[Oneshot] No Answer

no-answer-cover

NO ANSWER

Starring by. Choi Siwon SUJU & Han Sunkyo OC
Support cast by. Han Jihyun OC
Oneshot // Romance, Hurt/Comfort // PG-18

zulfhania production © 2016

=================

Yeah, Zulfa is back! 😀
Akhirnya fanfic request Ayun selesai juga. And you must know, ini ff sebenernya adalah fanfic yang kubuat dengan memakai nama cast Taehyung, Irene, dan Suzy untuk kukirim ke event blog sebelah dalam rangka anniversary mereka. Tapi, karena ideku waktu itu mentok, fanfic ini terabaikan begitu saja. Setelah kuganti nama castnya jadi Siwon dan Ayun, rupanya ide langsung lancar selancar perosotan di waterboom park, hahaha. Btw, aku pinjem nama kak Phiyun untuk OC tambahan ya, hehe. Semoga Ayun dan reader lain suka. Maaf kalo hasilnya kurang memuaskan. Selamat membaca 🙂
Warning! Fanfic ini bukanlah sudut pandang manusia. Fanfic ini pula tidak memberikan jawaban, hanya memberikan pertanyaan. Silakan kalian yang menjawab sendiri 🙂

Regards,
Zulfa Azkia (zulfhania)

==============================

Ini adalah kisah kecil tentang cinta yang tak sempurna. Tentang keraguan tanpa kepastian, tentang mempertahankan tetapi juga melepaskan. Dan, tentang pertanyaan tetapi tanpa jawaban.

“Kalau memang tidak cinta, mengapa harus bercinta? Kalau memang cinta, mengapa tidak bercinta? Terkadang, aku masih tidak mengerti dengan makhluk yang bernama manusia.”
– No Answer –

Musim semi hari kedua, itulah pertama kalinya aku melihat kamu.

Dengan setelan sweater abu-abu yang membungkus kemeja putih dan dipadukan dengan celana jeans panjang, manusia itu datang ke rumahku. Awalnya aku berpikir kau akan mengabaikanku, menganggapku lalu dan tak kasatmata, sama seperti manusia-manusia lainnya. Tetapi rupanya aku keliru. Kau berbeda dengan mereka. Sekitar lima menit setelah kau datang, mengelilingi rumahku, serta memandangi beberapa temanku yang diperlakukan secara istimewa di dalam sana, pada akhirnya iris hitammu mengarah padaku.

Aku dapat melihat kebinaran dalam manikmu saat menatapku. Lantas kau berjalan mendekat ke arahku, mengamatiku dengan tatapannya yang sungguh membuatku malu-malu, lalu tanpa ragu mengangkat tubuh ringkihku dengan kedua tanganmu.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutmu. Hanya matamu yang berbicara saat memandangku.

“Kau menyukainya?”

Kau menolehkan kepala dengan mimik terkejut ke arah wanita berumur yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakangmu. Tatapan terkejutmu lalu berubah menjadi malu-malu.

“Kalau kau menginginkannya, kau boleh memilikinya,” tambah wanita itu ketika kau hanya diam saja.

Mata sipitmu sempurna membulat saking terkejutnya dengan perkataan wanita itu. “Benarkah?”

Wanita itu mengangguk. “Asalkan kau berjanji kalau kau akan merawatnya dengan baik.”

Kau tersenyum, penuh rasa terima kasih. “Pasti. Sunkyo pasti akan merawatnya dengan baik.”

* * *

Dengan lengan yang memeluk, kau membawaku masuk ke pekarangan sebuah rumah sederhana dengan beberapa tumbuhan dan bebungaan di sekitarnya. Mereka adalah teman-temanku. Tak kusangka aku akan bertemu dengan mereka. Namun tampaknya kau tidak ingin meletakkanku di sana, karena kau terus melangkahkan kakimu melewati pekarangan, lalu berhenti di depan pintu rumah. Tanganmu bergerak menekan bel pintu dengan senyum cerah yang terbentuk di bibirmu. Oh, rasanya aku mendengar suara detak jantung yang berlebihan, apakah itu milikmu?

Pintu terbuka. Seorang perempuan cantik bersurai hitam legam berdiri di balik pintu dengan tangan memegang handel pintu.

“Siwon oppa!” pekik perempuan itu, senang.

Aku melihat kau tersenyum. Dan sepertinya aku mendengar suara detak jantung yang berlebihan itu semakin berdetak kencang. Apakah kau gugup?

“Ingin berkencan denganku hari ini, Nona Han?” Bibir kecil milikmu bertanya dengan suara bergetar, menahan rasa gugup.

