Free Spirit [Chapter 4]

FS-Canon

free spirit

The Ark Halla and Seventeen Vernon

Astro Eunwoo and Twice Chaeyoung

Seventeen Wonwoo and Lovelyz J.I.N aka Myungeun

Other cast find it by yourself

Romance, Fluff, School life, AU! | Chaptered | PG-17 (for smoking, kissing, cursing and strange addiction content)

Previous :

1 | 2 | 3

Summary :

“Aku akan terus menggenggammu sebelum kau berubah pikiran.”

.

.

.

Angin sejuk berembus dari jendela berkusen putih yang terbuka sedikit. Menggoyang lembut gorden putih yang memagari jendela serta tirai putih yang mengelilingi sebuah single bed berseprai senada. Chanwoo terduduk bertumpukan dagu. Kendati fisiknya berada di sisi Shannon yang terbaring—hilang kesadaran lantaran dihantam bola oleh Halla—tetapi pikirannya melayang pada satu hari yang lalu.

Chanwoo marah. Ia kesal sampai-sampai tidak sadar telah berlebihan membentak Halla saat gadis itu mencelakai Shannon.

Memorinya masih mengingat jelas insiden yang terjadi di koridor utama Hagnon, sepulang sekolah. Halla, mantan kekasihnya, tengah berciuman dengan Vernon. Pemuda yang Chanwoo kenal sebagai peraih peringkat satu di angkatannya. Kalau mendengar Halla bertengkar atau melihat gadis itu menghisap lintingan nikotin di atap sekolah, Chanwoo sudah biasa. Ia sudah terlampau hafal setiap kenakalan yang Halla lakukan. Tapi sekali pun ia tidak pernah mengira Halla akan berbuat sefrontal demikian—berciuman dengan cowok teladan di koridor sekolah pula. Dan ia melihatnya dengan kedua mata kepalanya bersama Shannon. Gadis blasteran itu bahkan terus-menerus meremas tangannya. Seakan memastikan Chanwoo baik-baik saja seraya memanggil lembut namanya.

“Jung Chanwoo.”

Iya, seperti yang Chanwoo dengar barusan. Eh?

Chanwoo mengerjap, tersadar dari lamunanya dan sontak menoleh ke arah ranjang. Mendapati Shannon yang berusaha bangun terduduk sembari memegangi kepalanya yang berkedut.

“Kau sudah sadar, Shan?” Chanwoo bangkit dan memegang kedua pundak Shannon.

“Kenapa aku bisa ada di sini?” tanya Shannon yang lantas menimbulkan kerutan tipis di dahi Chanwoo.

Dia tidak ingat?, batinnya merujuk pada tindakan Shannon yang memeluknya sebelum hilang kesadaran.

 “Um, tadi kau pingsan jadi aku membawamu ke sini,” terang Chanwoo.

Mendengar penjelasan Chanwoo, Shannon meringis kecil dan  menundukkan wajahnya. ia menangkap jelas kemarahan yang ada di wajah Chanwoo. “Maafkan aku.”

“K-kenapa kau minta maaf?”

“Maaf aku telah merepotkanmu.”

Chanwoo tercenung. Tanpa sadar tangannya terangkat, berniat mengusap ubun-ubun gadis di hadapannya. Namun sepersekian sekon berikutnya ia urungkan.

“Tidak, Shannon. Seharusnya aku yang minta maaf. Kalau kau tidak berpura-pura menjadi pacarku, Halla tidak akan mencelakaimu seperti ini.”

———- free spirit chapter 4 ———-

Chaeyoung menghentakkan kakinya keluar dari ruang Student Council dengan kesal. Ia tidak habis pikir. Setelah perjuangan (bodohnya) memangkas rambut panjang yang dirawatnya dari kelas satu, Cha Eunwoo malah mengira ia sedang patah hati.

Dasar Cha Eunwoo bodoh!! Ugh, aku ‘kan memotong rambut karenamu, bukan karena patah hati, ah, tidak, sekarang aku memang benar-benar patah hati! Hiks, rutuknya sambil—tanpa sadar—menghentak-hentakkan kaki di tempat. Chaeyoung menjulurkan lidah ke arah pintu Student Council untuk mengakhiri sesi kesal-pada-Eunwoo-nya. Baru dirajutnya dua langkah menjauhi pintu saat terdengar—

“CHAEYOUNG!”

