[Freelance || Oneshoot] Public Display of Affection

p1_-public-display-of-affection

Title: Public Display of Affection

Author : arma

Casts : 17’s Joshua; Twice’s Mina

Additional Casts : 17’ Seungcheol, Hoshi, DK; Twice’s Nayeon

Genre : romance, fluff

Length : oneshoot (2989w)

A/N : dipublish juga di wattpad.com/user/arma-ya & armadawings.wordpress.com

 


Pagi itu, sebuah rombongan berisikan kurang lebih tiga puluh siswa terlihat sedang bergerombol di depan sebuah penginapan yang cukup besar. Bus yang akan mereka kendarai sudah siap, berhenti tepat di depan mereka. Terlihat beberapa siswa di antaranya yang masih sibuk memeriksa barang bawaan mereka. Ada juga satu-dua orang yang tiba-tiba melesat menuju ke dalam penginapan, di sambut dengan tawa teman-teman di sekelilingnya yang baru saja menjadi pengingat bahwa ada benda penting yang tertinggal di kamar penginapan.

Di tengah kerumunan tersebut, terdapat sepasang manusia yang tampak lebih santai dari yang lainnya. Baju yang mereka kenakan pun terlihat berbeda. Jika mayoritas rombongan ini memilih untuk memakai baju yang relatif santai, kedua orang ini justru lebih memperhatikan selera fashion mereka.

“Di mana jaketmu?” tanya Joshua sambil merapikan rambut seorang yeoja di depannya yang terlihat menutupi sebagian mukanya karena terpaan angin yang baru saja lewat. “Apakah kau tidak merasa kedinginan?” tanyanya lagi sedetik kemudian.

“Di tas.” Jawab yeoja itu seadanya. Sebenarnya ia cukup merasa kedinginan. Saat ini masih kurang dari pukul tujuh dan ia mengenakan baju tanpa lengan sebagai atasan. Untung saja rambutnya yang panjang sedikit membantu menutupi tubuhnya. “Aku malas bergerak, hehe.” Katanya dengan tawa renyah khas miliknya.

Joshua hanya membalas dengan tawa kecil, sambil berjalan mendekati yeoja yang sedari tadi hanya duduk di atas koper yang besarnya hampir menyaingi pemiliknya.

“Mau kemana?” tanya yeoja itu ketika mendapati Joshua berpindah dari tempatnya berdiri.

Pertanyaannya tidak dijawab oleh Joshua. Namun ia sendiri sudah mendapatkan jawabannya sekitar lima detik setelah menanyakannya. Harusnya ia sudah bisa menebak ini.

“Apakah ini American style?” candanya ketika Joshua menyampirkan sebuah jaket abu-abu—jaket yang sama persis dengan yang Joshua gunakan saat ini, hanya berbeda ukuran saja—di atas kedua bahunya. Tak butuh waktu yang lama bagi seorang Joshua Hong untuk mengambil jaket tersebut karena tas yang menggantung di punggung yeoja itu terbuka lebar.

“Joshua style,” ralatnya. “Apakah kau semalas itu hingga bahkan kau tak sempat menutup resleting tasmu?” tambahnya sambil menepuk pelan dahi yeoja itu dengan telapak tangan kanannya, seraya berjalan menuju tempatnya berdiri tadi.

Yeoja itu kembali tertawa lucu sambil berkata lirih, “aku lupa….”

“Mina-ya!” sebuah suara melengking dari kejauhan memaksa Joshua dan yeoja itu, Mina, menoleh ke arah asal suara. Terlihat dua orang yang berjalan beriringan serta seorang lagi yang berlari kecil mengikuti langkah mereka.

“Hei, baru turun?” tanya Mina setelah ketiga orang itu mendekat. Yeoja yang diajaknya bicara mengangguk pelan.

“Seungcheol lupa di mana ia meletakkan ponselnya.” Katanya sambil melirik seorang namja di sampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Itu karena tadi aku sibuk mencari ponsel Nayeon yang tertinggal di kamarnya. Yang punya ponsel bahkan tidak berusaha mencari. Ia justru sibuk mondar-mandir panik tidak jelas…,” balas Seungcheol diikuti dengan tatapan kesal Nayeon.

“Aku panik!” sergahnya.

“Oke, oke. Kau panik. Oke.”

Ketiga orang yang lain hanya tertawa kecil.

