Something About You [Chapter-4]

some111

SOMETHING ABOUT YOU

By. Mochaccino

Cast . Song Minho feat Bae Jun Hyeon aka. Bae Irene

Support Cast. Nam Taehyun and other

Genre. Romance

Rated.  PG-17

“Irene, apa kau sudah menghubungi pihak gedung ?”  Natasha sedang membolak-balik kertas di depannya. Dia melirik sebentar ke arah assistennya  yang sedang tersenyum tanpa sebab.

“Oh No! Jangan bilang kalau kau dan adikku sudah….”  Natasha melemparkan kertas ke meja Irene

“Ya..kami sudah.” jawab Irene singkat— menggoda.

“Benarkah ?” kali ini Natasha sungguh memusatkan perhatiannya pada sorot mata Irene yang sedang mencandainya.

“Ya, Natasha. Kami memang sudah.” Tegasnya sambil terkekeh

“Damnt you Irene! Jelaskan dengan rinci!”  Natasha menuntut dengan cengiran.

“Di atas kertas ?”

“Jika perlu.”

“Mengenai apa ?” Irene kembali sibuk dengan pekerjaannya.  Natasha yang ditinggalkan dari topik bahasan menjadi blank seketika.

“Bukankah kau tadi mengatakan kalau kalian sudah…sudah apa ?”   kejarnya penasaran.

“Hahaha….!”  tawa Irene membahana.

“Aku sudah mengira, kalau kau hanya mencandaiku.” Bossnya itu hanya mencibir kesal.

“Aku hanya makan malam dengannya, lalu mengobrol banyak…dan…hey, apa kau tidak ingin menangatakan padaku kenapa kau berbohong tentang Jesica. Kau jelas megenalnya. Dan kau tau kalau Mino pernah menjalin hubungan dengannya, dan mereka banhkan mempunyai anak, Natasha !”

Sunyi

Bola kebiruan yang terpancar dari mata Natasha seakan-akan menolak untuk bercengkrama dengan keingintahuan Irene mengenai kejujuran Natasha yang diharapkannya.

“Aku ….”‘ Terpotong oleh kehadiran kehadiran seorang pegawai lainnya yang meminta tanda tangan Natasha. Dia sibuk sebentar dengan beberapa kertas yang disodorkan padanya.

Dan Irene kembali menekuni pekerjaannya.

Dia menghubungi pihak gedung yang tadi di tanyakan Natasha. Memang betul dia lupa melakukannya sebelum kemarin dia diijinkan cuti satu hari oleh Natasha. Ada pekerjaan yang harus dikerjakannya . Urgent. Dan batas waktunya hingga akhir minggu ini. Masalah penyewaan gedung itu tidak mudah. Ya, harus cepat karena jika gedung sudah di tentukan, maka akan lebih mudah merancang acara, dan sebagainya.

“Apa Mino menceritakan sesuatu mengenai diriku ?”  Pertanyaan itu Irene pending sebentar dengan telapak tangannya, karena dia sedang tersambung pada seseorang di ponselnya.

“Baik Tuan, jadi saya harus menunggu hingga nanti sore. Jika ada yang membatalkan untuk acara Minggu depan, maka Saya baru bisa booking ?”‘

Irene menghela nafasnya. Ini kesalahannya. kenapa dia tidak melakukannya kemarin. Sekarang harus mundur lagi. Dia mencari lagi daftar yang lain.

“Dia mengatakan kalau kau terlalu mengatur hidupnya.” Jawab gadis itu kemudian. Natasha mengangkat wajahnya. Dahinya berkerut.

“Oke, aku memang terlalu mengaturnya. Tapi itu kulakukan karena dia terlalu tidak perduli pada kehidupannya. Apa kau tahu dia selalu cuek dengan cara dia berpakaian. Thanks God, sekarang dia bisa berpakaian dengan baik dan benar. Itu karena aku. Aku yang yang selalu menyuruhnya untuk berpakaian rapi. Tadinya dia selalu seenaknya. Dan tidak pernah membuat dirinya terlihat menarik.”

Irene tercengang begitu saja mendengar penjelasan Natasha.

“Oke, itu hanya masalah pakaian. Lalu dengan masalah gaya hidup. Apa kau tahu, tadinya dia seperti apa sebelum dia terlihat sangat disiplin ?

