[CHAPTER 2] Despicable Me

Despicable Me

a fanfic by BluebellsBerry, requested by Oyewyn.K

Poster by Laykim @ Indofanfiction’s Art

Starring by Jung Yong Hwa  and Park Shin Hye with Krystal Jung and EXO’s Kai

Sad Romance, Melodrama, Angst, Psycology

nb: flashback in italic^^

.

.

.

“This is our love, the sickest pain in our heart…”

.

.

.

cameo: OC’s Han Sun Kyo & Super Junior’s Choi Siwon

siwon-sunkyo-visualization

.

.

.

Menarik napas panjang, Shin Hye kemudian memajukan langkah mungilnya—sekali lagi kembali ke lorong yang menghubungkan antara kamarnya dan Yong Hwa dengan kamar Krystal. Dicelah pintu yang terbuka wanita itu melihat bahwasanya ada beberapa hal serius yang tengah mereka bicarakan. Dan bukannya tak mengerti persoalan yang tengah dibahas, namun Shin Hye lebih memilih untuk menutup dirinya sendiri dengan berpura-pura tidak peduli dengan permasalahan yang ada.

“Aku akan berhenti,” Krystal berucap lagi, kali ini gadis itu tampak sudah memantapkan niatnya—dan sepertinya Yong Hwa sama sekali tak dapat melakukan apa-apa.

“Tapi kau milik ku!” seru pria itu tiba-tiba, memberikan sedikit rasa nyeri pada Shin Hye disana yang sebenarnya tahu apa maksud kalimat ambigu itu.

Mianhae, oppa…” tegas Krystal, “It’s over,

Batinnya seolah memiliki sensor otomatis yang lekas menutup seketika saat tubuhnya memberikan simultan-simultan yang membuatnya merasa tidak nyaman—dan sudah pasti obrolan sepasang kakak beradik angkat itu salah satunya. Pun suara hati kecil Shin Hye sesekali mengetuk dirinya, mengingatkan kalau-kalau ada hal yang sebenarnya tak seharusnya dia abaikan—terutama perasaannya pada Jung Yong Hwa, yang sudah bertahun-tahun di tutupinya dengan menghabiskan waktu bersama Krystal. Yang sebenarnya cuma segumpal pelampiasan dari perasaannya serta harga dirinya yang terluka bertahun-tahun silam.

“Ini sudah berakhir?” tanya Shin Hye pada dirinya sendiri—sangat pelan, bahkan terlampau pelan untuk sebuah bisikan.

Kadang Shin Hye sering melupa, bahwasanya perasaan terdalam seseorang seringkali terlupakan hanya karena keegoisannya sendiri. Termasuk dalam kasus Krystal, misalnya, sebenarnya gadis muda itu tak tahu apa yang di hadapinya ketika menerima tawaran Jung Yong Hwa—akan tetapi keadaan terlalu menekannya, memaksa seorang Krystal Jung untuk menjual dirinya—demi uang. Dan Park Shin Hye sadar sejak awal, bahwa dia adalah satu-satunya orang yang ikut menyeret Krystal masuk kedalam jurangnya—penderitaan miliknya.

.

.

.

 

“Ayo lakukan,” Kai berucap, “Apa perlu aku yang melakukannya untukmu?”

Lagi, Park Shin Hye bergeming. Gadis itu sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya pada seorang pemuda brengsek bermarga Kim itu—dan ia sama sekali tak bisa memungkiri bahwasanya uang dari pria brengsek itulah yang nantinya akan menyelamatkan keluarganya, termasuk membiayai pengobatan ayahnya.

“Shin Hye-ah?”

“Kai, a—aku…”

“Jangan lupa, hari ini penurunan harga saham perusahaan keluargamu sudah hampir mencapai batas minimalnya di bursa—hampir enam puluh persen,” ia berucap, “Kau pasti tahu betul apa yang akan terjadi kalau harga saham-saham itu lebih jatuh lagi…” pemuda itu menyunggingkan senyum menjijikan, “Ini cuma striptease, sayang…”

Shin Hye tertawa garing, meratapi mirisnya nasib keluarga mereka, “Tiga bulan yang lalu harga saham kami adalah yang tertinggi di bursa—dan kalau bukan karena orang brengsek sepertimu, mungkin apa yang baru saja kau ucapkan tidak akan pernah terjadi!”

