[BTS Fanfic] 18 Days Left (P.02)

18-days-left

[Terinspirasi dari drama korea ‘Reply 1988’ dan ‘Reply 1997’]

18 DAYS LEFT
Pada 18 hari tersisa, sebelum janji suci terucap, Jimin masih memiliki kesempatan. Pada 18 hari tersisa, sebelum janji suci terikat, Taehyung pun masih memiliki kesempatan. Tapi, pada 18 hari tersisa, Mina meminta keduanya untuk menyerah.

Starring by. Jung Mina (OC/You), Park Jimin (BTS), Kim Taehyung (BTS)

Romance/PG-17/Multichapter

by zulfhania, 2016

Previous. P.01


02-Unit of Samjicheon’s Village

Daegu, Korea Selatan
Akhir April 2014
Pukul 08.05 a.m. KST

“Desa Samjicheon?!”

Mina mengangguk sembari menyerahkan sebungkus kardus yang tutupnya terbuka pada Yoongi. Lelaki berkulit putih susu dengan mata sipit itu menerima kardus dari tangan Mina dan meletakkannya dengan rapi di dalam mobil pick up. Itu adalah kardus terakhir.

“Berapa lama di sana?”

“Dua bulan pertama, survey lokasi dan observasi permasalahan, tapi kegiatan itu masih bisa dikerjakan di kampus. Delapan bulan berikutnya, pelaksanaan program kerja di lokasi. Dua bulan terakhir, evaluasi dan penulisan laporan. Hm, jadi bisa dibilang aku akan berada di sana hampir selama setahun.”

Yoongi tampak kaget mendengar penjelasan Mina.

“Setahun?! Yya, mana ada program pengabdian masyarakat selama setahun?! Kampus macam mana yang mewajibkan mahasiswanya melakukan program tersebut?!”

“Aku! Kampusku! Kampusku yang mewajibkan mahasiswanya begitu! Kenapa?” Mina tampak sewot.

Melihat Mina yang seperti itu, Yoongi langsung tersenyum. Lalu tangannya bergerak untuk mengusap belakang kepala Mina.

Aigoo, setahun tanpa bertemu uri Mina yang satu ini. Apa yang harus kulakukan?” gumam Yoongi sambil menatap Mina dengan tatapan yang begitu dalam.

Mina hanya mendesis. Tapi ucapan Yoongi tersebut tak ayal membuatnya tersenyum juga.

“Sudah diangkut semua?”

Mina dan Yoongi sama-sama menoleh pada seorang wanita berumur di akhir 40-an tahun yang baru saja keluar dari gerbang rumah. Mina menganggukkan kepala pada ibunya sebagai jawabannya. Tapi ibunya itu malah menunjukkan wajah khawatir yang justru membuat Mina merasa bersalah.

“Tidak usah khawatir, eomma. Aku bisa jaga diri di sana,” kata Mina. “Ya, kan, oppa?” ia lalu beralih pada Yoongi, meminta persetujuan lelaki itu.

“O-oh?” Yoongi tampak linglung begitu Mina beralih padanya. “Iya, ahjumma. Selama tiga tahun kuliah di Seoul pun Mina bisa menjaga dirinya dengan baik. Pasti kali ini ia bisa menjaga dirinya dengan baik di Desa Samjicheon.”

Wanita itu tersenyum. Air mukanya berubah tersanjung melihat kedewasaan Mina dan juga Yoongi. Ia selalu saja tidak pernah sadar kalau putrinya sudah beranjak remaja.

“Baiklah. Jaga dirimu dengan baik, Mina-ya. Jangan lupa selalu memberi kabar pada eomma,” kata ibunya sambil mengusap-usap punggung belakang Mina.

Mina mengangguk. “Aku pergi ya, eomma.”

Setelah berpamitan dengan ibunya dan Yoongi, Mina naik ke dalam mobil pick up. Seorang lelaki tua yang menjadi supirnya memberi salam hormat pada ibunya sebelum menarik pedal gas. Sebelum mobil berjalan, Yoongi memberi kode pada Mina lewat tangannya untuk memberi kabar padanya juga lewat telepon. Mina hanya menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan.

