[Oneshot] Cold Summer

ir-req-cold-summer-e1466928705287.png

 

A fanfiction by wonxian©

[NCT] Nakamoto Yuta – [OC] Ji Saehyun – [NCT] Lee Taeyong

Support cast’s : find by your self

Genre : Romance, Sad, Drama  // Length : Oneshot // Rate : PG15

Poster by Irish

 

Disclaimer

Cast’s milik Tuhan, Orang tua dan agensi masing-masing, I only own the story, don’t plagiat or copy-paste without my permission!Hargai penulis yang sudah susah payah mencari ide ceritanya.

Direkomendasikan sambil denger lagunya Taeil – Because of You, gak nyambung emang, tapi seenggaknya musik balladnya ngena wkwkwk

Summary

Semua tak berjalan sesuai yang aku harapkan,

Semua berujung duka…

*CS*

BRUUK!!!

 

Tubuh gadis itu dihempaskan ke permukaan tanah tepat di depan sebuah toko swalayan kecil dengan kasarnya oleh seorang pria paruh baya berjas hitam itu. Wajahnya sudah penuh dengan bercak darah. Luka di sudut bibirnya yang berdarah didapatinya dari tamparan keras tangan kasar pria pauh baya itu. Pria paruh baya tadi menatap sinis pada si gadis, sorot matanya memancarkan kebencian yang mendalam.

“Dasar gadis bodoh! Gadis miskin! Bukankah aku sudah peringatkan padamu untuk membayar secepatnya?! Kau sudah kuberi waktu yang cukup lama untuk melunasi hutang-hutang orangtuamu!” teriak pria paruh baya itu tepat di depan wajah gadis itu.

Gadis itu hanya diam, bibirnya terkatup rapat. Enggan untuk membalas perkataan pria paruh baya yang ternyata adalah seorang rentenir kelas kakap.

“Apa kau bisu?! Atau tuli?! Hei, Ji Saehyun!” Pria pruh baya itu geram lantaran perkataannya tak digubris oleh Saehyun, gadis tadi.

“Kalau kau tidak buka mulut juga, akan ku bunuh kau!” pria itu meraih sebilah kayu yang berukuran lumayan besar yang akan digunakannya untuk memukul tubuh kurus Saehyun.

Pria paruh baya bernama Tuan Kang itu mengambil ancang-ancang untuk memukul Saehyun. Matanya membulat menunjukkan kemarahannya yang begitu mendalam pada gadis lemah yang tersungkur di bawah kakinya.

Dan,

BRAAAKKK!!!

Sebuah suara ringisan kesakitan terdengar jelas ditelinga Saehyun. Tuan Kang berhasil memukulkan kayu besar tadi,namun bukan pada tubuh Saehyun. Melainkan pada tubuh seorang pemuda yang tiba-tiba saja datang dan memeluk Saehyun demi melindungi gadis itu.

“Yuta…” ucap Saehyun dengan wajah terkejutnya.

Yuta, pemuda tadi hanya tersenyum miris membalas sapaan gadis yang tengah dipeluknya itu. Menyadari bahwa dirinya salah sasaran, membuat Tuan Kang yang dikenal sebagai rentenir yang tak punya rasa iba itu semakin geram. Dan malah memukuli Yuta secara bertubi-tubi.

“Dasar pemuda bodoh! Enyah kau! Jangan halangi aku untuk membunuhnya!” gertak Tuan Kang dengan tangannyayang masih setia memukuli Yuta.

Yuta tetap bertahan menerima pukulan keras dari Tuan Kang dan tidak memberikan perlawanan apapun, meski seenarnya tubuhnya lemah dan tak kuat lagi untuk menahan pukulan tersebut. Bahkan Yuta sengaja memeluk Saehyun erat, menelusupkan wajah mungil si gadis ke dalam dekapannya agar tidak melihat ringisan kesakitan dirinya.

Kini keduanya berakhir di depan sebuah apotik kecil yang tak jauh dari toko swalayan yag menjadi tempat kejadian pemukulan tadi setelah sebelumnya Tuan Kang dan ketiga bodyguard-nya memilih untuk melepaskan mereka akibat sikap pantang menyerah Yuta yang terus melindungi Saehyun. Karena tekadnya itu pula kini seluruh tubuhnya dipenuhi luka lebam.

