Something About You [Chap-2]

205

SOMETHING ABOUT YOU

Song Mino

Bae Irene

Kim Jin Woo

Nam Teehyun

Joy RV

Drama | Romance | Comedy

PG

Chapter

.

.

 

#Suara bel pintu

Irene mendengus. Dia baru saja memasukkan sayuran ke dalam wajan, sudah ada yang mengganggunya. Dia mematikan kompor dan berniat membuka pintu. Mungkin Natasha.

Dan benar.

“Kenapa wajahmu ? ” tanya Natasha.

Yang di tanya menggeleng lemah demi melihat kehadiran Natasha. Hh, apa tadi dia berharap Mino yang muncul di depan pintu. Sebenarnya berharap untuk hal yang satu itu sebenarmya tidak mungkin, kan. Mino memang bentuk aneh yang sempurna.

“Hallo, Mino, kau di mana ?” Natasha sedang berbicara dengan Mino.

“…….”

“Kesinilah , aku di sini !” suruh Natasha ringan pada adiknya.

“……..”

“Di sebelahmu. Kau pasti sudah kenal,kan !” Natasha tersenyum.

“……..’

“Iblis what ?” ucapnya kaget. Dia tergelak geli.

“……”

“Mino, please !

Lalu ponselnya di letakkan di atas meja. Natasha menatap si yeoja berkharakter wajah lembut itu.

“Dia memang sangat special. Aku harap kau tidak sakit hati jika menerima perlakuan tidak mengenakkan darinya.”

“Aku senang melihatnya marah. Tadi pagi aku membuatnya marah lagi. “

“Hhh….kau juga aneh !”   keluh Natasha.

“Sebaiknya mengundang dia makan ke sini !” suruh Irene. Lalu Natasha bangkit berdiri. Dia melihat menu masakan yang di masak Irene.

“Dia tidak akan memakannya. Paling tidak kau harus membuat steik, baru dia akan ke sini !”

“Justru itu yang ingin aku rubah dari kebiasaan makannya. Dia tidak bisa seenaknya saja makan makanan yang enak-enak terus. Makanan enak belum tentu sehat. Apa kau tidak lihat, aku membuat tumis sayuran ini penuh dengan muatan gizi yang cukup. Aku melihat tubuh Mino itu sepertinya tidak bugar. Kulitnya tidak bercahaya, dia selalu terlihat murung dan tidak optimis menghadapi hari.”

“Irene, dia memang sudah seperti itu sejak dulu, kulitnya memang sudah agak gelap sejak lahir..!” Ujar Natasha, dan Irene tergelak,

“Aku akan membuatnya tidak seperti itu…tapi butuh proses, Natasha!” Irene mengerling jenaka.

Sesaat kemudian, dia sudah berdiri di depan pintu apartement Mino. Ada sedikit rasa ragu untuk mengetuk pintunya. Mino memang temperamen. Dia suka mengomel walau terkadang tidak ada alasan untuk mengomel. Menyebalkan! tapi juga menyenangkan.

Baru saja dia ingin mengetuk, pintu itu sudah terbuka. Mereka saling menatap sebentar.

Lalu…

“Apa ?” tanya Mino sambil berjalan keluar. Dia mengenakan jaket yang cukup tebal. Sepertinya dia ingin pergi.

“Apa kau tidak mau ikut makan malam bersama kami ?” tanya Irene

“Aku ada acara sendiri !” ujarnya.

“Tapi Natasha…”

“Aku harus pergi !” Mino tidak menggubris dan terus berjalan lurus menuju lift di ujung koridor.

Ting!

Pintu lift itu terbuka, dan dia masuk begitu saja tanpa berkata ini dan itu pada Irene

“Mino !” Panggil Irene sesaat sebelum namja berwajah kusut itu menghilang di balik pintunya. Dia bahkan tidak melirik sedikitpun, dan Irene ditinggalkan dengan wajah kecewa.

.

.

.

“Natasha, aku mau pergi dulu !” Irene menyambar jaketnya dan pergi berlari keluar apartementnya. Natasha hanya mengangkat kedua tangannya bingung.’

“Mana adikku ?” tanyanya

“Pergi !” jawab Irene sambil berlari

“Hei Irene !”

See you !

Dia berniat menyusul Mino , atau lebih tepatnya menguntit ke mana namja itu akan pergi. Mino terlihat mencurigakan. Hh, wajahnya memang selalu mencurigakan. Dan sungguh sebuah ujian berat untuk Irenw untuk menarik perhatiannya. Namun benar, Irene sungguh penasaran apa yang akan dilakukan Mino di luar sana. Apakah dia mempunyai teman dekat. Wanita ? Kekasih ? Ow Tidak ! batin Irene memberontak.

