[Chapter 2] Insane

Insane

Starring :

Oh Sehun – Lee Sera – Kim Jongin

Xi Luhan – Han Hye Joo

Park Chanyeol – Candice Kim

Byun Baekhyun – Cho Naya

Genre:

AU, Romance, Angst, Dark, Friendship, Family, Drama.

 

Written by:

Dee’s

Prev: Déjà vu

Now present > The Shadow

“Who are you stranger can’t stop thinking of you” – BoA ft. Gaeko, Who Are You.

 

 

            Jongin menepikan Aston Martin-nya dengan cukup kasar hingga decitan dari ban yang beradu dengan aspal menyadarkan Sera dari lamunan panjangnya. Lantaran pergerakan berhentinya mobil yang terlalu mendadak, tubuh gadis itu tertarik dan nyaris membentur dashboard kalau saja tidak ada sabuk pengaman yang melilit ditubuhnya. Fokusnya beralih, memandang Jongin tanpa minat “Kenapa ?”

            “Kenapa ?” Jongin membeo. Rautnya seakan tak terima dengan respon Sera yang kelewat tenang. “Seharusnya aku yang bilang begitu. Kau kenapa ?!”

            “Aku mengantuk dan ingin pulang” Kelopak mata Sera mengerjap pelan bersamaan dengan helaan napasnya. “Aku lelah, Jo” tambahnya. Pikiran telah membawanya berkelana pada serentet kilas peristiwa yang sempat dialaminya setengah jam yang lalu di The A, sebelum Baekhyun dengan sesuka hati menghubungi Jongin untuk menjemputnya pulang.

            Baekhyun memang sialan, Sera bahkan belum sempat menyelesaikan masalahnya saat Jongin datang dan menyeretnya keluar dari bar itu. Well, masalah pengkhianatan yang dilakukan Hye Joo memang cukup membuatnya syok dan tersulut emosi. Tapi bukan itu pusat masalah yang membuat pikirannya berlarut-larut dan mengabaikan keberadaan Jongin disampingnya.

            Iris cokelat gelap itu. iya, iris cokelat gelap milik Oh Sehun serta tiga kalimat ambigunya yang telah menarik kuriositas Sera.

            “Iya, ini aku, Amore”

            “Lee Sera, Ra… Amore-”

            “–Aku… merindukanmu”

            Tiga kalimat itu seakan melekat di kepalanya, berputar berulang-ulang kali dan menuntut otaknya bekerja lebih keras lagi untuk mengingat –hingga denyutan ringan di kepalanya kini semakin menjadi-jadi. Sera… lelah, tapi lelahnya memiliki arti tersendiri –batin dan pikirannya perlu istirahat. Tapi sayang, keadaan tidak pernah berlaku baik padanya. Masalah baru terus datang bergantian tanpa memberinya jeda untuk bernapas.

            Jongin menatap Sera, tidak ada lagi bias warna dalam wajah sempurna yang sering dipujanya itu, yang ada hanya raut tenang dan sedikit pucat milik gadisnya. Bahkan kesan manja yang sempat ditemuinya siang tadi telah hilang entah kemana.

            “Hanya ingin mengingatkan, kau punya aku untuk membagi bebanmu” Jongin membuang muka, suaranya terdengar dingin seperti hembusan angin malam yang menusuk tulang. Dan hal selanjutnya yang ia lakukan hanya kembali melajukan Aston Martin-nya tanpa berniat membuka obrolan, sampai mobil mewah itu berhenti di sebuah pelataran Mansion yang luasnya tak perlu dideskripsikan.

            “Selamat malam, Jo” Sera bergumam. Jari-jarinya yang lentik menarik pelan wajah Jongin yang enggan memandangnya, lalu membisikkan kata maaf dengan nada rendahnya.

            Jongin memandang kepergian Sera tanpa suara, dia bahkan tidak memberi respon saat gadisnya memberi kecupan ringan di pipi. Dia tahu sesuatu yang salah telah terjadi, dan dia merasa buruk lantaran menerima permintaan maaf dari gadis itu. Sera sama sekali tidak bersalah dan kalau pun harus ada yang disalahkan, tentu saja itu dirinya. Karena dia tidak berguna. Karena dia, Kim Jongin tidak bisa memberi apapun selain materi dan keegoisan.

***

            Candice tidak pernah tertarik dengan hubungan. Dia tidak mau waktunya terbuang hanya untuk bertukar perasaan. Baginya cinta hanya emosi sesaat yang muncul dalam diri. Hanya sekedar perasaan biasanya yang setingkat dengan rasa senang, sedih atau pun marah. Dan sama seperti perasaan yang lain, kehadirannya dipengaruhi oleh waktu. Cinta bukan sesuatu yang konstan baginya dan dia tidak mau dibodohi dengan sesuatu yang hanya hadir sesaat.

            Candice tumbuh tanpa cinta. Dia tumbuh dengan caranya sendiri, tanpa perhatian dan tanpa kasih sayang. Tapi itu tidak berarti dia seorang yang tidak berperasaan. Candice mungkin terlihat agak sarkastik, namun dia peduli dengan orang-orang disekitarnya. Dia menyayangi teman-teman terdekatnya. Dia menyayangi Sera dan Baekhyun. Hell yeah, Candice tidak memiliki siapapun di dunia ini yang peduli padanya kecuali Sera dan Baekhyun. Dan mungkin juga Park Chanyeol.

            Ahh, tidak!

