SOMETHING ABOUT YOU [Chapter – 5]

some111

SOMETHING ABOUT YOU

By. Mochaccino

Cast . Song Minho feat Bae Jun Hyeon aka. Bae Irene

Support Cast. Nam Taehyun and other

Genre. Romance

Rated.  PG-17

.

.

 

Mino duduk dengan tatapan serius di hadapan Natasha. Dia menyerahkan amplop yang dia dalat dari Irene pada kakak perempuannya  yang misterius itu. Hh, baiklah, mereka berdua ini sama-sama member kesan misterius tanpa mereka sadari.

“Apa ini ?” tanya Natasha bingung.

“Aku tidak tahu. Aku yang seharusnya bertanya padamu Nunna !”  balas Mino tanpa tekanan, lebih memilih untuk menyimak wajah kakak tercintanya.

Natasya menelan salivanya ketika dia melihat dirinya di dalam photo itu. Lalu dimasukkannya kembali gambar itu dan meletakkannya di atas meja dengan senyuman tipis.

“Siapa dia ?” tanya Mino kemudian.

“Kau tahu siapa dia.”  Sahut wanita itu

“Tidak.” Jawab Minog langsung. Rahangnya mengeras.

Natasha menghindari tatapan adiknya.

“Apa ada yang kau sembunyikan dariku ?” serang adiknya lagi

“Tidak ada.” jawab Natasha sambil melangkah ke arah jendela.

“Kau pasti mengetahui dimana dia.”

“Dia siapa maksudmu ?”  memicing gelisah.

“Kau tahu.” balas Mino

“Sudah kukatakan aku tidak tahu. Kau sungguh bodoh, kenapa harus terlibat dengan dia.”

“Lalu kenapa ?”

“Baiklah, sekarang apa yang ingin kau lakukan jika mengetahui anakmu masih hidup?”  Natasha melirik tajam ke arah adiknya.

Sementara Mino tercekat di tempatnya duduk.

“Jadi dia masih hidup. Dan kau menyembunyikan kenyataan ini dariku ?”

“Jesica membuangnya, dan aku yang mengambilnya dari panti asuhan itu. Aku tidak ingin anak itu mengganggu kehidupanmu. Seharusnya kau berterima kasih.”  Natasha terlihat geram.

Namun  Mino tak semudah itu mempercayai perkataan kakaknya

“Aku seperti ini, karena Jesica mengatakan kalau anak itu cacat dan dia membuangnya. Dia jijik terhadap anaknya, anakku. Darahku. Keturunanku. Aku ingin melihatnya !”  Mino begitu berapi-api.

Namun Natasha hanya menghela nafasnya. Dia seakan-akan kesal dan tak bersimpati pada ocehan adiknya.

“Aku mengurusnya dengan baik. Dia yang ada di dalam photo itu adalah pengasuhnya.”

“Di mana dia ?”   desak Mino dengan tatapan sengit

Laki-laki dengan wajah tegas itu menghampiri Natasha yang terlihat ketakutan dengan bidikan tajam sang adik yang memerah— meninggikan emosi.

“Dari mana kau mendapatkan photo ini ?”  Natasha tersenyum pias.

“Seseorang meletakkannya di apartement Irene.”

“Seseorang ?”  menyipit curiga

“Aku tidak tahu siapa.” Lanjutnya sambil menggeleng. Dia meyakini ada hal yang tengah disembunyikan kakaknya dari dirinya. Bukan mengenai anak itu, melainkan sikap yang terlalu ekstrem pada Jesica—

“Apa kau menyewa detektive ?” tanya Natasha.

“Tidak. ”   Mino berbohong. Tentu saja dia menyewa detektive, tapi dia merasa tidak yakin kalau detektive sewaannya itu yang mengirimkan gambar itu pada Irene, karena detektive itu sudah mengetahui dengan jelas alamat apartementnya. Dan jika memang dia yang mengirimkannya, kenapa dia tidak menghubunginya lebih dulu.

Aneh.

