[Oneshot] Will You…?

will-you

WILL YOU…?

Starring by. Lee Jungshin CNBLUE & Ahn Minji OC
Support cast by. Seohyun SNSD & Myungsoo INFINITE
Oneshot // Romance, Fluff, Family // PG-18

zulfhania production © 2016

=================

Finally, kelar juga ff ini!
Setelah berkali-kali ngubah alur, plot, watak, dan lain sebagainya, akhirnya ff wao bisa kuakhiri dengan menyeka peluh di dahi (kamar kos gue panas banget euy!). Soal ending, jujur, kudu berpikir keras banget. Bersyukurlah pada malam minggu yang panas ini aku bisa menyelesaikannya dengan senyum puas di bibir. Semoga wao suka, semoga reader lain suka, dan jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar. Hope you enjoy it! 🙂

Regards,
Zulfa Azkia (zulfhania)

=================

‘So, will you run with me now?’
—Will You…?—

Tak ada hal lain yang dapat Minji lakukan selain menunggu.

Pagi hari tadi, Jungshin meneleponnya dan mengatakan kalau dia akan pulang ke Korea Selatan hari ini. Pesawatnya akan mendarat pukul tujuh malam nanti. Lantas Minji bergegas membersihkan rumahnya usai telepon dimatikan. Ia tak ingin membiarkan setitik debu menempel pada sudut yang tak terlihat sekali pun. Ia ingin rumahnya bersih, saat Jungshin tiba di rumahnya nanti.

Sejak pukul tiga sore, Minji sudah bersiap-siap. Memilah serta memilih pakaian mana yang hendak ia kenakan. Berkali-kali ia mematut diri di depan cermin dengan pakaian yang berbeda-beda. Jungshin pulang ke Korea Selatan, setelah dua bulan lamanya berkelana ke negara-negara lain. Minji hanya ingin tampil secantik mungkin hari ini, di depan Jungshin. Hanya di depan Jungshin seorang. Ia ingin menghabiskan malam ini bersama Jungshin. Kalau bisa, hanya berdua saja.

Ia tak ingin ada Seohyun ataupun Myungsoo yang mengganggunya.

Pukul enam sore, Minji sudah tiba di bandara. Tangannya memegang sebuket bunga ketika tiba di bandara. Ia ingin memberikan Jungshin sebuket bunga, atas keberhasilan pria itu. Tetapi begitu tiba di sana dan menemukan keramaian para perempuan muda yang membawa spanduk bertuliskan ‘Lee Jungshin’, Minji menciut. Ia baru menyadari kalau bukan hanya dirinya saja yang akan menanti kedatangan Jungshin. Lantas ia membuang bunganya ke tempat sampah, lalu duduk menunggu kedatangan Jungshin dari kejauhan.

Pukul tujuh kurang lima menit, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

‘Minji, kau datang ke bandara, kan? Apakah Jungshin sudah datang? Aku baru saja selesai pemotretan. Ini sedang bersiap menuju bandara bersama Myungsoo sekarang.’

Minji menghela napas. Sepertinya ia benar-benar akan gagal berduaan bersama Jungshin malam ini.

‘Ya, aku datang, eonni. Aku sudah di bandara, Jungshin oppa belum datang. Baiklah, nanti kami akan menunggumu di kafe,’ balas Minji.

Usai membalas pesan dari Seohyun, berikutnya pesan dari Myungsoo yang masuk ke ponselnya.

‘Nanti pulang bersamaku saja ya, Minji. Seohyun noona memaksaku ikut bersamanya untuk menjemputmu.’

Kembali, Minji menghela napas. Diktator! Mereka berdua itu diktator!

Minji tak sempat membalas pesan Myungsoo ketika pengeras suara memberitahukan bahwa pesawat dari Kanada baru saja mendarat di tanah Incheon. Lantas para perempuan muda berebut maju mendekati pembatas pengunjung di dekat pintu keluar bandara. Minji juga berjalan mendekat, tetapi ia mengambil posisi berdiri yang agak menjauh dari para fans fanatik Jungshin itu. Tak lama kemudian, beberapa orang dengan membawa koper-koper besar keluar dari pintu keluar bandara.

Minji meninggikan kepalanya. Celingak-celinguk mencari seseorang di antara sekumpulan orang-orang yang baru saja keluar, bagai para semut yang baru saja keluar dari sarangnya ketika disemprot oleh obat nyamuk. Ketika ia mendengar suara jeritan histeris dari para perempuan muda itu, saat itulah ia menangkap makhluk Tuhan paling tampan itu keluar dari pintu dengan menarik koper kecil. Dengan mengenakan kemeja putih yang dibalut jas tuxedo abu-abu dan celana panjang berwarna senada, pria itu berjalan dengan begitu ringannya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya. Bibirnya membentuk senyuman. Tangannya yang bebas balas melambai pada beberapa fansnya yang menjerit histeris memanggil namanya.

Minji tersenyum. Setelah berbulan-bulan lamanya, akhirnya ia dapat bernapas dengan lega hanya karena melihat pria itu. Meskipun ia bukan menjadi perhatian utamanya saat pria itu keluar dari bandara, setidaknya ia merasa lega kalau pria itu baik-baik saja. Senyumnya masih seperti dulu, saat melambaikan tangan padanya ketika berpisah di pintu masuk bandara yang akan mengantar pria itu menuju Australia.