            Chanyeol tidak seharusnya masuk ke dalam kehidupannya, pria itu tidak boleh menghancurkan prinsip yang telah dibangunnya sejak dulu.

            Candice sampai di kantornya lebih awal, pegawainya baru datang sebagian. Dia mendapat sambutan hangat dari pekerjanya, beberapa bahkan ada yang mengulas senyum menggoda. Candice tidak terlalu peduli, dia berlalu menuju ruangannya tanpa pernah tahu ada sesuatu yang menunggu di dalam sana.

            Dia hanya menghela napas ketika mendapati pot bunga Krisan merah tergeletak manis di atas meja kerjanya. Candice tahu jelas siapa pengirimnya di detik pertama ia melihat bunga tersebut, dan dugaannya terbukti setelah menemukan notes kecil yang terselip di antara bebungaan itu.

            “When you like a flower you just pluck it, but when you love a flower you water it daily”

Have a good day, sweety –PCY.

            Tipikal Chanyeol sekali; manis dan cheesy.

            Candice merogoh tasnya dan langsung mencari kontak si pengirim begitu dia menemukan benda pipih itu. Candice jengah, harus berapa kali dia mengingatkan pria itu kalau dia tidak tertarik dengan segala jenis hubungan yang pria itu tawarkan.

            “You got the flowers with you, I guess” Suara Chanyeol menjadi yang pertama menggantikan suara sambungan telepon, Candice bahkan belum sempat mengucapkan halo.

            “Sampai kapan kau harus menggangguku ?”

            “Sampai hari dimana kau menerimaku” Candice bisa mendengar suara Chanyeol yang seringan kepakan sayap kupu-kupu diseberang sana dan dia hanya bisa memejamkan matanya lantaran tidak tahu harus berbuat apalagi agar pria itu mengerti batasannya.

            “You, Idiot!”

            “Yes, I am. Bukankah setiap orang bebas mencintai siapapun ? Kau tidak bisa melarangku, ini pelanggaran hak asasi namanya!”

***

            Chanyeol menyerukkan kedua tangannya ke dalam saku celana saat fokusnya menerawang jauh pada pemandangan kota yang disuguhkan oleh bangunan berlantai lima itu. Live Entertaiment –sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri hiburan dan telah menjadi agensi terbesar nomor satu di Korea Selatan. Perusahaan ini terbilang masih baru jika dilihat dari umurnya yang baru menginjak usia ketujuh, tapi kemampuan Chanyeol dalam merintis dan mengembangkannya telah berhasil membawa label tersebut dalam kemenangan, mengalahkan beberapa pesaing berat –seperti YG dan JYP yang sudah lebih dulu berkecimpung dalam dunia tersebut. Jiwa seni yang sempat diremehkan oleh keluarganya, telah mengantar hidupnya pada kesuksesan. Chanyeol berhutang terima kasih pada Sandara Park –bibinya, satu-satunya orang yang mendukung keputusannya untuk meninggalkan tahtanya sebagai pewaris Samsung corp. dan mendirikan Live Ent.

            Bukannya sombong atau apa, tapi nyatanya Chanyeol memang tidak ingin melibatkan dari dalam perusahaan keluarga. Karena ketika kedudukan tertinggi itu diwariskan, tangan-tangan kotor yang haus akan kedudukan itu akan dengan gesit bergerak hingga keegoisan mereka mengambil alih kerasionalan dan merusak tali persaudaraan.

            “Mereka bilang kau mencariku, ada apa ?”

            Fokus Chanyeol beralih ketika sepasang tungkai berbalut stiletto merah karya Jimmy Choo memasukki ruangannya. Bibir pria Park itu tertarik membentuk senyum, menyambut kedatangan gadis serupa Sandara Park versi muda.

            “Ada apa ?” Chanyeol membeo, sinar matanya terlihat jenaka seperti biasa. “Tentu saja merindukanmu –setelah kau melarikan diri seharian dan memaksa Irene untuk mengosongkan jadwalmu kemarin” tambahnya, dengan sedikit nada sindiran.

            Sera berdesis, berbanding dengan rautnya yang menampakkan kesan manja “Aku bertengkar dengan Taehyung, dia berhasil menghancurkan moodku” terang Sera dengan kebohongan kecil. Dia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika hal itu menyangkut Han Hye Joo. Chanyeol tidak akan menyukainya. Pria Park itu, tidak pernah menyukai Han Hye Joo.

            “Aku tahu yang itu” Chanyeol membawa langkahnya mendekat, namun tidak sampai berhadapan langsung dengan Sera. Alih-alih membuat tubuh mungil itu terintimidasi dengan tubuhnya yang menjulang tinggi, Chanyeol menyandarkan punggungnya pada meja kerja agar tubuh mereka sejajar. “Candice memberitahuku”

            Sera memutar bola matanya, lantas berdecak “Kalau sudah tahu kenapa harus repot-repot memanggilku ?”

            “Karena aku ingin mendengar kejujuran darimu” Chanyeol menjawab, sementara tangannya dengan sigap menggapai lengan Sera saat gadis itu hendak menghindarinya dengan berlalu ke sofa bludru.

            Sera tidak banyak bereaksi saat netra Chanyeol menatapnya, dia hanya mengerutkan kening dan berkata lugu “Aku tidak mengerti, Chan.”

