[Oneshoot] Love

A fanfic requested by @Jinho48

1475670159313

Thanks for this adorable poster kakyuns :*

 Scriptwriter Oyewyn. K || Poster Designer  BluebellsBerry || Genre Marriage Life dan Sad || Starred BTS’s Jeon Jungkook and T-Ara’s Kim Danee || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

 

~Story Begin~

.

.

.

Menikah dengan orang yang kau cintai dan mencintaimu adalah hal yang paling membahagiakan karena hal itu berarti bahwa cintaimu terbalas. Dan seharusnya pernikahan seperti itu adalah pernikahan berhasil dan tanpa penyesalan. Tapi, tahukah kamu bahwa perasaan cinta ada karena otak melepaskan hormon? Hormon yang disebut oksitosin. Katanya, pada masa yang sering kali dikatakan sebagai masa jatuh cinta, oksitosin akan diproduksi oleh tubuh secara maksimal. Dan itu akan terus terjadi paling lama selama dua tahun, baru kemudian produksinya menurun. Dengan kata lain maka bisa dikatakan bahwa tidak ada cinta yang abadi. Jadi, apabila banyak terjadi perceraian atau perpisahan di antara dua orang yang katanya saling mencintai itu adalah hal yang wajar, dan kalian bisa menebak apa penyebabnya. Terutama apabila dalam perpisahan itu terdapat kalimat kita sudah tidak cocok atau aku bosan dengan dirimu.

Tapi bukan berarti mau menyerah begitu saja, karena pada dasarnya tubuh manusia dapat dimanipulasi. Hal ini pun berlaku pada oksitosin, yang dimana hormon itu dapat diproduksi apa bila seseorang merasa tertarik dengan orang lain. Dengan kata lain, hanya perlu mencari alasanm untuk kau mencintai orang itu. Sangat mudah. Asalkan ada keinginan, maka akan ada solusi. Banyak jalan menuju Roma.

Lalu, bagaimana dengan dua manusia ini? Seberapa lama mereka mampu mempertahankan cinta mereka sendiri?

Merendam diri adalah salah satu cara bagi beberapa orang untuk melarutkan rasa stres, tepatnya melemaskan saraf – saraf otak yang tegang karena tekanan psikis maupun fisik. Danee selalu menggunakan cara ini. Air hangat dan aroma terapi selalu berhasil merilekskan pikirannya. Ya, setidaknya untuk sementara waktu sebelum orang itu tiba. Memejamkan kedua netranya dan mengisi penuh semua alveous, berusaha melupakan kejadian yang baru terjadi. Kejadian yang sangat tidak disangka olehnya, bagai cubita kecil tapi menimbulkan ruam di kulit. Tak terasa airmatanya telah menetes. Tangan halusnya merambat mengusap perut ratanya. Ya, Danee hamil. Jika boleh jujur, dia sangat bahagia akan hal itu. Seharusnya begitu. Ya, seharusnya.

Danee tersenyum lebar dengan lembaran yang dia terima setelah memeriksakan dirinya yang mengalami mual luar biasa selama dua minggu ini. Dengan langkah percaya diri dan tak sabaran ia memasuki kediaman keluarga Jeon untuk menemui kedua mertuanya.

”Aboenim, eommonim, aku punya kabar gembira untuk kalian!”Dia berteriak girang, berusaha mendapatkan atensi dari isi rumah itu.

“Apa?”

“Aku hamil. Ini hasil pemeriksaanku pagi ini.” Dengan cepat ia menunjukkan hasil pemeriksaannya.

“APA?!” Itu bukan pekikan kebahagian, sebaliknya itu adalah pekikan tidak terima.

“Jungkook mengetahui hal ini?”

“Belum, aku akan memberitahukannya nanti malam setelah dia pulang dari kantor.”

“Tidak… tidak… kau tidak hamil. Jangan beritahukan hal ini kepada Jungkook.” Bukti pemeriksaan disobek oleh Nyonya Jeon.”Atau kalian bercerai.”

Mertua Danee menolak kenyataan bahwa ia hamil. Dan dia dilarang untuk memberitahukan hal ini pada suaminya.

Tadinya dia kira kehamilan akan mengubah keadaan tapi nyatanya ia salah. Semua tidak bisa berubah begitu saja hanya karena kehamilan, hanya karena ada janin yang tumbuh dalam rahimnya.

Tok… tok… tok.

Seseorang mengetuk pintu kamar mandi, sangat jelas itu adalah sang suami mungkin yang baru saja pulang dari kantornya.

“Danee, kau di dalam. Sudah dari tadi aku menunggumu keluar dari sana.”

Ah, kau sudah pulang? Mengapa tidak dari tadi saja mengetuk pintu, aku berendam.”

“Mengapa dikunci? Aku ingin ikut berendam.”

“Berendamlah, aku sudah selesai.” Danee keluar lalu menuju lemari pakaian untuk segera mengenakan pakaian santainya.

“Tapi aku mau berendam denganmu. Aku merindukanmu.”

“Kau merindukanku atau merindukanku, tuan?”

“Keduanya.” Jungkook memeluk Danee dari belakang.

“Tidak.” Danee mengecup kilat bibir suaminya.

“Kau menolakku?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Tubuhku yang menolak.” Ucap Danee sombong. “Aku sedang haid.” Ia berbisik di telinga pria kesayangannya itu.

Jelas saja semua itu berbalaskan erangan frustasi dari Jungkook. Ya, tepat sekali! Danee berbohong. Kehamilannya ini masih muda, sang janin belumlah kuat sehingga hubungan suami istri dilarang dokter untuk dilakukan. Seminggu ini mungkin dia masih bisa terhindar, entah bagaimana minggu berikutnya.

Kini telah memasuki bulan ketiga Danee menjalani masa kehamilannya dan suaminya masih belum mengetahui hal itu. Parahnya, Danee membebat kuat perutnya yang mulai membesar menggunakan stagen berusaha menutupi kehamilannya yang ditolak oleh mertuanya. Dia melakukannya semata-mata karena merasa takut akan ancaman mertuanya yang mengatakan bahwa ia akan memisahkannya dengan Jungkook. Dia sangat sadar bahwa hal yang dilakukannya ini adalah kesalahan besar karena hal ini pasti menyakiti janinnya, hasil cintanya dengan sang suami. Danee hanya bisa bernapas lega ketika Jungkook bekerja karena pada saat itu dia bisa melepaskan ikatan stagen yang melilit perutnya. Namun kini hubungannya dengan Jungkook sedang dalam keadaan kurang baik, ini terjadi karena dirinya sendiri yang selalu menolak Jungkook saat mengajaknya berhubungan. Dan mungkin hal yang lebih buruk lagi bisa saja terjadi.

