[Oneshot] Gift

GIFT copy copy

Tob present

Ahn Min Ji [OC] – Yonghwa [CN Blue]

Slice of Life, Psycho, AU! – PG-15 – Oneshot

 This fanfiction is dedicated for Oyewn.K

“Hadiah apa yang kau berikan pada Yong Hwa?”

:::

“Jadi, ada perlu apa?”

Min Ji langsung mengeluarkan suaranya begitu si lelaki menduduki kursi di hadapannya. Min Ji benar-benar berusaha mati-matian untuk tidak membalas senyuman kala Yong Hwa menarik kedua sudut bibirnya. Senyuman yang setiap hari akan lelaki itu tampilkan ketika bertemu di koridor fakultas. Ataupun ketika mereka keluar bersama. Menikmati hari laiaknya sepasang kekasih. Tapi itu dulu. Ya. Dulu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Min Ji, Yong Hwa justru mengeluarkan sebaris kalimat yang – Yong Hwa tidak sadari – membuat debaran di jantung Min Ji kian cepat.

“Kau cantik sekali hari ini dengan kemeja abu-abu itu.”

Kau cantik. Iya. Yong Hwa berucap demikian. Min Ji berusaha keras untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang diucapkan Yong Hwa hanya basa-basi semata. Lidah lelaki memang berbahaya. Min Ji harus yakin akan hal itu.

Tenang, Ahn Min Ji. Tenang, ucap Min Ji dalam hati.

Setelah debaran di jantungnya berangsur baik (Min Ji mencubit lengannya), ia berucap, “Dan kau masih pintar memuji, Jung Yong Hwa.”

Lelaki yang saat itu mengenakan kaus biru dongker tertawa. Menarik kedua sudut bibirnya dan menampilkan deretan giginya. Min Ji mengutuk Yong Hwa karena tertawa seperti demikian. Yong Hwa beribu kali lipat lebih tampan ketika tertawa.

“Aku anggap itu sebagai pujian,” ucapnya kemudian. Berikutnya Yong Hwa mencondongkan badannya sedikit. “Apa kau sudah memesan?”

Min Ji mengangguk. “Aku sudah memesan milkshake rasa coklat dan stroberi.”

“Wah pesanan yang seperti biasanya. Terima kasih masih mengingatnya.”

Min Ji mengutuk diri. Ia lantas bersandar sambil mengembuskan napas kasar. Kenapa pula dirinya harus memesan terlebih dahulu? Alangkah baiknya jika ia menunggu Yong Hwa sampai kemudian baru memesan. Bukannya seperti ini. Kentara sekali jika Min Ji masih belum bisa berpaling.

“Aku takut nanti antri.” Min Ji beralasan. Sebenarnya alasan yang kurang tepat mengingat saat itu adalah hari Kamis dan pukul sepuluh pagi. Tidak banyak orang yang datang ke kafe di waktu-waktu tersebut. Tapi, untungnya Yong Hwa tidak berkomentar lagi.

Bukan tanpa alasan Min Ji datang ke kafe. Lelaki di hadapannya, yang sudah tidak pernah bertemu, tidak berkomunikasi, atau bertukar sapa selama dua tahun tiba-tiba mengirim pesan. Mengajaknya bertemu hari Kamis – hari ini – di salah satu kafe dekat Universitas. Harusnya Min Ji menolak, tapi tangannya berkhianat. Perlu dua jam sampai jemarinya mengetik satu kalimat setuju.

:::

Pesanan keduanya datang lima menit kemudian. Satu gelas milkshake coklat dan stroberi. Coklat untuk Yong Hwa dan stroberi untuk Min Ji. Yong Hwa langsung mengambil minumannya lalu meminumnya sedikit.

“Jadi ada perlu apa?” Min Ji belum menyentuh minumannya. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan urusannya lalu pergi dari hadapan Yong Hwa. Secepat yang ia bisa.

Yong Hwa tidak langsung membalas. Ia memilih untuk menyandarkan punggungnya lalu menyilangkan kedua kakinya. Min Ji yang melihat setiap tingkahnya hanya mampu berdecak. Kemudian mengambil ponsel di tas jinjing hitamnya yang ia simpan di pangkuan.

Alangkah tersentaknya Min Ji begitu melihat wallpaper layar ponselnya yang menampilkan fotonya dan Yong Hwa. Dengan buru-buru gadis itu merubah gambar tersebut dengan gambar kucing tetangga sebelah.

Tanpa Min Ji sadari, sedari tadi Yong Hwa pun melihat setiap gerak-geriknya. Dari sejak kedatangannya, saat gadis itu berdecak, sampai saat mengganti wallpaper layar ponselnya. Tidak usah tanya kenapa Yong Hwa bisa tahu. Itu semua dapat terlihat jelas jika di belakang Min Ji ada sebuah cermin, bukan?

“Fotonya masih di simpan, ya?”

