Nightmare [Part IX] #Meet Again

EXO’s Sehun & OC’s Mikyung

Angs | Sad | Life | Mature | Psychology (little) | Romance | Married Life

[Rated Can Change Anytime!]

Disclaimer! The original results my imagination. NOT FOR PLAGIARISM OR COPY PASTE!!!

  “Aku menyesal mengapa tidak bisa menjaga sesuatu yang seharusnya aku jaga. Sebesar apapun penyesalan itu, tetap aku tidak akan bisa kembali ke hari itu; hari ketika aku merasa semuanya akan baik-baik saja.”

©2016.billhun94


Sebagai negara benua adalah Australia mempunyai jumlah penduduk yang sangat banyak yang bisa dijadikan sebagai salah satu faktor kekuatan. Salah satu sumber kekuatan nasionalnya adalah sumber daya manusia. Australia mempunyai penduduk yang inovatif dan kritis dalam melihat potensi alam dan kondisi pasar. Selain itu, Australia sebagai negara benua juga memiliki SDM yang tingkat pendidikannya yang sangat maju yang tentunya ditunjang oleh teknologi yang maju pula. Sehingga hal ini yang mendorong Australia untuk menjadi negara maju.

Selain itu, negara dengan ibu kota Canberra ini disebut-sebut sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi bagi para imigran. Dan inilah salah satu alasan mengapa banyak orang dari seluruh penjuru dunia ingin menjadi warga negara Australia dan tinggal menetap di negeri kangguru tersebut. Dengan perekonomian negara yang kuat dan pemandangan negara yang indah.

Kemudahan untuk menetap di Australia membawa keluarga dari ‘negeri ginseng’ itu untuk pindah dan berstatus sebagai imigran. Dengan banyak kelebihan yang mereka dapatkan dari menjadi imigran di Australia, membuat mereka betah untuk tetap menetap selama hampir 10 tahun lamanya.

Keluarga itu diisi oleh suami, istri, dan anak perempuan mereka. Dikenal karena keramahan dan murah hati, mereka menjalani hidup dengan tentram walaupun mereka bukan berasal dari keluarga yang kaya raya. Hanya sebuah rumah minimalis yang tidak terlalu besar mengisi keseharian mereka dengan penuh kehangatan serta kebahagian.

Namun, dibalik kehangatan yang selalu menjadi dambaan para keluarga, mereka memiliki sebuah rahasia besar. Rahasia yang mereka jaga se-rapat mungkin dari dunia luar.

-oOo-

Pakaian kasual melekat pada tubuh Sehun. Mantel panjang berwarna hitam, dan syal berwarna merah tua menjadi pelengkap musim dingin yang datang tahun ini. Pria itu baru saja sampai di Bandar Udara Internasional Melbourne pukul 7 malam waktu setempat. Wajah lelah tersirat jelas, sudah ke berapa kalinya Sehun menguap.

Udara dinginnya malam menusuk tulang Sehun ketika ia sampai di luar bandara, pria itupun merapatkan mantel panjang miliknya. Tangan Sehun terulur untuk menghentikan taksi bandara, kemudian ia memasuki taksi tersebut dan menyebutkan tempat tujuannya.

Sebuah perumahan yang bisa dibilang tidak terlalu mewah menyambut Sehun ketika pria itu memasuki gerbang masuk. Taksi yang Sehun tumpangi berhenti di sebuah rumah dengan pekarangan kecil di depannya. Setelah membayar, Sehun keluar dari taksi dan membawa koper sedangnya untuk memasuki pekarangan rumah tersebut.

Embun yang keluar dari mulut Sehun sewaktu ia menghembuskan napasnya kasar seakan menandakan jika ia mengalami kegugupan yang luar biasa. Tangannya yang terselimuti sarung tangan sudah basah di dalamnya. Mengumpulkan keberanian, Sehun pun mengetuk pintu berwarna cokelat tua itu. Ketukan untuk kedua kalinya baru diberi respon setelah ketukan pertama diabaikan. Pintu rumah tersebut terbuka, menampilkan sosok wanita setengah baya yang mengernyitkan kulit dahinya ketika melihat kedatangan Sehun.

