[FICLET] My Pathetic Life

OYEWYN. K PRESENT

 

image

Scriptwriter Oyewyn. K || Poster Designed By Laykim || Genre Sad – Slice of Life || Starred f(x)’s Jung Soojung a.k.a Krystal Jung || Disclaimer This is original from my mind. No plagiarsm! No Silent readers!

Is it wrong if i hate my life?

Hidup tak seindah drama, novel, ataupun dongeng. Hidup juga tak semudah drama, novel, ataupun dongeng. Kehidupan lebih kompleks daripada semua itu. Ya, jauh sangat lebih sulit sampai – sampai tak ada waktu untukku tersenyum bahkan untuk menangis. Atau memang aku yang terlalu lemah sampai harus merasa bahwa aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini? Tidak, aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah orang yang paling menderita di dunia ini, hanya saja aku mampu mengatakan bahwa aku membenci kehidupanku. Mungkin jika aku menjadi tokoh cerita aku akan menjadi tokoh utama yang sangat kuat dan baik hati, seperti Naruto misalnya. Sayangnya ini adalah kehidupan nyata. Dan aku hanyalah gadis biasa berusia tujuh belas tahun yang membenci hidupnya.

Hidup, satu kata yang bahkan sangat ingin ku hindari. Bagaimana bisa banyak orang yang mengatakan bahwa hidup adalah anugerah yang indah? Sedangkan kenyataannya adalah hidup itu menyakitkan.

Mungkin banyak orang yang bertanya,

“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?”

Atau, “Tidakkah kau bersyukur atas napas kehidupan yang kau terima?”

Ada juga yang berkata dengan seenak hatinya, “Lihatlah banyak orang yang lebih menderita dari pada dirimu!”

Kau tahu apa yang kupikirkan saat mendengar perkataan busuk macam itu? Aku ingin mengatakan, “Kau tidak tahu apa – apa tentang rasa sakit yang aku terima ini, dude!”

Dan juga, “Apa yang kau tahu tentang aku dan kehidupanku yang mengenaskan ini? Brengsek!”

Kalian semua, orang – orang yang seolah mengetahui segala hal tentang kehidupan dan mensyukuri setiap hal yang kalian terima. Padahal kenyataannya, kalian semua sama. Selalu mengeluh ketika suatu hal buruk menimpa kalian. Bagaimana jika kalian menjadi diriku? Bagaimana jika kalian tertimpa hal buruk yang selama ini terus menghantuiku?

Apa kalian masih bisa mensyukuri napas yang kalian terima? Atau, bisakah kalian merasa bahwa diri kalian lebih beruntung dari yang lainnya?

Aku pikir tidak.

Kalian ingin tahu kehidupan seperti apa yang aku jalani?

Ku pikir jangan, karena bisa saja kalian akan menyesali kehidupan ini.

Aku lahir pada 24 Oktober 1997 dari keluarga sederhana sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Mungkin jika berada dalam film, drama, atau apapun itu, keluarga sederhana adalah keluarga yang hangat dan penuh dengan kasih sayang serta kegembiraan. Jangan berharap itu ada dalam keluarga ini. Sungguh, ini sangat jauh dari hal itu. Keluarga ini memiliki dua kubu sendiri, aku sendiri dengan kubuku sendiri dan sisanya berada di kubu lain. Bukan aku tidak mau membaur atau bergabung dengan mereka, tapi mereka yang selalu melupakanku. Aku selalu ada dipojok memeluk kedua lututku sendiri memandangi mereka tertawa dalam kehangatan yang bahkan tak pernah aku ingat bagaimana rasanya. Jangan katakan aku berbohong! Aku punya bukti bahwa aku tidak pernah dianggap dalam keluarga ini. Ya, mungkin dari hal sederhana seperti ulang tahun yang hanya dirayakan setahun sekali saja. Ketika kakakku atau dua adikku yang lainya berulang tahun kedua orangtuaku membelikan sebuah kue untuk mereka merayakan hari itu. Mereka menyalakan lilin, bertepuk tangan dan bernyanyi bersama kemudian memotong kue dan memakannya bersama. Mereka melakukan itu semua tanpa kehadiran diriku, tak ada satupun dari mereka yang memanggilku untuk ikut merayakan. Ya, sudah ku katakan mereka selalu melupakan diriku. Saat itu aku tahu, selalu tahu. Aku hanya duduk di atas tangga mendengar mereka tertawa bersama memeluk lututku sambil menahan kesedihan. Aku tidak boleh menangis, karena jika menangis maka mereka akan mendengar isakanku. Kemudian hari ulang tahunku tiba. Kau tahu apa yang terjadi? Tak ada seorang pun yang memberi ucapan selamat. Hanya orang – orang asing yang tak kukenal yang berteman denganku di dunia maya. Tak ada kue ulang tahun, tak ada nyanyian. Menyedihkan? Tidak. Mengenaskan? Sangat. Tapi aku tidak menangis. Aku sudah terlalu lelah menangis. Aku sudah lupa caranya menangis.

Mau tahu drama lain dari hidupku?