Siang ini Danee berencana untuk mengunjungi dokter kandungannya. Memeriksa keadaan janin yang tumbuh dalam rahimnya. Ia hanya selalu berdoa agar semuanya baik – baik saja, agar bayinya dapat tumbuh dengan kuat dan sehat. Akan tetapi jika bayinya terus bertumbuh maka perutnya akan semakin membesar, lalu bagaimana dengan pernikahannya? Ia menginginkan bayinya selamat, begitu juga dengan pernikahannya. Bisakah Danee menyelamatkan pernikahan dan bayinya? Yang dapat dia lakukan hanyalah mendaraskan doa kepada Tuhan agar semuanya dapat berakhir dengan baik. Ya, semoga saja.

“Bagaimana dok?”

“Bayimu baik – baik saja, tapi sepertinya selama ini dia sering mengalami tekanan kuat. Kalian tidak melakukan hal itu dengan kasar selama ini kan? Itu akan membahayakannya, kau harus memberitahukan hal ini pada suamimu.”

Tak ada suara yang keluar dari mulut Danee, wanita itu hanya menunduk dalam menatap dan mengusap perutnya yang mulai membesar. Tidak, suamiku tidak memberikan tekanan apapun pada perutku. Semua ini kesalahanku. Jawab Danee dalam hati, tak dapat didengar oleh dokternya. Ia sangat menyesali perbuatannya, tapi ia tak dapat berbuat banyak. Karena ia tak punya pilihan lain.

“Ini resep vitaminmu. Tolong jaga dirimu baik – baik.”

“Terimakasih.” Hanya satu kata itu yang Danee ucapkan, kemudian dia keluar dari ruangan dokter itu. Danee pun melangkahkan kakinya menuju bagian farmasi untuk menebus vitamin yang telah diresepkan oleh dokternya.

“Kim Danee!” Seorang pria meneriakkan namanya.

“June!” Danee balas memanggil nama pria yang meneriakkan namanya.

Setelah berhadapan keduanya pun berpelukan, saling melepas rindu setelah sekian lama berjumpa. June adalah teman pria Danee pada masa SMA, tapi kemudian mereka berpisah saat kuliah karena June melanjutkan pendidikan dokternya di Jerman. Karena baru bertemu keduanya pun memutuskan untuk pergi ke kafe yang jauhnya beberapa blok dari rumah sakit itu.

“Jadi sekarang kau bekerja sebagai dokter jantung di sana? Uri Junie daebakiyeyo!

“Kau ini.” June hanya tersenyum mendengar pujian dari wanita yang diam – diam dia cintai. “Dan kau, dari obat yang kau tebus tadi sepertinya kau sedang hamil. Kau sudah menikah?” Imbuhnya kemudian.” Imbuhnya kemudian.

Danee yang mendapat pertanyaan dan pernyataan itu hanya menunduk dan mengusap perutnya lembut dengan wajah sendu. June pun begitu, tatapannya sendu.

“Kau tidak bahagia?”

Wanita itu tak menjawab pertanyaan June hanya tetap menunduk dan menatap perutnya. Dia bahagia menikah dengan Jungkook, bahkan sedang menandung buah cinta mereka. Tak ada yang lebih membahagiakan dari itu. Semua wanita pasti ingin mengandung benih cinta dari pria yang dicintainya. Akan tetapi… entah kenapa dia tidak bisa mengatakan dia bahagia. Beban batin yang diciptakan mertuanya terlalu berat untuk ditanggung pundak kecilnya.

“Dan, are you okay?” June merendahkan wajahnya, mencari wajah wanita itu.

Ya?

Neo gwaenchana?”

Ahh.. ne, nan gwaenchana.”

June tahu dengan jelas bahwa Danee tidak baik – baik saja. Wanita itu menyembunyikan sesuatu, entah apa itu tapi June tidak dapat memaksakan kehendaknya sendiri. Ia akan tetap menunggu sampai wanita itu yang menceritakannya sendiri. Ya, ia akan selalu menunggu Danee. Sama seperti yang telah dilakukannya bertahun – tahun, mencintai wanita itu dalam keheningan. Untuk saat ini dia hanya bisa berpura – pura percaya begitu saja dengan gwenchana-nya Danee.

Seperti akhir pekan lainnya, Jungkook berada di rumah bersama dengan Danee. Tapi kali ini terasa berbeda, Jungkook terlalu diam  tidak seperti biasanya. Danee bahkan bingung apa yang harus dia lakukan untuk memecahkan keheningan yang melingkupi mereka. Beruntungnya saat ini wanita berbadan dua itu sedang menyiapkan sarapan sehingga tak perlu menatap Jungkook secara langsung. Karena kebohongan yang dirinya ciptakan sendiri Danee tidak percaya diri untuk menatap suaminya, ia merasa bersalah sekaligus takut.

Oppa, kau ingin aku membawakan sarapanmu ke sana atau oppa yang ke sini?” Danee berteriak pada suaminya yang berada di ruang tamu.

“Aku ke sana.” Jungkook ikut berteriak.

Keduanya kini duduk berhadapan di meja makan mulai menyantap french toast dan green tea latte yang disajikan Danee. Sesekali Jungkook mengangguk kecil menikmati lezatnya masakan istri satu – satunya. Ya, pria itu selalu menyukai semua hal tentang Danee. Tak memakan waktu lama acara sarapan berlalu begitu saja.

Oppa, kau terlalu diam. Aku bosan.” Danee mulai merengek, bawaan kehamilan yang seharusnya tidak ditunjukkan di depan Jungkook.

“Jadi, kau ingin bermain denganku?” Jungkook menggoda Danee, mengikis jarak yang memisahkan mereka.

Anniyo, aku ingin berjalan – jalan. Bagaimana jika kita piknik di taman?” Mengalihkan perhatian, hal yang selalu dilakukan Danee beberapa bulan ini. Ya, demi menghindari Jungkook menyentuh badannya atau pria itu akan mengetahui kebenaran.

“Setuju!”

Kemudian Danee mulai menyiapkan segala kebutuhan untuk mereka piknik, wanita itu sangat bersemangat sampai tak sadar sang suami yang menatapnya dengan tatap misterius dari belakang. Baru kemudian Jungkook pergi menyiapkan salah satu mobil sport yang terparkir di garasi besarnya. Setelah semuanya selesai mereka berangkat menuju taman yang letaknya memakan waktu sekitar 30 menit dari kediaman besar mereka. Sesampainya di sana Danee berlari menuju pohon rindang, menjaga tempat itu agar tak ada yang menggunakannya sebelum mereka. Sementara Jungkook, berperan sebagai suami yang baik. Pria itu membawa semua perbekalan yang sudah disiapkan Danee. Begitu Jungkook berjarak beberapa langkah darinya, Danee mengambil beberapa barang, membantu Jungkook yang terlihat agak kesulitan.

