Nightmare [Part XI] #Sorry

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Aku belum pernah merasa bahagia sebelumnya. Jadi, setiap kali aku bahagia, aku akan mencari kemalangan. Namun, kini ada kau alasanku untuk tetap bahagia… terima kasih.”

©2016.billhun94


Di malam yang terasa sangat sunyi ini, Mikyung tersenyum dalam hati ketika ingatannya merangkai kejadian beberapa jam yang lalu; ketika untuk pertama kalinya Mikyung dapat merasakan sapuan hangat Sehun di bibirnya. Terasa seperti mimpi, namun, Mikyung tidak dapat menemukan tanda-tanda jika itu adalah sebuah mimpi.

Selama Mikyung hidup di Australia, ia tidak pernah menaruh ketertarikannya pada seorang laki-laki. Bukan maksud untuk mengatakan jika Mikyung adalah seseorang yang mengalami kelainan jenis; memang dasarnya ia yang terlalu cuek terhadap laki-laki.

Oh Sehun. Menjadi pria pertama yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang dan salah tingkah sewaktu berada di dekatnya. Kenal pria itu belum genap sebulan sudah dapat membuat Mikyung menjadi seperti sekarang. Apalagi jika lebih lama lagi?

Perlahan demi perlahan, Mikyung mulai mengingat kejadian yang pernah menimpanya sampai menghasilkan keadaan seperti ini. Mikyung mencoba untuk lebih mengingatnya lagi dengan bantuan Sehun, tapi, ia hanya dapat merasakan sakit yang menyerang kepalanya. Dan satu hal yang membuat Mikyung bahagia, ia mendapatkan satu ingatannya ketika sedang bersama Sehun. Itu sungguh membuatnya sangat senang; senang karena Sehun masuk dalam salahsatu ingatan yang begitu indah.

Mikyung menarik selimutnya sampai batas dada. Ia menatap langit-langit atap kamarnya seraya memikirkan suatu hal. Sehun bilang jika mereka adalah suami istri, namun, mengapa mereka harus tidur terpisah seperti ini? Apa mungkin Sehun merasa tidak nyaman tidur bersamanya?

Ini mungkin akan menjadi hal yang paling gila dalam hidup Mikyung yang memilih untuk mendatangi kamar Sehun disaat jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Mikyung merajut langkah menuju kamar Sehun dengan memperhatikan setiap langkah yang ia ambil karena pekatnya malam membawa kegelapan, dan hanya lampu dapur serta lampu taman yang menjadi penerang.

Merasa tidak perlu untuk mengetuk pintu, Mikyung membuka kenop pintu kamar Sehun tanpa permisi. Nihil. Ia tidak dapat menemukan Sehun di kamarnya. Mikyung pun berjalan masuk ke dalam kamar tersebut sebelum akhirnya ia duduk di salah satu sisi ranjang. Ada sesuatu yang menarik perhatian Mikyung, yaitu amplop putih yang berada di nakas. Karena penasaran, Mikyung akhirnya membuka amplop tersebut.

Butuh beberapa menit untuk membaca seluruh isi dari amplop itu, dan butuh beberapa menit juga untuk mencerna kembali isi dari amplop tersebut. Terlalu mengejutkan sampai-sampai membuat Mikyung tidak mampu berkata-kata.

-oOo-

Hal yang menjadi utama sekarang adalah membuat Mikyung harus berada pada posisi yang memang seharusnya wanita itu tempati. Sehun mengerahkan segala cara, bahkan sampai harus memberikan pelajaran khusus bagi Mikyung tentang semua hal yang berbau bisnis. Memang, awalnya Mikyung menolak untuk berada di posisi tersebut, namun, ketika Sehun mengatakan semuanya yang ia tahu tentang dibalik sebab yang membuat Mikyung seperti sekarang, wanita itu langsung menyetujuinya.

Pagi itu masih sama seperti pagi-pagi lainnya. Mikyung datang ke meja makan yang sudah diisi oleh Sehun. Lagi-lagi masih sama. Mereka pelit untuk sekadar membuka suara saja. Sehun yang dasarnya tidak terlalu banyak bicara, ditambah lagi dengan Mikyung yang kini lebih memilih acuh tak acuh.

