Who Is My Prince? [Part 1]

who-is-my-prince2_phiyun-copy

|| Title: Who Is My Prince?|| Author: Phiyun || Genre: Romance|Fantasi | School Life || Cast: Jiyeon | Seokjin | Taehyung || Support Cast : Member BTS ||

Poster Credit:     fliespring @ Art Zone (Thank’s ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Kebetulan ff ini terinspirasi dari sebuah Film little mermaid. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Cerita kali ini aku fokuskan di Pov Jiyeon ya dan tulisan yang miring adalah ucapan Jiyeon yang ingin ia katakan. Karena dia gak bisa bicara kaya di film putri duyung jadi kalimat yang bertulisan miring itu perkataan yang ingin ia ucapkan. Semoga kalian gak bingung ya ^^

*** Happy  Reading ***

~Summary~

Mengapa setiap kali aku berada di dekatmu, napasku menjadi sesak? Mungkinkah kau adalah pangeran yang selama ini aku cari?

~OoO~

“Jiyeon-ssi… tolong ambilkan obat merah di dalam lemari obat.” panggil pria berjas putih itu kepadaku. Dengan cepat aku langsung mengambilkan benda yang ia pinta dari dalam lemari obat yang tak jauh dari belakangnya dan kemudian aku memberikannya dengan posisi membelakangi.

“Terimakasih Jiyeon-ssi.” ucapnya.

“Deg..!!!”

Jantungku bergemuruh hebat lagi hanya dengan mendengar suaranya saja. Entah mengapa setiap aku berdekatan dengan dirinya, dadaku terasa sesak. “Apakah mungkin aku belum terbiasa dengan kehidupanku yang sekarang ini?” sambil memukul-mukul pelan dadaku.

Tapi mengapa kedua mataku selalu ingin memandang ke arahnya. “Apakah aku sudah mulai gila karena,  aku sudah lelah mencari sosok pria yang selama ini aku cari?” gumamku kemudian dengan perlahan-lahan melirik pria yang ada di belakangku yang sedang mengobati siswi yang terluka kakinya.

Saat menatap dirinya, aku seperti tersihir oleh pesona Namja ini. Padahal kalau aku lihat-lihat dengan seksama, wajah pria ini tak jauh beda dengan wajah laki-laki pada umumnya. Tapi kenapa perasaanku sangat berbeda saat berada di dekatnya. Tapi mengapa saat di dekat Namja ini napasku sesak seperti diri ini berada di dasar laut yang membuatku sulit bernapas.

“Mungkinkah ia adalah pangeran yang selama ini aku cari?”

Jangan-jangan dia adalah takdir cintaku, yang dikatakan oleh dewa laut. Semua gejala yang di beritahukan oleh dewa laut itu, semuanya aku alami saat bersama pria ini. Ya, perasaan seperti di dalam dasar laut. Rasa sesak yang amat sangat dan sulit aku bayangkan dengan kata-kata.

~OoO~

~Flash back~

Di dasar laut yang dalam terlihat ada sesosok raksasa yang sedang memengang spatula emas. Sosok itu bisa lebih tepat di katakan adalah sosok dewa laut. Dewa laut pun berjalan ke arah gelembung yang cukup besar dan di dalam gelembung itu ternyata ada sesosok Mermaid yang sangat cantik. Kemudian dewa laut itu bersua kepada Mermaid tersebut.

“Dengarlah putri Mermaid, dengarkanlah perkataanku baik-baik. Cintamu kepada pangeran sudah hancur dan kau sudah menjadi gelembung selama beratus-ratus tahun. Melihat dirimu yang amat sangat menyedihkan, rasanya tak adil bila aku tak memberikanmu kesempatan kedua. Jadi aku akan membuatmu bereinkarnasi menjadi manusia.”

Mendengar perkataan dewa laut barusan membuatku sangat senang. “Terimakasih, dewa laut.” ucapku.