“Aku tidak menyangka kau terlalu detail dalam mengatur hidupku. Hingga pada persoalan sperti ini pun kau masih mengurusku. Tidak bisakah kau berhenti, dan membiarkan aku menjalani kehidupanku. Sendiri, aku butuh privasi!”  tegas Mino

Natasha menyeringai.

“Aku bisa melepasmu jika hidupmu sudah membaik. Aku sangat mengkhawatirkanmu hingga ke sumsum tulangku.” Jenis kekhawatiran yang aneh. Mino mendengus lagi,

“Kenapa? aku bukan anak kecil lagi. Kaupun punya kehidupan, kau mempunyai suami, keluarga. Kenapa kau masih campuri kehidupanku.”

“Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan kondisi keluarga kita. Apalagi sejak eomma mengalami gangguan kesehatan. Aku merasa bertanggung jawab atas kehidupanmu, kehidupan eomma , karena aku anak pertama.”  ujar Natasha menjelaskan

“Tapi aku laki-laki. Aku bisa bertahan. “

Tiba-tiba ponsel Mino berbunyi. Laki-laki itu mengangkatnya.

“Song Mino !” sapa suara itu. Dia perempuan.

“Hallo, siapa ini ?” tanya Mino  dengan dahi berkerut. Semakin menambah daftar usia dalam agenda hidupnya.

“Kau pasti tau.” ujar suara itu.

“Tidak. Maaf, aku tidak tahu.” jawab Mino

“Kau melupakan aku Song Mino ?”

“Siapa ?”  tanya laki-laki itu sambil melirik Natasha yang mulai curiga.

“Aku pulang karena aku ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja.”

“Oke, tapi siapa dirimu ?”  tanya Mino lagi. Dia terduduk di sofa bersama Natasha di sisinya.

” Jesica.”

“Jesica ?”  Mino mengulanganya.

“What ? Jesica ?”  Natasha ikut mengulangnya, dan berusaha merebut ponsel itu dari adiknya

“Ya. Ini aku. Apakah kau merindukn aku ?” tanya Jesica dengan nada datar.

“Jesica, aku tidak mengerti dengan dirimu. Kenapa kau muncul lagi ?”

“Untuk kembali dan memperbaiki kehidpan kita. Aku ingin kita bersama lagi. Apa kau sudah menerima kiriman dariku ?”

Mino melihat amplop di atas meja. Jadi kiriman itu dari Jesica, dan dia yang menyelidiki di mana keadaan anaknya.

“Mino, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa yang dia katakan ?” tanya Natasha dengan setengah emosi.

“Katakanlah.”  Mino mengabaikan Natasha

“Tidak dengan cara seperti ini, aku ingin bertemu.”

Mino melirik Natasah yang semakin gusar, wajahnya dialiri berton-ton keringat yang mendadak bercucuran tanpa sebab. Ada apa dengan kakaknya ini..

“BAiklah, aku pun ingin bertemu denganmu. KAtakan di mana aku harus menemuimu.”

“KAu merindukanku?”

“Aku rasa, tidak.”  Jawab Mino lantang.

“Apa karena perempuan itu?”  selidiknya

“Siapa? Natasha?”

“Irene.” Jawab JEsica lirih seolah-olah hancur.

“Jadi kau sudah tau tentang dia?”

“Apa? Siapa ? Mino apa yang dia katakan ?”  Natasha ingin merebut ponsel dari itu. Namun Mino berdiri. Dia menghindari tangan Natasha .

“Aku rasa, kisah diantara kita sudah berlalu. Kau yang meninggalkan aku.”

“Aku tahu, setidaknya kau bisa berpura-pura mengatakan kalau kau merindukan aku,”

“Kau tahu aku bukan laki-laki seperti itu.”

“Ya. “  Mino melirik Natasha yang menjadi cemas. “Song Yeon Soo bersamaku?”  sebut Jesica tiba-tiba.

“Siapa Song Yeon Soo ?” Mino pun melirik Natasha yang tersentak.

“Kau pikir saja sendiri. Aku akan membawaya ke Jepang jika kau tidak mau lagi hdup bersamaku.”

“JESICAAAAA!” teriak Mino kesal.

“Kau tidak usah berteriak seperti itu !” .

