[Ficlet] Starlight

1468508748439.jpg

Starlight

©2016 tyavi’s Month of Teenlit

[VIXX] Leo and [Red Velvet] Irene

Collage Life, Romance, Fluff, | Ficlet | G

Soundtrack :

Taeyeon (feat Dean) – Starlight

Summary :

Just looking at you makes joy spread on my lips

.

.

.

Love is amazing

Alkisah, ada dua manusia yang tidak saling mengenal di kampus yang sama, gedung yang sama, jurusan yang sama, dan sesekali berada di kelas yang sama pula. Tak hanya jenis kelamin mereka yang berbeda, dunia mereka pun berbanding terbalik. Si gadis, yang memiliki nama lengkap Bae Irene, dicap sebagai primadona kampus lantaran parasnya yang rupawan. Tak ada sehari pun Irene berjalan sendiri di koridor kampus. Selalu ada perempuan ataupun lelaki yang bertukar senyum dan bercanda ringan dengannya sepanjang jalan. Irene mendapatkan cinta dari semua orang. Beralih pada si lelaki, yang memiliki nama lengkap Jung Leo, dicap sebagai manusia es karena sikap dinginnya.  Tak ada sehari pun Leo tidak berjalan sendirian di koridor kampus. Setiap ada yang menyapanya, Leo tak acuh dan berjalan begitu saja. Jujur saja, Leo itu cukup tampan. Entah mengapa wajah dingin nan misteriusnya itu masih bisa membuat gadis-gadis lain jatuh hati padanya. Tapi banyak yang salah paham atas sikap dinginnya dan memilih untuk menjauh darinya. Kira-kira, bagaimana ya jadinya jika mereka berdua—

“Satu americano.”

“Satu latte.”

—bertemu?

Tertegun, baik Leo dan Irene masih terkunci dalam tatapan satu sama lain. Kalau mendengar mahasiswi lainnya mencoba mengajak Leo bicara, Irene sudah sering. Tapi kalau bertatapan langsung dengan manik kelamnya selama lima detik, Irene rasa ia yang pertama.

“Maaf, tapi tolong ucapkan satu-satu, aku bingung mencatatnya.” Omel bibi di balik konter kafetaria. “Jadi, apa pesanan kalian barusan?” Bibi bertubuh gempal itu mengakhiri perkataannya dengan dehaman demi menyadarkan dua insane yang masih berpandangan di hadapannya.

“A-ah, itu, satu latte tanpa sirup,” akhirnya Irene yang melepas pandang dan bersuara duluan. “Dan…americano.”

“Baik.” Selanjutnya hanya ada Irene dan Leo karena si Bibi telah beralih ke mesin kopi di sebelah kiri konter. Irene memutar bola matanya ke arah Leo dan meneguk ludah saat lelaki Jung itu telah lebih dulu menatapnya. Intens dan tajam.

“Um, maaf, aku belum memperkenalkan diri.” Irene meringis kecil dan menyampirkan surai brunette-nya ke balik telinga, gestur yang sangat ia suka—dan juga tanpa sadar selalu membuat lelaki terpesona. “Namaku Irene, Bae Irene.”

“Bukan. Bukan itu. Aku sudah tahu namamu,” jawab Leo lugas tanpa berkedip. Buat dwimanik karamel Irene sedikit membelalak, terkejut atas fakta barusan. Jung Leo tahu namanya? Wah, Irene juga tahu nama lengkap Leo, omong-omong. Bagaimana tidak kalau baik gadis atau pun para lelaki selalu membicarakannya dengan topik “Jangan dekati si Manusia Es—Jung Leo—itu”. Yeah, Irene sadar kalau ia lumayan populer. Tapi Irene pikir untuk orang seukuran Leo (yang hanya larut dalam dunianya sendiri) ia tidak akan peduli tentang si gadis cantik sang Primadona kampus.

“Lalu?”

“Kamu.” Leo menyentuh ujung hidungnya sejenak, gestur yang membuat Irene semakin bertanya-tanya. Apakah lelaki yang dijuluki ‘Manusia Es’ ini memang selalu seperti ini?