“Masalahnya adalah… semuanya telah terjadi,” santai Kai, “Dan kau harus menepati janjimu, sayang….”

“Tapi—”

“Kami hanya akan melihat, oke?” tukasnya lagi, “Kau cuma perlu membuka semuanya,”

“Brengsek!”

“Shin Hye-ah, kau mau aku menyelamatkan harga dirimu atau keluargamu?”

Menelan ludah lantas amat sulit ketika mendengar pertanyaan itu  untuk kesekian kalinya, “Tepati janjimu, Kai!”

“As your wish, baby,”

Detik berikutnya Shin Hye memejamkan mata, menggelapkan dunianya sejenak—lantas gadis muda yang malang itu menebalkan muka, merasa seolah tengah mengolesi kotoran diwajahnya kemudian mulai melakukan apa yang diminta Kai.

Satu persatu Shin Hye melucuti kancing kemejanya, membuka setaiap rongga yang ada—lantas otomatis mengekspose tubuhnya sedikit demi sedikit. Kulit susunya yang tertutup rapih mulai tampak sampai ke bahu. Disusul dengan kancing berikutnya yang membawanya turun ke bagian bawah kemejanya—menggapai ritsleting celana jeans biru yang dikenakannya, lantas menariknya turun hingga gadis itu hampir polos. Dan sentuhan terakhirnya… ia melepaskan apa yang tersisa tanpa pikir panjang—menahan jutaan simultan yang menyalurkan rasa malu ke otaknya, berusaha sekuat tenaga menebalkan muka—ertahan diantara sejuta rasa sesak yang tengah menggerogoti dirinya, menekannya, mengisi setiap rongga dadanya hingga terasa hampir meledak. Dan kabar buruknya adalah ia harus kuat, berusaha agar matanya tidak mengeluarkan bulir bening yang akan membuatnya tampak lebih menyedihkan. Yeah, Park Shin Hye melakukannya dengan cepat—bahkan terlalu cepat untuk sebuah pertunjukan striptease.

Suara tepuk tangan Kai menggema, terdengar lambat dan sangat nyaring.

“Kau cukup bagus, Shin Hye-ah….” ia tersenyum, kemudian bangkit—menghampiri wanita muda yang tengah menutupi tubuhnya sebisa mungkin sambil menahan rasa malu, “Tapi ini terlalu cepat—dan hasilnya jadi tidak menyenangkan,”

Jemari lelaki itu kemudian mulai bergerilya disana, menjamah perlahan setiap inci tubuh Shin Hye—menyentuh kulit porselen gadis itu hingga ke bagian tersensitive-nya dengan seringai menjijikan, kemudian tertawa pelan.

“Yeppo,”

“Geumanhae, jebbal….” rengek Shin Hye, “Geumanhae,”

Tawa Kai pecah, menggema ke seluruh ruangan—menarik perhatian orang-orang yang disana. Lantas telunjuknya kemudian bergerak pelan, mengisyaratkan pada dua pria berbadan paling besar untuk melakukan sesuatu pada gadis itu.

Dan seketika itu juga tubuh Shin Hye bergetar. Ada segumpal perasaan takut yang mengalir sekaligus ke dalam dirinya, membuat darahnya naik kejantung dengan sangat cepat—memberikan debaran-debaran yang menstimultan otak dan memacu adrenalinnya naik saat itu juga, menimbulkan rasa sesak yang langsung membuatnya tercekat—bergeming disana tanpa bisa melakukan apa-apa.

“A—andwe, a—andwe!!”

 Hingga detik berikutnya Kim Jongin melakukan hal paling menjijikan yang pernah dilakukan manusia.

.

.

.

 

Jung Yong Hwa baru saja keluar dari kamar Krystal, menarik napas panjang kemudian berjalan pelan menyusuri lorong rumah sambil memijat pelipisnya yang terasa penat. Lelaki itu sama sekali tidak tahu, bahwasanya bernegosiasi dengan Krystal Jung bisa seemosional ini—terutama menyangkut masa depan kehidupan mereka, dia dan Shin Hye. Dan kepalanya sering sekali bertanya, apakah sebenarnya yang akan Krystal lakukan setelah keluar nanti? Apa dia akan hidup dengan kakak perempuannya atau membuka bisnis dari uang yang selama ini Yong Hwa berikan untuknya—dan sekali lagi pria itu sama sekali tak tahu jawabannya.