“Aish! Sakit, bodoh!” tegurnya pada Saehyun saat gadis itu berusaha mengobatiluka lebam di wajahnya.

“Salahmu sendiri kenapa tiba-tiba muncul. Berlagak sok kuat pula!”

“Lalu, kalau aku tadi tidak muncul, apa yang akan kau lakukan?”, gerakan tangan Saehyun terhenti saat mendnegar pertanyaan Yuta, “Hanya diam dan terus menerima pukulan dari pria tua itu?!” lanjut lelaki keturunan Jepang itu yang terkesan memojokkan Saehyun.

“Lihatlah! Ditanya seperti itu saja kau hanya bisa diam.” Kesal Yuta, ‘Apalagi kalau aku beri pertanyaan mengenai perasaanmu padaku, Ji Saehyun…’ lirihnya dalam hati.

“Berisik! Aku bisa mengatasi masalahku sendiri. Kau saja yang terlalu ikut campur, bodoh!” Saehyun tak mau kalah.

Sreet

Gadis itu beranjak dari tempat duduknya, “Maaf, lagi-lagi aku merepotkanmu. Aku harap ini yang terakhir kalinya kau menderita karena diriku.” Saehyun berucap tanpa berani menatap wajah Yuta yang saat ini menatapnya dengan tatapan pilu.

“Aku pergi.”

Hingga akhirnya gadis bermarga Ji itu lebih memilih melangkahkan kakinya meninggalkan Yuta. Namun sayang, langkahnya terhenti akibat tangan lembut Yuta yang menggenggam pergelangan tangannya. Menahannya agar tidak pergi.

“Kau pikir aku melakukannya dengan rasa iba seperti perkiraanmu?” kali ini Yuta bersungguh-sungguh.

“Maaf Yuta, aku harus pergi karena masih ada yang harus aku kerjakan. Pulanglah duluan.” Saehyun melepaskan tautan tangan yang Yuta buat dan berlalu meninggalkan Yuta sendirian.

***

“Selalu saja seperti ini. Kenapa selalu Yuta yang harus menderita karena aku?! Oh Tuhan!!!” Saehyun bermonolog ria mengiringi langkah kakinya di tengah gelapnya malam yang hanya disinari lampu-lampu taman.

“Kapan aku bisa hidup dengan bebas? Lepas dari jeratan orang-orang menyebalkan itu?” Saehyun menghela nafas gusar, dadanya sesak tiap kali ia mengingat kehidupannya yang benar-benar jauh dari kata bahagia.

Ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya yang entah kemana dan hanya mewarisi hutang-hutangnya yang membuat gadis remaja itu harus berhadapan dengan para rentenir biadap yang bahkan tak jarang sebuah pukulan atau tamparan keras didapatinya.

Langkah Saehyun tiba-tiba saja terhenti, ditadahkannya kepalanya menghadap langit malam musim panas yang gelap. Matanya memanas, di ujung pelupuk matanya bahkan sudah terkumpul cairan-cairan bening yang bisa meluncur kapan saja. Namun, Saehyun enggan mengeluarkan air mata berharganya hanya untuk menangisi hidupnya. Toh seberapa banyak pun air mata yang keluar tidak akan bisa merubah hidupnya, kecuali dengan bekerja keras dan sungguh-sungguh. Itulah prinsip hidup seorang Ji Saehyun.

Baru saja Saehyun hendak melangkahkan kkainya lagi, sepasang tangan tiba-tiba saja melingkar di pundaknya. Gadis itu tahu betul siapa pelakunya. Saehyun hanya memutar bola matanya malas menanggapi perlakuan dari orang tersebut.

“Singkirkan tanganmu sebelum aku yang menyingkirkannya, Lee Taeyong!”

“Kau tahu ini aku?” pemuda yang dipanggil Taeyong itu malah balik bertanya dengan riang.

“Siapa lagi yang akan berbuat seenaknya sepertimu?”

“Aku tidak menyangka kau sering memperhatikanku, Saehyun.”

“Terserah kau saja.”

