[FICLET] My Pathetic Life

Oyewyn. K Present

my-pathetic-lifess

Scriptwriter Oyewyn. K || Genre Sad – Slice of Life || Poster Designed By Veokim @ Poster Channel || Starred AOA’s Kim Seolhyun || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers! || Note italic adalah flashback

Is it wrong if i hate my life?

Ada orang bijak yang mengatakan hidup adalah panggung sandiwara. Well, aku setuju dengan hal tersebut, karena memang begitulah nyatanya. Semua orang berlomba menjadi yang terbaik, tak lupa dengan menghalalkan segala cara. Dan aku…. aku adalah korban dari orang – orang itu. Orang – orang yang menghalalkan segala cara untuk berada di puncak, orang – orang yang menjadikanku sebagai pijakan kaki mereka untuk mencapai puncak itu, orang – orang yang dengan hebatnya tertawa bahagia di atas penderitaan yang aku alami karena mereka. Ya, mereka orang – orang sejenis. Orang – orang brengsek yang… entahlah… aku kehabisan kata – kata untuk menggambarkan mereka.

Mungkin banyak di antara kalian yang membaca ini berkata, “Itu adalah kesalahanmu. Kau yang bodoh hingga bisa diperalat seperti itu.”

Atau mungkin ada juga yang berkata dengan kejamnya, “Come on bitch, hidup ini memang keras, nikmati saja penderitaanmu itu.”

Kemudian yang lainnya akan berucap, “Haruskah aku mengasihani dirimu? Seharusnya kau bisa membuat dirimu berharga.”

Dan yang merasa iba hanya berkata, “Kasihan sekali hidupmu itu.”

But, semua perkataan kalian tidak berguna untukku karena kalian tak tahu seburuk apa hidup yang ku alami sampai – sampai aku membenci hidupku ini.

Kau tahu yang namanya teman? Sahabat? Orang yang KATANYA selalu ada untukmu bagaimanapun keadaanmu dan kapanpun kau membutuhkannya. Dulu aku pernah mengira bahwa aku memiliki sosok yang seperti itu, tapi nyata aku salah besar. Dia adalah pengkhianat pertamaku, awal mula kehancuran hidupku, awal mula aku membenci kehidupanku.

Sosok itu seorang laki – laki yang berada di kelasku. Kami berteman karena duduk bersebelahan. Kami akrab satu sama lain, saling menceritakan berbagai hal. Hingga saat itu tiba… saat – saat yang sangat ingin ku lupakan tapi tak bisa kulupakan, ini bahkan melekat erat dalam kepalaku terus berputar berulang kali menjadi mimpi buruk yang menyakitkan.

Minggu ini aku tahu bahwa dia sedang berada dalam kesulitan yang besar, dia bilang keluarganya sedang dililit hutang karena ayahnya. Dan hari ini dia memintaku untuk menemaninya menemui lintah darat yang meminjami keluarganya hutang untuk membayar hutang keluarganya. Ya, tentu saja waktu itu sebagai seorang sahabat dengan sukarela aku menemaninya menemui sang lintah darat. Malam itu kami memasuki sebuah ruangan VIP di diskotik kelas atas yang ada di tengah hiruk pikuk kehidupan malam Seoul, seorang wanita yang sepertinya beberapa tahun lebih tua dari kami menggunakan seragam yang agak seksi mengantar kami ke sana.

“Woahh, uri Min-ie datang juga akhirnya.” Tukas seorang pria, menurutku dia cukup tampan untuk seukuran lintah darat yang selama ini terkesan jelek, brewok berantakan, dan perut buncit yang besar.

“Kau benar – benar bisa membawakan persyaratan yang ku ajukan ternyatan, eoh.”

“Nde hyung.”

Batinku bergejolak, apa yang dimaksud persyaratan yang dikatakan oleh pria itu?

“Hyun-ie, kau tunggu di sini sebentar.” Titah Kim Bum  saat aku akan mengajukan pertanyaan padanya mengenai perkataan lintah darat yang tampan itu.

“Min-ie, aku ikut denganmu. Museowo. Aku takut.”

“Aku hanya sebentar, tunggu di sini, aku akan segera kembali.”

Setelah itu dia benar – benar meninggalkanku sendirian bersama dengan orang – orang aneh yang menakutkan dan bau alkohol. Mencium semua bau ini membuat aku pusing, ditambah lagi dengan Seok Min yang belum juga kembali. Hingga tiba – tiba seseorang membekapku dari belakang, entah kenapa kepala serasa berputar dan perlahan – lahan semua cahaya menghilang.

Aku terbangun di tempat yang tak aku kenal, ini bukan ruangan di diskotik yang tadi aku tempati.

“Min-ie!! Min-ie!! Min-ie!!” Berulang kali kau meneriakan panggilanku untuk Lee Seokmin.

Trang!