Kemudian,

Lenyap.

Suara Jesica lenyap bersama bunyi dengung yang panjang.

Mino teduduk lemas seketika ketika dia mendengar sambungan ponsel itu tertutup begitu saja. Dicobanya untuk menghubunginya balik, namun ternyata tidak diaktifkan lagi.

“Kenapa ? Ada apa ? Apa yang dia katakan ? Mino” Natasha menyerbu dengan pertanyaan bertubi-tubi.

“Seharusnya kau mengatakan sejak awal di mana anakku, sehingga dia tidak bisa mengambilnya!” Mino terlihat lemas namun kondisi jiwanya sungguh di ujung batas. Dia melirik tajam pada Natasha.

“Apa yang dia katakan ? Apakah dia mengambil Yeon Soo ?”  tanya Natasha

“Kau tidak pernah bilang kalau nama anakku adalah Yeon Soo. Apa dia perempuan ?”

Natasha menarik nafasnya dalam-dalam.

“Ya, anakmu perempuan dan dia adalah anak perempuan yang lucu.”

“Apakah dia cacat atau mengalami gangguan ?”

“Siapa yang mengatakan hal itu padamu ?”

“Aku mendengarnya dari beberapa orang yang mengenal Jesica. Apa aku salah?”

“Mino, kau harus mengambil anak itu. Jangan biarkan dia mengambilnya. Yeon Soo adalah keturunanmu.”

“Hhh…sekarang kau berpikir seperti itu. Apa aku tidak salah dengar.”   Mino menggeleng jengah dengan sikap Natasha yang seakan-akan mengesampingkan perasaannya. BAgaimana mungkin dia bisa menentukan kehidupannya hingga seperti ini.

Untuk sekarang ini, Mino tidak bisa menentukan siapa yang harus dibelanya.

JEsica atau Natasha

Keduanya adalah khasus penting dalam hidupnya, juga Yeon Soo.

“Maafkan aku.”   Natasha berpaling resah,

Apakah itu sebuah penyesalan?

Mino tidak melihatnya dengan teliti. Mungkin Natasha sedang bersandiwara lagi.

Kepalanya hampir meledak,

“Aku tidak tahu di mana dia.”  Mino mendengus dengan tatapan nanar. Dia berusaha berpikir. Namun sepertinya Jesica memang kembali untuknya. Dia sudah menyiapkan segalanya, bahkan dia tahu tentang Irene. Apa yang harus dilakukannya.

Laki-laki itu segera berpikir utuk kembali dan berbicara dengan dengan gadis konyolnya itu, karena hanya dialah yang bisa diajaknya untuk berpikir nekat. Paling tidak dia harus mengajak Irene untuk menjadi komplotannya. Hhh…komplotan menghancurkan Jesica dan membongkar rahasia Natasha. Geram Mino dengan sebuah cengiran.

Natasha merinding melihat kesan sinis Mino yang tergambar jelas. Dia berdiri dan mengawasi adiknya itu menenggak satu kaleng bir tanpa jeda, tanpa bernafas .

Satu kaleng bir itu dihabiskannya hingga tak bersisa.

.

.

.

Sudah beberapa hari dia tidak bertemu dengan Mino. Ini membuat Irene gelisah. Membayangkan Mino dalam kesusahan dan dia tidak bisa membantunya adalah sebuah penyiksaan batin.

Di mana Mino, dan kenapa tidak kembali.

Irene merenung di dalam ruangan sepi ini, dan berharap Mino segera kembali. Dia ingin melihat wajah itu. Bukankah baru kemarin saja mereka menjalin interaksi yang manis. Mino semakin terbuka dan menunjukkan keperduliannya, perhatiannya, dan terlbih dia semakin hangat.

Irene tergeletak di atas ranjangnya, dia tak bisa berpikir lagi,

Apakah ini sudah saatnya untuk merasa bahagia.

Mino mungkin tidak akan mengijinkannya untuk bahagia secepat ini. LAki-laki itu selalu dipenuhi tanda tanya.

Bel pintunya berbunyi, dan ketukan itu membuatnya segera berlari ke sana

“Kau dari mana saja?”  dia menghambur dalam pelukan Mino.

