Something About You [Chap-3]

some111

SOMETHING ABOUT YOU

Song Mino
Bae Irene

Natasha (OC)

Drama | Romance | Comedy
PG
Chapter

.

.

.

-o0o-

.

.

Mino menekuni Irene. Diperhatikannya wajah gadis itu dengan rasa gamang. Sejak dia mengenal seorang Irene, dia selalu bersikap keras seolah-olah Irene adalah sosok yang akan mengganggu kehidupannya. Kenyataannya kehadiran Irene memang mengganggunya, dan sikap kerasnya ini tidak lain untuk membentengi dirinya sendiri dari perasaan takutnya untuk membuka lagi lembaran kehidupannya.

Dia tidak ingin selalu bersikap keras, sinis, pendiam dan brutal. Sifat-sifat itu sebenarnya hanya sebuah kamuflase alami untuk melindungi diri.

Saat ini Mino merasa senang melihat Irene tersenyum untuknya.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini ? ” tanya Mino

Irene menekur dalam senyum.

.

.

.

-o0o-

.

.

Mimpi apa Irene tadi malam, sehingga namja pemarah ini bersikap begitu bersahabat padanya. Mungkin memang belum sepenuhnya hangat, namun bagi Irene, ini sudah cukup melegakan. Mino mau di temani makan malam. Kebetulan Irene memasak sesuatu. Hanya tumisan seafood dengan saus pedas. Tak ada yang istimewa, dan Mino tidak protes sedikitpun. Dia makan dengan santun. Sama sekali tidak menunjukkan kesan tidak suka atau mual. Wajahnya sangat datar tanpa ekspresi yang berarti— mencurigakan bagi Irene yang terbiasa makan dengan berbincang-bincang. Kondisi hening ini membuatnya frustasi

Dia sibuk sendiri dengan tingkahnya yang serba salah, sebentar-sebentar menilik Mino yang tidak sedikitpun berbicara. Mulutnya mengunyah dengan baik semua makanannya— disiplin.

“Apa kau suka ?” tanya Irene penasaran. Dia mengangkat sebelah alisnya.

Mino tidak menyahut, hanya melirik sedikit dan mengunyah makanannya.

”Kau tidak suka?” Irene mengerucut kecewa

“Kalau aku tidak mengatakan apapun, kau seharusnya tidak usah bertanya.” hal itu memaksa Mino untuk mendengus lagi, untuk kesekian kalinya.

“Oke!” balas Irene, dan Mino melanjutkan makannya.

Kembali gadis cantik itu memfokuskan lagi dirinya pada masakannya.

“Aku hanya menggunakan sedikit penyedap rasa. Apakah kurang nyaman di lidah, ?” tanya Irene lagi.

Uphs! Irene sudah berusaha untuk diam, tapi dia lalai dengan mulutnya dan sekali lagi mengundang Mino untuk meliriknya.

Mino mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Irene dengan raut seperti biasanya. Tanpa kesan apapun. Hanya saja dia terlihat sedikit….terganggu.

“Apakah aku mengatakan sesuatu mengenai masakanmu? Apa aku mengatakannya tidak enak, bau, atau asin? Apa aku terlihat tidak suka, atau aku merasa perutku tersiksa, atau makanan ini tersangkut di tenggorokanku ?” Mino seperti akan meledak.

Irene tersenyum.

“Oke !” dia mengangkat kedua tangannya, dan kembali diam, tapi baru saja dia menunduk Mino sudah terbatuk hebat. Sepertinya dia tersedak. Gadis itu segera bangkit dan mengambilkan minum. Tangannya menepuk-nepuk punggung Mino dengan kuat.

BUG

BUG

BUG

Mino minum seteguk air, dan batuknya mereda. Namun Irene masih menepuk-nepuk punggungnya begitu hebat.

BUG

Lalu lirikan maut itu menyapa Irene dengan dasyat

“Apa kau ingin membunuhku ?” sindir Mino sambil mencekungkan punggungnya demi menerima hantaman tangan Irene yang begitu kuat.

Irene meringis, dan duduk kembali ke tempatnya diikuti tatapan sinis namja pemarah itu.