* * *

Seoul, Korea Selatan
Akhir April 2014
Pukul 01.00 p.m. KST

“Jung Mina, barang-barangmu sudah diangkut ke dalam truk?”

Mina menoleh pada Nayeon yang sedang berjalan menghampirinya dengan wajah panik. Mina mengedikkan pandangannya pada Namjoon yang sedang membantunya memindahkan barang-barang miliknya dari mobil pick up ke truk besar. Truk besar itulah yang nantinya akan membawa barang-barangnya menuju Desa Samjicheon.

Nayeon tampak menghela napas. “Syukurlah. Kalau begitu tinggal barang-barang Jooheon dan Dasom yang belum masuk.”

Mina membulatkan mata terkejut. “Jooheon belum datang?!”

Nayeon mengangguk, lalu mendesis. “Ketua pimpinan macam apa yang membiarkan anggotanya mengurus sendirian sebelum keberangkatan pengabdian? Aigoo, rasanya aku ingin mati menjadi wakilnya.”

Yya, jangan dibawa stress, Nayeon-ah!” kata Mina menepuk punggung Nayeon, bermaksud untuk menenangkan perempuan itu. “Siapa saja yang hari ini berangkat?”

“Kau, Jooheon, Dasom, Namjoon, Bomi, dan Jungkook. Hanya kalian berenam yang bisa mengatasi urusan di sana. Sisanya biar aku dan Namjoon mengurus di sini. Untuk masalah kesekretariatan dan pendataan anggota baru, kau bisa melemparnya pada Irene untuk sementara.”

Mina hanya mengangguk mengerti.

Nayeon memperhatikan Namjoon yang sedang memindahkan kardus terakhir. “Sudah selesai, Namjoon?”

“Kardus terakhir,” jawab Namjoon.

“Kalau sudah selesai, segera masuk ke dalam basecamp. Kita briefing dulu. Mina, ayo masuk duluan! Teman-teman yang lain sudah menunggu.”

Tepat setelah Nayeon dan Mina masuk ke dalam basecamp, sebuah mobil silver masuk ke halaman parkir. Namjoon meloncat turun dari atas truk dan melihat Jooheon dan Dasom keluar dari dalam mobil silver tersebut dengan tangan kosong. Kening Namjoon mengernyit begitu melihat kejanggalan di antara keduanya.

Yya, Jooheon-ah, Dasom-ah, di mana barang kalian? Bukankah kalian pergi ke desa hari ini? Kenapa kalian datang dengan tangan—“

Namjoon menggantungkan kalimat. Sementara Jooheon dan Dasom hanya berdiri di samping mobil dengan wajah kikuk.

Sebuah pikiran buruk melintas dalam benak Namjoon. “Jangan bilang kalau kalian…”

* * *

“MENGUNDURKAN DIRI DARI UNIT?!” Seluruh anggota unit Desa Samjicheon tampak syok mendengar penjelasan Jooheon di muka ruangan basecamp. Briefing yang sedang dipimpin oleh Nayeon mendadak tertunda akibat kedatangan Jooheon dan Dasom, lalu diiringi pemberitahuan mengundurkan diri itu.

Yya! Apakah kau gila?! Kau adalah ketua pimpinan, Lee Jooheon! Bagaimana bisa kau mengundurkan diri pada hari keberangkatan kloter pertama?! Lalu bagaimana dengan unit kita kalau kau mengundurkan diri, hah?!” Bomi tampak murka.

Jooheon berdiri dengan wajah kikuk. Ia melirik Dasom sekilas yang berdiri tak jauh di sebelahnya sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada teman-temannya.

“Bukan bermaksud untuk mengkhianati kalian, tapi sebenarnya sebelum aku bergabung dengan unit ini, aku sudah ditawarkan untuk bergabung di unit lain bersama Dasom. Itu sebabnya aku tidak mau menjadi ketua pimpinan, tapi kalian memaksaku. Jadi aku tidak punya pilihan lain,” kata Jooheon.

“Kalau begitu tidak seharusnya kau meninggalkan unit ini demi bergabung dengan unit lain, Lee Jooheon! Itu artinya kau telah lari dari tanggung jawab!” kata Nayeon dengan suara tertahan.