Haahhh… sangat menyegarkan.” Danee menghirup dalam – dalam angin segar yang berpadu dengan bebauan tanaman yang memang menyegarkan. Sejenak penatnya terusir begitu saja, dan beban psikis terlupakan.

“Ya, kita harus lebih sering melakukan kegiatan ini.” Jungkook mengikuti kegiatan tarik napas yang dilakukan Danee sambil merenggangkan otot kakunya.

Danee mulai menyusun perbekalan mereka setelah Jungkook menggelar tikar kecil yang menjadi alas duduk mereka. Seperti yang diketahui, napsu makan wanita hamil benar – benar menakutkan. Dan Danee, wanita mulai memakan nasi kepal yang sudah disiapkannya dari rumah padahal belum lama mereka menyantap sarapan. Jungkook hanya menatap wanita tercintanya dalam diam.

Yya! Jeon Danee! Kau baru saja sarapan tadi dan sekarang kau sudah memakan setengah kotak nasi kepal yang kau buat?” Ejek Jungkook pada istrinya.

“Tadi kita hanya sarapan french toast dan green tea latte. Jadi aku sudah lapar lagi.”

Ckck kau ini.”

Oppa mau?” Tawar Danee sambil menyerahkan nasi kepal yang sudah digigitnya.

Haish, kau ini.. bagaimana bisa wanita cantik sepertimu makan berantakan seperti itu.”

“Kalau begitu oppa bereskan saja.” Wanita cantik itu berkelik.

“Benarkah? Setuju!” Tanpa aba – aba Jungkook membereskan wajah  Danee yang berantakan karena cara makan wanita itu yang agak bar – bar, atau tepatnya  menyumbu istri cantiknya.

Oppa! Ini tempat umum.” Omel Danee dengan wajah memerah.

“Kau sendiri yang menyuruhku membereskannya.” Pria itu memang pintar beralasan.

Mendengar jawaban Jungkook Danee merasa malu dan berjalan cepat meninggalkan Jungkook. Iya seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta, satu keajaiban lainnya dari wanita hamil, emosi yang labil. Sudah sekitar 100 meter Danee berjalan dan wanita itu merasa napasnya memberat dan perutnya terasa sakit. Ya, tentu saja itu karena ia membebat kuat perutnya. Buliran air mulai keluar dari pori – pori tubuhnya, wajahnya pun mulai memucat, tapi ia tidak boleh berhenti karena tahu Jungkook masih mengikutinya. Kini kepalanya mulai berputar, namun ibu hamil itu masih saja memaksakan dirinya berjalan jauh dengan kondisi tubuh yang tidak baik. Hingga akhirnya Danee jatuh tak sadarkan diri, Jungkook yang berada beberapa langkah di belakangnya langsung berlari panik melihat istrinya jatuh tiba – tiba. Dengan sigap suami baik itu menggotong sang istri menuju mobil yang terparkir agak jauh dari tempat mereka dan melupakan perbekalan yang sebelumnya mereka bawa. Dalam perjalanan Jungkook memanggil dokter pribadinya untuk ke rumahnya. Entah mengapa Jungkook lebih memilih untuk membawa Danee ke rumah daripada ke rumah sakit, mungkin karena jarak ke rumah sakit terlalu jauh.

Ahn Min Ji, seorang dokter yang juga sahabat Jungkook sejak kecil. Dia memeriksa Danee yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang besar kamar mereka.

“Aku sudah menyuntikkan beberapa obat dan vitamin padanya.”

“Terimakasih. Apa yang terjadi padanya? Dia pingsang begitu saja saat kami berjalan – jalan.”

“Dia hampir keguguran. Kau tahu? Aku menemukan stagen ini mengikat kuat perutnya. Ini gila. Apa yang terjadi antara kalian berdua? Kau tidak tahu dia hamil? Astaga, aku bahkan tidak percaya bagaimana tersiksanya mereka berdua”

Jungkook hanya terdiam mendengar perkataan sahabatnya itu, tak tahu harus berkata apa. Dia bahkan tak tahu harus bersikap seperti apa ketika Danee sadarkan diri nanti. Seperti mengerti apa yang ada dibenak Jungkook Ahn Min Ji memilih untuk pamit pulang, ia baru saja pulang dari tugas jaganya.

“Entah apa yang terjadi, tapi aku yakin kalian bisa menyelesaikannya dengan baik.”

Hingga pagi menjelang mata Jungkook masih terbuka lebar, otaknya terlalu penuh akan masalah kehamilan Danee. Bayi siapa yang Danee kandung sampai dia menyembunyikan hal itu pada Jungkook? Apa Danee berselingkuh? Apa Danee tidak mau memiliki anak darinya? Pria itu benar- benar tidak tahu harus bagaimana. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan Jungkook memilih untuk bersiap bekerja. Di samping itu memang pekerjaannya, Jungkook juga belum siap untuk berhadapan langsung dengan wanita yang masing tidur itu.

“Kau sudah bangun?” Sapa Jungkook yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Danee yang berusaha mendudukkan dirinya. Jungkook memilih untuk langsung memakai setelan kerjanya tanpa menuntut morning kiss yang selalu ia inginkan.

“Setengah jam lagi Bibi Kang akan datang, jika kau menginginkan atau memerlukan sesuatu katakan saja padanya.” Ujar Jungkook yang sedang mengancingkan kemejanya, tanpa menatap Danee.

Oppa—“

“Aku berangkat. Hati – hati di rumah.” Jungkook memotong Danee, ia belum siap mendengarkan apapun dari mulut wanita yang dicintainya itu.

Sesampai di kantor pun Jungkook tak bisa berkonstentrasi pada pekerjaannya. Semua berkas terbengkalai, pikirannya benar – benar kalut. Bahkan sudah beberapa kali Jungkook berteriak memarahi bawahannya karena kesalahan yang sangat kecil.

“Kim Danee, apa sebenarnya ini semua?!” Jungkook berteriak frustasi.

Sudah seminggu Jungkook tidak pulang, meninggalkan Danee bersama dengan Bibi Kang. Hal ini membuat Danee kelimpungan, pasalnya wanita yang masih berstatus istri sah Jungkook itu tak dapat menghubungi dirinya. Jungkook bak hilang ditelan bumi, tak ada kabar, tak ada jejak. Dengan memberanikan diri Danee menghubungi mertuanya.

Yeoboseo eommonim.”

Eoh.”