Saehyun hendak melangkah namun lagi-lagi langkahnya ditahan oleh Taeyong yang kembali mendekapnya dari belakang. Kali ini, pemuda Lee itu menelusupkan wajahnya pada bahu Saehyun yang terekspose karena hanya mengenakan t-shirt berlengan pendek.

“Jangan pernah menghindar dariku,” sesaat Saehyun tertegun atas apa yang diucapkan oleh Taeyong, mengingat Taeyong bukanlah orang yang mudah berkata manis seperti ini apalagi dengan nada yang begitu lembut.

“Jangan pernah berpaling dariku, dan malah berduaan dengan pria lain. Apalagi pria itu adalah orang yang paling menyebalkan seperti bocah Jepang yang bodoh  itu.” Seketika reaksi yang diberikan Saehyun malah helaan nafas kesal disertai ekspresi kesalnya pada Taeyong.

“Jangan pernah menyebut Yuta bodoh, Lee Taeyong!” dengan sekali gerakan, Saehyun berhasil terlepas dari dekapan Taeyong.

“Kenapa? Dia itu memang bodoh, sudah tahu kau tidak pernah menyukainya tapi dia tetap saja mendekatimu. Bukannya itu bodoh?”

“Huh, sepertinya kau sedang membicarakan dirimu sendiri.”

Taeyong diam, “Karena aku tidak pernah menujukkan bahwa aku juga menyukaimu, bukan? Kau sama saja seperti Yuta. Bedanya kau hanya mau menang sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, sedangkan Yuta, dia mengerti aku dan memahami bagaimana kehidupanku.” Lanjut Saehyun yang semakin membuat Taeyong mengepalkan kedua lengannya.

“Yuta itu lelaki hebat, yang mau mendengarkan orang lain, dan tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain! Tidak seperti dirimu yang-“

“Aku mencintaimu dengan caraku sendiri, Ji Saehyun! Aku berbeda dengannya, jadi,” Taeyong menghela nafas kasar sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “Jangan samakan aku dengan orang itu!”

Saehyun tertegun mendengar penuturan Taeyong yang terbilang mendadak itu. Setahunya Taeyong bukanlah orang yang mudah mengatakan hal-hal mengejutkan meski tingkahnya selalu saja membuat gadis itu kesal setengah mati.

Taeyong melangkah mendekatkan dirinya pada Saehyun, kedua lengannya terangkat dan mencengkram kuat bahu Saehyun. Sedang gadis Ji itu hanya bisa diam mendapati ekspresi wajah Teyong yang terlihat begitu serius, sorot matanya begitu tajam.

“Ingatlah, suatu hari nanti aku pastikan kau akan menyesali apa yang kauucapkan hari ini, Ji Saehyun.”

Taeyong lantas pergi meninggalkan Saehyun yang masih terpaku ditempatnya, berusaha memahami kalimat sakartis pemuda itu. Saehyun memutar badannya hingga seratus delapan puluh derajat demi melihat sosok tinggi Taeyong yang mulai menghilang dari pandangannya.

Sementara itu tanpa mereka sadari, perbincangan mereka disaksikan oleh sepasang mata yang bersembunyi dibalik pohon besar tak jauh dari tempat Saehyun berdiri saat ini.

“Dasar bodoh” Umpatnya.

***

Esok harinya, Yuta mendatangi toko swalayan milik Saehyun. Dilihatnya gadis itu tengah membereskan barang-barang jualannya yang berserakan di atas lantai. Terlebih, keadaan toko gadis itu terlihat sangat memprihatinkan. Barang-barang berserakan di mana-mana, ditambah ada beberapa tongkat kayu yang sepertinya digunakan untuk mengobrak-abrik toko Saehyun.

“Kau tidak apa-apa?” Yuta langsung menghampri Saehyun dengan panik.

Saehyun hanya diam terpaku, menunduk, menghindari tatapan Yuta. Merasa ada yang aneh dengan tingkah Saehyun akhirnya Yuta memberanikan diri mengulurkan tangannya, mengangkat wajah mungil gadis itu.

Yuta terkejut begitu melihat wajah Saehyun secara keseluruhan. Sudut bibir gadis itu berdarah, pelipisnya terlihat memar, jika diperhatikan lagi dari ujung rambut hingga ujung kaki keadaan Saehyun tidaklah baik. T-shirt warna putihnya sangat kotor dan bagian lengannya sedikit robek. Tak lupa, pergelangan tangannya juga ikut memar. Tanpa basa-basi lagi, Yuta langsung merengkuh tubuh lemah Saehyun, membawanya kedalam pelukannya.

