(Chapter 4) Don’t Cry My Lover

img1472206371945

Chunniest Present

^

Don`t Cry My Lover

(Chapter 4)

^

Main Cast :

Kim Myungsoo (INFINITE) – Park Jiyeon (T-ARA) – Park Shinhye

^

Support Cast :

Na moonhee as Park Moonhee (Aktris)

Park Junghwa (EXID)

Park Yoochun (JYJ)

Kim Taehee as Park Taehee

Kim Jaejoong

Park Gyuri as Kim Gyuri

^

Genre: Familly, drama, romance, School life | Length: Chapther

^

Previous :

TeaserChapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3

DON’T BE A SILENT READERS!!!!!

^

^

Pikiran tentang Shinhye yang memberikan plester itu pada Myungsoo terus saja mengganggu pikiran Jiyeon. Namun tidak ada orang lain yang menyukai hello kitty seperti kakaknya.

“Apa mungkin namja yang disukai eonnie adalah Myungsoo? Tapi setahuku Myungsoo bukanlah tipe namja idaman eonnie. Shinhye eonnie lebih menyukai namja yang lembut bukan namja kasar seperti Myungsoo . Aigo kenapa kau jadi tertular namja bodoh itu sih? Plester itu kan bukan buatan eonnie sendiri, plester itu tersebar di toko-toko jadi kemungkinan bukan hanya eonnie yang memakainya kan? Aiisshhh….Lupakan Jiyeon-ah itu hanya plester biasa.” Guman Jiyeon.

Saat ini gadis itu sedang duduk di taman sekolah untuk menunggu Shinhye. Dia mengedarkan pandangannya untuk mencari kakaknya. Akhirnya mata Jiyeon melihat seseorang yang ditunggunya sedang berjalan ke arahnya. Gadis yang saat ini berdiri dengan bantuan kruk itu tersenyum lebar kearah adiknya lalu duduk disamping Jiyeon.

“Melihat senyum eonnie, sepertinya rencana kita berhasil.” Tebak Jiyeon mengartikan senyuman cerah kakaknya. Untuk pertama kalinya sejak kejadian 3 tahun lalu baru kali ini Jiyeon dapat kembali melihat senyum cerah kakaknya.

Sepertinya aku harus berterimakasih pada namja yang sudah membuat eonnie jatuh cinta karena dia bisa membuat eonnie kembali ceria seperti dulu lagi. Pikir Jiyeon.

“Tebakanmu tepat sekali. Meskipun dia masih bersikap dingin tapi paling tidak kami bisa mengobrol sebentar.” Cerita Shinhye senang.

“Benarkah? Ceritakan padaku eonnie.” Jiyeon melihat kekhawatiran di wajah Shinhye saat mendengar permintaannya. “Ada apa eonnie? Apa eonnie tidak ingin cerita padaku?” Cemas Jiyeon.

“Tidak apa-apa. Mianhae Jiyeon-ah, eonnie belum bisa menceritakannya padamu.” Shinhye menunduk sedih.

Jiyeon meraih tangan kakaknya lalu meremasnya lembut. “Tidak apa-apa eonnie. aku tidak akan memaksa eonnie kok.”

Shinhye mendongak dan tersenyum senang pada adiknya. “Lalu apa rencana kedua kita?” Tanya Shinhye kembali semangat.

“Rencana kedua mungkin eonnie bisa memberinya sesuatu.”Saran Jiyeon.

“Sesuatu? Seperti apa?”

“Mungkin eonnie bisa memberikan masakan buatan eonnie, karena aku rasa namja menyukai masakan buatan sendiri yang dibuat dengan penuh cinta.” Jiyeon teringat Myungsoo yang suka sekali masakan buatannya.

“Aigo…Jiyeon-ah kau kan tahu sendiri bagaimana payahnya aku dalam hal memasak.”

Jiyeon tertawa mengingat payahnya kemampuan Shinhye dalam hal memasak. Bahkan pernah suatu hari Shinhye mencoba membuat kue tart namun sayang alhasil kue itu menjadi bantat dan tak beraturan bentuknya.

“Aku masih ingat bagaimana eonnie menghancurkan kueku dalam lomba memasak saat di SMP. Aku benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat kue itu tak berbentuk.”

Seketika mereka tertawa bersama mengingat lomba memasak Jiyeon saat masih di bangku SMP. Saat itu karena Taehee sedang sakit dan tak bisa menemani Jiyeon berlomba akhirnya Taeher meminta Shinhye yang menggantikannya. Awalnya Jiyeon berpikir kakaknya itu sangat hebat karena apapun yang dilakukan Shinhye hasilnya akan sempurna tapi kali ini sepertinya Jiyeon tahu kelemahan kakaknya yang tak bisa dilakukannya dengan sempurna yaitu memasak.

“Aku sangat payah dalam memasak berbeda denganmu kau benar-benar koki yang handal Jiyeon-ah.” Puji Shinhye.

“Tidak sehandal itu eonnie aku hanya bisa memasak  masakan yang biasa-biasa saja kok.” Ucap Jiyeon merendah.