Mungkin selama ini Jung Yong Hwa adalah pebisnis yang paling ditakuti seantero Asia—taipan muda berbakat yang memiliki kemampuan negosiasi luar biasa. Skill yang dihasilkan dari jerih payah masa lalunya yang kelam—masa lalu yang membuatnya begitu terpuruk, hingga ia kehilangan semua perusahaan dan harta peninggalan orang tuanya—karena sebuah kejadian paling menggegerkan didunia bisnis beberapa tahun silam, yang membuat salah satu perusahaan segala sektor yang cukup berpengaruh di Korea Selatan hancur seketika. Dan sialnya, itu adalah perusahaan milik Yong Hwa. Sikapnya selalu tenang, tidak pernah benar-benar menentang apapun yang di inginkan lawannya—pun dengan kesabaran itu pada akhirnya dia yang selalu menang. Singkatnya, Jung Yong Hwa tidak pernah kalah dalam bernegosiasi—kecuali dengan Krystal, mungkin.

Drrrrtttt—drrrtttt—drrrrtttt—

“Halo?” Yong Hwa melangkahkan kakinya menuju halaman belakang.

“Kau yakin bahwa mereka juga yang dulu mengacaukannya?” pemuda itu menarik napas, “Lakukan hal yang sama atas apa yang pernah mereka lakukan—terutama pada Kim Jongin, aku sangat menginginkan King Starwhy corp.”

Yong Hwa tersenyum miring sekilas, “Kau di izinkan untuk melakukan apapun yang diperlukan agar mereka hancur—supaya K-S corporation bisa menjadi milikku,” ucapnya.

“Dan jangan lupa, kau harus memberinya rasa sakit yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang telah dia lakukan dulu. Jangan beri mereka ampun—dan bayaranmu akan meningkat tiga kali lipat dari yang sebelumnya.” Pemuda itu menatap kosong pada hamparan lili putih didepannya.

Ia tersenyum kecil, “Bukan begitu, hanya saja aku ingin mengembalikan sejumlah rasa sakit yang pernah kuterima dari pria itu. Dan kupastikan bahwa dia akan menerimanya sebagai kejutan—bukankah aku begitu baik padanya, hyung?”

“Aku tahu kemampuanmu sangat baik dalam mengerjakan apapun yang kuminta, termasuk yang satu ini. Dan kurasa tugasmu akan selesai setelah pengakuisisian terhadap K-S corporation beres—lalu kau, akan benar-benar ku kembalikan pada keluargamu di Vienna.” Ia terkekeh, “Oh—dan jangan khawatir terhadap kehidupanmu disana, karena aku sudah mengurusnya….”

 

Dan disisi lain telepon, seorang pemuda bernama Choi Siwon masih menatap lekat-lekat ponselnya—memikirkan tentang apa yang barusan dikatakan Yong Hwa. Memang, sebelumnya ia sangat menghindari pekerjaan seperti ini—akan tetapi, kalau saja bukan taipan muda bermarga Jung itu yang menyelamatkannya, mungkin ia sudah tinggal nama—dihukum mati atas tindak kejahatan yang sama sekali tidak dilakukannya, dikhianati negaranya.

Secarik kertas lusuh itu masih di simpannya dengan rapih, berisi untaian kata dan kalimat-kalimat penuh kerinduan dari keluarganya disana, di tanah Vienna—tempat ia melarikan diri saat kejadian  yang menggemparkan dunia terjadi—Choi Siwon, kapten team pasukan khusus dikabarkan telah membunuh putri presiden. Dimana berita tersebut sama sekali tidak benar, dan Siwon ragu apakah seseorang yang mengirim team-nya itu telah berkonspirasi untuk mengkudeta Korea Selatan kemudian mengkambing hitamkan mereka? Entahlah, ia sama sekali tidak mengetahuinya. Yang dia tahu adalah bahwa Jung Yong Hwa telah menyelamatkannya

“Sebentar lagi, Sun Kyo-ah,” pelannya, “Setelah urusan dengan taipan Jung selesai, maka aku bisa pulang….”

Sekali lagi ia mendengus, pekerjaan sebagai tim pasukan khusus yang melindungi negara adalah cita-citanya yang menjadi kenyataan. Pun pada akhirnya keadaanlah yang memaksanya pergi, meninggalkan segala impian yang seharusnya masih berlanjut—dan bukannya ia mau pergi lalu mengkhianati rekan satu team-nya, hanya saja jika bukan karena seorang petinggi pemerintahan yang munafik itu, mungkin kehidupannya tidak semenyedihkan ini—tunduk dibawah Jung Yong Hwa yang haus akan pembalasan dendamnya.