“Setelah menjadi manusia, carilah kembali reinkarnasi pangeran dan dapatkanlah cintanya. Akan aku beri kau waktu untuk menyelesaikan misimu sebelum hari di mana bulan purnama. Apabila kau tak mendapatkan cinta sang pangeran saat fajar di malam bulan purnama maka kau akan menjadi buih untuk selamanya.”

Aku tercengang saat mendengar kalimat tersebut dari dewa laut, bila aku gagal lagi dalam misi ini aku akan benar-benar  menjadi buih untuk selamanya. Aku tak mau bila harus menjadi gelembung untuk selamanya sudah cukup aku merasakan beratus-ratus tahun menjadi gelembung di dasar laut.

Dengan ragu aku mulai bertanya kepada sang dewa.  “Dewa aku ingin bertanya kepadamu, sosok pria yang menjadi reinkarnasi sang pangeran seperti apa?” dan Dewa pun menjawab. “Setelah kau menjadi seorang manusia, kau pasti akan merasakan cinta terhadap reinkarnasi sang pangeran. Kau tak perlu khawatir.”

“Tapi dewa, bagaimana kalau aku jatuh cinta dengan sosok lelaki yang lain bukan reinkarnasi sang pangeran?” tanyaku lagi.

“Masalah itu kau tak perlu khawatirkan. Sebagai bukti kalau pemuda itu adalah reinkarnasi sang pangeran, Jantungmu akan berdebar kencang dan cinta itu akan memanggil ingatanmu tentang laut. Satu lagi yang hampir lupa aku katakan padamu, kau akan bisu selama menjadi manusia.”

“Ta-tapi dewa, bagaimana bisa aku menemukan sang pangeran bila aku tak bisa berbicara? Apakah itu masuk akal?” ungkapku. Lalu dewa laut berkata dengan menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. “CINTA, akan menuntunmu. Apa yang kau kira  tak mungkin akan menjadi mungkin bila menyangkut dengan CINTA.”

~Flash back-End~

~OoO~

Seorang Mermaid yang sangat menyedihkan demi mendapatkan cinta sang pangeran, gadis lugu ini mau memberikan semua jiwa dan raganya untuk bisa bersama dengan sang pujaan hati. Namun apa yang gadis itu peroleh? Hanya kekecewaan yang dia rasakan dan selama beratus-ratus tahun ini pula ia harus menanggung penderitaan. Kali ini Mermaid ini diberi kesempatan kedua untuk mengejar cinta sang pangeran, tapi bila misinya gagal untuk kali ini. Maka Mermaid itu akan menjadi buih untuk selamanya. Ya, benar. Aku adalah reinkarnasi sang Mermaid tersebut. Aku harus mendapatkan cinta pangeran kali ini, agar aku bisa menjadi manusia seutuhnya. Waktuku tak banyak lagi, minggu depan adalah hari di mana bulan purnama datang.

Semua gejala yang di katakan oleh dewa laut terjadi oleh diriku, saat aku berdekatan dengan Namja itu. Tapi Cinta? Aku tak tahu apa itu CINTA. Mungkin karena sudah beratus-ratus tahun yang lalu aku terkurung di dalam gelembung dan itu membuatku menjadi lupa apa arti CINTA itu.

Tapi, bagaimana kalau memang dia adalah reinkarnasi sang pangeran. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” seraya melirik ke arah pemuda itu dan tak sengaja kedua mata kami bertemu. Sekejap aku langsung memalingkan wajah darinya dan tanpa basa basi aku langsung berlari kencang keluar dari dalam ruang UKS.

“Bruuukkk!!!”

Tubuhku tak sengaja bertambrakan dengan seorang siswi yang hendak masuk ke dalam ruang UKS. “Auuww!” rintihnya sembari mengelus-elus sebelah pundaknya kemudian gadis itu menatapku dengan tatapan yang dingin.

“Kau Tak apa-apa, Jiyeon-ssi?” tiba-tiba Namja itu memanggil diriku lagi. Melihat dirinya mulai berjalan menghampiri diriku, sontak aku langsung melanjutkan berlari.