            Chanyeol menghela napas, tangannya yang sempat mencengkram lengan Sera kini beralih mengusap pipi pualam gadis itu dengan sorot mata yang meredup –membuat Sera untuk sejenak, teringat dengan peristiwa semalam. “Jangan biarkan kuriositas mengusai dirimu” Chanyeol berkata serius, lebih seperti peringatan.

            Kerutan di dahi Sera pun semakin menjadi. Dia baru akan menyerukan kuriositasnya saat ketukan pintu dari arah luar menarik fokus mereka dan sosok Irene muncul setelahnya. Irene menjinjing sebuah tablet dalam genggamannya, dia membungkuk sopan saat maniknya beradu dengan milik Chanyeol –sebelum jatuh menatap Sera “Pihak Lamborghini ingin bertemu denganmu dan membahas tentang kontrak kerja kalian setengah jam lagi, kupikir-”

            “Aku akan pergi sekarang” Sera memotong, ia memeluk tubuh jangkung Chanyeol dan memberi pria itu kecupan kecil di pipi sebelum melesat pergi. Biasanya Chanyeol akan tertawa dengan tingkah Sera yang menurutnya kekanakan, tapi kali ini dia hanya memandang kepergian Sera dengan senyum tipis yang terkesan sendu.

            “Aku permisi-”

            “Kau harus menjelaskan padaku kenapa Lamborghini bisa bekerja sama dengan kita, tanpa sepengetahuanku”

***

            Sepanjang Ferarri merah itu melaju, tidak ada yang dipikirkan Sera selain sepasang iris cokelat gelap milik Oh Sehun. Dia masih ingat bagaimana mata itu memandangnya, menawarkan seberkas kehangatan dan kenyamanan yang terasa familiar namun tidak pernah di dapatnya dari Kim Jongin. Sera tidak bermaksud membedakan keduanya, tapi dia harus mengakui jika cara Jongin memandangnya tidak lebih baik dari Oh Sehun. Jongin lebih cenderung menyiratkan rasa kasihan dan ambisi, sementara Oh Sehun… entahlah, Sera tidak yakin apakah pandangan itu bisa dikatakan tulus ?

            Dan sentuhannya –sial!

            Sera mencengkram kemudinya kuat-kuat. Dia sudah berusaha keras untuk melupakan kejadian semalam –kejadian yang membuatnya terlihat seperti gadis murahan. Namun sialnya kilas memori itu terus berputar dipikirannya tak ubahnya roll film. Oh Sehun berhasil membuai dan mengambil alih pikirannya. Kehadiran pria itu di The A telah meninggalkan kuriositas yang begitu besar dalam diri Sera, hingga sekali lagi, gadis itu merelakan dirinya terjebak dalam permainan takdir. Keputusannya untuk mundur dari perjanjian yang ia buat dengan Hye Joo, ia urungkan hanya karena ingin mencaritahu siapa Oh Sehun sebenarnya.

            Sera menutup pintu Ferarri-nya setelah mobil mewah itu menepi dan terparkir manis disamping Buggati veyron yang tidak asing lagi baginya. Ia menatap mobil itu sebentar, mengingat kembali pertemuan pertama mereka di arena balap sambil bertanya-tanya apakah takdir akan mempertemukan mereka lagi di dalam sana –di dalam bangunan kokoh dengan label Lamborghini S.PA di atasnya. Bagunan yang seharusnya tidak dijejaki oleh sepasang tungkainya jika mengingat perselisihan yang terjadi diantara mereka.

            Sera menarik napasnya dalam, dia telah memutuskan untuk terlibat dalam permainan takdir dan dia harus melaksanakan keputusannya tersebut –entah sebagai mata-mata yang dikirim Hye Joo atau mencari jawaban dari kuriositasnya terhadap Oh Sehun.

            “Nona Lee Sera dari Live Entertaiment ?”

            Sera hanya mengangguk ketika seorang gadis bertubuh mungil dengan dress hitam selutut menyambut kedatangannya di lobi, usia gadis itu agaknya tidak jauh beda dengan usianya –bahkan terkesan seumuran. Namun bentuk mukanya yang kecil dan sepasang matanya yang bulat, memberi kesan cute tersendiri padanya.

            “Anda datang sepuluh menit lebih awal” gadis itu terseyum tipis disela langkah mereka menuju ruang meeting, kesan ramah terpancar jelas di air wajahnya. “Sepertinya mereka benar”

            “Siapa ?”

            “Media” gadis itu kembali tersenyum. Suaranya kembali mengudara saat sepasang kaki mereka memasuki lift. “Mereka bilang anda seorang yang professional”

            “Apa karena sisi keprofessionalan anda, anda menerima kontrak kerja ini dan mengabaikan fakta bahwa Hyundai dan Volkswagen bersaing ? atau karena-”

            Fokus Sera beralih, menunggu kelanjutan kalimat gadis itu dengan mata menyipit tak suka. “–Ini ada hubungannya dengan tuan Oh dan tuan Xi ?”

            Sera terseyum asimentris. Lawan bicaranya sangat diluar ekspektasi. Keramahan yang sempat terpeta di wajah cute itu, nyatanya hanya sebuah topeng untuk menutupi kebusukannya. Gadis itu terlihat manis ketika berada di muka umum dan melancarkan serangannya ketika mereka hanya berdua. She’s the devil inside!

            “Anda sepertinya sangat mengenal saya” Sera menjawab ringan, bersamaan dengan bunyi kecil yang menandakan jika mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. “Dan sepertinya anda juga dekat dengan tuan Oh Sehun dan Luhan”

            Gadis bertubuh mungil itu menyipitkan matanya pada Sera, dia terlihat tidak suka dengan cara Sera menyebut nama atasannya. Tapi Sera tidak peduli. Alih-alih merasa bersalah, dia kembali melanjutkan ucapannya.