Irene menggeleng lemah

“Dia sangat berantakan. Dia tidak pernah terikat pada waktu. Dia bertindak seolah-olah waktu itu bisa terulang lagi. Dia menyiaka-nyiakan kesempatan untuk belajar piano. dia menyia’nyiakan waktu untuk belajar menyetir, lalu dia selalu terlambat dalam segala hal. “

Irene mulai mencerna sesuatu. Apakah Mino menjadi seperti itu karena Natasha yang mengajarinya. Dalam artian, Natasha sendirilah yang membuat Mino menjadi laki.laki seperti itu sekarang ini.

Dan sekarang Natasha kewalahan karena apa yang telah dia ajarkan menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

“Nath, seharusnya kau bangga, karena dirimulah, Mino menjadi seperti itu.”

“Mwo ?’Aku ?”

Irene menarik segaris senyumnya tanpa ekspresi.

“Sekarang kembali pada masalah Jesica. Apa kau mengenalnya ?’ tanya Irene kemudian.

“Eeeee…..ya. Sedikit. Tapi Mino tidak memperdulikannya sekarang.”

” Tapi anaknya ?”  lanjut Irene.

“Aku tidak tahu mengenai anak itu. “

“Mino mencarinya.”

“Untuk apa ?”  Natasha terlihat geram. Dia tidak suka dengan kenyataan bahwa adiknya itu masih mencari anaknya.

“Apa kau tidak merasa kasihan pada Adikmu ? Dia hanya ingin bertanggung jawab.”

“Konyol !” serbu Natasha.

“Dia sangat mulia.” tegas Irene

“Aku tidak suka dia merepotkan diri dengan hal itu. “

“Aku akan membantunya.”

Natasha terpaku. Dia sedang menghibur dirinya. Sepertinya begitu, karena dia akhirnya mengangguk-angguk sambil menyenandungkan lagu yang tak jelas.

“Ah Irene ! terserah kau saja. “

“Apa kau masih ingin aku melanjutkan misi ini ?” Tanya Irene kemudian

“Kau menyukai adikku, kenapa kau tidak menikahinya saja langsung.”

“Saran yang bagus.”

“Look Dear. Aku akan baik.baik saja seandainya itu bukan Jesica. .”

Irene mengangkat bahunya. Dia sama sekali tidak tahu mengenai Jesica, tapi jika Natasha mengatakan kebenciannya samapai seperti itu, berarti dia , Jesica memang berbeda haluan dengan wanita yang tengah menatapnya itu saat ini

.

.

.

Irene duduk di depan halte bus. Dia melihat jalanan yang padat oleh kendaraan. Di jam pulang kerja seperti ini, dia harus menunggu lebih lama, nomor bus yang akan mengantarnya pulang. Dia ingin segera bertemu dengan Mino.

Semalam laki-laki penuh karakter itu mengajaknya ke suatu tempat di perbatasan kota. Sebuah pusat rehabilitasi anak-anak cacat yang kebetulan mengidap tuna rungu bawaan. Mino pernah mendapatkan khabar kalau anaknya yang cacat itu terlahir tuli.

Oh Tuhan !

Wanita seperti apa Jesica itu. Sudah terlahir cacat, dibuangnya pula dia dalam keasingan dunianya. Pantas saja Mino begitu ingin tahu mengenai anaknya.

Tiiiinnn…Tiiiin….!

Suara Klakson itu membuyarkan lamunan Irene. Dia pikir, karena busnya sudah datang. Namun ternyata, suara itu berasal dari klakson mobil Mino yang sedikit menepi untuk membuat Irene mudah melihatnya.

Lambaian tangannya membuat gadis itu tersenyum bangga. Laki-laki itu kini sudah mulai terbuka padanya. Apakah ini perlu dirayakan dengan segelas anggur. Irene berlari menghampiri dan segera naik ke dalam mobil Mino.

Sebentar Irene merekam aroma maskulin Mino yang bertebaran di dalam mobil. Aigoo! Gadis itu menunduk dengan wajah yang sumringah. Kenapa aroma tubuh namja di sebelahnya ini begitu nikmat. Pikirnya.

“kau kenapa ?” tanya Mino tiba-tiba. Irene menggeleng.

