[Oneshot] Innocent Love

innocent-love

|| Title: Innocent Love || Author: Phiyun || Genre: Romance | School Life || Cast: Lee Jung Shin | Ahn Min ji (OC)/ You ||

 

Isi dalam Fanfic ini aku fokuskan dari sisi Ahn Minji, ya dan tulisan yang di italic [bergaris miring], itu adalah ungkapan isi batin pemainnya ^^

Don’t Bash and Plagiat! Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

“Lepaskan!” Pekik gadis itu dan tak lama kemudian terdengar suara…

‘Plak!!!’ Pria yang sedari tadi mencengkram pergelangan tangan gadis itu pun melepaskannya saat gadis tersebut menamparnya dengan cukup keras.

“Aku tidak mau melihatmu lagi!” Teriak gadis berambut panjang tersebut sambil berlalu. Ternyata saat kejadian itu pria itu tak menyadari bila dirinya sedari tadi telah di awasi oleh sesosok seseorang yang bersembunyi dibalik belakang tembok taman belakang sekolah.

~OoO~

“Tak mungkin Lee Jungshin di tolak.” Teriak batinku sambil sesekali mengintip belakang punggung sosok pria tersebut dari balik tembok.

“Mungkin aku salah lihat. Mungkin saja pria itu bukan Jungshin.” Ujarku penuh keraguan dan untuk meyakinkannya aku pun harus melihatnya kembali. Namun sayang seribu sayang saat aku hendak mengintip, sosok pria itu sudah ada di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya pria berpostur jangkung tersebut sambil menggernyitkan dahinya. Aku terdiam, bibirku terkatup rapat. Aku bingung dan gugup saat menjawab pertanyaannya, dan reaksiku membuat pria itu semakin curiga.

Merasa  tak ditanggapi, Namja itu kembali berkata. “Apakah kau melihat…”

“Aku tidak melihatnya! Aku tidak melihat bila Jungshin mendapatkan tamparan dari gadis yang telah menolak cintamu!” teriakku panik.

 “Aah… jadi kau melihat semuanya?” Aku terhenyak saat menyadari kebodohanku.

Kumundurkan langkah kakiku perlahan-lahan untuk sesegera mungkin pergi dari sini. Tapi rencanaku tak berhasil karena pria itu menyadari semua gerak-gerikku. Lenganku pun di tariknya dan kemudian tubuhku di rapatkannya di sisi tembok sehingga belakang punggungku merasakan keras dan dinginnya batu tersebut.

“Apa kau melihat wajah gadis itu!” Tanyanya penuh dengan ketidak sabaran.

Tenggorokanku terasa tercekik saat harus menjawab perkataannya. “A—aku tidak melihatnya.”

“Bohong!” imbuhnya kembali.

“Sungguh! Aku hanya melihat belakang punggung gadis itu.” Kataku kali ini penuh dengan keyakinan.

Dan kesungguh-sungguhanku di percayai oleh Jungshin.  Pria itu lalu bergeser ke belakang sambil menundukan kepala. Bisa aku tebak bila sekarang dirinya sedang menyembunyikan rasa malunya di depanku.

“Saat ini kau pasti malu, benar kan?” tebakku.

Kedua mata Jungshin pun langsung terarah ke hadapanku. sorot mata laki-laki itu sangatlah kelam dan penuh ketidak percayaan saat mendengar perkataanku yang barusan.

“Kira-kira apa ya, respon seluruh murid-murid sekolah ini. Bila mengetahui bila pria yang selama ini di gila-gilai oleh hampir seluruh murid perempuan sakura, telah di tolak cintanya dengan sebuah tamparan.” Imbuhku kembali.

Ekspresi wajah laki-laki itu pun semakin tercengang. “A—apa maksudmu?” katanya, “Apakah sekarang kau sedang mengancamku?”

“Tidak! Aku tidak mengancammu.” balasku, “Aku hanya berkata bagaimana respon dari murid-murid sekolah ini, itu saja.”