Ketika akhirnya tatapan Jungshin bertemu dengan Minji, senyuman pria itu semakin melebar. Ia melepas kacamata hitamnya, mempertegas kalau saat ini Jungshin tengah menangkap kehadiran perempuan itu. Dan demi Tuhan, Minji rindu sekali dengan sorot mata pria itu. Membuatnya merasa menjadi satu-satunya orang yang dirindukan pria itu. Pria itu melambaikan tangan ke arahnya, lalu melangkah mendekatinya sambil melebarkan lengannya. Mendapat respon positif dari pria itu, lantas lengan Minji pun terbuka lebar. Siap untuk membalas pelukan hangat pria itu.

Namun, alih-alih memeluk, pria itu malah melingkarkan lengannya di leher Minji, memutar dan mengunci leher Minji pada lengannya, lalu tangannya yang memegang koper terlepas dan menjitak serta mengacak rambut perempuan itu setibanya di sana.

Aigoo, sudah berapa lama aku tak melihat wajah jelekmu ini?” begitulah kalimat sapaan pria itu.

“Aish, oppaaa! Jangan sentuh rambutku!”

Jungshin tertawa. Ia melepas kuncian lengannya pada leher Minji, lalu membiarkan perempuan itu merapikan rambutnya yang berantakan.

Aeeyy, kapan kau akan berubah?” Jungshin menjitak kembali kepala Minji hingga perempuan itu mengaduh. “Duniamu hanya mengurusi rambut saja! Sudah berapa kali kau mengganti warna rambut selama aku pergi? Pasti sudah seratus kali! Sekali-sekali perhatikan pendidikanmu, Ahn Minji!”

Minji mendesis sambil memberikan tatapan tidak suka pada Jungshin karena telah mengomentari warna rambutnya. “Lihat dirimu sendiri, Jungshin oppa. Memangnya kau memerhatikan pendidikanmu selama kau kuliah? Duniamu juga hanya dipenuhi dengan not-not balok dan tuts-tuts piano saja.”

Jungshin tersenyum sombong. “Yang penting aku sudah sukses sekarang.”

Setelah berkata begitu, pria itu memeluk tubuh Minji tanpa aba-aba.

“Aku merindukanmu, Minji-ya. Kita terbiasa bersama, rasanya hampa sekali selama dua bulan tidak bertemu denganmu,” ucapnya kemudian, lalu menggoyangkan tubuh mereka ke kanan dan ke kiri. Dagu Jungshin bertumpu pada puncak kepala Minji.

Ada getaran aneh dalam dadanya ketika mendengar Jungshin berkata demikian. Terlebih dengan perlakuan pria itu yang memeluk dan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, kebiasaan yang Jungshin lakukan sejak umur mereka masih kecil. Jungshin selalu saja memperlakukannya sebagai anak kecil, tetapi Minji menyukai itu.

Tangan Minji kemudian perlahan bergerak untuk membalas pelukan Jungshin. Tetapi begitu melihat tatapan iri dari para fans fanatik yang berdiri di belakang Jungshin membuat gerakan tangan Minji terhenti.

Sambil mengontrol suaranya agar tidak terdengar gugup, Minji berkata, “Oppa, jangan membuat drama di depan fansmu. Aku tidak ingin di-bully oleh mereka karenamu.”

Alih-alih menuruti permintaan Minji, Jungshin malah semakin mempererat pelukannya pada Minji. Membuat perempuan itu menahan napas.

“Tidak apa-apa, Minji-ya. Di pikiran mereka, kau adalah adikku. Jadi, takkan jadi masalah apabila aku memeluk adikku sendiri. Benar, kan?”

Percayalah, Minji tidak suka apabila hanya dianggap ‘adik’ oleh pria itu.

* * *

“Seohyun benar-benar akan datang ke sini?” tanya Jungshin saat mereka sudah berpindah ke kafe di dalam bandara.

Minji mengangguk. Mulutnya tengah menyeruput mocca float di depannya.

“Ah, sayang sekali. Kenapa dia tidak bertemu denganku esok hari saja sih? Aku kan hanya ingin berdua denganmu malam ini,” gerutu Jungshin.

Minji terbatuk. Buru-buru ia menutupi wajahnya yang memerah dengan tisu yang baru saja ia ambil di depannya. “Yya, oppa! Pacarmu ingin bertemu denganmu, kenapa kau malah menggerutu?”

Jungshin menjepit hidung Minji yang tertutup oleh tisu hingga perempuan itu megap-megap sambil berkata, “Aku lebih mementingkan adikku daripada pacarku, Ahn Minji. Apakah kau senang?”

Minji mengenyahkan tangan Jungshin dari hidungnya dengan kasar ketika ia merasa kehabisan oksigen. “Jangan berbicara begitu. Sebentar lagi hari pernikahanmu, kau harus terbiasa hidup tanpaku, oppa.”

Jungshin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menghela napas berat. “Apakah aku bisa? Sepertinya itu sulit.”