“Kau dari mana ?” tanya Irene kemudian. Dia sudah bisa menguasai dirinya.

“Menemui editorku. ” jawab Mino singkat. Dia berkonsentrasi pada jalanan yang menjadi macet.

“Apa kita akan pulang langsung ?”   Mino menoleh sekilas.

“Apa maksudmu dengan pertanyaan itu. Sudah jelas kita akan pulang.”

Mino bersikeras dengan mengangkat bibirnya sebelah.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita merayakan dulu dengan minum-minum.” ujar Irene menawarkan. Matanya berbinar indah.

“Merayakan apa, Irene ?” Tanya Mino bingung.

“Merayakan hari jadian kita.”  Jawab gadis itu lugas, tanpa tedeng aling-aling. Dia tersenyum manis ke arah Mino. Laki.laki itu menoleh dramatis sambil mengedipkan matanya berkali.kali. Dan Irene berteriak keras.

“Minooooo di depaaanmmuuuuuuu…!”

Cciiiittt…..ciiiiittt….

Brakh !

.

.

.

BRAKH !

Mino membanting pintu apartementnya. Sementara dari luar Irene mengetuk-ngetuk pintu itu sambil mengucapkan maaf, berkali-kali !

“Mino , Maaf!….Maaf !”  ujarnya dengan suara lirih dan manja.

Laki-laki itu masih sedikit kesal dengan insiden tabarakan yang baru saja terjadi beberapa saat lalu. Dan sekarang mobilnya harus berurusan dengan pihak kepolisian. Untung saja penumpang mobil di depannya yang terdiri dari anak-anak TK yang baru saja pulang berpiknik itu tidak cidera sedikitpun.

“Pulang dan renungi perbuatanmu, Irene !”  Mino menegaskan dengan suara yang tenang. Dia tidak terdengar marah. Hanya kesal dan merasa sedikit syok dengan kejadian yang menimpa dirinya.

Bukan kesalahan Irene sepenuhnya.

“Ayo kita merenungi bersama-sama !”  ajak gadis itu dengan mnggaruk-garuk pintu apartemen Mino dari luar.

“Irene, nanti kita bicara lagi kalau aku selesai mandi.”  Namja itu berdiri menatap pintu yang tertutup itu. Dia merasa iba dengan gadis yang sedikit banyak sudah mengalihkan dunianya itu.

“Berapa lama kau mandi ?” tanya Irene lagi.

“Dua jam.” jawab Mino sekenanya.

“Mandimu cukup kama, pastikan keseluruhan dari tubuhmu sungguh bersih.”  Sahut Irene dengan nada manja.

Mino mematutkan mulutnya.

Apa maksudnya dengan keseluruhan tubuhnya harus bersih. Memangnya dia mau apa dengan tubuhnya.

Namja itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusir hawa negative dari otaknya.

Ada sedikit senyum ketika tidak terdengar lagi suara Irene di luar sana. Apakah sekarang gadis itu sudah jinak dan menuruti perkataannya.

Mino berjalan dengan ringan ke arah sofa. Dihempaskan tubuhnya dengan sebuah pemikiran.

Tentang perkataan Irene dengan status mereka saat ini.

Pacaran ?

Kenapa terdengar seperti ungkapan remaja tanggung yang baru mengenal cinta. Pacaran. Agh, kekanak.kanakan sekali.

Tapi Mino tidak berhenti tersenyum, dan sepertinya hanya cicak di dinding saja yang melihat betapa indah senyum Mino malam ini.

.

.

.

BRAKH..BRAKH..BRAKH..

Namja itu mengernyit sempurna ketika dia mendengar pintunya di gedor dari luar. Dia, atau siapapun itu pasti sudah merasa bosan hidup di dunia ini. Terlebih karena dia sudah mengenal Mino. Beraninya dia menggedor pintu berharganya seperti itu. Apa dia tidak tahu kalau di sana sudah disediakan bel, atau paling tidak jika matanya minus setebal pantat botol, dia bisa mengetuk pintu itu dengan baik-baik tanpa harus menyakiti pintu itu atau telinga Mino yang baru saja selesai mandi.

Dengan mengenakan t.shirt oblong dan celana piyama, Mino melangkah untuk mencari tahu manusia tidak sopan yang sudah menganiaya propertynya secara tidak adil itu.

