[Oneshot] Falling in Lóve

image

EXO’s Sehun x OC’s Seorin⌋

ⓒ2016.billhun94


“Cinta itu tidak harus memiliki, bukan?”


Apakah jatuh cinta se-indah ini rasanya? Ugh, jika jatuh cinta rasanya seperti ini, mengapa Ia tidak merasakannya dari dulu saja. Menyesal? Tentu saja!

Dalam kamus yang tertera dihidupnya, cinta hanya omong kosong yang terkadang sulit untuk di pahami lebih dalam. Selama menginjak masa remaja, Ia tidak pernah tertarik untuk mempunyai kekasih di saat teman-teman seusianya berusaha untuk mendapatkan lelaki yang mereka sukai. Baginya, berkutat dengan buku-buku tebal lebih menyenangkan dan menggali ilmu sedalam mungkin lebih mengasyikkan (awalnya).

Tapi kini, Gadis bernama lengkap Nam Seorin itu merasa jika Ia sudah termakan omongannya sendiri.

Cerita cinta yang sudah membuatnya seperti ini bermula saat netra cokelatnya menangkap seorang Pria yang malah berujung pada debaran sesuatu di dalam dirinya, dan gelenyar aneh yang menyadarkannya akan suatu hal yang tidak pernah Ia rasakan sebelumnya.

Aneh—untuk pertama kali—bahkan kedua irisnya tidak mampu berpindah tempat, terus memperhatikan Pria itu dengan semua kata-kata pujian yang Ia lontarkan dalam hati. Merasa jika Pria tersebut adalah sesuatu yang paling sempurna di dunia ini.

Dia adalah Pria pertama yang mampu membuat dunianya berbunga-bunga, dan diselimuti dengan berbagai macam desiran asing yang terus menghantuinya. Well, tapi Ia menikmati semua yang Ia rasakan.

Tepat pukul 4 sore, Pria itu selalu mengunjungi Cafe yang terletak didaerah Gangnam bersama teman prianya atau seorang diri. Dan itu adalah salah satu keuntungan besar bagi Seorin untuk memperhatikan Pria tersebut dengan jarak yang terbilang cukup jauh—hanya untuk berjaga-jaga jika Pria yang belum Ia ketahui namanya itu—merasa curiga karena terus diperhatikan olehnya.

Coffee latte dan tiramisu selalu menjadi menu favorit Pria itu. Oh ayolah! Seorin tidak perlu bilang dari mana Ia tahu menu yang selalu Pria tersebut pesan; memaksa pelayan Cafe ini untuk memberitahu menu favoritnya bukanlah hal yang perlu dibanggakan.

Duduk dengan bertopang kepala kursi, kaki yang di lipat, dan secangkir hot americano yang menutupi sebagian wajahnya; menjadi rutinitas setiap pulang kerja bagi Seorin untuk mampir kesini hanya untuk melihat pujaan hatinya tersebut.

Senyuman tertahan terus menghiasi bibir yang berlapis lipstik blossom petal yang sangat menyatu dengan warna kulitnya. Hal sederhana yang mampu membuat senyuman itu terpetak diparasnya adalah saat melihat bagaimana cara Pria itu menyantap tiramisu terlihat sangat menggemaskan dimatanya.

Hal-hal kecil yang terkadang membuat Seorin seperti orang gila, tadi contoh salah satunya. Bahkan lebih parah lagi saat Pria itu menatap balik kearahnya—walaupun hanya beberapa detik—tapi sukses membuat Ia kalang kabut.

Beruntungnya Seorin kali ini karena Pria itu datang seorang diri, membuat Ia bisa leluasa untuk memperhatikan Pria tersebut tanpa ada penghalang. Ya, walaupun jarak mereka bertaut 5 meja.

Semuanya terasa begitu indah, menyenangkan, dan tidak akan pernah Ia lupakan bagaimana perasaan ini. Tapi, seseorang datang merusak segalanya. Air wajah yang tadinya menyiratkan kebahagiaan, kini berubah sendu.

Wanita itu—entah siapa—datang dengan riangnya, lalu mengecup pipi kiri pujaan hati Seorin seenak dengkulnya saja. Bahkan sang pujaan hatinya itu merasa terkejut dengan tidakan si Wanita.

Tanpa rasa bersalah, Wanita itu malah tersenyum lebar dan mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Pria yang menjadi idaman Seorin. Seorin sendiri hanya dapat menahan emosinya. Tangannya mencengkeram ujung meja kuat-kuat seraya menggertak-kan giginya. Ia sadar jika Ia tidak punya wewenang untuk menjauhkan mereka berdua, kesadaran yang justru membuat Ia merasa menyedihkan.

Merasa tidak tahan untuk melihat pemandangan didepannya, Seorin memutuskan untuk beranjak dan angkat kaki dari Cafe itu. Hanya akan membuat Ia panas dan gerah tinggal di sana.