            “Apa jangan-jangan anda menyukai salah satu dari mereka ?” Sera menambahkan, berbisik di telinga gadis itu setelah Xi Luhan menyerukan nama ‘Cho Naya’ yang Sera yakini sebagai nama lahir dari gadis musang berbulu domba itu, tepat setelah mereka melangkah keluar dari lift.

            “Kau bisa dipecat oleh Sehun, Naya. Dia sudah menunggumu sejak setengah jam yang lalu” Luhan mengomel, yang hanya dianggap Naya sebagai angin lalu. “Dia tidak akan memecatku, dia membutuhkanku. Percayalah” balas Naya dengan satu tangan yang mengibas di udara.

            Luhan menggeleng, lantas fokusnya jatuh menatap Sera –sadar jika gadis berambut tembaga itu merasa terganggu dengan kehadiran Naya. “Dan sudah berapa kali kuingatkan, jangan menganggu tamuku” imbuhnya sambil melirik Naya dengan sorot menuduh.

***

“Masih tidak mau cerita, bagaimana kau mendapat memar ini ?” Naya sengaja menekan sudut bibir Sehun yang berwarna kebiruan ketika membantu pria itu mengompres lukanya dengan alkohol –mengabaikan tatapan nyalang Sehun yang serupa elang saat mengincar mangsa. “Jangan menatapku seperti itu, aku ini bukan musuhmu”

Sehun berdecak, lantas menepis tangan Naya dari wajahnya “Aku berlaku baik karena kau temanku, Cho Naya” katanya tanpa mengurangi kesan dingin yang terselip di setiap kalimatnya.

Naya menghela napas, lebih seperti mendesah “Karena aku temanmu –teman kalian, aku juga ingin tahu apa yang terjadi” Naya mengambil jeda, netranya memandang Sehun serius “Kalau aku tidak salah, memar itu pasti dibuat Luhan untuk memperingatkanmu”

“Luhan tidak mungkin memukulmu untuk hal spele, lalu sesudahnya kalian berdua bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Oh please, kalian berdua bukan aktor laga oke ?” Naya mengimbuhkan, suaranya terdengar sedikit geram lantaran Sehun tidak kunjung menceritakan apa yang telah terjadi. Baiklah, bukan hanya Sehun. Luhan juga begitu. Pria Cina itu hanya menjengitkan bahu ketika Naya bertanya apa yang terjadi. Alih-alih menjawab kuriositas Naya dengan serius, Luhan malah membuat candaan kalau dia dan Sehun sedang latihan bela diri untuk melindunginya dari pria brengsek di luar sana.

Sehun memutar bola matanya, terkadang dia merasa terganggu dengan sifat Naya yang selalu ikut campur. Sehun ingin menendang Naya keluar dari pertemanan mereka kalau saja gadis itu tidak lebih baik mengerti dirinya dari pada orang lain. Naya memang berisik, tapi gadis itu juga menyenangkan di saat yang bersamaan. Karakternya seperti musim panas, hangat dan menyenangkan –mirip seseorang di masa lalunya.

“ –Sehun, kau tidak mendengarku ya ?” Naya memiringkan wajahnya, sementara tangannya mengibas di depan wajah Sehun –mencoba menarik atensi pria itu. “Ini tidak ada hubungannya dengan si model itu, kan ?” ulangnya ketika fokus Sehun sudah berpusat kepadanya.

“Menurutmu sendiri, bagaimana ?” Sehun balik tanya, berbarengan dengan tubuh jangkungnya yang kembali berdiri dari sofa.

“Kau mau kemana ?” Naya menengadahkan kepalanya. Dia benci dengan tubuh jangkung Sehun karena tiap kali dia ingin berbicara dengan pria itu, dia harus mendongak dulu.

“Aku bukan pengangguran, Cho Naya” Sehun berdecak. “Dan kalau saja kau ingat, aku membayarmu sebagai personal assistant dengan harga yang fantastis untuk menata jadwal kerjaku, bukannya mengurusi urusan pribadiku”

“Kau memang paling bisa membuatku tutup mulut, Oh Sehun” Naya mendengus.

“Aku tahu cara mengendalikan orang-orangku”

“Diktator!”

***

            Menakhlukkan Oh Sehun, membuat Hyundai jadi pemenang, ataupun mencari jawaban dari kuriositasnya. Awalnya terasa sangat mudah lataran situasi yang terbentuk sudah tersusun dengan sempurna. Sera tidak perlu repot-repot memulai dari awal, dia tidak perlu mencari cara untuk menyusup masuk ke area Volkswagen. Tawaran kerja sama dari pihak Lamborghini sudah lebih dari cukup untuk mempermudah aksesnya. Sera hanya perlu masuk dan melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Sesimpel itu.

            Tapi nyatanya realita tidak sesuai dengan ekspektasi. Teori dan praktek memang jarang sejalan. Apa yang dikiranya mudah, ketika dilaksanakan ternyata sulit. Dia mungkin bisa dengan mudah memasuki area musuhnya, tapi tidak dengan pemiliknya. Oh Sehun tidak semudah itu untuk ditemui, bahkan ketika mereka menghirup oksigen di gedung yang sama.