Well, dia selalu hebat dalam menyelesaikan masalah apapun, termasuk kebangkitannya di dunia bisnis yang menuai decak kagum dari berbagai kalangan—yang disayangkan adalah, kenyataan bahwa dia tidak bahagia.” Siwon tersenyum tipis, “Tapi setidaknya Jung Yong Hwa adalah tipe orang yang tepat janji—itu saja cukup untuk membuatku berada di pihaknya….”

Untuk kesekian kalinya, Siwon menyesap kopinya yang tinggal setengah, “Dia menahanku selama beberapa tahun untuk menyelesaikan urusannya, mungkin cuma ini yang bisa kulakukan untuk membayar bajingan kecil itu,” ia terkekeh.

Dan malam yang kelam itu semakin pekat, mengunci kata pada setiap insan dengan semilir angin lembutnya—menyaksikan para manusia dengan kondisi yang berbeda, mengizinkan rembulan untuk ikut menyumbangkan sinarnya di kegelapan hati masing-masing.

.

.

.

 

Siwon baru saja keluar dari kantor kejaksaan setelah diperiksa selama enam belas jam. Pemuda itu menatap lelaki disebelahnya, kemudian tersungging senyum tipis yang menunjukan betapa bersyukurnya ia. Dan lelaki itu menatapnya lekat-lekat.

“Selamat, hyung!” Yong Hwa menjabat tangan Siwon, “Setelah ini kau tidak perlu mengkhawatirkan kasus itu lagi….”

“Namamu Jung Yong Hwa, kan’?” tanya Siwon kemudian, “Dari mana kau tahu kalau aku dalam masalah?”

“Hmm—Aku tahu kalau ini bukan kesalahanmu, hyung,” tukasnya, “Dunia memang kejam, selalu seperti itu—bahkan aku sendiri berada di dalam kesulitan yang sama, tapi dalam kasus yang berbeda, mungkin….” ia tertawa miris, “Sebenarnya aku sudah mencarimu sejak beberapa bulan lalu untuk membantuku menyelesaikan sesuatu.”

“Apa itu?”

Yong Hwa tersenyum tipis, “Bagaimana yah, ini bukan sesuatu yang di wajibkan—tapi rasanya aku harus melakukannya agar bisa hidup tenang.”

“Kenapa aku?”

“Dilihat dari catatan karirmu di militer, kau cukup bagus untuk menyelesaikan urusanku,” ia terkekeh.

Siwon menepuk pelan pundaknya, “Geurae. Biar bagaimanapun, aku tetap berterimakasih—aku tidak tahu channel seperti apa yang kau punya, tapi itu benar-benar menyelamatkanku.”

“Mendiang ayahku adalah kolega bisnis langsung dari pemerintah yang memiliki seluruh data ‘black cash flow’ sejak dua dekade lalu—dengan kata lain, beliau memiliki data lengkap mengenai penggelapan dana dan anggaran pemerintah….” jelasnya, “Setidaknya dengan data-data itu Korea Selatan tidak akan mengkhianati keluarga kami.”

Dddrrrrrttttttttttt—drrrrtttt—ddrrrrrrrrtttt—

“Sun Kyo-ah?”

“O—oppa,” suara gadis itu terdengar gemetar disebrang sana, dia Han Sun Kyo—perempuan yang paling dicintai Siwon.

“O—oppa, tolong aku… jebbal,” rintihnya lagi, memaksa Siwon khawatir pada keadaan gadis itu. “Aku takut,” pelan Sun Kyo lagi, suaranya terdengar gemetar—sementara suara di belakangnya sama sekali tidak menggambarkan bahwa ada banyak orang disana.

Kening pria itu berkerut, “A—ada apa?!”

“Aku butuh bantuan,” bisiknya, “Ini darurat,”

“Demi Tuhan Han Sun Kyo, apa yang kau lakukan?!” panik Siwon—sontak membuat Yong Hwa mengalihkan atensinya pada percakapan telepon lelaki itu.

“A—ada seorang gadis yang harus kau tolong, cepat!” tukas Sun Kyo lagi, “Sepertinya dia disekap di tower S—gedungnya tepat berada di depan unit penthouse kita, satu lantai dibawahnya.”