Jooheon memandang Nayeon dengan tatapan bersalah. “Aku minta maaf, Nayeon. Selama ini aku selalu merepotkanmu untuk mengurusi hal ini maupun itu. Aku memang bukan ketua pimpinan yang baik untuk unit ini. Kau lebih pantas, Nayeon-ah. Jadi maukah setelah hari ini kau menggantikan posisiku?”

Bomi tertawa lucu. “Heol. Dia benar-benar gila!”

“Jooheon-ah, kau benar-benar akan keluar dari unit ini? Bersama Dasom?” tanya Namjoon. Berbeda dengan Bomi yang murka dan Nayeon yang menyimpan emosi tertahan, Namjoon justru bertanya tetap dalam keadaan tenang.

“Aku minta maaf, Namjoon. Aku tidak punya pilihan lain. Unit lain membutuhkanku,” kata Jooheon.

“TAPI UNIT INI LEBIH MEMBUTUHKANMU, LEE JOOHEON!” Bomi kembali murka.

Irene yang berdiri di sebelah Bomi segera menenangkan perempuan itu.

“Kita masih membutuhkan 14 anggota untuk melengkapi tim menjadi 30 orang, dan sekarang kalian berdua malah memilih untuk keluar? Kalian berdua malah memberikan beban pada kami, tahu?!” teriak Bomi.

“Bomi-ya, sudahlah.” Irene mencoba menenangkan.

Nayeon yang sedari tadi diam akibat masih syok dengan berita dadakan itu, kemudian menghela napas panjang. Setelah berpikir cukup lama sambil memijit pelipisnya yang berdenyut, Nayeon memandang lurus ke arah Jooheon dan Dasom.

“Baiklah, kalian berdua pergi saja,” ucap Nayeon lirih.

Seluruh kepala di dalam ruangan lantas menoleh pada Nayeon.

Yya, Im Nayeon! Apakah kau gila?!” Bomi masih murka.

Nayeon masih memandang lurus ke arah Jooheon dan Dasom. “Tinggalkan unit ini dan pergilah ke unit lain, kalau memang itu mau kalian. Kuharap kalian berdua tidak menyesal meninggalkan unit ini.”

Mina memandang Nayeon dengan pandangan getir. Wakil ketua pimpinannya itu sedang mencoba untuk tegar di hadapan anggotanya. Padahal Mina tahu benar kalau tidak mudah untuk mengkoordinir 30 orang nantinya dalam pengabdian masyarakat selama setahun di desa orang lain, apalagi Nayeon adalah seorang perempuan. Nayeon pasti akan kesulitan apabila menjadi ketua pimpinan. Lee Jooheon, lelaki brengsek itu benar-benar menyulitkan.

Nayeon kembali menghela napas. Ia lalu menoleh pada Mina dan beberapa anggota lainnya. “Mina-ya, Namjoon-ah, Jungkook-ah, Bomi-ya, maaf. Sepertinya keberangkatan kloter pertama hari ini akan ditunda sampai beberapa waktu ke depan. Aku benar-benar minta maaf,” ucapnya, lalu membungkukkan badan pada pemilik nama yang disebut olehnya sebagai bentuk permintaan maaf.

Sebelum Nayeon keluar dari basecamp, ia menoleh pada Jooheon dan Dasom sekilas dan mengatakan, “Take care, Jooheon-ah, Dasom-ah. Selamat tinggal!”

* * *

Mina menemukan Nayeon terduduk di tangga menara listrik yang terletak tak jauh dari basecamp. Dari raut wajahnya, Mina tahu kalau banyak pikiran yang saat ini menggantung dalam benak Nayeon.

“Kenapa kau meninggalkan kami di basecamp?” Mina mengambil posisi duduk di sebelah Nayeon.

Nayeon tidak langsung menjawab. Menoleh pun tidak. Ia hanya menghela napas berat.

Butuh waktu beberapa saat untuk Nayeon sebelum perempuan itu menyahut, “Apakah aku bisa?”

Mina menaikkan alis, bermaksud untuk bertanya, “Mwoga?

“Ketua pimpinan. Apakah aku bisa memegang tanggung jawab itu?” kata Nayeon.