“Apa eommonim tahu dimana Jungkook? Dia belum pulang kemari seminggu ini.”

“Bagaimana bisa kau tidak mengetahui keberadaan suamimu? Kau itu istri macam apa? Wanita bodoh.”

Sesuai ekspektasi, Danee tidak mendapatkan jawaban. Malah telpon diputuskan sepihak oleh mertuanya. Kini wanita bersuami itu tak tahu harus menanyakan keberadaan suaminya kepada siapa lagi. Sementara di sisi lain mertua Danee tersenyum lebar. Berita itu bagaikan hadiah besar untuknya, karena ini berarti hubungan antara Jungkook dan Danee tidak dalam keadaan baik. Ini merupakan kesempatan bagus untuknya. Sedangkan pria yang dicari keberadaannya itu kini sedang menenangkan diri di desa kecil, di rumah almarhum nenek dan kakeknya. Ya, Jungkook selalu melarikan diri ke sana saat pikirannya terganggu. Dan hal ini hanya diketahui sang ibu.

Benar saja, wanita yang usianya melewati setengah abad itu langsung berangkat menuju tempat mengasingkan diri sang anak tersayangnya. Perjalanan menuju tempat itu membutuhkan waktu setengah hari sehingga nyonya besar itu baru sampai di desa pada pagi hari.

“Kookie-ya!”

Eomma! Kenapa eomma di sini?”

“Istrimu menanyakan keberadaanmu, tapi eomma tak memberitahukannya karena eomma tahu kau tidak ingin ditemui.” Tukas Nyonya Besar Jeon. “Eomma akan menemanimu di sini. Kau pasti membutuhkan teman berbagi.” Imbuhnya kemudian dengan senyum keibuan, entah itu tulus atau tidak.

Nyonya Jeon benar – benar melayani Jungkook dengan baik, layaknya pria dewasa itu adalah anak kecil yang butuh bimbingan. Saat ini mereka seperti ibu dan putra kecilnya. Mereka sangat dekat. Jungkook seperti anak kecil yang selalu menempel pada ibunya. Bahkan kini Jungkook sedang berbaring di pangkuan ibunya dengan nyaman. Ia selalu suka ketika ibunya mengusap kepalanya lembut, dapat dirasakan besarnya rasa sayang ibu pada anaknya. Menenangkan dan menyenangkan.

“Kookie-ya­, sudah beberapa hari eomma menemanimu di sini. Kau belum mau menceritakan masalah rumah tanggamu?”

Molla eomma. Aku masih bingung dan tak percaya.”

“Ini semua salah eomma.”

“Apa maksud eomma?” Jungkook bangun dari posisi berbaringnya.

Mianhe… jeongmal mianheyeyo.” Ibu Jungkook tertunduk dan mengeluarkan airmata.

Eomma, apa maksud eomma sebenarnya? Aku tak mengerti.” Jungkook menghapus airmata wanita yang melahirkannya itu.

Eomma terlalu takut kau merasa tersakiti jadi eomma menyembunyikan semuanya. Eomma kira mereka hanya berteman dan akan berakhir begitu saja tapi ternyata tidak, mereka semakin sering bertemu. Dan semua berakhir seperti ini.” Airmata mengalir semakin deras.

Eomma… .

“Foto – foto ini akan menjelaskan semuanya.” Nyonya Jeon menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa lembar foto.

Jungkook menatap foto – foto itu tak percaya. Rahangnya mengeras, ia merasa dikhianati oleh wanita yang selama ini menjadi satu – satunya.Tangannya meremas salah satu foto yang digenggamnya. Amarahnya benar – benar berada di puncak, pikirannya tak jernih. Dan yang terpenting, rencana sang nyonya besar berjalan dengan baik.

Jungkook mengikuti Danee yang pergi keluar rumah, ternyata wanita berbadan dua itu pergi ke kafe untuk menemui pria yang diyakini Jungkook sebagai selingkuhannya. Dari dalam mobil Jungkook hanya bisa meremas kuat setir mobil hingga buku – buku jarinya memerah dengan rahang yang mengatup kuat. Dia benar – benar marah, tapi ia harus menunggu hingga beberapa saat lagi, ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh istrinya itu. Hingga akhirnya amarah itu sudah tak tertahan lagi ketika Jungkook melihat Danee memeluk pria selingkuhan itu. Dengan kasar ia keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju kursi istrinya. Ia benar- benar merasa dikhianati oleh Danee, satu – satunya wanita yang ia cinta —setidaknya sampai saat ini.

Tanpa aba – aba Jungkook menumbuk keras pelipis June dengan kepalan tangannya dan langsung menarik kasar tangan kecil Danee untuk keluar dari kafe itu. Ia melemparkan Danee ke kursi penumpang lalu mengendarai mobil mahalnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu membawa istrinya ke kediaman orangtuanya, dia hanya ingin agar ada orang lain yang akan menahannya sekiranya pria itu hendak menyakiti istrinya jika ia benar – benar berada di luar kendali.Kembali Jungkook melemparkan Danee, kali ini untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah. Tuan dan Nyonya Jeon terkejut dengan kedatangan pasangan suami istri itu.

“Ada apa ini?” Tuan Jeon bertanya pada semua orang yang ada di ruangan itut, tapi tak satupun menjawab.

“Kau hamil?” Jungkook bertanya pada Danee, sangat jelas bahwa pria itu menahan emosinya.

Danee hanya mengangguk.

“Dia anakku?” Kembali pria itu mengajukan pertanyaan.

Danee melihat kedua mertuanya yang menatap tajam dirinya, membuat ia takut mengungkapkan kebenaran yang ada. Ini membuat Danee hanya ertunduk diam.

“Kau selingkuh?” Kini nada suara pria itu benar – benar dingin.

Lagi – lagi wanita itu hanya tertunduk diam. Dia merasa seperti penjahat yang akan dihukum mati.

“JADI ANAK SIAPA YANG KAU KANDUNG ITU, KIM DANEE?!” Jungkook sudah tak bisa lagi menahan amarahnya. Wanita itu hanya menjawab satu pertanyaan dari tiga pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan.

Tubuh wanita usia dua puluhan itu bergetar, ia ketakutan. Ini kali pertama pria yang dicintainya membentaknya dengan sangat keras. Airmata yang sedari tadi ia tahan meluncur begitu saja membasahi kedua belah pipinya. Jungkook menyadari itu, tapi amarah besar sudah menutup hatinya.

“Kau tidak mau menjawabku, eoh?” Tukas Jungkook bertanya dengan nada yang menyakitkan di telinga Danee. “Kalau begitu jelaskan semua foto ini.” Pria itu melemparkan beberapa foto di hadapan Danee, foto – foto yang menunjukkan Danee bersama dengan seorang pria yang bernama June.