Tiba di depan sebuah Gereja. Irene berhenti karena dia melihat Mino memasuki gedung Gereja dengan tergesa-gesa. Ada apa ini ? Irene turun dari taxi dan menyeberang jalan. Dia berusaha untuk mengetahui tujuan Mino datang ke Gereja ini. Sebuah bangunan Gereja Catedral dengan arsitektur Eropa. Perlahan Irene membuka pintu depannya dengan hati-hati.

Di dalam terlihat begitu tenang. Ada sebuah alunan lagu dan suara orgen. Rupanya sedang ada sebuah Novena di dalamnya. Apakah Mino mengikuti Novena. Sungguh religius sekali dirinya. Tapi kenapa emosinya tidak bisa dia kendalikan.

Tiba-tiba sebuah tubuh menerjangnya.

Brugh !

Irene terjatuh di lantai marmer bercorak burung merpati berwarna coklat. Dia mendongak ke atas dan menjumpai tatapan tajam Mino disertai sebuah geraman yang membuatnya terpekur.

“Kau mengikutiku !” hardiknya, lalu dia melangkah pergi.

Keluar melewati pintu.

“Mino !” panggil Irene sambil berusaha bangun dan mengejar langkah Mino yang terlalu cepat. Dia sebenarnya berjalan atau berlari?

“Kenapa kau mengikutiku ?” tanya Mino lagi sesaat sebelum menaiki taxi. Irene ditinggalkannya lagi dengan wajah pias .

“Taxi !” Akhirnya Irene kembali mengikuti Mino dengan menggunakan taxi lain. Dia juga heran kenapa harus mengikuti si Tuan Pemarah itu. Mino memang aneh. Apa-apaan ini ! Kenapa justru sekarang Irene yang begitu kecanduan dengan laki-laki itu. Padahal pada awalnya dia ingin membuat Mino yang kecanduan akan dirinya.

Irene melihat taxi itu berhenti di depan sebuah panti asuhan anak-anak. Untuk hal yang satu ini, Irene tidak berani berspekulasi. Dia tidak mempunyai dugaan apapun. Mungkin karena dia takut untuk menebak. Ada banyak kemungkinan di sana. Panti asuhan. Anak-anak terlantar. Donatur ? Agh, entahlah.

Dia memasuki bangunan Panti Asuhan itu. Haruskah Irene menyusulnya. Nanti apa yang akan dikatakan Mino tentang dirinya. Mungkin sebaiknya dia akan kembali besok saja, untuk menanyakan tentang kunjungan Mino ke tempat itu. Ini semakin menarik. Ternyata ada sesuatu yang sungguh misteri di balik pribadi arogant dan menyebalkan itu.

derrttt…derrtt…derrrt.

“Hallo Nath !” sapa Irene.

“Kau di mana ?” Tanya Natasha.

“Natasha, aku sedang mengikuti Mino.” jawabnya

“Memangnya kenapa kau mengikuti dia ?”

“Nath, apakah Mino sebelumnya punya kekasih ?” tanyanya .

“Pernah. Adikku itu mempunyai kehidupan pribadi yang sulit untuk di sentuh, tapi aku tidak menyukai kekasihnya itu. Mereka bukan pasangan yang serasi. Aku dulu pernah menjodohkan Mino dengan seorang yeoja tapi sepertinya dia sengaja membuatku marah dengan memillih yeoja lain.”

“Begitukah?”

“Ya. Kenapa?” tanya Natasha

“Tidak kenapa-kenapa. “

“Kau sungguh ingin serius melakukan semua ini ?” Natasha sekali lagi bertanya. Dia khawatir, Irene akan sakit hati pada akhirnya.

“Natasha, sepertinya aku mulai menyukai adikmu.” ujar Irene tanpa sadar. Dia menepuk jidatnya sendiri. Ini sungguh diluar dugaannya. Dan perasaan tertarik ini, sekarang naik satu tingkat menjadi suka.

“Kau sama anehnya dengan dirinya.”

Irene tersenyum, tapi kemudian dia melihat Mino sudah keluar dari gedung panti asuhan itu. Dia berjalan menyusuri trotoar. Laki-laki itu terlihat tenang, dan langkahnya sedikit lirih. Seperti ada hal yang dipikirkannya. Kedua tangannya di masukan ke dalam saku jaketnya. Mino terlihat keren. Dia tinggi dan postur tubuhnya sungguh tegap dan matang. Lupakan kalau tadi pagi Irene mengatakan kalau namja itu terlihat tidak proposional, atau pundaknya itu tinggi sebelah.

