[Twoshot] White Dove 2nd- end

White dove

White Dove

Mino and Irene

Romance-Fluff

Twoshot-2nd

PG

.

.

Irene mulai mematikan lampu di dalam ruangan. Sesaat tadi dia membuat perjanjian dengan Mino tentang lukisannya. Tentu saja, malam ini sudah menjadi larut. Dan cahaya lampu dari teras kamarnya menerobos masuk melewati tirai untuk menyinari tubuh Irene yang tergolek di atas kasur dengan kondisi kritis. Dia mendadak terkena serangan jantung dan insomnia acut. Meskipun dia berusaha keras untuk tidur, nyatanya dia masih bisa melihat langit-langit kamarnya dengan jelas. Sangat sulit, berkali-kali menutup mata tapi yang terlihat di sana justru senyuman Mino yang menggodanya.

Itulah masalahnya, laki-laki itu, Song Mino. Dia memutuskan untuk menginap, dan mungkin saat ini dia sudah terlelap di sofa. Irene berkali-kali memastikan kalau-kalau Mino merasa tidak nyaman dengan posisi tidurnya. Apakah tubuhnya akan baik-baik saja ketika dia meringkuk di sofa keras itu, bagaimana jika tulang punggungnya terkena skoliosis, lalu apakah kakinya yang panjang itu akan mengalami mati rasa, atau paling tidak dia kesemutan hingga pangkal paha.

Demi Tuhan, ini sangat mengerikan.

Seharusnya namja seksi itu bisa tidur di sisi Irene dengan nyaman. Ya, mungkin dengan sedikit bonus sebuah pelukan hangat, atau mungkin sedikit ciuman juga tidak akan jadi masalah, kan? Husss! Irene melerai pertikaian otak dengan hatinya.

Ugh! Mino sudah begitu mengintimidasinya dengan seribu pesona yang dia miliki.

Sudahlah!

Dia gusar dan frustasi, memikirkan kenapa dia tidak bisa segera tidur. Matanya akan membengkak jika dia tidak cepat terlelap.

Baiklah….

Menghitung Mino aish, domba yang berlompatan tidak membuatnya segera terlelap juga.

“Tidak bisakah kau diam..!” Hardik Mino tiba-tiba.

Irene tersentak,

Ternyata dia belum tidur. Irene lupa kalau jarak antara ranjang dan sofanya hanya sekitar dua meter saja. Benar-benar membuatnya depresi.

“Maaf! Apa kau merasa terganggu?” Irene mengatakan maaf dengan lirih.

“Tidak. Aku tidak mendengarmu menghitung domba-domba itu. Kenapa begitu banyak domba yang kau hitung? Apa kau berniat membuat peternakan di sini?” keluh Mino dengan sedikit lirikan. Dia pura-pura kejam, meski dia begitu gemas dengan yeoja cantik itu.

Irene berusaha menahan tawa saat mendengar penjelasan Mino.

“Maaf! ” ujarnya kemudian. Dia melihat ke arah Mino yang memperbaiki letak selimutnya.

“Apa kau bisa tidur nyaman di situ?” Irene langsung menutup mulutnya sendiri dengan tangannya. Uphs!

“Kenapa? Apa kau mau kalau aku tidur di situ, bersamamu…?” Namja itu tiba-tiba beranjak dari posisi tidurnya.

Heh, mau apa dia? Irene beringsut dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut, menunggu apa yang akan dilakukan Mino.

Aish, apakah dia berharap Mino akan melakukan sesuatu padanya.

Ini gila! Tapi dia tidak kunjung mendengar tindak lanjut Mino menghampirinya.

Tidak berapa lama kemudian dia mendengar Mino di kamar mandi. Irene membuang nafas berat. Kecewakah? Sedikit. Gerutunya di bawah selimut.

Sikap macam apa ini?

“Heh!” Irene merasa pinggangnya disentuh telunjuk. Pelan dia menyibakkan selimut. Total rambutnya berantakan, membuat Mino terpaku.

”Uhm….!” gumamnya

Dia lupa dengan tujuannya semula.

“Apa?” Tanya Irene bingung.

“E……..Itu….” Mino masih merestart otaknya.

“Yang mana? Itu apa…? ” tanya Irene mengejar.

Sialan! Apa sih?

Mino mengutuk dirinya sendiri karena tidak berhasil menemukan sesuatu di titik awal. Malah sekarang harus melihat bibir Irene yang ranum itu berkomat-kamit menggodanya. Rasanya ingin segera melumatnya habis.

“Hallo! ” Irene melambaikan tangannya didepan muka Mino yang sedang terpana. Namja itu tiba-tiba menangkap tangannya.

Mereka saling menatap dalam keheningan. Meskipun tangan Irene dalam genggaman Mino, dia tidak berusaha untuk melepaskannya.

Dengan sekali gerakan saja, Mino sudah berhasil menikung Irene hingga gadis itu berada dibawahnya. Mino tidak tahan untuk tidak menciumnya.