Min Ji membeku. Buru-buru ia menyimpan ponselnya ke dalam tas. Gadis itu lantas mengerutkan keningnya. Meminta maksud dari ucapan si lelaki. Yong Hwa mengedikkan bahunya sebagai jawaban.

“Tidak usah malu-malu. Foto itu memang cukup bagus untuk di simpan sebagai wallpaper. Aku tidak keberatan.”

Min Ji berdecak. “Tenang saja. Aku akan hapus nanti.”

“Apa kau yakin dengan nanti? Aku benar-benar tidak keberatan kau menyimpannya. Lagian itu ponselmu.”

Min Ji memutar bola matanya. “Tidak usah berbelit-belit. Cepat katakan apa maksudmu mengajakku bertemu di sini?” Yong Hwa tersenyum sebagai balasan. Min Ji tiba-tiba teringat akan sesuatu. “O, apa ini ada hubungannya dengan ulang tahunmu? Jika ya, tenang saja. Aku sudah menyiapkan hadiah.”

Yong Hwa menarik tas punggung hitamnya yang tadi ia bawa. Lalu mengeluarkan sebuah kertas tebal, menyimpannya di meja, lalu menyodorkannya pada Min Ji.

Min Ji mengambil kertas tersebut. Ia membalik benda tersebut. Menemukan tulisan yang membuat jantungnya seperti berhenti bekerja. Ia tiba-tiba merasa kesulitan napas. Namun kejadian itu hanya berlalu dua detik. Detik kemudian Min Ji mengulas senyum.

“Undangan pernikahan?”

Yong Hwa mengangguk. “Ya.”

“Wah. Selamat. Bertepatan dengan ulang tahunmu.”

“Terima kasih. Kuharap kau mau datang.”

Tingkah Min Ji yang semula kesal seolah hilang begitu saja. Musnah. Setelah mendapatkan kertas undangan itu, ia terus-terusan tersenyum dengan mata bulan sabitnya.

“Akan kuusahakan.” Min Ji mengeluarkan sebuah kotak persegi dari tasnya. Lalu memberikannya pada Yong Hwa. Kotak itu berwarna hitam dengan pita berwarna abu-abu di atasnya. Yong Hwa mengerutkan kening. “Itu sebagai hadiah awal.”

“Ulang tahunku?”

“Terserah mau yang mana. Itu hadiah awal dariku, pokoknya.” Min Ji menarik tasnya. Ia kemudian memanggil seseorang yang sejak tadi sendirian di meja sudut ruangan. Lelaki itu menghampiri tempat Min Ji dan Yonghwa berada.

“O ya, Yong Hwa perkenalkan, ini Jong Hyun. Kekasihku. Kau pasti mengenalnya, kan?”

Yong Hwa tersenyum kikuk. Ia tentu saja mengenal Jong Hyun. Lelaki itu adalah teman seperjuangannya saat kuliah. “Hai Jong Hyun. Sudah lama tak bertemu. Apa kabar? Kenapa sejak tadi tidak bergabung?”

Jong Hyun tertawa renyah. “Aku tidak mungkin menganggu kalian. Selain itu, aku bukan orang yang ingin kau temui, Yong.”

Min Ji menggenggam tangan Jong Hyun. “Yong, aku permisi dulu. O ya, kadonya jangan sampai hilang, ya.”

Jong Hyun lantas menarik Min Ji keluar kafe setelah sebelumnya pamit pada teman seperjuangannya dulu.

Selepas Min Ji dan Jong Hyun pergi, kira-kira setelah lima belas menit berlalu. Yong Hwa mengambil kotak yang tadi diberikan Min Ji. Ia melihat-lihat setiap sudut kotak tersebut dengan rasa ingin tahu yang besar. Berikutnya, kotak tersebut ia buka, dan …

BUM!

:::

“Min Ji, hadiah apa yang kau berikan pada Yong Hwa?” Jong Hyun membuka suara begitu keduanya sudah duduk di kursi mobil. Jong Hyun memasang sabuk pengaman Min Ji, kemudian miliknya. Berikutnya Jong Hyun memacu mobilnya dalam keadaan sedang. Keduanya resmi meninggalkan tempat parkir.

Min Ji menatap keluar jendela dengan sebuah seringaian menghiasi wajahnya. “Hanya sebuah benda.”

Dan bisa meledak.

FIN.

a/n: Yeay! Utangku untuk kak WAO lunas sudah. Sejujurnya aku ngerasa banget kalau ff ini bener-bener gak memuaskan. Tapi, takutnya utang ini tak terbayarkan. Jadi, ya …

Maaf kalau kurang puas. HEHE.

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Gift

    • Ceritanya yang meledak itu api Cinta aku, kak. Gak ding. Wkwk. Mangga i tu terserah kak wao maunya apa huahaha
      Sianida sudah terlalu mainstream wk.
      Hahaha oke, kak💞

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s