“AHAA!!!!” Teriak Shinhye tiba-tiba. “Bagaimana kalau kau yang mengajariku? Aku mohon adikku tersayang ajari aku memasak ne?” Rayu Shinhye memegang lenganku memohon.

Ne eonnie. Bukankah aku sudah bilang akan membantumu. Baiklah kalau begitu nanti malam eonnie tidur di tempat halmeoni saja, bagaimana?” Tawar Jiyeon.

“Aku tidak bisa Jiyeon-ah, eomma pasti akan melarangku.”

Apa sebegitu bencinya eomma sampai melarang eonnie untuk tidak tidur denganku? Sedih Jiyeon dalam hati.

“Bagaimana kalau kamu yang tidur di rumah? Bukankah kau sudah lama tidak pulang ke rumah?” Ajak Shinhye.

“Tapi eonnie aku tidak bisa meninggalkan halmeoni sendiri.” Sebenarnya bukan itu alasan Jiyeon yang sebenarnya ada sesuatu yang tidak Shinhye ketahui.

“Apa kau tidak merindukan rumah? Sudah tiga tahun kau tidak tidur di kamarmu. Kau hanya datang saat acara kumpul-kumpul keluarga saja. Apa kau tidak kasihan pada eomma yang merindukanmu?”

Jiyeon menatap Shinhye tak percaya. “Eomma merindukanku?” Tanya Jiyeon.

Ne. Beberapa kali aku pernah melihat eomma menangis sambil melihat fotomu. Aku juga pernah melihat appa tidur sambil memeluk fotomu. Aku yakin mereka akan senang jika kau pulang. Aku mohon Jiyeon-ah. Bukankah kau bilang mau membantuku?” Pinta Shinhye dengan wajah sok imutnya membuat Jiyeon tak bisa menolak keinginan kakaknya.

“Baiklah eonnie, aku akan menghubungi halmeoni.”

“YEEEE…..” Teriak Shinhye sambil memeluk Jiyeon.

“Tapi kau harus melakukan sesuatu dulu eonnie.” Shinhye melepaskan pelukannya dan menatap Jiyeon penuh tanya. “Eonnie harus mencari tahu masakan apa yang di sukai pujaan eonnie itu. Kalau tidak bagaimana jika nanti kita membuat masakan yang justru membuat orang itu tidak suka, jadi eonnie harus mencari informasinya pada orang yang dekat dengan pujaan hati eonnie itu.”

“Kau tenang saja, aku tahu siapa yang bisa membantuku. Aku akan mencarinya sekarang. Oh ya sepulang sekolah ini kau pulang bersamaku ne? Sampai jumpa nanti.” Ucap Shinhye meninggalkan adiknya.

Setelah Shinhye tidak terlihat lagi Jiyeon mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang yang paling disayanginya. “Halmeoni nanti malam aku akan pulang kerumah appa dan eomma jadi halmeoni tak perlu menungguku.” Ucap Shinhye setelah mendengar sapaan neneknya.

“Apa kau yakin mau pulang ke sana? Kenapa tiba-tiba sekali?” Tanya Moonhee terdengar khawatir.

“Aku yakin halmeoni. Ini juga kulakukan untuk membantu Shinhye eonnie membuatkan bekal untuk orang yang disukainya. Halmeoni kan tahu aku ingin sekali membuat eonnie tersenyum bahagia seperti dulu.” Suara Jiyeon bergetar menahan tangisnya.

“Baiklah kalau begitu hati-hati ne? Jika… jika terjadi sesuatu segera telpon halmeoni.” Ucap Moonhee mengerti keinginan cucunya.

Ne halmeoni. Halmeoni hati-hati di rumah ne?” Pamit Jiyeon.

*     *     *     *     *

“HWUAAAHHH…HAAA….” Tawa Jongin keras saat Myungsoo duduk di sampingnya

Dengan perasaan kesal Myungsoo mendorong dahi Jongin membuat lelaki itu terhuyung ke belakang.

“Apa yang kau tertawakan Jongin-ah?” Marah Myungsoo.

“Benda apa yang ada di dahimu itu Myungsoo-ah.” Myungsoo meraba benda di dahinya dan menemukan benda persegi panjang tipis menempel di dahi lelaki itu. Myungsoo teringat kejadian kemarin saat Shinhye menempelkan plester di dahinya yang terluka.

“Memang kenapa? Bukankah ini hanya plester biasa?”

“Aku tahu benda itu disebut plester Myungsoo-ah. Tapi apa kau tidak lihat gambar plester itu?” Tanya Jongin yang masih tertawa.

“Memang ada gambar apa di plester ini? Boneka?” Myungsoo memang tidak memperhatikan plester ini karena dia pikir ini hanya plester biasa.

“Lebih parah Myungsoo-ah, plester itu bergambar hello kitty. Apa itu dari kekasihmu Myungsoo-ah?” Tanya Jongin dengan tatapan jahilnya.

Aniyo ini dari yeoja yang kutolong kemarin.” Jawab Myungsoo seraya melepaskan plester dari dahinya.

“Benarkah? Aku tidak percaya.”

“Terserah. Jika kau tak percaya.” Myungsoo membuang plester itu setelah melihat gambar hello kitty di plester itu.

