[FICLET] DEAD

Minhyun-nuest-32724280-500-327

Dead
By SantiiAng
Starring by Hwang MinHyun × Hyein (OC)
Genre AU, little Comedy
PG 16
Length Ficlet
.
.
Enjoy

“Ah!” Hyein melemparkan beberapa benda di hadapannya. Ia tersengal-sengal. Pipinya memerah akibat amarah yang sedari tadi ia tahan. Aron hanya diam seribu kata. Ia paling anti menenangkan adiknya itu. Pasalnya, dulu Aron pernah menderita patah tulang akibat amarah Hyein. Seram bukan?

Satu tetes air mata keluar dari pelupuh mata Hyein. Ia sedikit terisak dan terduduk lemah di lantai kamarnya. Ia menarik kedua kakinya dan memeluknya dengan erat. Aron melangkah dengan perlahan dan duduk bersebelahan dengan Hyein. Pria itu menarik napasnya dalam dan menarik adik semata wayangnya itu dalam pelukannya. Tangisan Hyein pecah ketika Aron mengusap puncak kepalanya.

“Kenapa ia harus pergi secepat ini? Oppa?” Aron lagi-lagi terdiam. Hyein sejak satu jam yang lalu terus saja melontarkan pertanyaan itu. “Kenapa dia harus berada dipesawat sialan itu?!”

Aron menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali mengelus puncak kepala Hyein.

***

Bara-bara mulai memerah dan api mulai menjalari tungku perapian. Minhyun terdiam di depannya. Berpikir keras. Sangat keras, sehingga kerangka kepalanya serasa sudah tidak cukup lagi menampung otak kecilnya yang bersiap-siap untuk keluar.

“Mau sampai kapan kau berdiam diri di sana?” Suara serak seorang pria menyadarkan sedikit lamunan Minhyun.

Minhyun terdiam dengan kalimat pria itu. Ia malah lebih memilih untuk kembali terjebak dalam lamunannya.

Api sudah memenuhi tungku perapian dan perlahan rasa panas mulai mejalar di sekujur tubuh Minhyun. “Beralihlah. Kau ingin api itu membakar tubuhmu?”

“Biarkan saja. Appa. Aku terlalu sebal memiliki takdir seperti ini. Lagi pula, semua orang sudah menganggapku mati.”

Orang yang dipanggil Minhyun Appa itu menggelengkan kepalanya. “Kau tahu Minhyun, Hyein sangat terluka ketika mengetahui kau sudah pergi. Kembalilah padanya. Aku akan usahakan kau kembali padanya.”

Minhyun semakin terdiam. Lamunannya semakin dalam dan perlahan sulutan api menjulur ke tubuhnya dan membakar sosok dirinya.

===

“Aku mohon, beri kesempatan dia untuk hidup. Dia tidak tahu apa-apa,” Jae Suk berbicara sambil menunduk hormat kepada sosok besar di hadapannya.

Tidak ada jawaban, Jae Suk sedikit menengadahkan kepalanya. Sosok besar di hadapannya itu, sepertinya sedang berpikir keras. “Tapi, aku tidak bisa merubah garis kematiannya Kwon Jae Suk.”

Jae Suk menghela napas panjang, “aku mohon, setidaknya biarkan dia bertemu dengan anakku Hyein.”

“Aku hanya bisa memberi dia waktu satu jam saja, segera bawa ramuan itu sebelum kurubah pikiranku.

Jae Suk mengangguk paham dan segera meninggalkan tempatnya setelah memberi penghormatan pada sosok besar di hadapannya itu.

“Bersiaplah Nak.” Jae Sik tiba-tiba muncul di hadapan Minhyun. Senyuman lebar mengembang dengan sempurna. Jae Suk menggenggam sebuah tongkat dan sebuah ramuan berwarna terang, “Minumlah ini.”

Minhyun tidak mengerti apa maksud Jae Suk. Ia mengernyitkan dahinya, “Apa maksud Appa?”

“Minumlah dulu ramuan ini dan kau akan tahu apa yang akan terjadi.” Minhyun terdiam, minum ramuan?

Apa yang akan terjadi padanyanya nanti?

===
Untuk kesekian kalinya Hyein berdiam diri di kamarnya. Gordeng tertutup rapat, lampu dimatikan. Selimut, bantal, dan barang-barang pribadinya tercecer di mana-mana. Gundukan tisu menambah kesan kapal pecah bagi kamarnya. “Mau sampai kapan kau melakukan itu semua?”

“Itu hanya halusinasimu saja Hyein.” Perlahan Hyein menekukkan kakinya dan mendekapnya erat-erat. Mencoba meyakini bahwa suara yang ia dengar tadi hanya halusinasinya. Bibirnya bergetar. Wajahnya sangat pucat, layaknya orang yang tidak memiliki satu tetes darahpun di wajahnya.

“Ini aku.”

“Aku mohon, jangan ganggu aku. Sudah cukup. Aku lelah.” Satu tetes air mata keluar dari pelupuh matanya. Sudah ratusan bahkan ribuan tetesan air mata yang keluar dari sana. Namun, tidak pernah ada habisnya.

Tanpa disadari oleh Hyein. Seseorang mendekapnya dari belekang. Memberikan kehangatan yang sudah lama Hyein rindukan. Bau semerbak parfum khas yang melewati hidung Hyein membuatnya mau tak mau menangis lagi, dan ia terisak kembali.

“Apa aku mulai gila? Kenapa bau farfumnya sangat kuat?” Hyein membuka kembali mulutnya disela-sela tangisannya.