Mina tersenyum. “Kenapa bertanya padaku? Hanya dirimu sendiri yang tahu jawabannya.”

“Aku tidak bisa,” jawab Nayeon cepat. “Aku tidak bisa, Mina-ya. Aku minta maaf karena mengatakan hal ini padamu,” ucapnya, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Untuk beberapa saat, terdengar suara isakan.

Mina mendekatkan diri pada Nayeon, menarik bahu perempuan itu, dan merangkulnya erat. “Tidak apa-apa, Nayeon-ah. Kau tak perlu memegang tanggung jawab itu kalau kau tidak bisa.”

“Tapi kalau bukan aku, siapa lagi yang bisa, Mina-ya? Semua lelaki di unit kita tak ada yang bisa dipercaya untuk menjadi ketua pimpinan,” kata Nayeon sambil berusaha memelankan isak tangisnya.

“Namjoon-ssi?” usul Mina.

Nayeon menggeleng. “Namjoon sudah punya tanggung jawab lain di unit ini.”

“Ah, benar.” Mina teringat dengan beban Namjoon sebagai koordinator perlengkapan dan transportasi.

“Jungkook-ssi?”

Nayeon kembali menggeleng. “Pemikirannya belum dewasa. Dia pemalu dan dia tidak bisa memimpin dengan baik.”

Mina mengangguk menerima penjelasan Nayeon. “Kalau begitu, bagaimana kalau Seokjin?”

Nayeon mendesah pendek. “Jangan dia.”

Mina menunggu penjelasan Nayeon kenapa menolak usulannya, tapi sampai beberapa menit kemudian Nayeon tidak menjelaskan alasannya. Nayeon menolak Seokjin tanpa alasan, begitulah kesimpulan Mina.

“Mungkin kita harus menunggu sampai ada anggota baru yang siap menjadi ketua pimpinan,” kata Nayeon kemudian. Tangisnya sudah berhenti.

Mina mengangguk. “Begitu lebih baik. Semoga saja ada.”

Nayeon kembali menghela napas berat, lalu berucap lirih, “Nappeun namja.”

Mina tahu kalau lelaki yang dimaksud Nayeon adalah Lee Jooheon. Maka dari itu, ia hanya diam saja dan tak berkutik.

* * *

Seoul, Korea Selatan
Awal Mei 2014
Pukul 10.18 a.m. KST

“Namanya Park Jimin, dari jurusan teknik sipil,” kata Myungsoo.

Heol. Jurusan yang sama dengan Jooheon dan Dasom,” komentar Bomi.

“Dia adalah ketua angkatan di tahun ketiga. Prospeknya bagus sekali selama tiga tahun kuliah. Dua kali mewakili jurusan untuk lomba persaingan antar universitas di Seoul Nation University. Dan keduanya mendapatkan peringkat pertama.”

“Woah, daebak!” decak Irene.

“Kau kenal dia dari mana, Myungsoo-ya?” tanya Yeri.

“Kami tinggal di satu flat yang sama, hanya berjarak beberapa kamar,” jawab Myungsoo.

“Kalian dekat?” kali ini Dahyun yang bertanya.

“Tidak. Aku jarang keluar kamar.”

Dahyun mendengus. “Sudah kuduga.”

“Lalu bagaimana? Perlukah kita mengundangnya untuk bergabung ke sini?” tambah Myungsoo. Sekilas melirik pada Nayeon untuk meminta persetujuan.

Butuh waktu beberapa menit sebelum Nayeon menjawab, “Baiklah. Kita coba saja dulu. Myungsoo-ya, ajak dia untuk kumpul bersama unit kita pada pertemuan berikutnya akhir pekan nanti.”

Mina yang sedari tadi diam kemudian menyahut, “Besok fakultas teknik akan kumpul di selasar kampus untuk membahas program kerja. Kurasa sebaiknya Jimin diajak kumpul fakultas terlebih dahulu sebelum diajak kumpul unit,” katanya, lalu meminta persetujuan dari Sungjae, Jungkook, dan Yeri yang sama-sama berasal dari fakultas teknik.

