[Ficlet] One More Time

one-moe-time

|| Title: One More Time || Author: Phiyun || Genre: Romance | Friendship | Sad | Hurt || Cast: Park Shin Hye || Jung Yong Hwa (CNBlue) || Seohyun (SNSD)

Poster Credit: the12wolves @ story poster zone (Thanks ^^)

Cerita ini hanya fiksi belakang apabila ada kesamaan di dunia nyata itu hanya kebetulan semata. Ini real hasil imajinasi sendiri.Tolong hargai hasil karya orang lain dengan tidak meng re-post, mengedit tanpa sepengetahuan penulis. Pemain yang ada di dalam cerita real milik penulis kalau di dunia Realnya kenyataan milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Cerita di dalam FF ini aku fokuskan di Pov Shin Hye, ya ^^

*** Happy  Reading ***

28 Juni 2015

Langit terlihat sangat mendung nampaknya siang ini akan turun hujan lebat. Seperti biasa aku menunggu dia datang ke rumahku untuk bersama merayakan pesta ulang tahun Seohyun yang ke 25 tahun ini. Aku juga tidak lupa membuat sup rumput laut dan puding ubi manis kesukaan Seohyun. Seandainya waktu dapat aku putar kembali aku mau mengubah semuanya, sehingga tidak ada rasa penyesalan di dalam hati ini. Tapi apa daya itu hanya impianku saja.

Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.

“Tok…tok…tok…”

“Siapa?” tanyaku dari dalam tapi tidak ada yang menjawab, aku  pun lalu melihat dari kamera monitor yang aku pasang di depan pintu ternyata orang yang aku tunggu sedari tadi sudah tiba. Melihat itu aku langsung membukakan pintu untuknya.

“Yong Hwa-ssi… kau sudah datang? Silakan masuk.” ucapku sambil mempersilakankan dirinya masuk.

Tapi dia tidak mengucapkan apapun padaku. Dia datang memakai setelan jas hitam dan kemeja putih, Yong Hwa  juga tidak lupa membawa seikat bunga lili putih dan kotak berisi kue ulang tahun disebelah tangannya.

Dia masuk ke dalam rumah dengan wajahnya terlihat sangat sedih. Hatiku sangat teriris saat melihatnya sedih, aku seperti merasakan apa yang dia rasakan tanpa perlu ia ucapkan padaku.

Pria itu lalu duduk di ruang meja makan dan dia juga menaruh semua barang yang telah ia bawa di atas meja makan tanpa mengucapkan satu kata pun.

Tak selang beberapa lama, aku menghampirinya dan berkata. “Sini aku taruh bunganya di vas bunga, kasihan bunganya nanti akan layu dan mati.” kataku pada Yong Hwa untuk menghilangkan keheningan sesaat.

Tak berapa lama kemudian pria itu membalas perkataanku. “Biarkan saja itu mati, untuk apa kau berusaha membuatnya tetap hidup sedangkan nantinya juga dia akan mati. Tinggal menunggu waktu saja, kapan itu terjadi. Kau jangan bersikap seperti malaikat di depanku ” balasnya dengan nada yang bergetar.

Saat aku mendengar Yong Hwa berkata seperti itu, tangan dan kakiku terasa sangat lemas, dia berkata seperti menyalahiku dengan apa yang sudah terjadi pada dirinya. Aku tahu aku salah karena sudah berbohong pada dirinya selama ini tapi aku bingung untuk menjelaskannya pada dirinya, biar rahasia ini aku simpan untuk selamanya.

“Maksudmu apa Yong Hwa-ssi? Aku tidak mengerti?” aku berusaha keras membalas perkataan Yong Hwa dengan memunggunginya dan dengan sikap biasa tapi entah mengapa air mataku tidak bisa kutahan. Aku tidak mau dia melihat kumenangis.

Diapun lalu menjawab. “Apa katamu? Kau tidak mengerti apa yang aku maksud? Aku sudah tahu semuanya rahasiamu? Apakah kau masih akan tetap berbohong padaku!” Teriaknya nyaring.

Setalah itu Yong Hwa bangun dari tempat duduknya dan menghampiri diriku. Dia menarik tanganku sangat kasar dan memegang lenganku sangat kuat sampai – sampai vas bunga yang aku pegang jatuh dan pecah berkeping – keping saat dia menarik tanganku.