Minji tak pernah melihat wajah Jungshin sesedih itu, kecuali saat mereka berpisah pada dua bulan lalu sebelum keberangkatan pria itu ke Australia untuk tur konser dunia. Ia tidak tahu apakah pria itu sedih karena sebentar lagi akan hidup terpisah dengannya atau karena lembar baru di dalam hidupnya akan dimulai dalam hitungan bulan.

Ketika Minji hendak membuka mulut untuk memecahkan keheningan yang terjadi, terdengar suara bel pintu berdenting pertanda pintu dibuka yang kemudian dilanjutkan suara berisik makhluk adam dan hawa yang baru saja masuk ke dalam.

“Kalau tidak bisa, ya sudah, tidak usah sok-sok menjadi bodyguard-ku.”

Yya, noona! Aku sudah membantumu, kau masih tidak tahu cara berterima kasih?”

“Terima kasih? Huh! Aku malah menyesal telah mengajakmu ke sini.”

“Baiklah, kalau begitu jangan memintaku lagi untuk mengantarmu! Pacar saja bukan!”

Keributan dua orang itu menjadi bahan tontonan para pengunjung kafe. Dan keduanya sama-sama tampak tidak memedulikan dan terus saja beradu mulut. Jungshin sampai geleng-geleng kepala melihatnya. Ia pura-pura tidak mengenali kedua orang itu dan malah beralih pada Minji.

“Kau tidak bilang padaku kalau Myungsoo juga akan datang,” komentar Jungshin.

“Memangnya itu penting bagimu?” Minji balas berkomentar.

“Tentu saja. Myungsoo itu adalah pacarmu, dan kau adalah adikku. Tentu saja itu adalah hal yang penting!”

Minji mendesah pendek. “Dia bukan pacarku, oppa.”

“Huh, masih saja tidak mengakuinya.”

“Aku memang tidak berpacaran dengannya. Berhentilah membicarakan dia.”

Kemudian kedua orang yang tak diharapkan kehadirannya itu mendekati meja Jungshin dan Minji.

“Jungshin-ah, kau sudah datang rupanya!” Seohyun langsung memeluk Jungshin setibanya di sana. “Bagaimana kabarmu? Aku rindu sekali padamu! Kudengar konsermu berjalan dengan sukses. Ah, aku iri sekali. Kau tidak tahu betapa hariku benar-benar menyulitkan tanpa adanya kau di sisiku. Pria itu benar-benar membuat hariku semakin sulit,” ucapnya sambil melirik ke arah Myungsoo.

Yya, noona!” Myungsoo tampak protes, tetapi Jungshin menghentikan aksi protes pria itu.

Jungshin balas memeluk Seohyun, lalu berkata pelan, “Kau bisa mengeluh padaku malam ini. Akan kuluangkan waktuku untukmu. Khusus untukmu seorang. Dan, tentu saja, aku juga merindukanmu, Seohyun-ah.”

Minji membuang mukanya perlahan, berpura-pura tidak melihat pasangan di depannya. Kemudian, ia melihat kedua orang itu memisahkan diri ke meja lain, membiarkannya hanya berdua bersama Myungsoo.

“Di depan tadi, aku dan Seohyun noona bertemu dengan fansnya Jungshin hyung. Seperti biasa, mereka menyerang Seohyun noona, dan aku hanya melindunginya selayaknya bodyguard. Tetapi semuanya malah kacau, makanya noona itu marah-marah padaku tadi,” tanpa dipinta oleh Minji, Myungsoo langsung menjelaskan pada perempuan itu tentang apa yang baru saja terjadi antara ia dan Seohyun.

Minji tidak merespon. Tatapannya masih mengarah pada Jungshin dan Seohyun yang sedang duduk berhadapan di meja lain.

“Usai pemotretan tadi, dia sendiri yang mengajakku ke bandara supaya aku bisa melindunginya apabila nanti bertemu dengan fansnya Jungshin hyung saat di bandara. Padahal aku masih ada job memotret model lain saat itu, tetapi dia memaksaku. Wanita itu sok penguasa sekali. Bukan hanya dia yang merasa dua bulan ini hari-harinya sulit, tetapi aku juga. Dia tidak profesional. Lama-lama aku tidak tahan bekerja dengannya,” tambah Myungsoo.

Minji masih tidak merespon. Kali ini ia melihat Jungshin tengah membelai lembut rambut Seohyun yang duduk di depannya, sementara wanita itu menunjukkan wajah tidak suka yang masih mengarah pada Myungsoo.

“Minji-ya…” Myungsoo mengalihkan atensi sepenuhnya pada Minji ketika menyadari kalau perempuan itu tidak meresponnya sedari tadi.

“Ahn Minji!”

Barulah Minji tersadar ketika panggilan yang keempat. Ia menoleh pada Myungsoo dan mengerjapkan matanya bingung. “Ya, apa katamu tadi?”

“Tidak apa-apa,” Myungsoo melirik arah pandang Minji sekilas, lalu menghela napas panjang. Ternyata sedari tadi Minji tidak mendengarnya berbicara.

Kembali, Myungsoo melihat Minji mengalihkan pandangannya pada sepasang kekasih itu. Dan ia merasa hatinya terluka.

‘Kapan kau akan melihat ke arahku, Minji-ya?’ batinnya berkata lirih.