Namja itu tersenyum,

“Kau menungguku?”

“Kau pikir saja sendiri!”

Irene tersenyum dengan indahnya ketika ada kuntum mawar yang disodorkan Mino padanya.

“Apakah ini untukku ?” tanyanya.

Mino tidak menjawab, dia hanya menyelipkan kuntum mawar itu di telinga Irene. Tatap matanya tampak meyakinkan, membuat hati gadis konyol itu bergemuruh. Kenapa Mino tiba-tiba menjadi romantis seperti ini.

“Apa kau baik-baik saja ?”  tanya Mino ketika Irene mulai menyangsikan tingkahnya.

“Ya, aku baik.baik saja. Kau kenapa ?” tanya Irene dengan wajah bersemu

“Kau belum tidur ?”  tanya Mino lagi. Irene menggeleng.

“Kenapa kau menjadi seperti ini ?”  Irene menanyakan lagi sikap Mino yang dia rasa janggal. Dia hanya belum terbiasa dengan Mino yang manis.

Namja tampan ini merasa khawatir jika Jesica melakukan sesuatu pada Irene. Mungkin karena itulah dia bersikap seperti ini. Namun apakah Mino sanggub mengatakan kalau Jesica saat ini telah kembali dan menuntut kebersamaan mereka kembali.

Mino mengambil dagu Irene, lalu dikecupnya.

“Aku tidak tahu kenapa aku menciummu.” Bisik namja itu dengan wajah kaku

No reason ,  Just kiss me !” bisik Irene sambil mengalung mesra di leher Mino.

Akhirnya Mino membawa gadis itu  ke sofa. Dia memangkunya, dan membuat Irene semakin memerah karena dilanda perasaannya sendiri. Mereka saling menatap dari jarak yang sangat dekat. Lengan Irene masih berada di leher Mino.

“Akupun tidak tahu kenapa aku bisa seperti ini padamu. ”  bisiknya dalam.

“Tidak usah dipikirkan. Mungkin kau mencintaiku. Namun kau belum menyadarinya.”  Sambut Irene malu

“Kenapa aku mencintaimu, apa hebatnya mencintaimu ?” tanya Mino lagi. Dan Irene tertawa.

“Pertanyaan yang sama yang ada di dalam otakku. Kenapa aku mencintaimu. Dan apa hebatnya mencintai serang Song Mino.”

Mino mengernyit,

“Kalau itu sudah pasti, karena aku adalah Song Mino. Aku punya kharisma yang sangat luar biasa. Pesonaku sungguh tidak bisa di tandingi oleh pria manapun.”

Irene semakin lebar tertawa.

“Baiklah. Aku menyukai pembelaanmu. Aku suka. Jadi aku memang punya alasan untuk mencintaimu, tapi kau tidak punya alasan untuk mencintaiku.”

Mino bungkam dengan mempermainkan bola matanya,

“Apa yang harus kulakukan ?”

“Kau bisa memikirkannya sebelum kita menikah nanti, tapi jika sampai hari pernikahan nanti kau belum menemukan jawaban, maka aku akan menghukummu.”

“Apa kau sedang mengancam seorang Song Mino ?”  Mino mengernyit demi mendengar ancaman itu.

“Ya. Aku sedang mengancammu. Sebaiknya kau pun jangan main-main denganku.”

Lagi-lagi Mino tersenyum. Dia tahu di mana dia bisa beroleh penghiburan ini,   ya… untuk sebentar dia bisa melepaskan kepenatan ini  dengan mencandai Irene.

“Apa yang akan kau lakukan padaku ?”  bisik Mino nakal. Dia sengaja melakukan itu dengan sedikit menggelitik telinga Irene dengan gigitannya.

Gadis itu melebarkan matanya sementara tubuhnya merinding dicandai dengan cara seperti itu. Mino kelihatannya mahir—

Laki-laki penggoda!

“Hm, aku tidak tahu. Kita lihat saja nanti.”  Dengan malu dia  mengerling .