Aku bisa melihat dari sorot matanya. Dia merasa kecewa padaku dan tidak percaya dengan apa yang akan dia ingin katakan padaku. Tapi darimana dia tahu rahasiaku? Siapa yang tahu lagi  selain aku dan Seohyun? Aku sudah tidak bisa berkutik lagi saat ini? “Apa yang harus aku lakukan Seohyun?” teriak batinku.

~OoO~

“Ayo jawab aku Shin Hye-ah? Tolong jangan berbohong lagi padaku. Aku lelah dengan hidup yang seperti ini?” pinta Yong Hwa dengan suara yang parau.

Aku pun tetap berusaha berkelit di hadapannya. “Sungguh aku tidak mengerti maksudmu? Rahasia apa?”

“Apakah aku harus memberitahumu apa yang sudah aku ketahui tentang rahasiamu?”

“Coba kau beritahu aku salah satunya saja apa rahasia yang ada pada diriku?” tantangku.

Lalu Yong Hwa menarik pergelangan tanganku ke depan hadapannya  alhasil kedua mata kami pun bertautan dan setelah itu ia berkata. “Haloo Lili bagaimana kabarmu sekarang? Mau sampai kapan kau berbohong padaku tentang identitasmu! Nama penamu itu Lili, kan?”

“Ba-bagaimana… Kau….” belum sempat aku meyelesaikan perkataanku Yong Hwa langsung memotongnya.

“Selama ini yang chatting denganku bukan Seohyun tapi kau Park Shin Hye alias Lili. Kamu sudah puas mempermainkan perasaanku selama ini?!” aku langsung terkejut, rahangku seketika mengeras.

“Aku tidak bermaksud seperti itu Yong Hwa-ssi, tapi keadaan yang memaksaku.” dengan bibir yang bergetar aku berusaha mengeluarkan suaraku untuk menjawab perkataan Yong Hwa.

“Apa? Keadaan?! Baik kalau itu maumu!” Lalu Yong Hwa berjalan ke arah dapur dan dia kemudian mengambil sebilah pisau dan dia siap untuk memotong urat nadi tangannya. Tapi sebelum dia melakukannya aku buru – buru menghentikannya dan menyadarinya.

“Plaakk…!!!”

Aku menamparnya cukup keras sehingga sebelah pipinya terlihat sangat merah.

“Apa kau sudah gila Yong Hwa-ssi? Sadarlah!!! Seohyun juga akan melakukan hal ini juga padamu. Apakah kau tahu apa yang aku rasakan? Aku tidak mau merasakan kehilangan orang yang aku sayangi untuk yang kesekian kalinyanya, cukup yang terakhir itu Seohyun. Tolong buatlah Seohyun tenang di surga sana Young Hwa-ssi. Buatlah dia tersenyum bahagia jangan membuatnya sedih dengan melihat keadaanmu seperti ini.”

Kalimatku barusan saja sepertinya menusuk hatinya. Pada saat itu juga pisau yang di pegang olehnya terlepas dan jatuh di lantai. Dengan cepat aku langsung mengambilnya dan menyembunyikannya. Tak beberapa lama kemudian kedua kakinya milik laki-laki itu pun lemas sehingga ia terjatuh juga di lantai, ia mulai menangis dan berteriak histeris memanggil – manggil nama kekasihnya. “Seohyun-ah… Seohyun-ah… Seohyun…!!!”

Seohyun-ah apa yang harus aku lakukan pada dirinya. Seohyun-ah seandainya aku saja yang Tuhan panggil dan kau tetap disisi Yong  Hwa, pasti aku tidak akan merasakan penderitaan seperti ini.