Yeoja itu tersenyum. Dia hanya menggoda namja simpatik itu dengan candanya, namun ternyata selera humor Mino memang tidak setingkat dengannya.

Irene melihat Mino memasuki minibar yang dekat dengan sebuah toko sepatu tidak jauh dari panti asuhan itu. Haruskah dia sekarang menemuinya. Apa yang akan Mino lakukan ?

Irene menyerahkan ongkos taxi pada sang sopir, lalu turun dengan hati berdebar-debar. Dia begitu ingin mengetahui sisi lain dari kehidupan seorang laki-laki bernama Mino sehingga dia harus menjadi seperti ini. Mungkin Mino sudah tahu— biarlah.

Satu jam kemudian Mino keluar dengan tubuh sempoyongan. Mabuk. Agh, dasar laki-laki ! Irene menggelengkan kepalanya. Kenapa mereka harus seperti itu. Maksudnya laki-laki. Apakah semua masalah harus di selesaikan dengan mabuk. Irene menyeberangi jalan untuk mengikuti Mino dari belakang.

Melangkah agak sedikit dekat. Toh, laki-laki itu tidak akan tahu kalau Irene mengikutinya. Dia sedang dalam kondisi lupa ingatan. Hh…! lagi-lagi Irene mendengus. Rasa kesalnya pada situasi mabuk mengingatkannya pada ibunya sendiri yang memang seorang alcoholic. Ibunya harus minum untuk menenangkan hatinya. Ya, beberapa waktu lamanya tinggal seorang diri karena Ayahnya menikah lagi. Kenyataan ini sungguh menghancurkan hidupnya, dan hidup Irene sendiri.

“Maaf Tuan !” mendadak Mino berkata maaf pada seorang laki-laki lain yang melintas. Dia telah menabraknya sehingga laki-laki itu mendorong tubuh Mino hingga menabrak tiang papan reklame.

“Dasar tukang mabuk ! Apa kau pikir jalan ini milikmu ?” teriak orang itu. Namun Mino hanya membungkuk dengan sempoyongan pada orang yang masih menggerutu dengan emosi itu.

Irene berjalan mendekati Mino namun tidak berani untuk memapah tubuh tinggi tegap itu. Dia tetap berada di belakangnya.

Hingga tiba pada sebuah pinggir danau buatan tidak jauh dari taman kota, dan Mino duduk di salah satu bangkunya. Dia semula berada pada posisi duduk, namun pada akhirnya dia merebahkan diri di sana. Matanya mulai terpejam, dan pada saat itulah Irene berani untuk mendekat, meneliti raut wajahnya. Apakah Mino sedih atau senang. Namun di sana tidak terlihat sedikitpun kesan. Dia tertidur. Matanya terpejam dan bibirnya yang penuh itu terkatup rapat. Bau alkohol begitu menyengat. Kenapa dia harus mabuk. Apakah dia ingin melepaskan penatnya atau perasaan sedihnya. Ataukah hidupnya memang sungguh menyedihkan seperti ini. Bahkan dia tidak mempunyai satupun teman untuk diajaknya mabuk.

Tangan Irene menyentuh wajah itu, dan terenyuh dengan semua yang dilihatnya.

“Ayo kita pulang !” ajak Irene sambil menarik tangan Mino. Laki-laki itu membuka matanya. Dia tersenyum padanya, dan gadis itu menatap dengan tatapan lugu. Dia tersenyum .

Irene terpukau dengan senyum itu. Haruskah dalam kondisi mabuk’ Mino baru bisa memberikan senyum untuknya. Agh, rasanya Irene menginginkan Mino untuk selalu mabuk, supaya dia bisa selalu tersenyum untuknya.

“Kau cantik sekali !” gumam Mino. Irene memapah tubuh itu meninggalkan bangku di pinggir danau

“Kemana kau akan membawaku, Jesica?” tanya Mino lagi.

“Pulang.” Sahut Irene . JESICA ? Siapa Jesica? Irene menoleh melihat Mino yang tengah mentapnya.

“Kau bukan Jesica ? Kau siapa ?” Tangan itu terlepas dari Irene, lalu dia ambruk di trotoar.

“MINO !” jerit Irene tertahan.

“Di mana Jesica ?” tanyanya dengan suara yang tertekan. Dia melihat ke sekelilingnya.

“Jesica itu siapa ?” tanya Irene lagi

“Dia..kau siapa ? Kenapa ingin tahu tentang Jesicaku ?” Mino berdiri dengan tenaganya sendiri, lalu berjalan.

“Mino, kau harus pulang !” teriak Irene, mengejar langkahnya.

“Aku lupa di mana rumahku.” ujarnya kemudian.

“Aku tahu. Aku akan mengantarmu.”