* * *

Minji masih ingat dengan hari itu, tujuh tahun yang lalu. Hari dimana Jungshin mengungkapkan perasaannya padanya.

“Minji-ya, aku ingin bertanya padamu. Apa yang akan terjadi bila nanti aku menikah? Apakah kau baik-baik saja?”

Minji sedang menyelesaikan tugas sekolahnya ketika Jungshin bertanya demikian. Dan pertanyaan itu sukses mengalihkan atensi Minji sepenuhnya pada pria berusia 23 tahun itu.

“Kau ingin menikahiku?!” pekik Minji.

Yya, pabbo-ya. Kau masih 17 tahun, Ahn Minji!” Jungshin lalu menarik rambut kucir kuda Minji sambil berkata, “Rambutmu masih dikucir kuda, wajahmu masih polos tanpa riasan, dan bahkan memakai make-up pun kau belum bisa, bagaimana mungkin aku menikahimu?”

Minji menggerutu. “Aish, apakah itu sebuah penolakan? Huh, lihat saja nanti saat aku sudah dewasa, oppa. Aku akan menggerai rambutku, mengganti warna rambut sesuai kemauanku dan dandan secantik mungkin hingga para pria akan langsung jatuh hati padaku pada pandangan pertama. Dan kau akan menyesal karena telah menolakku!”

Jungshin mendengus lucu. “Mwoya? Apakah kau sedang merajuk padaku saat ini?”

Minji tidak menyahut. Ia melanjutkan kembali mengerjakan tugas sekolahnya dengan napas memburu akibat emosi.

Jungshin kemudian mendesah sambil memandang Minji dengan senyum di bibirnya. Cukup lama pria itu terdiam sampai akhirnya ia berkata, “Tetapi mungkin kau benar. Mungkin aku memang akan menyesal nantinya.”

Minji tak mengerti maksud ucapan Jungshin hingga pria itu kembali berkata, “Maka dari itu, cepatlah dewasa, Minji-ya. Aku akan menunggumu.”

Minji menganggap itu adalah sebuah pengakuan, hingga tanpa sadar ia mulai menganggap pria itu dengan cara pandang yang berbeda. Minji tahu ini merupakan sebuah kesalahan. Mencintai kakaknya sendiri tentu saja adalah sebuah kesalahan—meskipun kakak itu bukanlah kakak kandungnya. Tetapi ia tidak bisa menyalahkan perasaannya, karena rasa itu tidak pernah salah. Toh, pria itu yang memulainya duluan. Ia hanya membiarkan perasaannya mengalir seperti air.

Hingga akhirnya tujuh tahun kemudian, beberapa bulan sebelum tur konser dunia, Jungshin memperkenalkan seorang wanita pada Minji. Minji tahu wanita itu. Dia model terkenal, Seo Juhyun. Myungsoo, sahabatnya di kampus—orang-orang bilang sih laki-laki itu menyukainya, adalah fotografer wanita itu.

“Dia adikku. Ahn Minji.”

“Ahn?” Seohyun mengernyit, lalu memandang Minji dengan tatapan curiga. “Dia bukan adik kandungmu?”

Minji tidak suka dengan tatapan wanita itu.

“Orang tuaku dan orang tua Minji bersahabat dekat. Kedua orang tuanya Minji meninggal saat dia berumur sepuluh tahun, lalu orang tuaku mengangkat Minji sebagai anaknya, sekaligus sebagai adikku. Itu tidak tercatat di akte kelahiran maupun keluarga, jadi marga kami tetap berbeda. Tetapi aku tetap menganggapnya sebagai adikku. Oh ya, Minji-ya, kau pasti kenal dengan model terkenal yang satu ini. Dia Seohyun. Pacarku.”

“Kau tak pernah bilang padaku kalau kau punya pacar, oppa,” kata Minji sambil memandang Seohyun dengan tatapan tidak ramah.

“Benarkah?” Seohyun balas memandang Minji dengan tatapan yang sama. “Padahal kami sudah berpacaran selama tujuh tahun, lho, sejak kami masih berada di bangku kuliah.”

Minji terkejut mendengarnya. Ia lalu memandang Jungshin dengan tatapan tak percaya, tetapi yang ditatap malah menghindar dari tatapannya. Entah kenapa, Minji merasa hatinya terluka.

Tujuh tahun yang lalu, adalah hari dimana Jungshin mengungkapkan perasaannya padanya. Pria itu bilang akan menunggunya hingga dewasa. Kini, ketika ia sudah berumur 24 tahun, ketika ia merasa dirinya sudah dewasa, ganti ia yang menunggu kapan pria itu akan kembali membahas pembicaraan mereka yang tertunda pada tujuh tahun yang lalu. Ia menunggu, kapan pria itu akan melanjutkan pengakuannya yang sempat tertunda pada tujuh tahun yang lalu. Tetapi, apakah benar itu adalah sebuah pengakuan? Kalau memang bukan, lalu apa namanya?

Hingga sampai saat ini, hari dimana undangan pernikahan Jungshin dan Seohyun sudah disebar dan upacara akan dilaksanakan esok hari, Minji masih bertanya-tanya.