“Maaf !”

“Aku jarang sekali bicara jika sedang makan. Kau harus tau mulai sekarang! “

“Maaf !” ujar Irene lagi ”Aku akan mengingatnya,dan akan menjahit mulutku saat makan bersamamu.” Irene terdiam. ”But, kalau aku menjahit mulutku saat makan, lalu bagaimana aku akan makan?”

Mino mendengus lagi,

“Kau benar-benar mencari masalah denganku.” Laki-laki itu meraba punggungnya yang sedikit nyeri. ”Sepertinya kau senang sekali menyentuh tubuhku.”

“Hhh…? Apa kau bilang ?” gadis itu melengos, tapi dia tidak menampik tuduhan Mino. Hal itu membuat namja berwajah sangar itu menelan senyuman.

”Apa kau suka jika aku menyentuh tubuhmu?” sindir Irene

Alis Mino kembali berdiskusi pada satu titik di antara matanya.

”Apa kau mencari kesempatan?”

”Sedikit!” sahut Irene cuek. Dia mengangkat garpunya. ”Sudah kubilang tubuhmu tidak proposional.”

”Bullshit! Bagian mana dari tubuhku yang tidak proposional. Katakan!” dia terpancing.

Irene bertepuk tangan. ”Sebentar!” dia berdiri dan meneliti tubuh Mino dari segala arah. Dia hanya merasa senang, acara makan mereka menjadi seru, tidak vakum seperti tadi.

”Pundak sebelah kirimu agak sedikit rendah dari yang kanan.” jelas Irene dengan nada sok tau.

Mino meringis geli. Baru kali ini dia berhadapan dengan yeoja yang tidak mempunyai rasa takut pada dirinya. Akhirnya dia berdiri dan menegakkan tubuhnya di depan Irene.

”Perhatikan lagi dengan seksama!” suruhnya dengan nada yang sama

”Eum, tapi aku mau makan.” jawab Irene

”YAK, Bae Irene!” Mino melotot ketika Irene duduk dan menyantap makanannya.

”Apa? Aku lapar Song Mino.”

”Katakan dulu bagian mana dari tubuhku yang tidak proposional?” dia masih menuntut. Kasihan sekali, padahal Irene hanya ingin mengerjainya saja.

”Nanti saja, aku lapar. Sebentar lagi jam tujuh. Aku tidak biasa makan di atas jam tujuh.”

Mino mendengus meninggalkan Irene di meja makan sendirian.

.
.
.

“Apa kau tidak bekerja hari ini ?” tanya Mino ketika mereka berada di ruangan yang sama lagi. Belakangan ini Irene mendapatkan kemudahan untuk mengakses masuk ke dalam hunian Mino. Namja itu lama-lama terbiasa dengan kecerewetan Irene yang sedikit banyak mewarnai hidupnya.

Hari ini adalah hari yang dua belas Irene menginvasi kehidupan Song Mino, dan sejauh ini gerilya yang dilakukannya menuai keberhasilan. Beberapa titik kehidupan Mino berhasil di lumpuhkan meski semua itu memerlukan banyak tetesan keringat dan dan jeritan menyayat hati dari seorang Mino ketika Irene meneriakkan kemenangannya.

Belum sepenuhnya menang.

“Aku mendapatkan cuti dari Natasha.” Jawab Irene santai sambil membaca buku

“Cuti untuk mendekatiku ?”.

“Hm, ya.” Dia membalik halaman buku yang dibacanya

“Kau mendekatiku karena Natasha atau karena keinginanmu ?”

“Katakan saja aku berterima kasih pada Natasha, karena dia aku bisa sedekat ini denganmu.”

“Kau mau sedekat apa ?” Tanya Mino sambil menatap tajam ke arah Irene. Gadis itu meletakkan bukunya dan duduk dengan santun.

“Kalau boleh aku ingin lebih dekat lagi denganmu.” Ucapnya serius

“Lebih dari ini ?” Mino mendengus

“Ya.”

“Apa kau memang seperti ini ?”

“Apa ?” Irene mematut bingung

“Atau hanya padaku saja kau begini.”

“Apa ?” Irene mulai gusar.