“Apa maumu? Apa yang kau inginkan dariku?” kata pria jangkung itu ragu.

Dan dengan percaya dirinya aku menjawab. “Perkenalkan namaku Ahn Minji dari kelas sebelah. Bila kau ingin aku tutup mulut boleh kok, tapi sebagai gantinya kau harus menjadi kekasihku.”

Entah apa yang membuatku mempunyai pikiran untuk mengatakan kalimat itu. Mungkin aku sudah gila?

“Pasti sangat menyenangkan bila memiliki kekasih yang sangat populer di sekolah.” Kataku riang, namun tanggapan yang di balas oleh lawan bicaraku hanya keheningan. Dan kesunyian itu aku manfaatkan untuk mengancamnya. “Sepertinya aku ingat siapa gadis itu, sepertinya dia itu…”

“Baiklah! Aku setuju.” Potongnya. Sorot mata pria itu terlihat geram namun tatapan itu tak berlangsung lama karena dalam hitungan detik mimik wajah Namja itu penuh dengan kemasrahan.

~OoO~

-Keesokan harinya-

Ahn Minji dengan bangganya memberi tahu kan bahwa dirinya telah berpacaran dengan Lee Jungshin kepada dua teman dekatnya di kelas saat jam istirahat

“Yak! Sadarlah Minji-ah. Kau jangan terlalu tinggi mengkhayal.” Dan ucapan Eunjung di benarkan oleh teman yang satunya. “Iya, mana mungkin seorang  Lee Jungshin menjadi kekasihmu.”

Kesal di kira hanya becanda, Minji pun angkat bicara lagi. “Aku benar-benar berpacaran dengan Jungshin. Aku tidak…”

“Ahn Minji, ayo kita pergi,” Sela seorang murid laki-laki dari depan pintu kelas Minji.

Sontak Minji tersentak kaget begitu pula semua murid di dalam kelas gadis itu. Kelas yang saat tadi riuh seketika hening saat pria berpostur jangkung tersebut masuk ke dalam kelas sambil menggengam lembut jari jemari Minji untuk pergi bersama dengan dirinya.

~OoO~

 

“Makan siang bersama sangat seru ya, Jungshin-ah. Kita seperti benar-benar berkencan.” Celetukku sambil menatap belakang punggung laki-laki tersebut. “Tapi ngomong-ngomong ada apa kau datang ke kelasku?” Namun tanggapannya masih sama. Ya, ia masih terdiam tanpa menoleh ke arahku. “Apakah kau…” belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, Jungshin langsung membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba sehingga tanpa sengaja kepalaku terantuk cukup kencang di atas dadanya yang bidang.

“Aauww!” rintihku sambil tersipu malu. Saat aku berniat akan menjauh dari hadapannya, tiba-tiba sebelah lengan Jungshin meraih pinggangku. Otomatis jarak di antara kami berdua sangatlah sedikit. Bahkan diriku bisa mencium bau wangi colen yang ia kenakan. Tidak di sana saja, aku juga dapat merasakan panasnya suhu tubuhnya saat jari-jarinya yang panjang menyentuh sisi pinggangku.

“Bisakah kau tutup mulutmu itu? Apakah harus aku yang membekap mulutmu dengan caraku sendiri?” ujarnya dengan suara yang serak. “Aku kasih tahu ya, aku melakukan itu semua, semata-mata hanya ingin mengawasimu. Apakah kau mengerti?” ucapnya pelan namun kalimat itu terdengar sedikit mengancam di kedua gendang telingaku. Tak ingin membuat diirnya kesal, aku pun langsung mengangguk secepatnya tanpa protes.

~OoO~

-Di kantin sekolah-

Setibanya di sana, Minji dan Jungshin sudah dipertontonkan dengan ramainya murid-murid yang sedang sibuk membeli makanan. Di setiap stand makanan sudah penuh dengan antrian para murid.

“Wah, knatinnya ramai sekali! Bagaimana pesan makanannya yah?” kata gadis mungil itu dengan kedua alis yang menyatu.

