! Akan kuberi dia pelajaran!”

Lantas Minhyuk merampas kertas di atas meja, lalu melangkah keluar basecamp dengan langkah kaki lebar.

“Beri dia pelajaran yang sebesar-besarnya sampai dia kapok, Kang Minhyuk! Lama-lama aku sebal padanya!” seru Jonghyun. Setelah Minhyuk tak terlihat lagi, pandangan Jonghyun teralih pada amplop di tangan Jungshin. “Astaga, Jungshin! Kau belum membuka amplop itu juga?!”

Jungshin memperlihatkan deretan giginya yang putih. Nyengir.

“Sini, biar aku yang buka!” Tanpa aba-aba Jonghyun merebut amplop tersebut dari tangan Jungshin.

Hyung!” Jungshin mengeluarkan bentuk protes.

Namun, terlambat, Jonghyun sudah membuka amplop tersebut dan membaca isinya. Jungshin melihat air muka Jonghyun berubah datar setelah membaca isinya. Mendadak, Jungshin merasa berdebar. Apa hasilnya? Kenapa ekspresi Jungshin berubah seperti itu?

“Selamat, Jungshin-ah,” kata Jonghyun kemudian. Ia kembali menyerahkan amplop beserta isinya pada Jungshin.

Saat itulah Jungshin melihat dengan jelas tulisan yang tercetak di selembar kertas di dalam amplop.

SELAMAT! ANDA DITERIMA STUDY EXCHANGE SELAMA SATU SEMESTER DI UNIVERSITAS KAMI! SELAMAT BERGABUNG DI JUILLIARD SCHOOL!

Tangan Jungshin gemetar. Seharusnya Jungshin bahagia. Seharusnya saat ini ia bersorak kesenangan. Memeluk Jonghyun erat-erat sambil berteriak bahagia. Bagaimanapun juga ini adalah impiannya untuk belajar musik di Juilliard School. Tetapi, kenapa ia sama sekali tidak bahagia?

“Jadi, apakah kau benar-benar akan pergi mengikuti Yonghwa ke sana?” tanya Jonghyun sambil duduk di atas sofa.

Jonghyun pun tidak terlihat bahagia. Meskipun laki-laki itu mengucapkan selamat padanya, tetapi nyatanya, Jungshin sama sekali tidak melihat laki-laki itu benar-benar mengucapkan selamat padanya. Ekspresi Jonghyun tidak bisa berbohong, bahwa laki-laki itu sedih.

Jonghyun mendesah pendek. “Kita sudah hiatus selama 6 bulan ini karena kepergian Yonghwa, lalu ketika Yonghwa sudah kembali ke sini, apakah kita akan menambah masa hiatus kita 6 bulan lagi karena kepergianmu nanti?”

Hyung.”

“Jujur sajalah padaku, Jungshin-ah. Kau sudah lama menantikan pengumuman itu. Kau pasti bahagia kan bisa pergi ke sana untuk menyusul Yonghwa dan meninggalkanku dan Minhyuk hanya berdua di sini?”

“Bukan begitu, hyung.”

“Bubarkan saja band kita ini apabila memang kau juga akan pergi, Jungshin,” ucap Jonghyun kemudian. Menutup pembicaraan mereka.

* * *

Hari ini Riri terdampar di kelas Teknologi Komunikasi. Dua tahun lalu, ia sudah mengambil mata kuliah tersebut. Namun karena nilainya tidak mencapai batas minimal, ia pun mengulang kembali kelas tersebut pada semester ini. Sialnya, ia ditempatkan di kelas yang isinya kebanyakan mahasiswa dari jurusan komunikasi spesialisasi jurnalistik. Tidak ada satu pun teman Riri yang sekelas dengannya. Oh, tetapi bukankah Riri memang tidak memiliki teman di kampus ini?

Suasana kelas yang hening mendadak langsung heboh ketika seorang laki-laki berdiri di bingkai pintu kelas dengan pandangan yang terarah ke seluruh penjuru kelas. Riri kenal laki-laki itu. Kang Minhyuk. Drummer band populer di kampus yang sudah hampir satu semester ini hiatus karena ditinggal pergi oleh vokalisnya study exchange ke luar negeri. Tentu saja Riri tahu. Itu bukan berarti ia adalah pengikut band tersebut seperti gadis berambut panjang yang selalu duduk di sebelahnya itu, melainkan karena…

“Mati aku!” Gadis berambut panjang yang duduk di sebelah Riri mendadak loncat dari duduknya dan mengumpat di balik punggung Riri. Menghentikan lamunan Riri.