Saehyun menangis tersedu-sedu, memeluk balik tubuh Yuta. Tubuhnya bergetar hebat. Tangan Yuta terangkat mengelus rambut kecoklatan milik Saehyun, sedang tangan yang satunya lagi mengelus pundak gadis itu berusaha menenangkan.

“Sudahlah jangan menangis lagi, lebih baik kita obati luka-lukamu, hmmh?” bujuk Yuta yang hanya dijawab anggukan kecil oleh Saehyun.

Yuta dengan telaten membersihkan dan mengobati luka-luka di sekujur tubuh Saehyun. Sedangkan gadis itu hanya menatap lurus dengan pandangan tak fokus.

“Kau bilang padaku tidak usah menangis, tapi kau sendiri malah memasang wajah menyedihkan seperti itu, Yuta.” Tutur Saehyun saat dilihatnya Yuta yang malah memasang ekspresi wajah sedih.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau mereka akan datang? Atau setidaknya kau lawan mereka.”

“Mereka datang secara tiba-tiba, dan aku tidak diberi kesempatan untuk melawan mereka. Ah, bukan! Lebih tepatnya aku tidak punya hak untuk melawan mereka.”

Saat Saehyun tengah menjawab pertanyannya, atensi Yuta malah tertuju pada susut bibir gadis itu yang terluka, dan secara perlahan, lengan Yuta yang bebas mulai meraih sudut bibir Saehyun yang membuat bibir gadis itu terkatup rapat. Sekon berikutnya pemuda itu mulai mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka.

BRAAAAK

Pintu toko yang tetutup rapat terbuka dan mengeluarkan suara deguman keras, menampakkan sosok pemuda bertubuh tegap dengan tatapan tajamnya, Lee Taeyong. Merajut langkah lebar-lebar, Taeyong mendekat ke arah Saehyun dan Yuta, menatap sesaat pada pemuda itu, lalu beralih menatap si gadis.

Taeyong menarik paksa Saehyun hingga membuat gadis itu berdiri meski tak setegap biasanya.  Kedua tangan kekarnya mencengkram kuat bahu milik gadis itu, sementara manik hitamnya menatap tajam ke arah hazel milik Saehyun. Terlihat jelas tatapan itu adalah tatapan kemarahan  seorang Lee Taeyong, entah apa yang membuatnya begitu marah kali ini. Beberapa detik berikutnya, Taeyong mencium paksa Saehyun tepat dihadapan Yuta. Bahkan ciuman itu lebih terkesan memaksa. Kedua tangan Saehyun memukul-mukul dada bidang Taeyong berusaha melepaskan diri dari belenggu pemuda Lee itu. Sementara Yuta, matanya memanas, kedua tangannya terkepal kuat, hatinya sakit menyaksikan gadis yang dicintainya tengah berciuman dengan lelaki lain. Bukan, lebih tepatnya dicium paksa oleh lelaki lain yang tak lain adalah orang yang sangat dibencinya, Lee Taeyong. Yuta bangkit dari duduknya dan,

DDUAK

Yuta meninju wajah Taeyong hingga laki-laki itu tersungkur di lantai, dengan sudut bibir yang berdarah.sementara Saehyun hanya bisa menundukkan wajahnya menahan tangis yang sejak tadi ingin ia keluarkan. Nafas Yuta nampak tak beraturan, kentara sekali kalau emosinya sedang menyulut-nyulut. Atensinya beralih pada sosok gadis disampingnya, Saehyun dan langsung merengkuh tubuh lemas Sahyun ke dalam pelukan hangatnya, mencoba menenangkan gadis itu sebisanya.

Saehyun hanya terdiam, dengan kedua tangannya yang mncengkeram kuat kedua sisi kaos oblong yang Yuta kenakan. Taeyong bangkit dan hampir saja menghampiri Saehyun kembali, namun tertahan oleh kalimat sakratis yang diucapkan Yuta.

“Jangan dekati dia lagi! Kau hanya akan membuatnya menagis!”