Mino mendekatkan wajah Irene padanya. Dia merasakan hasrat lelakinya ditantang untuk segera melakukan sesuatu pada gadis yang tengah dipangkunya ini.

“Apa kau memoercayaiku ?” tanya namja itu lagi.

“Kalau kau menyuruhku untuk mempercayaimu, maka akan kulakukan.”

“Irene, ada yang ingin kukatakan padamu.”

“Baiklh. Katakan saja, asal jangan membuatku terpisah darimu.”

Mino tersenyum dengan ungkapan yang terdengar possessive itu. Irene begitu terbuka mengenai dirinya dan selalu bersikap apa adanya. Dia tidak sedang berpura-pura atau bersandiwara seperti Natasha.

“Jesica kembali.”  Bisiknya hati-hati.

Irene membeku sebentar. Dia masih meraba maksud perkataan Mino mengenai wanita bernama Jesica yang pernah ada dalam kehidupan laki-laki ini.

“Lalu…?” Irene melepaskan kedua lengannya dari leher sang namja, kemudian menarik nafasnya dalam-dalam sebelum menghempaskannya seiring dia bergeser untuk duduk di sisi Mino.

“Dia ingjn kami bertemu.” Diapun tidak lepas menatap Irene yang tanpa sengaja menunduk.

“Kami ?” tanya Irene

“Ya. Aku, dia dan Yeon Soo.” jawab Mino

“Yeon Soo ? Siapa dia ?”

“Putriku. Anakku. Dia sudah menemukannya.” Jawabnya dengan menggigit lidahnya

Irene berdiri. Dia berjalan menjauh dari Mino, namun tangan Mino  menariknya.

“Aku menyuruhmu untuk mempecayaiku.”  Bisik Mino dengan sedikit perasaan kalut.

“Aku akan mencobanya.” jawab gadis itu.

Mino membawa Irene dalam pelukannya.

“Bantu aku untuk mengambil anakku darinya.”  ungkap Mino kemudian.

“Dia ibunya. Aku tidak berhak, Mino. Kau tahu sendiri mengenai hal itu.”

“Tapi dia sudah mencampakkannya.”

“Itu tidak mengubah apapun. Dia berhak atas anakmu.”

Irene melepaskan dirinya dari pelukan Mino.

“Aku harus beristirahat. Sebaiknya kau pulanglah .”  Irene mengusir dengan halus.

“Bagaimana jika malam ini aku menginap di sini?”

Irene terbelalak. Dia melihat Mino sedang menatapnya serius. Namja bertampang maskukin itu sedang bercengkrama dengan kesenduan yang tengah melandanya.

“Aku ingin bersmamu , malam ini. ”  dengan sedikit mendesah, melumpuhkan gerakan Irene

‘A..a..ku…” Perkataan itu terputus oleh pagutan lembut bibir Mino.  Laki-laki itu perlu menyakinkan Irene malam ini jika dia hanya menginginkan gadis ini untuk bersamanya.

Bukan Jesica.

Irene tenggelam dalam pelukan sang namja. Dia merasakan Mino tengah meyakinkan sesuatu yang ingin diyakininya.

“Please, ..!” bisik Mino diantara kecupan bibirnya di sekujur wajah Irene.

Gadis itu tak sanggub menolak. Dia terbawa arus yang di hantarkan Mino untuk menyeretnya merengkuh jarak yang semakin jauh.

“Mino!” Jiyeon mencoba menolak tubuh yang terpahat alami itu dengan menahan di dada bidangnya, namun justru dia merasa debar jantung Mino merambat dan mengalir menerobos beteng pertahannya melalui telapak tangannya. Siapapun akan segera luruh dalam pelukannya. Irene masih berusaha untuk menolaknya, sehingga wajah itu menjadi sendu. Dia sedih dengan penolakan Irene.

Why ?”  Bisiknya lirih.

“Kau tidak perlu seperti ini, Mino!  Aku sudah sangat senang sikapmu sudah begitu lembut padaku. Kau tidak terlihat seperti monster lagi, walaupun aku cenderung menyukai sosok monstermu. Kau terlihat lebih menantang jika sikapmu seperti Mino yang kukenal beberapa waktu lalu. “

Mino mengernyit dengan sebuah cengiran yang aneh.