            Rapat yang dikira Sera akan mempertemukannya dengan pria dingin itu pun ternyata hanya omong kosong. Sehun tidak menampakkan diri dan buruknya Sera terjebak dalam kebosanan yang rasanya tidak akan pernah berakhir ini. Padahal tujuan utamanya datang kemari ingin mencari kesempatan agar bisa berinteraksi dengan pria itu.

            “… Sehubungan dengan konsep Modern Fairytale yang kita usung, Lamborghini Hurracan adalah bentuk realisasi dari kereta kuda di masa ki-” Ucapan Key terpotong ketika suara decitan pintu yang terbuka mengudara. Pria yang menjabat sebagai kepala devisi pemasaran itu membungkuk kecil, menyambut kedatangan atasannya dengan ramah.

            Sera masih bergeming dan tenggelam dalam kebosannya. Dia hanya menjadi pendengar pasif selama rapat berlangsung. Penjelasan panjang-lebar yang diberikan oleh Key selama setengah jam terakhir ini pun, hanya beberapa kalimat yang tertangkap oleh pendengarannya. Dia terlihat tak acuh ketika semua peserta rapat membungkuk hormat. Fokusnya terlambat kembali, dia mendapati kesadarannya setelah suara dehaman berat yang seolah menegurnya terdengar.

            “Kau oke, Ra ?” Luhan menyela, rautnya terlihat khawatir. Dia takut kejadian semalam memberi efek buruk pada Sera.

            Sera menggeleng. Dia merasa agak canggung ketika seluruh atensi berpusat padanya, padahal dia sudah biasa menjadi pusat perhatian. Entah itu ketika dia menjadi Super model ataupun statusnya sebagai putri tunggal dari pemilik Hyundai corp.

            Sera menegakkan tubuhnya, ingin fokus pada presentasi Key kalau saja sudut matanya tidak menangkap sosok dingin yang sejak tadi ditunggunya. Oh Sehun. Pria itu duduk di kursi utama, mengenakan kemeja biru tua yang dipadu dengan jas hitam Armani. Aura kepemimpinan begitu terpancar dari dirinya dan entah bagaimana, Sera kembali tenggelam dalam sepasang manik cokelat gelapnya. Terlena dengan sorot dinginnya yang mengintimidasi, namun terasa nyaman di titik tertentu. Fokusnya kini terkunci pada pria itu, seolah sosok tersebut adalah pusat dunianya.

            “…Saya akhiri rapat kali ini, selamat siang dan terima kasih”

            Sera mendapati kesadarannya lagi setelah Key menutup rapat. Dia mengerjap, lantas menyadari jika sebagian pegawai dari devisi pemasaran telah meninggalkan ruang rapat. Termasuk Sehun yang kini berjalan melewati kursinya bersama Naya yang memberi pandangan penuh selidik ketika Luhan menghampirinya.

            “Mau makan siang bersama ?”

            Alih-alih merespon ajakan Luhan, dirinya malah beranjak menyusul Sehun yang nyaris menghilang dari balik pintu.

            “Oh Sehun” tanpa sadar Sera menarik lengan pria itu, mengundang tatapan penuh selidik dari beberapa pegawai yang menjadi saksi mata. Sebelumnya, tidak ada yang seberani itu dengan Oh Sehun kecuali Xi Luhan dan Cho Naya –dua orang yang kepalang kebal dengan sifat dinginnya. “Kita perlu bicara” imbuh Sera.

            Naya yang masih berdiri diantara mereka, memandang Sera dengan kernyitan di dahi. Sera terlalu berani menurutnya dan entah bagaimana, Naya tidak terlalu menyukainya. Gadis itu seperti lalat pengganggu di matanya.

            Luhan sendiri, berbanding dengan Naya. Pria cina itu hanya menyerukkan kedua tangannya ke saku celana sambil memandang Sera dan Sehun dengan jenis pandangan yang memiliki makna tertentu.

            “Apa kau tidak pernah diajari sopan santun ?” Sehun balik memandang Sera dengan kilatan marahnya yang begitu mengintimidasi, membuat Sera merasa asing dengan sepasang iris cokelat gelapnya. Untuk beberapa detik, Sera hanya memandang wajah Sehun dengan kebisuan. Sampai keberanian kembali menguasai dirinya dan membalas intimidasi pria itu dengan senyum asimentrisnya “Maaf kalau saya lancang, saya hanya butuh waktu anda lima menit”

            “Aku tidak pu-”

            “Tiga menit atau anda ingin kita membahasnya disini ?” Sera memotong cepat, netranya melirik sebagian pegawai yang masih betah menonton mereka.

            Sehun menarik napas, sementara Luhan melejitkan bahunya tak acuh “Well, kupikir kalian butuh waktu” katanya, lantas menarik Naya untuk ikut pergi bersamanya yang secara otomatis juga membubarkan kerumunan kecil tadi.

            “Apa… kau mengenalku ?” Netra Sera jatuh menatap milik Sehun, sementara sorotnya menggambarkan jika dia mengharapkan jawaban yang memuaskan. “Maksudku, apa kita pernah saling mengenal sebelumnya ?” imbuhnya, mengganti pertanyaan dengan konteks yang berbeda.

            “Kau menahan kepergianku hanya untuk menanyakan hal ini ?” Sehun membalas milik Sera dengan sorot dingin, sementara sebelah alisnya berjengit tidak suka. “Ini pertama kalinya aku melihat-”

            “Tiga. Ini ketiga kalinya kita bertemu” Sera memotong cepat, nada suaranya menuntut Sehun untuk mengingat. “Aku mengalahkanmu di arena balap dan semalam-” Sera memejamkan matanya ketika ingatan itu kembali terlintas di kepalanya. Ingatan yang membuatnya nyaris frustasi lantaran kuriositas yang timbul menyiksa diri.