“Aku saja yang memesannya,” katanya. “Dan kau, Minji. Carikan tempat duduk kosong untuk kita berdua.”

Minji berusaha menolak saran itu dengan halus karena ia merasa tidak enak bila harus menyusahkan Jungshin .“Tapi, Jungshin-ah itu…”

“Sudah! Duduk sana.” perintah pria itu kembali setelah itu ia pergi membeli makanan.

Di saat Minji telah menemukan tempat duduk yang kosong untuk mereka berdua tiba-tiba terdengar suara wanita memanggil dirinya.

“Minji-ah…”

Sontak gadis berambut hitam keikalan tersebut menoleh asal muasal suara tersebut. “Bu Yumi!” balas Minji setengah berteriak karena terkejut kepada wanita yang saat ini sedang membawa senampan makanan yang masih mengepul.

“Di sana kosong? Boleh kah aku duduk?” tanya guru yang mengajari matapelajaran kimia tersebut.

“S—sebenarnya… di sini…” Minji mulai panik, saat ditanyakan hal itu. Gadis itu ingin memberitahu bila kursi itu sudah ada yang punya tapi ia tidak enak hati bila menyuruh gurunya pergi dari mejanya.

Tak beberapa lama kemudian datanglah Jungshin. “Ahn Minji!”

“Jungshin-ah.” sambil menoleh ke arah pria tersebut.

Bu Yumi langsung bangkit dari kursi dan lalu berpamitan kepada Minji. “Maaf bila mengganggu, sampai nanti Minji-ah.”

Guru itu pun pergi.

~OoO~

 

-Selang beberapa menit kemudian-

“Kalian tadi berbicara apa saja?” tanya Jungshin kepadaku di saat aku akan menghabiskan sesendok makanan yang ada di piringku.

“Eh??”

“Tadi kamu berbicara dengan Bu Yumi, kan?” tanya Jungshin kembali kali ini suaranya terdengar lebih pelan.

Sebelum aku menjawab pertanyaanya. Sekilas kuperhatikan dirinya. “Biasa saja, kok. Tadi Bu Yumi tanya bangkuk ini kosong atau tidak.”

“Oh begitu…” responnya sambil menatap ke arah meja guru tersebut.

Tatapan mata Jungshin begitu dalam saat menatap Bu Yumi. Sebenarnya aku tahu bila wanita yang waktu itu bersama dirinya di belakang taman sekolah kemarin adalah Bu Yumi, tapi aku berpura-pura tidak tahu siapa sosok wanita itu.

“Kau begitu tak ingin ketahuan di tolak ya?” celetukku untuk mencairkan keheningan di antara kami.

Seketika kedua manik pria itu langsung menatap ke arahku dengan ekspresi terkejut. “Jangan bicara keras-keras!” Gerutunya kemudian kembali fokus memekan makanan yang ada di atas piringnya.

“Tenang aku tidak akan bilang siapa-siapa, kok,” Balasku. “Makanya, nanti pulang sekolah kita kencan, ya!” ujarku kembali dengan senyuman.

~OoO~

-Lima jam kemudian-

“Yak!!! Datangnya jangan keroyokan kenapa?” pekik gadis berseragam sekolah tersebut saat dirinya sedang memberikan makan burung di taman.

 Beberapa burung merpati berterbangan di atas kepala Minji dan beberapa yang lainnya bertengger di kedua bahu gadis tersebut. Minji begitu sibuk bercengkrama dengan para merpati sedangkan kekasihnya, Jungshin terlihat duduk malas di atas bangkuk taman.

Merasa bosan akhirnya Jungshin bangung dari atas kursi kayu tersebut dan kemudian berjalan menghampiri Minji yang masih tetap sibuk memberi kudapan kepada merpati.

“Yak! Ini apanya yang kencan?”

Minji menengok. “EH? Ini memang kencan.” Kemudian kembali sibuk dengan hewan kecil berbulu putih tersebut.