—seruan Dahyun dari koridor.

“Oh? Dahyun.” Tanpa menoleh pun Chaeyoung sudah dapat mengenalinya. Memang siapa lagi yang bicara seperti Tarzan kalau bukan Kim Dahyun?

“EH, SEJAK KAPAN KAU POTONG RAMBUT BEGITU?” Belum sempat Chaeyoung menoleh, sudah terdengar teriakan lagi.

Chaeyoung mendadak panik. Ekor matanya melirik pada pintu ruang Student Council yang masih tertutup rapat. “Ssttt…Dahyun. Jangan bicarakan rambutku di sini.”

“HEI, KENAPA BISIK-BISIK BEGITU? AH, JANGAN-JANGAN KAU POTONG RAMBUT KARENA PATAH HATI, YA?”

Dan bersamaan dengan seruan tak diharapkan itu, Cha Eunwoo keluar dari ruang Student Council. Berdiri di tengah-tengah percakapan antara Chaeyoung dan Dahyun yang lebih tepat dilakukan dalam radius sepuluh meter.

“KAU MALU MENGAKUINYA PADAKU, HUH? AISH, KAU INI SEPERTI BICARA PADA SIAPA SAJA, CHAENG?”

Bunuh saja aku sekarang juga, KIM DAHYUUUUNNNN!!!!

***

Senyum lebar masih setia terpatri di wajah Vernon. Manik hazelnya tak bosan-bosan menatap wajah cantik seorang gadis bersurai kelam yang berjalan di sampingnya. Aktivitas yang serta-merta membuat yang bersangkutan, Lee Halla, jengah karena kini Vernon terlihat sinting. Malas membalas tatapan Vernon, Halla melirik pada kepalan tangannya yang tenggelam di genggaman Vernon.

“Hansol Vernon Chwe, lepaskan!” serunya risih.

Saat ini mereka sedang turun dari atap sekolah—setelah, yeah, kalian tahu, pernyataan bodoh itu—saat Vernon tak juga berhenti menggandengnya.

Bukan Vernon namanya kalau menuruti perintah Halla, karena alih-alih melepaskan, Vernon malah mengeratkan genggamannya dengan senyum tolol (di mata Halla) yang semakin mengembang di wajahnya. “Tidak, aku akan terus mengenggammu sebelum kau berubah pikiran.” Agaknya ia belajar dari pengalaman Halla yang tempo hari menyuruhnya menjadi pacar pura-pura namun berubah pikiran setelahnya.

“Aku berubah pikiran.”

“Terlambat, Lee Halla.”

“Ck!” Halla berdecak keras karena mendadak ia menyesali keputusannya untuk berkencan dengan Hansol Vernon Chwe.

***

“Sayang, ini Mama.”

Suara lembut itu menguar bersama ketukan di pintu kamar Sana. Mengalihkan perhatian gadis berdarah Jepang itu dari tumpukkan tugas geografinya. Sana tersenyum lamat sebelum akhirnya bangkit dan memintal langkah ke arah pintu. Senyum cantik dari seorang wanita 40-an menyambutnya ketika pintu sempurna terbuka. Tercium di hidung Sana aroma teh hijau dan brownies panggang dari nampan yang dibawa Mama-nya.

“Mama bawakan snack malam untukmu,” ujar nyonya Minatozaki seperti biasa, kala mengantar makanan ringan saat Sana belajar. “Jangan tidur malam-malam, ya, Sayang.” Nasihatnya begitu nampan yang dibawanya telah berpindah tangan pada Sana.

“Iya, Ma.” Senyuman termanisnya ia berikan, sebelum sang Mama kemudian hilang dari pandangan. Sana kembali menutup pintunya, berjingkat ke arah meja belajar dan meletakkan nampannya di sana.