Danee hanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia ingin menjelaskan semuanya tapi mungkin semuanya akan percuma. Semua adalah kesalahannya. Hingga akhirnya calon ibu itu memilih menunduk diam kembali.

“Kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku?” Jungkook kembali mengintrogasi istri sahnya.

Lagi, lagi, dan lagi Kim Danee memilih untuk menutup mulutnya. Biarlah ia menjadi pihak yang disalahkan. Biarlah ia menjadi pihak yang jahat.

“Kita tidak akan bercerai sampai kau yang memintanya padaku, tapi aku tidak akan bersikap seperti dulu lagi padamu. Rasakan rasa sakit yang akan kuberikan padamu.” Putus Jungkoook mengakhiri kesia – siaan yang dilakukannya. Dan pergi meninggalkan rumah itu, mencoba kembali mencari ketenangan.

“Tamat sudah riwayatmu, Kim Danee.” Bisik tajam sang mertua tepat di telinga Danee.

Wanita itu hanya bisa menangis dalam diam. Tak tahu harus bagaimana dan akan seperti apa kehidupan rumah tangganya setelah momen ini.

Jungkook menepati kata – katanya, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Ia menjadi Jeon Jungkook yang tak lagi dikenal oleh Danee. Kini pria itu sangat dingin pada Danee, bahkan cenderung kasar.  Pria itu memperlakukan Danee sesuka hatinya, layaknya seorang budak peliharaan. Seperti pagi ini, Kim Danee harus menyiapkan sarapan untuk sang suami dan wanita bayarannya setelah semalam kedua orang itu menghabiskan malam bersama dengan erotis. Bahkan suara erangan kenikmatan kedua orang itu masing terngiang – ngiang di pikirannya. Dan malam itu Danee hanya bisa menangis perih dalam diam. Suaminya berselingkuh, membawa wanita selingkuhannya ke dalam rumah mereka dan menghabiskan malam bersama. Sakit, hatinya hancur. Dan ini telah terjadi untuk kesekian kalinya.

Plak!

Tamparan mendarat di pipi Danee, ini hanya karena kesalahan kecil. Ya, Jungkook kasar pada Danee. Tak ada lagi kasih sayang yang diberikan pria itu.

“Ini keasinan! Apa kau tolol?” Pria itu membentak Danee. Kini wanita yang tengah hamil muda itu mulai terbiasa dengan bentakan dari Jungkook, meskipun hatinya selalu nyeri saat ia dibentak.

“Sudahlah oppa, ini hanya keasinan sedikit.” Wanita bayaran itu mencoba menenangkan Jungkook, atau tepatnya menjilatnya.

“Jika hari ini dia memberikan banyak garam pada makanan maka akan sangat mungkin dia memberikan racun suatu hari nanti.” Tukasnya tajam pada wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya. “Ayo kita keluar. Aku muak dengannya.” Imbuh Jungkook kemudian dan mereka pergi.

Sepeninggal kedua manusia itu Danee tersungkur di lantai, ia menangis tersedu. Hatinya sangat hancur. Hatinya tak kuat lagi, tapi ia terlalu mencintai pria itu. Ia terlalu bodoh karena tak bisa melepaskan pria itu. Ia terlalu bodoh karena membiarkan pria itu membenci dirinya yang sebenarnya tak bersalah. Danee pun memutuskan untuk pergi keluar, mencoba untuk menghibur dirinya. Wanita memutuskan untuk pergi ke taman, taman tempatnya berbagi senyum dan tawa bersama Jungkook.

Danee duduk di sebuah kursi di pinggiran danau buatan di taman itu. Dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya ia memejamkan matanya, mendengarkan dan meresapi lagu yang selalu didengarkan mereka berdua saat menghabiskan waktu di sana. Dalam pikirannya memori – memori indah berputar bagikan rol film membuatnya semakin merindukan momen – momen bahagia itu. Ia merindukan prianya, Jeon Jungkook-nya.

Jungkook memasangkan sebelah earphonenya pada telinga Danee dan yang lainnya di telingnya, lalu memainkan sebuah lagu kesukaannya, lagu yang mengungkapkan perasaannya pada wanita di sampingnya itu. Sementara wanita itu hanya menggoyangkan kedua kakinya sambil menatap ke langit dan menggoyangkan kepalanya menikmati alunan musik. Sesekali dia ikut menyanyikan lirik lagu mengikuti musik yang didengarnya.

“Danee-ya.” Jungkok itu memanggil gadis yang ia taksir.

Ya, sudah beberapa bulan ini Jungkook melakukan pendekatan pada gadis bermarga Kim itu.

“Hmmm.” Gadis itu menanggapi dengan gumaman singkat.

“Kau suka lagi ini?” Tanyanya kemudian dan ditanggapi dengan anggukan kecil.

“Kau tahu lagu ini menceritakan apa?” Dia bertanya lagi.

“Ya, lagu ini menceritakan tentang seorang pria yang sangat mencintai seorang gadis. Dan menginginkan gadis itu menjadi miliknya.” Danee mengetahui pesan dari lagu itu.

“Ya, kau benar. Aku pernah berjanji pada diriku bahwa aku akan mendengarkan lagu ini bersama dengan gadis yang aku cintai.”

Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Jungkook gadis itu terpaku. Mukanya merona, dia juga mencintai pria di sampingnya. Dan jika boleh jujur, dia sangat gembira karena mengetahui bahwa cintanya berbalas. Dan pada hari itu mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Danee tersenyum mengingat hari indah itu. Ya, hanya hal ini yang bisa menghibur Danee. Mengingat momen indahnya bersama dengan Jungkook. Setidaknya hal ini membuatnya merasa dicintai oleh pria dewasa itu. Kini Danee beralih pada momen indah lainnya, satu lagi momen yang tak pernah bisa dilupakan olehnya.

Hari itu Danee genap berusia dua puluh tiga tahun, sebuah pesta kecil dibuat untuk merayakannya. Hanya ada orang – orang terdekatnya saja dan dirayakan di kediaman Kim. Acar berlangsung dengan meriah dan sangat hangat. Dan ketika semua sedang menikmati kue ulang tahun seorang pria memainkan gitar akustik di hadapan semua orang yang ada di sana. Danee tahu lagu apa yang dimainkannya. Lagu yang berjudul Marry Your Daugther milik Brian McKnight, salah satu lagu yang masuk dalam daftar favorit. Danee ingat ia pernah mengatakan pada Jungkook bahwa ia ingin dilamar dengan lagu itu di hadapan ayahnya.