Perempuan bersurai hitam legam itu tersenyum, amat cantik. “Tentu saja. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Masuklah, aku akan mengganti baju dulu.”

“Han Sunkyo,” kau menahan lengan perempuan itu dengan tangannya ketika perempuan itu hendak masuk ke dalam rumah. Perempuan itu berbalik dan balas menatapmu dengan tatapan bertanya.

Kau sama sekali tidak menjawab dengan suaramu. Hanya bibirmu yang menjawab, ketika perlahan tubuhmu bergerak maju ke depan, mengikis jarak, lalu dengan gerakan kilat bibirmu mengecup bibir perempuan itu. Menjawab seluruh pertanyaan dengan bibirmu.

“Selamat atas hari kelulusanmu, Sunkyo. Aku mencintaimu,” ucapmu kemudian, sukses menimbulkan semburat merah di kedua belah pipi perempuan itu.

* * *

Aku diletakkan di atas nakas berukir kayu pahat yang begitu indah oleh perempuan bernama Sunkyo itu. Kemudian perempuan itu mengambil botol semprot dan memandikanku di sana. Aku selalu suka dimandikan dengan cara seperti ini—tidak dengan diguyur. Bagiku, diguyur dengan air saat mandi itu benar-benar menyakitkan. Aku tidak sekuat teman-temanku yang lain. Tubuhku ringkih. Mungkin itu sebabnya banyak manusia yang tidak memedulikanku. Tetapi, hari itu, musim semi hari kedua, untuk yang pertama kalinya seorang manusia memerhatikan dan memedulikanku. Dialah, kamu.

“Jadi, kapan kau akan bertemu dengan kedua orangtuaku?” tanya Sunkyo padamu sembari memandikanku, sementara kau duduk di atas sofa tak jauh dari nakas di mana tubuhku diletakkan.

Kulihat air mukamu berubah. “Aku belum siap, Sunkyo.”

“Sudah dua tahun berlalu, oppa, dan aku sudah lulus kuliah sekarang. Apakah kau akan terus membiarkanku untuk menunggu?” Sunkyo tampak menunjukkan wajah kekecewaan.

Kau terdiam cukup lama hingga akhirnya bibirmu berucap lirih, “Apakah kau bisa menungguku lebih lama lagi? Tolong beri aku waktu.”

Tak ada jawaban. Sunkyo telah memalingkan pandangannya darimu dan lebih memilih untuk mengurusiku. Namun kulihat, setetes airmata mengalir dari pelupuk matanya. Manusia cantik bersurai hitam legam itu menangis.

* * *

Hari-hari selanjutnya, aku tetap diletakkan di atas nakas berukir kayu pahat di dalam rumah bernuansa putih itu. Setiap harinya, aku hanya melihat pemandangan yang itu-itu saja. Ruangan yang luasnya tak lebih dari 6×6 petak dengan berbagai macam furniture alat rumah tangga, seperti sofa, meja kayu berukuran segi panjang, laci kayu, dan juga rak buku yang dipenuhi dengan buku-buku bacaan. Tak jarang aku melihat perempuan bernama Sunkyo itu menghabiskan waktunya membaca buku di atas sofa sana, sambil bersandar punggung dengan kaki diselanjarkan dan tumit kaki yang ditopangkan di atas meja kayu. Terkadang ada suara musik yang menemani. Terkadang juga hanya suara senandung dan siulan dari mulutnya yang menemani. Ketika sore hari tiba, dia mengeluarkan botol semprotnya dan memandikanku. Tetapi aku sungguh penasaran, ke mana perginya kamu?

Aku hanya melihatmu datang ke rumah ini tiap sepekan sekali. Itu pun terkadang hanya memakan waktu yang sebentar setelah kau menghabiskan waktu dengan mengobrol atau pun bercumbu dengan perempuan bernama Sunkyo itu di atas sofa, tepat di hadapanku. Ucapan kata ‘cinta’, ‘sayang’, atau pun kalimat romantis macam lainnya seringkali kudengar memenuhi ruangan ini. Aku seperti menjadi saksi bisu atas keromantisan mereka. Tetapi aku masih penasaran, ke mana perginya kamu setelah itu?

* * *

Suatu hari, ada seorang manusia lain yang datang ke rumah itu—sepertinya aku bisa menyebutnya sebagai rumahku juga. Manusia itu adalah seorang perempuan dengan rambut pendek sebahu. Ketika pertama kali aku melihatnya, aku langsung teringat dengan perempuan bernama Sunkyo. Wajah mereka tampak mirip.

Eonni, kenapa kau datang ke sini?” Sunkyo tampak terkejut saat melihat kedatangan perempuan berambut sebahu itu.

