[Chapter 12A] Alien-The Truth and Ending

Alien2

bangsvt‘s present

AlienThe IntroductionThe Transformation

How Can It Be…Jealously DreamWhatSenior Taehyung?WonwooAccidentThe FuneralA Comeback– The Truth and Ending (A)

OC’s Lee Yuna — Seventeen’s Jeon Wonwoo — BTS’s Kim Taehyung

PG15

Romance, School life, Fantasy

“Wonwoo, bisa tidak kau cepat pulang?”
Send.

Semoga Wonwoo membaca pesanku dan segera pulang.

Menguping tidak salah kan, ya? Aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Habis keliatan serius sekali, bahkan aku sampai diusir sama Wonwoo.
“Tapi kak, aku tidak bisa. Aku punya Hayoung disini, aku tidak bisa meninggalkan dia.” Hatiku mencelos. Wonwoo benar-benar mencintai Hayoung? Selama ini aku apa? Selama ini arti dari ciuman itu apa? Selama ini arti dari pernyataan cinta itu apa? Hanya main-main?!
“Aku tau kau tidak seutuhnya menyukai Hayoung. Kau mencintai Yuna, kan?” A-apa? Aku tidak salah dengar, nih?
“Tidak kak, jelas-jelas akuㅡ”
“Tidak baik berbohong sama yang lebih tua darimu.” Wonwoo terdiam setelah Senior Taehyung menyarankannya. Jika terdiam berarti benar?
“Kak, kenapa kau selalu begitu? Maksudku, kau kan juga menyukainya, tapi kenapa kau selalu mengungkit-ungkit perasaanku kepada Yuna?”
“Memangnya tidak boleh?”
“Bukan begitu, apa kau tidak sakit hati mendengarnya?” Ya ampun Lee Yuna! Kau sangat beruntung diperebutkan dua laki-laki tampan!

“Tidak, karena aku sadar aku tidak bisa menyukainya, dia juga menyukaimu.” Senior… Taehyung, bagaimana… Bagaimana dia bisa berkata seperti itu? Bagaimana dia bisa berpikiran seperti itu? “Aku tidak bisa memaksakkan dia menyukaiku, jadi aku menyerahkannya padamu.” A..aku tidak percaya, bahkan aku sendiri merasa tidak mencintai Wonwoo. Bagaimana bisa Senior Taehyung mengetahui perasaanku yang sebenarnya, sedangkan aku sendiri pun tidak tahu? Kenapa kedua alien itu selalu membuatku bingung hanya dengan perbuatan mereka?!