“Barusan kamu mengatakan pada Bibi kalau aku memesan latte tanpa sirup, bagaimana kamu bisa tahu?”

Satu kerutan tipis muncul di dahi mulus Irene. “Tentu saja—”

“Tapi barusan aku tidak mengatakannya. Ingat, aku hanya bilang “satu latte”.”

Kontan saja rona merah menyembul di kedua belah pipi Irene. Sekarang capnya akan berubah menjadi Primadona penguntit si Manusia Es. Karena selama ini Irene memang selalu memerhatikan Leo diam-diam. Sosoknya yang berjalan sendirian di koridor dengan satu cup latte di tangan benar-benar menarik perhatian.

“M-maaf…tapi aku bukan penguntit.” Irene menundukkan kepalanya pasrah. Entah seperti apa lagi impresi dirinya di mata Jung Leo. Namun yang terdengar sepersekian sekon berikutnya sungguh tidak terduga. Leo tertawa. Dan Irene menengadahkan wajahnya demi menyangkal kokleanya tidak salah dengar. Terbias di manik jernihnya mata Leo yang menyipit. Jung Leo melukiskan tawa di wajahnya yang senantiasa datar.

“Ternyata kamu nggak se-lively itu, ya?”

Entah bagaimana, kali ini Irene balas memandang Leo terang-terangan. “Dan ternyata kamu itu bisa diajak bicara, ya?”

“Iyalah, aku ‘kan punya mulut,” jawabnya sembari tersenyum kecut.

Irene terkekeh. “Lagi pula aku tuh emang nggak seceria itu. Aku juga bingung kenapa orang-orang selalu senyum dan ketawa saat didekatku padahal aku nggak ngapa-ngapain.”

Leo menyugar surai legamnya—Irene tetapkan gestur ini sebagai sikap yang membuatnya terpesona. “Kayanya aku tahu kenapa mereka selalu tersenyum di dekatmu,” ucapan Leo mengalihkan perhatian Irene.

“Kamu, hanya dengan melihatmu dapat membuat orang ingin tersenyum begitu saja.”

Irene tidak tahu sudah seperti apa warna mukanya saat ini. Pasti seperti kepiting rebus, makanan kesukaannya. “Aku tidak tahu kalau seorang Jung Leo bisa se-gombal ini.” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Irene. Sebagai bentuk representrasi keterkejutannya atas sifat Leo yang sebenarnya.

“Kau memang tidak tahu aku, Irene. Kita tidak saling mengenal sebelumnya.” Seringaian kecil kini terjungkit di sudut bibirnya. Bersamaan dengan itu, si Bibi penjaga konter keluar membawa pesanan mereka, ralat, minus pesanan Irene.

“Maaf, Nona cantik tapi kami kehabisan americano.”

Well, Irene memang tidak ke sini untuk segelas americano, omong-omong. Belum sempat Irene membalas perkataan si Bibi, dilihatnya Leo sudah meninggalkan konter. Irene tahu ini tidak sopan, tapi ia harus mengejar Jung Leo secepatnya. Kasihanilah tungkai mungilnya mengekori  kaki jenjang Leo.

Tanpa sadar Irene meraih lengan jaket Leo. “Baiklah, Jung Leo, aku memang tidak mengenalmu. Tapi boleh aku bertanya sesuatu?”

Jung Leo tentu tidak keberatan meluangkan waktu makan siangnya yang sudah ia lakukan sejak mereka bicara di depan konter.

“Apa kamu selalu tersenyum seperti ini?”

“Enggak.” Leo menyentuh ujung hidungnya lagi.

“Ini karena aku ngomong sama kamu.”

::

 I was used to being alone, my days were gray
But I remember the day you lightly came to me, knocking on my door
You shined on me like a light
Woke me up from darkness
Opened the closed door of my heart

::

fin

.

tyavi’s little note: ughhh plis banget lah lagunya mba taeng bikin aku jatuh cintaaaa <3_<3

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s