*Apa ada yang bisa saya bantu?” Tanya wanita itu yang masih terheran dengan kedatangan Sehun.

Sehun mengerjap beberapa saat, sebelum menimpali, “*Ah, apakah ini benar kediaman keluarga Park?

*Iya,” jawab wanita setengah baya tadi.

*Ada yang perlu saya bicarakan. Kebetulan saya orang Korea.

Wanita setengah baya itu sempat terkejut beberapa saat, sebelum mengulum senyum dan mempersilakan Sehun untuk masuk. Tidak ada kecurigaan sama sekali dengan kehadiran Sehun di dalam rumahnya. Berdasarkan firasat, ia mengatakan jika Sehun adalah orang baik-baik.

“Maaf, jika rumah ini sempit.” Ujar si wanita paruh baya sewaktu Sehun sudah duduk di sofa ruang tengah. Melihat bagaimana penampilan Sehun, wanita itu yakin jika dia berasal dari keluarga yang berdompet tebal. “Kau ingin minum apa?” Tanyanya.

Sehun tersenyum tipis, lalu menjawab. “Air putih saja.”

Setelah dua menit menunggu, air putih yang Sehun pinta sudah tersedia di depannya. Dan selama itu juga, ia terus menyisir pandangan ke setiap sudut rumah. Ketika iris hitamnya menyusuri sebuah etalase berukuran kecil, irisnya itu menangkap sebuah foto yang membuat degup jantungnya bekerja ekstra.

“Udara di luar sangat dingin,” buka si wanita setengah baya atau yang lebih akrab dipanggil dengan Nyonya Park. “Apa kau baru saja datang dari Korea?” Tanyanya ketika melihat koper Sehun yang berada di dekat pria itu.

“Iya,” Sehun menjawab singkat. Ia masih berusaha untuk menetralkan degup jantungnya.

“Suamiku belum pulang kerja, jadi dia tidak ada di rumah. Dan apa yang ingin kau bicarakan?”

Sehun melirik Nyonya Park sekilas sebelum membuang wajah, ia terlalu gugup sekarang. Pria itu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan selembar foto, lalu memberikannya pada Nyonya Park.

Nyonya Park menerima foto tersebut, alisnya menyatu; bingung. Ia pun melayangkan pertanyaan kepada Sehun, “Perempuan ini adalah—”

Sebelum selesai mengajukan pertanyaan, Sehun memotong cepat.

“Dia adalah perempuan yang ada di foto itu.”

-oOo-

Butuh waktu hampir satu jam bagi Tuan dan Nyonya Park untuk saling mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi di sini. Tuan Park tidak habis pikir, setelah ia pulang dari kantor, istrinya langsung menariknya ke kamar mereka dan berdiskusi cukup lama.

Sehun menunggu dengan sabar untuk hasil yang harus ia terima. Ini adalah hari yang sudah ia tunggu 3 tahun lamanya, dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Pintu kamar Tuan dan Nyonya Park terbuka. Sehun memperhatikan mereka yang sedang berjalan kearahnya.

“Apa yang bisa meyakinkan aku jika kau benar-benar suaminya?” Tanya Tuan Park dengan raut dingin.

“Aku membawa buku akta nikah kami,” jawab Sehun, memberikan dua buah buku kecil yang merupakan sebuah buku akta nikah warganegara Korea.

Tuan Park melihat jeli buku akta nikah yang Sehun berikan, lalu menghela napas kasar. Buku akta nikah ini asli, dan ia tidak bisa menerka jika Sehun sedang membuat kebohongan besar sekarang.