“Apa maksudmu?”

“Gadis itu digilir beramai-ramai!” seru Jiwon lagi, “Kau ini petugas militer, seharusnya lebih cepat tanggap mengenai masalah seperti ini!”

“Seharusnya kau lapor polisi, Sun Kyo-ah,” pemuda itu menghela napas, “Telepon polisi, dan bukanya membuatku khawatir,”

“Kalau saja polisi sialan itu tidak menganggap ini mengada-ada, aku pasti sudah menyelesaikan laporanku dan melihat gadis itu diselamatkan.” Kata Sun Kyo penuh penekanan, “Menurutku mereka sudah bekerja sama, jadi kau  harus menyelamatkan gadis itu!”

—klik—sambungan terputus, Sun Kyo mematikan sambungannya.

 

Selesai menelepon pemuda itu mendapati bahwa Jung Yong Hwa tengah menatapnya dengan sorot mata penasaran, seolah manik hitamnya yang kelam itu tengah bertanya apakah yang terjadi pada Jiwon barusan.

Siwon menarik napas panjang, “Istriku baru saja menelepon, katanya ada seorang gadis yang disekap—lalu digilir beramai-ramai….”

Lelaki disampingnya tertawa, “Kau baru selesai diperiksa atas tuduhan palsu, dan istrimu menelepon untuk mengkhawatirkan orang lain?”

Siwon mengehela napas—mengalihkan pandangannya ke sembarang objek untuk menghindari ejekan lainnya dari Yong Hwa, “Kau tahu bukan itu masalahnya—lagi pula aku sudah mengabarinya sejak satu jam yang lalu….”

“Oke—sudah telepon polisi?” tanya Yong Hwa kemudian, “Ini adalah masalah yang cukup serius, kau tahu?”

Siwon mengangguk, “Sudah, tapi tidak direspon, katanya,” pria itu melanjutkan, “Dia bilang ada kemungkinan kalau orang-orang itu bekerja sama dengan polisi—laporannya sama sekali tidak di tanggapi dan para polisi itu mengira kalau istriku berbohong,”

“Well, ada terlalu banyak coretan kotor di sebuah kertas yang bernama dunia—dan orang-orang itu layaknya pensil yang tak pernah berhenti mencoret, yang bisa kita lakukan adalah mengahapus sedikit—meskipun sebenarnya tidak bisa menghilangkan bekasnya,” Yong Hwa tersenyum tipis.

.

.

.

 

Shin Hye masih mencoba menguasai dirinya sendiri, terlebih karena tubuhnya yang gemetar hebat itu sama sekali tak mau bekerja sama dengan dirinya. Ia tahu bahwasanya seorang Park Shin Hye begitu menyedihkan, dan parahnya ini terjadi setiap malam. Ada segumpal ingatan tak berujung yang selalu memenuhi kepalanya setiap malam—pun Shin Hye sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan jelas, yang dia tahu adalah potongan ingatan ini begitu tajam menusuk daya pikirnya, menggelitik rasa penasarannya sekaligus membuatnya takut sampai gemetar semalaman.

Dan seperti biasanya, kala jam menunjukan pukul tengah malam Jung Yong Hwa masuk ke kamar mereka—dan lagi-lagi mendapati Shin Hye yang begitu menyedihkan. Meringkuk sambil gemetaran di pojok kamar mereka, berkeringat dingin dengan kerutan jelas di keningnya—mata yang terpejam erat itu tampak gelisah, kahwatir kalau-kalau sesuatu yang buruk akan terjadi padanya, dan ini bukannya baru sekali. Sepertinya otaknya suka sekali menyiksa, mengulang putaran ingatan dari tahun-tahun silam—pun ini bukan salahnya, akan tetapi cukup untuk membuat Shin Hye bergidik ngeri.

“Shin Hye-ah, Shin Hye-ah,” panggil Yong Hwa gusar.

Lelaki itu bersimpuh di depan gadisnya, menatap lekat-lekat pada sosok rapuh yang begitu menyedihkan—berusaha keras agar Shin Hye-nya tidak terluka lebih dari pada ini, meskipun pada kenyataannya luka itu masih disana. Dan parahnya kian hari kian melebar, memaksa wanita muda itu merasakan sakit yang lebih dalam setiap harinya.