            “Aku tidak mengenalmu”

            “Apa ?”

            “Aku tidak mengenalmu”

            Sera tertawa hambar, batinnya enggan mempercayai kejujuran Sehun. Well, Dia bisa saja membuat kesalahan, delusi lebih tepatnya –merasa dirinya tidak asing dengan sosok Sehun padahal nyatanya mereka tidak saling mengenal. Tapi itu tidak mungkin, karena kalimat ambigu yang Sehun lontarkan semalam, seakan memperjelas apa yang dirasanya abu-abu.

            “Kau bercanda” Sera bergumam, yang dibalas Sehun dengan intonasi mantap dan serius “Aku tidak punya waktu untuk bercanda, Nona”

            “Kau tahu namaku, nama kecilku. Kau memanggilku amour, kau bilang rindu padaku dan kau bahkan-” Sera membasahi bibirnya, gugup ketika ingin melanjutkan kalimatnya. Netranya lantas menatap Sehun ragu “–Menciumku”.

            Ada jeda beberapa detik sebelum Sehun membalas manuver Sera, “Is Lee Sera your name ?” katanya, nampak ragu.

            Sera mengerutkan keningnya, sementara kepalanya mengangguk kecil.

            “Then, I made a mistake. I was drunk, when I kissed you” Sehun mengaku dengan tenang. Merasa tak acuh dengan pengakuan bersifat negatif yang mungkin akan membuat cacat namanya; mabuk dan mencuri ciuman dari sembarang gadis. Bukankah jika media sampai tahu, dia bisa mendapat skandal dan dicap buruk oleh netizen ?

            “Seseorang yang kukenal, memiliki nama serupa denganmu” tambahnya memperjelas. Membuat sepasang netra Sera yang berwarna hitam pekat mencecar miliknya dengan intens, berusaha mencari kebohongan yang berhasil disimpannya dengan apik.

***

            “Kau menyukainya, Dice”

            Candice mendelik, lantas tersedak leci float-nya lantaran mendengar kesimpulan Baekhyun yang menurutnya tidak rasional. “Kau-gila” putusnya susah payah. Terbatuk sembari memukul dada tanpa mendapat bantuan dari pria hiperaktif itu. Alih-alih memberi pertolongan, Baekhyun malah tertawa kesenangan –mengundang atensi dari beberapa pengunjung Glory, café langganannya bersama Candice dan Sera.

            Candice menundukkan wajah, menumpu kening dengan jari-jari lentiknya dan membiarkan surai panjangnya yang berwarna hitam pekat menutupi wajah. Berniat menyebunyikan diri dari tatapan ingin tahu dari orang-orang disekitarnya. Baekhyun membuatnya malu. Hah! Mimpi apa Candice sampai punya teman sejenis Baekhyun ?

            Baekhyun masih terkekeh. Tubuhnya bersandar pada punggung kursi, sementara netranya mengamati wajah Candice yang merah padam. “Kau bercerita dan aku memberi tanggapan” katanya membela diri, bahunya melejit tak acuh. Membuat kepala Candice terangkat dan memberi tatapan membunuh padanya. “Sialan kau Byun Baekhyun!” desis Candice, dia menyesal telah menceritakan kegelisahannya pada Baekhyun.

            “Kau orang kedua yang mengumpatku kurang dari dua-puluh-empat-jam” Baekhyun mengadu dengan memberi penekanan saat menyebutkan waktu, rautnya sengaja dibuat-buat terluka.

            “Memangnya siapa yang pertama ?” Candice bertanya tak acuh, tingkah Baekhyun yang hiperbola nyatanya menarik minatnya untuk mengorek informasi. Jika Baekhyun mendapat umpatan dari orang asing yang menjadi korban kejahilannya, Candice tentu akan menjadi orang pertama yang tertawa keras.

            “Sera” Baekhyun menjawab kalem. Sengaja menyeruput Americano-nya untuk mengambil jeda. Sengaja juga berlama-lama agar Candice penasaran.

            “Kenapa lagi dia ?” Candice mengaduk-ngaduk lecy float-nya tanpa minat, agak gemas lantaran Baekhyun terlalu lama merespon.

            “Tidak ada. Aku hanya menghubungi Jongin untuk menjemputnya di The A

            Candice menyipitkan matanya skeptis, tidak puas dengan jawaban Baekhyun yang menurutnya mengambang. Bibirnya tergerak ingin membuka suara, namun mendadak bungkam oleh kalimat Baekhyun selanjutnya “Jadi apa saja yang kalian lakukan semalam ? Chanyeol tidak mungkin hanya menemanimu makan malam, pria kan juga punya ‘kebutuhan’. Apa kalian bercin-Aww!!”

            “Shout-your-dirty-mouth-Byun!”

            Baekhyun mengaduh kesakitan dengan suara yang begitu mendramatisir, mengusap-usap kepalanya setelah Candice memukulnya dengan clutch Prada gadis itu.

            “You’re better watch your mouth, Baek. Ini tempat umum” peringat Candice, mencoba meredam amarahnya hingga wajahnya merona merah seperti udang rebus.