Yya, Park Chanmi! Aku sudah melihatmu!” seru Minhyuk dari bingkai pintu. Dan Riri baru menyadari kalau pandangan laki-laki itu kini terarah padanya dan gadis berambut panjang yang tadi duduk di sebelahnya.

“Sembunyikan aku, eonni! Sembunyikan aku!” bisik Chanmi pada Riri. Terlihat jelas kalau gadis berambut panjang itu tampak ketakutan.

Yya, Park Chanmi! Apa yang kau lakukan di sana?”

Riri dan Chanmi sama-sama terlonjak kaget ketika menyadari Minhyuk sudah berdiri di depannya. Chanmi semakin menciut di belakang punggung Riri.

“Sembunyikan aku, eonni,” gadis bernama Chanmi itu masih mengoceh.

Yya, kau pikir kau bisa bersembunyi dariku, hah?! Pasti kau yang menempel kertas itu di depan pintu basecamp-ku kan?!” Minhyuk menarik lengan Chanmi dari balik punggung Riri.

Eonni!” Chanmi juga menarik lengan Riri hingga gadis itu terbangun dari duduknya. Ia lalu beralih pada Minhyuk yang masih menarik lengannya dan tertawa. “Hahaha, kau lucu sekali, oppa. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Itu bukan tulisanku.”

“Aku sudah kenal tulisanmu, Park Chanmi! Berhentilah mengelak—dan berhentilah menarik lengan orang lain!”

Sadar ‘orang lain’ yang dimaksud adalah dirinya, Riri pun menangkis tangan Chanmi dari lengannya. Namun dengan sigap pula, Chanmi menangkis tangan Minhyuk dari lengannya dan ia kembali bersembunyi di balik punggung Riri.

“Aish, anak nakal ini!” umpat Minhyuk, mencoba menahan kesal saat melihat Chanmi kabur.

“Siapa suruh kau tidak memperbolehkanku masuk ke basecamp-mu. Pasti kau sedang enak-enak bersama Jungshin oppa, kan? Huh, dasar laki-laki mesum!” ledek Chanmi dari balik punggung Riri.

“Me-mesum?! YYA!” Suara Minhyuk kembali menggelegar, dan ia kembali hendak menangkap Chanmi. Namun kali ini gadis itu lebih gesit. Ia berhasil memainkan punggung Riri sebagai tameng antara dirinya dan Minhyuk yang hanya berjarak kurang dari satu meter.

“Sudah kubilang berhenti menyebar gosip-gosip aneh tentang band kami. Kau benar-benar adik yang kurangajar! Kemari kau!”

Lagi-lagi Chanmi dengan gesit menarik pundak Riri untuk menjadikannya tameng. Riri sampai merasakan pundaknya sakit karena ditarik oleh gadis itu.

Minhyuk mendesah keras. Tangannya berkacak pinggang. Lalu ia memberanikan diri untuk menatap Riri yang berdiri menghalangi Chanmi.

“Maaf, Noona, tetapi bisakah kau minggir sekarang? Aku ada perlu dengan adikku yang sedang bersembunyi di balik punggungmu,” tanya Minhyuk.

Karena Riri tidak mau mencari masalah dengan kedua orang itu, maka tanpa disuruh dua kali pun ia langsung bergeser ke kanan satu langkah, dan tepat saat itu Minhyuk menarik lengan Chanmi yang lengah ketika tidak lagi memiliki tameng.

Eonni!” Chanmi berteriak dengan suara memelas, sementara Minhyuk menyeretnya keluar kelas. “Selamatkan aku, eonni!

“Berhentilah berteriak! Kau tidak akan bisa selamat dariku, Park Chanmi!” kata Minhyuk.

Riri hanya memerhatikan kedua kakak beradik itu dengan tatapan tanpa ekspresi. Kedua orang itu selalu saja tidak pernah akur setiap kali datang ke kelas ini.