Lalu,

“Hhh…” nafasnya terhempas di depan pintu di hadapan mahluk cantik berambut hitam panjang, bernama Irene yang beridiri dengan wajah panik.

Kenapa Mino tidak merasa heran.

Dia sebenarnya sudah meyakini 100% jika pemilik tangan yang sudah menggedor pintunya itu adalah Irene

“Song Mino!”   sebut Irene dengan menyerobot masuk ke dalam ruangan tamu.

“Yeah, itu memang namaku.”  Sambil memutar bola matanya. Dia tidak berharap secara langsung Irene akan amnesia.

Sementara itu, Irene membawa amplop berwarna coklat yang didekapnya di dada. Mino menghela nafasnya. Diikutinya Irene lalu duduk di sisinya.

“Ada apa ?”  suara Mino terdengar begitu dalam dan merdu di telinga Irene. Gadis itu menatap dengan syahdu. Dia sempat menghilang beberapa detik demi merasakan aroma segar pasta gigi dan wangi sabun yang masih melekat di badan Mino.

Untuk sejenak dia pun menjadi lupa dengan tujuannya. Dia melihat ada air sisa mandi yang mengalir dari kepala Mino yang menganak di dahi kemudian ke pipi lalu turun ke lehernya.

“Irene !”  telunjuk Mino menjenggung kening gadis di sisinya, menyadarkan Irene yang sedang terpesona olehnya itu dengan sebuah cengiran.

“Mino.!”  sebut Irene lagi. Dia merengek

“Aku masih di sini.” jawab Mino santai. Dia menyalakah teve

“Mino, kenapa kau terlihat segar sekali ?”  perntanyaan itu ditanggapi senyuman.

“Aku habis mandi. Apa aku terlihat menarik ?” jawab Mino. Dia menyeka air dari lehernya.

Irene mengangguk sambil menelan salivanya.

“Baiklah aku memang dilahirkan untuk menjadi pria mempesona. Itu apa ?”  tunjuk Mino pada amplop yang di bawa Irene. Dia tidak menggubris keterpukauan gadis itu pada tubuhnya. Walau dalam hatinya, Mino ingin sekali memamerkan lebih jauh bagian mana lagi dari tubuhnya yang bisa membuat Irene terpukau.

Mungkin hatinya…[jangan pikirkan bagian lain]

Mino menyeringai.

Apakah dia sudah menempatkan Irene di dalam hatinya. Apakah hal itu penting jika setiap hari gadis itu selalu mengobrak abrik ruang hatinya dengan sikap konyolnya.

“Amplop.”  Jawab Irene singkat.

“Aku tahu. Isinya apa ? “

“Eum, sesuatu.”

“Penting ?” Tanya Mino Lagi.

Dia duduk bersandar di sofa. Kaki panjangnya lurus hingga ke bawah meja, sementara lekuk tubuh depannya tergambar dengan jelas berliku-liku. Mino terlihat seksi sementara Irene meringis— meleleh. Hentikan itu LAKI-LAKI PENGGODA! Teriak Irene dalam hati sambil mengigit bibirnya.

“Mino, ada sesuatu yang harus kau tahu.” ujar Irene mulai serius.

“Ya. Apakah itu ?” Mino pun ikut serius. Namun nadanya seperti menggoda gadis itu. Dia menyipitkan matanya.

“Apa kau akan terkejut jika melihat isi amplop ini ?”  tanya Irene lagi.

“Mungkin. Apa isinya ?” Tanya Mino penasaran

“Aku tidak tahu. ”  jawab Irene polos

“Hhh…!”  Namja itu menghela nafas panjang…[ya, sepanjang mungkin.]

Lalu membuang pandangan ke sebuah kertas patitur yang biasa dipakainya untuk membuat komposisi lagu. Hanya sebuah hobby sampingan lainnya selain menulis.

Kali ini dia tidak terlalu berpikir banyak mengenai tulisannya lagi. Ada beberapa tekanan yang sedang melanda hatinya sejauh dia mencari petunjuk mengenai keberadaan anaknya.