Sana tidak tertarik menyentuh camilannya. Alih-alih, ia merebahkan tubuh di atas ranjang berseprai baby blue miliknya. Menghabiskan dua jam duduk di depan meja belajar cukup untuk membuat punggungnya terasa pegal.  Sepertinya Sana akan melanjutkan pekerjaan sekolahnya di atas ranjang untuk beberapa jam kedepan. Lengan Sana terjulur meraih buku teks Geografinya saat terdengar deru motor dari rumah sebelah. Tahu siapa pemiliknya, Sana berjingkat cepat menuju jendela kamarnya. Mengamati si pemuda tetangga yang baru pulang, terlihat kesal dan masuk dengan terburu-buru. Manik mata Sana masih setia mengawasi rumah berlantai dua di sebelah rumahnya sampai jendela yang berada tepat di hadapannya mendadak terang. Pemuda itu telah sampai di kamarnya. Maka secepatnya Sana meraih sketchbook miliknya yang tergeletak di atas ranjang dan menuliskan sesuatu. Tepat saat putra keluarga Wen itu menyibakkan tirai, Sana mengacungkan sketchbook ke arahnya dari balik jendela.

“Kau baik-baik saja?” tulis Sana.

Junhui menyibak tirainya lebih lebar dan tersenyum tipis. Bertahun-tahun menjadi tetangga, Sana sudah hafal kalau Junhui selalu membuka tirai saat berada di kamar. Entah untuk melihat pemandangan, membiarkan cahaya matahari memasuki kamarnya, atau sekedar bicara dengan Sana.

“Masalah sepele,” balas Junhui menggunakan kertas dan spidol seperti yang Sana lakukan. Sudah bertahun-tahun dan beginilah cara mereka saling bertukar kata.

Kali ini Sana yang tersenyum kecil sebelum lantas kembali menuliskan balasan.  “Semoga cepat terselesaikan.”

Junhui mengusap tengkuknya, “Thanks.” Junhui kembali mendiktekan sesuatu menggunakan gerakan bibir namun Sana terlalu sibuk menunduk pada sketchbook-nya.

Goodnight.

Sana menengadah dan seketika senyumnya sirna mendapati jendela di seberang sudah tertutup tirai. Payah, mengucapkan selamat malam saja Sana tidak bisa. Bagaimana ia mengungkapkan perasaannya?

Kecewa, Sana menyetel lagu salah satu girlband yang sedang booming di sekolahnya, Twice – Ohh Ahh, keras-keras dan menari. Yeah, anggap saja ini pelampiasan stress Sana setelah belajar berjam-jam dan melewatkan kesempatan mengucapkan selamat malam pada pemuda yang disukainya.

Ooh ahh hage!

Ia terlalu asyik sampai tidak sadar kalau Junhui kembali membuka tirainya dan tertawa melihat tingkah Sana. Tanpa Sana sadari ia telah membuat mood Junhui membaik kembali.

***

 “Hai, Sana.”

Sana tidak tahu mimpi indah apa yang menjadi bunga tidurnya tadi malam hingga bisa mendapati Junhui berjalan menghampiri halte yang terletak tak jauh dari rumahnya, tempat di mana Sana duduk saat ini, dengan senyum yang secerah mentari.

“J-jun?” sahut Sana, terkejut saat Junhui mendaratkan bokong tepat di sebelahnya.

“Apa bisnya lama hari ini?”

Pupil Sana melebar. “Kau juga akan naik bis?” tanyanya lagi dengan suara—bercampur logat Jepang—nya yang lucu.

Jun meneleng sedikit dan mengangguk. “Iya, kebetulan motorku rusak dan aku belum sempat membawanya ke bengkel.”

“Oh, kukira kau—”

“Tunggu sebentar.”

Perkataan Sana terhenti karena pergerakan Junhui yang mencondongkan tubuhnya dengan tangan yang menyelipkan surai golden brown Sana ke belakang telinga. Sana tertegun. Sial, mimpi apa sih Sana semalam?

“Kau harus menjepitnya, nona Minatozaki. Angin-angin nakal akan memainkan rambutmu,” canda Junhui. Sana tersenyum, melepas kecanggunggannya sebelum menguap ke udara.

“Apa kau biasa naik bis ke sekolah?” tanya Junhui.

Yeah, begitulah.”

Mendadak Sana merasa lucu dengan situasinya saat ini. Mereka tetangga dan berbicara dengan leluasa saat berdua. Namun jika di sekolah, mereka seperti dua manusia yang tidak saling mengenal atau pun terbilang akrab. Sana juga tidak tahu kenapa mereka seperti ini.

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Kau ‘kan bisa ke sekolah bersamaku.” Perkataan Junhui barusan cukup untuk membuat Sana terkejut.