“Ck, jadi ponselmu hilang karena kau sibuk mencari ponsel orang lain yang hilang. Sungguh ironis.” Kata Seokmin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik. Namja ini akhirnya juga mendapat tatapan sinis Nayeon.

“Mana Hoshi?” tanya Joshua menghentikan perdebatan yang tidak penting itu. Pasalnya, mereka akan pergi berenam namun satu orang belum ada.

“Dia lebih bodoh lagi.” Kata Seokmin. “Karena sibuk menyiapkan barang yang akan dibawanya ke taman hiburan, dia justru lupa membawa kopernya ke bawah dan hanya membawa tas ranselnya saja. Sangat miris.” Kata Seokmin.

Joshua hanya berdecak kagum.

Joshua, Mina, Seungcheol, Nayeon, Seomin, dan Hoshi memang akan pergi ke taman hiburan pagi ini. Berbeda tujuan dengan mayoritas rombongan yang akan menaiki bus dan langsung kembali ke asrama. Oleh karena itu keenam anak sekolah menengah atas di tahun ketiga itu menyiapkan masing-masing dua tas. Satu koper yang berisi barang-barang yang akan diangkut bersama bus untuk dikembalikan ke asrama, dan satu tas ransel untuk bepergian.

Awalnya, ketika mereka sampai di Wolmi-do dua hari yang lalu untuk melakukan kunjungan ke sebuah pabrik, sebenarnya mereka belum memiliki rencana ini. Jadi perjalanan ini termasuk acara mendadak. Namun di sore hari ketika mereka sampai, Nayeon dan Seungcheol tiba-tiba mengajak teman-temannya untuk mampir ke Wolmi Theme Park terlebih dahulu. Hanya empat orang inilah yang bersedia.

“Hoi….” Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan kelima anak lainnya. “Kertas pentingku ketinggalan.”

“Sepenting apakah sebuah kertas, Kwon Hoshi?” tanya Nayeon serius.

“Sangat penting. Kode booking keretaku ada di sana.”

“Oh….” Kata Nayeon singkat yang langsung disertai dengan gerakan-gerakan paniknya mengingat di mana ia menulis kode booking keretanya.

“Kita menulisnya di ponselku, Nayeon-ah.” Kata Seungcheol.

“Oh, iya….”

Mina hanya berdecak kecil sambil mengamati keempat temannya, kadang disertai tawa kecil. Setiap kali ia tertawa ia akan melihat Joshua yang juga sedang melihatnya sambil geleng-geleng kepala. Ia juga menginsyaratkan kepada Joshua bahwa ia menulis kode booking mereka di ponselnya ketika namja itu terlihat diam dengan tatapan kosong. Bahkan ia menulis milik keenam orang itu. Andai Hoshi tau hal itu.

Setelah seluruh isi rombongan siap, semua bergantian meletakkan koper mereka dan langsung naik ke dalam bus. Mina dan kelima kawannya hanya melihat dari bawah sambil melambaikan tangan ketika bus melenggang pergi.

Sedetik setelah bus tersebut tak terlihat oleh mata, diawali dengan seruan lantang ‘Go!’ dari Seungcheol, keenam anak tersebut beranjak meninggalkan halaman penginapan menuju jalanan untuk menyetop taksi.

Masih begitu pagi, ketika mereka berenam tiba di area taman hiburan. Hal itu memang disengaja karena mereka harus mencari makanan dan berfoto ria terlebih dahulu.

Ketika mereka akhirnya masuk ke dalam Wolmi Theme Park, mereka segera mengantri ke wahana-wahana populer yang ada di sana. Disco pang-pang dan kora-merupakan wahana terakhir yang mereka naiki sebelum akhirnya memilih untuk mencari jajanan di sekitar area Wolmi Theme Park.

Joshua dan Mina ada di urutan ke belakang barisan ketika mereka berjalan dalam tiga barisan. Jika keempat temannya sangat terlihat biasa saja setelah menaiki wahana-wahana mencekam tersebut, tidak untuk mereka berdua. Terutama Mina.

Sedari tadi, setelah mereka semua turun dan memutuskan untuk berkeliling mencoba jajanan di sekitar sana, Mina masih bergelayut pada tubuh Joshua, dengan lengan kiri Joshua memegangi bahu kiri Mina. Mina terlihat lesu setelah menaiki kora-kora yang bekerja selama hampir empat menit penuh. Dengan kemiringan yang gila, sembilan puluh derajat maksimal. Belum cukup ia merasa tertekan ketika menaiki wahana gila itu, ternyata setelah ia turun efeknya lebih gila lagi. Ia pusing. Sekali. Untung saja tadi Joshua memberinya anti mual terlebih dahulu.