            Baekhyun mengangguk-angguk setuju. Dia tidak peduli dengan kilatan marah yang terpancar dari obsidian Candice. Harusnya gadis itu terlihat mengerikan saat marah, mengingat ekspressi normalnya terkesan sarkastik. Tapi Baekhyun tidak berpendapat demikian, dia menemukan kesan lucu dari wajah Candice saat ini.

            Dan begitu ide jahil lain muncul di otaknya, tubuhnya lantas mencondong ke arah Candice, membuat gadis itu secara refleks mendekat padanya. Dikira Candice, Baekhyun ingin menyampaikan sesuatu yang penting yang seharusnya tidak didengar oleh orang lain. Tapi nyatanya–

            “Apa kita perlu pindah ke tempat yang lebih privasi, agar kau bisa leluasa menceritakan kegiatan kalian sema–Aww!”

            –Baekhyun tetaplah Baekhyun si mulut penggosip.

***

            Lima belas menit terbuang, Jongin akhirnya menarik diri dari kap mobil saat netranya menangkap siluet yang sejak tadi menjadi penantiannya. Bibirnya tertarik membentuk senyum, berbanding dengan gadisnya yang kini membeku di tempat. Terlalu terkejut dengan kehadirannya setelah pertengkaran yang terjadi semalam.

            Kebisuan terjadi di detik-detik pertama, sibuk dengan persepsi masing-masing dan terlalu egois untuk memulai dialog. Seperti orang yang tidak tahu kegunaan mulut, irislah yang menjadi satu-satunya sarana untuk berkomunikasi.

            “Kapan pulang, Jo ?” jengah, Chanyeol menjadi orang pertama yang memecah kesunyian. Dia menuruni tiga anak tangga di pelatarann Live Ent, membawa serta Sera dalam rangkulannya. Meski agak terpaksa, gadis itu tetap mengikuti langkah besarnya.

            “Kemarin” Jongin menjawab, netranya mengamati Sera sebentar sebelum kembali menatap Chanyeol. “Aku ingin membawanya pergi, tidak keberatan kan ?”

            “Aku bilang keberatan juga kau tidak akan peduli” Chanyeol mendengus lantas melepas rangkulannya untuk melirik jam Rolex yang melingkari pergelangan tangannya, fokusnya kini tertuju pada Jongin “Kami berencana makan siang bersama. Tapi kalau itu maumu, aku bisa apa ?” bahu Chanyeol melejit sementara satu tangannya agak mendorong tubuh Sera agar beralih ke sisi Jongin. “Pastikan dia mendapat makan siangnnya, Jo”

            “Chan, aku–” Sera hendak menyerukan protes, namun bibirnya kembali terkatup saat merasakan jemari Jongin menyusup diantara miliknya, menggenggam erat seolah mengikatnya dan tidak membiarkannya memberi penolakan.

            “Have a great time!” Chanyeol tersenyum lebar, lantas mengacak surai Sera dengan gemas sebelum berlalu pergi.

***

            “Disini dingin” Jongin memecah kesunyian, memandang punggung gadisnya yang terlalu lama dibekukan angin malam. Tidak ada yang dilakukan Sera selama satu jam terakhir, gadis itu hanya memandang kejauahan pada langit malam. Mengabaikan getaran tubuhnya yang mulai menggigil dalam balutan satin lembut berlengan sejari.

            “Tidak. Udaranya sejuk, Jo” Sera bergumam, bibirnya berdusta.

            “Benarkah ?” Jongin membalas skeptis. Tungkainya mengambil langkah besar hanya untuk mengikis jarak diantara mereka. “Kau tidak bodoh untuk membedakan mana yang sejuk dan mana yang dingin, Ra” katanya, membalik tubuh Sera dalam satu sentakan kecil lantas menyelimuti pundak gadisnya dengan kain yang ditemukannya di dalam.

            “Aku tahu semua tentangmu, jangan membodohiku” Netra Jongin meredup, pandangannya menyelam ke dalam manik Sera yang enggan membalasnya. “Kau bahkan tidak berani menatapku” desisnya.

            “Aku baik-baik saja” bibir Sera memaksakan sebuah senyum meski dia tahu memakai topeng saat berhadapan dengan Jongin hanyalah sebuah kesia-siaan. Sera mungkin bisa menyembunyikan rahasianya, tapi tidak dengan kebohongannya. Jongin tahu semua tetangnya pun gelagatnya. Pria berkulit tan itu seolah memiliki kunci untuk membobol pikiran yang berusaha ia gembok rapat-rapat.

            “It’s hard to believe you when this smile–” Jongin menggantungkan kalimatnya, atensinya jatuh pada bibir Sera yang melengkungkan senyum sementara ibu jarinya mengusap lembut kurva itu “ –seems so wrong”

            “Jo” bibir Sera menggumamkan silabel pembangun nama Jongin, suaranya terdengar bergetar dan lebih seperti memohon. Tekanan yang didapatnya dari ketidaktahuan membuat batinnya lelah bertanya-tanya. Dia ingin melupakan eksistensi Oh Sehun dan hanya menganggap pria itu sebagai musuh yang harus dia takhlukkan. Tapi hatinya menolak. Nama pria itu terus bercokol dalam ingatannya, berputar berulang kali tanpa memberi otaknya jeda untuk berhenti mengingat.