“Naik motor?”

“Iya, tentu saja.”

“Bagaimana dengan Momo?”

“Momo?”

Astaga, Sana keceplosan! Entahlah, tapi tiba-tiba saja nama itu terngiang di pikirannya. Ugh, apakah Sana salah bicara? Karena, bukankah barusan mereka baik-baik saja—mengobrol dengan akrabnya—namun sekarang Sana malah menyinggung…

“Iya, um…pacarmu.”

Ucapan Sana seperti air es yang menyiram kepala Junhui, karena detik berikutnya pemuda itu membelalak dan merogoh ranselnya dengan panik.

“Astaga! Aku lupa menelepon Momo. Dia pasti menungguku.”

Sana tersenyum kecut. Bodohnya ia lupa Junhui sudah memiliki Momo.

***

Vernon mengulaskan senyum di paras tampannya kala netranya mendapati sesosok gadis bersurai hitam legam berjalan melewati gerbang. Secepat itu pula ia mempercepat langkah dan menyambar salah satu tangan gadis itu yang terbebas. Melebarkan senyum seiring keterkejutan Halla berubah menjadi ekspresi kesal—mengetahui yang menggandeng tangannya adalah Hansol Vernon Chwe.

“Ayo, kita ke kelas sama-sama!” serunya riang dan menarik tubuh Halla yang lebih kecil dari dirinya. Tentu saja Halla kalah. Ia tidak sedang berada dalam mood untuk mendorong atau meninju perut Hansol Vernon Chwe sepagi ini. Selain itu Halla juga merasa ada yang salah dengan dirinya saat ini. Karena alih-alih merasa risih dengan tangan Vernon yang menggenggam tangannya, kenapa Halla justru merasa hangat dan nyaman?

Sayang perasaan itu tidak dapat bertahan lama sampai Seungkwan…

“Hansol Vernon Chwe, kau sudah gila, hah? Kenapa kau menggandeng Lee Halla?”

…berseru heboh mendapati pasangan baru itu melenggang memasuki kelas.

“APA?!”

Yeah, tidak cuma Seungkwan sih. Ekspresi terkejut bercampur tidak percaya juga tergambar hampir di seluruh wajah penghuni kelas.

“Wah, kompak sekali,” Vernon menyahut enteng dan semakin memamerkan senyum bahagianya. Buat Seungkwan bergidik ngeri, serta Halla segera melepaskan diri.

“Hentikan senyum tololmu itu, Hansol Vernon Chwe. Berhentilah bertingkah aneh, kau membuatku takut,” ujar Seungkwan tanpa basa-basi.

Vernon mengernyit memandangi satu-persatu pandangan aneh teman-teman sekelasnya. Mereka menatap dirinya yang bersanding dengan Halla seolah sedang menatap kotoran. Benar-benar pandangan yang merendahkan.

“Memangnya aneh kalau aku menggandeng pacarku sendiri?”

“APA??!!”

Kali ini Halla ikut berteriak…

***

Halla kesal. Benci. Jengkel. Kalau perlu semua kosa kata yang menggambarkan ketidak sukaan akan mulai ia selipkan pada Hansol Vernon Chwe. Vernon Gila! Vernon berengsek! Vernon tolol! Halla benar-benar malu saat ini. Bagaimana bisa pemuda itu mengatakannya di depan kelas. Ugh, Halla benci Hansol Vernon Chwe!!

Halla tidak bisa diam saja. Ia bermaksud untuk mengerjai Hansol Vernon Chwe. Kalau ia tidak bisa memutuskan hubungan ini, biar Halla buat Vernon melakukannya. Memangnya sampai mana batas kesabaran pemuda itu terhadap Halla?

Maka saat pemuda itu pergi ke toilet setelah meletakkan ranselnya, Halla melangkah kea rah mejanya. Membuka resleting ranselnya dan mengambil buku tulis milik Vernon untuk lantas dihempaskan ke tumpukkan sampah di belakang sekolah. Rasakan kau, Hansol Vernon Chwe. Mungkin ini akan menjadi hukuman-tidak-mengerjakan-PR pertama kalinya dalam hidupmu!

Namun, perbuatan Halla berbuah sia-sia. Saat ia kembali ke kelas, pemuda Chwe itu sedang duduk manis di bangkunya. Dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, pemuda itu dapat membuat PR nya lagi.