“Dasar bodoh! Memangnya aku tidak boleh datang ke rumah adikku sendiri? Kau sudah lupa kalau kau memiliki kakak, begitu?!” Perempuan itu langsung menyemprot Sunkyo dengan nada tidak suka, lalu ngeloyor begitu saja masuk ke dalam rumah.

“Bukan begitu, eonni,” kilah Sunkyo. “Setidaknya kau bisa memberitahuku terlebih dahulu kalau kau hendak ke sini. Lagipula kenapa tiba-tiba kau ke sini?”

“Aku bosan sendirian di rumah. Siwon sibuk bekerja dan sama sekali tidak memerhatikanku.” Perempuan itu membanting tubuhnya di atas sofa, namun kemudian merintih karena merasa perutnya sakit. “Lagipula aku ingin memberi kabar baik untukmu.”

“Kabar apa itu?” Sunkyo duduk di sebelah perempuan itu.

Kulihat manik perempuan itu berbinar saat kemudian berkata, “Aku hamil.”

“Ha-hamil?!” Sunkyo tampak terkejut.

Perempuan berambut sebahu itu mengangguk dengan penuh semangat, mengelus perutnya sejenak, lalu memeluk tubuh Sunkyo. Membelakangiku.

“Akhirnya, Sunkyo. Setelah tiga tahun usia pernikahan, akhirnya aku hamil juga. Usianya baru saja memasuki dua bulan, dan dia memang benar-benar hidup. Sebentar lagi kau akan memiliki keponakan. Berikan selamat padaku, Sunkyo!”

“S-selamat, eonni,” Sunkyo berkata dengan suara bergetar. Tangannya balas memeluk tubuh perempuan itu dengan gerakan gemetar. Dan, lagi-lagi, aku melihat hujan turun dari matanya.

* * *

Setelah hari itu, aku tak pernah lagi melihat perempuan bernama Sunkyo itu duduk di atas sofa untuk membaca buku. Dia mendekam di dalam kamar. Seharian. Ketika akhirnya keluar dari kamar, aku melihat wajahnya memerah. Sembab. Matanya juga memerah. Bengkak. Bahkan setelah hari itu, dia tidak lagi memandikanku dengan botol semprotnya. Aku diabaikan begitu saja.

Sampai akhirnya, pada masa-masa kritisku setelah aku kehilangan banyak oksigen, kamu kembali datang ke rumahku.

“Astaga, kenapa bunga ini mengering?!” Itulah respon pertama saat kau menginjakkan kaki ke rumahku. “Sunkyo, apakah kau tidak menyiramnya lagi? Bunga ini hampir saja mati!”

Saat itu, Sunkyo duduk di atas sofa dengan wajah tanpa ekspresi setelah mempersilakanmu masuk ke dalam rumahku. Tak ada lagi senyum yang terhias di bibirnya ketika menyambut kedatanganmu.

Ketika kau hendak memandikanku dengan botol semprot milik Sunkyo, perempuan itu menjawab dengan suara datar, “Biarkan saja bunga itu mati.”

Aku tertohok mendengarnya. Begitu pun kamu. Tanganmu yang hendak memandikanku kemudian urung. Tubuh tegapmu itu langsung bergerak mendekati Sunkyo.

“Apa katamu?”

Sunkyo balas memandangmu dengan tatapan tanpa ekspresi. “Kubilang, biarkan saja bunga itu mati.”

“Han Sunkyo!”

“Siwon oppa, apakah kau benar-benar mencintaiku?”

Kau terlihat tampak terkejut mendengar Sunkyo mengalihkan pembicaraan dengan tiba-tiba.

“Sunkyo-ya…”

“Buktikan padaku kalau kau benar-benar mencintaiku, oppa. Aku tak butuh kata-kata manis darimu, aku hanya membutuhkan pembuktian darimu. Temui kedua orangtuaku secepatnya sebelum aku membiarkan bunga itu mati.”

Yya, Han Sunkyo, kenapa kau tiba-tiba seperti ini?”

Sunkyo memalingkan pandangan darimu, lalu tatapannya bertemu denganku. Menatapku tajam. Namun entah kenapa aku melihat keletihan dan kesedihan yang begitu mendalam pada maniknya.

“Kalau kau tak juga melakukannya, aku akan berakhir seperti bunga itu. Mati. Juga perasaanku padamu.”

“Han Sunkyo, berhentilah bersikap kekanakan!”