“Shin Hye-ah, gwenchanna?” Yong Hwa mengguncang pelan tubuhnya, “Park Shin Hye, gwenchanna?”

Keringat dingin sudah membasahi pelipis Shin Hye. Sorot matanya begitu takut saat Yong Hwa menyentuhnya, terlebih ingatannya masih di dominasi oleh sesuatu yang dia sendiri tidak tahu—sebenarnya apa itu?

A—andwe! Jebbal, geumanhae!” serunya panik, meringkuk semakin dalam—berusaha menenggelamkan dirinya lebih jauh, menghindari Jung Yong Hwa.

Gwenchanna, Shin Hye-ahjeongmall,”

Detik berikutnya bulir bening itu menyeruak melalui pelupuk mata Yong Hwa, melewati iris kelam yang selama ini menjadi dinding pertahanannya—mengalir membasahi pipi pemuda itu, membuatnya tampak sama menyedihkan seperti Shin Hye. Mereka berdua memang terlampau menyedihkan, mungkin.

Gwenchanna Shin Hye-ah….!” lelaki itu berseru, “Jinjja gwenchanna!”

Tangan lelaki itu kemudian merengkuh Shin Hye dalam pelukannya, memberikan kehangatan sekaligus ketenangan pada gadis itu—seerat mungkin, sampai Shin Hye merasakan bahwa dirinya aman di pelukan Yong Hwa. Dan sekali lagi Shin Hye tahu bahwa perasaannya pada Jung Yong Hwa bukanlah picisan semata—dan sekali lagi, hatinya telah memilih.

 

Kemudian seseorang menutup pintu perlahan seraya bernapas lega. Dan lengkungan manis tersungging indah pada wajah Krystal, setidaknya ia tahu jelas bahwa Jung Yong Hwa nyatanya sangat mencintai Park Shin Hye—lantas, ini adalah waktunya untuk pergi. Menyusuri lorong mewah mansion Yong Hwa, gadis itu merogoh saku piyamanya—mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.

Unnie,” pelannya, “Aku akan kembali secepatnya.”

Senyum Krystal merekah, “Ini sudah berakhir,” katanya, “Dan aku harus membiarkan mereka bahagia dengan caranya masing-masing….”

“Kau benar,” lanjutnya, “Aku memang harus kembali pada kehidupanku—Kai sudah terlalu lama menunggu,”

Setelahnya gadis itu cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya, menatap sekilas pada ruangan yang telah memberinya rasa nyaman selama beberapa tahun belakangan—berisi setidaknya kenangan-kenangan manis yang pernah mereka lalui bersama, ia, Shin Hye dan Yong Hwa. Namun cepat-cepat Krystal menepis semua itu, memantapkan lagi tekadnya untuk pergi—pun sempat terselip rasa enggan, sepertinya Jung Yong Hwa memang telah memberinya banyak arti dalam hidup.

“Shin Hye unnie, mulai sekarang kau harus mengakui bahwa hatimu milik Yong oppa, dan bukan milikku—terlebih kita menyimpang terlalu jauh sebagai pasangan sesama jenis kan’?”

Gadis itu terkekeh, membuat semburat halus tercetak jelas di ujung matanya—memberikan simultan kebahagiaan yang mungkin belum pernah di rasanya sehebat ini. Dan seiringan dengan perasaan leganya Krystal membereskan semuanya, termasuk apa yang seharusnya yang tidak ia bawa: perasaan sayangnya pada Park Shin Hye dan Jung Yong Hwa. Ini telah selesai—mungkin belum sepenuhnya selesai bagi pasangan suami-istri Jung, namun setidaknya gadis itu tahu bahwasanya kehadirannya sudah tidak dibutuhkan lagi.

Memacu langkah, Krystal terpaku pada seuntai emas putih yang melingkar di pergelangan tangannya—hadiah ulang tahun pertama dari Yong Hwa, “Biar bagaimanapun, aku masih adikmu kan’ oppa?”

.

.

.

 

“Shin Hye, eodiesso?” tanya Yong Hwa panik.

Pemuda itu berdiri tegang di depan kantor kejaksaan. Keningnya berkerut dan tangannya mengepal erat, kali ini Siwon menatapnya heran—sebenarnya apa yang membuat Yong Hwa begitu panik?

“Apa yang kau lakukan padanya?!” seru Yong Hwa tiba-tiba, “Kim Jongin brengsek!!!”