“Aku masih ingat jawabannya,” ujarnya melihat ekspresi terkejut di paras Halla.

Halla mendengus. Baru saja ia akan melenggang ke kursinya saat Vernon mengamit pergelangan tangannya.

“Bagaimana dengan PR-mu?”

“Aku tidak peduli.” Well, sejak kapan seorang Lee Halla membuat PR?

Vernon bangkit berdiri dan mencubit pipi Halla.

“Hei, kau tidak boleh begitu. Tugas pelajar itu ya belajar! Ayo, sini kuajarkan.” Dan sepersekian sekon berikutnya Vernon menyeret Halla ke kursinya, menarik kursi di hadapan Halla, dan menghadapkan Halla pada buku tulisnya yang masih sebersih seragam siswa tahun ajaran baru. Halla berdesak kesal. Setiap ia akan bangkit berdiri, Vernon akan menariknya untuk duduk kembali. Sial! Vernon kuat sekali.

Tak acuh dengan tatapan membunuh yang Halla layangkan, Vernon terus mengoceh menjelaskan rumus apa yang harus digunakan untuk PR dengan jumlah soal lima butir itu.

“Nah, sekarang coba kau kerjakan.” Vernon mengoper pensil mekaniknya ke tangan Halla dan tersenyum manis. Halla memutar kedua bola mata, muak mendengar celotehan panjang lebar Vernon.

“Huh, seperti ini ‘kan?” Halla mulai menulis. Namun bukannya mengerjakan, Halla malah menyalin jawaban Vernon ke bukunya.

“Jangan menyalin jawabanku, Nona.” Sadar, Vernon segera menutup buku tulisnya yang semula ia gunakan sebagai media menerangkan.

“Ish, pelit sekali sih!”

Seiring kegiatan Vernon menyembunyikan buku tulisnya dan Halla yang mencoba merebutnya, bel tanda dimulainya kelas berbunyi. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik berperawakan mungil melangkah memasuki kelas dan langsung memerintahkan siswa kelas 1-1 untuk mengumpulkan tugas yang diberikannya tempo hari.

Suasana mendadak riuh. Secara bersamaan, siswa-siswi kelas 1-1 berjalan ke depan kelas menyerahkan buku tulisnya. Tak terkecuali Vernon yang sudah kembali ke mejanya untuk mengambil buku tulisnya. Saat melewati meja Halla, Vernon melirik pada buku tulis gadis itu yang sudah terisi jawaban satu soal.

“Hansol Vernon Chwe?” guru matematika itu mengabsen nama siswa yang belum menyerahkan tugasnya. Vernon tersentak dan mengambil buku tulis Halla dengan cepat.

“Tunggu sebentar, Bu. Aku dan Halla akan mengumpulkan.”

“Lee Halla?”

Terlihat jelas sekali kalau sang Guru kaget dengan kemajuan Halla yang kini mengerjakan PR.

“Tapi hanya satu soal, tidak apa ‘kan, Bu?”

***

Myungeun tidak tahu mimpi buruk apa yang menjadi bunga tidurnya tadi malam hingga bisa terjebak di situasi ini. Berada di ruang petak arsip bersama Jeon Wonwoo (hanya berdua, tolong digaris bawahi). Terkutuklah nomor urut absennya yang berada di angka 15 seperti tanggal hari ini. Terkutuklah juga siswa bernomor urut absen 16 yang tidak masuk hari ini. Dan terkutuklah Jeon Wonwoo yang memegang posisi Ketua kelas. Sehingga mau tak mau Myungeun harus pergi piket berdua dengannya. Oh, apalagi yang lebih sial dibanding harus berduaan dengan mantan pacarmu?

Myungeun mendengus kesal. Entah kenapa sudut matanya dapat menangkap Wonwoo yang sedang memerhatikannya. Ayolah, Myungeun tahu kalau rambut pendeknya belum familiar di netra pemuda itu tapi bisakah ia berhenti memandanginya?

“Sebenarnya yang mana map-nya?” Myungeun membalas tatap Wonwoo dengan garang. “Sudah hampir setengah jam kita di sini, Jeon Wonwoo.” Sudah terlampau risih dengan polah Wonwoo.