Akhirnya benteng pertahanan ku-pun runtuh seketika. Air mata yang aku tahan tidak bisa aku bendung lagi. Air mata itu menetes begitu saja di kedua pipiku. Sepertinya ini adalah hari terakhirku bisa berteman dengan lelaki ini. Aku tidak berfikir muluk – muluk tentang dia. Aku sudah bersyukur Yong Hwa sudah mengagap diriku sebagai temannya dan dia juga sangat mencintai Seohyun, walaupun sebenarnya aku lah yang mencintainya terlebih dahulu sebelum dirinya bertemu  dengan Seohyun.

~~~ooo~~~

Flash back

 

– 7 Febuary 2010 –

 

5 tahun yang lalu…

“Shin Hye-a apa yang sedang kau lakukan? Kau sedang  chattingan dengan siapa?” tanya Seohyun dengan nada yang penasaran.

“Bukan sama siapa – siapa kok? Cuma teman. Tapi bagaimana ini ,Seohyun. Dia mau bertemu denganku 1 minggu lagi?”

“Memangnya kau sudah mengenalnya berapa lama?” tanya Seohyun lagi.

“Hampir satu tahun? Dan satu minggu lagi adalah satu tahun dimana kita pertama kali chattingan.”

“Apa? kau sudah chattingan dengan dia hampir setahun? Kok kau tidak pernah menceritakannya padaku? Kalau aku lihat sih fotonya, dia cukup tampan juga. Boleh tidak dia jadi pacarku?” ujar Seohyun.

Ucapan Seohyun barusan membuatku kaget. Aku tidak mungkin bilang tidak karena aku sudah begitu banyak berhutang budi kepada keluarga ini. Aku juga sudah mengangap ibunya seperti ibuku sendiri. Aku bahkan sudah lupa wajah ibu kandungku sendiri karena dari kecil aku sudah dibuang oleh ibu kandungku di depan panti asuhan. Betapa beruntungnya diriku  karena sudah di angkat oleh ibu Seohyun saat aku berumur 10 tahun, Seohyun juga sangat baik padaku. Kita sering tidur bersama sampai sekarang dan mulai hari itu aku sudah bertekat bahwa kebahagian mereka adalah kebahagianku juga dan apapun yang mereka minta akan aku penuhi bahkan aku rela memberikan semua kebahagianku untuk mereka semua.

“Seohyun apa kau mau aku kenalkan pada nya? Nama pria itu Yong Hwa, mau tidak?”

“Benarkah? Apakah kau tidak apa – apa?”

“Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja kok. Dia kan bukan siapa–siapa aku? Baiklah minggu depan kau menggantikanku untuk bertemu dengan dia.” kataku sambil tersenyum.

“Terimakasih Shin Hye-ah kau memang yang terbaik!” sahutnya seraya memelukku dengan senang.

~~~ooo~~~

 

– 14 Febuary 2010 –

 

Dear diary hari ini adalah hari pertama kali aku akan bertemu dengan Yong Hwa. Sebenarnya hari ini adalah hari yang aku nantikan selama 1 tahun ini tapi aku harus merelakannya untuk Seohyun. Aku juga bingung apakah aku harus bahagia atau tidak semua perasaan itu tercampur aduk di sini. Aku hanya bisa menyentuh  dadaku yang terasa sakit saat ini.

“Shin Hye-ah ayo kita jalan sekarang.” panggilan Seohyun membuyarkan lamunanku.

“Ayo… ” balas ku. Kemudian aku pun menutup buku diaryku dan pergi menghampirinya.

~OoO~

Sampailah aku dan Seohyun di cafe yang sudah aku dan Yong Hwa sepakati dimana kami berdua bertemu. Pada saat itu cafe tersebut cukup ramai. Mungkin karena hari Weekend sehingga banyak orang yang hang out di sini. Aku bilang ke Yong Hwa aku akan bertemu dengan dia dengan membawa bunga lili. Itu adalah code dressnya. Jadi aku membawakan bunga lili untuk dibawa oleh Seohyun. Aku juga duduk di bangku yang berbeda. Aku duduk di meja depan Seohyun dan kami berdua pun duduk saling membelakangi.

Setelah menunggu sedikit lama kira – kira 20 menit kemudian akhirnya dia pun datang juga. Pria itu membawa seikat bunga lili dan kemudian dia  berjalan menuju meja Seohyun. Tapi sebelum dia tiba ke arah meja Seohyun mata kami saling bertatapan untuk sesaat. Lalu dia langsung mencari seorang gadis yang membawa bunga lili yang sama dengan dirinya.