Kelas menjadi lengang setelah kepergian dua orang itu. Riri kembali duduk di bangkunya sambil mengusap pundaknya yang masih terasa sakit. Padahal ia tidak kenal dengan gadis bernama Chanmi itu, tetapi gadis itu tampaknya tahu ia lebih tua darinya karena memanggilnya dengan sebutan eonni. Dan ini pertama kalinya ia mendengar ada yang memanggilnya eonni, bahkan pertama kalinya ia dianggap ada oleh orang lain.

Ponsel Riri kemudian bergetar. Ada telepon masuk. Begitu melihat nama si penelepon, lantas Riri segera mengangkatnya.

“Ya, Presiden-nim?”

* * *

“Oh, begitu,” gumam Jonghyun. Tangannya memegang ponsel yang ditempelkan di telinga. “Baiklah, kami akan menjemputmu di bandara besok.”

“Begitu saja?” Suara dari sebrang ponsel menyahut dengan heran. “Kau tidak senang kalau aku kembali ke Seoul lebih cepat?”

Jonghyun tidak langsung menjawab. Ia malah melirik pada Jungshin yang masih duduk di tempat yang sama dengan tangan memegang amplop kiriman dari negara Perancis.

“Bagaimana bisa aku senang apabila kau kembali, tetapi yang lain malah akan pergi?” ucap Jonghyun kemudian.

Jungshin mengangkat kepala, balas menatap Jonghyun yang sedang melirik tajam ke arahnya. Ia tahu, laki-laki itu sedang menyindirnya sekarang.

“Maksudmu?” Suara dari sebrang ponsel kembali menyahut.

“Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan, Yonghwa-ya. Kami akan menunggumu besok di bandara.”

Usai berkata begitu, Jonghyun menutup ponselnya.

Hyung,” tiba-tiba saja Jungshin bersuara. Jonghyun hanya berdeham tanpa tertarik untuk mendengarkan. “Apakah kau pernah melepas mimpimu yang sudah lama kau impikan?”

Jonghyun tertegun. Ia menoleh pada Jungshin dan melihat air muka laki-laki itu berubah sedih.

“Aku ingin sekali menjadi pemusik terkenal. Berdiri di depan para penggemar dengan bass di tanganku. Aku ingin pergi ke New York, belajar musik di sana. Orang tuaku bilang, Juilliard School adalah sekolah musik terbaik di dunia. Aku harus pergi belajar di sana apabila memang aku ingin menjadi pemusik. Jujur, aku iri sekali pada Yonghwa hyung saat dia diterima study exchange ke sana, maka dari itu aku juga mendaftar di sana untuk semester depan. Tetapi aku sadar diri, hyung, kalau aku tidak bisa,” Jungshin berhenti sejenak. Ia menatap Jonghyun intens sebelum melanjutkan, “Aku sadar diri kalau aku tidak bisa pergi sendirian. Aku tidak bisa meninggalkan band kita.”

“Aku memang iri pada Yonghwa hyung, tapi sekaligus aku kecewa padanya. Kenapa dia harus pergi? Kenapa dia meninggalkan kita hanya untuk mimpinya sendiri? Kita membentuk band ini bukan main-main, aku yakin itu. Aku yakin kita akan mengukir mimpi kita bersama saat membentuk band ini. Tetapi aku merasa Yonghwa hyung tidak berpikir seperti itu. Dia pergi meninggalkan kita, membuat kita kehilangan vokalis, membuat band kita tidak hidup lagi.”

“Awalnya aku pesimis, hyung. Tetapi Riri menyemangatiku. Berkat dia pula, kita memiliki kesempatan untuk tampil di KBS. Meskipun kita harus menunggu kedatangan Yonghwa hyung dulu untuk bisa tampil di sana, tetapi aku percaya kalau bersama akan terasa lebih baik daripada hanya sendiri. Aku sadar kalau aku takkan bisa jadi apa-apa apabila aku hanya berjalan sendirian. Pun aku sadar bahwa aku hanyalah orang tak berbakat yang diundang ke band ini untuk menggantikan posisi bassist yang lama.”

“Jungshin-ah,” entah sejak kapan air muka Jonghyun berubah bersalah.