“Irene, aku pernah dekat dengan wanita itu. “

“Jesica ?” tebak Irene sambil memperhatikan layar ponselnya

“Ya.”

“Kau mencintainya ?”

“Tidak tahu.”

“Kenapa bisa tidak tau ?”

“Semua berjalan terlalu cepat. Aku bahkan belum bisa memahami kedekatan kami.”

“Tapi kau membuat anak dengannya.”

Bug

Buku di tangan Mino melayang dan jatuh di pangkuan Irene

“Bisakah kau mengungkapkannya dengan pengertian yang lebih lembut..atau paling tidak—.”

“— aku bukan penulis sepertimu. Aku seorang karyawan di perusahaan kakakmu. Aku tidak bisa berkata manis. Apa kau merasa terganggu dengan gaya bicaraku ? “

“Hhh…!” Mino mengangguk

“Kau menulis apa ?”

Mino melengos karena Irene merubah topik pembicaraan

“Fiksi. Misteri, mungkin sedikit horor.” Jawabnya malas

”Sesuai dengan karaktermu.”

Lirikan maut Mino menyerang Irene.

”Agh, Arraseo!” Irene menunduk lagi

Lalu Mino berpindah tempat. Merapikan kemejanya dan berjalan ke arah jendela.

“Kenapa kau tidak menulis romance comedy ?”

“What?” Namja itu mengernyit. ”Itu kekanak-kanakan!” lanjutnya

“Baiklah, kau memang bentuk horor dari cerita misteri dalam hidupmu.” Tawa Irene menyempitkan pernafasan Mino, otaknya kram.

“Apa kau sedang mengolokku?” dia kembali menunjukkan taringnya.

“Aku hanya bertanya. Kenapa kau menganggab pertanyaanku serius.”

“Oh iya, aku lupa kalau kau bukan orang yang serius ” ledek Mino balik

“Tidak semua. Mengenai perasaanku, aku serius.” Irene menjawab dengan senyum. Dia mengikuti arah pandang Mino.

“Apa kau menyukai cerita horor ?” tanya Mino kemudian yang masih menyambung topik mengenai Horor.

“Tidak.” jawab Irene tegas, menggeleng sedikit dan menghempaskan punggungnya. Posisi duduknya sedikit malas.

“Tapi ceritaku tidak terlalu horor, cenderung pada misteri. “

“Tidak. Terima masih. Aku tidak mau nanti memaksamu mengantarku ke kamar mandi setelah membaca ceritamu.”

“Kau penakut.”

“Bukan. Aku hanya sedikit paranoid.”

“Apa bedanya ?” Mino menyeringai.

“Penakut itu semacam membuat diri kita terpenjara oleh hal.hal yang tidak nyata. Kalau paranoid, itu pikiran kita dipenjarakan oleh rasa takut yang tidak nyata.” jelas Irene absurd.

Mino hanya menyeringai. Dia memperhatikan Irene dari ujung kaki sampai ujung kepala. Membuat gadis itu menjadi risih dipandangi mata yang begitu sexy. Aish!

“Apa aku terlihat cantik dan sexy ? ” tanyanya

Mino mengulum senyuman, membuang pandangan ke arah luar. Dia sedang berpikir untuk menata kehidupannya lagi. Terlepas dari peraturan yang ditetapkan Natasha.

“Apa menurutmu aku laki-laki yang mengerikan ?”

Irene menggeleng.

“Apa artinya gelengan kepalamu itu ?”

“Kau laki-laki yang membuatku penasaran. “

“Seberapa besar ?”

“Besar sekali!”

“Apa kau bisa membedakan antara penasaran dan suka ?”

“Kau meragukanku ?”

“Aku hanya tidak ingin kau terjebak dalam hidupku yang rumit.”

“Sudah terlanjur.”

Mino menghela nafasnya. Dia sepertinya heran dengan bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa kau merasa terganggu dengan kehadiranku ?”

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Ajak Mino tanpa memperdulikan pertanyaan Irene— kritis. Dia melangkah mendekati gadis itu, dan berdiri tepat di hadapannya.