Irene tersentak dengan aksi spontan Mino yang dia rasa terlalu nekat, tapi entah kenapa sekali lagi dia merasa lumpuh ketika pelukan Mino menghangatkan tubuhnya.

Shit, dia membuka matanya. Irene memaki dalam hati.

Irene merona karena dalam kondisi berciuman seperti itu, tatapan mereka beradu dengan manis, dan sayu. Mino semakin dalam mengambil kesempatannya, bahkan lidahnya begitu indah bergumul dengan lidahnya. Beberapa kali Irene melepaskan desahan terkutuknya, yang membuat Mino semakin giat menekuninya.

Please stop, aku tidak bisa bernapas… Irene memucat. Tubuhnya menjadi kaku, dan beberapa detik kemudian, barulah Mino sadar kalau gadis di bawahnya ini butuh oksigen. Dia melepaskan ciumannya, dan melihat Irene menghirup udara bebasnya dengan wajah tegang.

”Maniak!” gerutu Irene dengan napas memburu.

Mino menyeka bibirnya dari sisa saliva.

“Bibirmu terlihat begitu lezat dimataku, Irene!” Mino masih mencoba untuk menahan diri sambil menunggu reaksi gadis yang masih menatapnya dengan sedikit gemetar. Dia takut seandainya Irene yang dia tindih tadi itu tidak menyukai aksinya atau bahkan akan berteriak menuduhnya akan memerkosanya. Tapi sedetik ….. dua detik ….. dia menunggu, sepertinya Irene justru meninju lengannya dengan lucu, tanpa tenaga.

”So Cute!” bisik Mino ketika dia beranjak dari sisi gadis yang tengah merona itu.

Deg…deg…deg..

Irene memegangi dadanya ketika Mino berjalan kembali ke arah sofa dan duduk di sana. Sebentar dia melirik Irene yang masih terpaku dalam posisi duduknya.

”Jalja!” kemudian namja itu memejamkan matanya. Dia akan mencoba untuk tidur, meski di bawah sana, benda kesayangannya sedang berdemo dengan meriahnya. Dia menahan diri, karena baginya Irene terlalu polos, atau mungkin dia memang belum pernah di sentuh laki-laki.

Kenapa dia begitu tertarik dengan semua ini.

Senyumnya tersungging manis, ketika dia mendengar gerutu gadis itu di bawah selimut. Arraseo, lain kali Mino tidak akan memberinya ampun

.

.

.

Mino masih tertidur dengan manisnya ketika Irene terbangun karena cahaya matahari membias di kaca jendela dan menyilaukan matanya.

Diliriknya lagi namja itu yang tersesat di alam mimpinya. Beberapa kali menekuni wajah itu, dan kemudian menyimak cahaya matahari pagi yang menyinarinya, lalu selimut putih itu, dan Mino lagi dan …..

Irene setengah berlari untuk mendapatkan kanvasnya, lalu dengan cekatan diraihnya kuas dan beberapa warna natural dari dalam kotak cat warnanya. Ini sangat indah.

Sinar mentari , seperti cahaya surgawi yang melintasi beningnya pagi dan menyentuh sosok Mino yang tergeletak seperti bayi tanpa dosa.

Dia mulai menggoreskan warna-warna itu pada kanvas. Melampaui semua hasratnya yang tak terbendung. Ini sungguh jauh diluar kehendaknya. Tangannya lincah menciptakan Mino dalam devinisinya sendiri. Putih dan bercahaya. Seperti diantara awan, dan kelembutannya membuat perasaan Irene terbuai.

Makna itu terlalu dalam. Hatinya diliputi kebahagiaan. Dia melihat Mino seperti tertidur pada setumpuk cahaya putih. Diluar makna suci, itu jelas berbeda. Karakternya damai. Dengan mata yang terpejam, seperti tertidur dalam doa.

Dia tertegun sesaat, mengamati sesuatu yang kurang di sana. Perlahan Irene melangkah mendekati sosok yang masih tergeletak di atas sofa. Menyibakkan selimut itu pergi dari tempatnya. Mino sedikit terganggu namun dia tidak terbangun.

Syukurlah…

Hanya saja Irene bertanya dalam hati, apakah nanti Mino akan marah jika menyadari dirinya dilukis dalam kondisi tidur seperti itu, lagi pula kenapa namja tampan itu tidur dengan bertelanjang dada.

Kapan dia melepaskan atribut itu dari tubuhnya. Sejenak Irene mengamati tubuh Mino yang telah menuai banyak liurnya belakangan ini.

Kulitnya begitu penuh nuansa, it’s totally namja. Hot Namja..

Cukup sudah! Irene bangkit dan mengambil segelas air dan meminumnya. Dia mengusir semua roh jahat dari otaknya. Eum, roh mesum dan sebagainya…

Dia hanya menggeleng karena gelisah,

Beberapa saat kemudian,

“That’s perfect!” gumamnya ketika dia mendapatkan posisi yang tepat untuk memindahkan Mino pada kanvasnya.

