[Ficlet] Winter Confession

picsart_07-13-05.57.23.jpg

 

Winter Confession

©2016 tyavi’s Let it Snow Ficlet Series

[iKON] Chanwoo and [Soloist] Shannon Williams

Romance, Fluff | Ficlet Series | PG

Soundtrack :

Sung Sikyung, Park Hyosin, Seo Inguk and VIXX – Winter Confession

Summary :

On the day the first snow came

I called you

Because I want to tell the happiest things

to you first

::

Hari ini, di mana untuk pertama kalinya butir salju turun ke bumi Korea Selatan musim dingin tahun ini, aku meneleponmu. Menggerakkan kedua ibu jariku yang mendadak kaku seirama dadaku yang bergemuruh. Aku tidak tahu hanya dengan menatap namamu di kontakku bisa membuatku segugup ini. Oh, mungkin juga tidak. Aku bukannya gugup karena melihat namamu, melainkan tentang hal yang ingin kukatakan padamu hari ini. Hari di mana salju turuun pertama kali, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin menceritakan hal yang paling membahagiakan bagiku kepadamu, terlebih dulu.

Yeobseyo, Jung Chanwoo-ssi?”

Yeobseyo, Shannon.” Suaraku mungkin terdengar tenang di telingamu, tetapi sesungguhnya aku sangat gugup saat ini.

Ne, ada apa meneleponku, Chanwoo-ssi?”

Kubasahi bibir bawahku sejenak. Kenapa suaramu jadi terdengar semerdu ini?

“Bisakah kita bertemu hari ini, Shan?”

Ye? Kenapa tiba-tiba?” Bisa kudengar rasa terkejut beselimut gugup di suaramu.

“Kau sibuk?” Pertanyaan itu meluncur keluar begitu saja tanpa diproses neuronku lebih dulu.

A-ani, bukan begitu.” Seperti dugaanku, kau menyangkalnya dengan lucu. Terbayang di benakku bagaimana wajah putih meronamu itu salah tingkah dan tergugu malu. “Aku sedang tidak sibuk, tapi aku masih di flat-ku dan aku belum—”

“—kalau begitu tunggu di depan gedung flat-mu, aku akan ke sana dalam sepuluh menit.” Selaku tidak sabar. Entah dari mana datangnya semangat yang meletup-letup ini di dalam rongga dadaku.  Aku sudah bisa menebaknya, alasan ia malu bertemu denganku karena ia masih berada di flat-nya, sedang duduk meringkuk di depan meja penghangat, mengenakan sweater wol berwarna krem peninggalan Eomma-nya. Kau selalu bilang bahwa sweater itu terlihat ketinggalan jaman dan seperti pakaian tidur. Tapi kau suka, karena sweater itu begitu nyaman dan hangat seperti pelukan Eomma­-mu. Lucunya adalah kau selalu menolak bertemu denganku saat mengenakannya, um , padahal jujur saja kau masih terlihat cantik. Warna sweater itu sangat cocok dengan warna kulitmu yang seputih salju. Ah, aku jadi tidak sabar bertemu denganmu.

Segera kusambar coat bergaris hitam-putih milikku yang tergantung. Coat yang kubeli musim dingin tahun lalu atas saranmu. Kau bilang jika aku menggunakannya, pipiku tidak akan terlihat tembam. “Dasar konyol, apa hubungannya pipi dengan coat?” Aku terkekeh.

Angin dingin menyeruak begitu aku membuka pintu. Dengarlah kau gadis cantik yang bernama Shannon Williams, demi menemuimu—dan mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatiku selama ini—aku rela meninggalkan kehangatan atmosfir kafe dan aroma kopi yang paling kusukai. Kueratkan coat-ku dan berjalan berhujankan salju-salju putih bersama pejalan kaki lainnya.

Sepanjang hari aku merasa ragu. Aku bingung, aku linglung, aku rindu, dan aku ingin bertemu denganmu. Kemudian setelah melihat butiran salju putih mulai berjatuhan di luar jendela kafe, hatiku mulai berdebar. Dan langkah kakiku tanpa sadar membawaku berlari menuju gedung flat-mu.

Uap putih berembus dari mulutku. Entah karena aku merasa sesak setelah berlari, atau pertanda aku merasa lega melihatmu berdiri. Kupatri senyum termanisku padamu yang menyambutku dengan manik membulat.

“K-kau berlari ke sini?” tanyamu tak percaya.

Aku menyeringai kecil. “Bukankah sudah kubilang kalau aku akan ke sini dalam sepuluh menit?” Sekali lagi, suaraku boleh terdengar tenang. Tapi kau tidak tahu betapa kinerja jantungku sudah tidak bisa kukendalikan sendiri saat ini.

“Kenapa?”