Annyeong hasseyo Myungsoo-ssi.” Myungsoo kaget melihat gadis yang memberikan plester itu sudah berdiri di depan mejanya dengan kruk yang masih setia dibawanya.

“Apa yang kaulakukan di sini?” Tanya Myungsoo dingin.

“Aku hanya ingin tahu keadaanmu saja. Apa lukamu sudah tidak apa-apa?” Tanya Shinhye saat tak lagi melihat plester di dahi Myungsoo.

Myungsoo hanya bergumam menjawab pertanyaan Shinhye. Jongin menggelengkan kepalanya melihat betapa dinginnya sahabatnya itu pada seorang gadis cantik seperti Shinhye. “Aiigo Myungsoo-ah kau ini dingin sekali pada seorang yeoja?”

Tatapan Jongin beralih pada Shinhye dan senyuman langsung muncul di wajah lelaki itu namun sayang Shinhye mengacuhkannya.

“YA! Kau mau ke mana Myungsoo-ah? Bukankah Shinhye mencarimu?” Tanya Jongin melihat  pergi.

“Kau saja yang menemaninya aku masih ada urusan.” Jawab Myungsoo tanpa menengok ke belakang.

Meskipun sebenarnya Shinhye tidak bermaksud menemui Myungsoo tapi tetap saja sikap dingin lelaki itu membuat gadis itu kecewa.

“Shinhye-ssi kau tidak apa-apa?” Tanya Jongin melihat ekspresi sedih Shinhye.

“Tidak apa-apa. Sebenarnya aku kemari bukan untuk menemuinya tapi aku ingin bertemu denganmu.”

“Denganku? Apakah hal ini berkaitan dengan Myungsoo lagi?” Shinhye mengangguk penuh semangat namun hal itu justru membuat Jongin me ghela nafas berat. “Sebaiknya kau menyerah saja Shinhye-ssi.”

“Mengapa kau berkata seperti itu Jongin-ssi. Apa kau melakukannya agar aku bisa menerimamu sebagai kekasihku?”

Jongin menggelengkan kepalanya. “Aniyo. Aku mengatakannya agar kau tidak sakit hati karena sepertinya Myungsoo sudah memiliki kekasih.”

“Aku tidak pernah mendengar kabar seperti itu.”

“Memang belum ada kepastiannya tapi Myungsoo pernah bertanya padaku tempat apa yang disukai yeoja.”

“Aku tidak akan menyerah sebelum aku melihat sendiri yang bersama yeoja itu.”

“Baiklah. Apa yang bisa aku bantu?”

“Aku ingin bertanya apakah kau tahu makanan kesukaan Myungsoo?” Shinhye membuat lelaki  itu menaikkan sebelah alisnya.

“Setahuku suka masakan rumahan dan tentu saja yang pasti paling disukainya adalah kimchi.”Jelas Jongin.

Gomawo Jongin-ssi.”Dengan hati yang senang aku meninggalkan lelaki itu.

*     *     *     *     *

“Jiyeon-ah ayo.” Ajak Shinhye menjemput Jiyeon di kelas.

Ne eonnie. Aku pulang dulu Junghwa-ya sampai jumpa besok.” Jiyeon mengambil tasnya lalu meninggalkan Junghwa yang duduk di sebelahnya.

“Ayo eonnie.” Jiyeon menggandeng lengan Shinhye yang bebas dari kruk.

“Aku sudah mendapatkan informasinya Jiyeon-ah.” Cerita Shinhye sambil berjalan.

“Benarkah? Lalu informasi apa yang kau dapatkan eonnie?”

“Tidak ada yang spesial dari makanan yang disukainya karena dia suka masakan rumahan apapun yang jelas harus ada kimchinya.” Jelas Shinhye sesuai dengan informasi yang di dapatnya dari Jongin.

“Baguslah kalau begitu aku tidak terlalu susah memikirkan apa yang akan kita masak.”

Ne. Ahh..itu jemputan kita sudah datang. Hari ini eomma tak bisa menjemput ada urusan jadi sang sopirlah yang menjemput kita. Ayo.” Ajak Shinhye menuju mobil yang biasa menjemputnya sepulang sekolah.

Di dalam mobil kami berdua tak henti-hentinya bercerita mengenai ayah, ibu, pujaan hatinya dan teman-temannya. Sedangkan Jiyeon saat ini sangat gugup memikirkan bagaimana reaksi ayah dan ibunya saat melihat dia pulang ke rumah. Apa mereka akan senang atau justru sebaliknya? Pertanyaan itu berkeliling memenuhi otak gadis itu.

Tanpa terasa mobil Audy hitam itu sudah memasuki halaman rumah keluarga Park yang luas. Jiyeon berusaha keras menahan air mata akibat kerinduan yang amat dalam. Meskipun tiga bulan lalu dia kemari karena acara keluarga namun rasanya berbeda jika gadis itu pulang tanpa diundang.