“Jiyeon-ssi? Yah… Park Jiyeon!” panggilnya namun aku tak menghiraukannya. Aku malah melangkahkan kakiku lebih cepat lagi. Meskipun aku sudah jauh dari sisinya entah mengapa suara pria itu selalu bergema di kedua telingaku dan di saat itu juga napasku menjadi sesak.

Setelah cukup jauh dan tak kuat lagi berlari, akhirnya aku berhenti berlari. “Yah… Jiyeon-ah, sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu? Kau tak mungkin kan suka dengan pria semacam dia? Kau bahkan tak tahu apa itu perasaan cinta.” jerit batinku dengan napas yang tersenggal-senggal.

Tiba-tiba aku teringat dengan perkataan dewa laut padaku. “Waktumu hanya sampai fajar di malam bulan purnama, bila kau gagal maka kau akan lenyap untuk selamanya.”

“Deg…!!!”

Kali ini jantungku berdebar kencang. Tenggorokanku terasa tercekik. Aku baru tersadar kalau waktuku tak lama lagi di sini dan sudah hampir seminggu aku tak tahu kemana aku harus mencari reinkarnasi pangeranku dan bagaimana aku bisa jatuh cinta, sedangkan aku tak mengerti apa itu CINTA…?

Jiyeon-ah… apakah kau dapat berhasil menemukan pangeranmu dengan waktu seminggu dari sekarang? Apakah bisa???” ujarku dengan lesu dan tak sengaja air mataku mengalir begitu saja di kedua pipiku.

Tak berapa lama tiba-tiba turunlah hujan yang deras di luar gedung sekolah. “Langit pun ikut berduka melihat keadaanku. Cih… kenapa aku jadi sedih seperti ini.” runtukku.

“Kau harus bisa menghentikan air matamu, Jiyeon-ah. Bila kau tak berhenti menangis. Hujan tak akan berhenti. Jadi hentikanlah tangisanmu.” dengan cepat aku menyeka airmata yang menetes di kedua pipiku. Tak beberapa lama kemudian hujan pun terhenti dan langit berubah cerah.

Kalian pasti bingung kenapa tiba-tiba hujan saat aku menangis dan hujan pun terhenti saat aku berhenti menangis. Pasti kalian pikir itu hanya kebetulan, benar tidak? Tapi pikiran kalian salah. Itu bukanlah kebetulan. Itulah yang terjadi bila seorang Mermaid meneteskan air mata. Langit pun ikut berduka. Terdengar aneh memang di telinga orang awam tapi inilah kenyataannya.

Aku harus bisa mengontrol diriku. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.” gumamku seraya menghela napas panjang dan kemudian aku berjalan menuju ruang kelas.

~OoO~

 

~Pov Author~

-Di ruang UKS-

“Murid perempuan  itu sangat unik, ya.” ucap pria berjas putih itu kepada anak murid perempuan yang sedang duduk di dalam ruang UKS.

“Ah…maksud Seokjin Sonsaengnim, Park Jiyeon-ssi?”

“Heemmm… Memangnya siapa lagi murid perempuan selain kalian yang baru saja pergi dari sini?” balas Seokjin. “Apa kalian mengenalnya? Karena aku baru beberapa hari menjadi dokter UKS di sini aku belum begitu mengenal siswi di sini.” tambahnya dan di sahut oleh murid perempuan yang saat tadi bertabrakan dengan Jiyeon.

“Sebenarnya kami juga tidak terlalu dekat. Karena kebetulan dia itu siswi pindahan dan dia juga baru mulai sekolah dua minggu yang lalu. Kalau aku bilang Jiyeon bukan gadis yang unik tapi dia itu sangat misterius.”

“Yap… aku setuju, Jiyeon-ssi itu sangat misterius. Bahkan aku sekelas dengannya saja, aku tak pernah melihat ekspresi wajahnya yang tersenyum. Jiyeon selalu memasang ekspresi wajah yang datar.” tambah murid perempuan yang baru saja di obati oleh Seokjin.

Mendengar penjelasan dari anak muridnya, Seokjin hanya menganguk-anggukkan kepala. “Tapi Sonsaengnim, Kenapa Sonsaengnim menanyakan hal seperti itu kepada kami berdua?” tanya salah satu anak muridnya saat melihat gurunya diam termangun.