Sir, i’m a bit nervous

‘Bout being here today

Still not real sure but i’m going to say

So Bare with me please

If i take up to much of your time

See in this box is a ring for your oldest

She’s my everything and all that i know

It would be such a relief if i knew that

We were on the same side

Is very soon i’m hoping that i..

 

Can marry your daugther

And make her my wife

I want her to be the only girl

That i love for the rest of my life

And give her the best of

‘Till the day that i day, yeah

 

I’m gonna marry your princess

And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride

That i’ve ever seen

 

Can’t wait to smile

When she walk down the aisle

On the arm of her father

On the day that i marry your daugther

 

She’s been hear every step

Since the day that we meet (I’m scared to death to think of what would happen if she ever left)

So don’t you ever worry about me ever treating hear bad

I’ve got most of my vows done so far (So bring on the better or worse)

And till death do us part

There’s no doubt in my mind

It’s time im ready to start

I swear to you with all of my heart

 

I’m gonna marry your daugther

And make her my wife

I want her to be the only girl

That i love for the rest of my life

And give her the best of

‘Till the day that i day, yeah

 

I’m gonna marry your princess

And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride

That i’ve ever seen

 

Can’t wait to smile

When she walk down the aisle

On the arm of her father

On the day that i marry your daugther

 

The first time i saw her

I swear i knew that i’d say i do

 

I’m gonna marry your daugther

And make her my wife

I want her to be the only girl

That i love for the rest of my life

And give her the best of

‘Till the day that i day, yeah

 

I’m gonna marry your princess

And make her my queen

She’ll be the most beautiful bride

That i’ve ever seen

 

Can’t wait to smile

When she walk down the aisle

On the arm of her father

On the day that i marry your daugther

(Marry Your Daugther-Brian McKnight)

Hari itu Jungkook melamar Danee di depan orangtua gadis itu dan beberapa kerabat. Dan tentu saja Danee menerima lamaran itu dengan senang hati.

Ya, lagi – lagi wanita berperut besar itu tersenyum manis mengingat hari bahagianya. Berharap bahwa kebahagiaan macam itu akan kembali lagi padanya. Dan cinta Jungkook dapat ia rasakan kembali seperti sedia kala.

Sudah begitu hancurnya hati Danee kini harus ditambah dengan kenyataan bahwa salah seorang wanita bayaran Jungkook tengah hamil muda. Mendengar kabar itu bagaikan tersambar petir di siang bolong yang cerah. Hati Danee yang tinggal kepingan kini menjadi butiran debu. Hancur tak tersisa. Wanita yang tengah hamil lima bulan itu tak tahu lagi akan seperti apa kehidupannya sekarang. Parahnya, wanita bayaran yang hamil itu kini tinggal seatap dengannya dan tidur bersama Jungkook. Ini bahkan lebih menyakitkan dibandingkan dengan tamparan yang ia terima dari Jungkook. Jika bukan karena janin di perutnya mungkin wanita itu lebih memilih untuk menenggelamkan diri di Samudera Hindia atau menghilang di Segitiga Bermuda.

Setiap waktu ia harus menyaksikan suaminya bermesraan dan memanjakan wanita lain. Sedangkan dia, Danee hanya bisa membayangkan bahwa wanita itu adalah dirinya. Danee tak tahu seberapa lama lagi ia bisa bertahan di dalam rumah yang serasa neraka itu. Kehidupan Danee kini sungguh lebih menderita lagi, ia benar – benar diperbudak oleh wanita bayaran itu. Jika boleh jujur, Danee sangat ingin menjambak, menendang, bahkan membunuh wanita itu. Ia muak. Tapi sayang, jika ia melakukan itu maka risiko berat harus ia terima. Ia mungkin akan ditendang dari rumah itu.

“Hei, kau, buatkan aku  tteokpokki.” Titah wanita bayaran itu pada Danee, tapi tak ada jawaban.

“Yya! Apa kau tuli, eoh? Atau kamu mau membantahku?” Tukas wanita itu menyambangi Danee yang sedang melamun dan menjambak rambutnya.

Aauw.. mianhe, akan segera aku buatkan.” Respon Danee sambil meringis kesakitan.

Dan hanya seperti saat ini, bahkan wanita bayaran itu kerap kali memfitnahnya di hadapan Jungkook. Selalu berusaha agar Jungkook semakin membencinya dan menyakiti dirinya yang bahkan tak memiliki kesalahan apapun. Dan selalu berhasil dan berakhir sama, Jungkook akan memercayai wanita bayaran itu dan bertindak kasar pada Danee. Jungkook bahkan tak lagi pernah merasa ragu untuk ikut memainkan tangannya dalam menyakiti Danee.

Chagiya, kau sudah pulang?” Wanita itu tersenyum manis menyambut kedatangan Jungkook yang baru saja pulang dari kantor.

Wanita bayaran itu melepaskan jas Jungkook dan tas kantor yang dibawa pria itu lalu memberikannya pada Danee yang berada di sampingnya, dengan sigap Danee membawa dan menyimpannya, pekerjaan yang selalu dia lakukan sejak pertama kali menikah dengan Jungkook.

Oppa mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untuk oppa mandi.” Lanjut wanita bayaran itu sambil menepel kuat pada Jungkook.

Aauwh.” Suara teriakan keluar dari kamar mandi tak lama setelah Jungkook berada di dalam sana. Bersamaan Danee dan wanita bayaran itu menuju kamar mandi, mengkhawatirkan keadaan pria dewasa itu.

Oppa gwaenchana?” Tanya kedua wanita berbadan dua itu bersamaan.

“Airnya terlalu panas.” Jungkook menjawab wanita bayaran itu.

“Benarkah? Mianhe, tadi aku bertanya pada Danee dan dia bilang suhu air itu sudah tepat untuk oppa mandi.” Ujar wanita itu beralasan, dia berbohong.

Jungkook menatap tajam ke arah Danee, lagi – lagi  wanita itu akan menjadi pelampiasan.

Plak!

“Kau ingin membunuhku? Kau ingin membuat seluruh kulitku melepuh?”

Aniyo oppa, mianhe.” Hanya itu yang bias dikatakan Danee, berusaha membela diri pun akan menjadi kesia – siaan.

Tuhan, bahkan Danee tak bisa mengeluhkan perasaannya pada siapapun. Ia hanya bersyukur bayinya adalah bayi yang kuat karena tetap bertahan hidup dengannya meski dalam keadaan yang sangat mengerikan ini.