Jungshin tersenyum. “Seharusnya aku berterima kasih padamu karena kau telah memberikan kesempatan padaku untuk menggantikan posisi bassist yang lama, bukannya pergi meninggalkanmu demi keegoisanku semata.”

Jonghyun bergerak mendekati Jungshin, lalu memeluk laki-laki itu. “Maaf, Jungshin-ah. Aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu melepas mimpimu.”

“Tidak apa-apa, hyung. Mungkin aku akan menyesal telah melepas kesempatanku untuk belajar musik di Juilliard School, tetapi aku akan lebih menyesal lagi apabila meninggalkan CNBLUE,” kata Jungshin. “Dan juga meninggalkan Riri sendiri di Seoul. Dia… tidak boleh dibiarkan sendirian.”

* * *

Studio rekaman musik mendadak bising oleh suara volume yang berdenging. Para staf yang sedang mengarahkan salah satu boyband ternama untuk rekaman mendadak panik. Salah satu di antara mereka merogoh handy talky, dan berbicara pada saluran 4. Saluran yang menghubungkannya dengan Ruang Kendali Siaran atau biasa disebut Master Control Room (MCR).

“Saluran 4, Wonwoo berbicara! Apa yang terjadi di dalam? Kenapa suara volumenya jadi seperti ini?”

Tidak ada sahutan apapun.

“Saluran 4, Wonwoo kembali berbicara! Apa yang terjadi? Siapa yang sedang berjaga di MCR?!”

Sementara itu, di ruang kendali siaran, Riri berjongkok di bawah meja dengan kedua tangan menutup erat kedua telinganya. Kedua matanya terpejam erat. Wajahnya tampak menahan rasa sakit.

Beberapa menit yang lalu, Riri masih mengatur sound untuk acara rekaman yang akan dilakukan oleh salah satu boyband ternama naungan agensi SM. Hanya ia sendiri yang berada di ruangan. Seharusnya ia bersama peserta magang yang lain, tetapi mereka datang telat dan membiarkan Riri bertugas sendirian. Ketika ia sedang memperbesar volume, mendadak kepalanya terasa sakit. Lantas tangannya tak sengaja bergerak untuk menaikkan volume sampai full, menciptakan suara bising dari arah studio rekaman. Tetapi Riri tidak sempat untuk menurunkan volumenya kembali. Matanya mendadak nyalang menatap sekitar, lalu sedetik kemudian kembali meredup, lalu kembali nyalang. Dan itu terjadi selama beberapa kali hingga akhirnya ia memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja. Kemudian suara aneh mulai bermain di telinganya. Suara teriakan. Suara pekikan. Suara bentakan. Suara isakan. Suara pukulan. Suara berdebam.

“Saluran 4, Wonwoo kembali berbicara! Apa yang terjadi? Siapa yang sedang berjaga di MCR?! Cepatlah menjawab atau aku akan pergi ke sana sekarang juga!”

“Tidak, tidak,” Riri bersuara dengan suara bergetar. Ia mulai kehabisan napas. Matanya masih terpejam erat menahan rasa sakit. “Jangan sekarang. Kumohon, jangan sekarang.”

“Saluran 4, Taehyung berbicara! Riri yang sedang bertugas di MCR! Aku saja yang pergi ke sana, sunbae-nim!”

“Jangan, hhh… Jangan sekarang, hhh…” Napas Riri mulai terengah-engah. “J-Jungshin-ah, hhhh… tolong….”

Mendadak, Riri terdiam. Napasnya sudah kembali stabil. Suara-suara aneh itu berhenti bermain di telinganya. Rasa sakit pada kepalanya pun mulai memudar. Matanya yang terpejam perlahan terbuka.

Namun ada yang aneh.

Manik mata itu kini berubah berwarna merah.

Dan tepat saat itulah, pintu ruangan MCR terbuka dan masuklah seorang laki-laki berseragam khas staf stasiun televisi KBS.

Yya, Peserta Magang Lee Riri, apa yang sebenarnya ter—?!”

Ucapan laki-laki itu terhenti ketika tatapannya bertemu dengan red pearl milik gadis itu. Ia terpaku di tempat.

“Siapa katamu? Lee Riri?” Manik merah itu kemudian mengkilap, mengeluarkan sinarnya yang berwarna kemerahan. “Tapi aku bukan Lee Riri.”