Sejujurnya, keterdiaman Mikyung bukanlah sepenuhnya karena ia merasa acuh dengan sekitar. Namun, pikirannya sedang berkelana entah kemana dan berpusat pada satu titik yang membuat ia membelenggu. Mikyung hanya bisa diam.

“Hari ini kita akan ke Daegu,” buka Sehun setelah ia menyesap secangkir kopi yang sudah disediakan.

“Kita?” Mikyung bertanya untuk meyakinkan.

“Iya, kita.” Jelas Sehun.

Mikyung sedikit heran karena Sehun mengajaknya pergi ke Daegu, bahkan ia tidak tahu dimana tempat atau desa atau apalah itu. Mikyung masih menerka maksud Sehun membawanya ke tempat tersebut. Sampai saat pria itu memarkirkan mobilnya di salah satu penyimpanan abu jenazah yang ada di Daegu, Mikyung tahu apa tujuan Sehun.

“Kau bisa menyapa orangtuamu,” kata Sehun, Mikyung hanya bisa mematung di tempatnya dengan pandangan lurus menatap foto yang terpajang di salah satu rak.

“Mereka adalah… orangtuaku?” Tanya Mikyung setengah percaya dan tidak percaya. Sehun tidak menjawab, hanya mengangukkan kepalanya.

Sorot mata Mikyung sulit untuk diartikan bagaimanapun mencoba dibaca. Semuanya bercampur menjadi satu. Mikyung memerlukan waktu menerima ini semua. Menerima kenyataan yang sangat mengejutkan baginya.

Setelah 15 menit hanya berdiam diri seperti orang bodoh, Mikyung akhirnya memberi salam dengan nada bicara yang bergetar.

-oOo-

Mimpi itu masih bersemayam dalam ketidaksadaran untuk sementara waktu, karena Mikyung masih bisa melihatnya dengan jelas. Jika memang mimpi itu benar-benar adanya, ia harap ia tidak akan pernah memimpikan hal seperti itu lagi. Karena apa? Mimpi itu adalah mimpi buruk paling mengerikan baginya. Kehilangan orang yang sangat ia cintai adalah mimpi buruk yang ia harap tidak akan pernah ia mimpikan seumur hidupnya. Sudah cukup segala penderitaan yang selama ini ia rasakan.

Mikyung merapatkan mantel yang membalut tubuhnya ketika angin musim dingin berhembus. Kini ia sedang berada di taman yang tidak terlalu jauh dari tempat penyimpanan abu jenazah tadi. Dengan pemandangan yang sangat indah, Mikyung merasakan ketenangan di hatinya. Sehun tidak ada di sini, karena pria itu sedang membeli minuman. Selang 5 menit, Sehun datang dengan dua gelas kopi hangat di tangannya dan memberikan satu pada Mikyung.

“Di sini dingin sekali, lebih baik kita masuk ke mobil,” usul Sehun menatap mata Mikyung yang juga menatapnya.

“Aku lebih suka berada di sini,” timpal Mikyung, mengalihkan pandangannya kearah lain.

Sehun mengulurkan tangannya pada Mikyung, menyematkan jemarinya di sela-sela jemari wanita itu. Sebelum ia bertemu dengan Mikyung tidak pernah sekalipun ia bersikap layaknya pria romantis di depan wanita-wanita yang bermalam bersamanya. Selama ini, Sehun cukup diam, wanita-wanita itulah yang mendekatinya dan menyerahkan tubuh mereka padanya. Terus terulang sampai akhirnya ia bertemu dengan Mikyung yang sudah merubah dirinya. Sederhana. Sehun membutuhkan wanita itu dalam hidupnya.

Cinta hanyalah omong kosong. Cinta yang terlalu dalam tidak bisa membawamu pada kebahagian yang sesungguhnya. Lebih baik mencintai sewajarnya jika tidak ingin berujung dengan rasa sakit. Sehun pernah mendapatkan nasehat itu dari Chanyeol ketika lelaki itu putus dari sang kekasih, dan ia selalu menganggap itu sebagai angin lalu. Namun kini, Sehun tahu apa maksud dari kalimat itu.