Hari – hari seperti ini terus dilalui Danee hingga kini usia kandungannya memasuki minggu ke-28. Wanita itu sudah mencapai batasannya, ia tak tahan lagi dengan keadaan ini sehingga ia memutuskan bercerai dengan Jungkook semua ini dia lakukan demi bayi yang akan segera dilahirkannya. Setelah bercerai nanti Danee memutuskan untuk hidup di luar negeri, hidup sejauh mungkin dari pria yang di cintainya itu. Tapi ia tak tahu kapan pemikirannya ini dapat ia laksanakan, karena ia tidak benar – benar merasa memiliki alasan yang kuat untuk mengalahkan rasa cintanya pada Jungkook.

Hingga akhirnya hari ini tiba. Danee sedang mengalami demam yang agak tinggi sehingga hanya bias berbaring di ranjang sepanjang hari, ini mengakibatkan wanita bayaran itu harus melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri. Dia sudah menyuruh Danee untuk melakukan semuanya tapi wanita itu benar – benar tidak dapat melakukan apapun.

Sebelum Jungkook pulang wanita bayaran itu sudah merias wajahnya seakan – akan pucat karena kelelahan setelah selesai menyiapkan dirinya dia duduk di sofa ruangan tengah sambil menyandarkan dirinya. Hingga akhirnya orang yang ditunggunya datang dan menghampirinya.

“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu pucat?”

“Aku tidak apa – apa, Danee sedang sakit jadi aku mengerjakan semua pekerjaan rumah hari ini.” Dia mulai melebih – lebihkan.

Mwo? Wanita sialan itu membiarkanmu mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri?” Untuk kesekiankalinya Jungkook berhasil terpancing. Pria itu langsung menuju ke kamar Danee, mencari keberadaan wanita yang kini ia benci.

Dengan kasar Jungkook menarik kasar selimut yang digunakan Danee dan menarik wanita itu dengan kasar untuk segera berdiri di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan sepanjang hari ini? Kau bermalas – malasan?” Tanya Jungkook tajam.

Uhuuk… uhuukk… aku sedang sakit.” Respon Danee dengan suara serak dan diiringi batuk.

“Kau hanya alasan, ini semua konsekuensi yang memang harus kau terima. Kau sudah mengetahuinya sejak hari itu terjadi.”

“Sungguh, maafkan aku.”  Danee memohon.

Plak!

Entah untuk keberapa kalinya Danee kembali ditampar oleh pria yang dicintainya itu. Namun kali ini ia sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya benar – benar dalam kondisi yag tidak baik. Apakah Jungkook sebenci itu pada dirinya?

“Aku sungguh sakit. Apakah tidak bias melihat kondisi tubuhku saat ini? Pekerjaan yang dilakukan wanita murahan itu bahkan tidak lebih berat daripada pekerjaan yang selama ini aku lakukan selama ini untuk kalian berdua. Kalian selalu memperlakukanku sesuka hati kalian, memperlakukanku seperti seorang budak yang bahkan lebih rendah martabatnya dari hewan.” Tukas Danee panjang mengeluhkan perasaannya.

Tapi ternyata hal itu semakin membuat Jungkook naik pitam, pria itu tiba – tiba mencekik keras leher Danee dan mendorongnya hingga terpojok di dinding kamar yang dingin.

“Apa katamu, dia wanita murahan? Kau bahkan tidak lebih baik daripada dirinya. Satu hal yang terpenting, dia tidak berselingkuh dan dia sedang mengandung anakku. Camkan itu.”  Ujar Jungkook tanpa melepaskan cekikan di leher Danee, pria itu sudah tidak terkendali.

Mendapatkan perlakukan itu Danee keluar dari rumah itu, berlari tanpa arah tanpa memedulikan kondisi tubuhnya yang tidak dalam keadaan baik. Satu – satunya tempat yang dapat ia datangi hanyalah apartement milik June. Bulir – bulir keringat dingin membasahi seluruh wajahnya, wajahnya pun kian bertambah pucat. Berulang kali Danee menekan bel  apartement June, tapi pria itu tak kunjung keluar dan menemuinya. Entah kemana lagi Danee harus pergi jika June tak ada di sana. Kini pusing mulai menyerang Danee, semua hal yang dilihatnya serasa bergoyang dan pandangannya pun mulai terasa kabur hingga akirnya ia jatuh tak sadarkan diri. Suara terakhir yang bias didengarnya adalah teriakan seorang pria yang menyerukan namanya.

“Danee!” June baru saja tiba setelah pulang dari tugas paginya dan mendapati Danee jatuh tak sadarkan di depan pintu apartementnya.

Dengan sigap pria yang berstatus sahabat itu mengangkat tubuh Danee ke dalam apartementnya. Sesuai dengan profesinya sebagai seorang dokter, June merawat Danee dengan sangat baik. Akan tetapi ia merasa murka begitu melihat lebam bekas cekikan di leher putih Danee, ia sangat tahu pasti bahwa itu semua adalah perbuatan dari Jungkook. Namun sebelum menuduh lebih dalam lagi June akan meminta penjelasan lengkap dari wanita yang masih belum sadarkan diri itu.

Setelah mendengar penjelasan dari Danee beberapa saat setelah wanita itu sadarkan diri June melarang Danee untuk pulang ke rumahnya. Pria itu bersikukuh agar wanita yang dicintainya itu menginap beberapa saat di apartmentnya sambil mengurus surat perceraiannya. Mereka menyepakati bahwa Danee harus bercerai dari pria yang selalu menyakitinya. Ya, ini adalah saat yang tepat untuk bercerai dari pria brengsek itu dan mereka berdua akan pergi keluar negeri. Hanya hal itu yang dapat dilakukan June untuk menjauhkan Danee dari Jungkook.

Seminggu lebih telah berlalu, surat perceraian sudah ditandatangani oleh Danee, kini hanya butuh tanda tangan Jungkook maka pernikahan itu akan berakhir. June menemani Danee menemui Jungkook di kediaman pria itu untuk mengantarkan surat perceraian sekaligus mengambil semua barang – barang Danee yang berada di sana.

Ting. Tong.

Bel rumah Jungkook berbunyi dan tak lama kemudian seseorang membukakan pintu, orang itu sang wanita bayaran. Tak ada senyum di wajah wanita itu, dia hanya menatap Danee dan June datar

Chagiya, siapa itu? Kenapa kau lama sekali?” Jungkook menghampiri mereka bertiga, ketika mendapati bahwa tamu mereka adalah June dan Danee tatapan matanya menatap kedua orang itu penuh kebencian.

Ah, istriku dan selingkuhannya. Apa yang tujuan kalian kemari?” Tanya Jungkook to the point.

“Kami hanya ingin mengantar surat perceraian dan mengambil barang Danee.” Tukas June mewakili Danee, dia memberikan surat perceraian dalam amplop cokelat besar lalu menerobos masuk ke dalam rumah besar itu.