“Benarkah ?”

“Ya.” Jawab Irene gemas

Dia segera menghentikan sebuah taxi. Kemudian tariknya tubuh Bang dengan sekuat tenaganya untuk menaiki taxi. Tubuh mabuk itu ambruk di jok belakang, dan Irene duduk di bangku depan.

.

.

.

Dengan susah payah dia membopong tubuh Mino hingga masuk ke dalam apartementnya. Membaringkannya di kasur, lalu mencopoti sepatunya. Dia sudah terlelap. Efek dari alkohol memang selalu begitu.

Perlahan dibetulkannya posisi tidur namja bersifat buruk itu hingga berada pada posisi nyaman. Memberinya selimut dan mematikan lampu. Irene ingin berlalu namun…

“Jangan pergi…Jesica !” ujarnya meracau. Irene penasaran dengan sosok Jesica yang selalu di sebut namja itu. Apakah ada satu kenangan di dalam ruang ini tentang dia. Foto…

Dia berjalan mencari sebuah foto atau apapun itu untuk memberinya petunjuk tentang siapa Jesica itu sebenarnya. Namun nihil. Sepertinya Jesica adalah hal yang mungkin sangat menyakitkan dalam kehidupan Mino sebelum ini. Sehingga dia tidak menyisakan sedikitpun kenangan tentang Jesica di dalam ruangan apartementnya ini. Tapi kenapa dia masih menyimpan Jesica di ruang hatinya.

.

.

.

Pagi-pagi sekali Irene sudah terbangun. Semalam dia meninggalkan Mino dalam posisi mabuk. Apakah pagi ini dia sudah bangun. Buru-buru Irene memasuki apartement Mino. Karena dia memang masih mengingat sandi kuncinya. Aigoo…kenapa berantakan sekali ?

Euww...dia muntah di samping kasurnya. Apa-apan ini ?” keluh Irene ketika masih melihat Mino masih tergeletak di kasurnya.

Dengan mengambil nafas berat dia melangkah ke kamar mandi, mengambil alat-alat untuk membersihkan muntahan Mino yang mengotori lantai. Dasar laki-laki ! keluhnya dalam hati.

Setelah membersihkan kotoran itu, Irene berjalan ke dapur. Mino memang orang yang sangat rapi. Semua peralatan dapurnya dalam kondisi bersih. Apa memang dia tidak pernah memasak. Batinnya geli. Dia menghabiskan waktu untuk bercengkrama dengan peralatan dapur Mino untuk menyiapkan sarapan. Mudah-mudahan dia menyukainya.

Selesai menghidangkannya, Irene segera mencuci peralatan dapur itu hingga bersih dan mengeringkannya. Meletakkan kembali ke tempatnya semula. Namun kemdian dia mendengar ada pergerakan di tempat tidur. Mino sudah bangun.

Laki-laki itu menyingkap selimut dan bangkit dengan kondisi berantakan. Dia berjalan melewati Irene menuju kamar mandinya. Irene melambai kecil dan tersenyum

“Hai !” sapanya

“Hai !” sapa Mino ganti. Tapi namja itu langsung masuk ke dalam kamar mandi.

Tidak lama kemudian Irene mendengar sebuah teriakan yang sangat lantang dari dalam kamar mandi.

“Aku hitung sampai tiga jika kau tidak keluar dari sini, aku akan menyirammu dengan air !”

Irene tergelak geli mendengarnya. Dia menggedor-gedor pintu kamar mandi Mino dengan kakinya.

“Baiklah aku akan keluar Tuan Song Mino yang terhormat !”

Huh ! memangnya Irene kucing, harus disiram dengan air. Gadis itu keluar dengan senyuman. Rasanya senang membuat Mino mengomel di pagi hari.

.

.

.

Irene melambai ke arah Jin Woo yang sedang membersihkan meja di pojok caffeenya. Namja itu mendekat dengan hiasan senyum di wajahnya. Siapa yang tidak akan tersenyum melihat Irene.

Song Mino, batin Irene dengan senyum gelinya.

“Anda butuh sesuatu Bae Irene ssi ?”

“Duduklah!” ajak Irene. Dia memperhatikan caffee sedang sepi, dan Taehyun pun asik dengan tabletnya.

“Ada apa ?” Jin Woo berubah serius.

“Apa kau tahu sebelumnya kalau Mino punya kekasih ?’

“AAAAAAA…” hanya A panjang yang di nadakannya, membuat alis Irene terangkat kian tinggi.

“Kau tau ?” kejar gadis itu

“Kalau masalah itu, Joy yang tau. Dia pernah bekerja untuk Mino, tapi tidak betah. Karena laki-laki itu memang jenis manusia langka yang mungkin di jaman modern ini keberadaaanya hampir punah.” ujar Jin Woo seperti menyindir sosok Mino yang memang sangat unik.