—tbc

Bukan maksud ingin beralih dari JTTP, tapi tiba-tiba ide ini sekelebat muncul di kepalaku, dan seperti biasa, aku harus segera menulisnya biar gak hilang idenya. So, jadilah ff ini dengan keterbatasan ide yang mampir di otakku. Oh ya, ini terinspirasi dari Kill Me Heal Me, dan adegan Minhyuk-Chanmi di atas kukutip sekilas dari adegan Park Seo Joon-Hwang Jung Eum saat di bandara bersama Jisung, wkwk.. Mereka kakak beradik yang lucu, kan? 🙂 Well, enjoy it. Semoga kak fris suka, semoga reader lain suka. Happy reading ^^

Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

14 thoughts on “[1] – Red Pearl

  1. Ahh gila ini keren bangett:’3 berasa lagi baca sinopsis drama ini/.\
    alur ceritanya yang rumit itu lohh, jarang banget buat ff2, jarang kan ada yang model kek gini><
    ahh pokoknya aku suka banget sama ff ini, gak tau harus komentar apalagi pokoknya/? di tunggu kelanjutannya<3

    baru nemu ff ini setelah aku ninggalin jejak ff yg lain di blog svt :3 hoho

  2. Waaah aku bari sempet baca wkwkwk maafkaaan

    serasa lagi nonton dramanya nih wkwkwk bagus banget zul, aku sukaa. seperti biasa pembawaan sama bahasamu enak dibaca. good luck!

    • Waah aku jg baru baca kalo kakpel komen, wkwk

      Hihi makasih ya kakpeeeel, ntar kalo aku dah mood lagi sama CNBLUE bakal kulanjutin ff ini. Masih ngefeel sama SVT soalnya sekarang, wkwk

  3. Allowww Zul… sebenernya aku udah baca ini semalem cuma blm sempet komen karena jaringan lemotttt. Dan kini saatnya ku komen panjangs, semoga gak bosen plus capek bacanya >.<

    As always aku suka dengan gaya bahasamu, simple tapi rapi juga sooo smooth, aku jadi berasa nonton drama korea baca ff-mu kwkwkwkw. Krn kamu bilang ini terinspirasi dr drama Kill me Heal Me, jd udah bs aku tebak kalau Riri punya kepribadian banyak (iya gak dih? Sotoy mode on) … penasaran gimana aja kepribadian diaaa. Dan aku mencium alur cerita yang cukup rumit di sini krn Riri dikelilingi cogan semua u.u (summon wao, lah)

    Buttttt soal feel ff ini… i dunno why but i can't really feel 'something' about this ff. Dan penyebabkan karena emang aku jarang baca ff yg cast-nya CNBLUE (gak pernah malah-keculai ff Minhyuk,itupun dia jd peran pendamping doang). Mungkin inilah saatnya aku membiasakan diri untuk membaca ff yg pemerannya mereka yah hohohoho

    Dan omaigat… terima kasih telah mengabulkan rikwes-ku Zul. Aku bahkan ampe kesel sendiri baca deskripsi ttg Chanmi dan kelakuannya di ff ini kwkwkwkwk XD but i ship Chanmi-Minhyuk btww. Akhhhhh mau dongg jd adik tiri Minhyukkkk di real lifeee /mimpi

    Yodahhh sekian dulu komen drabble ini…. semangat terus nulis ff-nyaa. 화이팅!!!! :* '-')6 :3

    • Hidup dikelilingi cogan memang sangat rumit kak :’

      Hahaha, gapapa kak, pelan pelan aja bacanya biar dapet feel, sejujurnya ini pun pertama kalinya aku bikin cast cnblue, tapi entah kenapa aku langsung dapet feelnya karena mereka emang personil band, jadi enak ngebayanginnya. Yah, meskipun aku juga belum benar2 merasakan chemistry dari ke4 orang ini.

      Mian kak, gak bisa jadikan chanmi orang antagonis, :” karena sepertinya tokoh chanmi bisa dijadikan untuk tambahan komedi di tengah cerita yang rumit ini, HAHAHA

      Yuhuuuu~ aku masih menanti ficletmu kak!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s