Tak lama, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali. Sebenarnya mereka berenam hanya ingin mencoba disco pang-pang dan kora-kora di sana. Maka dari itu, setelah tujuan awal mereka tercapai, tujuan mereka selanjutnya adalah pulang ke Seoul.

Setelah menaiki taksi selama kurang lebih setengah jam dan menunggu keberangkatan kereta menuju Seoul selanjutnya, akhirnya kereta yang dinanti pun tiba.

“Tempat duduk kita berjauhan?” tanya nayeon setelah melihat nomor kursi di tiketnya.

“Iya….” Jawab Joshua.

“Tapi untungnya masih bisa duduk berdua. Tidak sendiri.” Kata Hoshi. Seokmin mengangguk mengiyakan. “Jadi Seokmin dan aku di 19A dan 19B, di samping Joshua dan Mina di kursi 19D dan 19E, sedangkan kalian berdua di 9A dan 9B?”

Nayeon dan Seungcheol mengangguk.

“Untungnya kita ada di gerbong yang sama.” Kata Seokmin sebelum mereka masuk ke dalam kereta.

Kereta yang mereka tumpangi tergolong cukup nyaman untuk perjalanan mereka selama kurang lebih tiga jam. Kursinya cukup empuk. Namun sayangnya, kursi depan dan belakang saling berhadapan sehingga mereka harus berbagi tempat untuk kaki mereka dengan 2 orang lainnya.

Ketika Joshua dan Mina duduk di kursi mereka, kursi di depan mereka masih kosong. Namun, beberapa saat kemudian, seorang ibu-ibu dan seorang yeoja yang lebih tua dari Joshua dan Mina, yang kemungkinan besar adalah anaknya, menempati tempat kosong tersebut sehingga Mina dan Joshua dengan berat hati harus melipat kakinya yang sudah cukup nyaman ketika diluruskan tadinya.

“Masih pusing?” tanya Joshua ketika Mina menjatuhkan tubuhnya ke samping, ke arahnya, dan menempelkan pipinya tepat di pundaknya. Mina hanya mengangguk lemah. “Tidur saja….” Katanya lagi sambil tersenyum sembari meletakkan tangan kanannya di belakang Mina dan mengusap pelan kepala yeoja itu, berharap akan sedikit membant Mina untuk tidur.

Dalam semenit, kepala Mina terus bergerak sehingga Joshua memeriksa yeoja itu dengan mendekatkan wajahnya. “Sebentar…,” katanya pada Mina sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Jaket abu-abu miliknya. Kemudian ia kembali duduk sambil meletakkan jaket yang telah dilipatnya sedemikian rupa hingga menjadi bantalan yang cukup empuk di bahunya.

Gomawo….” Kata Mina pelan.

“Mau aku ambilkan jaketmu? Tidak dingin?” tanya Joshua lagi. Ketika Mina sakit seperti ini, Joshua langsung menjadi namja yang seribu kali lebih perhatian dari biasanya.

Mina kembali mengangguk.

Selama kurang lebih satu jam, Mina tidur di bahu Joshua. Dengan kedua tangannya memeluk lengan kanan Joshua sebagai pengganti guling. Terkadang, Joshua tanpa disadari mengelus puncak kepala Mina dengan tangan kirinya. Sering kali ia melihat ke sebelah kanan, ke arah luar jendela, dan menempelkan pipi kanannya pada puncak kepala Mina. Sesekali mencium dahi yeoja itu lembut ketika ia bergerak dalam tidurnya, sambil merapikan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya.

Selama hampir dari satu jam, Joshua terus mengusap kepala yeoja itu lembut ketika ia bergerak dalam tidurnya, sambil merapikan rambut panjangnya yang menutupi sebagian wajahnya.