“Musim dingin. Aku benci musim dingin.”

Sehun menoleh kearah sumber suara yang berasal dari Mikyung yang menatap tumpukan salju di bawah sebuah pohon. Sehun tersenyum tipis, “Kenapa? Setahuku kau sangat menyukai musim dingin,” timpalnya.

Mikyung refleks memutar tubuhnya kearah Sehun, “Sungguh? Aku sangat menyukai musim dingin? Tidak mungkin. Bagiku, musim dingin tak ayalnya diriku sendiri yang dingin dan beku. Daddy yang mengatakan itu padaku, karenanya aku tidak menyukai musim dingin.”

Jika diterka, kalimat itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Mikyung ucapkan pada Sehun karena selama ini wanita itu hanya berucap seadanya dan tidak pernah berkata apapun jika tidak ditanya. Apa Mikyung yang dulu ia kenal sudah kembali?

“Siapa yang bilang jika kau itu dingin? Mungkin memang iya. Tapi, kau yang dulu tidak seperti ini. Seperti halnya musim panas dan musim dingin yang saling bertentangan satu sama lain. Kau yang dulu adalah musim panas, dan kau yang sekarang adalah musim dingin. Jika kau membenci musim dingin karena mirip denganmu, maka ubahlah dirimu seperti musim panas.”

“Jadi, aku harus seperti musim panas?”

“Hm.”

Mikyung tanpa sadar menarik sudut bibirnya keatas, membentuk senyum tipis yang membuat Sehun terpaku di tempatnya. Bisa dibilang jika senyum itu adalah senyum pertama kali yang Mikyung berikan pada Sehun sejak sebulan bertemu. Sangat manis. Lebih dari apapun yang paling manis di dunia ini.

Mikyung menoleh pada Sehun seraya tersenyum tipis, “Rumit melakukannya. Lebih baik menjadi diriku yang sekarang. Musim dingin. Kau tidak keberatan, ‘kan?”

Sehun menangguk, “Iya. Tapi, masih lebih baik menjadi musim panas. Kau tahu aku ini tidak banyak bicara, jadi, terkadang aku merasa canggung bila kita terus berdiam diri. Terkadang, sih.”

Mikyung memutar tubuhnya menghadap Sehun, “Kau aneh,” katanya.

Sehun mengernyit, tapi detik berikutnya terkekeh pelan. Ia tidak tahu mengapa Mikyung bisa sangat menggemaskan di matanya kini. Sikap wanita itu membuat Sehun terkadang berpikir dua kali tentang sesuatu yang asing malah semakin gencar; degupan jantungnya susah terkendali.

Angin semakin berhembus kencang, Mikyung mengeratkan tangannya yang sedang digenggam oleh Sehun. Feronom yang menyeruak di balik mantel yang Sehun kenakan membuat Mikyung merasakan ketenangan. Bisa dibilang jika ia mulai merasa nyaman dengan keberadaan Sehun. Tanpa sadar, memorinya meretas kejadian kemarin malam. Masih penasaran, namun ragu untuk menanyakan. Akhirnya Mikyung memilih bungkam.

-oOo-

Menjadi salah satu daerah penghasil sumber daya alam terbaik di Korea Selatan, Daegu menyajikan hasil laut terbaik setelah Busan. Bukan hanya hasil laut, tapi juga hasil pribumi yang terkenal dengan kesegarannya. Banyak restoran di Daegu yang menyajikan hasil sumber daya alam mereka. Salah satunya yang kini Sehun dan Mikyung datangi. Terlihat sederhana, namun hidangan di sinilah yang terbaik di Daegu.