* * *

Siapa yang menyangka acara pernikahan Lee Jungshin bersama Seo Juhyun atau yang biasa dikenal dengan nama Seohyun akan berlangsung semeriah ini. Banyak di antara para tamu adalah orang-orang yang biasa Minji lihat di televisi. Maklum sih, Seohyun adalah seorang model terkenal yang saat ini kepopularitasannya sedang melejit bagai roket. Belum lagi dengan Lee Jungshin, pianis berbakat yang baru saja menyelesaikan tur dunia di beberapa negara untuk melakukan konser tunggalnya selama dua bulan pada beberapa bulan lalu. Yah, jadi tidak heranlah kalau acara pernikahan mereka akan segini hebohnya.

Minji berdiri dengan kaki gemetar di antara para tamu. Tangannya menggenggam erat gagang gelas berisi cairan merah. Matanya mengarah pada sosok Seohyun yang berdiri dengan begitu anggunnya di dekat meja minuman sana, bersama dengan beberapa wanita yang tampaknya beberapa di antaranya pernah Minji jumpai di sampul majalah. Seohyun benar-benar terlihat amat bercahaya berdiri di sana, dengan senyum yang amat cantik dan memesona, seperti menyihir jutaan para tamu di sini. Dan Minji, ia merasa seperti kecil sekali apabila dibandingkan dengan wanita itu. Sudah terlihat dengan begitu jelas mengapa Jungshin selalu melihat ke arah Seohyun. Wanita itu selalu tidak pernah pudar pesonanya.

Minji memutuskan untuk keluar ruangan. Ia merasa tidak tahan apabila terus-terusan berada di dalam. Ia merasa sesak.

“Minji-ya,” Minji berharap itu adalah suara halusinasinya, karena ia sedang tidak ingin bertemu dengan pria itu saat ini. Namun, ketika ia menolehkan kepalanya ke belakang, pandangannya terarah lurus pada tangga darurat, dan menemukan Jungshin duduk di sana. Nyata di depannya. Sedang memandang balik ke arahnya. Dan ini bukan halusinasinya. “Kau mau pergi ke mana?”

Minji menimbang-nimbang sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk mendekati Jungshin dan duduk di sebelah pria itu. “Kau sedang apa di sini? Upacaranya kan bukan di sini, oppa.”

Jungshin hanya tersenyum. “Tidak apa-apa. Hanya saja tiba-tiba aku merasa sesak berada di dalam.”

Minji tertegun. Sama sepertinya.

“Aku ingin bertanya padamu, Minji.”

Minji menahan napas, sambil menguatkan hatinya, berharap apa yang dibicarakan Jungshin tidak menyangkut dengan perasaannya atau apapun yang berhubungan dengan Seohyun. Ia akan merasa rapuh saat itu juga kalau Jungshin membicarakan hal tersebut.

“Menurutmu, apakah pernikahan ini terlalu mendadak?” tanya Jungshin. Minji tidak menjawab, lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. “Tadi pagi, aku merasa sangat yakin dengan pernikahan ini. Tetapi begitu berada di dalam ruangan tadi, aku merasa… entahlah, tiba-tiba aku takut merasa kehilangan…”

“Kehilangan apa?”

“Kau.”

“Eh?” Minji merasa ada dentuman keras di dadanya. “Kenapa aku?”

Jungshin tidak menjawab. Ia hanya memerhatikan wajah Minji lekat-lekat tanpa berkedip, dan hal itu membuat perut Minji tergelitik, seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang di dalam perutnya. Ia sungguh tidak tahan ditatap seperti itu oleh Jungshin. Maka dari itu ia menarik ujung rambut Jungshin demi memecahkan lingkaran udara aneh di antara mereka. Lalu, seperti biasanya, Jungshin akan membalas menarik hidung Minji. Mereka tertawa, melakukan hal kekanakan yang begitu konyol. Tetapi tetap saja, mereka menikmatinya karena itu terasa menyenangkan untuk mereka.

“Hal seperti ini nih yang akan kurindukan,” kata Jungshin.

Minji mengusap-usap hidungnya yang memerah. “Kau melow sekali sih, oppa. Nanti juga kalau kau sudah menikah, kau akan lupa padaku dengan sendirinya.”

“Aku tidak akan melupakanmu, Minji,” sela Jungshin.

Minji bergumam. “Aku juga tidak akan melupakan pengakuanmu tujuh tahun lalu.”

Jungshin tertegun. “K-kau masih mengingatnya?”

“Tentu saja aku tidak bisa melupakan…” ucapan Minji terhenti ketika menyadari sesuatu, lalu atensinya teralih pada Jungshin dengan tatapan tidak percaya. “Jadi itu benar-benar adalah sebuah pengakuan?”

Jungshin tidak langsung menjawab. Ia malah menundukkan kepalanya, menarik napas panjang, lalu menghelanya perlahan. “Maaf, Minji-ya…”

Minji terpekur.