Selama hampir dari satu jam, Joshua terus menatap yeojanya yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Ia tidak bisa melihat lekat dari depan, namun dari atas pun Mina masih terlihat sangat cantik. Kadang Joshua mendapati dirinya menatap lekat hidung Mina dan secara random memperhatikan tahi lalat yang ada di sana. Kadang ia juga memperhatikan pipi Mina yang tertekan oleh bahunya sehingga membentuk lipatan kecil yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan. Pada menit terakhir, Joshua memutuskan untuk mengambil foto dirinya dengan Mina dengan tangan kirinya. Sampai akhirnya Mina terbangun pada foto ke tujuh belas yang diambilnya.

“Sedang apa?” tanyanya sesaat setelah ia terbangun dan mendapati Joshua mengambil foto mereka. Kepalanya menengadah sambil pipinya masih menempel di bahu Joshua. Sepertinya ia tak berniat melepaskan tangan itu.

Secepat kilat Joshua langsung mengecup pelan dahi Mina diikuti dengan senyuman Mina yang mengembang. Mina semakin mendekatkan dirinya ke arah Joshua untuk menyembunyikan dirinya.

Joshua hanya ber-“hehe” setelah itu dan menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan hasil jepretan fotonya menggunakan kamera depan. Hampir dua pertiga dari keseluruhan foto kabur. Ia memang tidak ahli memotret dengan tangan kiri.

“Sudah baikan?” tanya Joshua sambil merapikan rambut Mina untuk yang kesekian kalinya.

“Mmhm….” Mina menggumam pelan sambil mengangguk kecil.

Kala itu Mina secara tidak sengaja, dengan sudut matanya, mendapati yeoja di depannya sedang memperhatikannya dan Joshua. Sedetik kemudian yeoja itu menjatuhkan tubuhnya pada tubuh ibunya yang sedang terlelap menyandar ke dinding kereta.

“Aku mau ke toilet sebentar,” ujarnya pada Joshua sembari berdiri dan melenggos pergi ketika Joshua mengangguk ke arahnya.

Sepeninggal Mina, Joshua sibuk menyempurnakan duduknya dan memijat-mijat punggung dan tengkuknya yang terasa sedikit sakit. Setelah itu ia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah aplikasi game mirip tetris dan memainkannya hingga Mina datang kembali.

Mina berusaha melangkahi kaki-kaki di ruang antar kursi yang ditumpanginya dengan kursi di depannya ketika ia kembali dari toilet. Joshua langsung menjeda permainannya dan membiarkan Mina lewat di depannya.

Ketika Mina berhasil melangkahi dua kaki milik yeoja di depan Joshua dan salah satu kaki Joshua, entah mengapa kereta api yang sedang mereka tumpangi bergoyang lebih hebat dari biasanya. Sontak, Mina kehilangan keseimbangannya. Tubuh mungilnya terdorong jatuh ke belakang hingga mau tidak mau ia harus terduduk di paha Joshua.

Kontan Mina seketika langsung tertawa menahan malu. Ia menunduk sambil tertawa lepas namun tanpa suara. Kedua tangannya meraih wajahnya untuk ditutupi. Lima detik kemudian ia memberanikan diri untuk menoleh, menatap Joshua. Tentu saja namja itu sedang tertawa ke arahnya. Gemas.

“Sengaja, ya?” godanya sambil membenarkan jaket Mina yang sedikit terlepas dari tempat seharusnya, memperlihatkan bahu kanannya yang menghadap Joshua. Mina kemudian segera berdiri dan merapikan jaketnya, masih tertawa.

“Iya.” Katanya sambil menjulurkan lidahnya, yang disambut dengan cubitan gemas Joshua pada kedua pipi Mina.

Setelah itu Joshua kembali bermain game di ponselnya. Sementara Mina duduk di tempatnya dan kembali bergelayut pada lengan kanan Joshua. Masih menempelkan pipinya di bahu namja itu. Namun daripada tertidur, kali ini Mina justru sibuk melihat Joshua yang sibuk dengan ponselnya.

“Pecahkan rekorku. 5376 poin!” ujar Mina menggebu setelah melihat high score di layar mungil bertuliskan 3455 poin.

“Eyy, tidak mungkin.” Kata Joshua sambil menoleh singkat. “No pic hoax.” Tambahnya.

“Wah, tidak percaya, dia.” Kata Mina sembari melontarkan tatapan tidak percayanya pada Joshua. Sayangnya yang ditatap tidak bisa melihatnya akibat terlalu fokus pada gamenya.

Mina membiarkan Joshua konsentrasi selama belasan menit sambil memandanginya. Raut mukanya terlihat sekali bahwa ia benar-benar fokus. Mungkin ia benar-benar ingin mengalahkan high scorenya, pikir Mina.