Akhirnya dia menemuakan gadis yang membawa bunga lili. Iya, benar gadis itu adalah Seohyun. Beberapa menit kemudian aku mengirim pesan ke Seohyun kalau aku pulang terlebih dahulu karena ada sesuatu yang mendesak. Untung dia tidak curiga. Aku hanya bisa menunggu Seohyun pulang dan mendengarkan ceritanya saat dia bersama Yong Hwa. Setibanya dia di rumah Seohyun langsung datang padaku dan bercerita dengan sangat gembira. Aku juga merasa senang bila melihat dirinya berbahagia.

~~~ooo~~~

 – 3 bulan kemudian –

Tak terasa sudah 3 bulan setelah pertemuan Seohyun dengan Yong Hwa. Wajah Seohyun juga terlihat semakin berseri–seri mungkin karena dia sering bertemu dengan Yong Hwa. Dia juga sering memintaku untuk membuatkan bekal makan siang untuk Yong Hwa saat ia akan bertemu dengan dirinya.

Karena Eomma sangat sibuk dan ada urusan bisnis jadi jarang di rumah. Eomma sering kerja keluar negeri jadi aku sudah terbiasa memasak untuk Seohyun saat Eomma tidak ada.

~OoO~

Beberapa hari kemudian Seohyun, tiba – tiba  ingin memperkenalkanku kepada Yong Hwa. Aku bingung harus berkata apa? Dalam hati aku ingin sekali bertemu dengan dia tapi aku tidak mau Yong Hwa tahu kalau aku adalah Lili. Lebih baik dia tidak mengetahuinya sama sekali. Aku berusaha menolak permintaan Seohyun dengan halus tapi semua itu percuma. ia tetap saja memaksaku.

 “Pokoknya kau harus bertemua Yong Hwa, ya, Shin hye-ah, ini sudah hampir 3 bulan aku bersama dia, aku mau tahu tentang pendapatmu bagaimana Yong Hwa itu? Karena mungkin sebentar lagi aku akan jadian dengan dirinya.” rajuk Seohyun padaku.

Saat aku mendengarnya bila dia akan jadian dengan pria itu, betapa terkejutnya diriku, aku seperti mendengar suara petir di siang bolong. Tapi aku tidak bisa berkata apa – apa lagi. Akhirnya aku pun mengikuti keinginan Seohyun tanpa perlawanan.

~~~ooo~~~

Bertemulah aku dengan Yong Hwa. Yong Hwa sempat kaget saat melihatku karena dia pernah melihatku juga saat hari pertama kali bertemu Seohyun. Lalu aku menjelaskannya kalau memang aku ada di sana juga untuk menemani Seohyun. Tidak perlu waktu yang lama buat aku bisa dekat dengan Yong Hwa. Tapi itu membuat aku menjadi tidak enak hati dengan Seohyun. Aku pun berusaha membuat tembok penghalang agar tidak terlalu dekat dengan Yong Hwa namun semua itu nihil karena Yong Hwa melakukan hal yang sebaliknya.

“Teman – teman bagaimana kalau kita buat time kapsul? Sepertinya akan seru, bagaimana?” suara Seohyun menghilangkan keheningan.

“Ide yang bagus itu, bagaimana dengan mu Shin Hye-ssi?” tanya Yong Hwa padaku.

“Sepertinya seru juga, aku sih ikut saja dengan kalian.” sahutku.

Lalu pergilah kami untuk membeli termos yang tepat untuk menjadi time kapsul. Setelah menemukan apa yang kita cari lalu kita langsung menulis surat yang akan kami taruh di time kapsul. Setelah itu kami bertiga mengubur surat itu bersama – sama.

“10 tahun lagi kita bertemu lagi ya di sini.” kata Seohyun

“Apa? Lama sekali satu tahun saja ya?” balas Yong Hwa.

“Kalau cuma satu tahun tidak seru tahu? Bagaimana 5 tahun lagi, kita harus membukanya bersama?” tambah Seohyun.

“Bagaimana menurut mu Shin hye-ssi? ” tanya Yong Hwa lagi.

“Eh... nde… aku terserah pada kalian saja bagaimana bagusnya.”