“Tujuh tahun yang lalu, sebenarnya aku ingin bercerita padamu tentang pengakuan Seohyun padaku. Aku ingin bertanya padamu; ‘haruskah aku menerima perasaannya?’ atau ‘haruskah aku mengatakan iya atas segala permintaannya?’ atau mungkin saja aku akan berkata padamu; ‘tolong, jangan buat aku menyukainya karena aku tak ingin menyukainya’. Aku juga memikirkan apabila aku menerima perasaannya setelah memberitahu padamu; apa yang akan terjadi padamu setelah itu? Masihkah kita dapat bersama-sama seperti ini? Ataukah kita justru akan saling menjauh? Kita sudah terbiasa bersama selama ini. Perasaan yang kurasakan ini tidak sesederhana itu, aku tahu itu. Mungkin saat itu kau tidak merasakannya, tetapi aku sudah merasakannya sejak pertama kali kau datang ke rumahku dengan tangisanmu itu—tangisan karena kedua orang tuamu telah pergi. Sejak melihatmu menangis waktu itu, aku berjanji akan membahagiakanmu, aku berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Dan aku berjanji kalau aku tidak akan pergi jauh darimu—saat aku pergi tur konser dunia selama dua bulan pun sebenarnya aku sulit untuk melepaskanmu. Maka dari itu, tujuh tahun yang lalu, saat aku berbicara padamu, aku tidak membicarakan tentang Seohyun padamu ketika itu. Karena aku takut kau akan pergi dariku setelah kau mengetahui perasaanku. Aku… hanya akan menunggumu. Sampai pada waktunya. Saat kau sudah dewasa nanti.”

“Tetapi kau tidak pernah mengatakannya—bahkan ketika waktunya sudah datang, oppa.”

Jungshin tidak menyahut.

“Aku menunggumu, oppa. Kupikir selama ini kau hanya butuh waktu untuk mengatakannya pada ‘aku yang sudah dewasa’, tetapi kenapa kau dengan wanita itu malah—?”

“Maaf,” Jungshin kembali menyela.

“Kenapa kau hanya bisa bilang maaf padaku?!” teriak Minji. Tanpa sadar airmatanya mengalir.

“Lee Jungshin, kau ke mana saja?”

Tiba-tiba saja Seohyun sudah berdiri di depan mereka dengan tangan terlipat di depan dada, menatap lurus manik mata Jungshin dengan tatapan marah.

“Aku mencarimu sejak tadi. Upacara akan dimulai sebentar lagi. Kenapa kau malah di sini?”

Minji segera menyeka airmatanya sebelum dilihat oleh Seohyun. Ia memilih mundur dan menjaga jarak dari Jungshin. “Biasalah, Seohyun eonni. Jungshin oppa demam panggung,” ucapnya lirih, di tengah rasa sakitnya. “Tetapi tenang saja, aku sudah mengatasinya dengan baik.”

Seohyun mendengus lucu. “Aku jadi merasa heran kenapa kau bisa menjadi pianis internasional kalau kau selalu saja mengalami demam panggung seperti ini, Jungshin-ah” ia lalu meraih lengan Jungshin dan menggandengnya dengan begitu mesra. “Ayo, ke dalam.”

Dengan langkah gontai dan tak bertenaga, Minji mengikuti mereka di belakang. Ia tersenyum pahit saat melihat Jungshin menoleh ke arahnya selama sedetik dan mengucapkan ‘I love you’ padanya.

Rasanya, Minji ingin mati sekarang juga.

* * *

“Minji-ya, kau baik-baik saja?”

Minji mengalihkan pandangannya dari Jungshin pada Myungsoo yang kini sudah berdiri di sebelahnya dengan kamera DSLR yang terlingkar di lehernya.

“Oh, Myungsoo-ya, kapan kau datang?” tanyanya, mengalihkan perhatiannya sejenak pada Myungsoo.

“Sudah cukup lama, sampai aku menyadari kalau wajahmu sedang pucat. Apakah kau sakit?”

Ya, batin Minji berkata ketika ia kembali memandang ke arah Jungshin yang sedang berbicara dengan pendeta.

“Aku baik-baik saja,” dusta Minji pada Myungsoo.

Kemudian ruangan mulai meredup, pertanda upacara pernikahan akan segera dimulai. Minji melihat Jungshin membenahi penampilannya, bersiap untuk menyambut kedatangan calon istrinya. Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Seohyun bersama ayahnya masuk ke dalam ruangan, berjalan di atas red carpet, menuju pelataran utama. Jungshin sudah menunggunya di altar sana, untuk mengucapkan janji suci pernikahan bersama.

“Seohyun noona benar-benar sempurna,” komentar Myungsoo sambil memotret wanita itu dengan kameranya. “Aku tidak tahu apakah aku termasuk laki-laki yang beruntung atau tidak karena menjadi fotografer pribadinya.”

Minji tidak mendengarkan ucapan Myungsoo. Ia memerhatikan wanita itu yang berjalan dengan begitu anggunnya menuju Jungshin, dengan lengan yang digaet oleh ayahnya di sebelahnya. Ketika ia menoleh kembali pada Jungshin, ia tertegun saat melihat tatapan pria itu yang mengarah padanya.