Begitu memasuki menit kelima belas, tiba-tiba Mina dibingungkan oleh Joshua yang entah mengapa menggeleng-geleng dan menggerakkan kepalanya terus-menerus.

“Kau kenapa?” tanya Mina dengan tatapan aneh.

“Rambutku.” Kata Joshua. Mina masih tidka mengerti. Joshua berusaha meniup rambut bagian depan miliknya.

Mina tertawa kecil. “Apakah sebegitu emmbutuhkan konsentrasi itu sehingga kau tak bisa mengatakan satu kalimat lengkap, huh?” katanya sembari menyibak rambut bagian depan Joshua pelan.

Mina bahkan masih berlanjut merapikan rambut Joshua ketika sudah tak ada lagi rambut yang menghalangi pandangan namja itu.  Kadang senyumnya mengembang tatkala pandangan sayangnya mengarah pada keseluruhan muka Joshua. Dia sungguh terlihat seperti anak kecil ketika sedang konsentrasi begini.

Sayangnya Joshua sebegitu tidak sadarnya walaupun Mina sudah lebih dari tiga menit menatap lekat ke arahnya. Saat ini game > Mina.

“Ah!!!” pekik Joshua dengan volume rendah namun berfrekuensi tinggi. “4376! So close!!!” ucapnya lagi, kali ini sambil menatap Mina. Ia hanya meringis begitu mendapati Mina melihatnya dengan dahi berkerut, tatapan yang aneh. “Hehe.”

Rupanya bermain selama lima belas menit cukup membuat tenggorokan Joshua kering. Ia mengambil sebuah botol minuman di dalam tasnya dan meneguk hampir setengahnya. “Mau minum?” tanyanya pada Mina setelah menelan tegukan terakhirnya.

Mina mengangguk sambil mengambil botol itu dari tangan Joshua. Ketika ia kembali dengan tidak sengaja menatap yeoja di depannya, yeoja itu sedang menatap ke arahnya. Sedetik kemudian dia menoleh ke arah ibunya. Suaranya terdengar samar ditengah suara air minum yang ditelannya.

Setengah jam sebelum sampai di Seoul, kedua orang yang duduk di depan Joshua dan Mina keluar dari kereta. Joshua dan Mina senang bukan main. Akhirnya mereka bisa kembali meluruskan kaki mereka yang sudah pegal-pegal sedari tadi.

“Hei, kalian berdua!” ujar Hoshi yang tiba-tiba duduk bersila menempati tempat duduk yang baru saja kosong itu.

Joshua menoleh sekilas di tempat Hoshi duduk, di sana terlihat Seokmin yang sedang tertidur pulas dengan posisi paling nyaman versinya. Berbaring miring dengan kaki tertekuk.

“Hmm?” kata Mina sambil kembali menyandar pada Joshua dan merangkul tangannya.

“Aku mau bercerita.” Hoshi menghela napas sebelum akhirnya bercerita. “Jadi begini. Aku duduk di bagian sebelah jendela tadi, dan berusaha tidur di kepala Seokmin yang menyender di pundakku.” Katanya memulai cerita.

“Ow, ow, ow!” Joshua dan Mina saling tatap sambil tertawa kecil. Untuk yang tidak tahu keberapa kalinya karena terlalu sering di hari ini.

“Jangan salah fokus!” pekik Hoshi. Joshua dan Mina kontan diam di tempat. “Aku tidak bisa tidur.” Lanjutnya. “Sekitar dua jam lalu, pada saat aku menyadari abhwa aku tidak bisa tidur, aku tidak sengaja memperhatikan seseorang. Seorang wanita yang tadi duduk tepat di depan Joshua.” Katanya.

Joshua dan Mina kembali saling berpandangan. Apa ini? Kalau cerita ini tentang orang yang berada di depan mereka, bukankah harusnya mereka sudah tahu dan lebih tahu dari Hoshi yang duduknya lebih jauh dari mereka?

“Ya? Kenapa dia?” tanya Mina.

“Apakah kalian sadar sedari tadi dia memperhatikan kalian?” tanya Hoshi basa-basi.

“Mmm, aku dua kali bertatap muka dengannya. Tapi, tidak… aku tidak sadar.” Ujar Mina. “Kenapa? Apa dia orang yang berniat jahat?” tanyanya mulai serius.