“Berarti deal ya, 5 tahun lagi kita bertemu di sini.” sahut Seohyun dengan nada yang bersemangat.

~~~ooo~~~

 

– 28 Juni 2010 –

 

“Seohyun kau sudah pulang ayo kita rayakan ulang tahunmu, aku sudah membuatkanmu sup rumput laut dan puding ubi.”

“Shin Hye-aa, apa ini?” Seohyun lau menaruh buku catatan diaryku di atas meja makan.

“Bagaimana buku harianku ada denganmu?” Aku langsung buru – buru mengambil buku diary yang ada di atas meja.

“Kalau aku tidak menemukannya mungkin aku tidak akan tahu sampai kumati, atas semua kebohonganmu!” bentaknya.

“Apa maksud mu?” Aku berusaha berkilah.

“Apa..? Adanya aku yang harus berkata itu, mengapa kau berbohong padaku. Kamu mencintai Yong Hwa, kan? Kenapa kau pura – pura tidak menyukainya, apakah aku terlihat sangat menyedihkan di matamu!!!” teriak Seohyun sambil  menangis.

“Seohyun-ah bukan itu maksudku? Aku hanya ingin membuatmu bahagia, itu saja tidak ada yang lain. Percayalah padaku.”  jelasanku.

Namun penjelasanku tak disambut baik olehnya. “Tak perlu kau jelaskan aku sudah tahu semuanya!”

Seohyun lalu berlari keluar dari rumah dan aku menyusul dirinya tetapi malang pada saat aku hendak mengejarnya terjadilah kecelakaan dan tubuh Seohyun tertabrak oleh sebuah mobil yang sedang melaju kencang.

Seohyun-ah….!!! teriakku sambil berlari menghampiri tubuhnya yang sudah berlumuran darah.

Untungnya mobil yang menabrak Seohyun mau bertanggung jawab. Dia membawa Seohyun dan aku ke RS terdekat, di perjalanan aku menelepon Yong Hwa untuk datang ke RS segera. Aku memberitahu dia kalau Seohyun kecelakaan dan dia akan datang dengan cepat.

Setiba di UGD. Tanganku dipegang erat oleh Seohyun dan dia juga mengucapkan kalimat yang kurang jelas, sehingga aku harus mendekatkan telingaku di dekatnya.

“S-s-shin H-hyee-sii mian hae…. maaf kan aku yang sudah berkata kasar padamu tadi. Aku merasa kalau waktuku sudah tidak banyak.”

A..aniii! Kau pasti sembuh aku yakin. Percaya padaku. Ini semuanya salahku.” ucapku sambil menahan tangis.

A-a-ni-yaa…  ini bukan salahmu S-s-shin H-hyee-aa, aku ingin kau berjanji padaku satu hal.” dengan suara yang masih terbata-bata.

“Apa itu?”

Dengan napas yang memburu, Seohyun berusaha untuk melanjutkan ucapannya. “Aku mau kau tidak membohongi perasaanmu lagi dan aku titip Yong Hwa kepadamu, ya. Tolong jaga dia untuk ku.” Lalu gengaman tangan Seohyun mulai mengendur dari tanganku.

“ T…Tidak…… kau harus bangun Seohyun-ah… kalau kau pergi seperti ini kau membuatku menyesal seumur hidup!!!” teriakku ke Seohyun yang sudah tak bernapas lagi sambil memeluknya dengan erat.

Datanglah dokter dan perawat untuk melihat Seohyun akan tetapi hasilnya nihil karena Seohyun mengalami cendera kepala yang sangat parah sehingga dia mengalami pendarahan di kepalanya.

Beberapa menit kemudian tubuh Seohyun pun  ditutupi oleh dokter sampai di kepalanya dengan kain putih. “Waktu kematiannya tanggal 28 Juni 2010 jam 12:12 PM.” tutur dokter pada perawatnya dan perawat itu menulis di sebuah nota .

A—niii… Seohyun jangan tinggal kan aku sendiri. Kau harus bangun!!!”

Aku memukul – mukul tubuh Seohyun agar dia terbangun tapi hasilnya percuma. Aku hanya bisa menagis, Hari ini hatiku terasa lebih sakit dibandingkan hari – hari yang lalu. Aku tidak memperhatikan sekitar. Ternyata Yong Hwa sudah datang. Dia menarik  tubuhku untuk menjauh dari tubuh Seohyun yang sudah tak bernyawa.

“Shin hye-ah sadarlah Seohyun sudah tiada lagi, kau harus mengikhlaskannya.” ucap Yong Hwa sambil memelukku di dalam dekapannya. Aku hanya bisa menangis tanpa mampu berkata apapun.

Flash back end

~~~ooo~~~

 

– 28 Juni 2015 –

 

Dan hari ini juga aku harus melihat orang yang aku sayangi menangis karena kebohongan yang aku buat. Aku sudah siap dengan apa yang akan terjadi saat ini. Aku menghampiri Yong Hwa yang sedang menangis di bawah lantai. Aku ingin menjadi sandaran dirinya saat dia menangis walaupun ini akan menjadi hal yang pertama dan terakhir untuk aku lakukan kepadanya.