“Joy ?”

“Ya, temanku. Apa perlu aku panggil dia sekarang ?”

“Apa dia sibuk ?”

“Dia bekerja di toko mainan anak , tidak jauh dari sini. Dia akan datang jika aku panggil. Dia sangat menyanyangiku.” Jelas Jin Woo sambil mengerlingkan matanya, dan Irene hanya menganga. Dia cukup tau apa maksud dengan kata menyanyangi itu.

“Baiklah, aku ingin lihat berapa besar dia menyanyangimu !” lanjut Irene dengan senyum.

Jin Woo mengambil ponselnya, lalu tidak lama kemudian dia mulai berbicara dengan Joy tersayangnya. Mereka terlihat sangat akrab dan— mesra.

“Ya, sebentar lagi dia datang.” Jin Woo menutup ponselnya dan tersenyum curiga ke arah Irene.

“Kenapa ?” tanya Irene risih

“Ada apa dengan Mino? Kau belakangan ini benar-benar membuatnya semakin bertambah emosi.”

“Benarkah ?” Irene tertawa.

“Apa kau berniat untuk menaklukannya ?” tuduh Jin Woo

“Ya, kira-kira begitu.” Irene meneguk mocalattenya.

“Apa menariknya laki-laki seperti itu. Dia terlihat begitu kejam, bahkan dia tidak melirikmu sama sekali. Kau akan buang-buang waktu dengannya.”

Irene menggeleng dengan sedikit raut ketidaksetujuannya atas perkataan Jin Woo. Manusia bisa berubah, dan Irene bukan hanya ingin sekedar merubah, namun dia ingin memberikan perubahan dalam kehidupan Mino.

“Itu Joy !” Tunjuk Jin Woo pada sosok manis yang baru saja masuk melewati pintu.

“Oh, dia cute sekali !” puji Irene.

“Ah, tentu saja, dia milikku ! ” sahut Jin Woo bangga. Dia melambai ke arah Joy yang semakin mendekat.

“Hai !” sapa Joy ramah. Matanya berbinar melihat kekasihnya.

“Apa aku mengganggumu?” tanya Irene pada gadis itu

“Tidak. Aku juga ingin makan siang.” jawab Joy sambil duduk di sisi Jin Woo

“Kau makan siang apa? ” tanya laki-laki itu

“Seperti biasa saja Oppa !” sahut Joy sambil mengusap wajah Jin Woo dengan lembut.

“Taehyun, makan siang untuk kekasihku seperti biasa !” teriaknya pada Taehyunyang langsung memasang muka kesal.

“Buat saja sendiri !” dia keluar cafee, sambil menenteng jaketnya.

“Taehyun! Kau kupecat! ingat itu!” teriak Jin Woo keras , yang kemudian di balas oleh bantingan pintu.

Mereka selalu bertengkar. Heran! Irene hanya tercengang melihatnya.

“Maaf! ” ujar Jin Woo kemudian

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa melihat kalian seperti itu!” jawab Irene santai.

Jin Woo segera berdiri meninggalkan meja

“Kalian ngobrol saja, aku akan membuatkan sesuatu untuk kekasihku ini dulu !” Jin Woo melangkah ke counter dapurnya.

Irene hanya melebarkan senyumnya ketika melihat Joy melemparkan kissbyenya. Mereka lucu sekali.

“Kau ingin tau apa tentang Mino ?” tanya Joy langsung.

“Jesica ?” sebut Irene

Ehm, Jesica itu wanita sinting. Mungkin lebih sinting dari Mino sendiri.”

“Jinjja ? Siapa dia? kekasih ? Istri ?”

“Mungkin kekasih. Mereka bertemu beberapa kali. Tepatnya Jesica yang sering datang.Kejadiannya satu tahun lalu. Itu terakhir kalinya Jesica datang dan mengatakan kalau dia hamil, dan Mino berniat untuk menikahinya. Namun sepertinya Jesica tidak menginginkan pernikahan. “

“Kenapa bisa begitu ? Biasanya wanita akan senang jika sang laki-laki bertanggung jawab. Tapi untunglah Mino tidak menikahinya.” Irene tersenyum.

“Jesica tidak pernah datang lagi, dan Mino selalu terlihat kesal setiap harinya. Dia merasa kalau Jesica sudah mencampakkannya.”

“Lalu bayi itu ?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku pernah dengar, Mino menggerutu kalau Jesica sudah menggugurkan kandungannya.”