“Alice sudah tahu akan hal ini?” Tuan Park bertanya pada sang istri yang duduk di sampingnya. Nyonya Park menggeleng sebagai jawaban.

“Nak, kau tahu betapa berharganya Alice untuk kami? Dia lebih berharga dari nyawa kami sendiri,” ujar Tuan Park pada Sehun.

Sehun mendelik pelan, “Dia juga sama berartinya untukku,” balasnya.

“Aku kehilangan jejaknya 3 tahun yang lalu. Para bawahanku sudah mencarinya kemanapun, dan tidak menemukannya. Sampai hari ini, ketika sekretarisku memberitahu keberadaannya, aku langsung menuju ke sini tanpa memikirkan apapun lagi,” terang Sehun, raut wajahnya sangat serius.

Tuan Park mengalihkan pandangan. Memorinya berputar ke dua tahun yang lalu, ketika ia menemukan perempuan yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.

“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian sampai dia menghilang. Ketika aku pertama kali menemukannya, dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Menurut keterangan pihak berwajib, dia melompat dari lantai 11. Dia tidak memiliki identitas apapun, dan tidak jelas berasal dari mana. Kami yang merasa iba, akhirnya mengangkatnya sebagai anak kami.” Tuan Park melirik sang istri yang menundukkan kepalanya.

“Namun, ketika dia sadar dari komanya selama satu bulan, dia tidak bisa mengingat apapun. Dengan kata lain, dia mengalami amnesia….” lanjut Tuan Park, suara isakan tangis Nyonya Park membawa lelaki setengah baya itu untuk menggenggam tangan sang istri.

“Kami kasihan melihatnya. Pikirannya kosong. Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun dia tidak mampu. Dia juga tidak bisa menulis baik tulisan hangul ataupun latin. Kami mengajari semuanya dari nol. Mengajarkannya berbicara dan menulis… ternyata dia juga pintar melukis,” Tuan Park tersenyum kecut pada Sehun.

Sehun yang mendengar penuturan Tuan Park tidak mampu untuk mencerna dengan baik karena hatinya yang berkecamuk dan berdesir hebat. Semua pikiran yang berada di benak Sehun berputar hebat. Otaknya bekerja lamban, ia tidak bisa mengontrol dirinya. Separah itukah keadaannya sekarang?

“Karena kita tidak tahu namanya siapa, jadi kami menamainya Alice Park. Nama anak kami dulu sebelum dia tiada,” ada nada terluka dari ucapan Tuan Park.

Setelah kesadarannya kembali, Sehun menatap lurus Tuan Park datar.

“Sekarang dia ada di mana?”

-oOo-

Seorang wanita sedang memegang pensil dan sebuah buku gambar di tangannya. Tangan itu menggerakan pencil dengan amat sangat hati-hati di buku gambar itu sembari memperhatikan objek yang menjadi pusat perhatiannya. Dengan memberikan sentuhan akhir, gambar itu sudah akan selesai. Si wanita pun menaruh pensil beserta buku gambar tersebut di atas meja; bertepatan dengan itu, pintu kamarnya terbuka.

Sosok seorang wanita yang selama ini dipanggil olehnya dengan sebutan ‘Mommy’ itu memasuki kamarnya. Dia tersenyum lembut, seraya mengurai langkah mendekat kearahnya.

“Kau sedang apa?”

“Aku baru saja selesai menggambar,” jawab wanita itu tanpa ekspresi apapun.

Segala perhatiannya pada sosok yang selama ini selalu menjaganya itu teralihkan, ada sosok lain yang baru saja memasuki kamarnya. Seorang pria tinggi dan tampan. Ia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok pria itu.

“Perkenalkan dia—”

“Apa kau—”

“Oh Sehun.”

Dunia seakan menyelimuti hawa dingin diantara ia dan pria itu. Bahkan, ia tidak menyadari jika hanya tinggal mereka berdua di kamar ini. Cahaya yang temaram tidak mengalihkan perhatiannya sama sekali serta membawa ia untuk memperkenalkan diri.