Saat aku menghampirinya dan aku hendak akan memeluknya, dia langsung menepis diriku dan dia langsung menarik lenganku naik ke dalam mobil tanpa berkata apapun.

Yong Hwa  mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan dia berhenti tepat di pinggir sungai Han. Ternyata dia membawaku ke tempat dimana kita mengubur time kapsul dulu. Saat aku mau menggalinya ada bekas galian tanah sebelumnya. Dan saat aku membukanya sudah tidak ada time kapsulnya.

“Apakah bukan ini tempatnya? ” tanya batinku.

“Apa kau mencari ini?” Yong Hwa lalu menyodorkan surat padaku.

“Bagaimana bisa ada padamu? Apakah kau sudah membacanya sendirian?” tanyaku.

Namun Yong Hwa hanya terdiam sambil berjalan menjauh dariku untuk melihat matahari yang akan segera tenggelam. Aku duduk di bangku taman dan membaca pesan yang Seohyun buat untukku. Aku membacanya dengan seksama kata demi kata.

 


“ Dear Shin hye …

Mian hae… aku sudah membuka time kapsulnya sebelum waktunya karena ada yang mau aku perbaiki kesalahan yang aku buat. Maaf kan aku Shin Hye-ah, karena aku tidak tahu kalau kamu sangat mencintai Yong Hwa, harusnya kau jujur padaku? Aku tidak akan marah bila kau memang mencintainya karena seharusnya Yong Hwa adalah milikmu bukan aku. Aku tahu di hati Yong Hwa bukan mencintaiku tapi di mencintaimu. Dia sebenarnya sudah menyadarinya jika aku bukan lah dirimu.”

 

Apakah kamu ingat saat aku mengajaknya untuk bertemu denganmu? Awalnya dia tidak mau tapi saat dia melihatmu ternyata dia tertarik denganmu, kalian juga berbicara sangat akrab seperti bukan pertama kali bertemu. Dia bisa tersenyum gembira bila bersama denganmu. Mengapa aku bisa mengatakan itu? Karena dia tidak pernah memberikan ekspresi seperti itu padaku. Aku juga minta maaf sudah lancang membaca semua buku diarymu. Mungkin ini sudah jalan yang di berikan Tuhan pada kita. Aku berharap kau mau berjanji padaku satu hal. Kejarlah kebahagianmu karena kebahagianmu adalah kebahagianku juga.

 

salam sayang Seohyun”


Tanpa terasa kedua mataku pun sudah basah oleh tetesan air mata. Aku terharu dengan pesan yang sudah dituliskan oleh Seohyun padaku. Seandainya aku biasa memutar waktu aku ingin lebih memberikan kebahagian untukmu. Aku ingat akan permintaan terakhir Seohyun yaitu aku diminta untuk menjaga Yong Hwa.

Aku pun bangkit dari tempat dudukku dan berjalan mengampiri Yong Hwa. “Seohyun aku akan menepatkan janjiku padamu mulai sekarang.” ucap batinku.

Aku berjalan menghampiri Yong Hwa dan kemudian aku memeluk tubuh Yong Hwa dari belakang. Yong Hwa sempat kaget saat aku memeluknya. Lalu aku berkata pada Yong Hwa. “Maaf kan aku Yong Hwa-ssi. Aku sudah terlalu lama membohongimu. Bersemangatlah , jalani hidupmu lebih baik lagi. Buatlah Seohyun bangga padamu. Masih ada  Aku yang akan selalu berada di sampingmu. Aku tidak memintamu untuk melupakan kekasihmu, Seohyun. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kau itu tidak sendiri.” tak berapa lama kemudian pelukanku dilepaskan oleh Yong Hwa dan dia membalikan tubuhnya ke hadapanku.

“Apakah hanya itu saja yang  kau ingin katakan padaku?”

Eh… nde…. ” balasku ragu sambil menundukan kepala.

“Aku juga mau bilang sesuatu padamu. Sebenarnya aku dan Seohyun tidak berpacaran.”

“Apa?” Aku langsung mengakat wajahku ke arah Yong Hwa.

“Kenapa kau sekaget itu? Bukannya Seohyun memberitahumu?”

Ah.. nde… dia memberitahuku aku lupa,  mian…” lalu Yong Hwa memberikan sepucuk surat padaku yang ditulis untuk dirinya  dari Seohyun.