Siwon menarik napas, “Kau tidak apa-apa?”ia bertanya khawatir, “Apa yang terjadi?”

Jung Yong Hwa mengambil napas sejenak, “Hyung, aku butuh bantuanmu,” pelannya, “Ini menyangkut seseorang yang sangat penting….”

Kadang segala sesuatunya tak selalu berjalan baik, termasuk ketika Yong Hwa baru saja berbuat baik—menolong Siwon yang terjerat masalah, dan setelahnya masalah lain justru menimpanya. Dan untuk kesekian kalinya ia harus bermasalah dengan seorang Kim Jongin—pria brengsek yang paling di benci Yong Hwa, satu-satunya pembawa masalah yang harus dimusnahkan. Dan  yang paling membuatnya frustasi adalah orang itu selalu—hampir tak pernah absen untuk menekan Shin Hye.

“Aku mendapat kabar bahwa sesuatu yang buruk terjadi,” ucap Yong Hwa panik.

Siwon mengangguk, “Kalau begitu kita harus cepat,”

Sejurus kemudian Siwon tersenyum miring, merogoh saku Yong Hwa lantas mengambil kunci alfa romeo milik pemuda itu, “Kau cukup menunjukan jalannya,”

“Star tower apartement,” singkatnya.

Satu kalimat itu sukses membuat Siwon mengernyit, entah mengapa ingatannya langsung berporos pada telepon Sun Kyo barusan. Star tower apartment adalah tempat tinggal mereka—dan baru saja Sun Kyo memberikan informasi yang seharusnya cukup mengejutkan, jangan – jangan….

“Kita harus cepat.” Sahut Siwon kemudian.

Detik berikutnya Siwon menginjak pedal gas sampai pada batasnya, membuat speedometer mereka berada di angka yang menakjubkan—melewati batas normal, membelah jalanan Seoul kala malam semakin pekat. Dengan terampil tangan Siwon memainkan persneling, bergantian tungkainya mengontrol pedal gas dan kopling—tak lupa rem, pun entah sudah berapa kali alfa romeo milik Yong Hwa menerobos lampu merah. Tentu saja tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat tujuan mereka, terutama dengan kecepatan hampir setara ahli balap jalanan seperti itu—perlu di ingat, kedua pria itu hanya tak ingin membuang waktu.

“Kau sudah tahu dimana lokasinya?” tanya Yong Hwa bingung.

Lelaki itu masih dengan sigap mengekor Siwon yang melangkahkan tungkainya cepat ke arah sebuah tower yang terletak paling ujung di sisi tenggara kawasan apartement itu. Dalam diam Yong Hwa masih berpikir, bagaimana kalau ternyata Siwon juga—

“Jangan berpikir macam-macam,” tukas Siwon, “Kalau kau ingat Sun Kyo baru saja menelepon tadi, kekhawatiranmu pasti bertambah berkali-kali lipat…”

Yong Hwa membelalakan matanya, “Jadi—”

“Entahlah, aku tidak tahu pasti—tapi yang jelas itu kemungkinan terbesarnya,” jawab Siwon cepat, “Unit nomor berapa?” tanya Siwon kemudian, menatap Yong Hwa lekat-lekat.

Pemuda itu berucap pelan, “1315,”

“Ok, noted it,”

.

.

.

 

Krystal menatap lega pada sebuah rumah minimalis yang terletak di ujung perumahan rakyat Seoul, dengan halaman kecil dan satu mobil ukuran mini terparkir di dalamnya. Netranya masih menjelajah, rumah sederhana itu tampak begitu hangat dan membawanya dalam ingatan tajam—kala Yong Hwa menghadiahkan unit minimalis itu pada dia dan kakaknya. Menarik napas lega, gadis itu kemudian membuka pintu pagarnya perlahan. Menyeret kopernya masuk lalu menekan bel—dan tak butuh waktu lama orang yang paling di rindukannya sudah berdiri disana, menatap dengan senyuman hangat.

Wellcome back, honey,

Suara berat yang khas itu menyapa pendengaran Krystal, memaksa ulir bening itu turun begitu saja dari pelupuk matanya—menandakan kebahagiaan. Satu pertanda yang sangat jelas bahwasanya ia dan Jung Yong Hwa sudah selesai. Ini adalah waktu yang paling tepat bagi Krystal untuk meraih kebahagiaannya sendiri, bukan mengambil kebahagiaan dari orang lain.