Jungshin tidak tahu apa yang tengah dirasakannya saat ini. Usai pembicaraannya dengan Minji di tangga darurat tadi, perasaannya berubah kacau. Dan saat ini, ketika Seohyun, calon istrinya, tengah berjalan ke arahnya untuk mengucapkan janji suci bersama, pandangannya malah terarah pada Minji yang berdiri bersebelahan dengan Myungsoo di tengah ruangan sana. Perempuan itu terlihat sedang menahan tangis, airmatanya mengambang, bibir bawahnya digigit, urat keningnya menegang. Wajah perempuan itu menunjukkan kepedihan, rasa sakit, dan putus asa. Dan entah kenapa, hal itu membuat perasaan Jungshin berubah semakin kacau.

Seohyun tiba di depan Jungshin. Ayahnya Seohyun menyerahkan putrinya pada Jungshin. Dengan tangan gemetar, Jungshin meraih tangan wanita itu dan menuntunnya berjalan menuju hadapan pendeta.

Dan inilah saat-saat yang paling menyakitkan untuk Minji. Pengucapan peneguhan pernikahan.

Minji melihat Jungshin berdiri di depan pendeta, bersiap untuk mengucapkan janji suci pernikahan. Seohyun berdiri di sebelahnya, mengenakan gaun pengantin yang begitu cantik, siap untuk mendengarkan calon suaminya mengucapkan peneguhan janji suci. Minji harus menahan tangisnya ketika kemudian pendeta itu mengawali upacara peneguhan nikah.

“Pada pernikahan suci ini, bertempat di gedung Lotus pada hari Sabtu, 11 Januari 2021 akan dipersatukan: Lee Jungshin dengan Seo Juhyun,” pendeta memulai peneguhannya. “Inilah janji nikah Saudara yang harus dipegang teguh sampai maut memisahkan. Sesuai dengan niat hati Saudara yang tulus dan suci, hendaklah Saudara dan Saudari berdiri di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya serta menjawab pertanyaan ini dengan jelas dan tegas.”

“Saudara Lee Jungshin, apakah Saudara mengakui di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya bahwa Saudara bersedia dan mau menerima Saudari Seo Juhyun sebagai istri Saudara satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup Saudara?” pendeta itu melayangkan pertanyaan peneguhan pertama.

Ketika Minji tengah mencoba menahan rasa sakit karena akan mendengar jawaban Jungshin, ia malah melihat pria itu menoleh padanya. Memandang lurus ke arahnya. Dengan tatapan bertanya. Seperti menuntut jawaban. Meminta persetujuan.

“Jungshin-ah,” Seohyun mencoba untuk menegur pria di sebelahnya untuk segera menjawab pertanyaan dari pendeta.

“Saudara Lee Jungshin, saya ulangi sekali lagi, apakah Saudara mengakui di hadapan Tuhan dan Jemaat-Nya bahwa Saudara bersedia dan mau menerima Saudari Seo Juhyun sebagai istri Saudara satu-satunya dan hidup bersamanya dalam pernikahan suci seumur hidup Saudara?”

Jungshin masih tidak menjawab. Hal tersebut mulai menimbulkan suara bisik-bisik dari para jemaat yang hadir. Begitu pun Minji yang merasa gelisah di tempat, apa yang sebenarnya sedang Jungshin lakukan di sana?—dan kenapa pria itu melihat ke arahnya terus?

Pendeta tampaknya sudah cukup bersabar hingga ia kembali memanggil nama pria itu. “Saudara Lee Jungshin…”

“Pendeta-nim,” Jungshin terlebih dahulu menyela. “Apakah pernikahan ini bisa dibatalkan?”

“Apa?” Pendeta tampak terkejut. Begitu pun para jemaat yang hadir, termasuk Minji, Seohyun, dan Myungsoo.

Jungshin membungkukkan setengah badannya pada pendeta di depannya. “Aku minta maaf telah membuang waktumu, Pendeta-nim. Aku, atas nama calon mempelai pria, Lee Jungshin, membatalkan pernikahan ini.”

Yya, Lee Jungshin!” gertak Seohyun.

Jungshin menoleh pada Seohyun dan dilihatnya wanita itu tampak menahan amarah sekaligus airmata. “Seohyun-ah, mianhae…

Setelah berkata begitu, Jungshin melangkah turun dari altar, menelusuri sepanjang red carpet, lalu berhenti tepat di depan Minji yang balas memandangnya dengan tatapan syok.

“Minji-ya, apakah kau bisa berlari sekarang?” tanya Jungshin.

Eoh?” Minji tak dapat berkata apa-apa, selain terkejut. Ia mengikuti arah pandang Jungshin yang sedang memandangi high heels yang dikenakan Minji. Mengerti maksud pria itu, tanpa sadar Minji menganggukkan kepala dengan patah-patah. “Kurasa bisa.”

“Kalau begitu, apakah kau ingin lari bersamaku?”

O–oppa–”

Belum sempat Minji menjawab, Jungshin sudah menarik tangan perempuan itu untuk berlari ke luar gedung. Suasana di dalam gedung mendadak heboh. Seohyun berteriak marah sambil menyebutkan nama Lee Jungshin dengan suara parau yang menyayatkan hati para jemaat. Sementara para jemaat mulai menyebar ke mana-mana. Ada yang menghampiri Seohyun, ada yang diam di tempat tidak peduli, ada yang segera mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan momen kaburnya calon mempelai pria dari pernikahan, dan ada juga yang berlari mengejar Jungshin dan Minji—kategori orang terakhir ini adalah para wartawan dan reporter yang haus akan berita.