“Ini aku Hyein. Kau tidak gila. Aku ada untukmu di sini.” Minhyun. Ya orang itu adalah Minhyun. Ia menarik napasnya dalam-dalam.

“Ikhlaskan aku Hyein aku mohon. Dunia kita sudah berbeda sekarang. Lupakan aku Hyein, hidupmu masih panjang. Apa kau tidak kasihan pada kakakmu? Dia merindukan dirimu yang dulu.”

Tangisan Hyein semakin pecah, dan pelukkan hangat tadi semakin menguat. Minhyun menumpukkan dagunya di atas kepala Hyein.

Pikiran Minhyun begitu kalut sekarang, jauh dalam lubuk hatinya, ia merutuki pilot, kop pilot, pramugari, pramugara, tukang mesin pesawat, cuaca saat itu, dan semua yang berhubungan dengan kecelakaan itu. Hal yang paling besar ia rutuki adalah dirinya sendiri.

Egois. Ya, dia terlalu egois. Sudah banyak orang yang mencegahnya pergi. Tapi semua ini adalah garis tuhan, seberapa keraspun ia mencoba menghindar, ia akan tetap merasakannya. Lagi pula, kematian selalu berada di sekitar kita. Bahkan selalu ada di belakang kita. Mereka hanya tinggal menunggu komando dan HAP! Arwah kita sudah melayang entah ke mana.

“Kenapa?” Minhyun lagi-lagi diam. Mata Hyein sembab, sangat sembab. Mata birunya kini tidak terlihat. Eyeliner kebangsaanya menyatu dengan air mata dan membasahi seluruh pipinya. Surai lurusnya menyerupai rambut singa. Ah, rambut singa sepertinya lebih bagus ketimbang rambutnya sekarang.

“Kau hanya halusinasiku bukan? Ah, sepertinya aku sudah gila.” Hyein berkata sambil terisak, air matanya kembali keluar. Ia masih tidak mengerti kenapa sosok Minhyun begitu jelas di matanya.

“Kau tidak gila Hyein, ikhlaskan aku pergi. Aku tidak tenang di duniaku. Aku mohon. Kita sudah berbeda. Berdo’alah semoga kita bisa bertemu di dunia yang sama, sekali lagi.”

“Kenapa kau tidak bisa kembali?!” Hyein mulai menaikkan nada suaranya.

“Bukan aku yang kembali, tapi dirimu Hyein, kenapa kau tidak sadar? Kau harus kembali pada duniamu yang berwarna. Bukan seperti sekarang, hitam.” Minhyun menarik napasnya dalam-dalam. Ingin sekali ia marah pada Hyein. Tapi ia tidak bisa.

“Waktuku tidak lama Hyein. Bangkitlah. Lihat kakakmu. Ia merindukanmu. Ikhlaskan aku pergi Hyein, agar aku tenang di sana. Ah, Ayahmu sangat merindukanmu. Kau tahu? Jika aku masih hidup. Ingin sekali ia melihat kita berdua di atas altar.”

Air muka Hyein tiba-tiba berubah, seharusnya aku tidak mengucapkan itu.

Minhyun memang bodoh, ia terlalu gegabah. Niatnya memang baik. Tapi, ayolah. Mereka sekarang sudah beda dimensi. Masa iya mereka akan menikah. Bagaimana cara mereka mendapatkan keturunan?

“Kau sungguh bodoh. Kenapa kau harus mengatakan itu setelah kita berbeda. Kenapa kau tidak mengucapkan itu dulu hah? Sebelum kau pergi?”

“Aku, tidak ingin membuat lubang lebih dalam lagi Hyein. Bukankah keberangkatanku waktu itu sudah membuatmu sakit hati?”

“Iya memang benar. Kenapa sih kamu ingin pergi ke China? Di sini juga sama. Dan kenapa alasanmu sama ketika Ayah berpamitan kala itu? Kalian sudah merencanakan ini semua hah?”

“Apa benar? Aku tidak pernah ingat itu. Hyein. Hahaha.”

“Kau sudah mati tapi tetap bodoh dan terlihat bahagia! Oh Tuhan! Kenapa aku bisa mencintai manusia yang sudah menjadi arwah sepertimu.”

“Mencintai itu tanpa alasan sayang.” Minhyun mengelus pipi kekasihnya dengan perlahan. Sentuhan ini akan menjadi yang terakhir bagi mereka berdua. Maka tanpa harus berpikir panjang, Minhyun mencuri ciuman pertama Hyein. Ia mengecup bibir gadisnya lama. Mata mereka terpejam, menikmati ciuman mereka.

“Bisakah kau lebih natural Hyein?” Tiba-tiba suara Aron terdengar dari ujung pintu. Ia melihat Minhyun dan Hyein dengan tatapan jijiknya.

Hyein yang mendengar suara kakaknya itu segera membuka matanya dan melangkah mudur. “Kau menganggu ciuman kami,” Minhyun memutarkan bola matanya. Sebal dengan tingkah Aron.

“Hahahaha. Jiwa acting mu memang tidak pernah Hilang Hwang Minhyun. Dan kau Hyein! Belajarlah yang lebih giat darinya. Karena pemilihat sentral drama sudah dekat. Aku ingin, ada produser yang tertarik dengan actingmu oke? Betulkan Minhyun?”

“Iya, kau benar. Aku tahu, ia pasti gugup dengan ketampananku.”

“Sudah hentikan!” Hyein memajukan bibirnya dan berlalu pergi. Berlajar acting memang sangat sulit. Jika bukan karena Appanya. Ia tidak mau. Memasak lebih menggiyurkan.

end.

Advertisements

One thought on “[FICLET] DEAD

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s