“Saehyun, maaf aku-“

“Pergilah,” Saehyun melepaskan dirinya dari rengkuhan Yuta, “Aku ingin sendiri.” Lanjutnya dengan tatapan kosong dan berlalu menuju konter kasir yang brantakan akibat ulah para preman bayaran tadi.

“Tapi-“

“Kumohon, Yuta.”

“Jangan temui dia lagi, atau aku akan-“

“Akan apa?! Kau tidak berhak untuk melarang siapapun menemuinya, karena kau bukan siapa-siapa baginya.” Sela Taeyong memotong kalimat Yuta.

“Aku sahabatnya, dan kau? Kau itu hanya orang baru dikehidupannya. Jadi, jangan seenaknya!” setelah itu Yuta langsung pergi meninggalkan Taeyong yang berdiri mematung dengan tangan yang terkepal.

Saehyun masih sibuk membereskan puing-puing yang berserakan di dalam tokonya dengan wajah penuh lebamnya. Ingatannya kembali memutar memori menyebalkan saat Taeyong yang tiba-tiba saja datang dengan wajah penuh amarah dan menciumnya. Lebih parahnya lagi, pemuda itu menciumnya tepat dihadapan Yuta yang notabennya adalah sahabat baiknya yang juga menyukainya. Kentara skali wajah cemburu Yuta saat meninju wajah Taeyong, tak lupa amarah besarnya bagai bara api yang menyulut-nyulut.

“Ji Saehyun!”

Jantung gadis itu hampir saja copot saat indera pendengarannya mennagkap suara yang slama ini menghantuinya. Dan benar saja, suara itu milik orang yang tadi memukulinya. Tapi yang membuat Saehyun heran, orang-orang suruhan lintah darat itu datang dengan wajah sumringah, berbeda seratus delapan puluh derajat dari beberapa waktu lalu.

“Tenang, jangan takut seperti itu. Kami hanya ingin membantumu membereskan toko yang hancur berantakan ini,” tuturnya diakhiri dengan tawa yang menggema.

“Ah, kau pasti merasa heran kan?” tanyanya seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Saehyun.

“Semua hutang-hutangmu sudah lunas!” ungkapnya riang.

“Lu-lunas? Bagaimana bisa?”

“Hah, aku harap putriku bisa seberuntung dirimu. Kau tahu, ada seorang pemuda yang rela melunasi seluruh hutang-hutangmu pada Bos beserta bunganya. Aku rasa dia benar-benar mencintaimu, buktinya saja dia rela menguras habis isi kantongnya hanya demi gadis sepertimu.” Jelasnya.

“Pe-pemuda?”

“Haduh, masa kau tidak tahu siapa? Putra kedua Presdir Lee pemilik Jaeil Group, Lee Taeyong!”

Kedua bola mata Saehyun membulat lebar, terkejut atas jawaban serta onuturan dari suruhan lintah darat itu. Kakinya sampai tak kuasa untuk menopang tubuh kurusnya, dan harus berpegangan pada siku meja kasir di sampingnya. Dengan segera, Saehyun berlari keluar toko meninggalkan orang-orang suruhan lintah darat itu yang sedang membereskan tokonya.

Langkahnya terhenti saat hazelnya menangkap sosok yang sedang ia cari, siapa lagi kalau bukan Taeyong. Pemuda Lee itu kini tengah tertunduk lesu di dekat pagar pembatas sungai dengan pagar tersebut sebagai sandarannya. Mengusap-usap wajahnya frustasi. Mungkin sedikit menyesali perbuatannya tadi.

Saehyun melangkah menghampiri Taeyong yang masih tak sadar akan kehadiran Saehyun. Ditatapnya lamat wajah Taeyong yang tertunduk, tertutup kedua lengannya. Saehyun menarik nafas dalam dan mnghembuskannya kasar mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.

“Lee Taeyong!” sapanya menyebut nama pemuda itu.

Mendengar namanya disebut, secepat kilat Taeyong mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya ia menyadari bahwa Saehyun yang memanggilnya.

“Kau, apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Saehyun tanpa basa-basi lagi.

“Maksudmu?”

“Apa alasanmu membayar semua hutang-hutangku?” Saehyun terlihat menahan tangis, “Tidak bisakah sekali saja kau tidak memperdulikan aku?!”