Sehun sedang memanggang belut di depan panggangan yang sudah tersedia setelah sebelumnya di beri bumbu lebih dulu. Aroma yang dihasilkan benar-benar menggoyang lidah. Mikyung terlihat begitu mewanti, sampai pandangannya tak lepas dari belut yang sangat menggiurkan itu. Sehun yang melihatnya tergelitik. Senyum terpatri di wajah tampannya. Entah sejak kapan dimulai, tapi sepertinya akhir-akhir ini otot wajah Sehun melemas; membuat ia dengan mudahnya tersenyum. Pengecualian. Hanya di depan sang istri saja.

“Kau lapar?” Tanya Sehun; masih sibuk memanggang.

“Tidak begitu,” jawab Mikyung.

“Bohong,” timpal Sehun.

“Terserah,” ujar Mikyung.

Dua menit setelah itu, belut yang dipanggang Sehun telah matang. Mikyung langsung menyumpit belut tersebut dan memakannya dengan lahap. Tidak menyadari jika kini Sehun tengah tersenyum melihat kelakuan wanita itu.

Sehun yang melihat ada sebiji nasi di sudut bibir Mikyung berdecak, lalu mengulurkan tangan untuk mengambil nasi itu. “Makannya jangan terburu-buru,” nasihatnya.

Deg

Getaran itu datang lagi. Mikyung terpaku di tempat. Gelenyar aneh mulai menyambangi hatinya. Seakan tidak lelah, otot jantungnya terus berdetak lebih cepat dari biasanya. Mikyung heran. Getaran macam apa ini?

“Seperti anak kecil,” cibir Sehun.

Mikyung masih bergeming, bahkan ketika Sehun sudah menghabiskan belut yang tadi dipanganggnya.

Oh Sehun… pria seperti apa dia sebenarnya? Sikap baik dan perhatian yang selama ini dia berikan membuat Mikyung tidak ingin menganggap lebih. Sehun bagai malaikat di tengah kumpulan iblis yang ingin menangkapnya. Sang penyelamat yang selalu siap membantunya jika sedang kesusahan. Namun, Mikyung sadar jika di dunia ini tidak ada yang gratis. Sehun pasti punya tujuan lain dibalik sikapnya ini pada Mikyung. Mungkin.

Sehun yang sadar dengan keterdiaman Mikyung, melambaikan tangannya ke wajah wanita itu. “Kau tidak ingin menghabiskan belutnya?”

Mikyung tersadar, melirik Sehun sekilas. Tiba-tiba saja rasa laparnya hilang begitu saja. “Aku ingin pulang,” pintanya.

-oOo-

“Kau tidak apa-apa?”

Mikyung sama sekali tidak menoleh kearah Sehun walaupun pria itu sudah menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali.

Sentuhan di tangannya yang terasa dingin membuat Mikyung tersentak dari lamunan. Pertanyaan yang sama terulang. Rasanya menenangkan ketika Sehun bertanya seperti itu. Seperti Sehun akan selalu ada untuknya. Seperti Sehun akan selalu menemaninya kapanpun. Seperti Sehun akan selalu ada di sisinya. Dan memastikan jika ia selalu baik-baik saja.

“Aku tidak apa-apa,” jawab Mikyung rendah.

Sehun memasang senyum tipisnya. Membuat Mikyung semakin gencar mencari arti dari getaran yang kini selalu hadir saat bersama dengan Sehun.

Mobil yang Sehun bawa kini sudah memasuki pelataran mewah rumahnya. Seorang pegawai rumah menghampiri untuk membukakan pintu mobil.

Mikyung berjalan menuju pintu masuk, tidak dengan Sehun yang mendadak mendapat telepon dari seseorang. Mikyung merebahkan tubuhnya begitu sampai di kamarnya. Gorden jendela masih tertutup, menghalang sinar matahari masuk. Begini lebih nyaman. Menatap langit kamar, Mikyung berkelana entah kemana, dan baru berhenti ketika pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

Seorang pria berjas hitam rapi menyambut Mikyung, setelah sebelumnya membungkuk memberi hormat, pria itu berucap, “Maaf jika sebelumnya saya menganggu waktu Anda. Presdir memerintahkan saya untuk membawa Anda ke perusahaan, sekarang.”

Kening Mikyung mengkerut, “Di mana Sehun?” Tanyanya.