Merasa tak di pedulikan ucapannya, Jungshin langsung mengangkat lengan Minji untuk berdiri. Gadis berambut ikal tersebut pun bangun dari berjongkoknya dan sekarang posisi tubuhnya sudah merapat di pelukan kekasihnya, Jungshin.

“Yang dinamakan kencan itu,” sambil sebelah tanganya menyentuh dagu milik lawan bicaranya. ” Harusnya dilakukan malam-malam.”

Mendengar perkataan itu, kedua pipi milik Minji langsung menyeburkan warna kemerahan. Kedua matanya tak pernah lepas memandang manik milik Jungshin yang tajam bak burung elang.

“Kalo begini kan gak asyik.”

“A—asik kok, buatku!” balas Minji saat Jungshin melepaskan pelukannya.

“Dasar bodoh. Kencan apa ini, yang kau bilang menyenangkan?” runtuk kekasihnya malas.

Minji kemudian menghampiri Jungshin dengan langkah yang mantap lalu berkata. “Memang terdengar membosankan tapi, selama kita menghabiskan waktu bersama berdua dimana pun itu, itu tetap mengasyikan untukku. Karena aku sangat senang bisa bersama Jungshin, dan kurasa mantan kekasihmu pasti berpikir hal yang sama.”

 “Gadis itu bukan mantanku. Aku meminta dirinya untuk menjadi kekasihku sekali saja, tapi aku terus memaksamu dan akhirnya menjadi seperti itu.”

Minji terdiam, tatapan gadis kosong saat menatap pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Gadis itu seolah merasakan hal yang di rasakan oleh kekasihnya, Jungshin.

“…Apa menurutmu dia masih merasa senang bila bersama dengan diriku?” kata pria berpostur tinggi tersebut. Dan lawan bicaranya pun menjawab. “Tentu saja.” sambil tersenyum lembut.

~OoO~

-Tiga bulan kemudian-

Hari kian berlalu dan tak terasa hubunganku dengan Jungshin semakin dekat. Banyak kenangan yang telah kubuat bersama dengan dirinya. Seperti setiap hari kita pulang sekolah bersama, makan siang bersama dan kadang sesekali kita pergi keluar untuk makan malam atau nonton bioskop.

Meskipun semua itu aku yang memintanya, Jungshin tak pernah mengeluh. Terkadang aku merasa bersalah kepadanya, sering kali aku berpikir bila Jungshin melakukan itu semua karena dia takut kepadaku bila aku menyebarkan rahasianya kepada seluruh murid. Padahal aku sama sekali tak punya niatan untuk melakukan itu semua, sedikit pun tidak.

Namun belakangan ini Jungshin sering melamun. Tatapan matanya terlihat kosong saat bersamaku. Sepertinya ada sesuatu yang membebani pikirannya.  Dan aku tidak suka melihat keadaanya yang seperti itu.

~OoO~

“Jungshin, Jungshin-ah. Ya! Lee Jungshin!” panggil Minji setengah berteriak.

Akhirnya lelaki itu menoleh ke arahnya, namun tatapan  mata tidak fokus. “Eh? Ada apa Minji-ah?”

“Ada apa dengan dirimu? Mengapa belakangan ini, kau sering melamun?”

“A—aku…”

Belum sempat  Jungshin menyelesaikan perkataannya tiba-tiba Minji menyelanya. “Semenjak kau mendengar berita tentang Bu Yumi, kau jadi sering melamun.”

“Aku tidak ingin membahas hal itu dan satu lagi itu bukan urusanmu!” balasnya acuh tak acuh.

Merasa perkataannya tak dihiraukan, Minji pun meradang. “Jelas itu semua akan menjadi urusanku. Kita ini pacaran dan urusanmu adalah urusanku juga.”

Jungshin menyeringai saat menanggapi perkataan lawan bicaranya. “Pacaran?? Baiklah bila begitu, akan aku tunjukan apa itu pacaran.”