Tiba – tiba saja lampu dinyalakan sehingga terasa sangat silau dan menyakiti mataku. Setelah dapat membiasakan mataku aku dapat melihat dengan jelas ada beberapa orang dengan jaket kulit hitam bertampang brengsek, di sana juga ada lintah darat yang tadi serta Lee Seokmin.

“Seok Min, tolong aku. Jebal, lepaskan aku. Ayo, kita pergi dari sini.” Aku memohon padanya dengan airmata yang membasahi kedua pipiku.

Dan dia, orang yang ku anggap sebagai sahabat bersikap tak acuh padaku.

Tiba – tiba lintah darat yang kuyakini sebagai pimpinan mereka itu memberi sebuah isyarat pada Seok Min sehingga dia mendekatiku. Dia menatapku sendu, dengan lembut dia menghapus airmataku dengan kedua ibu jarinya. Tapi entah kenapa tiba – tiba tatapan mata itu berubah. Mata itu menatapku dengan tajam dan menakutkan. Kemudian dia menciumku dengan kasar. Dia bukan Seok Min ku, dia bukan sahabatku. Tak berhenti sampai di situ, dia kemudian menggerayangi tubuhku. Dan malam itu aku habis menjadi santapan mereka, santapan yang dipersembahkan oleh sahabatku sendiri.

Kalian tahu apa yang terjadi setelah itu? Bermingu – minggu aku membolos sekolah karena rasa takut dan sakit yang mendera baik fisik maupun mentalku. Tak habis sampai di situ, Lee Seok Min, laki – laki brengsek itu menjauhiku secara tiba – tiba. Satu hal lagi, setelah memeriksakan diriku, aku dinyatakan hamil sekaligus mengidap HIV. Bodohnya lagi aku memberitahukan hal ini pada laki – laki bajingan itu mengenai hal ini. Kau tahu apa yang terjadi? Tanpa perasaan dia mengadukan ini kepada sekolah dan aku dikeluarkan.

Kau tahu bagaimana rasanya ditolak oleh keluargamu? Kau tahu bagaimana rasanya dibuang oleh keluargamu? Kau tahu bagaimana rasanya tak dianggap oleh keluargamu? Jika kau tidak tahu biar ku beri tahu, rasanya sangat menyakitkan. Sangat menyakitkan hingga kau tidak tahuh lagi bagaimana caranya untuk menyembunyikan rasa sakit itu.

Bagaimana aku bisa tahu? Tentu saja karena aku mengalaminya.

Hhh.. mungkin kalian pernah mendengar ada yang berkata bahwa keluarga adalah orang – orang yang selalu menerima keadaan kalian bagaiamana pun kalian. Tapi aku katakan pada kalian bahwa itu semua adalah bohong. Ingatlah bahwa dunia ini adalah panggung sandiwara, tak terkecuali keluarga. Mereka sama brengseknya dengan orang – orang di luar sana yang tidak mengenalmu. Mereka akan megangkatmu jika mereka membutuhkanmu dan membuangmu begitu saja ketika kau tidak berguna. Itu adalah keluargaku, entah bagaimana dengan keluarga kalian.

Masyarakat mengetahui keadaanku, mereka tahu bahwa aku adalah korban pemerkosaan yang hamil dan tertular HIV. Mereka merasa iba padaku, tapi lebih banyak lagi yang memandangku rendah dan menjijikkan. Keluargaku? Mereka hanya membuat pencitraan diri, bertindak seolah – olah mereka benar – benar peduli dan mengasihiku. Tapi kenyataannya? Semua berbanding terbalik. Di dalam rumah mereka tak lebih menganggapku sebagai sumber penyakit yang harus diasingkan. Mereka membuatku menjadi pembantu yang harus membayar kebajikan dari majikanku. Oh ya, kerap kali mereka menyiksaku dan mencoba menggugurkan janin dalam perutku tapi sayang tak berhasil. Janin itu tetap tumbuh dengan kuat dalam kandunganku. Hingga akhirnya bayi itu berhasil lahir ke dunia ini dan tumbuh dengan baik di dalam penderitaan yang tak seharusnya dirasakan olehnya. Bayi kecilku yang tak berdosa. Bayi kecilku yang akan berakhir sama sepertiku.

Anakku maafkan ibumu yang tak berguna ini. Bencilah aku, dan tumbuhlah menjadi kuat dan kejam meskipun pada akhirnya kau akan meninggalkan dunia ini dengan cepat. Hanya itu pesan yang selalu ku bisikan di telinga bayi kecil kesayanganku.

Itu hanya beberapa dari kisah hidup memilukan yang ku jalani. Hanya beberapa alasan mengapa aku membenci hidup. Jadi, setelah kalian mendengar itu semua… apakah salah jika aku membenci hidupku sendiri?

End.

Absurd sangat. Maaf jika tidak memuaskan. Ghamsahamnida.

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s