Dengan sopan, pria yang Mikyung ketahui sebagai salah satu anak buah Sehun menjawab, “Beliau sedang pergi,” jawabnya.

-oOo-

Keadaan mendadak hening ketika seorang pria setengah baya dengan sneli putihnya memberikan pernyataan. Menghela napas, pria yang kerap di panggil Dokter Kim itu melanjutkan, “Jika Anda terus mengulur waktu, pembengkakkannya bisa mengancam nyawa Anda,” terangnya lagi.

Sehun menutup mata dalam. Soojung yang berada di sampingnya bahkan tidak mampu untuk berkata-kata. Mungkin emosi kini sudah menguasi dirinya. Dan baru meluap ketika ia sudah berada di satu ruangan yang hanya diisi olehnya dan Sehun.

Soojung sudah tidak mampu menahan emosinya yang meluap, “Sejak kapan kau peduli dengan orang-orang di sekitarmu? Kau bahkan tidak pernah peduli dengan keadaanku sama sekali sejak kita berteman puluhan tahun lalu. Sadarlah Oh Sehun! Dia hanya benalu dalam hidupmu.”

Bukannya merenungi setiap perkataan sang sahabat, Sehun malah balas membentak. “TUTUP MULUTMU JUNG-SOO-JUNG!”

Soojung kalap. Ia terdiam di tempat. Kabut di matanya terlihat jelas. Sehun sudah sangat berubah. Seharusnya ia tahu itu.

“Kau tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, simpan perkataanmu baik-baik.” Desis Sehun dingin dan langsung melenggang pergi meninggalkan Soojung yang terpaku.

-oOo-

Sebelum benar-benar menguasi tempat yang sesungguhnya, Mikyung memang harus mendapatkan pelajaran tentang bisnis selama 6 bulan. Sehun yang mengatur semuanya dan berjalan dengan baik. Kini, wanita itu sedang berada di ruangan Sehun setelah menerima tutor pembelajaran di ruangan lain.

Ngomong-ngomong, ini adalah pertama kalinya Mikyung masuk ke dalam ruangan Sehun. Ruangan ini benar-benar sangat cocok dengan kepribadian pria itu. Simpel dan mengagumkan.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Mikyung. Dari sofa yang didudukinya, Mikyung menoleh. Sehun sedang berjalan menuju kearahnya dengan senyum simpul yang manis.

Sehun duduk di samping Mikyung, “Sudah lama menunggu?” Tanyanya

Mikyung menggeleng, “Belum,” jawabnya.

“Oh iya, aku punya hadiah untukmu,” kata Sehun seraya merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Sepasang cincin yang diperuntukan untuk pengantin menyambut iris kelabu Mikyung. Sinarnya menyorotkan tanda tanya pada Sehun yang tersenyum manis kearahnya.

“Untuk siapa?” Tanya Mikyung.

“Untuk kita,” jawab Sehun.

“Kenapa?”

“Karena kita sudah menikah. Cincin adalah simbol penting. Maaf, jika aku baru membelikannya sekarang. Aku harap kau suka,” kata Sehun. Menaruh kotak cincin itu di meja setelah mengambil satu cincin untuk wanita itu, lalu memakaikannya di jari manis Mikyung.

Cantik. Mikyung tidak mengelak fakta itu, dan ia menyukainya. Tanpa sadar, lengkungan indah terbentuk di bibirnya. “Aku menyukainya,” ungkap wanita itu.

Sehun senang karena Mikyung menyukai pemberiannya. Lantas, ia ingin memakai cincin yang satunya lagi untuknya. Namun, jemari lentik Mikyung menghentikannya. “Biar aku yang memakaikan,” ujar wanita itu.

Sorot Sehun tidak bisa terlepas dari sosok Mikyung yang tampak cantik dengan dress bermotif bunga-bunga dan rambut hitam sepunggung yang digerai. Manis dan cantik. Wanita itu tidak mengalami banyak perubahan. Hanya saja, kini ia rasa Mikyung sedikit lebih feminim jika dibandingkan sewaktu ia bertemu dengannya lagi setelah 3 tahun. Celana jeans dan kaos oblong menjadi outfit kegemarannya.