Sesampainya di depan rumah besar bercat kuning gading, Shinhye segera mengajak adiknya turun. Memasuki rumah itu Jiyeon melihat tidak ada yang berubah sejak  tiga bulan lalu. Dari ruang tamu Shinhye langsung mengajaknya ke kamar yang dulu ditempati adiknya itu. Nafas Jiyeon tercekat saat melihat tidak ada yang berubah dari kamar yang bernuansa kuning itu. Perlahan gadis itu mengelilingi kamar yang sudah tiga tahun ini tak dipakai.

Eomma selalu menyuruh orang untuk membersihkan kamar ini. Jadi meskipun kau tidak lagi tidur di sini tapi kamar ini tetap bersih.” Ucap Shinhye yang sudah duduk di kasur.

Eomma yang menyuruh orang membersihkan kamar ini?” Ucap Jiyeon lagi-lagi tak percaya dengan apa yang didengarnya.

Ne. Meskipun eomma tidak pernah mengatakannya tapi aku tahu kok. Sebenarnya eomma juga sering datang ke kamar ini meski tidak mau mengakuinya.” Jika bukan Shinhye yang mengatakannya Jiyeon pasti tidak mau mempercayainya.

“Istirahatlah dulu jika kau lelah, aku mau mandi dulu ne?” Tanpa menunggu jawaban dari adiknya, Shinhye meninggalkan Jiyeon  yang masih sibuk bernostalgia dengan kamarnya.

*     *     *     *     *

Siangpun berganti malam, namun kedua gadis yang sedang asyik bercerita di ruang keluarga tampak tidak peduli waktu berlalu dengan cepat. Tiba-tiba suara klakson menghentikan obrolan mereka yang diselingi dengan tawa.

“Itu appa dan eomma sudah pulang, mereka pasti senang melihatmu pulang.” Ucap Shinhye  penuh semangat.

Dari wajah gugup Jiyeon sepertinya gadis itu masih meragukan ucapan kakaknya. Kedua gadis itupun berdiri saat suami istri keluarga Park memasuki ruang keluarga. Raut wajah terkejut menghiasi wajah sepasang suami istri itu saat melihat Jiyeon yang tersenyum canggung pada kedua orang tuanya.

“JIYI-AH!!!!” Teriak Yoochun yang langsung menghampiri anak bungsunya dan memeluknya erat. Jiyeon pun membalas pelukan ayahnya dengan sama eratnya.

“Apa merindukanmu Jiyeon-ah, akhirnya kau pulang juga ke rumah. Bagaimana kabar halmeoni?” Tanya Yoochun melepaskan pelukannya.

Halmeoni baik-baik saja appa.” Ucap Jiyeon senang mengetahui ayahnya merindukannya.

Namun senyumnya tak bertahan lama saat melihat ibunya hanya berdiri mematung melihatnya. Yoochun yang menyadarinya langsung mengikuti arah pandang anaknya.

“Kau tak ingin memeluknya Taehee –ya?” Tanya Yoochun pada istrinya.

“Aku lelah, aku ke kamar dulu.” Ucap Taehee tanpa menghiraukan Jiyeon yang menatapnya sedih.

“Sudahlah tak usah kaupikirkan. Eommamu sangat lelah karena sibuk mengurusi fashion show yang akan diadakan beberapa minggu lagi. Apa kau sudah makan?” Tanya sang ayah mengalihkan perhatian Jiyeon.

“Aku menunggu appa untuk makan bersama tadi aku memasak soup….. kesukaan appa.” Senyum Jiyeon menjawab pertanyaan ayahnya.

“Benarkah? Akhirnya appa bisa kembali makan masakan buatan anak appa yang cantik ini.” Yoochun mengacak-acak lembut rambut Jiyeon.

“Kenapa kalian melupakanku?” Tanya Shinhye yang sedari tadi diam.

Appa tidak pernah melupakan kedua anak appa yang cantik ini.” Yoochun mengacak lembut rambut Shinhye membuat mereka bertiga tertawa senang.

Meskipun Jiyeon masih sedih dengan sikap dingin ibunya namun gadis itu terhibur dengan reaksi ayahnya yang senang melihatnya bisa pulang kembali.

*     *     *     *     *

Eonnie bagaimana kau bisa menyukai namja pujaanmu itu?” Tanya Jiyeon saat mereka berdua berbaring di kamarnya. Shinhye bilang karena adiknya itu hanya tinggal sehari saja maka dia tak mau kehilangan kesempatan untuk bersama Jiyeon jadi dia ingin tidur bersama.

“Entahlah aku juga tidak tahu kenapa aku bisa jatuh hati padanya, padahal dia bukanlah namja yang kuimpikan tapi saat berada di dekatnya jantungku selalu berdetak lebih kencang apalagi saat dia dua kali menolongku.” Cerita Shinhye sambil menatap langit-langit kamar.

“Menolong eonnie? Memang eonnie kenapa?” Tanya Jiyeon.

“Pertama dia menolongku saat aku hampir saja terjatuh. Kedua saat aku sedang menjalankan rencana pertama kita dia menolongku dari penjahat yang hendak berbuat hal yang tidak baik padaku. Bahkan dia sampai terluka karena menolongku.”