“Kau memang mempunyai kelainan, Irene. ” namja brunet itu mengomentari sudut pandang Irene mengenai dirinya.

Gadis itu tersenyum.

“Mino, kau punya hal yang harus kau lakukan.”  tanya Irene mengenyampingkan perasaannya sebentar.

Laki-laki itu mengangguk, dia sangat khawatir Jesica akan segera membawa Yeon Soo pergi atau menelantarkan entah dimana. Dia tidak menyayangi Yeon Soo

“Apa kau pikir Jesica akan memperlakukan Yeon Soo dengan baik ?”  Mino melirik ragu

“Kurasa jika dia masih mempunyai hati seorang eomma, dia pasti akan bersikap layaknya seorang Eomma.”

“Bagaimana jika Yeon Soo ada padaku, apa kau mau memperlakukan dia sebagai anakmu ?”

Irene membelalak. Tentu saja dia terkejut ketika Mino menanyakan hal itu, tapi apakah itu berarti Mino melamarnya. Dia ingin menjadikan Irene sebagai Yeon Soo’s Eomma.

“Mino, bisakah kau lebih specisific lagi mengatakan mengenai hal itu ?”

“Mengenai ?”

Mino tersenyum sedikit menggoda ketika Irene mulai bingung. Mata yang berbicara majemuk, ada banyak pemikiran yang belum menemukan satu kesimpulan. Berbagai asumsi seperti sedang mencari arah. Mino menggeliat dalam jiwanya. Apakah semua ini akan menempuh jalan buntu. Irene adalah destinasi terakhir yang melalui proses kilat. Namun kesan yang di hadirkan sanggub meruntuhkan koloni keangkuhannya yang selama ini menguasainya.

“Mino, apa yang tadi kau katakan ?”

Mino menghindari tatapan itu.

“Yang mana ?”

“Mengenai aku menjadi ibu dari Yeon Soo ?”

Mino menarik nafasnya dan berjalan ke dapur. Dia melihat sebentar pada counter yang telihat sepi. Lalu di liriknya Irene ketika posisinya sedang menunduk. Tatapan matanya sungguh seksi. Gadis itu mendekat.

“Apakah kita bisa makan malam?” tanya Mino. Dia mengalihkan pembicaraan.

“Mino, apa kau lapar ?” Seperti yang Mino duga, Irene mudah sekali dibelokkan. Dia menahan senyumnya.

 Gadis itu melangkah ke arah lemari esnya dan membukanya. Dia mencari sesuatu yang bisa diolah untuk kekasihnya.

“Aku tidak tahu apa kau menyukai nasi goreng atau tidak. Aku tidak mempunyai apa-apa.”  Irene merasa tidak enak.

Mereka saling menatap. Mungkin saling mengatakan hal ini adalah kekonyolan belaka. Menghindari persoalan bukan jalan keluar yang baik. Irene bisa membaca raut itu di wajah Mino.

Dia tidak bodoh.

Namun Mino tidak terlalu memikirkan hal itu. Dia berada diantara ada dan tiada. Tatapannya seperti sedang menatap Irene namun pikirannya melayang pada sesuatu.

Irene mendesah.

Pasti karena Jesica. Kasihan Mino jika harus memilih antara dia dan Yeon Soo. Jelas dia tidak ingin kembali pada Jesica, namun Yeon Soo adalah anaknya. Demi anak yang belum pernah dilihatnya…for God shake! GAdis medesah berat.

Didekatinya laki-laki itu dan memeluknya dengan hangat. Mata mereka bertemu dengan makna yang dalam. Bibir yang sedang terkatub rapat itu membuat Irene tidak kuasa untuk menyentuh dengan jemarinya.  Sangat aneh memperlakukan Mino seperti ini.

Dia seperti singa yang sedang sakit.

Irene memberikan Mino sebuah tatapan yang lembut, kemudian debaran aneh di ruang dadanya itu hadir, lalu berputar diantara diagfrahmanya membuat tubuhnya tertarik semakin dalam dan dalam.