Badan Gadis itu sempat berbalik untuk melihat Cafe–ah tidak, maksudnya Pria pujaan hatinya dan Wanita genit yang sedang mengobrol bersama. Tidak lama setelahnya, Seorin berbalik dan pergi dari sana. Kaki yang berlapis jeans hitam itu Ia hentakan dengan kesal seraya melangkah.

Jika saja Ia berani untuk memulai. Jika saja Ia tidak malu untuk memulai. Jika saja Ia tidak diam dan berniat untuk memulai, pasti semuanya tidak akan seperti ini.


Well, setelah kejadian 3 hari lalu—di mana Seorin merasa kesal setengah mati—Ia tidak pernah lagi mendatangi Cafe yang biasanya sering Ia kunjungi untuk hanya sekedar melihat Pria pujaan hatinya itu. Hatinya sangat sakit, dadanya juga sesak, dan menurut artikel yang Ia baca dari internet, sesuatu yang menyerangnya saat ini seperti: sakit hati dan sesak, adalah gejala sesuatu yang di sebut ‘Cemburu’ tatkala melihat seseorang yang disukai bersama dengan lawan jenis.

Oh ayolah! Seorin tidak perlu menjelaskan mengapa Ia harus mencari sesuatu yang di sebut ‘Cemburu’ itu, sebab hal tersebut bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan.

Alih-alih melupakan kejadian tempo hari, Seorin berniat menyibukkan dirinya dengan pekerjaan kantor, dan melupakan sejenak ‘Pria pujaan hatinya’—walau terkadang hasilnya nihil.

Hari mulai senja saat Seorin selesai membereskan meja kantornya yang penuh dengan berkas-berkas yang berserakan. Setelah selesai merapihkannya, Gadis itu pun pamit pulang pada rekan satu kantornya yang lain.

Setidaknya Ia dapat hidup seperti biasa, walau di dalam dirinya (terutama hatinya) mengatakan fakta yang sebaliknya. Berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa itu lebih menyenangkan, dan rehat dari masalah sejenak juga lebih menenangkan.

Tangan Seorin menggenggam id card yang tergantung dilehernya, Ia berniat untuk melepas id card tersebut dan menaruhnya di dalam tas miliknya. Tanpa harus memastikan id card tersebut tepat pada tempatnya, Seorin terus berjalan menuju halte bus yang berada tidak jauh dari letak perusahaan tempatnya bekerja.

Gadis bermaga Nam itu bersenandung kecil dalam langkah, dan tidak menyadari jika kini seseorang tengah mengikutinya dari belakang. Seorin mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, kala itu Ia menyadari ketidak-beradaan id card miliknya. Wajah Seorin berubah panik, pasalnya id card itu sangat penting. Dan sekarang…hilang!

“Holy shit!” Umpat Seorin yang merasa kesal dengan kecerobohannya sendiri. Seorin beranjak dari duduknya dari kursi panjang halte guna mencari id card miliknya yang ‘mungkin’ terjatuh di trotoar jalan yang tadi Ia lalui. Tapi hasilnya nihil. Dengan napas yang sedikit memburu, Gadis itu menggeram. Jika seperti ini, Ia bisa dimarahi abis-abisan oleh atasannya besok pagi. Double shit!

“Apa kau mencari ini?”

Suara seseorang yang tertuju pada Seorin, membuat Ia berbalik badan—ke arah sumber suara—dan betapa terkejutnya Ia saat mendapati seorang Pria yang sudah tidak asing lagi baginya sedang mengulurkan sesuatu padanya dan menatap matanya. Degupan jantung yang berpacu cepat kembali Seorin rasakan begitu mengingat jarak yang tercipta diantara keduanya hanya sekitar 30 cm saja.

“Ini pasti punyamu, ‘kan?” Tanya Pria itu (lagi) karena Seorin tak lekas menjawab.

Kedua iris Seorin turun kearah id card yang berada di dalam tangan Pria itu, lalu beralih lagi ke arah wajah Pria tersebut. Terus seperti itu sampai tangan si Pria mengambil tangan kanan Seorin, dan meletakkan id card tersebut ditangannya. Seorin masih terdiam, cukup lama untuk menguasai keadaan.

“Kau gadis yang sering berada di cafe M&C, ‘kan?” Tanya Pria itu untuk kesekian kalinya, kini tangan yang semula berada di tangan Seorin sudah dilepasnya.

Seorin masih betah dengan kebekuan diri, manik cokelat miliknya mengerjap beberapa saat. Mengagumi apa yang sedang dilihatnya saat ini. Iris yang tajam, alis tebal, bibir merah, dan wajah tampan tanpa celah. Benar-benar jelmaan Adonis dari mitologi Yunani.