“Aku juga tidak menyadarinya….” Tambah Joshua.

“Tentu saja kalian tidak menyadarinya. Kalian hanya memperhatikan satu sama lain sedari tadi.” Kata Hoshi lagi. Joshua dan Mina mengernyit tidak mengerti. “Tidak usah serius begitu. Aku hanya akan bercerita suatu hal yang cukup lucu. Menurutku.” Kata Hoshi.

“Lucu, ya….”

“Iya, lucu.” Ujar Hoshi. “Jadi tadi ketika aku melihat dia, dia sama sekali tidak memperhatikanku. Tatapannya hanya tertuju pada kalian berdua. Aku baru menyadarinya ketika Joshua berdiri mengambil jaket. Tadi dia benar-benar menatap Joshua lekat dan kelita ia melihat Joshua mengambil jaket, ia secara tidak sadar merapatkan blazernya.” Kata Hoshi.

“Ya? Lalu?”

“Duh, kalian! Dia iri!” ujar Hoshi. “Aku sempat merasa kasihan padanya ketika ia terus-terusan melihat kalian ketika Mina sedang tertidur.” Kata Hoshi sambil mengusap air mata palsunya, mendramatisir suasana. Asal tahu saja, Mina dan Joshua mendengarkan cerita Hoshi dengan dahi berkerut, bingung campur dengan perasaan aneh. “Aku gagal menghitung berapa kali Joshua mengelus kepalamu, namun sebanyak itu juga yeoja itu memegang rambutnya sendiri….” Kali ini Hoshi berbicara pada Mina.

Mina hanya melongo. Antara percaya dan tidak. Antara senang karena bisa membuat iri wanita lain dan kasihan pada wanita itu.

“Ketika tiba-tiba kau menyandar ke Joshua dan menempel di bahunya, ia juga tiba-tiba melakukan hal yang sama pada ibunya yang tidur pulas. Tahukah kau seberapa keras aku berusaha untuk tidak tertawa?“ Sangat keras. Level 100 dari 100 level.

Mina tersenyum kecil sambil melihat ke bawah, membayangkan cerita Hoshi. Joshua hanya geleng-geleng kepala.

“Saat kalian sibuk dengan game di ponsel Joshua, ia sangat telihat ingin membunuh kalian, apakah kalian tahu? Tatapannya mengakatan ‘Cih, dasar kampung tidak pernah bermain game. Main begitu saja harus sebahagia itu?’. Sangat miris melihatnya. Sebelumnya aku juga melihat ia mengelus-elus dahinya tapi aku tidak tahu kenapa…” Kata Hoshi lagi.

“Paling parah saat Joshua memberimu minuman tadi, oh Tuhan!” Hoshi memberikan ekspresi yang dilebih-lebihkan. “Saat Mina mengambil botol minuman Hoshi, dia benar-benar meminta minuman pada ibunya. Aku mendengar sendiri percakapan mereka. Yeoja itu bilang ‘eomma, aku mau minum…’ tapi dalam dua detik ibunya langsung menjawab ‘tidak ada minuman. Nanti saja di rumah.’. Ya Tuhan, pada saat itu aku benar-benar sudah tidak bisa menahan tawaku sampai-sampai Seokmin terbangun dari tidurnya dan aku diusir karena menganggu tidurnya. Untung mereka berdua turun jadi aku bisa duduk di sini.” Kata Hoshi. “Sudah. Begitu ceritanya.”

Hening.

Hening.

Hening lagi.

“Ani, aku tidak mengerti. Jadi inti dari ceritamu sebenarnya apa?” tanya Joshua.

“Intinya adalah, tolong dikurangi. Semua itu. Tolong dikurangi. Aku hanya kasian pada orang-orang single yang melihat kalian atau orang-orang yang akan iri nantinya. Jadi, tolong dikurangi.” Ujar Hoshi.

“Memangnya kita melakukan apa?” kata Joshua pada Mina.

Mina hanya mengangkat bahunya.

Hoshi memukul dahinya pelan.

“Huft, kalian belum pernah merasakan apa yang orang lain rasakan ketika melihat kalian berdua….”

Sekali lagi, Joshua dan Mina hanya saling tatap, sebelum akhirnya kereta yang mereka tumpangi berhenti di stasiun di Seoul.

 

END.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[Freelance || Oneshoot] Public Display of Affection

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s