Entah kenapa sedikit hati Jungkook tak menerima kenyataan bahwa pada akhirnya pernikahannya dengan Danee harus benar – benar berakhir, namun keegoisan menolak perasaan itu. Dia memilih untuk tetap membenci Danee, mungkin sepanjang sisa usianya. Selepas membereskan barang yang akan dibawanya Danee dan June segera meninggalkan rumah itu tanpa berkata apapun. Dan mereka resmi bercerai hari itu.

Tiga bulan kemudian.

June menemui Jungkook yang berada di kantornya sambil membawa sampel rambut dari bayi laki – laki yang berusia satu bulan dilahirkan oleh Danee. Tujuannya adalah untuk meminta sampel rambut dari Jungkook, ia ingin membuktikan bahwa Danee tidak memiliki kesalahan apapun. Dan June akan memastikan Jungkook menyesali perbuatan kasarnya pada Danee selama wanita itu mengalami kehamilannya.

“Danee sudah melahirkan, dan bayinya laki – laki.” Tukas June sebelum menyampaikan tujuan awalnya.

“Lalu? Aku rasa itu tak ada hubungannya sama sekali denganku, itu bayi kalian.” Jungkook berujar dengan dingin.

“Aku menginginkan sampel rambutmu saat ini juga.”

“Ku rasa itu tidak perlu, sudah sangat jelas bahwa bayi itu adalah bayi hasil hubungan gelap kalian.”

June mengepalkan kuat tangannya, menahan rasa marah. Dia harus menahannya sampai mendapatkan apa yang diperlukannya.

“Ayolah, ini tak ada ruginya untukmu, aku akan mengirimkan hasilnya padamu dua hari lagi.” Tukas June mencoba bernegosiasi.

“Baiklah.” Jungkook menyetujui negosiasi itu.

Dua hari kemudian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh June, Jungkook menerima hasil tes DNA bayi yang dilahirkan Danee. Hasilnya mengejutkan dan membuatnya tak percaya bahwa nyatanya bayi itu adalah putranya. Putra pertamanya dengan Danee, hasil cinta mereka. Di dalam apmlop itu ternyata tak hanya berisikan hasil tes DNA tapi juga surat dari Danee, yang dimana surat itu berintikan bahwa ia menyembunyikan kehamilannya dulu karena itu adalah ancaman dari Nyonya Jeon. Dan June adalah sabahat lama Danee yang sudah lama sekali tidak berjumpa. Semua kebenaran terungkap secara lengkap melalui surat yang ditulis oleh tangan Danee sendiri. Dan di dalam sana juga terdapat beberapa lembar foto bayi laki – laki yang dipanggil Seo Woo. Tepat sekali, Jungkook merasa menyesal dan dia dengan segera mengkonfirmasi isi surat itu pada kedua orangtuanya. Dan lagi – lagi hasilnya mengejutkannya. Semua isi surat itu benar adanya. Semua sudah terlambat, penyesalan tak lagi memiliki arti meskipun hati kecil Jungkook berkata bahwa ia ingin kembali bersama Kim Danee.

-FIN-

Wahai anak Jin yang bernama @Jinho48, inilah ff request-anmu padaku. Maaf kalo lama jadinya dan ini sangat absurd. Dan maaf lagi kalo ff ini gak sesuai dengan ekspektasimu. Tapi tolong hargai jerih payahku ini dengan sebuah komen. Love ya!

Advertisements

11 thoughts on “[Oneshoot] Love

  1. Huwaa kak wao aku baru sempet komen masa. Padahal kan aku yang request wkwkwk 😀
    Aku suka FFnya dan ini di luar ekspetasiku kak. Keren banget sumpah. Danee kasihan.. Jungkook juga kasihan hikss T.T
    June keluarnya dikit amat sih tapi ya gapapa lah.
    Makasih kak wao. Aku suka sekali. Feelnya dapet. Tapi soal kekurangannya aku setuju sama kak yuns 😀
    Oh ya masih ada utang FF lho kak. Jangan lupa hehe 😀

  2. Wao, annyeong~!

    Huahahaha gatau mau ngomong apa… untuk first time marriage life ini udh lumayan bagus dan enak di baca. Dan sumpah mereka berasa bgt hidup dalam drama 😂😂😂😂

    Oh iya wao, itu si wanita bayaran alangkah baiknya kalo kamu kasih nama 😂😂😂 trus sebutannya di ubah dong, kan dia ampe hamil ama dek jung.. masa udh ampe hamil msh jd “wanita bayaran” wkwkwkwk dan danee… aku sebetulnya berharap kalo dek jung ada usaha utk nyusulin danee, atau setidaknya minta maaf, tapi si danee nolak wkwkkwk… enakan begitu sih menurutku… kalo ending dr june rasanya gantung wkkwwk

    Dan sebetulnya aku rada kurang ngerti kenapa mertunya si danee sampe segitunya… alangkah lebih menyenangkan kalo kamu jelasin apa yg bikin mertunya danee benci banget sama dia, walau sekilas. Dan better kamu harus tunjukin kalau jungkook itu punya pendirian (mungkin dgn ngambek atau ngamuk ke mamanya) dan bukanya cmn diem dan jadi anak mami yg najis bikin readers kesel. Wkwkkwkwk 😂😂😂😂

    Soal penulisan udh bagus, diksi dan pemilihan kata oke. Overall ini cukup menyayat hati andai saja aku jungkook danee shipper.

    Semangatt, keep fighting, keep writing~!

    • Komen drable yg selalu aku tunggu. Not love you kakyuns, coz I love Yong. Aku bingung mau dikasih nama siapa itu wanita bayaran, td nya mau dikasih nama OC kakyuns tp lupa apa namanya. June pokoknya jadi hidup barengan sama Danee. Td nya sih mau ada prolog lagi dikit tp males ngetik dan ini os juga udh agak panjang gitu. Biarkan jungkook jadi anak emak sekali kali kak. Nih udh aku bales komennya biar gak jones

      • Aku gamau sama jungkook wao… aku maunya sama siwon. Meskipun dia om om mesum juga ttp suka wkkwkwkwk

        Btw aku sengaja wao komen pake website, biar keliatannya readers beneran #eaaaaa wkwkwk

  3. OMooo…Omoo… kenapa endingnya nyesek begindang sih wao, jadi kaga tega kita dengan keidupannya sih Danee…

    kesel ma ibu mertuanya, trus makin kesel juga sama sikapnya jungkook!!! Yang masih dalam pertanyaanku bagaimana kehidupan danee selanjutnya? apa dia jadinya tinggal sama sih june dengan status masih sebagai sahabat atau si danee dah jadi milik june?

    over all ceritanya bagus kok, tetep semangat berkarya yah, fighting ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s