Sonsaengnim… Seokjin Sonsaengnim!” panggil kedua anak muridnya bersamaan dan itu membuat lamunan sang guru menghilang.

“Eh…? Apa?” dengan ekspresi terkejut Seokjin berkata.

“Tadi kami menanyakan, kenapa Sonsaengnim bertanya tentang Jiyeon?” murid perempuan itu pun mengulangi pertanyaannya.

Untuk beberapa  saat Seokjin tak mampu menjawab pertanyaan salah satu muridnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama, karena dia langsung menjawabnya walaupun dengan nada yang sedikit gugup. “Ah… aku hanya ingin lebih dekat saja dengan Jiyeon-ssi. Karena kebetulan dia sudah terlebih dahulu menjadi pengurus UKS sebelum aku ada di sini.” sembari tersenyum tipis kepada kedua murid didiknya.

“Ternyata sikapnya dinginnya tidak hanya dengan diriku saja ia tunjukan, tapi kepada semua temannya juga dia seperti itu. Tapi kenapa aku merasakan sesak saat ia mencoba menghindar dari ku.” lirih batin Seokjin dengan menghela napas yang berat.

~Pov Author-End~

~OoO~

 

-Di kelas-

Seperti biasa aku menunggu sisa jam istirahat sekolah dengan membaca buku Putri duyung sambil duduk di ditempat dudukku sembari mengemil keripik kentang. “Apakah kisah putri duyung, selalu berakhir tragis seperti ini? Kenapa manusia bisa tahu tentang cerita putri duyung ini yah? Apa jangan-jangan yang membuatnya itu dulu adalah seorang Mermaid?”

 

Saat aku aku hendak membalikan halaman buku cerita tersebut, tiba-tiba datanglah dua orang siswa ke depan mejaku. “Hai, Jiyeon-ssi. Apakah nanti pulang sekolah kau ada waktu?” tanya seorang siswa dan tak lama teman di sampingnya pun bertanya juga padaku. “Ya, apakah kau ada waktu? Kami ingin mengajakmu ke kedai Ice Cream yang ada di samping sekolah.” tambahnya.

“Yak!!! Apa yang sedang kalian lakukan pada Park Jiyeon?” tanya salah satu siswi yang sedang berjalan menghampiri depan mejaku bersama dengan kedua sahabatnya.

“Itu bukan urusanmu! Urusilah urusanmu sendiri, jangan suka ikut campur masalah orang lain, Ham Eunjung-ssi! Aku tahu kau itu cemburu kan karena tak ada yang mengajakmu pergi berkencan.” dengan nada yang mengejek.

Mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh siswa itu, Eunjung langsung naik pitam. Dia langsung menjambak kepala siswa yang saat tadi mengejek dirinya. “Yak!!! Apa kau mau mati, ahhaa!!!”

“Yak!!! Lepaskan gadis gila ini dariku, Jimin-ah!!” teriaknya dan keadaan kelas pun menjadi riuh. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Apa yang membuat mereka bertengkar.

“Kemari kau, Suga-ssi! Akan aku buat kau menjadi keripik setelah itu aku remas kau hingga hancur!!!” teriak Eunjung.

Aku baru sadar kalau sekarang aku sedang memengang snack keripik kentang. “Apakah, mereka bertengkar karena aku tak memberikan makanan yang aku makan?”

aku langsung berdiri di tengah-tengah Eunjung dan Suga untuk melerai mereka berdua dan setelah itu aku memberikan Snackku kepada Suga dan Eunjung.

 “Apa ini?” tanya mereka bersamaan. Aku ingin berkata. “Ini untuk kalian, jadi jangan bertengkar lagi ya.” tapi sayangnya aku tak bisa mengatakannya. Alhasil aku hanya memberikan makanan ringanku setelah itu aku pergi keluar dari dalam kelas.