“Hei, sendiri saja?” Sebuah suara menginterupsiku begitu saja. Aku tau empu suara tersebut, namun kenapa dia menanyakan hal itu? Maksudku, tidak bisakah dia melihat dengan matanya dengan siapa aku bersama? Aku sendirian, omong-omong, jadi untuk apa dia bertanya lagi?
“Sudah tau aku sendiri pakai ditanya.”
“Ya, maaf, aku kan hanya memastikan.” Wonwoo mengerucutkan bibir tipisnya sembari melangkah mendekatiku. Didudukinya dirinya di sebelahku yang membuatku mendengus dan mengerlingkan mataku. “Marah? Masa gitu aja marah?” Godanya. Heol, aku tidak marah, hanya kesal saja. Aku masih tidak percaya dengan ciuman yang dia berikan padaku dan perasaannya terhadap Hayoung. “Jangan marah, dong. Aku hanya ingin membuat Hayoung senang, itu saja. Itu pun karena Chanmi memaksaku.”
“Kau serius? Untuk apa kau menjalankan perintah itu kalau kau sebenarnya tak cinta?” Bingung. Serius, aku bingung sekali dengan maksud alien ini.
“Aku kasihan dengan Hayoung. Dia kelihatan sangat-sangat ingin bersama denganku.”
“Tapi kau menyakitkan orang yang disini,” telunjukku dengan refleks mengarah ke wajahku. “Lagipula kau sama saja menyakiti Hayoung secara perlahan.” Raut wajah Wonwoo berubah menjadi sendu. Kepalanya menunduk, mungkin sedang meratapi perbuatannya. Aku menepuk pundaknya pelan, berusaha memberikan semangat.
“Yun,” aku tersenyum saat dia membuka suara. Ditangkupnya kedua pipiku membuat wajahku hanya beberapa inchi di depannya. “Aku janji kita akan bersama!”
Ugh, gombal.”
Cup
Bibir itu lagi. Aku… Aku senang sekali bisa merasakan bibir itu kembali. Rasa manis yangㅡ
So dangerous no no no no no now
So dangerous no no no no no now
“Sial! Hanya mimpi!” Mataku melebar begitu ponselku berbunyi.
One missed call
Siapa coba yang rajin sekali menelponku malam-malam begini? Apa dia tidak tahu tata krama?
Alien Jeon
Nama itu tertera begitu aku melihat daftar panggilan. Wonwoo menelponku sepagi ini? Untuk apa? Padahal kamar dia di sebelah kamarku.
Yeob-”
“Untuk apa menelponku?” Tanyaku sinis. Aish! Sepertinya aku sedang PMS.
“Tidak tahu, aku hanya iseng. Temani aku, aku kesepian.”
“Bukannya ada Kak Taehyung?”
“Sudah pulang?” Apa?! Bahkan aku tidak mendengar suara orang berpamitan sedikit pun. Atau jangan-jangan dia pulang saat aku tidur kali, ya?
“Yuna, keluar sekarang, deh. Pakai jaketmu juga.”
“Unㅡhei! Ya! Jeon Wonwoo.” Serius bocah ini sangat misterius! Untuk apa tiba-tiba menyuruhku keluar dan membawa jaket? Mau seperti di drama-drama, kah?
Tok! Tok!
Kriet
“Sudah siap?” Tiba-tiba suara berat menyapaku. Aku hanya mengangguk dan menyambar jaketku yang menggantung indah di samping pintu.
“Kita mau kemana?”
“Jalan-jalan saja, habisnya aku bosan.” Aku mengangguk dan menyelaraskan langkahku dengan Wonwoo.  Kami berjalan dalam diam, menikmati terpaan angin malam yang sejuk. Rasanya ingin mengobrol seperti biasa tapi malu untuk memulai… Ah aku harus bagaimana?!
“Kau kedinginan? Atau mau ke toilet?” Aku menggeleng begitu Wonwoo melontarkan pertanyaan. Sungguh aku diam seperti ini bukan karena aku kebelet atau apa, aku hanya merasa awkward saja.
“Wonwoo…”
“Hm?”
“Apa yang membuatmu datang ke dunia ini?” Angin menerpa wajahku,  begitu pun dirinya.  Seketika suasana hening—ah tidak, memang suasana selalu hening.
“Karena aku bosan. Aku ingin mencari suasana baru, dan, ya, disinilah aku.” Ujarnya.
“Aku pikir kau diusir, haha.”
“Tidak mungkin anak Presdien sepertiku diusir.  Apa kata rakyat?” Omo! Dia anak Presiden di planetnya? Oh My God! “Tidak usah kaget seperti itu, sih. Lagipula kau juga tidak mungkin dihukum ayahku hanya karna  suka mengejekku.” Santai sekali kalau berbicara, huh.
“B-baiklah, lalu bagaimana bisa kau mengenal Kak Taehyung?”
“Dia anak menteri yang sejak kecil selalu menemani aku bermain. Dan karenanya aku jadi ada disini, bertemu dirimu.” Blush. Bisa saja.
“Kenapa tiba-tiba UFOmu bisa mendarat dengan tepat didepanku?”
“Rahasia.” Wonwoo mengedipkan sebelah matanya membuatku mendengus kesal. “Mau coba-coba merahasiakan sesuatu dariku, huh?” Aku mencubit-cubit kecil lengannya.
Aw! Aw! Maaf, maaf! Tapi memang itu rahasia, hanya aku, ayah, dan Kak Taehyung yang boleh tau.”

“Ya, ya, terserah kau saja.” Aku melenggang meninggalkan Wonwoo di belakang.

Malamnya Sungai Han terasa hening dan dingin. Bahkan jaket saja tidak dapat menahan dinginnya yang menusuk-nusuk tulang ini.
“Yun,” pipiku mendadak hangat. Sekaleng teh hangat mendarat di pipiku dengan bantuan tangan Wonwoo.
“Terima kasih.” Ia mengangguk kemudian duduk di sampingku. Kami terdiam menikmati terangnya bintang-bintang yang bertaburan. Terkadang suara mobil dan motor menghiasi heningnya kami.
“Apa kau tidak mau kembali?” Gumamku membuat Wonwoo menatapku bingung.
“Jadi kau mengusirku?”
“Tidak seperti itu, namun, pasti di dalam lubuk hatimu, ada rasa ingin kembali, bukan?” Wonwoo menghela, kemudian tatapannya berubah, bukan ke diriku lagi namun ke langit.
“Tentu saja ada, tapi aku tidak bisa menuntut untuk kembali, ayah yang memegang kekuasaan. Jadi aku hanya bisa menunggu.”
“Berarti, jika ayahmu yang berkuasa, kau bisa saja dijemput sekarang?” Aku gelisah. Bagaimana jika aku sudah terjatuh dalam pelukan hangat Wonwoo, dia harus pergi kembali ke tempat asalnya?
“Mungkin saja, me– Yun,”

To Be Continue

Advertisements

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s