“What ?” Irene menarik nafasnya. Aborsi ? wanita itu sungguh sinting. Sebenarnya apa yang dia kejar ?

“Lalu ?” kejar Irene lagi.

“Mino mencari petunjuk dari beberapa berita tentang Jesica dari teman-teman Jesica. Karena ada juga yang mengatakan kalau Jesica melahirkan bayinya namun menitipkannya di panti asuhan, namun ada yang bilang bahwa anaknya cacat dan di buang ke panti asuhan. Beritanya simpang siur, dan Mino masih mencari Jesica yang katanya sudah menjadi model di Jepang. “

“Jesica di Jepang ?”

“Menurut berita seperti itu.”

“Wanita seperti itu masih menjadi beban pikiran Mino. Menjijikkan sekali.”

“Apa kau tertarik dengan Mino ?” tanya Joy

“Apa aku terlihat pantas untuk Mino ?” tanya Irene

“Kau terlalu bagus untuk Mino. Kau cantik dan anggun, dan dia seperti mosnter. Like Beauty and the beast. Apa kau sanggub menghadapi namja yang karakternya melebihi karnivora dari periode Jura seperti dia ?”

Mino disamakan dengan tyrex

“Kau terlalu berlebihan, Joy.”

“O My God! sekarang kau bahkan sudah membelanya.” Joy terlihat begitu terpukau.

“Aku menyukai Mino sejak pertama kali melihatnya.”

“Dimana ? dalam mimpi ?” Joy terkekeh.

“Bukan. Kau bisa saja. Aku pertama bertemu dengannya di acara gathering keluarga Song. Nae eomma bermarga Song, dan cukup dekat dengan keluarga Natasha yang mengundangku dan lagi pula dulu aku menjadi koleganya.”Joy mengangguk

” Waktu itu Mino, memang sangat terkesan pendiam. Sikapnya tidak bisa di tebak. Dan aku langsung menyukainya. Namun kita tidak bertemu lagi. Baru-baru ini aku bekerja di kantorNatasha dan dia menyuruhku untuk mendekatinya. Semacam sukarelawan maju ke medan perang. “

“Hahahaha….” Joy tertawa lagi. Kemudian Jin Woo muncul dengan beberapa makanan.

Thanks !” sambut Joy

No problem !”

“Dan beginilah sekarang diriku.” Irene tersenyum.

“Mino beruntung sekali bisa mendapatkan perhatian dari gadis secantik dan sesabar dirimu. Dia mungkin aneh. Tapi dia juga manusia. Dia pasti akan melihat dirimu. Aku berdoa untukmu semoga kau tidak gugur di medan perang !”

“Jin Woo, kau sangat baik sekali menyemangatiku. “

“Itulah gunanya teman.”

Tengah asiknya mereka berbicara, ada sebuah bayangan yang menutupi meja mereka dari arah luar. Mereka melirik seseorang yang berdiri di depan jendela. Dan…

“AAaAaaaa…!” teriak Joy dan Irene histeris, bersamaan. Sementara Jin Woo hanya melonjak kaget karena mendengar suara dua orang di dekatnya itu berteriak.

Mino sudah berdiri di sana dengan raut mukanya seperti biasa. Datar.

Panjang umurnya.

Baru saja dibicarakan dia sudah muncul. Aneh sekali.

Mino berjalan masuk ke dalam caffee. Duduk di tempatnya biasa duduk. Lirikan Irene , Joy dan si pemilk caffe mengekori gerak-geriknya. Lalu setelah menempatkan pantatnya dengan posisi yang pas, barulah Mino melihat ke arah tiga pasang mata yang masih menatapnya.

SET…

Ketiga manusia yang duduk di dekat jendela itu langsung melengos.

“Bae Irene !” panggil Mino kemudian. Hanya sekali namun terkesan begitu merdu di telinga sang gadis

Senangnya….

Irene mendongak dan mengarahkan tatapannya pada Mino. Laki-laki itu memberinya kode dengan telunjuknya. Ke sini !

Yeeaaay..sorak Irene dalam hati. Sementara Joy menggigit bibirnya—khawatir. Jin Woo pun terlihat panik.

“Irene, kamu pasti BISA !” ujarnya menyemangati. Gadis itu tersenyum sambil menepuk pundak Jin Woo

“Jangan cemas ! aku pasti akan berhasil. Doakan aku !” ujarnya mendramatisir keadaan.

.

.

.

Ketika tiba di depan Mino, namja itu hanya menyuruhnya duduk di depannya dengan telunjuknya lagi. DUDUK!

Huh! pelit sekali suaranya. Pikir Irene dambil menuruti perintah mutlak itu. Dia duduk dan menatap Mino.