“Saehyun, aku-“

“Aku sudah muak dengan semua ini! Kenapa kau selalu saja mencampuri kehidupanku?!”

Bibir Taeyong terkatup rapat, mendengar perkataan pedas dari Saehyun, gadis yang selama ini dicintainya.

“Kau pikir aku akan dengan senang hati berterima kasih padamu, lalu kau mengharapkan segalanya dariku?! Justru aku akan sangat berterima kasih kalau kau berhenti mencampuri urusanku! Sekarang juga, ambil kembali uangmu dan menghilanglah dari pandanganku!”

Air mata yang sedari tadi tertahan dipelupuk matanya, kini mulai mengalir seiring berakhirnya kalimat terakhir yang diucapkannya. Nafasnya terlihat sangat memburu, kentara sekali kini amarahnya sudah diubun-ubun. Kesabarannya selama ini menghadapi sikap semaunya Taeyong sudah habis, luntur tersapu waktu.

“Kau sudah selesai?”

Saehyun menatap wajah Taeyong sarkartis.

“Kau sudah puas mengeluarkan segala kekesalanmu padaku?”

“Dasar gila!” cibir Saehyun.

“Sekarang, boleh kah aku bicara?”

“Maaf, tapi tidak ada yang ingin aku dengar darimu.”

Saehyun hendak melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Taeyong, namun lengannya ditahan oleh lengan kekar Taeyong dan berhasil menahan langkah kaki Saehyun. Bahkan, Taeyong berhasil membalikan tubuh gadis angkuh itu untuk mengadapnya, bertatapan langsung dengannya dalam jarak yang begitu dekat.

“Apa yang kau lakukan, Lee Taeyong?!”

“Aku mencintaimu!” tangan Saehyun yang sedari tadi memberontak mendadak berhenti saat Taeyong menyatakan perasaannya, “Karena aku mencintaimu, aku tidak mau melihatmu terus tersiksa seperti ini. Setiap kali aku melihatmu selalu saja ada lebam di wajah maupun di tanganmu. Terlebih saat ini, kau terlihat menyedihkan, Ji Saehyun.”

“Apa pedulimu? Sejak kecil aku memang sudah seperti ini.”

“Justru karena itulah, aku tidak mau di masa sekarang kau banyak terluka. Aku ingin melihat senyummu, tawamu, dirimu yang periang. Bukan seorang Ji Sahyun yang pendiam, tak banyak bicara dan menderita seperti saat ini. Aku menyanyangimu setulus hatiku, Saehyun.” Tutur Taeyong dengan nada begitu lembut.

“Aku tidak peduli apa kata orang tentang dirimu. Yang jelas, perasaanku tulus padamu.” Taeyong megakhiri kalimat pengakuannya dengan diiringi sebuah senyuman yang menawan, berbeda sekali dengan Lee Taeyong yang selama ini dikenalnya.

Saehyun, gadis itu mendadak membisu diam seribu bahasa. Jujur saja, baru kali ini ada seseorang yang dengan tulus menyayanginya. Air matanya sukses meluncur degan mulus di pipinya. Perlahan, Taeyong mulai mengusap air mata yang jatuh di pipi Saehyun dengan kedua ibu jarinya. Lama mereka hanya saling diam membisu, sampai akhirnya salah satu dari mereka membuka suara.

“Kau percaya padaku?” Taeyong kembali mengawali perbincangan.

Bukan sebuah jawaban yang Saehyun beri, melainkan setetes air mata yang mengalir begitu saja di wajah ayunya, dengan atensi yang masih terkunci pada Taeyong. Bibirnya bergetar, air atanya tak kunjung surut jua. Dengan sigap Taeyong merengkuh tubuh bergetar Saehyun ke dalam pelukannya, mengelus lembut rambut si gadis yang tergerai agak berantakan berusaha memberikan sebuah ketenangan sebisanya.

“Maafkan aku,”

Sebuah kalimat permintaan maaf dilontarkan oleh Taeyong, masih dalam posisinya memeluk Saehyun, meski beberapa menit telah berlalu. Mata Taeyong embulat, saat dirasanya sepasang tangan menyentuh punggungnya, seolah mendekap balik. Ya, itu tangan milik Saehyun yang membalas pelukan Taeyong. Pemuda itu tersenyum dibalik ketidakpercayaannya, mungkin Saehyun menerima pengakuannya, begitu pikirnya.