“Aku mencintaimu, Siwon oppa,” tiba-tiba saja suara Sunkyo terdengar bergetar. “Aku percaya kau akan menemui orangtuaku untuk menikahiku, maka dari itu aku menunggumu. Bahkan hingga tahun-tahun berikutnya, aku akan tetap menunggumu. Tetapi kenapa kau malah menghamili kakakku?”

Di tengah masa kritisku, aku melihat kau tampak terkejut mendengar ucapan Sunkyo.

“Ji-Jihyun datang ke sini?!” ucapmu, tampak kehilangan kata-kata.

“Kau bilang cintamu padanya palsu dan kau akan menceraikannya untukku. Tetapi kenapa kau tak kunjung menceraikannya, oppa? Kenapa kau mencintaiku bila akhirnya kau memilih menikahi kakakku? Kenapa kau mengatakan cinta padaku bila akhirnya yang kau jadikan rumah pelabuh hatimu bukanlah aku? Kenapa kau mengatakan akan menceraikannya untukku bila akhirnya kau malah menghamilinya? Kenapa kau melakukan itu padaku, Siwon oppa?”

“S-Sunkyo…” Kau kembali berjalan mendekat pada Sunkyo. Tetapi perempuan itu malah berdiri. Melangkah mundur. Mengambil jarak darimu. Kulihat kau menunjukkan wajah terluka. “Aku memang mencintaimu, Sunkyo. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan menceraikan kakakmu demi kamu, tetapi ini sungguh di luar dugaan. Kakakmu yang memaksaku untuk melakukannya. Tolong beri aku waktu untuk memperbaiki semuanya.”

“Kau selalu saja berkata begitu, oppa. Selama ini aku sudah terlalu sabar untuk menunggumu, memberimu waktu, bahkan sampai dua tahun, bahkan sampai hari kelulusanku. Tetapi kau sama sekali tidak pernah melakukannya. Kau selalu saja mengulur-ulur waktu.”

“Sunkyo-ya…”

Belum kelarlah semua urusan pertanyaan dan jawaban itu, kemudian pintu rumah terbuka dan seorang manusia lain masuk ke dalam rumah.

“Oh! Chagi-ya, apa yang kau lakukan di sini?”

Dialah, orang yang sedang dibicarakan.

Kemudian keadaan menjadi terbalik. Kau, yang pada awalnya bergerak untuk mendekati Sunkyo dan perempuan itu melangkah mundur memberi jarak, kini kau bergerak menjauhi Sunkyo untuk mendekati perempuan yang baru saja masuk ke dalam rumah.

“H-Han Jihyun, kenapa kau datang lama sekali? Ayo, kita berangkat sekarang! Aku sudah menunggumu dari tadi,” katamu, terlihat tampak panik.

Perempuan itu tampak bingung ketika ditarik keluar rumah olehmu. “Chagi-ya, aku baru saja sampai di sini. Dan, apa katamu barusan? Menungguku dari tadi? Memangnya kita janjian bertemu di sini? Kita—”

“Sudahlah, tidak usah banyak bicara. Ayo, pergi sekarang! Sunkyo-ya, kakak ipar pergi dulu ya!”

Sunkyo tak bisa menahan tangis ketika melihat manusia yang dicintainya itu malah berbalik meninggalkannya setelah pasangan aslinya datang. Dia hendak berjalan mendekat, kembali mengikis jarak, namun kau malah berjalan menjauh. Memberikan jarak yang semakin terbentang jauh saat kakimu melangkah keluar rumah.

O-oppa…” Sunkyo memanggil lirih. “Siwon oppa…”

Tetapi tak ada jawaban. Kau telah pergi bersama pasangan aslimu.

Di tengah masa kritisku, aku menjadi saksi bisu atas drama para manusia itu. Tetapi, aku masih merasa heran. Kalau memang kau tidak cinta pada pasangan aslimu, lalu mengapa kau harus bercinta dengannya? Kalau memang kau cinta pada perempuan bernama Sunkyo itu, mengapa kau tidak bercinta saja dengannya? Aku benar-benar tidak mengerti dengan makhluk yang bernama manusia.

* * *

Aku masih bertahan hingga beberapa hari kemudian. Meski tubuhku mulai merunduk dan mengering karena kekurangan banyak oksigen, tetapi aku masih bertahan. Masih berharap kalau perempuan bernama Sunkyo itu akan memandikanku. Tetapi harapanku takkan pernah menjadi kenyataan.

Setelah kepergianmu dan pasangan aslimu itu, perempuan bernama Sunkyo kembali duduk di atas sofa. Bukan untuk membaca buku. Melainkan, untuk menunggumu. Berharap kau akan datang. Berharap kau akan membawa kabar baik kalau kau telah memperbaiki semuanya. Berharap kau akan membawanya pergi menuju orangtuanya untuk menikahinya. Berharap kau akan menjawab seluruh pertanyaannya kemarin. Tetapi harapannya takkan pernah menjadi kenyataan.