Tiba-tiba Jiyeon teringat alasan Myungsoo berkelahi karena menolong seorang gadis yang hampir saja diperkosa. Apakah yeoja yang dimaksud adalah Shinhye eonnie? Jika memang benar Shinhye eonnie berarti namja pujaan eonnie adalah Myungsoo? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menerus memenuhi pikiran Jiyeon.

“Apakah eonnie memberinya plester?” Jiyeon melihat kakaknya sedikit kaget mendengar pertanyaannya.

Ne. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Bukankah eonnie selalu memberi plester jika ada seseorang yang terluka jadi aku hanya memastikannya.” Jawab Jiyeon tersenyum kikuk.

“Lalu kapan eonnie akan memberikan bekal yang eonnie buat?” Tanya Jiyeon mengalihkan pembicaraan.

“Besok saat istirahat pertama aku akan memberikannya di taman belakang sekolah.” Shinhye tampak senang membayangkan apa yang akan dilakukannya besok.

Untuk memastikan lelaki yang disukai Shinhye, Jiyeon berencana untuk melihatnya diam-diam. Dia penasaran apakah lelaki itu adalah Myungsoo atau tidak.

*     *     *     *     *

Shinhye berjalan menuju kelas dimana Myungsoo berada. Tangannya menggenggam erat kruk yang dipakai. Gadis itu benar-benar gugup menghadapi lelaki yang hendak ditemuinya. Sesampainya di depan pintu kelas dia melihat lelaki yang dicarinya sedang berbicara dengan sahabatnya Jongin. Shinhye menghembuskan nafas panjang sebelum memasuki kelas itu dan menemui Myungsoo. Dia melihat lelaki itu berhenti berbicara saat menyadari Shinhye berdiri di depan mejanya.

“Myungsoo-ssi bisakah kita berbicara sebentar?” Ucap Shinhye gugup.

“Bicaralah.” Jawab Myungsoo dingin menambah kegugupan gadis itu. Apalagi melihat semua teman-temannya melihat gadis itu dengan pandangan ingin tahu.

“Bisakah kita berbicara di tempat lain? Aku merasa tidak nyaman berbicara di sini.”

Myungsoo melihat teman-temannya yang langsung melanjutkan kegiatan mereka kembali saat lelaki itu menatap mereka dengan tajam.

“Aissshh… Baiklah, ayo.” Dengan malas Myungsoo mengikuti Shinhye menuju tempat yang sudah direncanakannya.

*     *     *     *     *

Jiyeon melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Ini sudah 10 menit gadis itu menunggu kakaknya yang tak kunjung datang padahal 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Saat ini Jiyeon sedang bersembunyi di balik pohon besar yang ada di pinggir taman belakang sekolah. Seperti rencananya gadis itu ingin memastikan siapa lelaki yang disukai kakaknya.

“Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan aku tidak punya banyak waktu.” Jiyeon mendengar suara seorang lelaki yang sangat tidak asing di telinganya.

Jiyeon mengintip dari balik pohon itu dan jantung gadis itu seolah berhenti berdetak saat melihat kekasihnya berdiri dengan malas di depan Shinhye yang tersenyum senang. Tebakan Jiyeon tepat. Lelaki yang disukai Shinhye adalah Myungsoo. Meskipun gadis itu sudah memiliki firasat seperti ini namun tetap saja gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tiba-tiba kaki Jiyeon melemas dan tak mampu menahan tubunya sehingga gadis itu terduduk di bawah pohon. Air matanya mengalir dengan sendirinya.

“Ba-bagaimana bisa kami menyukai namja yang sama? Kenapa hal ini harus terjadi Tuhan? Apa belum cukup penderitaan yang kurasakan selama ini? Apakah aku harus mengalah lagi?” Gumam Jiyeon.

Lama berselang tak terdengar lagi suara seseorang. Jiyeon bangkit berdiri dan menghapus air matanya yang mengalir deras. Dia mengintip sekali lagi namun tak melihat seorang pun berdiri di sana. Dengan lemah gadis itu melangkahkan kakinya menuju atap sekolah, sekali ini saja dia ingin membolos atas keinginannya sendiri.

*     *     *     *     *

Kemana yeoja itu? Daritadi kuhubungi tapi tak satupun diangkatnya. Apa dia berada di atap? Tanya Myungsoo dalam hati.

Ini sudah ke 50 kalinya lelaki itu menelpon Jiyeon namun hasilnya tetap sama. Myungsoo cemas jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu.

“Aku harus mencarinya” Myungsoo berdiri dan berjalan keluar kelas.

“Mencari siapa Myungsoo-ah? YA!! Kau mau kemana? Sebentar lagi Han sonsaengnim akan datang.” Teriak Jongin namun Myungsoo tak menghiraukannya, dia segera berlari meninggalkan kelas menuju atap sekolah.

Lelaki itu tak mempedulikan pelajaran selanjutnya, yang dia pikirkan saat ini adalah gadisnya. Setelah berlari dari kelas menuju atap sekolah dengan menaiki 2 lantai akhirnya lelaki itu sampai di atap dengan nafas yang terengah-engah. Pintu berwarna coklat itu dibuka dan Myungsoo melihat gadis yang dicarinya duduk dengan  memeluk lututnya menyembunyikan wajah di dalamnya. Hal ini mengingatkan lelaki itu saat pertama kali melihat gadis itu.