Sementara itu, Yuta yang ikut menyaksikan hal yang tak pernah diinginkannya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, dengan air mata yang membanjiri wajah tampannya. Yuta sendiri bermaksud menemui Saehyun setelah menemui Taeyong tadi, naun rupanya Saehyun malah menemui pemuda itu yang berujung petaka baginya. Karena sepertinya ia akan kehilangan gadis yang sudah ia cintai selama ini.

***

“Maaf untuk yang tadi,” Taeyong lagi-lagi mengawali pembicaraan setelah keduanya mendudukkan diri di sebuah kursi taman.

“Aku hanya tersulut emosi.” Suaranya semakin mengecil diujung kalimat.

“Ya.” Jawab Saehyun singkat.

“Ah iya,apa kau mau melihat-lihat taman? A-aku dengar suasana di sini cukup bagus untuk menghilangkan penat.”

Keduanya berjalan menyusuri jalanan setapak dengan penuh kecanggungan. Canggung bagi Taeyong yang berjalan beriringan dengan gadis yang dicintainya, dan canggung bagi Saehyun yang, entahlah sulit untuk dijelaskan.

Langkah gadis itu tiba-tiba saja terhenti, atensinya terkunci pada seorang penjual es krim di sebrang jalan sana. Bahkan gadis itu kini tengah menggigit kuku ibu jarinya layaknya seorang bocah. Taeyong terkikik geli menyaksikan tingkah lucu gadis di sampingnya itu. Hingga sebuah ide terbesit.

“Kau mau rasa apa? Aku akan embelikannya untukmu.”

“Tidak usah, terima kasih.”

“Tidak apa-apa, aku akan-“

“Ji Saehyun!” sebuah suara memotong kalimat Taeyong yang belm terampungkan dan berhasil mengalihkan perhatian Saehyun.

“Oh? Yuta!”

Keduanya saling melambaikan tangan, bedanya Yuta melambaikan tangan sembari memamerkan sebuah es krim cone rasa strawberry kesuakaan Saehyun dan mengisyaratkan gadis itu untuk menghampirinya.

“Tidak usah, Taeyong. Yuta sudah membelikannya untukku.”

“Ah, iya. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Suatu saat nanti aku pasti akan mengembalikannya padamu.” Sebuah senyuman anis mengakhiri kalimatnya.

Saehyun dengan antusiasnya menghampiri Yuta, tanpa memperdulikan suara sirine peringatan waktu untuk penyebrang yang terus berdenting keras. Memperhatikan sosok Yuta yang tengah membayar tanpa memperhatikan jalanan yang sedang ia sebrangi saat ini. Hingga terdengar bunyi klakson sebuah truk yang melaju cukup kencang mengarah padanya. Taeyong maupun Yuta yang melihat sebuah truk berukuran besar hendak menghantam tubuh Saehyun dengan sigap segera berlari kearah gadis itu tak peduli dengan keselamatannya sendiri. Mendorong Saehyun hingga tersungkur ke bahu jalan, sedangkan keduanya,

JEDDUAAR

 

BBUUUK

 

CIIIITTT

“Aw, sakit,” rintih Saehyun berusaha bangkit dengan darah yang mengucur di pelipisnya akibat terbentur trotoar tadi.

“Kepalaku rasanya mau pecah. Akh!”

Dingin.

Tangannya menyentuh sesuatu yang terasa sangat dingin, padahal ini masih penghujung musim panas. Rupanya tanagnnya menyentuh es krim yang berceceran di jalanan.

“Es krim?”

Saehyun teringat dengan Yuta yang tadi membelikannya es krim. Bola matanya ia edarkan ke seluruh jalanan untuk mencari keberadaan sosok Yuta, namun terhenti pada keruunan orang-orang tak jauh dihadapannya. Dengan sekuat tenaga Saehyun mencoba menghampiri kerumunan tersebut, dalam hatinya ia berharap itu bukanlah sesuatu yang buruk.

“Permisi, tolong beri aku jalan.”