“Kau semalam mengikutiku, lalu membawaku pulang dalam kondisi mabuk. ” Suara Mino yang dalam terdengar begitu tegas.

“Ya. ” jawab Irene lirih

“Apa saja yang kau ketahui ?” tanya Mino sambil menatap lekat ke arah Irene

Dikejauhan, Jin Woo dan Joy saling berpegangan karena cemas. Mereka melihat situasi Irene dan Mino begitu menengangkan.

“AAAAA….” Irene mulai ketularan virus A milik Jin Woo

“Apa aku menyebut sebuah nama ?”

“Jesica.” jawab Irene lagi

“Lalu ?”

Dia menggeleng, karena memang tidak mendengar lagi Mino menyebutkan nama lain selain Jesica. Dia berharap Mino menyebut namanya— Irene… Oh Irene! Lupakan.

“Apa kau yang memasak sarapan ?” tanya Mino lagi.

“Dan membopongmu dari dunia antah berantah ke apartemenmu, membayar ongkos taxi, juga membersihkan muntahmu. ” lanjut Irene.

Mino menunduk. Mungkin malu. Sikapnya yang kasar tadi pagi sungguh memalukan. Dia ingin sekali mengakui kalau sarapan buatan Irene sungguh enak, dan membuat perutnya nyaman. Namun dia masih gengsi, sehingga dia hanya menghela nafasnya.

“Lain kali kau tidak perlu melakukannya lagi. ” ujar Mino dingin.

“Tidak apa-apa. Aku senang membantu.” jawab Irene sedikit kesal. Seharsnya dia mengatakan terima kasih untuk semua yang telah dilakukannya. MUNTAHAN itu…. Gezzz! Dia pikir, membersihkan muntah itu mudah.

“Untuk apa kau mengikutiku ?” tanya Mino

Kali ini pertanyaan itu sepertinya telak membuat Irene bingung.Apa yang harus diklarifikasi tentang hal itu.

“AAAA….” virus A itu memang sudah menyebar di aliran darahnya.

“Apa Natasha menyuruhmu ?”

“ehm, ….”

“Berhentilah !” ujar Mino cepat.

“Mino, aku melakukannya karena aku….”

deg

“……..Menyukaimu.”

Mino tercengang hebat. Dia tidak bergerak hampir selama tiga menit. Irene berkedip-kedip menahan debaran jantungnya. STUPID ! kenapa harus dikatakan. Hanya akan membuat namja di depannya ini besar kepala saja.’Dia pasti akan semakin menindasnya.

“Hentikan itu! aku tau kau hanya disuruh kakakku. Katakan itu pada Natasha!”

” Aku hanya merasa, aku tertarik dengan pribadimu.”

“Aku manusia menyebalkan. Apa menariknya diriku. Jangan sia-siakan hidupmu untukku.”

“Mino, kau semakin membuatku tertarik padamu!” Irene memejamkan matanya. HENTIKAN IRENE! Kau semakin merendahkan dirimu ! Teriaknya dalam hati.

“Aku mempunyai seorang anak.” ujar Mino tiba-tiba.

“Hm-hem..! ” Irene membersihkan tenggorokannya dari saliva.

“Aku bukan namja baik-baik. ” tegas Mino lagi.

“Aku suka namja tidak baik-baik.” Sahut Irene. APA MAKSUDNYA ? gadis itu memegang kedua pipinya. ENOUGH ! jeritnya dalam hati. Kenapa berhadapan dengan seorang Mino membuatnya lepas kendali, dan bisa mengontrol mulutnya.

“Aku memang aneh, tapi ternyata ada lagi manusia yang lebih aneh.” Mino menyeringai.

“Jangan bilang kalau itu aku. Karena aku sudah bosan mendengar dari…”   Irene menoleh ke arah dua manusia yang masih memperhatikannya di dekat jendela.

“Mereka selalu bilang aku aneh, karena menyukai mahluk aneh sepertimu.” lanjut Irene.

“Ya, kau bodoh !” serang Mino

“Bodoh ? Yak !” protes Irene dengan melemparkan selembar tissue ke arah Mino.

“Ya, kau bodoh. Sangat Bodoh !” lanjut Mino lagi.

Irene berdiri , dia ingin segera berlalu.

Duduk !” perintah Mino dengan tegas. Gadis itu melirik tajam.

“Kau seperti seorang komandan militer. Kau kejam, dan sangat arogant.”

“Tapi kau menyukaiku.” Ujar Mino membalikkan fakta, dan ya, Irene menghela nafasnya.

“Sekarang kau bisa memanfaatkanku dengan senjata itu. Baiklah. Aku duduk.”

“Apa yang Natasha ingin ketahui? kenapa dia tidak bertanya langsung padaku.”

