Riddle: Lying

lying - copy

©2016 – Tob

MimiHana [Gu9udan]

Riddle, Detective – PG-13 – Ficlet

Meskipun gadis itu cantik, bukan berarti Mimi tidak bisa melihat sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.

 

:::

Langit gelap tanpa hiasan menyapaku begitu diri ini keluar dari kantor dengan mobil hitamku. Kulihat jam digital di pergelangan kiriku yang menunjukkan pukul 22.04 malam. Tanpa sadar aku sudah mengehembuskan napas berat, hari ini sangat melelahkan karena kasus bunuh diri Sanghyuk terlalu banyak mengambil jatah pikiran sampai-sampai makan siangku terlewatkan begitu saja.

Aku mendongakkan kepala sesampainya di rumah dan kembali melihat langit. Bintang-bintang sepertinya enggan menampakkan diri karena cahaya lampu di kota Seoul yang terlalu mendominasi, membuatku merindukan masa-masa ketika tinggal di desa, yang mana bintang-bintang akan dengan sukarela menampakkan dirinya pada setiap insan yang ada di sana.

:::

Jam persegi merah muda yang menempel di dinding menunjukkan pukul 06.00 waktu setempat. Mengingat masih terlalu pagi untuk sekedar sarapan atau membersihkan diri, membuatku memilih untuk terlelap barang satu atau dua jam lagi.

Namun, lima detik kemudian, dering ponsel dengan nada dering yang kusukai ternyata menjadi satu-satunya suara yang kubenci pagi ini karena kutahu bahwa si Penelepon akan memberikan kabar yang tidak ingin kudengar.

Ruanganku bahkan masih gelap, gorden-gorden enggan ditarik, sehingga hanya ada sedikit cahaya yang masuk ke kamar. Dengan menggunakan instingku, aku mulai meraba-raba nakas untuk mencari benda pipih itu.

“Halo?”

“Kantor, pukul 06.30.”

Klik.

Bahkan aku belum sempat membalas kalimatnya, si Penelepon sudah memutuskan hubungan secara sepihak. Kalau saja boleh mengikuti ego, mungkin aku masih merebahkan diri di kasur, tetapi mengingat sebuah tugas yang tentu merupakan kewajibanku, maka dengan semangat yang dibuat-buat aku mulai beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.

Waktunya bekerja, Kawan.

:::

Seorang gadis dengan rambut kemerahan memasuki ruang interogasi. Ia mengenakan kemeja biru dongker yang dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam. Rambut kemerahannya ia beri bando sebagai pelengkap.

Gadis yang cantik, pikirku.

Melihat sekilas pun tidak ada ciri-ciri yang menandakan bahwa ia merupakan seorang pembunuh. O ya, biar kuberitahu, gadis itu membunuh kekasihnya. Ini masih perkiraan awal, karena Hana – nama gadis itu – adalah orang yang terakhir di telepon oleh korban.

“Silakan duduk,” ucapku ketika Hana sudah berada di depan meja.

Hana menurut. Ia langsung menarik kursi dan menyimpan bokongnya di atasnya kemudian. Gadis itu lantas menyelipkan sebagian rambutnya di balik telinga.

“Jadi, informasi apa yang Anda perlukan, Nona Detektif?”

Aku membuka dokumen yang sudah berisikan semua bukti-bukti yang mengarah kepadanya dan biodata gadis itu serta kekasihnya–korban. Menurut tim forensik yang memeriksa, korban diperkirakan meninggal pukul sepuluh malam dan ditemukan sembilan jam kemudian kala petugas kebersihan datang ke apartemennya.

“Nama saya Jung Mimi. Semoga Anda bisa diajak kerja sama. Mohon bantuannya.” Aku membungkukkan tubuh sembari duduk sebagai tanda hormat, diikuti oleh Hana. “Hana … apa benar Anda kekasih korban?”

Hana mengangguk.

Menurut petugas yang terjun ke lapangan, mereka langsung menghubungi Hana yang berada di panggilan terakhir telepon korban. Hana yang datang dengan pakaian yang sama yang ia kenakan saat ini langsung menghamburkan diri mendekati korban dengan likuid bening yang tak henti-henti keluar dari matanya. Saat ini pun aku masih bisa melihat bekas air mata tersebut, omong-omong.

“Aku tidak suka berbasa-basi, jadi akan langsung ke intinya saja. Apa yang kau lakukan pukul sepuluh malam?”

Hana menunduk selama dua detik lalu mengangkat kepalanya. Ia kembali menyelipkan sebagian rambutnya lalu menggerakkan badannya (kurasa dia sedang mencari posisi yang nyaman). Ia mengulum bibirnya sebentar lalu mengeluarkan suaranya,

“Saya sedang berada di apartemen, baru saja selesai mengerjakan tugas statistika yang akan dikumpulkan besok – berarti hari ini. Kemudian, saya pergi ke beranda dan menemukan bulan purnama sedang menghiasi angkasa. Kira-kira lima menit saya berada di beranda lalu kembali ke kamar untuk tidur karena saya tidak terlalu suka tidur larut.”

“Apa ada yang bisa menguatkan alibimu?”

Hana menggeleng.

“Sayangnya tidak ada karena aku tinggal sendiri di apartemen.”

Aku melenggut tiga kali lalu menampilkan senyuman asimetrisku yang langsung dihadiahi kerutan dari pihak seberang.

“Terima kasih untuk kerja samanya, Hana. Setelah ini kita bertemu di pengadilan.”

 

FIN.

Q: Kenapa Mimi bisa tahu Hana berbohong?

 

Advertisements

5 thoughts on “Riddle: Lying

    • Yap! Benar sekali. Lebih tepatnya bisa dilihat di bagian awa kalimat kalau detektif mimi melihat langit ‘tanpa hiasan’ yang berarti bersih. Sedangkan Hana bilang melihat Bulan Purnama. Kalau begitu harusnya mimi juga lihat kan? Apalagi bukan Purnama kan sesuatu ‘yang tidak biasa’.
      Ehehehe.
      Sekian.
      Terima Kasih ya sudah mau mampir ^^

    • Halo junsihye(?)
      Jawabannya benar tapi belum tepat. Memang ada hubungannya diantara dua komponen tersebut. Ehehehe.

      Kalau kamu lihat di Awal kalimat bahwa detektif mimi melihat langit ‘tanpa hiasan’ yang artinya bersih gak ada apa-apa. Sedangkan Hana bilang ada ‘purnama’. Itu jelas-jelas bohong karena kalau seiyanya ada Purnama, detektif mimi pasti tahu. Apalagi bukan Purnama adalah sesuatu yang ‘istimewa’.

      Begitu. Ehehe.
      Sekian.
      Terima Kasih sudah mampir!^^

Leave a Reply to Tob Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s