“Aku tidak ada waktu untuk meladeni kekonyolanmu kali ini !”  Mino berdiri, dia membelalakangi Irene

“Tidak. Ini sesuatu yang penting untuk kau ketahui. Aku tdak tahu dari mana asalnya, namun amplop ini tergeletak begitu saja di bawah pintu. Dan ketika aku mengintip di dalamnya. Ada foto Natasha sedang berbicara dengan seseorang yang tidak aku tahu. “

Mino langsung merebut amplop itu dari tangan Irene. Matanya melahap keseriusan air muka yang disuguhkan gadis konyolnya itu.

“Aku tidak suka jika kau terlalu serius seperti ini. Kau membuatku merinding dengan keseriusanmu itu. “

“Ayolah hanya sekali ini aku berusaha untuk serius.”

Mino menarik isi amplop itu. Hanya sebuah foto Natasha bersama seorang wanita setengah baya. Dia menyerahkan beberapa kantong plastik besar kepada wanita itu.

Siapa wanita itu?

Lalu apa isi plastik yang diserahkannya itu..

Irene ikut meneliti ke dalam gambar yang sedang diperhatikan Mino dengan seksama itu. Garis wajah  Mino semakin menjadi curiga ketika dia menyadari apa isi kantong plastik yang sedang di pegang Natasha, kakaknya itu.

Kepala Irene menghalangi pandangan Mino dari photo itu. Dia mendengus sekali.

“Siapa dia ?” tanya Irene .

“Aku tidak tahu.” jawab Mino

“Apa kau tahu kira-kira siapa yang menyelipkan ini di bawah pintumu. Dan kenapa bukan pintuku ?”  tanya Mino sedikit gusar.

Irene mendelik.

“Mungkin dia salah alamat.” jawab si gadis dengan berbagai kemungkinan.

“Aku akan menanyakannya pada Natasha.”  Mino mengambil jaketnya.

“Aku ikut !” ujar Irene

“Untuk apa ? Ini urusanku. Kau tidak usah ikut campur.” Mino seperti sedang mengusir Irene dari kehidupannya. Wajah gadis itu terpekur kaku.

Namja itu menggigit bibirnya. Dia mendadak merasa bersalah karena membentak Irene dengan kasar.

“Irene, sebaiknya kau tidak terlalu jauh masuk dalam kehidupanku sebelum kau menyesalinya. Aku sudah memperingatkan dirimu, bahwa sifatku sungguh buruk. Aku tidak bisa berkata-kata baik pada siapapun. “

Suara Mino melemah, dan mendekati Irene yang berdiri dengan wajah memelas.  Di ambilnya dagu gadis itu dengan jemarinya.

“Apa kau marah ?”  tanya Mino

Irene menggeleng.

“TIdak. Kau sangat mempesona jika sedang emosi. Aku semakin meyukaimu. Aku benar-benar tergila-gila padamu. Aku mungkin bodoh, tapi bisakah kita menjadi pasangan untuk sekarang ini.”

Mino menjatuhkan rahangnya. Dia tertipu dengan wajah memelas itu. Terbuat dari apa hati gadis di depannya ini. Kenapa dia sungguh kebal dengan perangainya.

“Pasangan. Bukankah kita memang pasangan. Kau yang mendeklarasikannya tadi. Kita ini pasangan.”  jawab Mino dengan menyentil hidung Irene

Irene tersenyum bahagia. Dia memeluk Mino dengan gegas. Dirangkulnya leher namja itu dengan erat.

“Mino! ” Irene menggapai punggung Mino.

“Oke, sudah cukup !”  Mino akhirnya mendorong tubuh Irene sedikit menjauh.

“Aku terlalu antusias!”  jawab Irene senang.

“Aku harus segera menemui Natasha.” Mino kembali berjalan ke arah pintu.

“Tunggu sebentar!”  Irene menarik lengan Mino. Lalu tanpa diduga oleh laki-laki itu, Irene segera mendaratkan sebuah kecupan di pipi Mino.

Good Luck !” bisiknya sambil berlari meninggalkan apartement Mino kembali ke tempatnya.

Aigoo!  pipi laki-laki bertemperament kasar itu memerah. Dia meraba pipinya yang dikecup Irene sesaat lalu. Tentu saja dia terkejut. Wajahnya masih mengejang di tempatnya. Irene sudah berani menciumnya. Dia itu yeoja, kenapa begitu berani bertindak. Mino merasa di rendahkan sebagai laki.laki.