“Kau masih tidak ingin menjawabku, ya?” Pria itu merasa sedikit risih dengan tatapan yang Seorin berikan padanya; terhitung sudah 10 menit.

“Ya-ah ya. Terima ka-kasih sudah mengembalikan id cardku,” Seorin yang tersadar dari lamunan panjang, langsung membungkuk 90° pada Pria dihadapannya.

Pria itu tersenyum tipis, “Sama-sama. Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu ke Cafe, pasti kau sangat sibuk, ya?”

Seorin melirik Pria tersebut sekilas, “Tidak juga,” jawabnya. Oh damn! Jantungnya terasa ingin melompat dari tempat saat ini juga.

Aroma maskulin namun lembut menyeruak ke dalam indera penciuman Seorin saat Pria itu ikut berjalan disampingnya menuju halte bus. Tidak dapat dipungkiri jika kini Seorin merasa semuanya begitu indah, dan Ia melupakan luapan kemarahannya bercampur cemburu beberapa hari yang lalu begitu saja. Jika diperbolehkan, Ia sangat ingin menghentikan waktu sejenak hanya untuk menikmati kebersamaannya dengan Pria yang sudah membuatnya mati rasa karena ‘Cinta’ ini.

“Siapa namamu?”

“Nam Seorin, dan kau?”

Tangan lembut dan hangat Seorin menyambut uluran tangan Pria itu yang terasa dingin serta lembut, benar-benar lembut. Seorin mencoba untuk terus mengingat rasa tangan itu di pori-pori kulitnya.

“Oh Sehun.”

Senyuman milik Pria bernama lengkap Oh Sehun itu merekah tatkala Seorin tersenyum lebar, dan Ia tidak tahan untuk tidak membalasnya.

“Senang bisa berkenalan denganmu,” ungkap Seorin senang, dan sedikit merasa kecewa karena Sehun melepas tautan tangan mereka.

“Ya, aku juga.” Balas Sehun. “Apa kau mau ke Cafe bersamaku?” Tanyanya.

Seorin sedikit terkejut dengan tawaran Sehun, “Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau kekasihmu marah karena melihat kita berdua?” Dan detik itu, Seorin menyesali pertanyaan bodoh yang keluar dari mulutnya. Bagaimana bisa Ia se-frontal ini?

Salah satu alis Sehun terangkat naik, “Kekasih?” Tanyanya balik. “Ah aku tau, maksudmu pasti wanita yang datang ke Cafe waktu itu, ya? Dia bukan kekasihku, dia sepupuku. Namanya Kim Jisoo, dan aku juga belum punya kekasih.”

Oh Sehun adalah salah satu tipe pria dengan kepekaan yang cukup baik, tidak perlu untuk menjelaskan pertanyaan dan maksud dari perkataan seseorang, Ia mampu untuk membacanya dengan cermat. Seorin menyimpulkan alibi itu sendiri, dengan mata yang berbinar Ia menatap Sehun.

“Jadi, apa kau mau ke Cafe bersamaku?”

Seorin tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan sekempataan ini begitu saja. Dejá vu yang menghampirinya memberikan sinyal, dan Ia akan memanfaatkan itu dengan baik. Oleh karena itu, Ia menganggukan kepalanya mengiyakan pertanyaan Sehun.

“Oh, busnya sudah datang.”

Seruan Sehun membuat Seorin tersadar dari lamunan yang membawanya untuk mengagumi sosok Sehun dari segi manapun. Tangan dingin itu menggenggam tangannya, dan membawanya bersama dalam satu lingkaran kehangatan. Seorin tidak bisa mendeskripsikannya, karena rasanya benar-benar luar biasa.

Titik awal yang bagus untuk memulai suatu hubungan, walaupun itu berujung hanya guna menjadi teman—Seorin tidak mempermasalahkannya. Karena Ia bersyukur cukup berada di sisi Pria yang sudah merebut hatinya ini.

Cinta itu tidak harus memiliki, bukan?


FIN


Ps : 

Hai,

Idk mao nulis apa?:”

Ah iya, seperti rencana awal, i’ll post next chp Oh Ghost after Idul Fitri day.

Dan bentar lg lebaran kan? Aku pingin minta maaf kalo2 punya salah sama para readers disini.

ت Minal aidin wal faidzin

Bye~

image

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Falling in Lóve

  1. gpp walaupun awalnya cuma teman, siapa tau akhirnya bisa jadi pacar atau suami mungkin,hehehe….
    si seorin cemburu pda orang yg salah tuh,, aq pikir itu jg pacarnya sehun tp ternyata cuma sepupu ya? untunglah…. 🙂
    cinta tak harus memiliki itu sakit kak,, nyesek rasanya 😥
    mohon maaf lahir batin juga 🙂
    ditunggu ff Oh Gosht nya ya kak, fighting ^_^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s