“YA!! Kenapa kau tak menjawab teleponku?” Tanya Myungsoo mendekati kekasihnya.

Jiyeon mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu dengan mata yang basah karena air mata. Myungsoo yang terkejut langsung duduk dihadapan gadis itu. Kedua tangannya menangkup pipi Jiyeon dan menyingkirkan  air mata itu.

“Ada apa denganmu Jiyeon-ah? Apa terjadi hal yang buruk?” Tanya Myungsoo khawatir.

Tak ada jawaban dari Jiyeon. Yang ada hanya isakan tertahan yang didengar oleh Myungsoo. Myungsoo semakin khawatir melihat ir mata kembali keluar dari mata kekasihnya.

“YA! Jiyeon-ah, tidak bisakah kau menceritakannya pada kekasihmu yang tampan ini?”

Myungsoo sedikit lega melihat gadis itu tersenyum meskipun hanya sekilas.

“Bagaimana bisa kau bercanda di saat seperti ini? Dasar bodoh.” Jiyeon mengerucutkan bibirnya membuat Myungsoo tak tahan untuk menciumnya.

“YA!! Kau mau apa eoh?” Waspada Jiyeon.

“Tentu saja menciummu. Salah sendiri kau memasang bibir seperti itu.”

Jiyeon memberi sentilan di dahi lelaki itu. “Dasar mesum. Apa kau tidak lihat suasana hatiku sedang buruk?”

“Kalau begitu katakan padaku apa yang membuat suasana hatimu menjadi buruk.” Kali ini nada suara Myungsoo terdengar serius.

Jiyeon menatap wajah Myungsoo yang sedang menanti jawaban atas pertanyaannya. Gadis itu ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Tapi jika dia mengingat kakaknya yang juga menyukai Myungsoo ada keinginan besar untuk mengatakannya.

“Myungsoo-ah maukah kau melakukan sesuatu untukku?” Tanya Jiyeon dengan wajah penuh harap.

“Tentu saja. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Jadi katakanlah.”

Jiyeon merasa senang mendengar ucapan Myungsoo namun tetap saja ada kesedihan di hatinya karena keinginannya sangat bertentangan dengan hatinya.

“Aku pernah mengatakan padamu kalau aku punya seorang eonnie bukan?” Jiyeon melihat Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Nama Eonnieku adalah Park Shinhye.”

Wajah Myungsoo sedikit terkejut lalu tak lama kemudian ekspresi itu menghilang karena bagi lelaki itu nama Shinhye tidak terlalu penting baginya.

“Lalu apa maksudmu menceritakan eonniemu? Apa dia berhubungan dengan permintaan yang kauinginkan?”

Tampak Jiyeon menganggukkan kepalanya lemah. “Permintaan yang kumaskud adalah…..” Jiyeon menunduk tak ingin keputusannya berubah karena meliht kekasihnya. “Aku… Aku ingin kau menjadi kekasih Shinhye eonnie.”

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong. Bahkan Myungsoo terbengong mendengar permintaan kekasihnya yang tergolong tidak wajar. Bagaimana bisa kekasihnya itu meminta dirinya untu menjadi kekasih gadis lain.

“Apa kau sudah gila HUH? Apa kau sadar dengan permintaanmu itu HUH?” Bentak Myungsoo membuat gadis itu beringsut.

“Aku tidak gila. Tapi kesadaran itulah yang membuat aku memintamu untuk menjadi kekasihnya.”

Myungsoo memegang bahu Jiyeon dan mengguncang-guncangkannya keras. “Apa kau sadar aku adalah kekasihmu. Bagaimana bisa kau memintaku untuk menjadi kekasih yeoja lain? Alasan apa yang membuatmu tiba-tiba meminta hal gila seperti itu HUH?”

Jiyeon melepaskan kedua tangan Myungsoo dari bahunya dan menatap mata kekasihnya dengan tatapan sedih.

“Karena rasa bersalah.”

“Apa?” Myungsoo mengerutkan dahinya.