“Ke mana ?” tanya Irene menyelidik

“Ke suatu tempat .” jawaban singkat itu masih menghadirkan tanda tanya di kepala Irene

“Katakan dengan jelas. Karena aku harus memastikan tempat itu bukanlah sebuah Hotel atau semacamnya.”

“O My God !” Mino menggeleng-gelengkan kepala menerima pernyataan Irene yang konyol. Matanya menatap langit-langit sambil mendengus.

“Kalau aku mau, aku sudah pasti akan melakukannya di sini, kenapa harus bermalam di hotel. Buang-buang energy dan uang !” Mino menarik nafasnya dalam-dalam. Sementara Irene hanya menahan tawa. Dia senang sekali melihat wajah Mino bersemu merah seperti itu.

“Apa kau memang selalu konyol seperti ini ?” lanjutnya.

“Aku suka sekali menggodamu.” Jawab Irene

“Kalau begitu ayo kita lakukan !” titah Mino kemudian.

Irene melongo

“Apa ?” tanyanya

“Kau mengatakan kalau kau suka sekali menggodaku. Sekarang lakukanlah !” Matanya jalang menatap Irene. Sepertiya kali ini Irene mati kutu. Dia berdehem, berkali-kali dan melonggarkan saluran nafasnya dari hawa sesak yang tiba-tiba menerjangnya. Wajahnya pias.

Sementara Mino masih berdiam dengan wajah kaku, namun mengundang makna tersendiri. Wajah laki-laki yang sedang mengintimidasi lawan bicaranya. Dia sedikit mengerutkan alis, menunduk dan bola matanya menilik tajam ke arah Irene. Kedua tangannya terlipat di dada.

Oh Tuhan ! Jerit Irene dalam hati.

Kini posisi duduknya yang tadi santai bersandar pada sofa dengan kedua kaki menganga, menjadi kalang kabut, dan berusaha keras untuk menutup kembali pahanya dengan hati-hati. Gerakannya sedemikian lambat namun terkesan dia cukup ngeri dengan reaksi Mino dengan kelakarnya beberapa saat tadi.

Sebenarnya dia bukannya tidak mau. Fiuuh! Mino adalah namja dengan pesona yang luar biasa. Dia dingin namun dia adalah laki.laki yang sexy.Tapi sekarang bukan saatnya.

“Apa kau serius ?” tanya Irene

“Irene, Aku adalah laki-laki yng paling serius sedunia.” Suaranya tipis, terkesan berbisik— mendesah.

Glup.

Tiba-tiba Mino semakin mendekat.

“Jangan !” teriak Irene, tapi Mino tidak mendengarkannya. Dia terus berjalan, kemudian berhenti persis di depan kaki Irene yang terkatup, menunduk dan menumpukan berat tubuhnya pada sebelah tangan dengan wajah yang nyaris menyapa kegugupan gadis yang terpukau menatapnya.

“Kau konyol !” bisik Mino sambil mengambil jaket di samping Irene.

“Hh..?” Irene terengah.engah dengan detak jantungnya sendiri yang mengejar tak beraturan. Dia menatap punggung yang menjauh itu.

“Ayo!” ajak Mino kemudian.

“Ke mana ?”

“Ke Hotel !” jawab Mino, dan Irene hanya mencibir. Dia mengikuti Mino dari belakang. Laki.laki itu sudah bisa membuat humor, walaupun kedengarannya tidak lucu lagi.

Ditatapnya punggung di depannya…

Di punggung itu banyak cerita, dan Irene semakin menyukainya.

.
.
.

Tbc

Advertisements

6 thoughts on “Something About You [Chap-3]

  1. hello new readers here! aku baru baca langsung dari chap 1 ke chap 3 dan komen disini
    and i was like- HOLYSHIT THIS STORY WAS SOOOO GOOD!!!!!!!!!! misteri yang ada di balik diri mino bener bener ga ketebak, and ehm i love the way mino teasing irene wkwkwkw as expected song mino

    AYO KUTUNGGU LANJUTANNYAAAAAAA

  2. Kya…. mino oppa.. bikin heran.. penuh misteri… irene semangat pasti lama lama misteri akan terkuak….
    Jadi curiga sama kakanya mino..

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s