Setelah mengatakan itu Jungshin langsung menarik kasar lengan Minji untuk pergi bersama dengan dirinya.  Minji berusaha menolaknya namun apa daya tenanganya tak sebanding dengan kekuatan yang dimiliki oleh lelaki tersebut.

Setibanya di tempat tujuan, tubuh rentah gadis itu dihempaskannya di atas ranjang berselimut putih. Ya, tempat yang mereka datangi adalah sebuah losmen yang berada di pinggiran kota.

“Hentikan!” pekik Minji sambil meronta-ronta.

Namun sayang, usaha yang dilakukannya tak menunjukan hasil. “Aku aku ajarkan, apa yang dimaksud dengan pacaran itu.” imbuhnya seraya menyibak kancing kemeja milik gadis itu hingga tak ada yang helaian benang yang menutupi kulit mulus putih milik Minji kecuali pakaian dalam berenda yang ia kenakan.

“Bagaimana, apakah bisa kita mulai sekarang?” ujar Jungshin dengan sudut bibir yang terangkat.

Minji menatap kosong ke arah kekasihnya, Jungshin. Tubuhnya yang saat tadi meronta-ronta kini membeku. Reaksi itu membuat lekukang bibir Jungshin menghilang.

“Kau boleh memelukku tapi aku tak mengijinkan kau memikirkan dirinya bahkan menyebut nama gadis itu.”

Jungshin  langsung bangun dari atas tubuh Minji. “A—apa maksudmu? Tadi aku hanya…”

“Ayo kita lakukan, tapi jangan sampai kau menyebut nama Yumi.” Sela Minji sambil melingkarkan kedua tangannya di atas pinggang milik Jungshin.

Jungshin tercengang saat Minji menyebut nama guru Kimia mereka.

“Dari awal aku sudah tahu sosok wanita itu. kau selalu menatap ke arahnya, bukan? Sedangkan aku selalu menatap dirimu.” Minji kemudian membalikkan tubuh pria itu sehingga membuat mereka berhadapan satu sama lain sebelum melanjutkan perkataannya.  “Kau tidak perlu khawatir dengan kepergian Bu Yumi. Karena kenanganmu bersama dengan dirinya tak akan pergi, dia akan selalu ada di sini. Sambil meletakkan sebelah tangannya di atas dada milik Jungshin.

“Berikanlah senyuman terbaikmu dan ucapkan selamat tinggal padanya, ya Jungshin. Aku yakin dia juga menunggu kalimat itu darimu.” Tak lama kemudian jatuhlah tetesan bening dari sudut kedua mata milik Jungshin. Pria itu berusaha menutupi kelemahannya dengan cara menundukan kepalanya. Minji menyadarinya bila Jungshin sangatlah terpukul dengan pemberhentian guru kimianya, yang membuatnya lebih terpuruk adalah kabar berita  pernikahan wanita itu yang akan di selenggarakan di minggu ini,

Tubuh gemetar Jungshin pun dipeluk Minji dengan lembut dan kemudian berkata. “Semua akan baik-baik saja.”

~OoO~

-Seminggu kemudian-

Hari yang ditungu-tunggu pun tiba. Banyak murid-murid yang merasa sedih saat mengikuti acara pelepasan guru kesayangan mereka, Bu Yumi. Banyak murid yang merasa kehilangan. Sikap Bu Yumi yang ramah dan bersahaja membuat banyak murid menyukainya.  Tak terkecuali murid populer Sakura yaitu Lee Jungshin.

“Sebelum beliau meninggalkan kita semua, Bu Yumi akan memberikan sepat kata.”

“Saya tidak akan melupakan kalian semua. Saya sangat berterimakasih karena sudah diijinkan untuk mengajar di sekolah kebangga ini. Maaf bila ada kata yang tak berkenan di hati baik yang segaja maupun yang tidak di segaja. Sekali lagi terimakasih banyak.”

Di akhir pesan yang Bu Yumi sampaikan di tutupi dengan tepukan tangan. Dan di saat Bu Yumi hendak turun dari atas panggung terdengar suara lelaki memanggil namanya dari kejauhan.