“Dear Yong Hwa

Maaf selama ini aku sudah berbohong padamu, sebenarnya aku bukan Lili. Aku hanya menggantikan posisinya untuk bertemu denganmu. Aku yang meminta kepada Shin Hye. Sebenarnya Lili adalah Shin Hye. Jadi tolong  jangan menyalahkan dia ya. Aku juga sudah tidak penasaran dengan jawabanmu sekarang. Jadi setelah kau yakin dengan hatimu, kau harus segera  memberitahukannya, ya.

   Salam sayang Seohyun.”


“Maaf, sku sudah membuka time kapsulnya jauh – jauh hari.” kata Yong Hwa.

“Yong Hwa, maksud Seohyun apa ya, aku tidak mengerti dengan  isi suratnya?” dengan wajah yang bingung.

Paboya… isinya itu aku harus mengukapkan perasaanku kalau sudah yakin.”

“Ungkapkan apa? Seohyun kan  sudah meninggal? ” Tanyaku lagi dengan wajah yang semakin bingung.

Kemudian Yong Hwa menarik lenganku dan setalah itu memelukku ke dalam dekapannya. Tak lama kemudian sebelah tanganku ditaruhnya tepat di atas dadanya dan kemudian ia pun berkata. “Perasaanku tidak pernah salah Shin Hye-ah.  Shin Hye-ah,  sebenarnya aku sudah menyadari sejak pertama kali saat aku melihat dirimu di kafe. Tapi pada saat itu aku belum yakin karena kau tidak memegang bunga lili tetapi kau hanya memakai kalung berbentuk liontin bunga lili sedangkan ada wanita lain yang ada  di belakangmu yang sedang memegang bunga lili. Setelah aku menjalanin pertemanan dengan Seohyun aku merasa ada sesuatu yang ganjil, aku tidak tahu apa itu. Aku selalu terbayang – bayang sosokmu saat bersamanya. Pada saat itu Seohyun mengajak aku untuk menjadi kekasihnya tapi aku meminta waktu kepadanya karena aku belum yakin dengan hatiku dan esoknya aku bertemu denganmu dan itu membuat aku semakin ragu untuk memilih Seohyun sebagai kekasihku. Tapi sekarang aku tidak ragu lagi. Sarangheo… Shin hye-ah” ucap Yong Hwa lembut di sebelah daun telingaku. Aku tidak mampu berkata apa – apa. Aku hanya dapat mengangguk – angukkan kepala di hadapannya.

Kami berpelukan cukup lama saat itu dan aku menangis di dalam dekapan Yong Hwa namun kali ini bukan air mata kesedihan tapi ini air mata kebahagian. Yong Hwa memberikan kecupan di atas keningku dengan lembut dan dia kemudian memelukku kembali. Pelukannya mengisyaratkan bahwa dia takut bila aku akan pergi lagi dari hadapannya.

Tak lama kemudian Yong Hwa berlutut di hadapanku sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik jas hitamnya setelah itu ia-pun membukanya dan memperihatkannya isi dari dalam kotak kecil itu ke depan hadapnku. Ternyata isi dari kotak tersebut adalah sebuah cincin dengan bermahkotakan batu berbentuk bunga lili putih dan setalah itu pria itu pun berkata.

“Would you marry me…”

-The end –

~~~ooo~~~

Ahh….. akhirnya selesai juga ,, heeheee… ( teriak histeris…) (Lebay dikit ah) XD

Awalnya aku mau buat cerita yang sad ending tapi kayanya gatot ya??

Ini FF perdanaku di sini, semoga kalian menyukainya yah ^^ Mohon dukungannya untuk tidak menjadi silent readers, jadi  jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, dear sehabis membacanya. biar diriku makin semangat lagi untuk buat ff selanjutnya 🙂

See you next time ❤

 

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] One More Time

  1. Cieee dooley couple,otp aku. Memendam perasaan utk org lain. Hmm…… Kasian Shin Hye. Udah gitu si Yong sama Seo kurang, mereka buka time capsule duluan. Ini gak ngartis Shin terlalu polos atau gmn. Tp bodo ah… Yg penting happy ending.

    • Haha… emang tuh sih yong ma seo curang buka time capsulenya duluan 😀
      Setuju, yg penting happy end yah, wkwk 😀
      Thikyu ya say dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s