“Aku… Alice Park.”

Alice tidak pernah menyangka jika pria yang ada di hadapannya kini sangat mirip dengan pria yang pernah menyambanginya dalam mimpi.

“Alice Park,” ulang Sehun, ia tersenyum tipis.

Sehun menundukkan kepalanya, bingung ingin memulai darimana pembicaraan. Lantas, ia memilih satu kesalahan untuk menatap iris teduh milik wanita di depannya kini. Tatapan yang masih sama ketika 3 tahun sudah berlalu. Sehun merasakan gelenyar aneh yang memasuki rongga dadanya. Wanita ini benar-benar tidak ingat siapa dirinya. Kenyataan yang harus Sehun terima. Awalnya, ia pikir semuanya akan mudah. Namun, sulit pada nyatanya.

“Ada perlu apa?” Tatapan dingin Alice berikan pada Sehun yang bergeming.

“Bisa kita bicara sebentar?” Nada suara Sehun terdengar lemah.

“Membicarakan tentang hal?,” jawab Alice acuh, lalu membalikkan tubuhnya menghadap jendela kamar.

Mencoba untuk tidak bertindak gegabah dengan memberitahu semuanya pada wanita itu, Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berjalan mendekat kearah Alice yang berdiam diri seraya memperhatikan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam Melbourne.

“Kau… benar-benar tidak kenal siapa aku?”

Pertanyaan bodoh itu datang dari Sehun. Alice menoleh sekilas.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kurasa tidak,” jawab Alice. Masih sama dengan sebelumnya, dingin dan tanpa ekspresi.

Sehun hanya bisa tersenyum miris mendengar jawaban Alice.

“Mikyung-ssi, apa kau benar-benar tidak mengingat siapa aku?”

-oOo-

Sinar Matahari pagi terasa menyengat kulit putih pucat milik seorang Oh Sehun. Ia sangat malas untuk beranjak dari sofa yang sedang ia gunakan untuk tidur semalam. Karena kediaman keluarga Park hanya memiliki dua kamar saja, dengan sangat terpaksa, Sehun harus merelakan tubuhnya remuk pagi ini.

Sapuan sinar matahari yang menyengat kulit wajahnya perlahan tidak terasa lagi, Sehun mengernyit heran. Perlahan, ia membuka matanya. Satu telapak tangan yang berukuran tidak terlalu besar menyambut. Sehun mengerjap beberapa kali, sebelum tersadar siapa orang yang menghalangi sinar matahari tersebut menggunakan telapak tangannya.

Alice Park. Wanita itu mampu membuat Sehun terpaku, dan butuh beberapa detik untuk menyadari keadaan. Wajahnya yang pucat namun masih terlihat cantik, bibir merah alaminya, dan tubuh mungil berbalut baju rumahan; Sehun menyadari jika paras 3 tahun yang lalu masih sama rupanya. Tanpa sadar, Sehun tersenyum kecil.

“Mommy menyuruhku untuk membangunkanmu. Kita akan sarapan bersama,” kata Alice tenang, kemudian wanita itu menghilang di balik tembok pemisah ruang tengah dan dapur.

Sehun menyingkapkan selimut yang sebelumnya membungkus tubuhnya, lalu beranjak untuk menyusul Alice. Di meja makan, sudah terpadat pancake dan segelas susu putih di setiap bangku. Nyonya Park yang sibuk merapihkan meja makan, setelah itu beralih pada Tuan Park ysng sedang membaca koran harian guna membantu sang suami untuk memakaikan dasi. Sedangkan Alice lebih memilih untuk tenggelam dalam sarapan paginya. Pemandangan itu membuat Sehun terngiang; sudah berapa lama ia tidak pernah merasakan suasana rumah seperti ini. Ternyata ia masih merindukan suasana rumah yang penuh kehangatan. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan selama ini.