“Karena rasa bersalahku pada eonnie yang mendorongku untuk meminta hal ini. Sebelum kecelakaan yang menimpanya, dulu eonnie adalah penari balet berbakat yang pernah kulihat. Saat dia menari dia seperti seorang malaikat yang menari di langit. Tapi karena aku eonnie harus mengalami kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan kakinya.”

~~~FLASHBACK~~~

{3 tahun yang lalu}

Ponsel Shinhye yang berada di atas meja berdering. Gadis yang sedang berbaring di atas kursi seraya membaca majalah langsung meraih ponselnya. Senyumannya mengembang saat meihat nama adiknya tertera di atas layar ponselnya.

“Halo Jiyeon-ah?” Sapa Shinhye.

“Hallo Shinhye eonnie, ini aku Junghwa teman Jiyeon. Eonnie cepatlah ke rumahku, Jiyeon  tiba-tiba pingsan aku takut terjadi apa-apa dengannya.” Ucap Junghwa terdengar panik.

“Apa? Jiyeon Pingsan.” Kaget Shinhye.

Ne eonnie, cepatlah kemari.”

“Baiklah, aku akan segera ke sana. Tunggu aku.” Shinhye menutup telpon itu lalu mengambil tas dan segera pergi menuju rumah Junghwa.

Shinhye mencari sopir yang biasanya mengantarnya namun tak ada tanda-tanda keberadaan sopir itu. Akhirnya gadis itu berlari keluar rumahnya untuk mencari taxi tapi sial baginya karena tak ada satupun taxi yang lewat depan rumah. Karena tak ingin membuang-buang waktu  Shinhye akhirnya berlari menuju rumah Junghwa yang agak jauh.

Sesampainya di jalan raya Shinhye melihat lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau segera dia menambah kecepatannya namun tanpa diketauinya ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju ke arah gadis itu. Mobil itu juga terkejut melihat Shinhye tiba-tiba berlari di depannya, dengan sekuat tenaga mobil itu mengerem mendadak. Namun terlambat karena jaraknya yang dekat tabrakan pun tak dapat dihindari. Dengan keras mobil itu menabrak kaki kanan Shinhye membuat gadis itu terpental beberapa meter kedepan.

Orang-orang yang berada di lokasi kejadian segera menolong Shinhye yang sudah tak sadarkan diri. Lelaki yang mengendarai mobil itu segera keluar untuk melihat gadis yang di tabraknya. Darah mengalir dari pelipis Shinhye, namun hal itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan darah yang berada di kakinya. Dengan sigap namja itu langsung memngangkat tubuh Shinhye yang lemas ke dalam mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.

Di tempat lain Jiyeon yang sebenarnya sehat-sehat saja sedang menunggu kakaknya yang akan segera datang.

“Jiyeon-ah kau yakin tidak apa-apa kita berbohong seperti ini?” Tanya Junghwa yang merasa tidak enak karena harus berbohong pada Shinhye demi melancarkan rencana kejutan ulangtahun Shinhye.

“Tidak apa-apa Junghwa-ya. Shinhye eonnie tidak akan marah jika kita membohonginya.” Jiyeon menenangkan sahabatnya.

Tiba-tiba ponsel Junghwa berdering namun gadis itu mengangkat alisnya saat melihat nama ‘Shinhye eonnie‘ di layar ponselnya. Ragu-ragu Junghwa mengangkatnya.

“Hallo!” Sapa Junghwa.

Jiyeon mengamati perubahan wajah Junghwa yang menjadi pucat, sepertinya ada hal buruk yang baru saja di terima gadis itu.

“Ada apa Junghwa-ya?” Tanya Jiyeon setelah Junghwa menutup telponnya.

“Shi…Shin…Shinhye eonnie.” Ucap Junghwa tergagap.

“Ada apa dengan Shinhye eonnie?” Junghwa hanya terdiam membuat Jiyeon tak sabar. “YA!!! Junghwa-ya cepat katakan ada apa dengan Shinhye eonnie? Jangan menakutiku seperti ini.” Jiyeon mengguncangkan tubuh Junghwa untuk menyadarkan sahabatnya itu.

“Shin… Shinhye eonnie. Dia mengalami kecelakaan.”

Seketika tubuh Jiyeon membeku mendengar jawaban Junghwa. Gadis itu menggelengkjan kepalanya. “Itu..Itu tidak mungkin, bukankah eonnie sedang menuju kemari? Dia tidak mungkin mengalami kecelakaan.” Tanya Jiyeon masih belum mempercayainya.

“Shinhye eonnie mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan, kita harus segera ke rumah sakit Yonsei Jiyeon-ah.” Junghwa menarik Jiyeon yang masih sibuk memikirkan kakaknya.

~~~FLASHBACK END~~~

 

“Kecelakaan itulah yang membuat eonnie harus kehilangan kakinya dan kehilangan cita-citanya untuk menjadi seorang penari balet terkenal. Dan itu semua salahku. Aku yang telah membuat eonnie menderita.” Tangis Jiyeon tak dapat dibendung lagi.

Selama 3 tahun ini Jiyeon hanya menyalahkan dirinya atas kecelakaan Shinhye. Itulah alasan gadis itu selalu menangis di atap. Hati Myungsoo terenyuh melihat kekasihnya memendam kesedihan mendalam seperti itu. Tangan lelaki itu terulur dan  menarik Jiyeon kedalam pelukannya.

“Seharusnya aku tidak membuat pesta kejutan itu Myungsoo-ah. Aku sangat menyesal dan sedih mendengar eonnie tak bisa berjalan normal lagi. Akulah yang sudah membuatnya seperti itu. Aku sangat jahat Myungsoo-ah.” Ucap Jiyeon dalam tangisannya.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Bagaimana bisa kau yang bersalah padahal kau tidak ada dilokasi saat Shinhye  mengalami kecelakaan.” Myungsoo menenangkan kekasihnya.

“Tapi itulah yang dikatakan eomma. Karena aku sudah membuat eonnie panik sampai dia mengalami kecelakaan. Andai saja aku tidak menelpon eonnie saat itu pasti sekarang eonnie tidak akan lumpuh.” Ucap Jiyeon sesegukan.

“Mengapa eommamu justru menyalahkanmu? Itu kan hanya kecelakaan yang tidak disengaja.”