            Berkali-kali ia menegaskan diri jika Oh Sehun hanyalah orang asing yang tidak sengaja diseret takdir untuk memasuki kehidupannya, namun batinnya enggan percaya. Mereka seakan familiar dengan sosok itu, bahkan terkesan merindu. Tidak peduli ketika manik pria itu menatapnya tajam, Sera tetap menemukan kedamaiannya ketika atensi mereka saling beradu. Ini terlalu memusingkan dan menyiksa disaat yang bersamaan.

            Sera menarik napas untuk menenangkan diri, tapi yang terdengar malah suaranya yang bergetar. Sungguh, dia lelah sekali. Dia butuh tempat untuk bersandar dan dia harap Jongin dapat menjadi rumahnya.

            “Jo, let me forget all the–” belum sempat Sera menyerukan permohonannya, bibir Jongin yang lembab sudah menyentuh miliknya. Kepalang mengerti dengan apa yang dibutuhkan oleh gadisnya untuk melupakan keresahan itu. Awalnya hanya sebatas kecupan ringan biasa namun ketika emosi turut serta, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak melebur dalam pergulatan. Saling menuntut balasan demi memuaskan hasrat masing-masing.

            Sepasang lengan Sera mengalung di leher Jongin ketika pria itu membawanya ke dalam gendongan. Dia tidak tahu dan tidak ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya karena yang ia inginkan sekarang hanya melupakan apa yang seharusnya tidak menjadi beban pikirannya, pun mengganti ingatannya tentang sentuhan bibir Sehun dengan milik Jongin. Sera tidak ingin dirinya terus-terusan mengingat kejadian malam itu, dia tidak ingin batinnya terikat dengan Oh Sehun.

            “Take a rest, Princess” adalah kalimat yang diserukan Jongin ketika punggung Sera menyentuh permukaan kasur yang nyaman. Sera membuka mata, lantas mengerjap ketika bibir Jongin menyapu keningnya dengan lembut. Netranya memandang milik Jongin, sementara jari-jarinya menyentuh paras rupawan milik kekasihnya “Jo”

            Jongin terkekeh, tangannya menggapai jemari Sera –membiarkan jari-jari mereka bersatu lantas mengecupnya bergantian “Jangan menggodaku lebih jauh, sayang. Aku tidak punya pertahanan lebih”

            “Then, do”

            Jongin menggeleng, tangannya yang bebas kini bermain disela surai Sera –mengusapnya lembut seolah menggoda gadisnya agar segera terlelap “Aku tidak ingin merusakmu”

            “Kau membuatku merasa seperti gadis murahan” Sera mengerucutkan bibirnya, membuat Jongin terkekeh sekali lagi. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kau terlalu berharga, jadi jangan paksa aku untuk berbuat egois” Karena aku jauh lebih egois dari yang pernah kau bayangkan.

            “Lagi pula rasanya sakit, kau tidak akan suka” Jongin bernego, sementara sepasang netra Sera yang mulai mengantuk balik memandangnya dengan mata menyipit “You did it. With other girls outside”

            “No. Never” Jongin mengecup kelopak mata Sera bergantian. Tubuhnya kini bergeser ke sisi kiri gadisnya dengan posisi menyamping, lantas menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya tanpa mendapat penolakan. “Tidurlah, kau membutuhkannya amour” Jongin berbisik, bibirnya kembali menyapu kening gadisnya tanpa pernah tahu jika kalimatnya barusan membawa kembali bayang-bayang Oh Sehun yang sempat terlupakan tadi.

            “Jo” Sera mencengkram ujung kaos Jongin, kepalanya melesak ke dada bidang pria itu. Mencoba menenangkan diri dengan menghirup feromon prianya sebanyak mungkin.

            “Ya ?”

            “Jangan tinggalkan aku”

To be continued…

Bonus Pic

The_EXO'luXion_brochure_010

Park Chanyeol – 28 y.o

8bb7652331fa96d9d7b748d519bdb237Candice Kim 26 y.0

jRbwBB6gkcQ9i - Copy

Cho Naya – 25 y.o

P.S: Such a boring story, isn’t it ? too much Sera’s life in this chapter, so sorry. Aku udah baca ulang berkali-kali, aku coba ganti beberapa bagian tapi tetep hasilnya ngeboseni. Aku sempet ga pede sama chapter ini, tapi setelah aku pikir-pikir lagi kayaknya emang alur dicerita ini harusnya emang begini. Jadi maaf ya kalo kalian ga puas sama chapter ini, maaf juga kalo udah ngegantungin kalian terlalu lama huhuhu~

Oh iya, aku belom bisa ceritain Sehun itu siapa, Sera itu kenapa. Mungkin di chapter 3 nanti kita mulai menemukan titik terang(?). FYI, entah kalian pengen tau apa engga, Chanyeol itu sepupu Sera dari sebelah ibunya dan yeah ibunya Sera itu Sandara Park. Dan Han Hye Joo ? kali bisa tebak sendiri hehe..

Anyway, pls leave some comments below 🙂

Advertisements

4 thoughts on “[Chapter 2] Insane

  1. lanjut kak….
    udh penasaran bgt sama lanjutan ceritanya…
    persatukan lagi sehun dan sera dong kak 🙂
    oh iya ff kakak yg darknes itu dilanjut dong kak, aq suka bgt sma prolognya 🙂

  2. Next thor….Ceritanya keren bgt nggc sabar nunggu next chapternya pnasaran ama masalalu sehun & sera….Sera itu amesia ya?? dan sehun mantan pcr sera?? atau?? aiish molla next chapter lngsung aja deh….Jan lma” ne next chapternya and fighting…😄💪

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s