Tanpa mengalihkan pandangannya, Wonwoo mengusap tengkuk seraya menjawab, “Um, sebenarnya aku juga kurang tahu.”

“Lalu kalau kau tidak tahu, kenapa menawarkan diri untuk membantuku?”

“Karena…aku Ketua kelas?” jawab Wonwoo jujur—namun terdengar tolol di telinga Myungeun.

Myungeun tertawa hambar. “Yeah, kau benar-benar Ketua kelas yang bertanggung jawab.” Sorot manik Myungeun berubah sinis dan ia tersenyum miring. “Sama persis seperti saat kau masih menjabat sebagai Ketua Student Council.” Setelah berkata demikian, Myungeun merajut langkah ke pintu.

“Myungeun, aku…”

“Ada apa memanggilku?”

Terkesiap. Wonwoo segera menahan pergerakan tangan Myungeun yang akan membuka pintu. Membuat pintu yang sempat terbuka sedikit—dan menampilkan sekelebat bayangan manusia yang berdiri di depan ruang arsip—kembali tertutup. Wonwoo memasang telinga dengan awas dan Myungeun menahan napas. Bukan. Bukan karena dua siswa yang sedang bicara di balik pintu, tetapi karena posisi Wonwoo. Pemuda itu kini berada tepat di belakang Myungeun dengan sebelah lengan terulur di samping tubuhnya. Posisi mereka terlalu berbahaya untuk jantungnya.

“Kenapa?” tanya si gadis saat pemuda di hadapannya menoleh ke arah pintu ruang arsip. Aneh, sepertinya barusan ia mendengar suara.

“Tidak, jadi kau mau bicara apa?”

“Um, Kak…kenapa kak Doyoung tidak datang semalam?” Jihyo meremas ujung seragamnya, gugup. Jantungnya bertalu-talu menunggu jawaban si pemuda bernama Doyoung.

“Maaf, semalam aku ketiduran sehabis belajar.” Doyoung mengalihkan pandangan dari puncak kepala Jihyo yang semakin tertunduk. Buat Doyoung tak dapat melihat bibirnya yang ia gigit kuat-kuat. Jihyo menahan napasnya sesaat.

“Oh, begitu…tapi ‘kan kak Doyoung bisa meneleponku setelahnya sehingga aku tidak—”

“Hentikan, Jihyo. Bukankan sudah kukatakan berulang kali kalau aku sibuk? Aku sudah tahun ketiga dan aku harus sering belajar.”

Dada Jihyo semakin sesak. Hingga akhirnya hanya suara lirih yang dapat keluar dari bibirnya.

“Tapi semalam adalah hari ulang tahunku…”

Doyoung mendesah keras. Tidak hanya membuat Jihyo tersentak, namun juga dua sosok yang berdiri di belakang pintu—bersedekap.

“Jihyo, kalau kau seperti ini terus…lebih baik kita putus.”

.

Suara isakkan tak terdengar lagi saat Myungeun menurunkan lengan Wonwoo dari sisi tubuhnya.

“Myungeun…”

“Aku mau kembali ke kelas.”

TBC

picsart_08-02-01.21.27.gif

tyavi‘s little note: terlalu biasa. Lack of Hanon and Chaengwoo moment. Seriously, susah banget nerusinnyaa huhu webe attack dan stuck di beberapa part. Aku juga ngerasa ini narasinya kurang dan…ah sudahlah setidaknya masih bersyukur FS lanjut dan aku juga udah kangen FS ternyata /yhaa/. Kangen chaengwoo juga hmzz ;_;

Advertisements

3 thoughts on “Free Spirit [Chapter 4]

  1. Ini salah satu dari FF ( selain FF Nurama eonni ) yang gw tunggu! ><
    gak berat conflict,..
    ringan, tapi manis.
    betah aja nongkorongin FF-nya ^^
    Gaya bahasanya juga (y) ^^

    keep continue author-nim!^^
    figthing!

    • Hai ^^
      terimakasih banyak sudah menunggu FF ini T^T
      maaf aku telat apdetnya karena kemarin aku sempat hiatus jadi baru sempat post chap 5 sekarang
      eh…tapi ini nanti lumayan berat lho konfliknya…
      wahhh makasihhh ^^
      iyaaa, makasih juga sudah mau membaca dan meninggalkan jejak yaaa ❤

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s