“Irene !”   teriak namja itu kemudian. Irene yang hampir mencapai pintu apartementnya berhenti.

“Apa ?” dia menjawab bingung ketika melihat Mino berjalan ke arahnya dengan begitu menggebu-gebu. Apakah dia marah ?

GAdis itu segera membuka pintu dan berjalan masuk, namun Mino mendorongnya. Dia menahan langkah Irene dengan mengamit lengan gadis itu dan menyandarkannya di dinding pintu yang sudah ditutupnya.

“Mino, apa yang akan kau lakukan? Apa kau marah padaku ?”  Irene membelalak ketika Mino langsung menyumbatnya dengan sebuah ciuman. Melumatnya dan memberikan sensasi hisapan yang begitu kuat. Lalu mempermainkan bibir kenyal Irene dengan giginya, menggigitnya lembut, dan mengulumnya. Saliva mereka bertukar dengan sendirinya. Beberapa detik kemudian Mino melepaskannya. Di tatapnya Irene yang masih terbelalak kaget.

“Aku yang seharusnya memulai lebih dulu. Jadi jangan pernah kau mendahului untuk menciumku! Mengerti !” ujar Mino sambil menepuk pipi gadis itu. “Itu baru sebuah ciuman,” cengirnya penuh kebanggaan. Dia berjalan keluar meninggalkan Irene yang masih termangu bingung. Namun jantungnya sungguh berdebar kencang.

Mino menciumnya. Dia melumat bibirnya seperti ingin melumat hidupnya. Aigoo…kaki Irene gemetar seketika. Bibirnya sedikit terasa sakit, namun nikmat.

Dia tidak bisa menahan senyumannya.

“Ini hebat! Ini hebat !” teriaknya berkali-kali.

Sementara MIno menahan tangannya di dadanya. Wuufff..!  dia merasa jantungnya seperti bertambur ceria. Astaga! apa yang sudah dilakukannya. Kenapa dia tidak bisa menguasai dirnya sendiri. Baru saja dia mencium gadis konyol itu. Oh Tuhan!

Mino melangkah sambil memijat keningnya.

.

.

.

tbc

[makasih karena sudah ada yang ngingetin untuk update ff ini, sebenernya aku udah lupa kalu pernah ngepost ff ini, Pis Lana ^^]

Advertisements

8 thoughts on “Something About You [Chapter-4]

  1. Yaampun dari chapter awal maaf aku ga komen dan baru ini, sumpah ini bagus banget. Aku suka crita kek gini simpel tapi mendebarkan misterius tapi memdebarkan konyol tapi mendebarkan. Gila kan aku waktu baca ketawa ketiwi sendiri. Tapi aku harus nunggu chap berikutnya uu. Sedih…
    Omaigat irene mino, irene dia cewek manis dan minoooo soo sweeet. Asilalah ga nyangka mino bis bersemu tu pipi sama langsung nyium si irene. Aku suka, aku suka scene tabrakan, aku suka semua bagian ceritanya. Lope lope banget kereeennnn

  2. Baru nemu FF ini. Worth reading bangeeeeet. Ceritanya seruuu. Irene yang blak blakan itu sweet banget. Btw, itu anaknya Mino kapan keluarnya yaa?
    Next chapter bikin scene yang sweet lagi buat Irene Mino dong author. Update soon yaa, kita tunggu! Thumbs up!!!!

    • Next aka nada adegan ranjangnya. Huahahaha… /ketawa iblis/ and ga akan aku pewe. Makasih untuk kehadirannya. jadiannya . ya gitu aja, orang deasa ga usa ribet

  3. Alooo jenk Lana… udah lama diriku gak baca epep. Pertama baca epep lagi ya ini. Betewe, itu kok ada nama Jiyeon nyempil yak? Bukankah itu Natasha? sepahamku gitu sih. Eniwe, aku rada bingung bacanya. Hihihi… yawda, keep writing yak jenk. Papay…

    • Ada nama Jiyeon karena tadinya juga ini epep Jiyeon jeng Lay. Makasih udah ikutan bingung, aku sebenernya suka sama epep ini karena tadinya epep Jiyeon Yongguk. Bang Yongguk itu agak mirip dengan Mino, jadi aku jadiin ini sebagai epep Minorene. Aku selalu writing, kalau ga writing tanganku kriting.

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s