“Apa kau mau terbuka. Kau membuat keluargamu sendiri frustasi. Berhentilah menjadi manusia menyedihkan sepertimu.” Irene menyeringai.

“Aku menikmati hidupku yang seperti ini. Kenapa orang lain menjadi susah? aku tidak mengganggu orang lain.”

Irene terdiam. Apa yang diutarakan Mino memang benar. Dia sama sekali tidak mengganggu orang lain. Lalu di mana letak permasalahannya.

“Tentang anak itu. Apakah dia dari Jesica ?” tanya Irene kemudian.

“Ya. “

“Dimana dia ?” tanyanya ingin tahu.

“Aku masih mencarinya. Jesica membuangnya seperti sampah. Dia wanita tidak berhati. Dia ingin menyakitiku dengan membuang darah dagingku. “

“Dia melahirkan anak, dan dia tidak memiliki cinta untuk anak itu. Yak, dia itu tidak layak dikatakan sebagai manusia, terlebih manusia wanita. ” tegas Irene, dan Mino tertegun dengan opini gadis cantik yang duduk di depannya. Dia mengakui kalau Irene cantik, hanya saja bukan hanya sekedar kecantikan yang dicari oleh seorang Mino. Cantik adalah fictive, baginya.

“Apa lagi yang ingin kau tahu dariku ?”

Irene tersenyum. Sepertinya ada sebuah celah di sana. Walaupun masih sempit, Irene akan memperlebar celah itu.

“Banyak. Apa kau punya waktu untukku ?”

.

.

.

Sore ini Irene berada di dalam apartement Mino. Duduk di sofanya, dan Mino sendiri tengah berdiri di pinggir jendela. Gadis itu menatapnya. Laki-laki itu sudah menginjinkannya berada dekat dengannya. Dia sepertinya tersentuh oleh perhatian Irene.

“Jangan ceritakan apa yang kukatakan ini pada Natasha. ” ujar Mino sambil melirik Irene

“Kenapa? Dia kakakmu.”

“Dia sangat mengatur hidupku dari dulu. Aku benci hal itu. Dia memang seorang kakak yang baik. Namun selalu meletakkan kehendaknya atas hidupku. Dia yang mengatur semua jadwal kegiatanku di luar sekolah, semenjak ibuku, ibu kami mengalami stroke waktu aku masih di sekolah menengah. Dia yang menentukan aku harus kuliah di mana, dan apa jurusan yang harus kubidangi. Sampai akhirnya aku muak.”

Benarkah Natasha seperti itu. Irene hanya membatin. Dia sangat tidak mempercayai hal itu.

“Lalu sejak kapan kau terlepas dari Natasha ?”

“Sejak aku memutuskan untuk menjadi penulis. “

“Dan kau menutup diri dari Natasha, bahkan dari orang lain. Seperti Joy yang pernah bekerja untukmu.”

“Joy itu suruhan Natasha. Dia juga sama sepertimu yang disuruh mencari tahu tentang kehidupanku.”

“Tapi waktu aku menanyakan padanya apakah kau punya kekasih atau belum, Natasha tidak mengetahuinya.”

“Dia berbohong. Dia tahu segalanya. “

“Aku kenapa sulit mempercayai hal ini.”

“Berapa lama kau bekerja untuk Natasha ?” tanya Mino

“Baru satu tahun ini.”

“Bagaimana dia menurutmu ?”

“biasa saja. Dia boss yang baik.”

“Dia memang baik. Namun keikutsertaannya mengatur kehidupanku, membuatku merasa muak. Aku laki-laki dan aku butuh menentukan jati diri. “

“Mino, kau sama sekali berbeda. Kau tidak seperti yang mereka bilang, setelah kita berbicara seperti ini.”

Mino menekuni Irene. Diperhatikan wajah gadis itu dan memang Mino selama ini bersikap keras hanya untuk membentengi dirinya dari perasaan takutnya untuk membuka kehidupannya.

Dia tidak sepenuhnya selalu bersikap keras, sinis, pendiam dan brutal. Sifat jeleknya hanya sebuah kamuflase alami untuk melindungi diri.

Saat ini Mino merasa senang melihat Irene tersenyum untuknya.

“Apa yang akan kau lakukan setelah ini ? ” tanya Mino.

Irene semakin melebarkan senyumnya.

.

.

.

TBC

 

Advertisements

8 thoughts on “Something About You [Chap-2]

  1. Update nya cepet banget hehehe bagus deh, akhirnya Mino mau membuka diri sama irene, jadi yang dilakukan Irene selama ini ga sia-sia. Semoga mino cepet suka sama Irene hihihi

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s