Minji belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya saat Jungshin menarik tangannya untuk berlari bersamanya. Ketika suara-suara ribut di belakang terdengar, langkah sepatu yang menggebu-gebu, suara orang-orang yang saling tumpang tindih, dan suara blitz kamera saat memotret, barulah Minji tersadar kalau saat ini ia sedang berlari bersama seorang pianis internasional dan dikejar oleh para wartawan.

O-oppa, apakah kau gila?!” teriak Minji. “Kau baru saja kabur dari pernikahanmu bersama Seo Juhyun!”

“Ya, aku gila, Minji-ya. Aku gila karenamu,” Jungshin balas berteriak sambil tertawa.

Minji masih memandang Jungshin dengan tatapan tak percaya. Ia memang tak bisa memungkiri kalau ia merasa senang karena Jungshin sedang berlari bersamanya sekarang, bukanlah mengucapkan janji suci pernikahan bersama Seohyun di altar. Tetapi hatinya setengah meragu akan keputusan yang telah pria itu ambil.

Melihat keraguan di manik Minji, Jungshin berhenti berlari dengan napas terengah. Ia melirik sekilas pada orang-orang di belakang yang tengah berlari ke arahnya. Ada waktu beberapa detik untuk berbicara pada Minji sekarang.

“Sebelum berlari terlalu jauh, aku konfirmasi padamu terlebih dahulu. Apakah kau menganggap ini adalah sebuah penculikan?” Jungshin menatap Minji lekat.

Minji terdiam beberapa saat, lalu menggeleng.

“Apakah menurutmu aku sedang kabur dari pernikahanku atau aku telah memutuskan memilih wanita mana yang akan bersamaku?”

Kembali, Minji terdiam beberapa saat, sebelum menjawab, “Kurasa jawaban terakhir lebih tepat.”

Jungshin kembali melirik para wartawan di belakang yang semakin mendekat. Ia melihat Myungsoo sebagai salah satu orang yang sedang berlari di sana.

“Terakhir, apakah kau benar-benar tidak berpacaran dengan Myungsoo?”

“Tentu saja tidak!” Kali ini Minji menjawab tanpa ragu.

Jungshin tersenyum, lalu mengulurkan tangannya pada Minji. “So, will you run with me now?

Tanpa ragu, Minji menyambut uluran tangan itu dan menggenggamnya erat. “Of course, I will, oppa!

Jungshin balas menggenggam erat tangan Minji dan menatap perempuan itu lembut. “Maaf membuatmu terlalu lama menunggu, Minji-ya.”

Begitu para wartawan tiba di dekatnya, Jungshin berseru, “Konfirmasi selesai! Let’s run!

Jungshin kembali menarik tangan Minji menjauhi para wartawan. Pada pelarian pertama, Minji masih merasa syok dan meragu untuk berlari bersama pria itu. Pada pelarian yang kedua, Minji dengan senang hati berlari bersama pria itu. Tak peduli dengan rasa sakit pada tumit kakinya karena mengenakan high heels. Tak peduli dengan gaun putihnya yang berkibar-kibar dan menyentuh aspal. Tak peduli dengan tatapan-tatapan aneh dari orang-orang ketika mereka berhasil keluar gedung. Karena selama ada Jungshin di sisinya, ia akan baik-baik saja.

“Ahn Minji, saranghaee-yoo~” teriak Jungshin di tengah-tengah pelariannya.

Nado saranghae-yoo~ Jungshin oppaa~” Minji balas berteriak.

Entahlah, Jungshin akan mengajaknya berlari sampai kapan. Yang Minji tahu adalah, selama ada Jungshin di sisinya, ia siap untuk berlari ke manapun dan kapanpun.

—End.

Advertisements

12 thoughts on “[Oneshot] Will You…?

  1. Pas baca ini sekilas inget filmnya Kris-Hangeng-Joowoon yg judulnya Sweet Sixteen wkwkwk
    udah gtu bercampur dyn mv Fly To The Sky It’s Happen to be that way wkwkwk

    ffnya bagus aku sukaa haha

  2. Homina…homina…homina…homina…
    Oh my god! I love this so much! You play my heart, kak! Awal ceritanya itu manis bgt…. Perlahan ke tengah agak nyeri…. Trus berakhir dg sangat manis. Tiap aliran kata berasa mengalir dalam darah. Sejuk seperti rintik hujan membasahi bumi. Huaaaaaaaaa….. Asli dah susah mendeskripsikannya. Really fallin for this ff. Thank you so much kak….. Manis bgt…. Aku senyum terus bacanya. Ya… Cinta itu sederhana. Dan yg sederhana itu lebih manis. Sukak bgt parah.

    • You know what, tadinya aku mau bikin ini sad ending loh, udah tak kasih hurt/comfort untuk genre-nya, eh kemudian tak baca ulang kok kalo sad ending bakalan garing banget, akhirnya tak ubah lagi deh plotnya. Bikinin ff untukmu yg paling ribet tau, wao, tapi syukurlah udah kelar, haha.. no req lagi ya buat kamu :p wkwk

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s