Karena semenjak kejadian drama manusia itu, kau tak pernah datang kembali ke rumahku.

Hingga pada akhir musim semi, aku melihat sendiri bagaimana perempuan bernama Sunkyo itu meminum beberapa pil sekaligus ke dalam mulutnya, lalu terkapar tak berdaya di atas sofa. Busa keluar dari mulutnya. Dan dia tak bergerak-gerak lagi setelah itu.

Perempuan bernama Sunkyo itu tak bertahan. Tragis, hanya karena cinta, dia memutuskan untuk mati.

Dan pada akhirnya aku pun tak bisa bertahan lebih lama lagi.

Beberapa hari kemudian, aku akhirnya mati, bersama tubuh perempuan bernama Han Sunkyo yang ketika itu telah menjadi bangkai di atas sofa.

Rupanya, kau adalah seorang pembohong. Kau bilang, Sunkyo akan merawatku dengan baik. Tetapi pada akhirnya, aku tetap saja diabaikan.

Diabaikan oleh kamu, Manusia.

End.

Please be a good reader. Leave your like and comment here 🙂

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] No Answer

  1. Pas baca ini ff aku mikir ‘aku’ ini makhluk macam apa, dan ‘aku’ ini adalah kak phiyun a.k.a Jihyun. Tp overall, I like this so much. Siwon kayak cowok labil rese bgt, tukang selingkuh. Mampus aja lw sono. Btw, kakyuns tolong jangan sepertinya sunkyo meskipun sunkyo itu adalah dirimu. Best lah ini ff. Tp.lebih best lagi pas ff aku published. Hohoho. Love ya!

  2. Annyeong, zul~
    Wkwkwkwk entah kenapa aku agak merasa lucu sama ff ini. Dan aku sama sekali gak begitu memperhatikan drama antara siwon sunkyo jihyun wkwkwk… aku malah sibuk mikirin “sebenernya itu yg di bawa siwon apa ? Kucing kah ? Anjing kah ? Atau apa? ” Sama sekali ga bisa nebak sampe akhirnya siwon dtg dan bilang kalau bunganya mau mati (disitu aku baru tau kalau dia bunga).

    And than, entah kenapa sunkyo menyedihkan gitu ya ? Sampe mati cmn gara2 dicuekin siwon 😂😂😂 padahal aku lebih galau nilai uts jelek atau ipk turun dr pada di cuekin siwon. Agak tragis sih ya, sebenernya kalo diliat liat, lebih tragis jihyun, yg malah sama sekali gatau kalau siwon ada main sama sunkyo.

    Its da real marriage problem menurutku. Dan gak sedikit yg kayak begitu mungkin. Wkwkwk dan for the first time in forever~ i hate siwon. Sikapnya itu loh… wkwkwk mending dia langsung putusin sunkyo atau gmn.. dr pada no answer. Eh tapi harus no answer sih yaa biar nyangkut sama judulnya wkkwwk…

    Awalnya ku pikir jihyun itu si bunga (yg aku kira kucing) dan ternyata dia manusia wakakkaka… overall aku suka alur dan cara penulisannya. Its not too sweet dan kadar sadisnya pas. But i wanna see how can siwon pass his life *sok inggris* mungkin kalau kamu panjangin sedikit lg, terutama pas jasad sunkyo di temuin dan siqon merasa bersalah trus orang tuanya tau, trus kakaknya tau, dan siwon ikut frustasi, akan ada pesan moralnya zul, yaitu : “dilarang selingkuh! Apalagi sm adek ipar😂”

    Untuk tata cara penulisan, diksi dan lain2 kurasa kamu da best. Puas sama ff ini dan cukup menikmati alur yg di suguhkan. Dr sisi genre ini keahlian aku bgt 😂😂😂

    Keep fighting and keep writing zul, cemungutt~ msh ada antrian ff berikutnya yg menuntut jawaban wkwkwk

  3. Reblogged this on Mémoire and commented:

    Ini adalah kisah kecil tentang cinta yang tak sempurna. Tentang keraguan tanpa kepastian, tentang mempertahankan tetapi juga melepaskan. Dan, tentang pertanyaan tetapi tanpa jawaban.

    “Kalau memang tidak cinta, mengapa harus bercinta? Kalau memang cinta, mengapa tidak bercinta? Terkadang, aku masih tidak mengerti dengan makhluk yang bernama manusia.” – No Answer –

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s