Bulu mata lentik Mikyung menyorot Sehun. Cincin itu kini telah terpasang. Tangan hangatnya memegang tangan Sehun yang sama-sama terasa hangat. Tangan itu tidak terlepas karena keduanya yang membeku di tempat dengan pandangan yang saling menyiratkan perasaan tertentu.

“Mikyung-ah….”

Yang dipanggil langsung menoleh. Sehun menatapnya serius dan dalam. Getaran itu kembali datang.

“Aku belum pernah merasa bahagia sebelumnya. Jadi, setiap kali aku bahagia, aku akan mencari kemalangan. Namun, kini ada kau alasanku untuk tetap bahagia… terima kasih.”

Sehun mengusap jemarinya di atas tangan lembut Mikyung tanpa melepas kontak mata mereka.

Mikyung menundukkan kepalanya. Rasa bersalah menyergap dirinya begitu saja, “Maafkan aku karena tidak bisa mengingat semuanya….” gumamnya.

Sehun mengangkat dagu Mikyung, tersenyum manis dan berkata, “Tidak perlu meminta maaf. Kau tidak salah,” ralatnya.

Mikyung merasa jika ia sangat keterlaluan karena tidak mampu untuk mengingat seperti apa sosok Sehun yang dulu pernah masuk dalam kenangan hidupnya. Sikap baik pria itu malah membuat Mikyung makin merasa bersalah. Bagaimanapun mau apalagi? Semuanya sudah terjadi. Waktu tidak dapat di putar kembali, bukan?

Tangan Sehun perlahan mengusap surai lembut Mikyung. Memangkas jarak, Sehun semakin dekat untuk mengikis spasi di antaranya dengan Mikyung. Berhasil. Bibirnya mendarat sempurna di atas permukaan bibir Mikyung yang terasa manis dan lembut. Hanya sebuah kecupan. Sehun pun menanggalkan kepalanya dan menatap Mikyung.

Sepertinya ciuman singkat itu belum benar-benar berakhir karena Mikyung yang menarik tengkuk Sehun dan menyatukan bibir mereka sekali lagi. Sehun sontak terkejut, tapi ia masih bisa mengendalikannya untuk tidak membalas perbuatan Mikyung lebih dari sekadar sebuah kecupan saja.

Pangutan mereka terlepas. Mikyung menundukkan kepalanya karena malu. Pipinya merah sempurna. Jemarinya tertaut risih. Ini adalah kali pertama ia mencium seorang pria, terlebih lagi pria itu adalah Sehun.

Gemas dengan tingkah Mikyung, Sehun menarik tangan wanita itu untuk menghadapnya. Menarik tengkuknya dan menyatukan bibir mereka kembali. Untuk kali ini, Sehun memberikan lebih dengan menambahkan lumatan kecil di bibir bawah Mikyung. Lenguhan Mikyung terdengar ketika Sehun tanpa sadar mengigit bibir bawah wanita itu. Sial! Sehun sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Tubuh Mikyung sepenuhnya adalah candu baginya.

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Hai~~

Sorry kalo updatenya kelamaan. Fyi, aku lg mager nulis dan part ini udh ngendep di work slma 3 minggu dn gk aku sentuh sm sekali😂😂😂


Oke. Mudah2an kalian suka:)

Advertisements

8 thoughts on “Nightmare [Part XI] #Sorry

  1. Itu mikyung baca surat apa ya? Trus sehun punya penyakit atau gimana? Pokoknya campur aduk deh baca nih ff kaya es campur

  2. Aku pengen ingatannya kembali, kek parah gitu sampai gabisa nulis uu. Aku kangen momen dia senyum sedangkan sehun dingin. Malah kebalik skrng uu. Cepet sembu mikyung aaaa

  3. entah gmna rasanya jadi minkyung yg ndak ingat apa” tpi terasa familiar dg smuanya. aku harap minkyung lekas ingat. kasian sama sehun.
    next chap aku tnggu🤗

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s