Nayeon mengangguk. “Baiklah, begitu lebih baik. Karena Jimin berasal dari fakultas teknik, kurasa sebaiknya dia lebih mengenal teman-teman satu fakultasnya dulu. Aku percaya padamu, Mina-ya.”

* * *

Seoul, Korea Selatan
Awal Mei 2014
Pukul 04.45 p.m. KST

Rupanya bayangan Mina tentang seorang bernama Park Jimin jauh dari dugaan. Mina kira, Park Jimin adalah lelaki bertubuh tinggi berwajah tegas dengan perawakan serius yang warna kulitnya agak menghitam karena selalu praktik kuliah di luar ruangan alias lapangan. Tapi ternyata, Park Jimin yang kini duduk melingkar bersamanya di selasar kampus adalah lelaki bertubuh pendek (untuk ukuran lelaki, meskipun tubuhnya masih lebih tinggi daripada Mina) berkulit putih susu dengan mata sipit (wajahnya mengingatkan Mina pada Yoongi) dan wajahnya menunjukkan keramahan. Tidak ada raut serius maupun ketegasan sama sekali. Mina cukup tertegun mendapati bayangannya jauh dari dugaan.

“Mohon bantuannya, teman-teman,” ucap Jimin di akhir perkenalannya sambil membungkuk hormat.

Sungjae menepuk bahu Jimin sebagai tanda bersahabat. “Kami pasti membantumu.”

Mina mengeluarkan beberapa berkas dari dalam map yang selalu dibawanya, lalu menyerahkan berkas tersebut pada Jimin. “Ini berkas yang harus kau isi untuk pendataan anggota. Berkas itu nantinya akan kuserahkan pada Dosen Pembimbing Lapangan. Apabila sudah disahkan oleh beliau, maka secara resmi kau sudah terdaftar dalam unit kami.”

Jimin menerima berkas itu dengan ragu. “Begini, sebelum aku mengisi berkas ini, sebenarnya ada hal yang ingin kusampaikan pada kalian,” ucapnya, lalu menatap Mina, Jungkook, Sungjae, dan Yeri satu-persatu dengan intens.

Mwoga?” tanya Yeri.

“Mungkin Myungsoo tidak mengetahui hal ini karena kami jarang berbicara ketika berpapasan di flat. Jadi, hal yang ingin kusampaikan adalah sebenarnya saat ini aku sudah bergabung dengan unit lain.”

Keempat orang di sekitar Jimin menunjukkan wajah kecewaan.

“Tidak jauh berbeda dengan Jooheon dan Dasom rupanya. Aigoo, apakah seluruh mahasiswa teknik sipil seperti ini?” gerutu Sungjae.

Yeri mencubit paha Sungjae dengan keras hingga lelaki itu mengaduh, “Appo!

Shikkureo!” bisik Yeri.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” tanya Mina, mengabaikan kedua makhluk di sebelahnya yang malah ribut.

“Jujur saja, aku ingin bergabung dengan unit kalian. Aku tertarik melakukan pengabdian di Desa Samjicheon. Tapi, aku masih memiliki tanggung jawab untuk membantu unitku. Mereka adalah unit baru dan prospek mereka masih berjalan lambat. Aku ingin membantu mereka sampai batas waktu tertentu, ketika mereka sudah siap untuk kutinggalkan. Aku juga sudah berbicara pada teman-teman unitku kalau aku tidak akan stay bersama mereka. Aku bicara pada kalian seperti ini juga agar kalian tidak berpikiran yang buruk-buruk nantinya tentang aku yang mungkin akan hilang-hilangan sementara setelah bergabung dengan unit ini. Aku hanya bicara jujur pada kalian agar tidak ada hal yang kusembunyikan. Jadi, bolehkah aku membantu unitku sampai pada batas waktu tertentu?”

Senyap. Tidak ada yang menyahut setelah Jimin memberikan penjelasan panjang lebar. Mungkin keempat orang di sekitar Jimin merasa ragu pada apa yang diucapkan Jimin. Mungkin mereka masih merasa trauma apabila nantinya Jimin juga akan meninggalkan unit mereka, seperti Jooheon dan Dasom sebelumnya. Bagaimana pun juga mahasiswa dari teknik sipil sangat dibutuhkan untuk pengabdian masyarakat.