Tidak, ternyata aku tidak bisa tenang lagi. Karena apa yang akan kukatakan saat bertemu denganmu adalah hatiku yang paling tulus.

“Aku ingin memberi tahumu—“ kuteguk ludahku susah payah, mendadak lidahku terasa kelu. Apalagi kau terus menatapku dengan kedua manik karamelmu. “—bahwa hari ini salju pertama turun.”

Kau terdiam. Irismu masih terpaku pada milikku. Ugh, kalimat tidak bermutu macam apa yang baru saja keluar dari mulutku?!

Pandanganku baru saja akan jatuh pada ujung sepatuku kalau saja suara tawamu tidak menguar. Kupandangi kau lamat-lamat. Kedua belah pipimu semakin memerah, entah karena atmosfir dingin atau malu.

“Kau ini lucu sekali, Chanwoo-ssi,” ujarmu di sela-sela tawa. “Kau ‘kan bisa mengatakannya padaku di telepon. Kenapa segala berlari ke sini?”

Aku bersyukur kau tertawa, karena mendengarnya membuat rasa gugupku luruh entah ke mana. Kau memang selalu menumbuhkan bunga dalam rongga dadaku, baik perangai atau ucapanmu.

“Karena ada sesuatu yang ingin kukatakan selain itu, Shan,” jawabku mantap. Membuat kau menghentikan tawamu dan menatap netraku. Saat di mana manik jernihmu bertemu dengan milikku, keberanian menggedor-gedor dari sudut hatiku. Dan tanpa aku sadari, wajahku bergerak maju menemui bibir merekahmu.

“Aku menyukaimu.”

::

After saying this and that and changing the subject
The moment your eyes and my eyes met
Without even knowing
I kissed you and told you my heart
::

Sepertinya sudah satu tahun sejak hanya ada kau di pikiranku. Kau tentunya tidak tahu aku memiliki perasaan ini, tapi aku masih berpegang teguh pada hatiku.

Apa kau sudah memikirkannya? Jawaban dari pernyataanku? Aku benar-benar ingin mendengarnya hari ini. Ya Tuhan, pahamilah hatiku. Aku memang bodoh mengubah scenario pernyataan cinta yang tulus dengan adegan ciuman, tapi aku telah menunggu selama ini. Berada di dekatnya sementara perasaanku tumbuh lebih besar. Aku benar-benar berharap hatiku akan menyentuh hatinya.

Maka lagi-lagi hari ini, aku berdiri di sini. Di jalan di mana kita bertemu pertama kali. Di bawah butiran salju yang berjatuhan dari langit. Di antara sekumpulan orang yang berlalu lalang. Aku melihatmu dari jauh. Kau berjalan ke arahku.

Kau tersenyum padaku.

::

Winter Confession end

::

tyavi’s little note: Huwaawawaaaa  siapa yang kangen CANON??

Sebentar tyavi mau nangis terharu dulu karena akhirnya project Let it Snow ini rilis bagian pertama. Huhuuuu sebenernya init uh project dari dua tahun yang lalu. Iyah, dari tyavi belom jadi author. Bener-bener pengen ngepost cerita ini karena untuk pertama kalinya aku punya cerbung yang ceritanya pure ide sendiri (biasanya terinspirasi manga atau novel bung T^T). Dan juga sebenernya FF ini mau dipost sepanjang desember kemarin tapi karena ada kendala jadi ga bisa. Nah sebenernya pengen juga dipost sepanjang winter tapi takut terjadi kemungkinan-kemungkinan yang tidak mengenakkan /alah/. Jadinya kubuat Ficlet Series ini jadi project selama 2016 (inshaallah). Semoga bisa tamat kurang dari setahun (makanya kubikin ficlet uhuk) (lirik Accidentally Family, Free Spirit, KisSin…). Nah untuk saat ini end dulu di sini karena nanti aka nada sub-sub judul lainnya. Oh iya, untuk spoilernya setiap bagian Ficlet Series ini diambil dari lagu-lagu natal. Kedepannya alur bakal mundur ke saat Shannon dan Chanwoo bertemu.

Tentang lagu : Ughhhh kalian bener-bener harus denger lagunya. Lagu-lagu winter dari Jellyfish ent emang selalu favorit buatku tapi yang Winter Confession ini udah aku tetapin sebagai lagu sepanjang masa karena saking enaknya. Huhu abisan ada suara cinta pertamaku (re: Seo In Guk), ahjussi gantengku (re: Sung Sikyung), dan juga suamiku (re: Leo). Dan lagunya emang enak gila huhu T^T. Dan ternyata pas baca arti lagunya , tuh, nyes, banget. Duh romantissss. Makanya disarankan juga untuk membaca cerita ini sambil dengerin lagu 😉

Udah ah tyavi pamit dulu, ppyeong~

Tidak bosan-bosannya tyavi katakan,

Mind to leave a comment 🙂

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s