~OoO~

Tanpa terasa aku sudah berjalan kembali ke ruang kesehatan sekolah. “Yak!  Park Jiyeon-ah, apa yang sedang kau pikirkan, hah!” dengan perlahan–lahan aku mengintip ke dalam ruangan tersebut dan binggo pria itu ada di dalam sedang duduk santai di sana.

Lebih baik aku pergi dari sini sebelum dia menyadari keberadaanku.” saat aku hendak pergi tiba-tiba ada seseorang yang menepuk  bahuku dari belakang.

Ahhkkk!!!” teriakku tanpa suara dengan wajah yang kaget. Dan yang membuat aku lebih terkejut ternyata yang menepukku tadi adalah Seokjin saat aku menoleh ke belakang.

Aku langsung membalikan tubuhku dan berusaha berjalan menghindarinya. Tanpa aku sadari aku berjalan mundur  kebelakang. “Apakah kau baik-baik saja, Jiyeon-ssi?” tanyanya seraya nenatapku dengan sirit matanya yang tajam.

“Deg…!!!”

Napasku mulai berat. Aku mulai merasakan sensasi seperti ini lagi saat dirinya ada di dekatku dan saat aku mendengar suaranya, dadaku menjadi semakin sesak. Aku tak kuat lagi, aku ingin segera berlari meninggalkan dirinya dan saat diriku hendak mengambil ancang-ancang untuk berlari tiba-tiba Seokjin berkata padaku dengan nada yang dingin. “Sampai kapan kau mendiami diriku terus? Apakah aku pernah berbuat salah padamu, Jiyeon-ssi?”

A-ani… kau tak salah.”

“Apakah kau begitu sangat membenci keberadanku di dekatmu, maka dari itu kau selalu mendiamiku dan membuang wajah di depanku?” tanyanya kembali, kali ini suaranya terdengar begitu lemah.

Bu-bukan seperti itu, Seokjin-ssi. A-aku tak bermaksud seperti itu…”

Dengan perlahan-lahan Seokjin mulai mendekatiku. Meskipun aku memunggunginya aku bisa merasakan kehadirannya ada di dekatku. Napasku makin tercekat. Aku bahkan lupa bagaimana cara bernapas. Kedua kakiku langsung lemas. Kepalaku terasa berputar-putar dan seketika tubuhku pun tumbang.

“Jiyeon-ssi? Ada apa denganmu? Apakah kau sakit?” ujarnya dan aku baru sadar tubuhku sudah ada di dalam dekapannya. Dengan cepat aku langsung mendorong tubuh Seokjin menjauh dari diriku dan kemudian aku langsung berlari meninggalkannya.

Aku berlari sekencang-kencangnya dan berlari tanpa arah. Aku berlari sampai ke lapangan sekolah bahkan aku tak melihat ternyata sudah ada seseorang di depan hadapanku.

“Bruukk!!!”

 Tubuhku pun terpental cukup jauh. Dalam hitungan detik aku  jatuh berbaring tak berdaya di atas trotoar. Dadaku masih berdebar hebat dan napasku pun masih terengah-engah.

Langit yang cerah.” gumamku sambil sebelah jari jemariku menghalangi sinar matahari yang menerpa wajahku sambil memejamkan kedua mataku untuk sesaat.

Gwenchana?” tanya pria yang baru saja aku tabrak. Kemudian namja itu membantuku berdiri.

“Apakah kau baik-baik saja, Nona?” tanyanya lagi dan tak lama aku menjawab dengan anggukan kepala.

“Benarkah?” tanyanya kembali tapi kali ini dia berkata sambil menyentuh kedua pipiku.

Tiba-tiba wajahku memanas. Entah kenapa aku merasakan hal semacam ini. Jantungku pun masih berdebar kencang tapi anehnya aku sama sekali tak merasakan sesak yang kurasakan bila di dekat Seokjin tapi kenapa jantungku berdebar-debar juga saat berada di sampingnya?

“Apakah ini efek dari berlari tadi?”

“Apakah lebih baik aku mengantarmu ke UKS?” tanyanya dan tanpa basa basi pria itu langsung memelukku. Anehnya kenapa aku tak mampu melawan dirinya. Aku merasa sangat nyaman di dalam pelukannya.

Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa aku merasakan hal seperti ini?

Kemudian pria tersebut mulai menyondongkan wajahnya ke depan wajahku, otomatis kedua mata kami pun bertautan. Jarak di antara aku dan dirinya hanya beberapa inci. Aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya. Dan setelah itu tubuhku di gendongnya.

“Yak!!! Apa yang sedang kau lakukan, Taehyung-ah!” teriak seseorang dari kejauhan dan kemudian ia berlari menghampiri kami.

“Seokjin Hyung…” katanya sembari menurunkan tubuhku setelah itu dia menghampiri Seokjin.

“Yah? Apa yang kau lakukan di sini? kau tak pergi sekolah? Jangan bilang kau bolos lagi hari ini.”

“Ups… ketahuan ya. Mianhae Hyung. Habisnya Hyung pindah dari sekolahku sih, jadinya aku kan kangen sama kamu, Hyung.” ucapnya sambil memeluk erat pria berjas putih itu.

“Yak!!! Anak ini. Cepat kembalikan sekolah, jam istirahat sebentar lagi selesai.” balas Seokjin sambil menjitak keras kepala Taehyung.

Taehyung pun menyeriangai kesakitan. “Hyung... masa sama adik sendiri kau seperti itu?”

“Cepat sana pergi, jangan sampai aku adukan kau kepada eomma dan appa.”

Hyung, jebal. Kali ini saja, kumohon jangan beri tahu eomma dan appa, ne... ” pinta Taehyung sambil merajuk.

Adik…??? Hyung??? Apa jangan-jangan mereka berdua…? Tak mungkin jantungku berdebar-debar dengan dua orang pria sekaligus? Pasti ini bukan takdir dari Dewa tapi ini adalah hukuman yang di berikan padaku!!” teriak batin ku.

 

Napasku mulai memburu, aku mulai sulit bernapas lagi. Jantungku berdebar dengan kencang. Aku berusaha meringankan debaran jantungku dengan cara mencengkram erat dadaku tapi semua itu tak menolong. Tak berapa lama kemudian penglihatanku mulai kabur dan di saat itu juga aku tak ingat lagi apa yang telah terjadi setelahnya.

-TBC-

~OoO~

Annyeonghaseo Yeorobun, ketemu lagi dengan Phiyun disini, hehehe 😀

Maapkan daku kalau ceritanya rada gaje, kekkee ^^. Sorry kalau ada kata yang typo’s bertebaran dimana – mana saat membacanya, maklum mimin juga manusia biasa, hehehe 😀

Penasaran sama lanjutannya? Jangan lupa RCL ya setelah membacanya, karena komentar dari readers semua adalah sebagai penyemangat author untuk lebih baik lagi dalam membut fanfic selanjutnya. N semakin banyak reader yang meminta kelanjutannya maka author akan segera mungkin mempublishkan next partnya ^^

See you next chapter berikutnya…

Gomawo ^^

 

Advertisements

11 thoughts on “Who Is My Prince? [Part 1]

    • Hahaa… betul banget tuh, kalo jiyi deket ma jin dadanya sesak kalo sama V deg-deg-gan jadi serba salah dah di jiyinya, haha 😀
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini ^^

  1. Siapa takdirnya Jiyeon?? Seok Jinkah atau V? baca cerita ini jadi inget mv bts masaaa, JinV kan jadi satu dimvnya wkwkwk.

    Klo deket Jin, Jiyeon merasa sesak, tapi klo deket V mah engga, malah nyamannn. tapikan ciri2 yh disebutin Dewa laut mengarah ke Jin. Ughh njir bingungggg thorr

    Tapi aku berharapnya ini JinYeon hehe.

    Next thorr!! semangat

  2. Aduh bingung deh siapa takdirnya jiyeon..
    Klo mnrtku si kyaknya seokjin ya…
    Soalnya seokjinnya sesak klo jiyeon ngindarin dia..
    Smg aja happy ending lah..
    Kan ksian si jiyeon dari dulu menderita trus..
    Next thor jgn lama lama..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s