“Kau benar-benar akan meninggalkan unitmu itu?” tanya Mina setelah beberapa saat terdiam.

Jimin mengangguk.

“Kau benar-benar akan bergabung dengan unit kami?” tanya Mina lagi.

Kembali, Jimin mengangguk.

Mina menatap manik Jimin intens dan menemukan kesungguhan di dalam matanya. Dan Mina baru menyadari, meskipun wajah lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan ketegasan dan keseriusan, tapi rupanya tatapan matanya, sorot matanya, menunjukkan ketegasan dan keseriusan yang teramat sangat. Mina bisa melihatnya.

Lelaki itu jujur dan dapat dipercaya hanya dengan melihat sorot matanya. Mina menyukai kesan pertama yang diberikan lelaki itu padanya pada hari perkenalan pertama mereka. Maka dari itu, Mina berani mengambil kesimpulan tanpa meminta persetujuan dari yang lainnya.

“Kami memiliki banyak program kerja yang harus dikerjakan selama 8 bulan nanti di Desa Samjicheon. Jangan sampai program kerja kami kau bocorkan pada unitmu itu. Kau mengerti?” ucap Mina kemudian.

Kali ini Jimin tersenyum, lalu menganggukkan kepala. “Baik.”

Mina mengedikkan pandangannya pada berkas di tangan Jimin. “Cepatlah isi.”

Senyum Jimin semakin melebar. “Terima kasih, …” ia menggantungkan kalimat, bermaksud untuk menyebut nama Mina.

“Mina. Namaku Jung Mina,” kata Mina.

“Baiklah. Terima kasih, Jung Mina-ssi.”

Aigoo, rupanya dari tadi kita hanya mendengarkan Jimin berbicara tentang dirinya sendiri tanpa dia mengetahui tentang kita. Ayo, kita perkenalan diri masing-masing. Yya, Jungkook-ah, dimulai dari dirimu! Jimin juga perlu mengenal kita, bukan?” kata Mina.

Jimin mengangguk sebelum memutuskan mengisi berkas sambil mendengarkan Jungkook memperkenalkan diri, lalu dilanjutkan oleh Sungjae, kemudian Yeri, barulah yang terakhir Mina. Setelah itu, mereka membahas program kerja yang akan mereka lakukan selama pengabdian masyarakat hingga malam hari menjelang.

Hari itu, rasa itu belum ada. Mina masihlah menganggap Jimin sebagai anggota baru yang perlu banyak bimbingan darinya. Sementara Jimin masihlah menganggap Mina sebagai perempuan baik hati yang dengan begitu welcome menerima kehadirannya di unit-nya. Sekali lagi, pada hari itu, rasa itu belum ada. Tunggulah hingga beberapa bulan kemudian, saat mereka menyadari ada debaran aneh di dalam dada tiap kali mereka bertatap muka. Pada saat itulah, rasa itu ada.

—tbc

Yah, begitulah KKN. Kita harus bisa melepas teman satu unit kita yang telah kita percaya untuk lebih memilih bergabung dengan unit lain di tengah persiapan KKN (curcol nih). Tapi, tenang saja, guys. Tuhan pasti akan memberikan penggantinya yang jauh lebih baik. Tuhan Maha Adil, bukan? 🙂 Well, sengaja ku update cepat karena sumber inspirasiku belum menghilang. So, enjoy it, guys 🙂 Btw, foto di bawah adalah foto Desa Samjicheon. Asri banget ya :”)

5705957949_9a50368957_z

Best Regards,

Zulfa Azkia (zulfhania)

Advertisements

2 thoughts on “[BTS Fanfic] 18 Days Left (P.02)

  1. Aku langsung komen di part ini gpp yaa, hehe
    Taehyungnya blum muncul ya di part ini. Tpi keliatannya seru gitu, cinta segitiga.
    Aku tertarik sama summarynya sih. Mina minta mereka berdua nyerah pasti ada alasannya dong ya. Nah alasannya apa? Apa ada orang lain yg dia suka? Apa dia sakit? Atau … dijodohin? Hehe
    Ya, pokoknya sih aku penasaran akan hal itu.
    Keep writing ^^

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s