“Selamat pagi, ayo kita sarapan bersama!” Seru Nyonya Park ketika maniknya menangkap sosok Sehun yang sedang berdiam diri.

Sehun menanggapinya dengan langsung duduk di salah satu bangku di samping Alice yang sedang menikmati saparannya.

“Aku harap kau suka dengan masakanku,” ujar Nyonya Park seraya tersenyum pada Sehun.

“Sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana pagi seperti ini,” ungkap Sehun yang membuat seisi meja makan menatapnya, termasuk Alice yang tadinya memilih untuk acuh. “Sejak kematian Ibuku,” sambungnya.

Tatapan prihatin diberikan dari Tuan dan Nyonya Park, mereka tidak pernah menyangka sebelumnya jika Sehun mau membagi kisah hidupnya, karena menurut artikel—yang Tuan dan Nyonya cari semalam tentang Sehun—pria itu sangat tertutup. Butuh waktu lama untuk mengetahui seluk beluk Sehun yang kelewat sulit dipahami.

“Kalau begitu, kau bisa merasakan suasana seperti ini setiap pagi. Jika mau.” Sejujurnya itu hanyalah candaan dari Nyonya Park yang ingin membangunkan suasana, karena Tuan Park dan Alice yang memiliki sifat hampir sama; yaitu sifat serius mereka yang kadang kala sulit sekali untuk diajak bergurau.

Sarapan pagi sudah selesai, Tuan Park sudah berangkat kerja beberapa jam yang lalu. Nyonya Park yang sibuk dengan urusan rumah tangga, membuat keadaan rumah sangat sepi. Memanfaatkan keadaan, Sehun memilih untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah ia lewatkan sebab keberadaannya di Australia.

“Mom, aku ingin ke taman dulu,” seruan itu datang dari Alice yang keluar dari kamarnya. Nyonya Park pun menyetujui. Rupanya, hal itu tidak luput dari perhatian Sehun.

Merasa jika ini mungkin adalah waktu yang cukup untuk berbincang satu sama lain. Sehun menghampiri Alice yang hendak memakai sepatu bootnya.

“Aku ikut denganmu, ya?”

Alis Alice terangkat satu, “Kenapa kau ingin ikut denganku?” Tanyanya yang heran.

“Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh.”

-oOo-

Kedatangan Sehun yang tiba-tiba membuat Alice tidak mengerti dengan maksud pria itu. Orang tuanya yang lapang dada menerimanya juga membuat ia tidak habis pikir. Sebenarnya, siapa itu Oh Sehun?

Benaknya kembali berputar ketika kemarin malam Sehun mengatakan jika ia mengenali pria itu atau tidak. Jelas, Alice tidak kenal siapa Sehun. Namun, tatapan Sehun seakan mengatakan jika ia sudah sangat mengenal pria itu.

Mantel yang membalut tubuh mungil Alice, ia rapatkan ketika udara yang mulai menusuk. Sudah seperti kebiasaan sampai sekarang, Alice selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke taman yang tidak jauh dari rumahnya hanya untuk sekadar menenangkan pikiran. Di taman ini juga, Alice bisa mendapatkan banyak ide untuk lukisannya.

“Aku dengar kau sangat mahir taekwondo,” ujar Sehun. Alice menoleh kearah pria itu yang sedang menatapnya lurus, ia pun mengangguk sebagai jawaban.

Tidak sampai benar-benar menguasai, Alice memang mahir dalam bela diri taekwondo, karena Tuan Park yang selalu menyuruhnya untuk belajar bela diri tersebut.

“Dan yang kudengar juga, kau sangat mahir menembak,” Alice menganggukan kepalanya lagi sebagai jawaban.

Sehun mengulum senyum kecil, Alice terpanah untuk beberapa saat.

“Darimana kau tahu tentang hal itu?” Alice bertanya.

“Aku tahu dari Tuan Park,” jawab Sehun.