“Bu Yumi!” panggil Jungshin dengan napas yang tersenggal-senggal saat tiba di depannya. “Selamat atas pernikahannya.” Di berikannya sebuket bunga lily putih yang ada di gengamannya kepada wanita itu. “Aku suka Bu guru. Aku merasa sangat senang bersamamu makanya aku ingin kau bahagia. Selamat tinggal Bu guru.”

Acara pelepasan Bu Yumi pun selesai. Di depan gerbang sekolah Bu Yumi sudah ditunggu oleh Tunangannya. Karena kabarnya mereka akan mengadakan hari pernikahan mereka di Orlando di mana sang tunangan Bu Yumi di pindah tugaskan.

Dari kejauhan Minji dan Jungshin menatap kepergian guru kesayangan para murid sekolah Sakura.

“Dia pergi.” Kata gadis itu dan di benarkan oleh Jungshin dengan anggukan kepala.

Minji lalu bergeser ke depan lawan bicaranya. “Jungshin-ah, terimakasih atas segalanya.” Ucapnya seraya merundukan kepala.  Jungshin sedikit terkejut dengan aoa yang dilakukan oleh gadis tersebut.

“Minji-ah. Apa yang…”

“Tadi kau sangat keren, loh. Aku jadi jatuh cinta lagi.” Ungkapnya dengan wajah yang bersemu merah. ”Jungshin-ah, suatu saat nanti aku akan menjadi wanita yang cocok untuk mendampingimu. Dan bila saat itu jadilah kekasihku sekali lagi.”

“Kamu sedang bicara apa, sih?” tanpa aba-aba, Jungshin langsung memeluk gadis yang ada di depannya. “Dasar bodoh! Sekarang pun kau cocok untukku. Kau tidak perlu berubah, karena aku menyukai apa adanya dirimu.” Setelah itu, Jungshin mengecup lembut puncak kening milik Minji.

Minji membeku ia masih merasa bingung, dengan semuanya. “Jadi… maksudmu, kita masih berpacaran??” tanya gadis itu dengan ekpresi tak percaya.

Tidak beberapa lama kemudian pria berpostur tinggi itu pun menjawab. “Menurutmu?”

-The end-

~OoO~

Halo…haloo…halooo ketemu lagi kita di sini, hehee 😀

Aku membawakan ff baru lagi nih dan kebetulan ff ini req. Seseorang yang bernama Wao dan tadaa… jadilah ff gaje bin ajaib ini, hahaaa 😛  Hutangku sudah lunas yah Wao, maap kalau cerita gak jelas, lama buatnya, bahkan isi ceritanya jauh dari perkiraanmu, meskipun begitu aku berharap kamu dan para readers sekalian tetap menyukainya 🙂

Oceh deh cuap-cuapnya, sampai ketemu di project ff ku selanjutnya, Sebelum dan sesuadah, Phiyun ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada good readers yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir ke sini + komennya. See you next time ❤

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Innocent Love

  1. Huuuaaaa itu apaa?? Kenapa suamiku?? Jungshin aaah.. aq demoo.. gak rela suamiku di pairing sama yg lain.. hiks hiks hiks.. ajungshinku… ige mwoya? Aq nangis liat pairingnya.. maunya aq aja 😥

  2. Huaaaaaaaaa kok Jungshin ngeselin sih kak? Kok Minji bodo bgt sih kak? Kenapa??????? Alurnya menurut ku kecepatan kak, gak ada tanda2 klo Jungshin mulai membalik hatinya utk Minji. Tp suka. Makasih kak phiyun. Lain kali mau req lagi yaa

    • Emang tuh Jungshin emang nyebelin, kkkk XD
      Alurnya kecepetan ya say, mian aku gak terlalu bisa buat ff lepas kebiasaan buat cerbung, Iya sama-sama, req, wao yang baru dah berjalan ya, ditunggu aja next partnya. Makasih wao dbuat RCL-nya ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s