Aku adalah korban tuduhan dari setiap kesalahan yang dilakukan oleh kakak dan adik – adikku. Aku ingat dulu saat aku masih kecil, mungkin kelas tiga SD. Aku, kakak, dan adik pergi ke gereja bersama. Saat itu kakakku sedang berdoa dan adikku menjahilinya sehingga kakakku tidak dapat berdoa dengan baik. Kemudian ketika kakakku hendak memarahi adikku, adikku menuduhku sebagai pelaku. Kau tahu? Kakakku adalah laki – laki, tapi dia tak pernah merasa bersalah untuk memukulku dengan tangannya sendiri. Itu belum berakhir, saat di rumah kakakku mengadukan hal itu kepada ayahku. Selanjutnya? Ya, seperti yang kau kira, tubuhku habis dipukuli oleh ayahku. Itu tidak seberapa, yang hatiku pilu adalah ibuku, dia tidak memberikan pembelaan sama sekali untukku. Dia tidak mencegah ayahku untuk memukuliku. Saat itu aku masih tahu bagaimana menangis. Saat itu aku hanya anak kecil berusia delapan tahun. Tak habis sampai di situ, ayah melanjutkan hukumannya dengan menjemurku di halam kecil rumah kami di siang hari. Mungkin aku pingsan, karena aku terbangun dengan keadaan tertidur di rumput halaman. Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu hanyalah rasa sakit karena seluruh tubuhku dipenuh lebam biru.

Setelah kalian tahu hal ini, masihkah kalian mengatakan bahwa aku harus mensyukuri kehidupan yang ku miliki?

Aku ingin tahu bagaimana perayaan kelulusan kalian sewaktu sekolah? Aku tahu pasti, orang tua kalian datang untuk mendengarkan pengumuman kelulusan kalian bersama – sama. Hari itu adalah pengumuman kelulusan pertama yang aku terima karena memang pengumuman kelulusan dari sekolah dasar. Dan aku, aku mendengarkan pengumumanku seorang diri di antara teman – temanku yang didampingi oleh orang tuanya.

“Jangan buka dulu surat pengumumannya sampai ada tanda dari kepala sekolah!” Tukas guruku yang menjadi pembawa acara.

“Saya akan menghitung satu sampai tiga, baru setelah itu semua boleh membuka surat pengumuman bersamaan.” Kepala sekolah menlajutkannya.

Hana, dul, set!”

Semuanya membuka surat bersamaan. Semua orang lulus begitu juga denganku. Teman – temanku memeluk erat tubuh orang tua mereka. Sedangkan aku? Aku hanya memandangi mereka. Menangis dalam hatiku, mengasihani diriku. Hari itu berakhir dengan aku yang berjongkok memeluk lututku dan menangis pilu dalam diam tanpa ada seorangpun yang menyadari keberadaan diriku. Lagi – lagi aku dilupakan oleh mereka yang ada disekitarku.

Salahkah jika aku membenci hidupku?

Hhh, ini adalah kisah yang paling membuatku membenci hidupku.

Lagi, ini terjadi diusia sekolah dasar. Aku mengalami pelecehan seksual selama kurang lebih dua tahun yang dilakukan oleh pamaku sendiri. Dia sempat berhenti hingga kemudian kembali mencoba untuk melakukannya lagi padaku. Hingga saat itu tiba, saat aku baru masuk di sekolah menengah pertama dia selalu menungguku untuk berangkat sekolah, dia sengaja berangkat diwaktu yang ebrsamaan dengan diriku. Puncaknya, aku selalu mencari cara untuk menghindarinya. Hingga hari itu… hari itu dia mencegatku… dia  menarikku agar mengikutinya. Itu terjadi di pagi hari sekitar pukul enam pagi. Beruntungnya aku berhasil melarikan diri karena berteriak dan beberapa orang muncul.

Dengan rasa takut dan bergetar di seluruh tubuhku aku berjalan gontai. Sulit untukku berjalan, berulang kali aku terjatuh karena merasa takut. Aku pulang, ibuku mengetahui ini karena aku menceritakannya. Tapi dia… DIA TIDAK MENCOBA MENGHIBURKU SAMA SEKALI! DIA TIDAK MENCOBA UNTUK MENGUATKANKU! AKU MEMBENCINYA! Kau tahu apa yang dikatakannya padaku? Dia bilang, jangan ceritakan ini pada bibi karena akan merusak keluarga mereka. Hatiku hancur.

Sekarang, bisakah kalian memberikan alasan unutkku agar mensyukuri hidupku?

Bisakah kalian memberi alasan untukku memaafkan keluargaku?

BISAKAH KALIAN MELAKUKAN HAL ITU?!

SALAHKAH AKU MEMBENCI HIDUPKU?!

Ah, satu kuingat bahwa aku selalu menghindari adegan dalam televisi baik itu film, drama, video, ataupun iklan mengenai kehangatan keluarga. Bahkan sampai saat ini. Aku benci itu karena saat menonton itu aku merasa iri. Aku juga menginginkan itu tapi itu tidak akan pernah terjadi. Itu semua selamanya hanya akan menjadi bagian dari mimpi kecilku.

Kini aku bertekad untuk tidak memiliki keluarga. Untuk apa aku memiliki keluarga jika hanya menyakiti orang lain?

Ah, mungkin aku akan mengubah pikiranku jika ada diantara kalian yang bisa merubah pikiranku, dan menyembuhkan segala rasa sakit yang telah mematikan perasaanku ini. Ya, mungkin saja diantara kalian ada yang dapat melakukannya untukku.

Itu hanya beberapa dari kisah hidup memilukan yang ku jalani. Hanya beberapa alasan mengapa aku membenci hidup. Jadi, setelah kalian mendengar itu semua… apakah salah jika aku membenci hidupku sendiri?

End.

Absurd sangat. Maaf jika tidak memuaskan. Ghamsahamnida.

4 thoughts on “[FICLET] My Pathetic Life

  1. Aku juga ga suka kalo ada yang nganggep enteng masalah pribadi orang:( meski terkadang perkataan mereka bermaksud menguatkan, but.. I just don’t like it. Karena mereka ga bener-bener tau apa yang kita rasain, jadi mereka ga berhak ngasih tanggepan seenteng itu. Maaf ya malah numpang curhat hehe
    Btw, ceritanya bagus kok. aku suka:)

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s