Alice bungkam sesaat, pria ini sudah tahu beberapa hal tentang dirinya. Apa pria itu tertarik padanya?

“Yang kutahu dulu, kau adalah sosok perempuan yang lemah lembut. Namun, sekarang, kau berubah menjadi sosok perempuan yang kuat.”

Alice mengernyit, tidak mengerti dengan perkataan Sehun.

“Ada kata-kata ‘Aku menyukaimu’ ketika kau terlihat sangat cantik di depanku untuk pertama kali. Aku hanya bisa diam dengan segala perasaan gemuruh kala itu,” Sehun mengungkapkan sesuatu yang lagi-lagi membuat Mikyung tidak mengerti.

“Apa maksudmu?”

Iris Sehun yang meneduh memberi Alice pertanyaan besar. Raut pria itu yang serius, membuat Alice penasaran dibuatnya. Sebenarnya ada apa ini? Teka-teki macam apa ini?

“‘Sekalipun aku sudah tidak memiliki apapun, aku masih punya seseorang yang kulindungi’, seharusnya seperti itu. Tapi, tampaknya Tuhan berkehendak lain.”

Alice bisa saja mengabaikan Sehun jika ia mau. Tapi, ia tidak melakukannya. Hatinya berdegup kencang kini, sampai sakit dibuatnya.

“Aku menyesal mengapa tidak bisa menjaga sesuatu yang seharusnya aku jaga. Sebesar apapun penyesalan itu, tetap aku tidak akan bisa kembali ke hari itu; hari ketika aku merasa semuanya akan baik-baik saja.”

Sehun menatap Alice dalam. Ia menyalurkan apa yang selama ini ia rasakan. Walaupun wanita itu tidak mengerti sedikitpun.

“Apa sebelumnya aku pernah mengenalmu?”

Pertanyaan Alice membuat Sehun kalap, ia merasa tertanam dalam rasa bersalah yang terus bergantung padanya.

Satu butiran salju mengenai telapak tangan Alice, ketika itu ia sadar bahwa hari ini adalah hari pertama turunnya salju di tahun ini. Tangannya menjulur untuk menangkap salju yang semakin lama semakin bertambah.

Di bawah turunnya salju, Sehun mengingat memori tentang apa yang sudah ia lalui bersama wanita di sampingnya. Bangku taman yang mereka duduki menjadi saksi betapa gugupnya Sehun. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Sehun mau menjawab pertanyaan Alice.

“Iya. Kita pernah saling mengenal sebelumnya, ketika namamu bukan Alice Park, melainkan Shin Mikyung.

-oOo-

To Be Continue

TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!!!

#Thanks

P.s :

Fast update hari ini, lg bae nih hahaha😂😂😂


Semoga suka n gk absurd bcz aku ngerjain ini cuma sehari doang, jd gk ada waktu buat mikir banyak😂😂😂

Advertisements

9 thoughts on “Nightmare [Part IX] #Meet Again

  1. YAH TUHKAN HUN TAHU BULAT UDAH DINGIN (apa lagi coba). Nyesek gitu ya rasanya baca chapter ini, sabar hun

  2. Yaampun sedih bangettt kok miria banget gitu ya uuuuuuu. Disisi lain aku lihat karakter sehun yg bener2 berbeda banget nget nget dan aku merasa agak aneh gitu wehehe, aku suka karakter sehun yg dingin tp ga menutup kemungkinan hangat sama istrinya. Sumpah ngen

  3. Wow. Aku baru baca ff ini. Sebenernya aku shipper sehun Krystal sih. tapi karena cerita nya bagus gpp deh sehun nya di ambil minkyung dulu.
    Di lanjut yaa thor. Semangat!!!

  4. Jadi kasian sama sehun. Awalnya sedingin es, perlahan sehun mulai luluh. Tapi disaat luluh, ada aja cobaannya. Yang sabar hun wkwk

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s