“Karena aku sudah menghancurkan impian eomma untuk bisa membuat eonnie tampil di pertunjukan internasional. Membuat eonnie menjadi bintang dalam dunia balet. Seandainya kecelakaan itu tidak terjadi eonnie pasti sudah menjadi penari balet yang di kenal dunia.”

Myungsoo melepaskan pelukannya dan mengangkat dagu Jiyeon memaksa gadis itu menatapnya.

“Aku rasa eommamu adalah yeoja terkejam di dunia ini. Bagaimana dia bisa setega itu menyalahkan anaknya demi ambisi yang tak bisa dicapainya? Katakan pada hatimu kau tak pernah bersalah dalam kecelakaan itu.”

Jiyeon menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa Myungsoo-ah. Kenyataannya memang akulah yang membuat eonnie kehilangan impiannya.”

Myungsoo melihat air mata terus menerus keluar dari mata gadis itu. Tiba-tiba Jiyeon berlutut di hadapan lelaki itu.

“Apa yang kau lakukan Jiyeon-ah. Berdirilah.” Myungsoo berusaha menarik gadis itu namun Jiyeon bersikukuh tidak mau berdiri.

“Aku mohon Myungsoo-ah. Maukah kau menuruti permintaanku untuk menjadi kekasih Shinhye eonnie? Aku akan melakukan apapun jadi aku mohon Myungsoo-ah.” Mohon Jiyeon membungkuk.

Myungsoo ikut berlutut dan menarik wajah Jiyeon yang basah akan air mata. Lelaki itu harus dihadapkan pada dua pilihan. Menolak atau menerima permintaan kekasihnya. Itu merupakan pilihan yang sulit. Dia hanya menyukai Jiyeon jadi dia tidak ingin bersama dengan gadis lain. Namun dia juga pernah berjanji akan membahagiakan gadis itu. Apa yang harus Myungsoo pilih?

 

~~~TBC~~~

Maaf agak lama Author sibuk banget dengan real life sebagai eomma jadi jarang ada waktu untuk edit atau bikin FF.

 

Advertisements

21 thoughts on “(Chapter 4) Don’t Cry My Lover

  1. hixhix… sdih bgt… apkh myung akn me”nuhi prmntaan jiyeon? andwee… llu gmn dgnmu sndri ji? akn kah kau mnglah dmi kbhgiaan shin hye? tu bkn lah spnuh’y slhmu…;(

  2. ohh jadi lumpuh kakinya shinhye gara2 kejadian kayak gitu, kasian jiyeon jd disalahin begitu sama emaknya.
    dan kenapaaasiih jiyi pake nyuruh myungsoo pacaran sama shinhyee hiiiih
    lanjut baca aahhh

  3. Ah penglihatanku kabur krena nangis.myung jebal jng mau eoh.. Tidak tidak. Nanti jiyi pasti mndrita..andwae…. Pokoknya jangan titik.

  4. tuhhkan… bakal kek gini situasinya, mereka menyukai pria yg sama dan jiyeon harus mengalah lagi. please jgn buat jiyeon smakin menderita, myungsoo juga sumber kebahagian buat jiyeon,, tpi myungsoo sangat mencintai jiyeon, dia pasti mengiyakan permintaan jiyeon,, so apapun pilihan myungsoo, aq harap cinta myungsoo hanya teruntuk jiyeon

  5. duhh jiyeon jgn begitu donk , mending kasih tau shinye dr awal biar shinye gk trlanjur cinta bgt k myungsoo ..
    ntar pura2 jd kekasih malah jd d jodohin lg andwaeee
    eomma jiyeon bneran pernah kangen ma jiyeon? .
    oh ya eomma jiyeon knapa benci ma nenek nya ya?? next dtnggu ya thor , fighting

  6. Aku mohon myung jangan trima prmintaan jiyi ya please…aku gk trima klo myung bakalan pacaran ma shinye😭😭…harusnya taehee gk usah nyalahin jiyi atas kcelakaan shinhye…

  7. aaaaaaaaa tuh kan bener dugaanku😭 jangan myungsoo pliiiiiiiiisss😭😭😭 tapi keknya sih myungsoo bakal ngeiyain permintaan jiyeon. tapi plis sekali lagi plis jangan😭 nanti aku sedih😭 nanti aku nangis😭😭😭 nanti aku bakal makin ga suka sama shinhye😭 jadi jangan yah😭😭😭 *abaikan *ini lebay *dan ini egois banget😂🔫 ditunggu banget lanjutannya kak😊😊😊

    • Yaahh… jangan benci Shinhye yg asli dong author kan hanya meminjam namanya saja…makasih yaa dah sempatin komen nanti klo yg G.R.8.U chapter 9 dah selesai author akan ngebutin part selanjutnya.

  8. myungsoo andwaeeeeee jgn kabulkan permintaan jiyeon yg satu ini,, tp bantulah jiyeon agar shinhye mau melupakan perasaannya padamu myung ,, dan bantulah jiyeon agar taehee tdk terus2an menyalahkan jiyeon atas kecelakaan yg perna terjadi pd shinhye

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s