Sentuhan nan lembut, menanjak di kedua lengan Mino , naik dan merangkul manja di leher kokohnya, dan tersenyum. Itu adalah sebuah perasaan yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Indah.  Dan ternyata memberikan ketenangan tersendiri untuk Mino.

“Kau sungguh membuatku merasa nyaman.”‘ bisiknya.

Irene mengerjabkan matanya, dan membuang nafas beratnya yang sejak tadi tertahan tak beraturan. So, diapun merasakan hal serupa.

Namja dengan wajah tegang itu, begitu menikmati kesan kecoklatan yang teduh yang dihadirkan oleh manik mata dan perhatian Irene dalam elukannya. Juga sentuhan lembut itu di tubuhnya. Berkali-kali dia menegaskan di dalam otaknya, bahwa Irene benar.benar menjadi candu yang manis saat ini.

Namun kemudian Irene melepaskan pelukannya. Berjalan agak menjauh. Mino seperti kehilangan, dia merasa belum puas dengan hal itu, dia seperti terjungkal dalam rasa sepi ketika Irene mengambil jarak darinya.

Ditariknya lagi gadis itu ke dalam pelukannya, menekannya ke dinding dengan kedua tangan masuk dalam genggamannya. Sangat dekat.

Nafas yang berat dan aroma yang dihadirkan Mino mulai menguasainya lagi. Keringat, cologne, rokok dan alkohol.  Semua yang Mino miliki sudah terlalu akrab dengan hidupnya. But alkohol? Dia pasti mengkonsumsi alkohol sebelum menemuinya tadi.

Untuk sebentar mereka hanya berdiri dalam posisi yang sangat dekat dengan wajah yang hampir menyatu. Tatapan mereka bertemu kembali satu sama lain, dan bibir yang terbuka itu membuat Irene terus mengarahkan matanya ke sana.

Kenapa dengan bibir itu?

Ada apa dengan bibir itu?

Dia terlihat jauh lebih menantang, berisi dan lembut, warna yang merah kecoklatan dengan texture yang alami.  Shit!  Irene memaki semua godaan ini.

Lemah sudah—

That lips, going to eat me!

Apa yang akan dia lakukan dengan kondisinya yang sungguh menggairahkan itu. Irene hanya berpikir dan terus berpikir. Dia tidak sanggup menerima hal itu jika semua yang dia nikmati saat ini akan hilang.

Kening Mino melekat dengan perlahan pada keningnya. Mempertemukan puncak hidung mereka dan saling mengadu gairah. Satu sama lain mulai terdesak oleh sesuatu yang muncul dari dalam perasaan mereka masing-masing.

Dia mendorong Irene hingga terjepit antara dinding dan bentuk abdomentnya yang padat juga sesuatu yang terasa kian melambung ke  puncak kepalanya. Dia terlihat sangat kuat dan menguasai. Apakah Irene sanggub menghindari semua pesona ini? Desah nafas Mino berkelana di leher dan telinga Irene. Melekat, dengan sapuan tipis tanpa tekanan.

“Mino, kau membuatku merasa ….!”  Mino menggigit lagi daun telinga Irene dengan lembut, menjilatinya dengan ujung lidahnya, juga mencandai dengan sentuhan-sentuhan yang semakin merambah pada bagian sensitivenya.

Irene gemetar dengan  memejamkan matanya.

Dia tidak bisa lagi mengatakan apa-apa setelah Mino memberikan ciuman hangatnya yang penuh dengan gairah. Ciuman yang bukan lagi sebuah kecupan atau permainan bibir, namun Mino membuat Irene hampir kehilangan nafas dengan melumat bibir dan mulutnya . Lidah dan semua yang berada di dalam rongga mulut irene dikonsumsi seolah-olah tiada hari esok lagi.

Jantung berdebar hebat dan mata yang terpejam hanya bisa menikmati bibir lembab dan basah itu dengan putaran putaran misterius di dalam perutnya.

Beberapa menit bermain dengan sloopy kiss dan sentuhan, Irene merasakan Mino mulai mendesaknya. Dia bukannya tidak mengerti dengan maksud Mino, tapi—

“Mino, Kau benar-benar sulit untuk di tolak.”