Mata Saehyun terbelalak, melihat dua orang pemuda yang sangat dikenalnya terkulai lemah berandikan darah. Kakinya tak kuasa menopang bobot tubuhnya, dan terduduk lesu tepat dihadapan Taeyong dan Yuta. Saehyun menangis sejadi-jadinya. Perlahan ia menghampiri keduanya, tersungkur diantara kedua tubuh tak berdaya Taeyong dan Yuta.

“Kenapa kalian hanya diam saja?! Cepat panggilkan ambulan! Aku mohon!!!” teriaknya namun tak ada satupun respon yang ia terima.

Geram, Saehyun bangkit dan mencengkeram salah satu lengan seorang pria dewasa yang berdiri tepat disampingnya.

:Ahjussi, tolong aku. Tolong panggilkan ambulan ke sini. Kau tidak lihat? Teman-temanku sedang meregang nyawa sekarang, tolong aku!!!” Nadanya bergetar seiring tubuhnya yang ikut bergetar.

Sekon berikutnya, Saehyun diserang oleh sakit kepala yang hebat. Gelap, semuanya menjadi gelap, dan Saehyun ikut terkulai lemah diantara tubuh Taeyong dan Yuta.

end

A/N : Aku tahu koq ini absurd banget, maafkan daku heuheu… thanks buat Irish untk poster kecenya yang sebenernya udah lama jadi haha maaf baru sempet posting sekarang wkwkw Salam fiksi kkkk

Advertisements

12 thoughts on “[Oneshot] Cold Summer

  1. Annyeong kak pel wkwkwkwk…

    Eum.. first time liat saehyun itu inget ff yg ada suzy sama krystalnya ekwkkw yg krys nya buta gitu kak wkwkkwk… aku baca sampe chapter 2… trus gak update lg 😂😂😂😂

    Oh iya… soal ff ini… hm… endingnya… the one of wth ending kak 😂😂😂😂 gantung… dah kayak jemuran. Btw sebenarnya aku tiba2 inget salah satu plot shs soal utang pas tau saehyun juga ada utang (ini kalo gasalah plotnya nayoung atau yena ya ? *lupa #plakkk) but maybe i trapped by my own imagination krn plot itu terlalu pasaran wkwkwkwk…

    And soal yuta… aku gak tau mukanya gimana wkwkwk ga kebayang 😂😂😂😂 dan taeyong itu aku lebih gak ngerti lagi. Kalau dia emang fall in love with saehyun, kenapa yg dia lakuin itu suatu hal yg menurutku agak pengecut. Wajar saehyun marah. Tapi yg lebih aku gak ngerti lagi. Saehyun itu sebenernya irang apa bukan 😂😂😂😂 jd cewek napa gatau diri gitu…. udh ada 2 cowok cakep tapi kelakuannya absurd. Aku gak bisa nangkep apa maunya saehyun di cerita ini. Ceritanya terlalu ngambang buat aku kak pel wakakakaka…

    Dan di akhir itu… aku agak menyesalkan sih mereka ber 3 korban. Mungkin lebih dramatis kalau misalkan salah satu aja yg ketabrak krn nolong saehyun. Saehyun lebih bisa ambil keputusan buat milih siapa yg dia mau. Dan satu orang yg patah hati itu kemungkinan bakal bikin ending yg cetar (ini bisa di isi dgn plot twist juga).

    But overall aku cukup menikmati ffnya kak pel. Cara penulisannya sudah jauh lebih baik dari pada di ff yg terakhir aku baca . Kepp figthing kak… kutunggu karya2 berikutnyaaaa 😄😄😄😄

  2. Omg!! Jadi tuh endingnya mati semua gituh??? Kenapa endingnya harus tragis sih pel? Jadi ikuttan sedih deh dgn keidupan saehyun yg dari awal pe akhir ngenes melulu, hahaa 😂😂

    Ditunggu karya mu yg lainnya ya apel, fighting 💪😘

  3. Antar beruntung sama mengenaskan si saehyun. Jujur sama td ngira saehyun itu cowo, klo dibaca agak mirip sama sehun. Wkwk. Btw, agak gak ngerti kenapa jadi ketiga nya yg ketabrak dan terluka gitu ya? Jadi ending nya agak gimana gitu kak. Btw, PERTAMAX GAN

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s