Satu jam, dua jam dan selesai. Irene menarik nafas lega. Akhirnya. Dia menutup kembali tirai jendela dan membiarkan Mino tetap tertidur.

Gadis itu memutuskan untuk duduk di lantai sambil terus mengamati laki-laki yang telah membuat hidupnya sedikit berwarna itu.

Irene tertegun,

Kenapa dia melihat Mino tersenyum di sana. Dia membuka mata dan menatap pada rona kemerahan Irene yang tengah mengulum senyuman.

“Sudah selesaikah?” tanyanya lembut, meski suaranya sedikit serak, tapi tetap lembut.

Irene tersipu,

“Hm!” jawabnya.

Sejenak berpandangan, saling melempar senyum dan menjelajahi perasaan masing-masing dari kejauhan. Apakah ini terlihat romantis? Batin Irene malu.

Dia tidak ingin mengabaikan laki-laki itu. Perasaannya berangsur dalam padanya. Dia sudah menyerahkan jiwanya untuk lukisan itu. Dan kini dia rela menukarkan nyawanya hanya demi memperoleh Mino.

“Kau sedang apa di situ?” tanya namja itu sambil memanggil Irene dengan tangannya. Gadis itu beranjak bangun dan berjalan ke arah sang namja.

“Maaf, membuatmu terbangun.” Sebuah excuse yang manis.

“Hm..” laki-laki itu mendaratkan ciuman di kening Irene.

“Kau mau melihatnya…?” Irene menarik tangan Mino untuk bangun.

“Sudah selesai?” tanyanya lagi.

“Ya.” jawab Irene singkat.

Mino bergegas mendekati lukisan dirinya yang dibuat Irene. Matanya jeli menilik setiap detail dirinya yang tergores indah di sana. Wajahnya tampak puas.

”Kenapa aku tidak telanjang di sana?” Mino melirik nakal pada Irene

”Kau tidak harus telanjang…”

”Padahal aku ingin sekali telanjang…”

”Shut Up!

Mino mengulum senyumnya,

”Kau tidak suka?” tanya Irene dengan wajah kaku

”Aku suka. Ini sangat sebanding dengan apa yang kuharapkan.”

”Memangnya apa yang kau harapkan?”

Namja itu menggigit bibirnya, ”Apa kau yakin ingin mengetahuinya?” Matanya sungguh nakal dan penuh maksud.

”Aku akan melakukan apa pun yang kau mau.” ucap Irene seyakin yakinnya. Dia sudah berjanji sesaat lalu.

“It’s okay, kita bicarakan ini lain waktu.” sahut Mino kemudian.

“Ehm, jadi masih ada lain waktu untuk kita?”

“Apa kau tidak mau ada lain waktu untuk kita?”

Irene tertawa,

“Agh, baiklah.”

“Aku rasa aku akan melanjutkan khasus ini ke level yang lebih tinggi.”

Irene memiringkan kepalanya,

Ini sungguh membahagiakan, melihat pemandangan luar biasa yang mungkin tidak akan terulang lagi seumur hidupnya. Melukis seseorang yang begitu diminatinya adalah obsesi bagi setiap pelukis. Dan Irene telah melakukannya, ini pertama kalinya jiwanya berada di sana.

Perlahan namun pasti Mino memeluk Irene dari belakang. Melingkarkan tangannya pada pinggang yang ramping itu sambil mengecup lembut bahunya yang terbuka. Tidak ada kata-kata. Dan kecupan lembut itu menjadi sebuah penilaian yang melebihi makna apapun di hati Irene.

“It’s White dove!” bisik Irene seperti desiran angin.

Dan MIno mengangguk.

.

.

.

FIN

Note.

Terimakasih untuk yang membaca ff ini, dan semua yang berminat dengan MINORENE. Okay see you again di kisah lain dari MINORENE selanjutnya.

Advertisements

6 thoughts on “[Twoshot] White Dove 2nd- end

  1. Kyaaaa…. aku baru buka email tau tau ada message.. langsung buru buru baca…
    Ciee kesemsem ya irene.. mino nya omaygattt..
    Keren author… 🙂
    Cinta deh :*

    • makasih karena sudah membaca ff ku, aku ada ff minorene lagi tapi di blog mochaccino’s ratenya M jadinya ga disini.

  2. Mino nya nakal bgt hahaha ga nyangka . But im love :v Author jangan bosen bikin ff MinoRene yaa 😉 Ditunggu Ff minorene lainnyaa ;;)

    • thank you for comment, aku akan buat ff MinoRene lain, karena aku lagi jatuh cinta sama kopel ini, ga peduli ada pa ga, tapi mereka emang serasi.
      makasih ya

Leave Your Comments Juseyo ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s