Laki-laki itu tersenyum lebar sambil membawa Irene terbaring di ranjang.

“Kau bisa menolakku kapan saja. Aku tidak akan tersinggung.”

“Kalau begitu, hentikanlah !”  bisik Irene kemudian. Namun Mino tidak mendengarnya.

“Aku akan pura-pura tidak mendengarnya mulai sekarang.”

Gadis itu tertawa geli. Dia membiarkan Mino memperlakukan dirinya sesuka hatinya. Laki-laki itu sungguh bisa menguasai suasana. Dia membawa Irene masuk ke dalam gairah yang tak bisa dikendalikan.

Beberapa menit kemudian,

Mino menarik selimut hingga menutupi setengah tubuh mereka yang sama-sama terbuka. Gadis itu menangkap wajah Mino yang terlihat membara dengan hasratnya. Irene sempat berpikir bahwa hal itu tidak akan sanggub ditanganinya. Namun ternyata, Mino berhasil membuatnya melihat surga.

“Irene…” Mino mendesahkan namanya dengan indah, menatapnya dengan sayu, juga mendekapnya dengan hangat. Tubuh ini, yang telah bergumul dengannya, juga menjadi gila dalam waktu yang sekejap saja terasa begitu nyaman.

“Mino, rasanya…”  Irene tersipu. Wajahnya memerah saat Mino kembali melakukan penetrasinya.

“Aku tidak mengerti,”  dia menatap Irene, dan langsung membawa gadis itu pada paradigma aneh.

“Mengenai apa?”  Irene mencoba untuk tidak bergerak, tidak mungkin dengan posisi yang seperti ini. Mino terlau berkuasa atas tubuhnya. Rasanya seperti sedang berada di pinggir tebing yang tinggi. Irene merasa hampir terjungkal, namun Mino mengulur waktunya.

“Apa yang telah kau lakuan padaku ?”  protes Mino manis dengan tatapan misteriusnya.

 Irene mengernyit dengan pipi yang memerah. Perasaannya sedang melambung tinggi.

“Mino, apa yang sedang kau bicarakan? ”  Irene bernafas dengan berat. Sementara Mino mengulas senyuman hangat. Dia mencandai Irene dengan manis.

“Irene, kau sangat special. “

“I know. “

Gadis itu hanya bisa mendesah dalam pelukan Mino. Malam ini Mino memberikan semua yang Irene inginkan dan sebaliknya.

.

.

.

 

Advertisements

18 thoughts on “SOMETHING ABOUT YOU [Chapter – 5]

  1. iseng cari ff Mino. nemu ini, ceritanya fresh n antimainstream. ketikannya juga rapi n nggak kaku, jadi betah bacanya.. tapi masih ada nama Jiyeon haha jadi agak bingung awalnya.. makin ke sini makin seru.. Mino mabukin banget, aku yang bacanya aja bisa senyum2 sendiri.. authornim kapan ini mau di lanjut? ga sabar banget sama kelanjutannya.. update juseyo banyak yang nunggu kan :*

  2. Oh my God!! Aku baru nemu ff ini dan langsung baca dari chapter 1 sampe 5. Kereeeeen banget. Sukaaaaa sekali!

    Ceritanya original banget. Karakter Mino dan Irene bener2 unik dan beda banget. Dialog2-nya sering bikin ngikik juga. Irene yang jujur dan apa adanya, sementara Mino kalo jawab sekenanya aja.
    Salut ama Irene. Gigih berjuang berhasil melelehkan kebekuan hati Mino. Sweeet!!

    Their relationship is so deep. They are so comfortable and understand each other so well.
    Nunggu update selanjutnya, ya! ^^

  3. Asekk baru aku kmrn komen ini udah publish lagi. Wah bener2 hebat wkkw. Mino so sweet wkwkwk, tp aku takut mino jess anaknya dan irene, entahlah wkwkw. Td sempet kaget sih tiba2 ada kata jiyeon. Langsung mikir siapa nih wkwkk. Semangat nulis ya kak ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s