“Kai, kau—”

Senyuman pemuda itu merekah, “Aku sudah menyelesaikan semua pengobatannya Krys, meskipun sangat disayangkan karena aku benar-benar kehilangan seluruh ingatan dan kemampuanku—mereka bilang aku harus mempelajari semuanya dari awal, sesuatu yang seperti itu, dan….”

“Dan?” Krystal mengulang ucapan Kai barusan.

Lengkung manis itu meredup, hilang di telan kekecewaan yang kini menghiasi wajahnya—Kai tengah tertunduk dalam, “Aku baru saja kehilangan semuanya,”

Gadis itu mengernyitkan keningnya seraya mengalungkan lengan pada kai, “A—apa maksudmu, Kai?”

Bukanya menjawab, Kai justru mempererat pelukannya pada Krystal.

“Aku baru saja kehilangan K-S corp,” lirihnya, “Aku hancur, Krys….”

Krystal membelalakan matanya.

 

II—II—II—II—TBC—II—II—II—II

notes:

Hai WAO, eum, gimana yah, aku gatau mau ngomong apa. sementara stuck sampai disini. nanti penyelesaian di part 3. Sejujurnya aku lagi pusing ga ada ide dan feel untuk lanjutin ini, terlalu full sama plot Seiryuu High School. So, happy reading aja lah yaa wkwkwk…

and for the others, please be a good reader^^

Salam,

logo-baru-ayun

Advertisements

23 thoughts on “[CHAPTER 2] Despicable Me

  1. Jd shinhye trauma. Krena pernah d perkosa bergilir?
    Krystal tdak tau bahwa dlang dr kesedihan yongshin adlah kai

  2. part 3 nya udh ke blm thor….klo udah boleh keh bagi tau linknye. disini nampak tak ade pun part 3 nye. lame sdh ni mnunggu. sdh tak sabar pun 😦

  3. Hmm mulai terbuka teka tekinya nih lewat part ini, dan tentu aja masih banyak yg membingungkan juga. Seengganya udah mulai kebuka masalah yg terjadi di antara mereka bertiga, dan Kai? Aku masih belum bisa nebak kenapa dia melakukan hal tersebut sama Shin-hye di masa lalu, apakah dia punya dendam sama Yonghwa?

    OkeOke, kutunggu part selanjutnya. Dan jangan lupa, aku sangat menantikan kelanjutan SHS 😜

    Semangat, Ayuuuun 😘😘

  4. anyeong…aku reader baru disini. tpi aku suka skali baca ff ini. namun masalahnya, aku sdikit bingung sama inti critanya. siapa yg yongi cintai sbnrnya? apa hubungan yongi dgn kristal? klo kk adik knp sampai meluk leher sgala. duduk dipaha nya lgi. trus…knp yongi mngambil prusahaan milik kai? apakh untuk mmbawa kristal kpd yongi lgi? trus kai kn yg mmprkosa shin hy dn mmbuat shin hye digillir? kai knl kristal?? aduhh…aku bingung thor. stiap minggu ku nunggu crita ini. tp msh sdikit sulit kuserap intinya. tp yg kutau hatiku sesak stiap mmbaca karna yg kutau shinni akn trluka lbh dalam. kykny yongi mncintai kristal..:-(. thor, part 3 nya udah update keh?

    • Halo karina~ hm… komennya drabble, aku suka wkkwkwk… eum gimana yah jawabnya… tapi yg pasti semuanya akan terjawab di part 3. Semoga part 3 beneran jadi penyelesaian. 😂😂😂 dan semuanya akan terangkum di sana. Keep waiting yaa wkwkwk makasih udh baca dan komen^^

  5. Wkwkwk aku juga ga ngerti kenapa tiba2 kepikiran jd hyetal (dr pd shintal 😂) tp ada alasannya harusnya. Dan harusnya mereka oneshoot. Tp ga kebayang kalo ini di bikin oneshoot. Penyelesaian di part 3 deh ya 😂😂😂

  6. Hmmmm….. Dan ternyata TBC. Btw agak merasa eeeerrrr…. Entah lah. Tp kenapa shintal *entah knp agak gak enak dg rebutan ini* jadi pasangan sejenis gini??????? Heol. But, thank you kak…. Setidaknya me nunggu part 2 ini gak selama nungguin part 1. Wakakak. Love ya!

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s